eclairedelange

i write.

The Chef #154

Jungkook tertawa saat Taehyung memutuskan bersikap ekstra dengan membalut matanya agar dia tidak tahu ke mana dirinya dibawa.

“Apakah kau sudah menyiapkan candle light dinner untukku? Sampanye? Kue ulangtahun?”

Bubble melompat ke gendongan Jungkook dengan pakaian kemeja mungilnya yang menggemaskan, siap untuk datang ke pesta sebagai tamu undangan. Lebih karena Jungkook tidak tega meninggalkannya sendirian di tempat yang masih asing untuknya.

“Jauh lebih baik.” Sahut Taehyung dengan suara kering setelah mengikat lembut selendang suteranya ke mata Jungkook.

Alis Jungkook berkerut mendengarnya, dia mengulurkan tangannya yang buta dan menemukan pipi Taehyung lalu meraihnya dan mengecup sudut bibirnya. “Kau oke?” tanyanya cemas, “Suaramu serak. Kau ingin istirahat saja? Kita bisa pesan-antar makan malamnya.”

“Tidak, tidak!” Tukas Taehyung seketika itu juga nyaris agresif. “Kita akan makan di luar. Ini malam ulangtahunmu, jadi harus dirayakan.” Jungkook mendengarnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. “Aku akan memesan kendaraan.”

Taehyung duduk di sisinya, tegang dan gelisah sepanjang perjalanan hingga Jungkook kebingungan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dia memindahkan Bubble ke pangkuan Taehyung dan tersenyum.

“Kenapa kau takut begitu? Aku janji akan berpura-pura terkejut jika memang kejutanmu tidak sekeren itu, tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu kecewa.” Dia meraih tangan Taehyung dan semakin heran saat mendapati tangan tunangannya begitu dingin dan berkeringat.

“Ya Tuhan,” katanya geli. “Kau tegang sekali.” Dia meremas tangan Taehyung dengan lembut. “Tenanglah, ini hanya makan malam. Denganku, lelaki yang kauizinkan menjadi pasanganmu seumur hidup.”

Taehyung tidak menjawabnya dan Jungkook berpikir dia mungkin hanya tegang karena telah menyiapkan kejutan sejak begitu lama dan takut Jungkook tidak menyukainya. Maka Jungkook berjanji dia akan berpura-pura terkejut jika memang kejutannya tidak sekeren itu dan tidak akan bersikap seperti bajingan tengik malam ini.

Taehyung berhak mendapatkan malam apresiasi atas kesabarannya dalam menghadapi Jungkook selama masa-masa depresinya.

Jika saja restorannya jadi didirikan, mereka mungkin sedang sibuk mengatur table set untuk tamu-tamu istimewa Jungkook dan dia kemudian teringat dia belum mengirim email kepada semua seniornya tentang pembatalan restorannya dan mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukannya malam ini dan mengecek tabungannya untuk mulai mencatat budget belanja mereka mengisi rumah baru mereka.

Jungkook tersenyum dalam hati; rumah mereka.

Rumah.

Bukan apartemen lagi.

Mereka punya halaman yang bisa ditanami tumbuhan, tempat untuk Bubble berlarian dan Taehyung beryoga. Tunangannya tidak perlu lagi menyetel musik menenangkan gemericik air tiap kali beryoga, dia akan memiliki gemericik air asli menemaninya beryoga.

Jungkook senang sekali, hatinya bisa saja meledak oleh rasa bahagia. Mereka akan mulai menata kehidupan baru sementara Jungkook mulai mengikhlaskan mimpinya dan bisa mulai menatanya lagi dengan perlahan-lahan hingga lidahnya setidaknya 10% bisa merasakan rasa.

Dia akan memulai lagi restorannya setelah dia cukup kuat dengan dirinya sendiri.

Tidak terasa, mobil berhenti dan Jungkook menegakkan tubuhnya. Hidungnya yang lemah mencium aroma bunga; mawar, tulip, krisan.... Semuanya segar memenuhi udara dan dari balik penutup mata, dia bisa merasakan cahaya menyusup dari serat-serat kain.

Namun yang membuatnya aneh, tempat itu sepi. Hanya ada suara sayup-sayup musik dari dalam ruangan dan sisanya hening selain suara jangkrik dan sungai di kejauhan. Taehyung menyewa seluruh restoran untuk mereka?

Taehyung menepuk bahunya.

“Ayo turun.” Bisiknya tegang lalu membantu Jungkook turun dari mobil dan meminta supirnya menunggu mereka, mempersilakannya untuk memesan makanan di dalam seraya menunggu.

Taehyung membimbingnya masuk, menaiki tangga ke arah cahaya yang menyilaukan sambil menggendong Bubble di lengan satunya. Golden retriever mungil itu kemudian menggonggong ceria seolah mengenali seseorang yang sudah akrab dengannya saat mereka berdiri di bawah cahaya.

Taehyung di sisinya menghela napas. “Kau siap?” Tanyanya.

Jungkook meremas tangan Taehyung yang sedingin es. “Siap.” Katanya tersenyum lebar. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku tidak yakin aku tidak akan terkejut saat kau membuka penutup matanya.”

Taehyung di sisinya diam sejenak sebelum menghela napas panjang sekali lagi, kemudian melepas simpul yang mengikat penutup mata Jungkook dan menariknya lepas.

Jungkook membiarkan matanya terpejam beberapa detik sebelum membukanya dan ledakan konfeti menghujani wajahnya dan beberapa memasuki mulutnya saat dia terkesirap kaget.

“SURPRISE! SELAMAT ULANG TAHUN, JEON JUNGKOOK!”

Dia tertawa serak, menemukan Jimin dan Mingyu berdiri di hadapan mereka dengan topi pesta bodoh di kepala mereka dan masing-masing memegang petasan konfeti yang sudah meledak. Lalu mulai menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' yang sumbang.

Jungkook memadang ke sekitar ruangan dengan takjub.

Tempat itu terkonsep matang dengan desain moderen minimalis namun tetap mewah yang membuatnya mendesah; konsep yang diinginkannya untuk restorannya sendiri. Ada jendela-jendela besar yang sekarang dihiasi lampu-lampu mungil, meja-mejanya dihias dengan taplak meja berwarna emas mawar yang cantik dengn sekuntum bunga di masing-masingnya, alat makan yang diatur dengan sempurna, linen yang lincin, pengharum ruangan yang tidak menusuk.

Ada tulisan di dinding belakang dalam balon-balon huruf emas yang gendut di atas tirai emas berkilauan: “HAPPY BIRTHDAY, JEON JUNG-COCK!” dan Jungkook langsung tahu itu pasti pekerjaan Mingyu. Dia tertawa, puas melihat bagaimana restoran itu nampak begitu mewah, elegan namun juga tidak terlalu mengintimidasi.

Beginilah jika restorannya sungguh berdiri, pikir Jungkook muram. Dia mendongak ke langit-langitnya yang tinggi, ada lampu kristal di sana, menggantung indah dan berkilauan oleh cahayanya sendiri.

Tunggu.

Jungkook mengamati benda itu dengan mata memicing, mencoba menguraikan bentuk kristalnya dan kerangka patennya yang menahannya ke langit-langit.

Dia... mengenali desain lampu kristal itu.

“Sayang,” katanya menoleh untuk mengatakannya pada Taehyung.

Namun sebelum berhasil melakukannya, rombongan orang muncul dari kitchen menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' lain dengan nada sumbang dan dia menoleh untuk menemukan Yugyeom melangkah masuk dengan bundt cake hangat yang dihiasi lilin mungil, masih dalam seragam chef-nya dengan beberapa orang kitchen.

Jungkook tertawa, melupakan lampu kristalnya. “Astaga!” serunya bahagia, menghampiri Yugyeom dan kuenya. “Kau bahkan datang masih mengenakan seragammu.” Dia memeluk sahabatnya sebelum membagi pelukan yang sama dengan Jimin dan Mingyu.

“Ini maksudmu, 'see you around soon'?” Tuntutnya pada Jimin yang tertawa.

“Kami memberimu kejutan, oke? Kami berhasil, kan?” Tanyanya ceria, wajahnya memerah oleh adrenalin dan kebahagiaan.

Jungkook tersenyum lebar, begitu lebar hingga pipinya nyeri. “Luar biasa!” Pujinya tulus. “Khususnya Taehyung yang sudah menyiapkan semuanya hingga memesan satu restoran untukku, luar biasa!”

Dia menoleh ke Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya, berwajah sepat seperti penderita wasir dengan Bubble di pelukannya. “Sayang?” tanyanya dan suara lagu sumbang berhenti. “Kau baik-baik saja?”

Taehyung mengulaskan senyuman yang nampak seperti ringisan. “Maaf, aku merusak pestanya, ya?” Dia mengerling Jimin lalu menghela napas dan tersenyum lebar, jauh lebih ceria. “Tiup lilinnya, itu kue kesukaanmu!”

Jungkook menatapnya, menilai sejenak dan Taehyung melemparkan senyuman lebarnya yang membut hati Jungkook jauh lebih tenang. Dia meraih Taehyung ke pelukannya, merangkulnya dengan erat saat mereka menghadap kue ulang tahun Jungkook.

“Ayo, bernyanyi!” seru Jimin dan semuanya mulai bernyanyi semakin sumbang dan Jungkook tertawa.

Senang dia tidak menyerah beberapa hari lalu, senang saat menyadari betapa dia memiliki teman-teman dan tunangan yang selalu mendukungnya, menyokongnya bagaimana pun keadaannya saat itu.

Senang dia tidak memutuskan untuk mati.

Karena jika dia melakukannya, dia tidak akan berdiri di sini—dikelilingi orang yang menyayanginya dalam pesta ulang tahunnya yang mewah.

Kue kemudian disingkirkan dan Jungkook dipersilakan duduk di kepala meja sementara teman-temannya duduk melingkarinya. Taehyung di sisinya, memangku Bubble yang duduk manis dan Jungkook sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan mereka bahkan saat pelayan menghamparkan serbet di pangkuannya dan menyajikan roti dengan salted butter sebagai panganan menunggu menu mereka siapkan.

Ada menu kecil di tengah meja dan naluri chef Jungkook membuatnya mengulurkan tangan dan membaca menunya, untuk mengetahui apa yang akan dimakannya malam ini.

Dia membaca, perlahan dan kemudian merasakan dasar perutnya bergolak.

Nama-nama menu itu... familiar sekali dengannya.

Tidak banyak chef yang menggabungkan masakan tradisional Bali dengan sentuhan teknik dan juga penyajian mewah Eropa serta sentuhan gastronomi pada hidangan penutupnya. Jungkook yakin ini.

Jantungnya mulai berdebar dan dia mengembalikan menu itu ke standing acrilic-nya dan melirik Taehyung yang duduk di sisinya, bernapas dengan mulutnya. Jimin dan Mingyu di hadapan mereka sibuk berdebat tentang wine yang akan mereka minum malam ini dengan kue ulang tahun Jungkook seraya menanti appetizer mereka.

Dan dia semakin bingung saat Yugyeom sendiri keluar dengan pakaian chef-nya mendorong troli makanan. “Ini restoran tempatmu bekerja, ya?” Tanyanya saat Yugyeom menyajikan makanannya dari sisi kanan tubuhnya. “Itulah mengapa kau yang menyajikannya?”

Yugyeom melirik Taehyung sebelum tersenyum pada Jungkook. “Bisa dibilang begitu.” Dia bergeser ke kanan Taehyung dan menyajikan makanan yang sama dari sisi kanan Taehyung. “Kau harus berterima kasih padanya karena telah meluangkan banyak sekali waktu, pikiran dan tenaga untuk menyiapkan ini.”

Jungkook menatap Taehyung yang mulai menyelupkan sendok supnya ke dalam mangkuk. “Bagaimana kau bisa menemukan restoran fusion seperti ini di Bali?” Tanyanya dan Taehyung tersedak. “Menu mereka autentik sekali.”

Taehyung menyambar serbetnya, menyeka mulutnya dan meraih piala di sisinya, meneguk airnya sebelum menghela napas. Dia menatap Jimin dan Mingyu yang sekarang diam. Suasana tiba-tiba berubah serius dan mencekam, Jungkook tidak faham sama sekali apa yang terjadi.

Sedetik mereka tertawa, sedetik mereka seperti tersangka yang diseret ke tiang gantung.

Jungkook semakin kebingungan. Namun dia memilih untuk menyuarakan semua kecurigaannya. “Dan lampu kristalnya,” dia menatap lampu itu sekali lagi, memastikannya. “Itu desainku, kan? Kau ingat saat aku menggambarnya? Bagaimana mereka bisa punya desain yang sama?”

Karena tidak ada yang menjawab, bahkan Yugyeom hanya berdiri di sisi meja mereka dengan wajah yang tidak terbaca.

“Interiornya, warnanya, bentuknya.... Semuanya seperti desain yang kusetujui untuk restoranku.” Dia menatap kekasihnya, memicingkan mata dan mulutnya terasa asam oleh rasa cemas yang menggelisahkan.

“Antara kau menjual desainku ke orang lain atau...”

Dia diam saat menyadari fakta ini. Jantungnya menonjok tenggorokannya hingga dia ingin muntah.

Benarkah? Benarkah?

Dia kemudian berdiri dengan tiba-tiba hingga lututnya menabrak meja dan membuat seluruh benda di atas meja bergetar dan supnya tumpah ke linen yang licin. Seluruh orang terkesirap kaget. Mengabaikannya, dia melempar serbet ke kursinya lalu berlari ke luar ruangan. Bubble mendengking, merespon emosinya dan melolong menyedihkan meminta Jungkook kembali.

Tidak ada yang berani bergerak saat Jungkook menghambur ke luar ruangan, melepas kancing kemejanya yang terasa mencekik lalu mendorong pintu ganda restoran terbuka dan tertegun.

Jungkook mengenali sekali jalanan itu karena dia mengunjungi tempat ini nyaris setiap saat; dia yang menemukan tanah ini, dia yang meninjaunya untuk memasang petak pembelian, dia yang datang kemari untuk sertifikat tanahnya. Dia mengenal tanah ini persis seakrab dia mengenal Bubble dan Taehyung.

Halamannya sekarang penuh dengan karangan bunga raksasa; mawar, tulip dan krisan yang diciumnya adalah rangkaian bunga raksasa. Berjajar dari pintu masuk, terus hingga sepanjang jalan masuk hingga ke jalan raya. Bunga papan, standing bouquet dan semuanya dialamatkan untuk:

Chef Jeon Jungkook.

Dengan pesan: 'Selamat atas Restoran Barunya!'.

Hatinya mencelos hingga ke dasar perutnya lalu dia bergegas menuruni tangga dalam langkah-langkah besar dan menoleh ke dinding kanan restoran karena jika dia benar maka seharusnya ada plakat keemasan di sana.

Dia limbung saat melihat nama yang tercetak di atas plakat itu, dipasang di atas papan kayu jati kokoh yang dipelamir dan ditutup dengan kain satin tipis.

Namun dia masih bisa membaca ukiran di atasnya:

LE PARADIS by Chef Jungkook.

Kemarahan menggelegak di dasar perutnya; perasaan dikhianati, dibohongi dan dirampok habis-habisan melukai seluruh egonya hingga kepalanya terasa nyeri. Kenyataan menghantamnya seperti pukulan telak ke ulu hatinya hingga dia membungkuk, menekan telapak tangannya ke ulu hatinya.

Taehyung selama ini melanjutkan proyek restoran yang sudah jelas-jelas dibatalkannya.

Taehyung membohonginya.

Taehyung melakukan sesuatu tanpa seizinnya.

Dan dari mana dia mendapatkan semua uang ini?

Kenyataan lain menghantamnya dan Jungkook nyaris muntah oleh perasaan itu. Terjawab sudah kenapa Taehyung selalu menatapnya dengan kosong saat Jungkook membahas uang restoran. Kenapa Taehyung begitu agresif tentang ide Jungkook menunda restoran. Kenapa Taehyung begitu gelisah sepanjang hari.

Dia membohongi Jungkook.

Dan menggunakan uangnya tanpa seizin Jungkook.

Dia menghela napas dengan liar, berusaha menahan emosinya sendiri seperti apa yang terapisnya ajarkan tapi kemarahan begitu hebat hingga kepalanya terasa kesemutan. Maka dia beranjak ke dalam restoran mewah itu, menantap semua temannya yang sekarang menolak menatapnya dan menghampiri Taehyung.

Kepalan tangannya menghantam meja dengan begitu kuat hingga mangkuk sop terlompat dan isinya tumpah ke serbet di pangkuan Taehyung.

Jungkook begitu murka hingga seluruh dirinya nyeri dan kesemutan, matanya kabur dan dia ingin memukul sesuatu.

Memukul seseorang.

