The Chef #93
Taehyung merasa seluruh tubuhnya melayang saat dua staf membantunya berdiri, mendudukannya di dekat loket karcis dan memberikannya sebotol air mineral. Dia tidak merespon apa pun; kepalanya berdentam dengan kuat hingga otaknya nyeri.
Dia yakin sesuatu yang fatal akan terjadi pada kepala Jungkook kali ini dan merasa menyesal mengapa dia tidak menyeret tunangannya untuk melakukan CT scan setelah benturan pertama. Dia sungguh tidak tahu Bali akan selalu melukai kekasihnya dengan cara yang sama.
Yoongi datang beberapa saat kemudian, wajahnya lebih pucat dari biasanya saat dengan tubuh mungilnya dia membantu Taehyung berdiri dan membimbingnya memasuki mobil. Mereka berkendara lumayan jauh menuju rumah sakit karena Yoongi baru saja menerima panggilan dari pihak rumah sakit yang menjemput Jungkook bahwa mereka tidak bisa menanggulangi cidera kepala karena kurangnya alat medis dan merujuk Jungkook langsung ke rumah sakit di Denpasar.
Maka mereka berkendara ke Denpasar.
Menembus lalu-lintas yang lumayan padat, cuaca yang panas dan hiruk-pikuk dengan Taehyung yang merasa seluruh tubuhnya kebas oleh rasa sakit. Dia meringkuk di kursi penumpang, memeluk kepalanya sendiri dan berusaha menelan asam lambung yang membakar ulu hatinya.
Saat mobil berhenti di Rumah Sakit Siloam, Taehyung langsung keluar dari mobil. Menghambur ke Unit Gawat Darurat, langsung mencari tubuh Jungkook yang terbaring di salah satu ranjang rumah sakit dengan tubuh bagian atasnya berlumuran darah dan collar neck membalut lehernya sehingga kepalanya tetap berada di posisi stabil. Seorang sudah merobek pakaian Jungkook dan mengelap darah dari tubuhnya dengan cekatan.
Namun hal yang membuat Taehyung agak lega, dia melihat Jungkook nampak berusaha keras mempertahankan kesadarannya.
Dia mengerang kecil saat perawat menyentuh tubuhnya dan kesadarannya merupakan kabar yang baik bagi tenaga medis yang mengurusnya. Taehyung menelan asam lambungnya saat melihat dan mencium darah anyir Jungkook memenuhi ruangan.
“Saya keluarga Jeon Jungkook,” katanya, tidak mengenali suaranya sendiri saat menghampiri dokter serta perawat yang mengelilingi Jungkook. Dia nyaris muntah saat melihat Jungkook terbaring tidak berdaya, setengah kepalanya basah oleh darah, begitu juga dada dan bagian leher pakaiannya.
Satu perawat dengan monitor alat-alat vital atau bedside monitor, mengecek tensi, nadi dan nafas Jungkook lalu memasangkan oksigen pada hidungnya. Jungkook menghela napas dengan tersiksa. Setelahnya, dia menyukur rambut Jungkook dengan perlahan, mencoba menyibakkan rambutnya yang lengket oleh darah untuk mengecek kerusakan di kepalanya.
“Clear, Dok.” Kata perawat yang menyelesaikan pengecekan alat-alat vital Jungkook, menyukur rambutnya di sekitar bagian luka dan mempersilakan dokter untuk maju.
Dokter mengangguk pada Taehyung dan perawat di sisinya, “Mundur sebentar, ya.” katanya dan Taehyung bergegas mundur, beberapa meter darinya lalu dokter menyentuh kelopak mata Jungkook, membukanya dan menyorotkan senter pada pupilnya. Mengecek dilatasi pupil Jungkook sebagai respon atas cahaya.
“Pak Jungkook? Anda bisa mendengar saya?” tanyanya lembut setelah menyimpan kembali senter di saku jasnya.
Jungkook sejenak diam, lalu mengerang keras hingga hati Taehyung terasa nyeri mendengarnya. Dokter mengangguk lalu menyentuh kepalanya dengan lembut. Menekannya hingga Jungkook terkesirap kecil, wajahnya berkerut menhan sakit.
“Sakit?” tanyanya dan Taehyung menatapnya dengan jengkel.
