The Chef #64

“Welcome home.”

Jungkook membiarkan pintu terbuka dan mempersilakan Taehyung memasuki ruangan. Tunangannya tersenyum, meletakkan tasnya di lantai dan mendesah. Menghirup aroma Jungkook yang menempel di setiap sudut ruangan dan betapa familiarnya aroma after-shave pemuda itu bagi seluruh indera Taehyung; menakjubkan.

Jungkook berdiri di sisinya, beraroma keringat karena dia langsung meluncur ke apartemen Jimin setelah selesai berolahraga tanpa mandi terlebih dahulu karena begitu bersemangat akan bertemu Taehyung lagi dan membuat mobilnya beraroma tajam seperti keringatnya.

Dan Taehyung tidak keberatan sama sekali.

“Aku mandi dulu, oke?” kata Jungkook, mengulurkan tangan akan meraih dan mencium pelipisnya sebelum kemudian dengan kikuk membiarkan tangannya jatuh terkulai di kedua sisi tubuhnya; gerakan yang nyaris tidak disadarinya sama sekali.

“Oke,” ulangnya lalu beranjak ke kamar mandi sementara Taehyung menatapnya, tersenyum.

Dia sangat merindukan Taehyung rasanya seperti akan meledak oleh emosinya sendiri. Bagaimana selama ini dia hidup bersamanya terasa begitu mudah, semudah bernapas. Namun apakah lelaki itu siap untuk menerimanya kembali?

Berdiri sedekat itu dengan Taehyung tanpa diperbolehkan untuk menyentuhnya akan menjadi hukuman penyiksaan hingga mati yang tepat bagi Jungkook.

Jungkook membiarkan air mengguyur tubuhnya yang rileks setelah berolahraga rutin. Dia menyabuni seluruh tubuhnya seraya membiarkan otaknya rileks dengan gerakan mandinya yang sederhana. Beberapa bagian ototnya terasa nyeri oleh gerakan yang dilakukannya terlalu berlebihan hari ini. Besok akan memar tapi dia tidak masalah.

Dia menjangkau seluruh bagian tubuhnya, mencoba menenangkan setiap saraf dan otot yang tegang. Setelah mandi, dia menyugar rambut gondrongnya yang basah dan menyikat giginya, mengeringkan rambut dengan handuk lalu keluar.

Di ranjang ada Taehyung, duduk di pinggir kasur sedang memilah bajunya untuk dirapikan kembali ke lemari mereka.

Dan entah mengapa, Jungkook merasa kikuk. Dia berdeham, memegang handuknya dengan lebih erat lalu beranjak ke lemari mereka. Taehyung menatapnya, tanpa ekspresi sama sekali hingga Jungkook merasa jengah.

Jadi dia bergegas meraih pakaian dalam dan baju ganti lalu beranjak ke kamar mandi lagi.

“Tumben,” kata Taehyung dan membuat Jungkook berhenti di tengah jalan dan menoleh, rambut gondrongnya yang membentuk tirai ikal di kedua sisi wajahnya bergerak merespon gerakan kepalanya.

“Maksudnya?” tanya Jungkook; untuk pertama kalinya setelah bersama selama beberapa tahun, malu berhadapan dengan Taehyung dalam keadaan setengah telanjang dengan handuk menutupi bagian pinggang ke bawah.

“Kau ganti baju di kamar mandi,” sahut Taehyung dengan senyuman kecil bermain di bibirnya. “Biasanya kau keluar dari sana telanjang saja dan tidak pernah merasa malu,”

Jungkook merona; kenapa dia begitu menyedihkan?? “Itu, 'kan, saat kita...” dia menggaruk pelipisnya, bingung. Apakah mereka sekarang bertunangan?

Dia melirik tangan Taehyung, cincinnya masih melingkar di jemarinya. Nampak berkilau oleh cahaya matahari dan agung pada jemari Taehyung yang kurus dan panjang. Dia sendiri yang memilih cincin itu; membayangkan bagaimana cincin itu akan semakin menonjolkan bentuk jemari Taehyung yang indah.

Dan benar. Pilihannya memang tidak pernah salah.