“Kemarikan.” Katanya menggeram dari sela-sela giginya yang terkatup rapat, nyaris membuat rahangnya retak oleh seberapa kuat dia menahan diri agar tidak meledak di sini dengan beberapa karyawan (karyawanNYA, demi Tuhan!) yang menatap dengan takut.

Jungkook merasa tubuhnya limbung, tidak kuasa menahan seluruh amarah yang menggelegak di dalam dirinya. Tidak kuasa menahannya lagi. Maka dia menyambar gelas Taehyung lalu melemparkannya ke jendela.

Gelas itu melewati pipi Taehyung dan membuat tunangannya berjengit sebelum menghantam jendela dan pecah menjadi bubuk kaca yang berkilauan saat berhamburan mendarat di lantai marmer yang licin. Jungkook bernapas melalui mulutnya. Butuh melampiaskan amarahnya lagi sebelum dia meledak.

Seluruh ruangan diam, tidak ada yang berani bernapas.

Taehyung menghela napas, gemetar saat dia mendongak, membalas tatapannya dengan pasrah dan kosong lalu meraih saku belakangnya.

“Maaf.” Katanya lemah. “Maaf...”

Yugyeom menyela, mencoba menenangkan sahabatnya. “Jungkook, kita bisa—.”

“Diam!” Raung Jungkook, kembali mengahantamkan pukulan ke meja yang berdentang saat seluruh alat makan bergerak merespon tenaganya dan seluruh orang di ruangan itu mengejang kaget.

Bubble mendengking, tidak berani mendekat ke Jungkook yang tangannya masih di atas meja dalam kepalan marah hingga buku-buku jemarinya memutih. Taehyung mengeluarkan dompetnya lalu menarik kartu Jungkook keluar dari sana dan meletakkannya di meja.

Pemuda yang berdiri di hadapan mereka ini bukan Jeon Jungkook tunangan Taehyung dan bukan juga Chef Jeon Jungkook. Kemarahannya adalah hal anyar yang membuat mereka semua terkejut. Dia nampak sungguh terluka dan terkhianati oleh restoran ini.

“Kalian semua bekerja sama?” Tanyanya menggeram.

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang berani mendongak menatapnya.

“Kalian semua bekerja sama?!” Raungnya. “Kalian semua membohongiku?! Kalian semua melakukan ini di belakangku?! Membangun restoran yang bahkan tidak kukehendaki dan masih berani menggunakannya sebagai hadiah ulang tahunku?!”

Dia kemudian menatap Taehyung yang menunduk. “Kau merampokku.” Katanya setajam silet. “Kau merampok menu, konsep, desain dan semua hal yang kurancang untuk restoranku dan mengeksekusinya dengan uangku.”

Dia menggertakkan rahangnya. “Uang-ku, Kim Taehyung!” Serunya gemetar oleh amarah. “UANGKU! Tanpa seizinku!” Dia mengepalkan kedua tangannya, menahan diri sekuat mungkin agar tidak menyakiti siapa pun.

“Dan kau berpikir aku akan senang?”

Taehyung menghela napas. “Jungkook,” katanya, mendongak menatapnya. Matanya merah dan berkilau oleh air mata. “Bolehkah aku menjelaskan?”

Dengan rahang kencang dan kemarahan mendidih di dalam dirinya seperti magma panas, Jungkook menatapnya. Mempersilakannya untuk menjelaskan.

“Ini mimpimu.” Bisiknya lemah. “Aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja. Aku tahu, aku salah karena mengekeskusi idemu tanpa izinmu. Awalnya aku akan menggunakan tabunganku sendiri tapi aku sudah terlanjur membeli rumah kita sebelum kecelakaanmu dan semua rencana berubah.

“Maka aku tidak punya pilihan lain. Aku berharap, dengan restoran ini kau akan bersemangat lagi melanjutkan karirmu. Melakukan sesuatu yang sangat kausenangi. Kembali menjadi chef yang bersinar karena rasa percaya diri dan bakat...”

Taehyung nampak berusaha keras untuk menahan tangisnya, dia gemetar saat membelai Bubble yang mendengking lirih—takut oleh pertengkaran mereka. “Jika kau tidak menginginkan restorannya,” dia menatap Jungkook yang terengah murka seperti seekor singa. “Aku akan mengganti namanya dan menjalankannya sendiri dan mengganti uangmu yang kugunakan selama ini.”

Jungkook menatapnya lalu mendengus geli yang kental oleh sarkasme. “Lihat dirimu.” Katanya dingin dan itu membuat kemarahan Jungkook terasa jauh lebih menyengat.

“Kau marah padaku karena aku berbohong tentang masa laluku, tentang orientasi seksualku. Meninggalkanku tengah malam dan menolak bertemu denganku. Lalu, apa yang sekarang sedang kaulakukan padaku, Taehyung?”

“Jungkook,” mulai Mingyu dan langsung bungkam saat Jungkook menjulurkan tangan ke arahnya dengan telunjuk terancung tajam; memintanya diam tanpa mengalihkan padangannya dari Taehyung yang masih menatapnya dengan mata mulai berair.

Lalu dia menegakkan tubuh.

Meraih kartunya di atas meja, merogoh dompetnya di saku belakang celanannya dan menyelipkan kartu itu ke sana. “Jika kau ingin menjalankan restoran ini,” katanya kemudian dengan nada memberi ultimantum yang dingin. “Ganti nama dan semua menunya.”

Dia menatap tunangannya seperti menatap orang asing yang membuat hati Taehyung terasa nyeri dan diiris-iris. Jungkook terasa begitu jauh dari sentuhannya dan itu semua salah Taehyung sendiri.

“Aku sudah mengizinkanmu menggunakan konsepku,” lanjutnya dingin. “Tapi aku tidak sudi kau juga merampok seluruh menu yang kukerjakan sendiri.”

Setelahnya, Jungkook berbalik dan berlalu dari sana dalam langkah lebar-lebarnya yang sangat familiar dengan seluruh tubuh Taehyung; tanpa menoleh sama sekali.

Dan Taehyung menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya, tubuhnya gemetar sebelum dia meledak dalam tangis yang sejak tadi ditahannya.

*

The Chef #150

Taehyung mengeluarkan Bubble dari kandang cargo yang digunakannya selama penerbangan ke Bali dan mendapati dia sudah menghabiskan makanannya dan mendengking kehausan. Maka sebelum membereskan barangnya, Taehyung meraih mangkuk minum Bubble dan menuangkan air ke atasnya.

Jungkook berbaring di ranjang, mendesah panjang menatap ke jendela terbuka mereka yang memamerkan pemandangan kolam renang mereka yang mungil dengan pohon kamboja rindang di sisi pintu masuk dan pohon pisang hias yang hijau rimbun di sisi lainnya. Aromanya menenangkan dan suasananya begitu hening; jauh dari pusat kota dan lalu-lintas Ubud yang macet karena mereka tiba saat jam makan siang.

Bubble langsung meneguk airnya dengan rakus sementara Taehyung berlutut di sisinya, melepas pakaian yang dikenakannya ke Bubble untuk berpergian sebelum mendesah.

Dia harus melakukannya.

“Sayang.” Katanya lembut, menunduk menatap Bubble yang minum dengan suara cipak-cipak keras yang menenangkan. Bibirnya belepotan air dan Taehyung terkekeh geli. “Kau mau makan di luar malam ini?”

Dia menoleh dan menemukan Jungkook sekarang sedang memeriksa dapur kecil mereka dan nampak sangat tidak menyukai betapa kecil dan tidak lengkapnya tempat itu. Mereka hanya punya kulkas kecil sementara yang sekarang sudah penuh dengan bekal makanan yang dibawa Jungkook.

“Boleh.” Sahut Jungkook setelah memeriksa betapa tidak memuaskan dapurnya. “Lalu besok kita boleh ke toko elektronik? Aku ingin melihat kulkas, mixer dan microwave. Aku benci menata ulang dapur, tapi ya sudah tidak apa-apa.” Dia tersenyum lalu melepas topi yang sejak tadi digunakannya lalu mengusap rambutnya yang mulai memanjang dengan cepat.

“Kurasa kita bisa membeli tanah di belakang untuk memperlebar dapur dan menambah ruang,” dia melanjutkan. “Atau lantai dua? Satu kamar lagi untukmu bekerja dan kamar tamu?”

Taehyung menatapnya, tidak tahu harus mengatakan apa. “Oke,” sahutnya lemah.

“Omong-omong, katamu Yugyeom tinggal di sini?” Jungkook kembali berbaring di ranjang dan mendesah bersyukur atas aroma harum lembut seprai mereka. “Kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?”

Taehyung menggendong Bubble dan duduk di sisi ranjang, Jungkook merangkak dan berbaring di pangkuannya, mengecup perutnya. “Dia sudah pergi dua hari lalu dan aku meminta asisten rumah tangga membereskan rumah sebelum Yugyeom meninggalkannya.”

“Hm,” Jungkook memejamkan mata dengan wajah terbenam di perut Taehyung yang selembut adonan kue. Bubble mengendus-endus tempat tidur baru mereka lalu mendengking, bingung dengan tempat baru mereka.

“Ini rumah baru kita,” Jungkook memeluknya, mengecup kepalanya dan Bubble menatapnya. “Kau bisa bermain sepuasnya di sini. Ada kolam renang, ada halaman. Kau suka halaman?”

Bubble menatapnya, tidak faham konsep halaman setelah hidup di apartemen setelah sekian lama. “Halaman adalah harga yang kubayarkan untuk dapur kecil tidak lengkap.” Desah Jungkook dan Taehyung terkekeh.

“Rumah sempurna butuh waktu.” Taehyung membelai rambutnya, menyentuh bekas lukanya yang mulai mengering. “Minggu depan kita harus ke Siloam untuk tes lidahmu, jangan lupa.”

Jungkook mengangguk. “Mobil akan dikirim besok?”

“Seharusnya, tapi hanya mobilmu dulu. Mobilku menyusul. Uangnya tidak cukup,” Taehyung mendesah, dia tidak pernah ada di posisi kekurangan uang dan itu membuatnya agak pening untuk mengatur keuangan mereka. Syukurlah gaji terakhir dan pesangon mereka berdua lumayan untuk menutupi beberapa bulan jika hidup mereka ditaraf normal.

Dan jika Jungkook berkenan mengurus restorannya.

“Aku minta tolong Jimin untuk mengawasi apartemen hingga terjual dan barang-barangmu dikirim. Aku meminta mereka mengirim kulkasnya juga. Air-fryer dan microwave. Sayangnya ovenmu tidak bisa dibawa karena diinstal bersama dengan kompor listrik.”

Jungkook mendesah. “Aku butuh waktu lama untuk membangun dapur itu.” Lalu dia menatap halaman mereka yang bersih dan lembab setelah disiram dan tersenyum. “Kurasa halaman tidak buruk juga.” Dia buru-buru menambahkan sebelum Taehyung sempat tersinggung oleh kata-katanya. “Aku boleh membuat kebun hidroponik tidak?”

Taehyung tersenyum, senang tunangannya menemukan mainan baru untuk dikerjakan saat sendirian. “Tentu saja.”

Jungkook tersenyum cerah pada Taehyung terenyuh menatapnya. “Aku akan membuatkan seluncuran untuk Bubble dan membiarkannya berlarian di halaman.” Dia nampak seceria anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Dia mengerling. “Halaman tidak seburuk dapur kecil, kan?” Dan Jungkook tertawa mendengarnya.

“Baiklah, baiklah. Dapur ditukar dengan halaman.” Lalu Jungkook meraih Taehyung hingga berguling di kasur dan menghujaninya dengan ciuman hingga Taehyung tertawa dan Bubble menyalak ceria, menyusupkan badan kecil berbulunya ke antara mereka dan menumpukan dagunya di dada Jungkook.

Bersikap manja luar biasa semenjak Jungkook mengakhiri masa-masa berkabungnya. Bubble selalu jauh lebih peka pada perubahaan emosi Jungkook; sekecil apa pun itu. Dia akan menjilat kakinya, menggonggong ceria saat Jungkook tertawa lalu mendengking panjang, melolong menyedihkan saat Jungkook sedih.

Udara Bali yang sejuk, halaman baru mereka, gemericik air dari kolam renang dan aroma segar rumput basah ternyata memberikan banyak energi positif untuk Jungkook dan Taehyung lega sekali dia memilih tempat ini sebagai rumah mereka.

Sekarang hanya bagaimana caranya memberitahu Jungkook tentang restoran mewah yang berdiri di sisi lembah Campuhan yang seluruh timnya sudah siap, seluruh isinya sudah siap untuk soft opening besok.

Undangan dengan Responze S'il Vouz Plait (RSVP) sudah disebar dan lima puluh tamu istimewa yang semuanya adalah rekan kerja dan senior Jungkook dalam dunia kulinari sudah mengirimkan balasan positif kedatangan mereka. Taehyung sudah menerima email guest list dan table set dari manajer restoran dan mendapati restoran itu besok akan diisi oleh setidaknya setengah celebrity chef Indonesia dan beberapa nama chef legenda.

Rangkaian bunga-bunga raksasa sudah mulai dikirim ke restoran, semuanya sudah difoto dan dikirim ke Taehyung juga sebagai lampiran; semuanya diperuntukkan untuk Jungkook dengan doa semoga sukses dan sehat selalu. Bahkan ada bunga dari Enseval yang ditulis dengan: “Tunangan Chief Taehyung; Chef Jungkook. Selamat dan Sukses atas Restoran Barunya.”

Exposure besar-besaran dari tim PR sudah dijalankan; reservasi untuk grand opening sudah mulai berdatangan melalui website resmi mereka. Nama Jungkook serta makanan-makanan fusion-nya yang unik serta gastronomi-nya mengundang banyak sekali orang-orang penasaran.

Taehyung mencuri menu-menu itu dari Mac Jungkook semudah mencuri permen dari anak kecil karena Jungkook jelas-jelas melabeli foldernya dengan 'MENU RESTORAN' dan menjelaskan semuanya begitu detail hingga Yugyeom berkata, “Aku bisa mengerjakannya dengan mata terpejam walaupun aku seorang pastry chef.”

Yugyeom harus mencari satu sous chef dengan keahlian gastronomi untuk menggantikan sentuhan Jungkook untuk sementara sebelum dia berkenan menyentuh dapur dengan tangannya sendiri. Dan Taehyung masih ingat bagaimana ekspresi chef berusia 30 tahun lebih itu saat melihat sketsa makanan Jungkook dan menatap Yugyeom serta Taehyung dengan pandangan skeptis.

“Saya bisa mencoba,” katanya dengan logat Bali-nya yang tebal dan kental. “Tapi, saya tidak yakin hasilnya akan mendekati 60% sketsa ini.”

Untuk Taehyung, 60% adalah angka yang lumayan optimis dan setengah mengutuk sikap ambisius sinting Jungkook muda dalam mengejar karirnya hingga dia yakin tidak akan ada orang yang bisa menandinginya. Dia sudah mematok standar tinggi untuk rekan-rekan kerjanya.

Benar-benar bajingan congkak.

Beberapa menunya juga merupakan makanan khas Bali yang diberi sentuhan entah Barat atau Timur, disesuaikan dengan selera masyarakat Bali yang terbukti antusias. Belum lagi menghadapi pasar yang cenderung memiliki gaya hidup hedonis yang saat Jungkook mendirikan restoran mewah, masyarakat Bali tidak akan bisa menahan diri untuk tidak datang dan memamerkannya di sosial media demi gengsi.

Dia sudah menghitung profit dari angka kasar reservasi dan harga rata-rata menu restoran mereka, mendesah lega saat menyadari mereka akan mengantongi beberapa juta jika semua tamu reservasi datang. Walaupun jika mereka membatalkannya, mereka akan dikenakan cancellation fee.

Jadi, bagaimana mungkin Taehyung membatalkan acara ini?

Lebih lagi Taehyung sudah menggelontorkan sisa tabungannya untuk modal awal restoran. Sederhananya, tidak ada jalan untuk kembali.

Maka jika Jungkook nanti marah padanya dan tidak mau menerima restoran ini, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Taehyung; dia harus memimpin restoran itu sendirian.

Dia harus mengembalikan semua uang yang sudah dia gelontorkan untuk proyek ini dan sebagai seorang akuntan dan pebisnis, dia tidak sudi uangnya dihabiskan untuk hal yang tidak membawa keuntungan sama sekali.

Semuanya akan bergantung pada bagaimana Taehyung dan Yugyeom sebagai kepala chef sementara untuk mengarahkan restoran.

Dia juga harus mengganti tabungan Jungkook yang digunakannya untuk restoran; sungguh, Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia sudah tercebur ke dalam kolam, pilihannya hanya berenang atau mati tenggelam.

Dia memilih yang pertama.