Tentu saja itu sakit! Kenapa dokter selalu menanyakan hal-hal bodoh? Dia datang berdarah-darah dan dokter masih menyentuh kepalanya dan bertanya: 'sakit?'.*
Benar-benar, deh!
Jungkook mengangguk dengan susah payah sementara perawat mulai menutup lukanya dengan kasa setelah membersihkannya.
“Siapa nama Anda?” tanyanya sekali lagi dengan serius dan Taehyung sudah tidak kuasa menahan diri untuk menghantam kepala dokter itu namun dia diam, meremas tangannya sendiri; yakin mereka faham apa yang mereka lakukan. Taehyung tidak tahu apa-apa tentang ini, maka dia akan memercayakan hidup Jungkook pada mereka.
Jungkook terengah, nampak sangat tersiksa. “Jeon...” katanya serak. “Jungkook.” Dia berdeguk lalu muntah; asam lambung meluncur dari sudut bibirnya, tercampur dengan darahnya dan seorang perawat dengan sigap menyeka muntahnya.
Dokter mengangguk lalu menoleh ke perawatnya. “Sudah berapa lama dia tidak sadar?” tanyanya.
Perawat itu bergegas membuka berkas rujukan yang dipegangnya. “Sekitar dua puluh hingga empat puluh menit sejak terbentur hingga tiba di rumah sakit pertama, lalu mulai sadar sebelum tiba di sini.”
Dokter kembali mengangguk. “Tolong dibersihkan dulu,” katanya pada perawat lalu menoleh pada Taehyung. “Anda keluarganya?” tanyanya.
“Ya, saya sendiri.” balas Taehyung serak. “Apa yang bisa saya lakukan? Seberapa parah lukanya?”
“Reaksi Pak Jungkook masih baik walaupun sudah pingsan selama empat puluh menit. Tapi saya merasa sebaiknya Pak Jungkook diperksa lebih lanjut dengan spesialis saraf dan melakukan pengecekan dengan kepalanya.” katanya.
“Sembari Anda menunggu, Pak Jungkook akan dibersihkan dan dijahit lukanya untuk sementara dan dipersiapkan melakukan CT scan. Setelah ini Anda akan diarahkan pada spesialis saraf kami.”
Dan kemudian Taehyung dipersilakan untuk duduk bersama Yoongi menemani Jungkook yang sudah bersih dan mulai tenang, dapat menahan sakit di kepalanya untuk menunggu dokter saraf mereka yang tiba beberapa saat dengan terburu-buru. Dia lalu mengangguk pada Taehyung, menerima laporan tentang cidera kepala Jungkook kemudian melakukan tes yang sama seperti dokter umum tadi.
Dia menyenteri mata Jungkook, mengajaknya mengobrol sebelum menatap Taehyung. “Apakah Pak Jungkook pernah terbentur sebelum ini?” tanyanya sambil menyentuh kepala Jungkook dan mengecek lukanya.
Taehyung merasa mual. “Pernah,” sahutnya mencicit.
“Ada keluhan setelah cidera itu?”
“Tidak,” Taehyung menggeleng. “Hanya cidera ringan dengan benjolan kecil. Kami sudah mengeceknya tapi menurut dokter tidak ada hal yang mengkhawatirkan.”
“Sudah berapa lama sejak benturan itu?”
“Sekitar satu bulan lebih.”
“Tidak ada keluhan sama sekali?”
Taehyung diam sejenak. Jungkook tidak pernah mengeluhkan apa pun tentang kepalanya, malah selalu mengomel tiap kali Taehyung bertanya tentang kepalanya. Dia tidak mengeluh pusing yang berlebihan, kehilangan orientasi atau hal-hal minor lainnya tentang kepalanya.
“Tidak.” sahutnya ragu-ragu.
Dokter menangkap nada itu. “Sebaiknya Anda menghubungi rekan kerja atau teman dekat pasien dulu untuk menanyakan keluhan yang mungkin luput Anda perhatikan, sementara itu kami akan mempersiapkan pasien untuk melakukan CT scan.”
Sementara Jungkook kemudian dibawa pergi dari sana, Taehyung merogoh ponselnya menekan nomor Jackson yang selalu disimpannya sama seperti Jungkook yang selalu menyimpan nomor Bogum sebagai orang kedua mereka di tempat kerja masing-masing.