Yah. Pernah, sekali. Dan dia tidak berencana untuk mengulanginya lagi.

“Memangnya sekarang kita tidak bertunangan?” balas Taehyung dengan sepotong baju di pangkuannya, menatap matanya lalu menyapukan tatapan ke seluruh tubuh Jungkook yang terbuka dan membuat Jungkook merinding.

Dia sungguh sangat merindukan Taehyung dia bisa saja meraup tunangannya itu dalam pelukannya dan bercinta dengannya hingga pagi tapi tidak, mereka harus bicara.

“Kita sedang.... bertengkar?” cobanya dan Taehyung terkekeh.

“Ganti baju saja di sini,” kata Taehyung lembut, tersenyum. “Ini kan apartemenmu,”

“Kita,” koreksinya seketika dan Taehyung tersenyum.

Akhirnya Jungkook mengganti bajunya di sana dengan kikuk membelakangi Taehyung sementara pemuda itu melipat pakaiannya di ranjang. Menyimpannya kembali di sisi lemarinya dan membuat jantung Jungkook melonjak hingga menonjok tenggorokannya; dia tidak akan pergi lagi, kan?

Mereka berbaikan, kan?

“Hei,”

Jungkook mendongak dari kesibukannya berusaha melepaskan sisir yang tersangkut di rambutnya. “Apa?” tanyanya dengan tangan di depan wajahnya, sisir yang menyangkut di rambutnya dan ekspresi bodoh yang membuat Taehyung terkekeh.

“Sini,” katanya menghampiri Jungkook, meraih sisir Jungkook dan dengan lembut mengurai rambut Jungkook yang tersangkut di geligi sisir.

Taehyung hanya pergi selama dua hari, namun ketidakhadirannya benar-benar berpengaruh besar pada hidup Jungkook. Dia benci terbangun dengan keadaan kosong dan sendirian, dengan sisi ranjang yang dingin. Membuatnya teringat masa-masa kelam saat dia mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya hanya agar tidak memikirkan apa pun.

Dia takut, dia benci sendirian.

Tapi dia teringat apa yang dikatakan Mingyu saat mereka bertemu kemarin sementara Taehyung menyisir rambutnya dengan gerakan selembut penari.

“Kau tidak bisa terus-terusa menggantungkan hidup dan emosimu pada Taehyung. Kau tidak bisa menumpukan harapanmu pada manusia; mereka berubah, mereka dinamis. Kau tidak bisa terus berharap Taehyung akan selamanya ada di sisimu.

“Dia bisa saja berubah pikiran,” Mingyu menatapnya. “Aku tidak bermaksud mengancammu lagi, tapi kumohon. Kau harus meminta pertolongan profesional, kau harus melangkah dari kenangan lalu itu dan menjadi bahagia dengan dirimu sendiri sehingga saat bersama Taehyung; kalian akan membagi kebahagiaan kalian masing-masing bersama alih-alih mencoba saling membahagiakan.

“Karena bahagia itu pilihan, Jungkook. Jika kau tidak memilih untuk jadi bahagia, maka apa pun yang Taehyung lakukan untuk membuatmu bahagia tidak akan pernah membuatmu bahagia.

“Maka berbahagialah dengan dirimu sendiri sehingga kalian bisa berbahagia bersama.”

“By,” panggilnya saat Taehyung masih menyisir rambutnya.

“Hm?” sahut Taehyung lalu menghela napas. “Sudah,” dia meletakkan sisir di meja lalu menatap Jungkook melalui cermin. “Kau ingin makan sesuatu?”

Jungkook balas menatapnya. “Aku yang masak,” katanya dan Taehyung mengangguk.

“Tadi kenapa?” tanya Taehyung.

“Aku...” katanya lamat-lamat, “Apakah menurutmu aku harus bertemu profesional?”

Taehyung menatapnya lalu mendesah, mengulurkan tangan dan memeluk leher Jungkook. Membungkuk hingga kepalanya bersandar di leher Jungkook lalu mengecup lehernya lembut. “Tergantung,” katanya masih menatap Jungkook dari cermin. “Bagaimana perasaanmu tentang kejadian itu,”

“Apakah kau masih merasa bahwa itu adalah salahmu?” tanya Taehyung kemudian.