“Di mana kita akan makan malam ini?” tanya Jungkook berbaring di sisinya dengan Bubble melingkar di dadanya, tidur nyenyak. Belum berani mengeksplor rumah barunya dan nampak masih mabuk karena perjalanan di dalam cargo pesawat bersama hewan-hewan lain.

Jungkook nampak begitu santai, sangat bertolak belakang dengan kepala Taehyung yang berdentam-dentam memikirkan restoran dan bagaimana mengembalikan modal yang sudah digunakannya serta setengah mengutuk ketidaktahuan Jungkook yang menyenangkan.

Taehyung mengulum senyum lalu beranjak berdiri. “Di tempat yang pasti akan sangat kau sukai.” Lalu dia meraih koper mereka. “Sekarang bantu aku membereskan pakaian kita, Pemalas.”

Jungkook terkekeh lalu mengerang malas, memeluk Bubble dan berguling menyamping. “Tidak bisakah kita melakukannya besok?”

“Sekarang!”

“Baiklaaah, jangan galak begitu.”

*

The Chef #141

“Bagaimana menurutmu jika dapur rumah kita di Bali, aku rombak?”

Taehyung menyuap burnt cheese cake-nya sebelum menjawab sementara Jungkook mencuci piring, tidak mengizinkan Taehyung melakukan apa pun selain menjejalkan makanan ke mulutnya. “Maksudmu?”

Jungkook meniriskan piring yang dicucinya. “Aku sudah liat foto rumahnya dari Yugyeom dan berpikir aku harus melakukan sesuatu dengan dapurnya. Kecil sekali.” Dia mendesah. “Aku akan menambah konter, lalu membuat ruangan untuk kulkas dan kabinet seperti yang kulakukan pada dapur ini.”

Taehyung menyuap cheese cake-nya lagi, menyesap makanannya hingga lebur dalam rongga mulutnya dan mendesah.

Bagaimana bisa Jungkook menciptakan cheese cake yang begitu lembut hingga tidak butuh dikunyah? Liur sudah cukup untuk menghancurkannya, membuat rasa asin gurih menyenangkan membelai seluruh indera perasa Taehyung yang nyaris orgasme karena rasa lezat itu. Belum lagi rasa pahit mengigit yang menyempurnakan kombinasi rasa cheese cake Jungkook.

Dia benar-benar chef yang berbakat, omong kosong jika lidahnya bisa menghentikannya memasak.

Sekarang dia tidak menggunakan lidahnya sama sekali dan dia menghasilkan makanan selezat ini. Jungkook benar-benar sedang meragukan kemampuannya sendiri dan itu membuat Taehyung sangat jengkel.

“Tabunganku untuk restoran masih belum tersentuh, jadi bisa kualokasikan untuk memperlebar dapur dan membeli perabotannya.”

Taehyung tersedak, dia meraih gelas dan meneguk isinya sementara Jungkook menoleh kaget dan khawatir, dengan tangan terbalut sabun dan tangan lainnya memegang gelas.

“Kau oke? Pelan-pelan.”

Taehyung terkekeh kering. “Oke.” Dia menyeka mulutnya dan menelan ludah. “Tapi kita akan menjual apartemen ini?” tanyanya.

Jungkook mengangguk. “Aku akan mengirim beberapa barangku seperti air-fryer, kebun hidroponik dalam ruangan hadiahmu dan ovenku. Sisanya bisa kita beli baru. Aku tidak suka memasak tanpa fasilitas lengkap. Tidak bisa bereksperimen.” Dia kemudian bergumam sendiri. “Aku harus membawa kulkasku juga atau tidak, ya?”

“Oke,” Taehyung menyendok cheese cake lagi dan mengunyah, kali ini lebih lambat dan cheese cake itu terasa seperti potongan karton basah. “Kita bisa minta Pak Yoon untuk membantu.”

Jungkook meletakkan gelas terakhir yang dicucinya di rak piring lalu mengelap tangannya, mengelap konter dan tempat kerjanya sekaligus dengan gerakan yang nyaris tidak disadarinya. “Ya,” katanya. “Lalu kita bisa melakukan sesuatu dengan rumahnya juga. Maksudku,” dia menggantung lap lalu menghampiri Taehyung yang sudah menghabiskan setengah loyang cheese cake-nya.

“Kau sudah membeli rumahnya, maka tugasku untuk membenahinya sesuai dengan keinginan kita, 'kan? Menambah perabotan, merenovasi atau menambah lantai jika memang ingin.”

Taehyung tidak berani bertanya tapi tetap melakukannya, “Dengan uang restoran?”

“Tentu saja.”

Taehyung menelan gumpalan di tenggorokannya lalu menatap Jungkook yang duduk di hadapannya. “Omong-omong,” katanya mengalihkan pembicaraan. “Hadiah apa yang kauinginkan untuk ulangtahunmu? Dua hari lagi, lho?”

Jungkook terkekeh. “Tidak ada.” Katanya menatap Tehyung lekat-lekat hingga Taehyung merasa malu. “Memilikimu saja sudah terasa begitu memuaskan. Aku tidak butuh hadiah.” Dia lalu berhenti sejenak dan tersenyum. “Kau membelikanku hadiah?”

“Ya dan tidak.” Taehyung nyengir lalu kembali gelisah pada reaksi Jungkook pada hadiahnya nanti. “Tapi aku takut kau mungkin... akan marah padaku.”

Jungkook mengerjap. “Memangnya kenapa aku harus marah padamu? Kau sudah berusaha untuk memberiku hadiah, 'kan? Aku tidak melihat apa masalahnya. Kecuali kau diam-diam melakukan hal yang sebenarnya tidak kuinginkan. Kau faham, 'kan, maksudku?” Jungkook nyengir.

Gumpalan di tenggorokan Taehyung terasa pahit. “Kau menginginkan restoranmu?”

Jungkook diam, dia meraih garpu Taehyung dan menyuap cheese cake buatannya, sejenak menyesap makanan itu dengan perlahan lalu menghela napas panjang saat tidak bisa merasakan apa pun.

“Entahlah.” Sahutnya kemudian, mengembalikan garpu ke Taehyung. “Dengan kondisi semacam ini, aku tidak yakin aku siap untuk memimpin tim dengan restoran baru yang belum memiliki pasar. Terlalu riskan.”

“Tapi kau Jeon Jungkook, kau chef berbakat!” Tukas Taehyung, merasa seolah ada air dingin yang disiramkan ke punggungnya. “Kau punya pasar. Kau ingat soft branding yang dilakukan Tim PR? Respon pasar bagus!”

Jungkook mengendikkan bahu, bersiul memanggil Bubble yang langsung melesat dan melompat ke pangkuannya. “Bisakah kita tidak membicarakan restoran dulu? Aku sudah membatalkannya dengan alasan dan aku benar-benar tidak ingin memikirkannya sekarang.”

Dia membelai Bubble dan menggaruk lehernya hingga anjing itu mendengking senang dan Jungkook terkekeh, terhibur oleh reaksi Bubble.

“Untukku,” Jungkook kemudian berkata dan membuat Taehyung nyaris memuntahkan makanan yang baru saja ditelannya dengan rakus. “Restoran itu salah satu mimpi yang sudah kubuang. Sekarang aku harus fokus dengan masa depan.”

“Tapi, kau tidak perlu membuangnya!” Taehyung seketika menjawab, masih belum faham kenapa Jungkook tidak menginginkan hal yang sempat begitu diinginkannya.

“Kau masih bisa memasak dengan sehabat ini bahkan tanpa indera perasamu! Kenapa kau tidak mencobanya saja? Kenapa kau malah menyia-nyiakan usahamu selama ini hanya karena keadaan yang bisa kau putar balik?”

Jungkook menatapnya dengan alis berkerut. “Kenapa... kau begitu agresif tentang ini?” Tanyanya dan Taehyung menutup mulutnya dengan suara keras.

“Kau bicara seolah restoran itu sudah berdiri.”

Hening.

Taehyung tidak berani menatap Jungkook sama sekali. Perutnya melilit oleh perasaan tegang yang menyiksa. Jungkook sedang menelanjanginya dengan tatapannya yang tajam dan panas dan Taehyung tidak suka itu. Tidak suka berada di posisi terpojokkan seperti tikus dalam perangkap.

Jungkook merasakan keheningan aneh itu dan menatap Taehyung. “Taehyung.” Katanya dengan nada memperingatkan dingin yang tidak pernah didengar Taehyung sama sekali sebelumnya dan hal itu membuat bulu kuduknya meremang oleh aura mendominasi Jungkook dan sepercik kemarahan di ujung suaranya.

“Kau tidak melakukan apa pun..., 'kan?”

“Aku... hanya tidak faham,” Taehyung memulai dengan perlahan, mencoba mengalihkan perhatian Jungkook. “Kenapa kau ingin membuang restoran itu?”

Jungkook menatapnya. “Aku tidak membuangnya.” Sahutnya, memangku Bubble yang menatapnya dan mendengking minta diperhatikan, maka Jungkook membelainya dengan lembut hingga anjing kecil itu memejamkan mata keenakan. “Ada sesuatu di mimpi itu yang membuat kepalaku sakit. Kau tahu? Seperti semacam trauma. Ambisi yang tidak sempat dicapai. Mengingatkanku betapa gagalnya aku.”

Dia berhenti.

“Aku hanya menundanya dan jika aku ingin meneruskannya, maka hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.” Dia mendesah berat nampak begitu tersiksa dengan pembicaraan ini, mengirimkan sengatan rasa sakit ke hati Taehyung; apakah dia kelewatan?

“Aku sudah melewati banyak hal,” Jungkook melanjutkan. “Aku pribadi merasa belum sanggup jika harus memimpin tim lagi.”

“Tapi kau kebosanan jika hanya berdiam diri di apartemen,” Taehyung mencoba lagi lalu diam saat Jungkook melemparkan tatapan tidak setuju padanya.

“Taehyung, tolong.” Katanya. “Bisakah kita tidak membicarakan restoran ini sekarang? Anggap saja aku tidak pernah bermimpi memiliki restoran. Aku akan mencari mimpi baru, yang lama biarlah mati.”

Taehyung sudah akan menjawab lagi, namun urung. Walaupun dia sungguh sama sekali tidak memahami pola pikir Jungkook dengan membuang mimpinya begitu saja padahal dia bisa. Apakah depresi dan melukai dirinya sendiri telah membuat mental Jungkook melemah dan karenanya dia belum siap kembali ke dapur yang dinamis dan hiruk-pikuk itu?

Dia mengigit bibir bawahnya: lalu bagaimana dengan restoran yang sudah berdiri di lembah Campuhan dengan nama Jungkook?

“Jika...” bisik Taehyung dan Jungkook menoleh menatapnya. “Jika aku melakukan sesuatu tanpa seizinmu, apakah kau akan marah?”

“Sulit membayangkan aku akan marah, sungguh-sungguh marah padamu.” Dia tersenyum lembut. “Tergantung apa 'sesuatu' itu?”

“Hal yang tidak kaukehendaki?”

Alis Jungkook berkerut. “Apa, sih, sebenarnya maksudmu?” tanyanya dengan suara yang mulai meninggi, nampak frustasi dan terganggu. “Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan, Taehyung? Hentikan sikap berbelit-belitmu, katakan saja.”

Nada itu memukul mundur Taehyung dengan telak; Jungkook bisa saja galak tapi dia tidak pernah sama sekali menggunakan nada itu untuk berbicara pada Taehyung. Maka sepertiny: ya.

Taehyung baru saja melakukan kesalahan fatal.

“Tidak,” katanya mencicit, ingin muntah oleh perasan anxious yang mencengkram otaknya dan Jungkook mendengus frustasi. “Maafkan aku.” Dia mendesah dan memijat pelipisnya. “Maaf, maaf.”

Jungkook mendesah panjang, sadar dirinya telah bersikap kelewatan pada Taehyung sebelum menggendong Bubble dan menghampiri Taehyung. “Hei, maafkan aku.” Bisiknya lembut, mengecup puncak kepala Taehyung dengan lembut. “Maaf aku kelepasan membentakmu.”

Dia menggeleng dan mendongak, tersenyum kecil. “Dimaafkan.” Dia mengulurkan tangan, meraih tengkuk Jungkook lalu mendaratkan ciuman di bibirnya yang terkuak.

Diam-diam Taehyung berdoa dalam hati pada Tuhan seluruh umat agar Jungkook tidak mencetak buku tabungannya atau mencari kartunya karena kedua benda itu ada pada Taehyung.

Dan Taehyung tidak yakin Jungkook akan menyukai angka saldo terakhirnya.

*

The Chef #127

“Sampai ketemu besok, Jimi!”

Jimin melambai ceria. “Sampai ketemu, Tae!” Lalu memasuki lift dan berpisah dengan Taehyung yang tinggal di tower berbeda dengannya namun mereka tidak jarang pulang bersama satu mobil dengan Taehyung.

Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan menekan speed dial #2 yang adalah nomor Jungkook seraya menekan lift. Hari ini ada audit dari pusat dan Taehyung benar-benar lelah setelah rapat berjam-jam dan menemani auditor berkeliling mengecek laporan-laporan dan keuangan mereka bersama Bogum.

Mereka masih punya satu hari lagi untuk berhadapan dengan auditor dan Taehyung sudah merasa tubuhnya remuk.

Hal yang dibutuhkan Taehyung adalah mandi air hangat bersama Bubble dan jika Tuhan mengizinkan, bersama Jungkook juga. Namun setelah kemarin mereka “mengetes” kemampuan Jungkook di ranjang, nampaknya Taehyung harus bersabar lagi karena gerakan statis membuat kepala Jungkook pusing lebih cepat dan dia mengalami black out selama sepuluh detik penuh yang membuat Taehyung sejenak terkena serangan jantung.

Mendesah, dia menyandarkan punggung ke dinding lift dan mendesah sementara di seberang sana sinyal terganggu dan Jungkook belum mengangkat teleponnya. Mungkin sedang di kamar mandi atau memandikan Bubble. Dia mematikan ponselnya dan akhirnya menunggu lift tiba di lantai apartemen dengan menatap lurus ke pintu lift yang tertutup.

Kemarin saat Jungkook tidak sengaja merasakan pahit oseng pare yang dimasaknya, mereka semua meledak dalam perasaan gegap gempita yang memabukkan namun setelahnya saat Jungkook mencoba lagi, rasa itu tidak muncul.

Hati Taehyung nyeri saat mengingat ekspresi Jungkook saat kebahagiaan meluntur dari wajahnya dengan perlahan seraya dia mengunyah oseng parenya dengan khidmat dan mendesah panjang, menatap Taehyung seperti anak anjing terlantar yang sedih.

“Tidak ada apa pun.” Katanya dengan suara yang pekat oleh kekecewaan dan Taehyung bergegas memeluknya, menghujani wajahnya dengan ciuman serta pujian bahwa Jungkook sudah melakukan hal yang terbaik.

Dia nampak begitu kecewa dan terluka hingga Taehyung memeluknya begitu erat, apa saja agar Jungkook tidak kembali mengunci diri di kamarnya namun pemuda itu memejamkan mata, bernapas melalui mulutnya sebelum akhirnya menghela napas dan tersenyum.

“Kita coba lagi nanti,” katanya lalu meraih tengkuk Taehyung dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.

Taehyung tersenyum, merona mengingat ciuman itu.

Setelah sekian lama tidak menyentuh satu sama lain, hal sekecil apa pun membuat Taehyung mengerut seperti kuncup mawar. Bahkan tatapan panas Jungkook yang menyapu tubuhnya dengan pemujaan pun terasa membuat jemari kakinya menguncup. Dia bergidik membayangkan Jungkook dan terkekeh, merasa kembali ke masa awal pacaran mereka yang diisi oleh ledakan-ledakan gairah yang memusingkan.

Mereka berciuman dan bercinta seperti tidak ada hari esok untuk melakukannya. Bukannya mereka tidak begitu sekarang, namun Taehyung selalu takjub bagaimana mereka bisa tetap begitu bergairah pada satu sama lain setelah sekian lama bersama; tidak pernah bosan ataupun jenuh.

Mungkin asiknya saat memilih selai apa yang akan mereka gunakan nanti malam berkontribusi pada hubungan seksual sehat mereka.

Hari dimana Jungkook melamarnya, dia meminta Taehyung untuk datang ke Pasola untuk makan malam berdua, memesankan meja terbaik di sana dan keluar dengan pakaian chef-nya yang menakjubkan itu lalu meletakkan makanan di meja Taehyung sebelum menciumnya dan mengambil posisi di hadapannya, melepas topi dan harnet yang membungkus rambut gondrongnya hingga jatuh seperti tirai lembab di wajahnya yang tampan.

Taehyung tahu dia akan dilamar—seratus persen yakin.