Jungkook tidak terlalu banyak bicara, tidak terlalu fokus pada Taehyung juga selain memejamkan mata berusaha menghalau rasa sakit di kepalanya. Dia hanya menepuk tangan Taehyung lembut dan tersenyum; berusaha menghiburnya lalu mendesah keras saat sakit menyerang kepalanya.
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Taehyung, baru kuasa menanyakan ini pada Yoongi saat mereka mengejar Jungkook yang dibawa ke ruang radiologi.
Yoongi berdeham, pucat dan khawatir. “Kami sedang naik ke lantai dua, Jungkook ingin mengecek bagian balkon melayang dan terpeleset di lantai. Kepalanya membentur lantai; suaranya tidak besar tapi kami semua langsung panik saat kepalanya mulai berdarah.
“Dia langsung kehilangan kesadaran dan aku menelepon rumah sakit terdekat meminta ambulan dikirimkan karena aku tidak yakin aku bisa membawanya dalam mobil dengan kondisi separah itu.
“Di tengah huru-hara kepanikan membawa Jungkook ke rumah sakit baru aku teringat kau tidak tahu apa-apa tentang ini. Jadi aku mengirim mandorku untuk menemani Jungkook di dalam ambulan dan menjemputmu.
“Mandorku bersama kami saat kejadian jadi aku yakin dia sudah memberitahu semuanya pada perawat.”
Taehyung mengangguk, berusaha mempertahankan ketenangannya yang mulai goyah. Di telepon, nada sambung terdengar. Apakah hari ini Jackson shift? Saat dia sudah nyaris kehilangan harapan, telepon di angkat.
“Halo, selamat siang?” sapa pemuda di seberang sana.
“Jackson, halo.” sapa Taehyung. “Ini aku, Taehyung. Tunangan Jungkook.”
“Ah, halo, Taehyung! Have a great time in Bali?” tanyanya ramah lalu mengatakan pada CDP-nya bahwa dia perlu waktu sebentar sebelum menjauh dari hot kitchen.
“Not really,” sahut Taehyung kering. “Aku butuh bantuanmu. Apakah Jungkook sering mengeluh pusing saat bekerja? Atau hal-hal tidak biasa lain yang dilakukannya sepulang kami dari Bali sebulan lalu? Apa saja, sekecil apa pun.”
Jackson diam sejenak, tidak faham dengan pertanyaan Taehyung. “Dia biasa mengeluh pusing jadi aku tidak tahu apakah itu spesial. Khususnya saat food flow sedang tinggi, biasanya dia akan marah-marah. Itu hal biasa...” Katanya perlahan, sambil berpikir.
Taehyung mengigit kukunya, berdiri di depan ruangan radiologi menunggu kekasihnya yang sedang di dalam melakukan CT scan untuk mengecek kepalanya.
“Ah,” kata Jackson kemudian. “Aku tidak tahu ini termasuk atau tidak tapi belakangan ini dia tidak terlalu percaya diri dengan rasa masakannya.”
Jantung Taehyung berdebar begitu kuat, menonjok rusuknya hingga dia harus menekannya dengan tangan untuk mencoba membuat sakitnya berkurang. “Maksudmu?” tanyanya mencicit.
“Dia... selalu membutuhkan pendapat kedua untuk masakan. Saus, bumbu. Hal-hal seperti itu. Dia selalu memintaku untuk menyicipinya setelah dia melakukannya. Dia biasanya melakukan itu sendiri, tidak pernah butuh dibantu. Dan Jungkook tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di hot kitchen lagi.
“Ada sesuatu yang salah dengannya tapi dia selalu meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja dan karena aku tidak punya nomormu, aku tidak yakin apakah aku harus memberitahumu tentang ini atau tidak. Kupikir kau pasti sudah tahu karena kalian tinggal bersama?”
Taehyung kemudian teringat hari itu, saat dia mengunjungi kitchen dan Jungkook mencicipi makanan.
“Asin,” begitu katanya hari itu sementara Jackson menyicipinya dan menukasnya, “Ini oke.”
Dan saat mereka memasak samosa, dia memakan masakannya lalu bertanya, “Apakah terlalu pedas?” dan dia juga meminta Taehyung bertanya pada Jimin apakah samosanya pedas.
Taehyung pikir itu hanyalah sikap sopan Jungkook, ingin memberikan makanan yang lezat untuk Jimin karena telah membantu mereka di masalah kemarin. Hanya bersikap sopan dan sedikit perfeksionis—persis Jungkook yang biasanya.
