The Chef #141
“Bagaimana menurutmu jika dapur rumah kita di Bali, aku rombak?”
Taehyung menyuap burnt cheese cake-nya sebelum menjawab sementara Jungkook mencuci piring, tidak mengizinkan Taehyung melakukan apa pun selain menjejalkan makanan ke mulutnya. “Maksudmu?”
Jungkook meniriskan piring yang dicucinya. “Aku sudah liat foto rumahnya dari Yugyeom dan berpikir aku harus melakukan sesuatu dengan dapurnya. Kecil sekali.” Dia mendesah. “Aku akan menambah konter, lalu membuat ruangan untuk kulkas dan kabinet seperti yang kulakukan pada dapur ini.”
Taehyung menyuap cheese cake-nya lagi, menyesap makanannya hingga lebur dalam rongga mulutnya dan mendesah.
Bagaimana bisa Jungkook menciptakan cheese cake yang begitu lembut hingga tidak butuh dikunyah? Liur sudah cukup untuk menghancurkannya, membuat rasa asin gurih menyenangkan membelai seluruh indera perasa Taehyung yang nyaris orgasme karena rasa lezat itu. Belum lagi rasa pahit mengigit yang menyempurnakan kombinasi rasa cheese cake Jungkook.
Dia benar-benar chef yang berbakat, omong kosong jika lidahnya bisa menghentikannya memasak.
Sekarang dia tidak menggunakan lidahnya sama sekali dan dia menghasilkan makanan selezat ini. Jungkook benar-benar sedang meragukan kemampuannya sendiri dan itu membuat Taehyung sangat jengkel.
“Tabunganku untuk restoran masih belum tersentuh, jadi bisa kualokasikan untuk memperlebar dapur dan membeli perabotannya.”
Taehyung tersedak, dia meraih gelas dan meneguk isinya sementara Jungkook menoleh kaget dan khawatir, dengan tangan terbalut sabun dan tangan lainnya memegang gelas.
“Kau oke? Pelan-pelan.”
Taehyung terkekeh kering. “Oke.” Dia menyeka mulutnya dan menelan ludah. “Tapi kita akan menjual apartemen ini?” tanyanya.
Jungkook mengangguk. “Aku akan mengirim beberapa barangku seperti air-fryer, kebun hidroponik dalam ruangan hadiahmu dan ovenku. Sisanya bisa kita beli baru. Aku tidak suka memasak tanpa fasilitas lengkap. Tidak bisa bereksperimen.” Dia kemudian bergumam sendiri. “Aku harus membawa kulkasku juga atau tidak, ya?”
“Oke,” Taehyung menyendok cheese cake lagi dan mengunyah, kali ini lebih lambat dan cheese cake itu terasa seperti potongan karton basah. “Kita bisa minta Pak Yoon untuk membantu.”
Jungkook meletakkan gelas terakhir yang dicucinya di rak piring lalu mengelap tangannya, mengelap konter dan tempat kerjanya sekaligus dengan gerakan yang nyaris tidak disadarinya. “Ya,” katanya. “Lalu kita bisa melakukan sesuatu dengan rumahnya juga. Maksudku,” dia menggantung lap lalu menghampiri Taehyung yang sudah menghabiskan setengah loyang cheese cake-nya.
“Kau sudah membeli rumahnya, maka tugasku untuk membenahinya sesuai dengan keinginan kita, 'kan? Menambah perabotan, merenovasi atau menambah lantai jika memang ingin.”
Taehyung tidak berani bertanya tapi tetap melakukannya, “Dengan uang restoran?”
“Tentu saja.”
Taehyung menelan gumpalan di tenggorokannya lalu menatap Jungkook yang duduk di hadapannya. “Omong-omong,” katanya mengalihkan pembicaraan. “Hadiah apa yang kauinginkan untuk ulangtahunmu? Dua hari lagi, lho?”