Seluruh Pasola menatap mereka dengan penasaran karena Taehyung mendapatkan kesempatan untuk makan malam bersama head chef The Ritz. Jungkook terlalu berlebihan dalam mengekspresikan perasaannya dan dia benar-benar bodoh membuat kejutan.

Dan, benar. Taehyung dilamar hari itu dengan sepotong kue sampanye yang lezat dengan taburan stroberi kering yang meledak saat dikunyah.

Taehyung nyaris menelan cincinnya karena menyuap kue itu dalam dua suapan raksasa yang membuatnya harus meludahkan makanannya ke serbet yang digunakannya dengan wajah merah padam oleh rasa malu saat menemukan cincin perak di dalam mulutnya, tercampur dengan makanan setengah terkunyah.

“Kau sungguh benar-benar luar biasa,” kata Jungkook geli malam itu, nampak memancarkan cahayanya sendiri seperti matahari saat dia berdiri, meraih cincinnya tanpa sedikit pun merasa jijik dengan sisa makanan di permukaannya, mengelapnya di apron chef-nya yang putih bersih lalu berlutut di hadapan Taehyung.

Seluruh restoran mendesah panjang, anak-anak servis melongok penasaran dari belakang dan Jungkook mendongak, menatap Taehyung yang tersenyum lebar.

“Kim Taehyung,” katanya serak, beraroma tajam rempah setelah seharian berkutat di hot kitchen. “Will you give me the extreme honor to marry you?”

Apa lagi yang harus dijawab Taehyung? Tentu saja: “Ya. Ya!”

Dan Jungkook menyelipkan cincin itu ke jarinya, lalu meraihnya ke dalam pelukannya. Mengaitkan kaki kurus Taehyung ke pinggangnya yang langsing dan menciumnya. Seluruh restoran bertepuk tangan, menyelamati mereka berdua walaupun Taehyung harus menahan malu karena digendong seperti bayi koala dan diputar di tengah ruangan.

Lift berdenting dan Taehyung mengerjap, dia bergegas keluar. Masih tersenyum mengingat hari dimana Jungkook melamarnya. Bagaimana mereka pulang ke rumah dan Jungkook langsung meraihnya ke dalam ciuman yang panas, menendang pintu mereka terbuka lalu bercinta dengannya hingga subuh.

Dia bergidik dan mendesah. Sepertinya dia akan berakhir bermain solo jika dia terus-terusan mengingat kehidupan seks mereka.

Taehyung berhenti di depan pintu kamar mereka, baru saja akan membuka kuncinya saat pintu menjeblak terbuka dan aroma susu dan stroberi menampar wajahnya yang lelah dan bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum lebar hingga matanya berubah menjadi sepasang bulan sabit mungil dan pangkal hidungnya berkerut.

“Kau sudah pulang.” Desahnya lega; sangat lega hingga membuat Taehyung kembali bergidik lalu Jungkook meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan menutup pintu dengan tangan lainnya yang bebas.

Aroma pekat susu dan stroberi bahkan jauh lebih kuat di kaus dan apron Jungkook. Taehyung terkekeh, membalas pelukannya sementara Jungkook membenamkan wajahnya di rambut Taehyung, menghirup aromanya dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisiknya teredam di rambut Taehyung.

“Clingy baby,” Taehyung membelai punggungnya yang berotot. “Apa yang kaukerjakan? Kau beraroma seperti susu stroberi.” Dia mengangkat wajah, menatap Jungkook yang rambutnya mulai tumbuh dan lukanya mengering.

“Kue,” dia nyengir. “Kuharap kau belum makan? Aku juga membuat sate padang. Tinggal dihangatkan agar kau menyantapnya dalam kondisi hangat.”

“Tentu saja belum.” Desah Taehyung membayangkan rasa sate padang yang hangat dan lezat.

“Silakan mandi dan berganti baju, aku akan menyiapkan makan malammu.” Dia mengecup kening Taehyung hangat lalu melepaskannya.

Taehyung menatapnya, menatap bagaimana apron membalut tubuh Jungkook dengan begitu indah dan wajahnya yang ceria. “Jika aku yang di atas dan aku yang bergerak, kau pusing tidak?”

Jungkook tertawa. “Entah,” dia menyapukan tatapan tertarik pada tubuh Taehyung lalu menyodoh bagian dalam mulutnya dengan lidah, membuat lutut Taehyung berubah menjadi agar-agar. “Kurasa kita bisa mencobanya malam ini.”

*

The Chef #122

Taehyungi tersenyum lebar, mengamati dengan bahagia saat tunangannya berdiri di depan kompor, memasak buburnya sendiri karena tidak mau memakan bubur keenceran Taehyung.

Jungkook nampak jauh lebih sehat setelah seminggu hidup seperti manusia normal. Dia makan, dia bermain dengan Bubble dan berjalan-jalan menggerakkan seluruh ototnya yang praktis mengendur selama dia tidak melakukan apa pun. Dia sudah mengajukan pengunduran diri setibanya di Jakarta tanpa memberi tahu Taehyung sama sekali dan meminta Jackson naik menjadi head chef menggantikannya.

Sebelum Taehyung sempat mengamuk atas pilihan tergesa-gesanya, Jungkook sudah membanting pintu dan menguncinya.

Namun Jungkook yang baru ini belum berani bertatap wajah dengan manusia asing selain Taehyung lebih dari beberapa menit. Dia akan mulai gemetar dan gelisah, tangannya berkeringat dan Taehyung akan bergegas membawanya pergi; membiarkan Jungkook menggunakan tudung hoodie-nya untuk menyembunyikan wajahnya.

Hati Taehyung masih merasa nyeri mengingat bagaimana sebelum ini tunangannya adalah lelaki paling bersinar oleh rasa percaya diri dan dia bersumpah dia akan mengembalikan Jungkook yang itu. Chef muda berbakat yang bersinar saat dia memasak dalam balutan seragamnya dengan topi tinggi putih mengilat dan senyuman cerah; seolah seluruh dunia tunduk di kakinya.

“Sayang,” panggilnya ke arah punggung Jungkook yang bekerja dengan perlahan; tidak secepat biasanya saat dia masih seorang chef yang aktif. Dia lebih menikmati gerakannya, mengambil waktu lebih panjang untuk melakukan grounding—hal yang diminta terapisnya untuk selalu dilakukannya.

Membantu Jungkook mengapresiasi hal-hal kecil yang masih dimilikinya dan berhenti untuk berfokus pada indera perasanya. Terapi-terapi pernapasan dan yoga yang menenangkan hingga Taehyung selalu bergabung dalam tiap sesinya; mereka duduk di dua matras berbeda, tangan terkait dan menikmati sesi yoga mereka.

“Hm?” tanya Jungkook tanpa menoleh dari kegiatannya di atas kompor sementara Bubble mengekornya ke sana kemari dengan ekor dikibas-kibaskan dengan ceria.

Luka di bagian bawah telinga Jungkook sudah mulai sembuh. Hanya luka kecil untuk memasukkan alat yang digunakan dokter untuk 'menyambung' kembali sarafnya.

“Seperti menyambung kabel.” Kata dokter saat Taehyung bertanya dan membuat perutnya mual membayangkannya.

Hasil MRI scan kedua Jungkook menunjukkan kemajuan pada sarafnya yang sekarang seharusnya sudah sembuh dan Jungkook diminta untuk tetap melatih lidahnya dan melakukan sip, spit and rinse test secara berkala untuk memonitor kemajuan corda tympani-nya dalam kesembuhan.

Dokter tidak menjanjikan 100% kesembuhan karena saraf yang rusak tidak bisa lagi bekerja sebagaimana sebelumnya, namun dokter merasa dengan tekad, Jungkook bisa setidaknya mengembalikan 40-50% kemampuan indera perasanya. Sudah cukup untuk membantunya makan dengan nyaman walaupun terkadang akan terjadi distorsi rasa.

Dan mendoakan keberuntungan untuk Jungkook dan karir kedepannya.

“Aku mencintaimu.” Kata Taehyung tersenyum lebar. “Aku senang melihatmu kembali berjalan-jalan, makan, menonton televisi; sehat dan normal.”

Jungkook tersenyum, mengaduk buburnya lalu tanpa sadar menuang sedikit ke telapak tangannya dan mencicipinya, sedetik pertama alisnya berkerut dengan mulut terbuka akan mengomel sebelum kemudian mendesah keras teringat kondisi barunya.

“Hei, hei, hei,” Taehyung bergegas bangkit, meluncur ke dapur dan memeluk pinggang Jungkook, mengaitkan tangnnya di atas perut Jungkook lalu mengecup lehernya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, oke?”

Jungkook memejamkan mata, mulai mengatur napasnya seperti yang diajarkan terapisnya untuk mengontrol tempramennya lalu mendesah. “Ya.” Katanya serak pada Taehyung yang bergelayut di sisi tubuhnya, mengusap rambut Taehyung lembut lalu mengecup bibirnya. “Aku hanya belum terbiasa saja.”

Taehyung nyengir. “Tidak apa-apa, kau butuh waktu dan aku memberikanmu seluruh waktu yang ada di dunia,” dia terkesirap saat Bubble melompat ke kakinya, menyakar-nyakar sisi betisnya mendengking meminta digendong.

“Kemari, Bocah manja.” Taehyung tertawa lalu meraup Bubble yang mendengking ceria, menjilat pipi Jungkook lalu menjulurkan lidahnya dan menelengkan kepalanya hingga Jungkook akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengecup hidungnya.

“Kau senang Dadda kembali? Kau senang?” tanya Taehyung menggoyang-goyangkan Bubble di pelukannya dan anjing itu mengonggong senang. Taehyung balas tertawa. “Aku juga senang.” Dia kemudian menatap Jungkook.

“Sangat senang.” Tambahnya lega dan menghampiri Jungkook yang menuang buburnya ke atas mangkuk. “Kau nyaris saja membuatku meninggal karena mengamuk seperti binatang buas begitu.”

Jungkook menunduk, memotong bawang dengan teknik chopping-nya yang cepat dengan suara tak-tak-tak-tak! nyaring dan menghasilkan potongan tipis cantik untuk ditaburkan di atas buburnya bersama bawang goreng dan sedikit kaldu jamur cair.

“Maaf,” Jungkook mendesah, membereskan alat masaknya lalu membawa makanan ke konter. Taehyung membiarkan Bubble duduk di konter—khusus hari ini dan menemani Jungkook makan.

Anjing kecil itu berbaring dengan dagu bertumpu di lengan Jungkook, matanya menatap Jungkook seolah tidak sudi jika Jungkook memutuskan untuk mengusirnya lagi dari kamar mereka.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Taehyung tersenyum, membuka kulkas dan mengeluarkan sekarton susu yang diminumnya langsung dari tempatnya. “Omong-omong, kau oke tentang rumah baru di Bali? Aku sudah terlanjur mengajukan pengunduran diri dan tidak bisa dibatalkan dan kau juga sedang cuti bekerja.

“Siapa tahu hidup di Bali akan lebih menyenangkan untukmu. Aku akan mencari pekerjaan baru di sana jika kau masih belum ingin bekerja. Nampaknya akan jauh lebih menyenangkan dengan suasana baru, kan?” Tambahnya dengan lembut, tanpa nada mendesak.

Membiarkan Jungkook untuk memilih apa saja yang terbaik untuknya—persis yang diajarkan terapis Jungkook pada Taehyung agar selalu berhati-hati dalam memilih kata yang digunakannya saat bicara dengan Jungkook.

“Tunangan Anda ibarat serigala alfa yang sedang terluka,” terapis Jungkook menjelaskan dalam satu sesi pribadi khusus Taehyung. “Kata-kata Anda dapat melukai atau membuatnya lebih baik. Dalam fase awal yang rentan ini, Anda harus benar-benar memerhatikan kata-kata yang Anda gunakan. Harga dirinya sedang terluka dan dia merasakan sedikit saja emosi Anda yang dianggapnya agresif, dia akan bersikap defensif.

“Saya berharap Anda cukup sabar dan telaten untuk mendampingi Saudara Jungkook selama beberapa saat ini.”

Maka Taehyung melakukannya.

Jungkook menatapnya. “Kau... tidak apa-apa?”

Taehyung balas menatapnya, tersenyum lebar. “Tentu saja tidak apa-apa, memangnya aku harus apa-apa?” Dia meletakkan susu di konter. “Aku malah senang jika bisa mendapat beberapa saat beristirahat dari pekerjaan.”

Jungkook menunduk ke buburnya lalu menyuap makanan itu dengan perlahan. “Menurutmu...” Dia memulai dengan perlahan, meletakkan sendoknya lalu menggaruk telinga Bubble yang memejamkan mata, menikmatinya. “Apakah aku masih bisa menjadi chef?”

“Tentu saja.” Sahut Taehyung seketika itu juga tanpa sedikit pun keraguan.

“Anda harus selalu menjawab keraguannya dengan kata-kata positif tanpa keraguan.” Terapis Jungkook menjelaskan saat itu. “Beri dia semangat, yakinkan dia bahwa dia mampu. Kembalikan percaya dirinya. Anda harus sangat yakin dengan setiap jawaban Anda sehingga tidak ada celah untuknya merasa Anda mungkin hanya sedang menghiburnya dengan white lies.”

“Kau akan tetap menjadi chef yang luar biasa.” Tambahnya ceria dan mantap, sama sekali tidak memutus kontak mata mereka. “Kita hanya perlu membantu lidahmu kembali pulih. Dan selebihnya? Kau sehat dan mampu unuk melakukannya. Kau baru saja memasak bubur yang aromanya lezat. Dan,” Taehyung meraih sendok Jungkook dan menyuapnya.

Bubur itu sempurna. Hangat, lezat, dibumbui dengan sempurna dan teksturnya mengangumkan. Rasa itu meledak di mulut Taehyung dan nyaris membuatnya mengerang lalu menghabiskan isi mangkuk Jungkook. Itu hanya bubur sederhana, tapi kemampuan chef bintang lima Jungkook tidak mati hanya karena depresi selama beberapa minggu.

Namun jika Taehyung mengatakan seperti itu, Jungkook mungkin berpikir dia sedang berusaha menghiburnya maka dia mendesah.

“Ini enak. Seperti masakanmu biasanya.” Dia nyengir. “Bukankah kau selalu menyombong tentang bagaimana kau bisa merasakan daging yang matang sempurna atau tidak hanya dengan buku jarimu seperti Gordon Ramsay? Itu, 'kan, keren!”

Jungkook menatapnya, mulai tersenyum kecil. “Kau memang sungguh luar biasa.” Katanya. “Apa yang sudah kulakukan di kehidupanku yang sebelumnya hingga aku layak mendapatkanmu sebagai pasanganku?”

Taehyung tersenyum, menggeser kursi konter hingga menghadap ke arahnya lalu duduk di pangkuan Jungkook, merangkulkan lengannya di leher Jungkook lalu menciumnya. Dengan berisik dan keras hingga Jungkook tertawa.

“Aku—,” dia mencium bibir Jungkook, “Sangat—,” dia mencium lagi. “Mencintaimu!” Dia mencium lagi lalu menakup wajah Jungkook dengan kedua tangannya, menatap langsung ke mata Jungkook yang berkilau oleh kebahagiaan.

“Jangan pernah meragukanku, oke?” tambahnya lalu mengecup hidung Jungkook dan dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya ringan hingga Jungkook mengerang tercekat—dia boleh saja sakit, tapi Taehyung yakin di bawah sana dia masih sehat.

“Sudah sebulan aku tidak disentuh,” gerutu Taehyung dengan wajah cemberut yang dibuat-buat hingga Jungkook tertawa kecil, membelai rambutnya dengan penuh rasa sayang. Bubble merespon tawa itu dengan gonggongan dan lolongan ceria.

“Kau sebaiknya lekas pulih sehingga aku bisa mendapatkan jatah harianku, Chef.”

“Siap, Chief.” Balas Jungkook, mendesah panjang lalu menempelkan kening mereka dan menutup matanya. Menghirup aroma Taehyung yang terasa aneh di hidungnya yang kebingungan. Namun hangatnya kulit Taehyung, kehadirannya yang menenangkan sudah cukup untuk membuat seluruh tubuh Jungkook rileks.

Dia akan menghadapi ini dengan Taehyung di sisinya.

“Um, omong-omong?” Bisik Taehyung saat Jungkook masih memejamkan mata, menikmati kebersamaan mereka.

“Ya?” balas Jungkook serak.

“Kau sudah cukup sehat tidak?”

Jungkook kebingungan sejenak lalu mengerjap dan tersenyum terhibur saat merasakan sesuatu menegang di antara kaki Taehyung.

“Hmm... Mungkin sudah,” sahutnya dengan suara serak rendahnya yang dia tahu akan selalu membuat Taehyung merinding. “Memangnya kenapa?”