Jungkook menggeleng. “Setelah berbicara dengan Mingyu dan saling memaafkan, hatiku terasa lebih ringan.” Dia kemudian menatap Taehyung. “Aku sungguh minta maaf karena telah membohongimu. Aku tidak punya pembelaan diri apa pun untukmu karena aku memang secara sadar membohongimu.

“Memang berencana membohongimu.”

Jungkook diam, menatap Taehyung yang masih bersandar di bahunya dengan tenang. Dia menyentuh tangan Taehyung di tulang belikatnya lalu meraihnya, mengecupnya dalam.

“Saat aku bertemu denganmu, aku tidak menyangka aku akan merasakan hal yang sangat berbeda bahkan dari apa yang kurasakan dengan tunanganku di masa lalu dan Mingyu.

“Dengan mantan tunanganku, semuanya terasa meledak-ledak, semua adrenaline rush yang memusingkan. Hubungan kami naik-turun dengan ekstrim. Tapi kami bahagia, memiliki satu sama lain dengan keposesifan anak muda.

“Sementara dengan Mingyu, itu adalah duka. Kami saling melukai, kami saling menghisap kehidupan masing-masing untuk bertahan. Mungkin seperti kata mereka, 'licking each other wounds' tapi menurut Mingyu itu sama sekali tidak berhasil.

“Kami selalu lelah menghadapi satu sama lain. Menghadapi duka yang sama bersama terkadang tidak membuat duka itu terasa lebih ringan; malah semakin berat karena tidak ada satu orang yang cukup rasional untuk menyadarkan ketika kami tenggelam.

“Tidak ada yang menarik kami keluar dari sumur jika kami sama-sama tenggelam di sana; kami hanya akan saling membunuh.”

“Setuju,” bisik Taehyung lembut lalu menegakkan tubuh. Lalu mengial pada Jungkook untuk beranjak ke ranjang mereka, Taehyung membaringkan tubuhnya dan Jungkook dengan otomatis—nyaris diluar kendalinya sendiri, meraih Taehyung hingga pemuda itu bergelung seperti seekor kucing di pelukannya.

“Tapi denganmu,” bisik Jungkook kemudian setelah mereka nyaman dalam pelukan masing-masing lalu mendesah. “Demi Tuhan, bersamamu semuanya begitu berbeda,” dia merunduk, mencium puncak kepala Taehyung dalam-dalam, menghirup aromanya dan memenjarakan aroma itu di kepalanya.

Dia sangat merindukan Taehyung hingga seluruh ototnya nyeri, seluruh organnya ngilu.

“Bersamamu semuanya terasa baru. Ledakan adrenalin itu, rasa nyaman, rasa percaya, masa depan terasa membentang dan aku sama sekali tidak takut menghadapi apa pun. Kau membuatku kuat, kau membuatku luar biasa.

“Kau lelaki luar biasa; paling menakjubkan, paling kuat, paling mandiri dan paling galak yang pernah kutemui. Kau membuatku nyaman dengan diriku sendiri, membuatku bahagia hanya dengan bernapas; membuat hidup ini terasa lebih baik—jauh lebih baik.

“Maka aku takut,” dia berbisik lirih, gemetar dan mengeratkan pelukannya pada Taehyung yang membelai lengannya dengan ujung jemarinya. “Aku takut kau akan meninggalkanku maka aku... membohongimu. Aku cukup egois untuk melakukan apa saja demi memilikimu untuk diriku sendiri.

“Aku bajingan besar kepala dan egois yang tidak pernah merasakan kegagalan sama sekali dalam hidupku kecuali hari itu. Maka aku benar-benar tidak mau kehilanganmu, tidak sudi melihatmu memilih orang lain.

“Tidak sudi,” ulangnya, membiarkan kalimat itu menggantung di udara sebelum melanjutkan. “Maka aku menipumu. Menarikmu ke dalam jebakanku dengan iming-iming, mempermainkan rasa percaya dan empatimu agar kau terjebak selamanya dalam pelukanku; seperti venus filtrap,”

“Bukan,” Taehyung terkekeh serak. “Kau ini semacam macan tutul eksotis dan aku nampaknya dengan senang hati melangkah ke sarangmu untuk dikunyah habis.” Jemarinya membelai permukaan perut Jungkook yang keras oleh ototnya yang terlatih.