Jungkook terkekeh. “Tidak ada.” Katanya menatap Tehyung lekat-lekat hingga Taehyung merasa malu. “Memilikimu saja sudah terasa begitu memuaskan. Aku tidak butuh hadiah.” Dia lalu berhenti sejenak dan tersenyum. “Kau membelikanku hadiah?”
“Ya dan tidak.” Taehyung nyengir lalu kembali gelisah pada reaksi Jungkook pada hadiahnya nanti. “Tapi aku takut kau mungkin... akan marah padaku.”
Jungkook mengerjap. “Memangnya kenapa aku harus marah padamu? Kau sudah berusaha untuk memberiku hadiah, 'kan? Aku tidak melihat apa masalahnya. Kecuali kau diam-diam melakukan hal yang sebenarnya tidak kuinginkan. Kau faham, 'kan, maksudku?” Jungkook nyengir.
Gumpalan di tenggorokan Taehyung terasa pahit. “Kau menginginkan restoranmu?”
Jungkook diam, dia meraih garpu Taehyung dan menyuap cheese cake buatannya, sejenak menyesap makanan itu dengan perlahan lalu menghela napas panjang saat tidak bisa merasakan apa pun.
“Entahlah.” Sahutnya kemudian, mengembalikan garpu ke Taehyung. “Dengan kondisi semacam ini, aku tidak yakin aku siap untuk memimpin tim dengan restoran baru yang belum memiliki pasar. Terlalu riskan.”
“Tapi kau Jeon Jungkook, kau chef berbakat!” Tukas Taehyung, merasa seolah ada air dingin yang disiramkan ke punggungnya. “Kau punya pasar. Kau ingat soft branding yang dilakukan Tim PR? Respon pasar bagus!”
Jungkook mengendikkan bahu, bersiul memanggil Bubble yang langsung melesat dan melompat ke pangkuannya. “Bisakah kita tidak membicarakan restoran dulu? Aku sudah membatalkannya dengan alasan dan aku benar-benar tidak ingin memikirkannya sekarang.”
Dia membelai Bubble dan menggaruk lehernya hingga anjing itu mendengking senang dan Jungkook terkekeh, terhibur oleh reaksi Bubble.
“Untukku,” Jungkook kemudian berkata dan membuat Taehyung nyaris memuntahkan makanan yang baru saja ditelannya dengan rakus. “Restoran itu salah satu mimpi yang sudah kubuang. Sekarang aku harus fokus dengan masa depan.”
“Tapi, kau tidak perlu membuangnya!” Taehyung seketika menjawab, masih belum faham kenapa Jungkook tidak menginginkan hal yang sempat begitu diinginkannya.
“Kau masih bisa memasak dengan sehabat ini bahkan tanpa indera perasamu! Kenapa kau tidak mencobanya saja? Kenapa kau malah menyia-nyiakan usahamu selama ini hanya karena keadaan yang bisa kau putar balik?”
Jungkook menatapnya dengan alis berkerut. “Kenapa... kau begitu agresif tentang ini?” Tanyanya dan Taehyung menutup mulutnya dengan suara keras.
“Kau bicara seolah restoran itu sudah berdiri.”
Hening.
Taehyung tidak berani menatap Jungkook sama sekali. Perutnya melilit oleh perasaan tegang yang menyiksa. Jungkook sedang menelanjanginya dengan tatapannya yang tajam dan panas dan Taehyung tidak suka itu. Tidak suka berada di posisi terpojokkan seperti tikus dalam perangkap.
Jungkook merasakan keheningan aneh itu dan menatap Taehyung. “Taehyung.” Katanya dengan nada memperingatkan dingin yang tidak pernah didengar Taehyung sama sekali sebelumnya dan hal itu membuat bulu kuduknya meremang oleh aura mendominasi Jungkook dan sepercik kemarahan di ujung suaranya.
“Kau tidak melakukan apa pun..., 'kan?”
“Aku... hanya tidak faham,” Taehyung memulai dengan perlahan, mencoba mengalihkan perhatian Jungkook. “Kenapa kau ingin membuang restoran itu?”