Taehyung nyaris merengek menyedihkan saat mengatakan, “Aku boleh memberimu blowjob, tidak? Please? Aku tidak akan nakal! Hanya satu blowjob lalu kita semua senang!”

Jungkook tertawa.

*

The Chef #118

“Jeon Jungkook, buka pintunya.”

Mingyu berdiri di depan pintu dengan kepalan tangan menghantam daun pintu dengan penuh kemarahan. Dia sudah mengenggam kunci duplikat kamar Jungkook dan meminta pengurus apartemen untuk menghubungi ambulan rumah sakit terdekat untuk berjaga-jaga.

Dia tiba beberapa menit lalu dengan kunci di tangan dan ekspresi yang begitu keras penuh amarah hingga Jimin dan Taehyung mundur darinya, Jimin memeluk Taehyung yang histeris menjauhkannya dari Mingyu yang mengamuk—sama murkanya dengan Jungkook yang di dalam sana sedang menghajar pintu yang tidak bersalah.

“Kau memang tidak pernah bisa diberi belas kasihan,” kata Mingyu praktis menggeram, dia benar-benar nampak murka sekarang. “Kau selalu begini setiap kali orang bersikap lembut padamu. Kau memang binatang liar yang harus dipecuti untuk menurut. Buka pintu ini sekarang atau aku terpaksa mendobraknya terbuka.”

Jungkook tidak menjawab, dia meraung sekali lagi. Mengatakan hal yang tidak bisa mereka dengar dengan baik karena suara seraknya dan Taehyung gemetar. Bibir bawahnya bergetar dan air mata terus meleleh dari sudut matanya; dia ketakutan, dia begitu trauma dengan situasi ini. Jutaan 'bagaimana jika' berputar di kepalanya, dia takut Jungkook akan bersikap nekat atau bodoh di dalam sana dan menghilangkan dirinya sendiri dari hidup Taehyung.

Dia gemetar membayangkannya.

Sudah satu bulan dia bertahan dalam suasana berkabung atas wafatnya seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Tidak ada siapa pun yang meninggal tapi tiap kali dia memasuki rumah dan melihat pintu tertutup itu, hatinya terasa begitu berat dan seluruh energinya yang terkuras habis membuatnya pening. Emosinya koyak oleh sikap diam Jungkook. Dia masih harus mengurus restoran Jungkook dan juga job description-nya sebagai chief accountant dengan audit pusat yang akan dilaksanakan minggu depan.

Seluruh saraf Taehyung mungkin sedang setegang kawat saat ini dan tidak butuh waktu lama hingga otaknya konslet dan dia terkena stroke jika Jungkook masih tetap bersikap egois.

“Kau selalu fokus pada lukamu sendiri, kau selalu fokus pada seberapa hebatnya penderitaanmu dan kau luput menyadari bahwa tunanganmu sedang tersiksa oleh sikap sialanmu ini,” Mingyu menghantamkan pukulannya lagi ke pintu yang berdentum dan bergetar hingga buku-buku jemarinya memerah.

“Kau sedang membunuh Kim Taehyung bersamamu, kau dengar aku, Bangsat keras kepala? Kau sedang membunuh tunanganmu! Inikah balasanmu atas seluruh sikap sabar dan perhatiannya padamu? Dengan bersikap seperti bajingan tengik?!

“Kau sedang frustasi, kau depresi, kau stres; aku faham! Kami semua faham! Tapi apakah kemudian kau merasa kau berhak melakukan ini pada semua orang?! Kau harus dibantu Jungkook, kau harus dibantu dan kau berhak dibantu! Kau hanya terlalu gengsi untuk meminta bantuan kami! Aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini.

“Berhenti bersikap egois dan keras kepala sekarang. Kami akan membantumu! Kau tidak harus merangkak di sana sendirian, bersikap menyedihkan padahal kau masih bisa memasak dengan kedua tanganmu!

“Kau merasa hidupmu menyedihkan? Mimpimu berakhir?” Bahu Mingyu naik-turun dengan penuh kemarahan dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya hingga buku-buku jemarinya memutih. “Itu karena kau sendiri berpikir seperti itu, kau dengar aku, Bajingan?!

“Kau yang berpikir seperti itu!

“Jika saja seluruh energi yang kauhabiskan untuk mengamuk ini kau gunakan untuk melatih indera perasamu, kau sekarang pasti sudah bisa menggunakannya—mungkin tidak sempurna, setidaknya kau bisa. Tapi apa yang kaulakukan? Bersikap dramatis sepanjang waktu seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Memalukan.”

“Mingyu!” Seru Taehyung gemetar; jantungnya berdebar. Apakah ini keputusan yang benar dengan membawa Mingyu kemari? Ataukah kata-katanya hanya akan membuat Jungkook semakin terpuruk? “Kau kelewatan! Dia sedang terpuruk!”

“Oh, ya. Dia terpuruk.” Balas Mingyu menoleh padanya, dengan humor kering yang menjurus sarkasme sekental madu. “Lalu apa yang sedang terjadi padamu sekarang? Tidakkah kau juga terpuruk karena sikap bajingan tunanganmu yang congkak ini? Tidakkah kau juga lelah meladeninya?”

“Kau catat ini, Kim Taehyung,” katanya. “Jeon Jungkook adalah binatang. Dia memang tidak pernah boleh diberi rasa kasihan dan perhatian yang lembut. Dia memang harus dipecuti. Dia ini hidup dari kerasnya dapur, amarah dan bentakan. Sikap lembutmu akan membuatnya semakin dramatis.”

Detik Mingyu menyelesaikan kata-katanya itulah kemudian terdengar suara kunci terbuka dan seluruh orang di ruangan itu terkesirap menoleh ke daun pintu. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Taehyung tidak bisa memprosesnya. Mingyu tidak sempat menoleh karena kemudian dia terkesirap kaget saat bogem mentah dilayangkan ke rahangnya dengan suara gedebuk keras.

Mingyu mengerang keras merespon pukulan itu dan ambruk ke lantai dengan suara keras, dia menyentuh bibirnya yang berdenyut mengerikan. Namun, dia nampak geli.

“Kau haram jadah sialan.” Geram Jungkook, berdiri menjulang di atas Mingyu yang terbaring di lantai dengan darah di sudut bibirnya.

Jungkook nampak seperti binatang buas dalam balutan kaus singlet dan celana jogger kesukaannya yang pudar. Dia belum bercukur dan rambutnya mulai tumbuh. Wajanya pucat, bobotnya turun beberapa kilogram dan membuat otot-ototnya layu. Ada kantung mata yang gelap pekat di bawah matanya, wajahnya merah padam karena tangis dan amarah.

Bekas-bekas luka baru ada di mana-mana; di mana-mana di seluruh tubuhnya dan membuat Taehyung dan Jimin menyadari bahwa selama berada di dalam, Jungkook telah menemukan cara untuk melepaskan sakitnya dengan melukai dirinya sendiri.

Dia nampak buas sekaligus ringkih dengan tulang punggung yang melengkung aneh dan ekspresinya yang liar karena baru pertama kali melihat cahaya dan nampak seperti buronan yang menghabiskan waktu di bawah bunker untuk melindungi diri dari tentara perang.

“Kau lihat,” Mingyu tersenyum, mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. “Begitulah caramu menghadapi binatang.”

Dia menatap Jungkook yang berdiri di atasnya. “Kau masih ingin menghajarku, Bung? Silakan saja.” Katanya dengan nada mengejek dan saat Jungkook mengejang untuk menekan dada Mingyu dengan lututnya, Taehyung menghambur ke arahnya.

Menubruknya dengan terlalu kuat hingga Jungkook yang selama ini lemah oleh kesedihan dan depresi oleng dan terhuyung ke lantai dan Taehyung terkesirap keras karena tidak memperhitungkan bahwa Jungkook jauh lebih lemah dari yang diperkirakannya serta berhasil menyelipkan tangannya di bawah kepala Jungkook untuk menahan momentum kejatuhan mereka tepat waktu, menahan kepala Jungkook dari menghantam lantai dengan cekatan.

“Tidak, tidak!” Serunya gemetar, tubuhnya berguncang hebat dan air mata merebes dari matanya. “Tidak lagi, Sayang. Tidak, tolong...” Dia menangis, merunduk ke dada Jungkook dan terisak liar; air mata menetes dari matanya, membasahi kaus Jungkook dan membuat binatang buas di bawahnya mengerjap.

Disorientasi lalu menghela napas tajam.

“Taehyung?” bisiknya dengan suara pecah, seolah baru saja ditarik naik dari dalam air yang begitu dalam lalu ditampar. Dia kebingungan.

Taehyung mendongak. “Ya,” katanya lembut, tersenyum. “Iya, ini aku, Sayang. Ini aku....” Lalu dia tersedak air mata dan tawanya sendiri. “Kau mau makan? Kumohon?”

“Kau harus makan,” Mingyu berdiri, bibirnya mulai kebiruan dan dia berdecak saat sakit menyerang rahangnya. “Sebagai ganti telah membuatku lebam.” Dia lalu mendesah, “Bung, apakah kau memang berencana untuk membunuh dirimu sendiri dan Taehyung sekaligus?”

Jungkook menatap kekasihnya dengan matanya yang merah. Tangannya yang kurus menyentuh wajah Taehyung dengan ujung-ujung jemarinya seolah Taehyung adalah barang pecah belah yang harus diperlakukan dengan lembut.

“Kau kurusan, ya?” Tanyanya serak, membelai wajah Taehyung yang memejamkan mata dengan gemetar. Jungkook mengangkat tubuh atasnya, membenamkan wajahnya di rambut Taehyung. “Kau tersiksa, ya?” Tanyanya lagi, gemetar seperti orang yang baru saja dihajar. “Aku menyakitimu, ya?”

Mingyu mendesah, “Tentu saja kau—ADUH!” Mingyu mengakhiri kalimatnya dengan mengaduh keras karena Jimin menendang tulang keringnya. Dia menoleh dan Jimin mendelik marah padanya. “Untuk apa itu?!” Tanyanya gusar.

“Diam!” Desis Jimin, dengan jejak air mata kering di pipinya. Nampak jengkel. “Diam saja!”

Dan mereka menyaksikan dalam diam saat Jungkook meraih kepala Taehyung dengan lembut lalu menciumnya. Jimin dan Mingyu mengalihkan padangan dengan sopan, memberi kesempatan untuk keduanya berbaikan.

Jungkook membiarkan seluruh dirinya larut pada kelembutan Taehyung, pada kulitnya yang hangat, pada detak jantungnya yang menenangkan dan bagaimana nyamannya lengan kurus Taehyung terasa saat merangkul lehernya. Bibir Jungkook terasa sepat, kering dan mungkin saja bau, tapi Taehyung tidak berhenti menciumnya.

Mereka berbagi kerinduan, sakit dan duka yang selama ini menghantui tiap tidur mereka. Berbagi air mata yang selama ini terpisahkan pintu yang terkunci. Semua kebingungan, semua rasa frustasi, semua amarah dan semua pikiran pendek Jungkook tentang hidupnya perlahan memudar saat kehangatan Taehyung memeluknya.

Dia merasa lebih baik, nyaris seperti sihir apa yang dilakukan Taehyung padanya dan pada hidupnya.

Dan malam itu, Jungkook berbaring di pangkuan Taehyung. Setelah menghabiskan makan malamnya dan mandi. Menolak melepaskan Taehyung dan menolak sendirian lagi. Dia tidak mau lampu dimatikan, tidak sudi bahkan jika Taehyung harus pergi ke toilet.

“Begitulah,” Mingyu tersenyum, berdiri di pintu mengamati Jungkook yang terlelap dalam balutan selimut dan seprai baru yang digantikan oleh Jimin sementara Taehyung menyuapi Jungkook makan dan membantunya mandi.

“Dia memang harus dikata-katai,” Mingyu tertawa serak. “Kau mungkin harus belajar melakukan ini, Tae.”

Taehyung yang bersandar di kepala ranjang tertawa serak. “Baiklah,” katanya lelah namun luar biasa lega karena dia akhirnya memeluk tunangannya di kedua lengannya; mengobati semua luka di lengan dan kakinya dengan perlahan dan dia sekarang tidak akan pernah meninggalkan sisi Jungkook. “Akan kuingat-ingat.”

Mereka berpandangan dan Taehyung tersenyum. “Trims, Mingyu?”

Mingyu membalas senyumnya. “Anytime for an old friend.” Lalu dia mendesah, meregangkan tubuhnya lalu Jimin melongok dari sisinya.

“Seprainya sudah kumasukkan ke mesin cuci. Harusnya sebentar lagi bisa dijemur setelah Jungkook tidur.” Dia menatap tubuh Jungkook yang berbaring nyaman di ranjang dan mendesah. “Harimau bengala buas yang menyusahkan sekali,” dia mendelik sayang pada Jungkook yang terlelap dan Taehyung tersenyum, membelai kening Jungkook dengan jemarinya.

“Kami pulang dulu, oke?” Mingyu bangkit. “Kami akan kembali lagi besok. Telepon kami jika kau butuh bantuan, ya? Jangan bersikap seperti Jungkook.” Dia memutar bola matanya lalu menambahkan. “Apa pun yang kukatakan tadi, percayalah aku sayang Jungkook.”

“Kau menyebutnya bangsat.” Sela Jimin mengingatkannya dengan baik hati.

“Aku sayang Jungkook.”

“Lalu bajingan.”

“Sudah kukatakan—.”

“Juga binatang.”

Mingyu mendelik. “Park Jimin.”

Taehyung tertawa serak. “Sudah, sana pergi kalian semua. Kalian hanya akan membuat Jungkook terbangun. Beristirahatlah.” Dia tersenyum. “Maaf aku tidak bisa mengantar kalian.”

“Tidak apa-apa,” Jimin nyengir. “Urus dulu bayi besarmu, oke? Sampai ketemu besok, Taeby! Jangan lupa istirahat juga.”

“Sampai ketemu besok, Jimini.”

Mingyu berhenti lebih lama setelah Jimin beranjak ke depan lalu menatap Taehyung. “Sekarang,” katanya dengan kelegaan yang menular pada Taehyung; merayap di tulang punggungnya seperti disiram air dingin. “Semuanya akan mulai baik-baik saja. Have faith.”

Taehyung menatap Jungkook yang terlelap dan menghela napas lega—sangat lega seolah beban langit baru saja diangkat dari bahunya. “Syukurlah.” Balasnya.

Syukurlah.

*

The Chef #111

Jungkook belum pernah membiarkan dirinya menangis di hadapan orang lain sebagaimana dia membiarkan dirinya menangis di hadapan Kim Taehyung.

Ada sesuatu pada diri Taehyung yang membuat Jungkook merasa dia bisa memercayakan hidupnya di tangannya. Dia tidak pernah memaksa Jungkook, dia tidak pernah mendesak Jungkook, selalu bersikap sabar dan perhatian; selalu mencoba mencari tahu alasan di balik setiap tindakannya sebelum memutuskan penilaiannya.

Jungkook sangat mengapresiasi bagaimana Taehyung memecahkan masalah; detail dan menyeluruh. Tidak seperti Jungkook yang cenderung melarikan diri dari masalahnya, berharap masalah itu menyelesaikan dirinya sendiri. Menyadari hal inilah mengapa Jungkook selalu keras kepala tentang bagaimana dia menjalani kehidupannya; dia benci saat menyadari dirinya salah atau keliru dan harus meminta maaf.

Namun saat dia bersandar di pintu kamarnya dengan Taehyung tersambung di telepon dan bersandar di sisi pintu sebelah luar, Jungkook merasa seluruh egonya, seluruh harga dirinya yang selama ini begitu keras seperti batu mulai retak dan hancur.

Kim Taehyung, lelaki yang dipilihnya untuk menjadi teman hidupnya telah menyentuhnya di bagian yang sama sekali tidak pernah Jungkook sangka.

Dengan kelembutan dan kesabarannya, dia telah membuat Jungkook jadi jauh lebih kuat daripada dirinya sebelumnya.

Mendengar suara Taehyung yang lembut, Jungkook menyadari betapa dia merindukan Taehyung hingga seluruh ototnya nyeri. Seolah ada kekuatan tidak kasat mata yang menekannya dari segala arah dan mencoba membuatnya meledak menjadi jutaan keping.

“Aku percaya,” kata Taehyung di sambungan telepon mereka sementara Jungkook merunduk, mencengkram dadanya yang nyeri dan menangis tanpa suara. “Aku percaya kau akan tetap menjadi seorang chef yang hebat bahkan tanpa lidahmu. Kau membuktikan pada dirimu sendiri kau bisa menjadi seorang head chef dalam usia semuda ini, sekarang kau hanya perlu melakukannya lagi.