Sekarang dia merasa semuanya begitu membahayakan. Apakah itu ada kaitannya dengan kepalanya? Atau Taehyung hanya berpikir berlebihan? Dia menurunkan ponsel setelah berterima kasih pada Jackson lalu duduk di sana, termangu-mangu seperti orang bodoh sementara Yoongi berdiri di hadapannya, cemas.
“Ah, aku harus mengurus administrasi, ya...” Katanya linglung lalu berdiri, menyelipkan ponselnya dan menuju bagian pendaftaran radiologi.
Setelah menyelesaikan pendaftaran radiologi, pendaftaran pasien dan ruang inap, Jungkook kemudian dikembalikan ke UGD setelah CT scan sembari menunggu kamarnya siap. Taehyung meminta Yoongi menemani Jungkook sementara dia bertemu dengan dokter Jungkook untuk bersama-sama membaca hasil CT scan-nya.
“Pak Taehyung, silakan duduk.” kata dokter saraf itu, melambaikan tangan ke kursi di hadapan Jungkook. “Apakah Anda sudah mendapatkan info tentang efek samping yang Anda mungkin luput perhatikan? Sekecil apa pun akan sangat membantu kami.”
Taehyung menelan ludah. “Tunangan saya sering mengeluh pusing, tapi hal itu sudah tidak terlalu istimewa karena dia memang mudah pusing saat tertekan.”
Dokter itu mengangguk, mengeluarkan hasil ronsen kepala Jungkook dan menempelkannya di LED Film Viewer di sisi ruangannya dan menyalakannya. Hasil ronsen itu terdiri dari foto kepala Jungkook dari berbagai sisi dan juga otaknya dalam warna kelabu. Berjejer seperti bola-bola di dalam kertas film gelap.
Taehyung tidak faham sama sekali gambar itu tapi dokter yang membacanya mengamati gambar itu dengan serius.
“Ada tanda trauma di bagian temporalnya,” kata dokter menunjuk bagian samping kepala Jungkook dengan pulpen. “Jadi saya menyarankan Pak Jungkook melakukan MRI scan, untuk mengecek sarafnya. Pada benturan sebelumnya, bagian mana yang terhantam? Dan kejadiannya?”
“Bagian telinganya,” kata Taehyung, menyentuh bagian beberapa senti di atas telinganya. “Terbentur ke batu di Monkey Forest. Saat saya cek di hotel, hanya benjol ringan dan dia langsung tidur. Tidak mengalami efek apa pun dari benturan itu.” Dia bahkan menggendong Taehyung pulang ke hotel, dia ingin menambahkan.
“Temporal dua kali benturan; minor dan mayor.” Kata dokter Jungkook, kemudian mematikan lampu dan kembali duduk di kursinya. “Apakah ada keluhan lain? Saya lihat tunangan Anda seorang chef.
“Mungkin ada keluhan lain? Pada perasanya atau yang lainnya?”
Taehyung mengerjap, mulai mual. “Dia...,” mulainya perlahan, menatap dokter yang balas menatapnya. “Agak kesulitan mengenali rasa?” Dia bertanya ragu-ragu; mungkinkah itu berhubungan dengan kepalanya? “Dia merasa makanannya terlalu pedas atau terlalu asin...?”
Dokter itu menatapnya, seolah sudah menduga kata-kata Taehyung dan mengangguk. “Anda bisa mengurus administrasi untuk MRI scan. Hasilnya akan menentukan apa yang harus saya lakukan setelah ini.” Katanya berdiri dan itu adalah gestur untuk Taehyung meninggalkan ruangan.
Maka Taehyung berdiri, mengangguk sopan pada dokter saraf Jungkook dan bersiap meninggalkan ruangn saat dokter itu menambahkan dengan nada lemah.
“Saya sangat berharap dugaan saya salah, Pak Taehyung.”
*
*Dokter sedang melakukan Glassglow comma scale: mengecek dilatasi pupil, respon pasien terhadap rasa sakit dan responnya pada pertanyaan (Mata-Motorik-Verbal). Jika skalanya setidaknya di angka 3-5-4 maka pasien aman. Standar penanganan saat menghadapi pasien dengan head trauma.
*Apa bedanya? CT Scan: melihat kerusakan di tengkorak dan otak. MRI Scan: melihat kerusakan syaraf.