“Jika aku tidak berhasil menahanmu sekarang, maka aku tidak yakin lagi pada apa yang harus kulakukan dengan hidupku...” bisik Jungkook, memeluk Taehyung semakin erat hingga Taehyung tercekik geli.

“Tentu saja ada banyak hal yang bisa kaulakukan dengan hidupmu; restoranmu? Karirmu? Kau bisa jadi apa saja yang kauinginkan dengan kekeraskepalaanmu, egoismemu.... Kau hanya terlalu menggantungkan emosimu padaku,” Taehyung membelai wajahnya lembut.

“Jangan pikir aku tidak marah,” kata Taehyung kemudian. “Aku marah sekali, aku jengkel. Terluka dan merasa dikhianati. Tapi,” dia bergegas menambahkan saat Jungkook membuka mulut untuk bicara menukasnya. “Kata-kata Yugyeom tempo hari membuatku berpikir. Bahwa kau mungkin memang layak untuk diberikan kesempatan kedua.

“Dan kau menyadari kesalahanmu. Kau menyesal atas itu. Dan menurutku, itu sudah cukup...” Taehyung menatapnya. “Dan... mungkin, butuh waktu untukku hingga benar-benar percaya lagi padamu, kuharap kau mengerti itu?”

Jungkook mentapnya, terpana. “Maksudmu...?” bisiknya pecah dan Taehyung bisa merasakan tubuhnya yang besar gemetar oleh semangat.

Taehyung tersenyum. “Aku memaafkanmu kali ini,” katanya. “Tapi kukatakan padamu sekarang, bahwa aku tidak memaafkan orang dengan kesalahan yang sama dua kali, oke? Kuharap kau benar-benar memahami bahwa kesempatanmu ini sangat langka.

“Semua karena aku sangat mencintaimu hingga hatiku pedih berjauhan denganmu, bahkan dalam pelukanmu pun aku merasa begitu merindukanmu,” Taehyung menyusupkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan Jungkook seakan hal itu mungkin untuk dilakukan.

“Tolong jangan menyakitiku lagi dengan cara itu, ya?” dia menatap Jungkook yang masih terpana. “Dan kurasa besok kita bisa cari konselor yang cocok untukmu dan mulai sesinya? Kita tentukan setelah satu sesi apakah hal itu nyaman untukmu, ya?”

“Kau memafkanku?”

“Kurasa aku baru saja mengatakannya, ya. Aku memaafkanmu.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

Jungkook menatapnya. “Tidak akan meninggalkanku sendirian lagi?”

“Tidak,” Taehyung menatap Jungkook yang sekarang nampak seperti bayi berusia tiga tahun yang baru saja dijanjikan permen jika dia bersikap baik.

Bagaimana lelaki setinggi seratus tujuh puluh lebih dengan otot dewasa yang sempurna, tato disekujur tubuhnya dan aura mendominasi yang melelehkan siapa saja bisa bersikap semanis, semenggemaskan dan selucu ini.

Taehyung merasa seluruh tubuhnya mekar oleh perasaan cinta.

Kemdian Jungkook kemudian meledak dalam tangis yang mengangetkan hingga Taehyung terkesirap. Dia memeluk Taehyung, membenamkan wajahnya pada dada Taehyung dan terisak-isak. Memeluk pemuda itu dengan kedua lengannya, melingkarkannya di pinggang langsing Taehyung dan tidak sudi melepaskannya kembali.

“Sayangku,” bisik Taehyung lembut di kepalanya. “Sayangku, Jungkook-ku.... Aku di sini, oke? Maaf aku meninggalkanmu kemarin...”

“Percayalah padaku bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu lagi,” bisik Jungkook terisak, terbenam di dada Taehyung dan pemuda itu terkekeh. “Aku sangat mencintaimu sungguh; dengan setiap tarikan napas dan detak jantungku.”