“Seperti dulu. Gunakanlah kekeraskepalaan dan ambisimu untuk bangkit dan menjadi chef yang tidak kalah oleh keadaan paling mustahil sekali pun.

“Lidahmu mungkin saja tidak bisa merasakan apa pun sekarang dan hidungmu mulai merasakan efeknya karena kebingungan, tapi itu tidak berarti kau harus menyerah dengan keadaanmu. Ingat apa kata dokter tentang terus mengasah kemampuan lidahmu setelah operasi? Dia yakin lidahmu setidaknya bisa menyecap 50% jika taste buds-mu terus diasah.

“Apakah kau akan melepaskan 50% itu begitu saja?”

Jungkook tidak menjawab, hatinya begitu nyeri. Begitu juga kepala dan seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang terbiasa bergerak dan terus bergerak, kaget dan protes saat Jungkook tidak juga membawa mereka bergerak.

Jungkook sering terbangun tengah malam oleh rasa anxious yang dirasakannya lalu menangis dan terkadang muntah karena kembali teringat betapa tidak berdayanya dia sekarang. Betapa banyak mimpi yang harus dilepaskannya hanya karena lidahnya tidak berfungsi.

Berapa banyak orang yang dikecewakannya...

“Aku di sini bukan karena kau seorang chef,” Taehyung melanjutkan. Mengetuk pintu dengan telunjuknya dalam nada yang menenangkan: tuk-tuktuk-tuk. “Aku di sini karena kau adalah Jeon Jungkook. Manusia keras kepala, congkak dan menyebalkan yang juga bertanggung jawab, manis dan luar biasa.

“Bukan Chef Jeon Jungkook yang namanya melanglang buana di dunia kulinari Indonesia. Bisakah kau memisahkan dua orang itu?”

Jungkook diam, mengenggam ponselnya di telinganya dan menyandarkan kepalanya di pintu di belakangnya. Mendengarkan ketukan menenangkan Taehyung dari sisi satunya seraya mengatur napasnya yang tersengal setelah menangis.

Kamarnya tetap gelap, aromanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dia merasa begitu aman dengan berdiam diri di dalam selimut dan menghalangi dunia menemukannya. Jungkook merasa terlindungi dari kejamnya kenyataan, berharap dia bisa terus-menerus menunda waktu untuk bangkit dan melawan.

Dia tidak sanggup menatap mata-mata yang kasihan padanya, menatapnya dengan rasa simpati menjijikkan dan mungkin saja berpikir: 'Kasihan sekali dia. Dulunya dia chef yang luar biasa, semenjak indera perasanya tidak berfungsi dia tidak bisa lagi melakukannya.'

Memikirkannya saja membuat Jungkook ingin muntah karena perasaan anxious yang mencengkram bagian belakang kepala dan dasar perutnya yang bergolak hingga dadanya terasa terbakar.

“Bolehkah aku masuk?” tanya Taehyung kemudian dengan perlahan. “Aku akan membantumu menanggung semua sakitnya. Aku akan memelukmu tiap kau menangis dan membuatmu baik-baik saja.”

Jungkook masih diam.

“Hal yang perlu kaulakukan hanya mengizinkanku masuk.”

Dia memejamkan mata.

Merasa sangat aman dalam tempat perlindungannya yang temaram dengan tirai tertutup dan lampu mati, udara yang sesak oleh keputusasaan dan kemarahan akan dirinya sendiri, seprai yang tidak pernah dibereskan, tubuh Jungkook yang terasa lemah dan bau karena tidak pernah bisa bangkit untuk ke kamar mandi karena dia tidak kuasa menatap dirinya sendiri di cermin.

Pertama kalinya dia melangkah ke kamar mandi untuk buang air kecil, Taehyung berakhir menggedor pintunya dengan panik saat Jungkook berteriak marah dan meninju cermin dengan kepalan tangannya hingga berdarah dan menghadiahi cermin mereka dengan retakan rambut yang menjalar.

Jungkook begitu benci menatap dirinya sendiri di cermin.

Dia dihantui perasaan gagal dan frustasi yang begitu memualkan. Kebenciannya pada dirinya sendiri karena tidak kenyataan yang harus dihadapinya saat ini. Jungkook tidak sudi menatap dirinya sendiri di cermin. Sejak hari dimana Taehyung menggedor pintu kamar mereka, berteriak histeris dan menangis memohonnya berhenti, Jungkook berhenti ke kamar mandi.

Dia menutup semua cermin dengan kain dan menempelnya dengan selotip. Menolak sinar memasuki kamarnya dan meringkuk di ranjang, dalam balutan selimut karena dia selalu merasa tubuhnya mengigil tiap kali mengingat hari esok; tiap kali mengingat hal yang harus dihadapinya jika dia keluar dari kamar ini.

Jungkook tidak sanggup menghadapi fakta dan kenyataan yang menantinya jika dia membuka pintu di belakangnya.

“Tentu saja kau sanggup,” bisik Taehyung lembut dan membuat Jungkook sadar dia baru saja menyuarakan pikirannya. “Kau tidak harus menghadapinya sendiri, ada aku di sini. Aku akan memastikanmu baik-baik saja.”

Dia belum sekuat yang dipikirkan Taehyung, dia belum sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia harus merelakan karir dan hidup yang selama ini telah menjadi bagian dirinya yang membuat jantungnya berdenyut harus berakhir.

Jungkook juga tidak ingin melibatkan Taehyung dalam hidupnya yang kacau balau ini. Dia ingin menyelamatkan Taehyung dari dirinya sendiri, ingin pemuda itu bersikap rasional dengan meninggalkannya dan membiarkan Jungkook mati membusuk dalam keputusasaannya.

“Kau pernah menghadapi ini sendirian dulu,” Taehyung memulai lagi. “Kau sudah tahu betapa remuknya fisik dan emosimu karena kau terus menghukum dirimu dengan begitu kejam karena hal yang bahkan bukan kesalahanmu. Sekarang ada aku yang akan menemanimu menghadapi sakitnya. Tidakkah kau lelah dengan rasa bersalah itu? Tidakkah kau ingin meringankan sakit yang menghimpit dadamu itu?

“Kau hanya akan membuat dirimu hancur lebur karena duka yang kau suntikkan ke dalam pembuluh darahmu setiap hari, setiap menit. Kau sudah menghukum dirimu sendiri dengan cara yang salah, Sayang. Kita bisa memperbaiki ini, kau bisa memperbaiki ini. Kau hanya sedang meremehkan kekuatanmu sendiri...”

Namun Jungkook tetap bertahan, dalam keheningan dan dalam kesedihannya sendiri. Berharap dia mati dimakan kesedihan dan kesendirian itu. Berharap dia tidak harus membuka matanya lagi untuk menatap hari esok yang selalu menghantuinya dengan ketakutan dan ketidakpastian.

Maka dia membiarkan pintunya tetap terkunci dan mendengarkan helaan napas Taehyung yang menenangkan serta ketukan jari Taehyung di pintu kamarnya.

*

The Chef #105

Jungkook belum pernah gagal sekali pun dalam hidupnya.

Dia selalu mendapatkan segala hal yang diinginkannya dengan mudah. Memulai sebagai commis muda yang ambisius, disayangi oleh head chef-nya sehingga perjalanannya meniti karir dimudahkan dan diperlancar. Dia naik menjadi demi chef, lalu chef de partie lalu menjadi second sous chef dengan begitu lancar; dia selalu percaya tidak ada hal yang tidak bisa dilakukannya.

Hal ini membuatnya tumbuh menjadi seorang chef yang penuh percaya diri, keras kepala, congkak, berkemauan keras dan begitu berambisi dengan hidupnya—selalu yakin bahwa hidup akan jauh lebih berarti saat dia memiliki ambisi tentang ke mana dia ingin membawa hidupnya sendiri.

Maka dia menjadikan dirinya sendiri seorang juru masak yang dihormati oleh rekan-rekan sesamanya di dunia kulinari. Mendapatkan tatapan segan karena kemampuannya memasak setelah bertahun-tahun memaksa dirinya untuk terus berproses secara berkelanjutan untuk mengalihkan duka dari hatinya. Dia menjadikan dirinya hebat dalam spesialisnya; memperkuat basic-nya di Indonesian cuisine sebelum merambah ke fusion food, molecular gastronomy dan bahkan pasty.

Jungkook ingin jadi yang terhebat.

Maka dia menjadi yang terhebat.

Sesederhana itu.

Dia tidak tahan untuk tidak memiliki segala yang terbaik di dunia ini; karir, kehidupan, teman-teman bahkan pasangan hidup. Dia hanya akan mendapatkan yang terbaik, dia tidak tahan jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Hanya karena dia memang selalu mampu mendapatkan segala hal yang diinginkannya.

Jeon Jungkook selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, mengenggamnya dengan erat seperti seorang bayi yang mengenggam mainannya. Menjerit saat seseorang merampasnya dan akan menghalalkan apa saja untuk mendapatkannya kembali.

Dan saat seluruh mimpi, hidup dan angannya merembes dari sela-sela jemarinya seperti air, dia tidak bisa melakukan apa pun. Perasaan asing ini membuatnya frustasi, membuatnya marah karena sekuat apa pun dia mengenggam, dia hanya menyakiti dirinya sendiri karena bulir air itu terus merembes—tidak akan berhenti hingga seluruh esensi diri Jungkook lenyap dan kering.

Seperti telapak tangannya.

Matanya terbuka ke kamar yang remang-remang dengan cahaya matahari merembes dari bagian bawah tirai jendelanya yang selalu ditutup dan menyadari bahwa ini sudah pagi. Kamarnya hening, hanya terdengar detak jam di meja sisi ranjang. Di luar sana, sayup-sayup dia mendengar tunangannya sedang menyiapkan makanan bersama anak anjing mereka yang menyalak ceria. Ada suara televisi yang dinyalakan, langkah kaki Taehyung di ruang tengah dan toaster yang berdenting saat rotinya matang.

Dunia yang terasa begitu jauh dari tangan Jungkook; seolah mereka berada di sisi lain dunia alih-alih di balik pintu kamarnya yang gelap dan menyesakkan oleh duka dan kegagalan.

Jungkook mendesah, mengusap wajahnya dengan tangannya. Kenapa dia masih harus terbangun? Kenapa dia tidak mati sekalian?

Dia tidak ingat ini hari keberapa dia sudah bertahan di dalam kamar, mengunci Taehyung dan seluruh dunia di luar sana agar tidak ada yang bisa menyentuhnya. Dia menutup tirai kamar, membuat tempat itu segelap mungkin agar dia tidak bisa berpikir—tapi toh dia tetap berpikir.

Kepalanya kembali melayang ke hari itu, hari saat Taehyung memasuki ruangan perawatannya sendirian dan tersenyum letih dengan wajah merah padam dan mata yang sembab. Dia merasa sangat bersalah melihat betapa letih dan lelahnya Taehyung hari itu. Dia meminta izin untuk menyukur rambut Jungkook hingga habis—dan Jungkook merengek, tidak tahu bahwa rambut bukanlah hal satu-satunya yang harus dikorbankannya.

“Ageusia.” Kata tunangannya hari itu dari belakangnya, dengan alat menyukur habis rambut Jungkook dengan telaten dan cekatan saat Jungkook bertanya kenapa dia harus di operasi. Jungkook tidak bisa melihat ekspresinya.

“Apa itu ageusia?” Tanyanya, tidak faham dan menatap bagaimana rambutnya dicukur habis dan mendesah, rambut bisa tumbuh kembali—begitu pikirnya. “Apa yang akan mereka lakukan dengan kepalaku?”

Taehyung tidak menjawab, begitu lama hingga Jungkook akhirnya menyetuh tangnnya. “Sayang?” tuntutnya. “Apa itu ageusia?”

Lalu Taehyung gemetar dan mulai terisak, tangannya meluncur turun dari kepala Jungkook, alat cukur elektrik yang digunakannya jatuh berkelotakan di lantai sebelum dia melangkah ke hadapan Jungkook, belutut di kakinya dan menangis. Begitu hebat hingga Jungkook merasa seluruh tubuhnya nyeri; dia meraih pipi Taehyung, kesulitan dengan collar neck-nya yang menyiksa.

“Sayang?” tanyanya hari itu dengan lembut. “Kenapa kau malah menangis?”

Taehyung membenamkan wajahnya di pangkuan Jungkook, terisak hingga napasnya tercekat-cekat dan dia tidak bisa bicara sama sekali. Tubuhnya berguncang begitu kuat dalam tangisan heningnya yang menyayat hati. Kedua tangannya mengenggam tangan Jungkook; terasa basah oleh keringat dan air mata serta potongan rambut Jungkook.

“Sayang,” katanya nyaris tersedak liurnya sendiri. “Maafkan aku, maafkan aku...” Dia kembali meledak dalam tangisan yang semakin membuat Jungkook bingung.

“Aku tidak faham jika kau terus menangis,” Jungkook membujuknya. “Memangnya apa yang parah? Apa salahmu? Bukan kau yang menyebabkanku jatuh lalu kepalaku terbentur, kan?” Cobanya menenangkan Taehyung yang gemetar di pangkuannya.

“Aku tidak gegar otak, aku tidak amnesia. Aku baik-baik saja, aku akan segera keluar dari ini; sehat walafiat dan kembali memasak.” Dia tersenyum cerah untuk menguatkan Taehyung yang masih gemetar di kakinya. “Kau tidak perlu khawatir.”

“Tidakkah kau bertanya-tanya mengapa semua makananmu hambar?” tanya Taehyung, berbisik. Mendongak dengan wajah merah padam dan jejak air mata membasahi pipi dan lehernya. “Tidakkah kau penasaran kenapa bahkan ayam rebusmu tidak amis?”

Jungkook mengerjap. “Bukankah makanan rumah sakit memang begitu?” sahutnya, bingung. “Memangnya lidahku yang salah?” Dia tertawa lembut, “Maksudmu lidahku tidak bisa merasakan apa-apa begitu? Aneh sekali, lidahku baik-baik saja, Sayang, ini cuma makanan rumah sakit.”

Tangisan Taehyung semakin liar dan Jungkook semakin bingung; tidak memahami apa yang sebenarnya membuat tunangannya menangis.

Dan dia baru menyadari ini semua saat Taehyung memberinya sebutir permen dengan tangan yang gemetaran hebat. Jungkook kebingungan, namun dia membawa permen itu ke mulutnya lalu menyesapnya.

Menanti rasa gula dan manis artifisial meledak di lidahnya dan dia bisa menenangkan Taehyung bahwa tidak ada yang terjadi dengan dirinya—dia sesehat kuda.

Namun tidak ada yang terjadi.

Jungkook terus menanti hingga permen itu meleleh habis di lidahnya; tetap tidak ada yang terjadi.

“Sial,” Jungkook di masa sekarang mengusap wajahnya, benci saat dia mengingat hari itu dan mendesah. Dia berguling terlentang di ranjang, merasa seperti seonggok daging rusak yang tidak diinginkan siapa-siapa.

Bagaimana bisa dia tetap menjadi chef dengan kecacatan pada sejata pamungkasnya? Bagaimana dia mencicipi masakan anak buahnya? Tidak akan ada yang mengakui kredibilitas kerjanya jika dia sendiri cacat seperti ini.

Jungkook mengerang lalu menutup matanya dengan lengannya. Dia merasa begitu hancur; rusak dan tidak bisa diperbaiki. Dia tidak berani menatap Taehyung, tidak kuasa melihat ekspresi tunangannya. Tidak ingin mengingat bagaimana ekspresi Jimin dan Yugyeom hari itu saat dia akhirnya menyadari bahwa lidahnya sama sekali tidak bereaksi terhadap rasa apa pun.

Mereka kasihan padanya—pada Jungkook.

Dan Jungkook tidak suka dikasihani.

Jungkook benci fakta bahwa dia sekarang butuh bantuan dan akan bergantung sepenuhnya pada orang lain tentang hal yang bisa dilakukannya sendiri.

Dia benci merasa tidak berdaya.

Pintu kamarnya diketuk dan dia menjulurkan lehernya dari selimut; itu Taehyung. Berpamitan untuk kerja, seperti biasa. Jungkook bahkan tidak menjawabnya, tapi dia selalu melakukannya dengan tekun seperti seorang bawahan yang setia.

Atau kekasih yang sangat mencintainya.

“Sayang, aku berangkat, ya? Makanan sudah kuletakkan di konter dan Bubble tidak aku taruh di kandang hari ini. Makanlah sesuatu; untukku dan untuk dirimu sendiri.”

Jungkook memejamkan mata.

Kenapa Taehyung masih bertahan dengannya? Kenapa dia tidak pergi saja meninggalkan Jungkook? Bukankah seharusnya dia melakukan itu? Kenapa dia tidak bosan Jungkook acuhkan? Kenapa dia masih terus berusaha?