Jungkook menatapnya. “Aku tidak membuangnya.” Sahutnya, memangku Bubble yang menatapnya dan mendengking minta diperhatikan, maka Jungkook membelainya dengan lembut hingga anjing kecil itu memejamkan mata keenakan. “Ada sesuatu di mimpi itu yang membuat kepalaku sakit. Kau tahu? Seperti semacam trauma. Ambisi yang tidak sempat dicapai. Mengingatkanku betapa gagalnya aku.”
Dia berhenti.
“Aku hanya menundanya dan jika aku ingin meneruskannya, maka hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.” Dia mendesah berat nampak begitu tersiksa dengan pembicaraan ini, mengirimkan sengatan rasa sakit ke hati Taehyung; apakah dia kelewatan?
“Aku sudah melewati banyak hal,” Jungkook melanjutkan. “Aku pribadi merasa belum sanggup jika harus memimpin tim lagi.”
“Tapi kau kebosanan jika hanya berdiam diri di apartemen,” Taehyung mencoba lagi lalu diam saat Jungkook melemparkan tatapan tidak setuju padanya.
“Taehyung, tolong.” Katanya. “Bisakah kita tidak membicarakan restoran ini sekarang? Anggap saja aku tidak pernah bermimpi memiliki restoran. Aku akan mencari mimpi baru, yang lama biarlah mati.”
Taehyung sudah akan menjawab lagi, namun urung. Walaupun dia sungguh sama sekali tidak memahami pola pikir Jungkook dengan membuang mimpinya begitu saja padahal dia bisa. Apakah depresi dan melukai dirinya sendiri telah membuat mental Jungkook melemah dan karenanya dia belum siap kembali ke dapur yang dinamis dan hiruk-pikuk itu?
Dia mengigit bibir bawahnya: lalu bagaimana dengan restoran yang sudah berdiri di lembah Campuhan dengan nama Jungkook?
“Jika...” bisik Taehyung dan Jungkook menoleh menatapnya. “Jika aku melakukan sesuatu tanpa seizinmu, apakah kau akan marah?”
“Sulit membayangkan aku akan marah, sungguh-sungguh marah padamu.” Dia tersenyum lembut. “Tergantung apa 'sesuatu' itu?”
“Hal yang tidak kaukehendaki?”
Alis Jungkook berkerut. “Apa, sih, sebenarnya maksudmu?” tanyanya dengan suara yang mulai meninggi, nampak frustasi dan terganggu. “Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan, Taehyung? Hentikan sikap berbelit-belitmu, katakan saja.”
Nada itu memukul mundur Taehyung dengan telak; Jungkook bisa saja galak tapi dia tidak pernah sama sekali menggunakan nada itu untuk berbicara pada Taehyung. Maka sepertiny: ya.
Taehyung baru saja melakukan kesalahan fatal.
“Tidak,” katanya mencicit, ingin muntah oleh perasan anxious yang mencengkram otaknya dan Jungkook mendengus frustasi. “Maafkan aku.” Dia mendesah dan memijat pelipisnya. “Maaf, maaf.”
Jungkook mendesah panjang, sadar dirinya telah bersikap kelewatan pada Taehyung sebelum menggendong Bubble dan menghampiri Taehyung. “Hei, maafkan aku.” Bisiknya lembut, mengecup puncak kepala Taehyung dengan lembut. “Maaf aku kelepasan membentakmu.”
Dia menggeleng dan mendongak, tersenyum kecil. “Dimaafkan.” Dia mengulurkan tangan, meraih tengkuk Jungkook lalu mendaratkan ciuman di bibirnya yang terkuak.
Diam-diam Taehyung berdoa dalam hati pada Tuhan seluruh umat agar Jungkook tidak mencetak buku tabungannya atau mencari kartunya karena kedua benda itu ada pada Taehyung.
Dan Taehyung tidak yakin Jungkook akan menyukai angka saldo terakhirnya.
*