“Aku juga mencintaimu,” balas Taehyung dan merasa lega oleh kalimat itu; merasa seperti beban langit baru saja diangkat dari bahunya yang terbakar oleh rasa nyeri. “Aku juga mencintaimu. Dan... aku belum bisa percaya sepenuhnya padamu, tapi aku cukup mencintaimu untuk kembali belajar bersamamu.”

Maka saat Jungkook kemudian menarik dirinya, wajahnya memerah dan sembab oleh air mata, Taehyung membiarkan dirinya meleleh dalam sentuhan Jungkook dan menangkup wajahnya lalu menciumnya.

Seolah mereka belum pernah berciuman sebelumnya.

Tangan Jungkook terasa begitu asing dan baru di tubuh Taehyung saat meluncur turun dari bahunya, mengikuti lekuknya dengan mulus hingga berhenti di pinggulnya sementara bibirnya sibuk menyecap rasa Taehyung hingga pemuda itu merasa pening dan kepalanya terlepas dari lehernya.

Seperti hari itu saat dia merasakan caffeine hangover untuk pertama kalinya, namun ciuman Jungkook terasa jauh lebih memabukkan dari kafein dan Taehyung merengek saat Jungkook menarik wajahnya; tangannya yang buta meraih tengkuk Jungkook dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Jungkook.

Dia ingin lagi, dan lagi.

Terus hingga seluruh tubuhnya tidak sanggup lagi menangguhkan cintanya pada Jungkook.

Dia gemetar, merasa bingung dan tersesat dalam ciuman pertama mereka yang begitu mendebarkan. Jungkook menatapnya, matanya yang sayu dan nampak mengantuk membuat Taehyung kembali meleleh; dia meraih pemuda itu kembali dan menciumnya.

“Aku sangat merindukanmu,” bisiknya saat mereka berhenti berciuman dan membiarkan bibir Jungkook menggelincir turun dari bibirnya ke lehernya yang terbuka; melukiskan jejak api yang membuat seluruh tubuh Taehyung berdenyar nikmat.

“Tidak ada yang merindukanmu sehebat aku melakukannya,” bisik Jungkook teredam di kulit Taehyung yang selembut cream cheese; memabukkan dan seperti candu. Dia terus menciumi setiap permukaan kulit Taehyung yang terpapar seperti orang yang tidak pernah makan.

Dia tidak bisa berhenti.

“Maka jangan berhenti,” bisik Taehyung, terengah mabuk oleh gairah dan kerinduan. “Jangan berhenti menciumku,” katanya, menyusupkan jemarinya ke rambut Jungkook dan menjambaknya. “Jangan berhenti menciumku; tolong...” mohonnya.

“Kau bajingan besar kepala dan egois yang kebetulan seksi,” Taehyung meraihnya dan membelai seluruh kulitnya yang terbuka hingga Jungkook menggeram—seperti seekor macan tutul eksotis yang membuat seluruh saraf Taehyung menegang oleh gairah. “Jika kau bersikap tidak sopan lagi padaku, pada perasaanku dan pada cintaku; aku akan membunuhmu.

“Kita sepakat?”

Jungkook menatapnya, menyodokkan lidahnya ke bagian dalam pipinya dan tersenyum separo. Nampak sungguh serupa bajingan congkak sebagaimana dia sesungguhnya. “Sepakat,” katanya serak dengan bibir menempel di sudut bibir Taehyung.

“Sekarang, bisakah aku bercinta denganmu? Kumohon?” bisiknya masih di bibir Taehyung dengan nada yang gemetar oleh keinginan hingga Taehyung merasa dia bisa saja orgasme hanya dengan nada dan suara Jungkook.

“Menjijikkan,” balas Taehyung memejamkan mata saat bibir Jungkook mencium jakunnya yang berdeguk oleh gairah. “Apakah kepalamu isinya hanya bercinta?”

“Sayangku,” bisik Jungkook, menjilat lehernya dengan lidahnya yang panas. “Jika itu tentangmu, aku hanya akan selalu memikirkan bagaimana indahnya kau saat mengerang di bawahku dalam sebelas detik orgasmemu....”

Maka Taehyung menyerah, membiarkan Jungkook membimbingnya menuju sebelas detik orgasme yang membuatnya pening.

*