Kenapa?

“Sayang,” ketukan terdengar lagi. “Aku tahu kau mendengarku.”

Jungkook diam. Selalu diam.

“Jangan menyerah dengan dirimu sendiri. Kami semua di sini akan menemanimu untuk melewati semuanya. Aku di sini untukmu. Kau tidak pernah sendirian.”

Jungkook masih diam. Mata dan paru-parunya terasa panas. Dia menarik lututnya lalu menumpukan keningnya di sana, bernapas dengan mulutnya mencoba untuk menelan kesedihan yang mulai membakar tenggorokannya.

Dia tidak bisa menyecap apa pun. Tidak satu pun makanan yang bisa dirasakannya.

Lidahnya berhenti berfungsi sama sekali. Dia terbiasa dengan lidah tajamnya; bagaimana benda itu bisa membantunya merasakan bumbu lain yang salah atau bumbu lain yang memperkuat rasa. Senjatanya dalam memasak selain kedua tangannya adalah lidah dan hidungnya.

Namun sekarang kedua organ itu bergeming, enggan melakukan apa pun. Jungkook merasa dirinya seperti seekor binatang yang tersesat karena hidungnya tidak bisa menunjukkan jalan untuknya. Dia tidak bisa membantu dirinya sendiri sekarang; dia kehilangan arah dan buta.

Mungkinkah dia tetap memasak dengan kedua indera vitalnya tidak bekerja sebagaimana mestinya?

Dia menunggu dalam diam dan kegelapan, dengan hati yang terhimpit oleh rasa sedih dan sesak saat akhirnya terdengar suara cakaran di pintu. Dia mengangkat wajahnya lalu beranjak dari kasur dengan kepala berdentam-dentam. Bekas operasinya masih terasa menyakitkan dan tiap kali dia bergerak, rasanya masih sakit.

Dokter menginformasikannya bahwa tubuhnya butuh setidaknya dua minggu hingga satu bulan untuk menyembuhkan diri dari trauma kepala, operasi saraf dan guncangan mentalnya. Dokter memintanya untuk bersabar dengan prosesnya dan mendoakan yang terbaik untuknya.

Seolah Jungkook benar-benar membutuhkan doanya.

Jungkook menyeret tubuhnya ke pintu perlahan-lahan, memutar kunci terbuka lalu menarik daun pintu; menyisakan ruangan yang cukup untuk Bubble menyelipkan diri ke dalam sana. Anjing itu menyalak lalu mendengking keras, ekornya terselip ke dalam kedua kaki belakangnya dan dia menatap Jungkook dengan matanya yang bulat.

Tatapan itu menusuk hati Jungkook dan membuat matanya seketika panas oleh air mata.

Hati Jungkook terasa nyeri, lumpuh oleh rasa sakit. Dia bahkan sudah tidak bisa lagi menangis, namun saat dia merunduk dengan perlahan; mendesis keras saat jahitan di kepalanya tertarik dan meraih Bubble ke dalam pelukannya lalu bagaimana anjing kecil itu langsung menjilati wajahnya.

Mendengking penuh derita dan berusaha menghiburnya; seolah merasakan setiap sakit yang Jungkook coba abaikan belakangan ini. Seolah memberitahu Jungkook bahwa dia merasakan semua yang Jungkook rasakan; dia ingin membantu. Dia ingin menghiburnya.

Jungkook merosot. Berlutut di lantai dan mulai menangis tanpa suara.

Mulutnya terbuka, berusaha menghela napas karena hidungnya tidak kuasa melakukannya sendiri. Ulu hatinya terasa terbakar, tenggorokannya tercekat dan dia merasa seluruh sendinya ngilu. Tubuhnya bergetar, seperti onggokan mesin rongsokan yang berusaha tetap bekerja dalam keadaan setengah rusak.

Dia mencengkram dadanya, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang bergelayut di sana dan membukul-mukulnya dengan air mata yang meleleh dari matanya hingga ke pipi dan lehernya.

Sakit, sakit sekali.

Jungkook tidak tahu bagaimana caranya mengenyahkan sakit itu. Dia tidak bisa menemukan titiknya. Apakah itu jantungnya? Bukan. Sakitnya ada jauh di belakang jantungnya, di balik paru-parunya. Membakar seluruh organ vitalnya menjadi abu dalam sengatan rasa sakit yang panas.

Bubble mendengking keras, memohonnya untuk berhenti menangis dan menempelkan dirinya semakin erat di sisi Jungkook. Menjilat lutut Jungkook dengan lembut lalu kembali mendengking.

Karir yang selama ini disusunnya dengan hati-hati, kini kandas. Dia tidak bisa memasak lagi, dia tidak bisa menjadi chef.

Untuk apa lagi sebenarnya dia hidup jika seluruh ambisi dan identitasnya dicabut takdir? Jungkook tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa kesibukan dapur, tanpa menyiapkan makanan, tanpa bergerak dinamis seharian melemaskan otot dan stres yang bergelayut di kepala belakangnya.

Bubble mendengking lalu menangis di sisinya, menempelkan tubuhnya di sisi Jungkook dan mengeluarkan suara-suara memohon yang tidak didengar Jungkook karena telinganya yang berdenging oleh tangisannya sendiri.

Dia gagal.

Hidupnya hancur.

Dan kenapa dia masih hidup?

*

The Chef #100

“Kau harus memberitahunya.”

Taehyung menelan ludah dengan sulit, melirik ke arah Jungkook yang terlelap dengan gelisah. Morfimnya dicabut dan sudah mulai puasa juga sejak semalam untuk mempersiapkannya menuju operasi. Taehyung belum memberitahu apa pun tentang operasinya; dia hanya memberitahu Jungkook bahwa lukanya perlu ditindak.

Dia tidak memberitahu bahwa sarafnya yang akan diperbaiki. Dan hal itu akan membuat karirnya sebagai chef pupus. Dia tidak tahu caranya, tidak sanggup menjadi peran antagonis dalam hidup Jungkook, memberitahunya bahwa dia tidak bisa lagi berkarir di dunia yang sangat dicintainya.

Operasi Jungkook dijadwalkan sore ini, dan seorang perawat tadi sudah memberitahu Taehyung agar Jungkook dipersiapkan untuk operasi dengan menyukur rambutnya hingga bersih dan jika Taehyung tidak sanggup, dia bisa menghubungi perawat untuk membantunya.

Jika operasi hari ini berhasil dan keadaan Jungkook pasca-operasi diobservasi dan dianggap cukup baik, maka dia bisa memulihkan diri di rumah.

Taehyung sedang duduk di depan kamar Jungkook, mengenggam segelas kopi yang mulai dingin dan tidak enak namun dia tetap meneguknya karena seburuk apa pun rasanya, otaknya yang malang butuh suntikan kafein agar tetap waras.

Yugyeom duduk di sisinya. Mereka memilih untuk duduk di luar, di depan kamar Jungkook membicarakan hal ini agar Jungkook tidak mendengarnya. Taehyung sudah sejak pagi tadi pusing memikirkan bagaimana dia harus memberitahu Jungkook mengenai hal ini.

“Ada kerusakan di bagian sarafnya,” kata dokter Jungkook hari itu setelah MRI scan Jungkook keluar dan Taehyung merasa asam lambungnya bergolak; kepalanya pening, dia belum makan sama sekali. Tidak merasa nyaman untuk makan dengan keadaan Jungkook yang mengigau.

“Menurut saya, saraf tunangan Anda sudah mengalami cidera saat pertama kali benturan terjadi,” dia menambahkan dan menatap Taehyung yang duduk di hadapannya. “Kemungkinannya kecil, tapi mari menganggap bahwa nasib tunangan Anda tidak terlalu baik karena benturan tersebut, meskipun minor menghantam dengan tepat sasaran. Mengapa hal ini luput dari pemeriksaan CT scan mungkin karena belum ada tanda kerusakan yang terbaca pada bagian temporal.

“Saya sedikit menyesalkan kenapa tidak dilakukan MRI scan untuk cidera pertama. Hal itu akan sangat membantu untuk menanggulangi masalah ini. Namun, saya hanya akan mengajak Anda fokus di masa sekarang; hal apa yang dapat kita lakukan untuk ini.” Dia menatap hasil MRI scan Jungkook di tangannya. Dia menunjuk bagian di gambar dan Taehyung menatapnya. “Ini merupakan corda tympani.”

“Saraf ini yang bertanggung jawab pada lidah bagian depan dan membawa rasa ke otak untuk dikenali. Benturan pada bagian ini, jika cukup traumatis dapat menyebabkan burning mouth sensation; perasaan geli yang aneh pada mulut sebelum berangsur-angsur mengubah persepsi rasa pada lidah penderita.

“Saya yakin kerusakan pada saraf inilah yang menyebabkan perubahan persepsi rasa pada lidah tunangan Anda berubah. Seperti yang Anda ceritakan: makanan terlalu asin, terlalu pedas dan semacamnya. Lalu karena tidak juga mendapatkan penanggulangan, lidah akan mulai mengalami distorsi; kesulitan untuk membedakan rasa. Apa lagi tunangan Anda adalah seorang chef—hal ini pasti sangat menganggu dalam kegiatan sehari-hari.”

Dia melingkari bagian saraf yang dimaksudnya, terletak di bagian sisi kepala dekat dengan telinga. Hal itu membuat Taehyung mual. “Benturan kedua cukup kuat dan sayangnya, mengenai bagian yang sama dengan benturannya dan memperkuat efeknya.”

Dia lalu mendongak menatap Taehyung, nampak steril dari emosi sama sekali dan itu membuat Taehyung semakin mual. Ulu hatinya terbakar oleh asam lambung yang naik perlahan. “Saya harus melakukan operasi untuk memperbaiki corda tympani tunangan Anda karena kerusakan ini dapat menyebabkan ageusia atau hilangnya kemampuan lidah untuk membedakan rasa sama sekali.

“Ageusia jarang terjadi pada pasien-pasien saya, angkanya tidak menyentuh 1% namun tunangan Anda mengalami dua kali trauma minor dan mayor pada bagian corda tympani-nya yang menyebabkan naiknya persentasi kerusakan pada bagian saraf itu. Tunangan Anda sial, katakanlah begitu.”

Taehyung menatap dokter di hadapannya dengan tatapan pasrah yang memilukan.

“Untuk mengetes kerusakan pada lidah tunangan Anda, kami juga sudah mengetes lidah tunangan Anda dengan tes sip, spit and rinse* sebelum ini,” dokter menatap Taehyung, mendesah berat dan lelah sebelum melanjutkan dengan pahit.

“Dan saya benar-benar menyesal menginformasikan Anda bahwa lidah tunangan Anda sudah tidak berfungsi sama sekali.”

Taehyung oleng, berdeguk karena asam lambungnya menonjok naik dan membakar leher dan rongga mulutnya namun dia menelannya kembali dengan susah payah. “Apakah...” tanyanya praktis mencicit seperti seekor tikus yang ketakutan. “Apakah operasi dapat menyembuhkannya?”

Dokter menatapnya, masih cukup beradab untuk bersimpati yang sangat dihargai Taehyung. “Saraf merupakan bagian paling sensitif dari tubuh manusia, Pak Taehyung.” Katanya berat dan Taehyung bisa mendengar harapannya putus dengan suara keras hingga membuat kepalanya pening.

“Saya bisa memperbaiki saraf tunangan Anda, namun saraf yang rusak tidak akan pernah bisa menjadi sesempurna sebelum operasi. Tunangan Anda mungkin bisa menyecap kembali namun saya yakin lidahnya akan tetap mengalami distorsi rasa.

“Belum lagi efek samping pasca-operasi yang setidaknya membutuhkan 12 hari hingga 1 bulan atau lebih untuk proses penyembuhan secara emosi. Pada beberapa kasus, dapat menyebabkan depresi berkepanjangan. Maka, saya pesimis apakah dengan kondisi ini, tunangan Anda masih mampu menjalankan perannya sebagai seorang chef.”

“Yugyeom,” bisik Taehyung di masa sekarang, terlalu pusing untuk memikirkan lanjutan ingatan pembicaraannya dengan dokter Jungkook. “Dia kehilangan indera perasanya... Bagaimana menurutmu dia akan bersikap? Dia akan hancur. Hancur.” Bisik Taehyung, meremas gelas kertas bekas kopinya yang kosong.

“Restoran itu adalah mimpinya,” tambahnya, matanya mulai buram oleh air mata. Hatinya begitu nyeri membayangkan reaksi Jungkook saat mimpi dan ambisinya remuk terinjak-injak kenyataan; kecerobohannya sendiri—tidak, hal yang memulai semua ini adalah Taehyung.

Bagaimana dia tidak mempertimbangkan momentum Jungkook hari itu di Monkey Forest, membuatnya menoleh dan membentur batu.

Jika saja, jika saja Taehyung memilih untuk meraih tubuh Jungkook, memeluknya merunduk untuk menghindarkannya dari botol; maka kepalanya tidak akan cidera. Saraf sialnya tidak akan terluka, dia tidak akan terganggu oleh lidahnya yang kesulitan bekerja akibat kerusakan itu.

Atau jika saja hari itu dia meminta Jungkook melakukan MRI scan untuk mengecek kerusakan lebih lanjut sehingga mereka bisa segera menanggulanginya.

Taehyung menghancurkan hidup Jungkook yang ditatanya dengan baik dengan penuh ambisi dan mimpi selama ini; hidup yang disusunnya dengan penuh kehati-hatian seperti membangun rumah kartu yang tinggi.

“Bagaimana aku harus memberitahunya?” tanyanya, air mata meleleh dari sudut matanya yang panas. Meluncur di pipinya dan menetes ke lantai.

Yugyeom mendesah berat, menjulurkan tangan dan memeluknya akrab. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” katanya meremas bahu Taehyung hangat. “Kau sama tidak tahunya dengan kita semua, kau tahu bagaimana dia bersikap jagoan dan sok kuat selama ini tiap kali kita mencemaskan kepalanya.

“Bersikap bahwa dia baik-baik saja, menolak bantuan, menolak dikhawatirkan. Jika saja dia memberitahumu tentang persepsi rasanya yang berubah, kita bisa melakukan penanggulangan dengan cepat.

“Tapi, tidak ada yang salah; bukan kau, bukan juga Jungkook.” Yugyeom melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Taehyung akrab. “Hal-hal terjadi karena hal itu memang harus terjadi. Tanpa atau dengan andilmu, Jungkook akan mengalami hal ini. Mari kita coba lihat pembelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari kejadian ini.”

“Menyalahkan dirimu sendiri,” Yugyeom menambahkan saat Jimin datang, tergopoh-gopoh dengan tas Taehyung—dia meminta Jimin men-check out-kannya dari hotel dan mengurus refund pembayaran kamar mereka. “Tidak akan memperbaiki keadaan, malah hanya akan memperparahnya.”

“Taehyung,” lanjutnya saat Jimin berdiri di sisinya dan terkesirap saat Taehyung merunduk, bahunya berguncang dan dia membekap wajahnya; menangis tanpa suara dengan hati yang begitu berat dan sesak oleh rasa bersalah. “Dia membutuhkanmu untuk tetap waras, oke? Dia membutuhkanmu untuk menjadi kuat dan tegar demi kalian. Kau harus kuat; kalian punya kami, kalian tidak sendirian...”

Jimin meletakkan tas Taehyung dan Jungkook di lantai, berlutut dan memeluk sahabatnya dengan erat; membenamkan wajah Taehyung yang kebas oleh tangis ke dadanya yang hangat dan beraroma matahari. Taehyung melumer dalam pelukan itu dan membalasnya, terisak di cerukan leher Jimin yang memejamkan mata.

Mereka sedang berbagi nyeri di dada Taehyung, nyeri yang membakar organnya hingga dia tidak yakin bagaimana bisa dia masih tetap hidup dengan sakit setajam ini? Bagaimana mungkin dia masih bernapas?

Bagaimana dia harus memberitahu Jungkook tentang ini?

“Jimin, itu mimpinya...” Isak Taehyung tercekat, meracau seperti seseorang yang sedang mabuk oleh narkoba—dalam kasus Taehyung, rasa sakit yang membuatnya mabuk. “Itu mimpinya seumur hidup, bagaimana mungkin aku memberitahunya bahwa mimpi itu harus kandas setelah berbulan-bulan perencanaan? Bagaimana aku harus memberitahunya tanpa menyakiti hatinya?”

Dia kembali meledak dalam tangis memilukan yang menyayat hati. Baik Yugyeom maupun Jimin tidak kuasa mengatakan apa pun karena sama seperti Taehyung, mereka berdua juga sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Jungkook.

Jimin mendongak, menatap Yugyeom yang mendesah panjang dan mengusap wajahnya lelah—menyandarkan diri di dinding di belakangnya dan memejamkan mata.

Duka bergelayut rendah di antara mereka, begitu menyesakkan seperti menghirup racun dalam tiap helaan napas mereka. Tidak ada yang faham, tidak ada yang sanggup—namun juga tidak tega membiarkan Jungkook terbaring tanpa mengetahui nasib yang sedang menantinya.

Karena dia mungkin tidak akan bisa menjadi seorang chef lagi.

*

*Sip, spit and rinse: tes yang dilakukan dokter otolaryngologist untuk mengecek indera perasa dengan meneteskan cairan obat ke atas lidah pasien (sip), meminta pasien meludahkan cairan itu (spit) lalu membilasnya (rinse). Tes ini akan menentukan seberapa kemampuan lidah untuk menyecap rasa dengan mengamati reaksi taste-buds pada cairan obat.

The Chef #98

Jungkook merasa tubuhnya melayang dalam keadaan sadar dan tidak sadar; terombang-ambing seperti sepotong papan di lautan lepas yang ujungnya nampak seperti fatamorgana.

Dia mendengar suara sayup-sayup berbicara dengan nada gelisah dan khawatir. Mendengung seperti lebah pekerja. Lalu tangan seseorang menyentuh tangannya dan mengusapnya lembut; sentuhan itu membuatnya tenang seketika itu juga, persis seperti suntikan morfim ke aliran darahnya yang sekarang menderu hingga telinganya berdenging.

Seseorang di sisinya bergerak, mengirimkan selapis aroma yang membuat Jungkook sejenak tertegun. Aroma itu... terasa aneh. Tidak jelas. Terlalu membingungkan. Aroma apa itu? Parfum? Keringat?

Otaknya tidak kuasa mengenalinya.

Napasnya mulai memburu, merespon rasa takut dan cemasnya karena tidak bisa mengenali aroma orang yang duduk di sisinya. Seseorang itu menyadari pergerakannya dan bergeser; kursinya berderit dan Jungkook bisa merasakannya memutar tubuh hingga menghadapnya.

“Hei, Bayi,” kata suara itu dengan serak dan kelelahan.

Itu Taehyung. Taehyung-nya.

“Kau sudah bangun?” tanyanya lagi dengan lembut, memijat tangannya yang kebas dengan perlahan dan mengirimkan aliran darah segar ke ujung-ujung jemarinya yang mengerut.

Suara itu menarik Jungkook ke alam sadar; merasakan banyak rasa sakit yang menusuk-nusuk tubuhnya, khususnya bagian sisi kepalanya yang sekarang berdenyut mengerikan. Dia meresponnya dengan ringisan yang langsung membuat Taehyung menjangkau dan menekan alat yang bersuara 'bip' nyaring dalam setiap tekanan; Taehyung menekan dua kali.

“Kunaikkan dosis morfimnya, tenanglah.” Katanya kemudian setelah menekan tombol morfim yang ditancapkan ke infus Jungkook. “Sebentar lagi sakitnya akan hilang, aku janji.” Tambahnya selembut kelopak mawar, mencium pelipis Jungkook dengan penuh kasih sayang.

Jungkook berbaring dengan kelopak mata tertutup; bisa merasakan sinar menyilaukan merembes dari kelopaknya yang tertutup. Perlahan tapi pasti setelah morfim menenangkan sakitnya, seluruh inderanya bangkit. Dia bisa mendengar suara-suara obrolan, pintu yang ditutup, suara langkah kaki di lorong depan. Keriuhan rumah sakit yang menenangkan, terdengar jauh dari ruang rawat inapnya.

Dia ingat dia terpeleset pasir yang menumpuk di lantai bangunan barunya dan merasakan kendalinya atas tubuhnya sendiri lenyap; dia ingat wajah kaget Yoongi dan mandornya dan dia melakukan refleks dengan mengangkat lengannya serta menolehkan wajahnya ke kanan untuk melindungi diri.

Sakit merobek kepalanya dan membuat otaknya nyeri tak terhingga dan dia menyerah dalam ketidaksadaran tepat saat Yoongi menghela napas dengan wajah sepucat seprai, berteriak meminta seseorang menelepon ambulan.

Jadi Jungkook pasti di rumah sakit.

Rasa sakit mulai memudar di tubuhnya dengan perlahan dan akhirnya Jungkook menghela napas dengan jauh lebih ringan dan lega setelah sakit berhenti merongrong kepalanya. Dia terluka, dia ingat itu. Dia ingat dokter menyenteri matanya, bertanya dan mengobrol dengan Taehyung.

Ada dua dokter? Satu?

Lalu dia menjalani ronsen... Sekali? Dua kali?

Ingatan Jungkook tumpang-tindih, dia tidak bisa lagi mengakses ingatannya selama beberapa jam terakhir ini sejernih apa yang dilakukannya sebelum kepalanya terbentur. Sudah berapa lama dia tidur? Apa saja yang terjadi selama dia tidak sadar?

Dia ingat sinar yang menyilaukan, radiasinya yang membuat perutnya tidak nyaman lalu... apakah dia muntah juga sebelum terlena dalam kantuk setelah dicekoki penghilang rasa sakit dengan dosis sedang?

Entahlah, kepala Jungkook bingung dengan ingatannya sendiri.

Haruskah dia bangun sekarang?

“Dia oke?” Tanya seseorang dan Jungkook mengenali suara itu; Yugyeom di sini? Bagaimana bisa? Apakah seseorang sudah memberitahu Jackson? Bapak GM? Bahwa dia tidak bisa bekerja?

Lehernya terasa kaku, ada yang membalutnya dan membuatnya susah menoleh. Dan fakta itu membuat Jungkook jengkel. Apa yang mereka lakukan padanya? Kenapa mereka mengikat Jungkook ke ranjang seperti sapi yang akan disembelih?

Jungkook benci rumah sakit.

“Seharusnya oke,” kata Taehyung lagi, terdengar begitu lelah hingga tubuh Jungkook kembali nyeri oleh hatinya yang meradang; dia membuat tunangannya lelah dan kesakitan. Tidak ada hal yang lebih membuatnya sakit hati daripada melihat Taehyung kesakitan karenanya.

“Bangunlah kapan saja kau siap, oke?” Dia membelai kening Jungkook lembut lalu mengecupnya. “Aku di sini.”

Maka melawan segala sakit dan efek obat yang membuat otaknya selamban sapi, Jungkook akhirnya membuka matanya. Lalu berjengit saat cahaya mengiris pupilnya hingga reaksi pertamanya adalah memejamkan matanya kembali sebelum mengerjap; menyesuaikan diri dengan cahaya dan hal pertama yang diliatnya adalah televisi yang mati.

Seluruh orang di kamarnya mendesah 'oh' dengan seragam dan dipenuhi rasa lega.

“Sayang? Kau bisa mendengarku?” Tanya suara yang pasti akan dikenali Jungkook bahkan jika dia berada di neraka terdalam, dibenamkan ke dalam kuali panas atas dosa-dosanya; suara yang akan diresponnya bahkan jika Jungkook koma sekalipun.

Suara yang akan selalu mengirimkan rasa damai dan aman pada dirinya yang rapuh dan lemah.

“Tae?” Tanyanya serak, tenggorokannya terasa dipenuhi pasir. Menyiksanya dalam setiap vokal yang diusahakannya. Dia mendecap-decap; mulutnya terasa kotor dan bau, dia butuh minum. “Air?”

Taehyung di sisinya langsung bangkit, meraih gelas di atas nakas dan mengarahkan sedotannya ke bibir Jungkook yang kering dan pecah-pecah. Jungkook menjepit sedotan di bibirnya dan menyedot dengan perlahan; air membasuh tenggorokannya dengan cara yang begitu menakjubkan hingga dia tidak sadar telah menghabiskan segelas tinggi dalam satu tegukan.

Kini, setelah matanya terbuka, dia bisa melihat wajah Taehyung yang nampak kuyu, lelah dan pucat. Ada kantung mata di bawah matanya yang sekarang berpendar redup oleh bahagia, dia sedang tersenyum.

“Mau segelas lagi?” tanyanya, setengah geli.

Jungkook mengangguk. “Bisakah aku minta tolong untuk menaikkan ranjangku?”

“Oke,” sahut Taehyung, meletakkan gelas dan baru saja membungkuk akan menarik tuas untuk memompa ranjang Jungkook naik saat seseorang dengan sigap melangkah ke seberang Taehyung dan menarik tuasnya.

“Aku saja,” kata orang itu dan Jungkook, tak kuasa menggerakkan lehernya yang terbalut collar neck, melirik ke sisi tubuhnya dan menemukan Yugyeom yang tersenyum padanya; nampak sama lelah dan pucatnya dengan Taehyung. “Hei, Kepala Batu, kuharap itu cukup sakit untuk membuatmu kapok.”

Jungkook tersenyum. “Ini sakit,” katanya serak, terhibur dengan guyonan Yugyeom. “Tapi tidak sesakit fakta bahwa kalian semua menderita karenaku.”

“Kau terlalu banyak omong,” tukas Yugyeom, menggerakkan tuas hingga perlahan suspensi ranjang Jungkook mengangkat bagian atasnya naik. “Setinggi apa yang kauinginkan?” tanyanya.

“Cukup,” Jungkook mengangguk lemah saat dia berbaring dengan posisi setengah duduk. “Aku boleh makan tidak?” tanyanya kemudian, perutnya bergemuruh keras. “Sudah berapa lama aku tidak sadar?”

“Hanya 24 jam penuh, karena efek obat.” Kata Taehyung lalu meraih nampan makanan di nakas. “Sarapanmu tadi kumakan karena kau belum bangun dan mubazir jika dibuang,” dia meringis dan Jungkook tersenyum.

Jangankan jatah makanan rumah sakit, jika Taehyung meminta Jungkook untuk lompat ke bara api sekalipun, Jungkook akan dengan senang hati melakukannya.

“Aku lapar sekali,” keluhnya dan Yugyeom terkekeh, membantu menaikkan tempat tidurnya hingga Jungkook cukup makan untuk makan sementara Taehyung mulai membuka plastic wrap makanannya.

Jungkook memejamkan mata, menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan baik-baik saja. Dia akan sembuh. Ini hanya cidera kepala, tidak ada hal buruk yang bisa terjadi. Lagi pula, kepalanya terasa baik-baik saja.

Taehyung membawa nampan makanan ke atas ranjang, Jungkook melirik makanannya dan mendesah keras; apa lagi yang diharapkannya dari makanan rumah sakit? Tentu saja makanan sehat tanpa bumbu yang direbus. Dia mendapatkan semangkuk sup makaroni bening, nasi lembek, sepotong tempe yang pucat seperti mayat dan ayam yang melihatnya saja sudah membuat Jungkook mual.

Tapi dia lapar, jadi tidak masalah.

“Bagaimana kata dokter tentang kepalaku?” Tanyanya kemudian saat Taehyung mulai membenamkan sendoknya ke tempe rebus yang berwarna pucat.

Sendok Taehyung melenceng dan menghantam nampan dengan suara 'tak!' keras hingga alis Jungkook terangkat dan dia melirik kekasihnya. Collar neck benar-benar menyiksa. “Sayang? Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Pelan-pelan.”

Taehyung tertawa, serak. “Maaf, maaf!” Katanya gemetar. “Tempenya ternyata lebih lunak dari yang kukira,” dia lalu menyendok nasi lembek dan membawa sendoknya ke bibir Jungkook.

“Ayo, makan dulu. Lalu akan kujelaskan. Kau, 'kan, lapar.” Tambahnya lembut, menempelkan ujung sendok di bibir Jungkook.

Jungkook membuka mulutnya, membiarkan Taehyung menyelipkan sendok ke dalam mulutnya dan dia menyuap makanannya. Dia mengunyah dan mendesah. “Makanan rumah sakit memang selalu hambar, ya?” Keluhnya mengunyah perlahan.

Dia tidak menyadari Taehyung yang berjengit mendengar komentarnya atau Yugyeom yang memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam.

“Nanti jika aku sudah sembuh, aku akan memasak makanan Timur Tengah dengan banyak bumbu hanya untuk memanjakan lidahku.” Jungkook terkekeh serak, terhibur hanya dengan membayangkan bumbu-bumbu eksotis itu lalu membuka mulutnya lagi, melirik Taehyung untuk menyadari ekspresi kekasihnya yang seperti baru saja terkena sembelit.

“Kau kenapa?” tanyanya lalu mengangkat tangannya untuk menyugar rambutnya, gerakan yang sudah nyaris tidak disadarinya sebelum terkesirap keras. “Apa yang mereka lakukan???” Serunya serak, seperti monster rawa dan menyakiti lehernya saat menyadari rambutnya lenyap.

“Sob,” kata Yugyeom tertawa, sungguh terhibur. “Kau baru saja terbentur di kepala, terbaring seperti seonggok sapi gelonggongan dan yang kaukhawatirkan hanya rambutmu? Rambutmu akan tumbuh lagi. Mereka harus menyukurnya untuk membersihkan lukamu.”

“By,” rengek Jungkook, melirik kekasihnya dengan mata berkaca-kaca; begitu menggemaskan hingga hati Taehyung terasa diremas-remas. “Aku botak!”

Taehyung tertawa serak, “Kau sungguh hanya mengkhawatirkan rambutmu, ya?” Tanyanya, menjulurkan leher untuk mengecup pelipisnya dengan lembut. “Kau nampak oke kok, seperti shaolin. Kita juga tidak perlu beli sampo.”

“Byyy???”

Taehyung tertawa. “Makan dulu,” dia menyendok makanan lagi dan mengangsurkannya ke bibir Jungkook. “Nanti kubelikan wig yang bagus jika kau memang benar-benar mencemaskan rambutmu.”

Jungkook menyuap kembali makanannya, masih mengusap-usap kepalanya yang dicukur cepak dengan sedih. “Aku pasti kelihatan jelek sekali,” keluhnya.

“Kau juga pitak, omong-omong,” tambah Yugyeom geli setelah Jungkook menyuap makanannya dan mengunyah. “Di bagian lukamu. Mereka mencukurnya bersih. Kau mau lihat?”

Jungkook mempercepat kunyahannya dan menelan tanpa benar-benar merasakan makanannya, “Apaaa?!” Tangannya mencari-cari, berusaha menemukan lukanya dan Taehyung bergegas menepis tangannya sebelum menyentuh lukanya yang dibebat.

“Jangan dipegang, astaga.” Katanya, mendelik pada Yugyeom yang tertawa. “Makan dulu, oke? Rambutmu bisa tumbuh lagi, tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kepalamu botak, demi Tuhan.”

Jungkook akhirnya diam, Yugyeom tertawa serak di sisi ranjangnya. “Aku tidak suka makanan rumah sakit ini,” keluhnya di suapan ketiga. “Makanannya benar-benar hambar. Kenapa mereka menyiksaku begini? Aku, 'kan, gegar otak bukan darah tinggi. Sedikit garam akan sangat menyenangkan.”

Dia menerima suapan keempat, benar-benar lapar ternyata. “Bahkan tempenya saja tidak memiliki rasa khas tempe,” dia bicara dengan mulut penuh; mengomel seperti bayi. Dia menoleh pada Yugyeom. “Kau tahu, 'kan, maksudku? Rasa kedelai fermentasi khasnya? Sama sekali tidak ada rasa. Mengerikan.”

Dia menelan kunyahannya yang tidak terasa seperti makanan sama sekali tapi terlalu lapar untuk bahkan memikirkan rasa makanan karena dia terus membuka mulutnya, membiarkan Taehyung menyuapinya hingga isi nampannya habis dan dia mendesah kenyang.

“Bolehkah aku minta dibelikan makanan lagi? Aku masih lapar.” Jungkook menatap Taehyung yang sedang membereskan sisa makanannya dengan bahu yang menegang. “Atau susu, atau Energen.”

Taehyung menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan lalu meraih gelas susu di meja dan menyelupkan sedotan ke dalamnya. “Susunya juga mungkin hambar, jadi bersabarlah, ya? Setelah ini, aku akan... eh,” dia menelan ludah dengan sulit, nampak seolah sedang menahan tangis. “Mengajakmu makan makanan berempah yang akan membuat lidahmu menangis.”

Jungkook tersenyum. “Jangan sedih,” dia menjulurkan tangan, membelai sisi kepala Taehyung dengan lembut. “Aku akan sembuh sebentar lagi. Aku ini kuat.” Dia lalu menerima sedotannya dan meneguk, mengernyit saat susunya terasa hambar.

“Ew,” keluhnya tapi terus meneguk. “Syukurlah aku lapar.”

Tidak melihat Taehyung berwajah seperti baru saja ada seseorang yang menyurukkan besi panas ke lehernya.

Bagaimana Taehyung harus memberitahu Jungkook?

*