The Chef #100
“Kau harus memberitahunya.”
Taehyung menelan ludah dengan sulit, melirik ke arah Jungkook yang terlelap dengan gelisah. Morfimnya dicabut dan sudah mulai puasa juga sejak semalam untuk mempersiapkannya menuju operasi. Taehyung belum memberitahu apa pun tentang operasinya; dia hanya memberitahu Jungkook bahwa lukanya perlu ditindak.
Dia tidak memberitahu bahwa sarafnya yang akan diperbaiki. Dan hal itu akan membuat karirnya sebagai chef pupus. Dia tidak tahu caranya, tidak sanggup menjadi peran antagonis dalam hidup Jungkook, memberitahunya bahwa dia tidak bisa lagi berkarir di dunia yang sangat dicintainya.
Operasi Jungkook dijadwalkan sore ini, dan seorang perawat tadi sudah memberitahu Taehyung agar Jungkook dipersiapkan untuk operasi dengan menyukur rambutnya hingga bersih dan jika Taehyung tidak sanggup, dia bisa menghubungi perawat untuk membantunya.
Jika operasi hari ini berhasil dan keadaan Jungkook pasca-operasi diobservasi dan dianggap cukup baik, maka dia bisa memulihkan diri di rumah.
Taehyung sedang duduk di depan kamar Jungkook, mengenggam segelas kopi yang mulai dingin dan tidak enak namun dia tetap meneguknya karena seburuk apa pun rasanya, otaknya yang malang butuh suntikan kafein agar tetap waras.
Yugyeom duduk di sisinya. Mereka memilih untuk duduk di luar, di depan kamar Jungkook membicarakan hal ini agar Jungkook tidak mendengarnya. Taehyung sudah sejak pagi tadi pusing memikirkan bagaimana dia harus memberitahu Jungkook mengenai hal ini.
“Ada kerusakan di bagian sarafnya,” kata dokter Jungkook hari itu setelah MRI scan Jungkook keluar dan Taehyung merasa asam lambungnya bergolak; kepalanya pening, dia belum makan sama sekali. Tidak merasa nyaman untuk makan dengan keadaan Jungkook yang mengigau.
“Menurut saya, saraf tunangan Anda sudah mengalami cidera saat pertama kali benturan terjadi,” dia menambahkan dan menatap Taehyung yang duduk di hadapannya. “Kemungkinannya kecil, tapi mari menganggap bahwa nasib tunangan Anda tidak terlalu baik karena benturan tersebut, meskipun minor menghantam dengan tepat sasaran. Mengapa hal ini luput dari pemeriksaan CT scan mungkin karena belum ada tanda kerusakan yang terbaca pada bagian temporal.
“Saya sedikit menyesalkan kenapa tidak dilakukan MRI scan untuk cidera pertama. Hal itu akan sangat membantu untuk menanggulangi masalah ini. Namun, saya hanya akan mengajak Anda fokus di masa sekarang; hal apa yang dapat kita lakukan untuk ini.” Dia menatap hasil MRI scan Jungkook di tangannya. Dia menunjuk bagian di gambar dan Taehyung menatapnya. “Ini merupakan corda tympani.”
“Saraf ini yang bertanggung jawab pada lidah bagian depan dan membawa rasa ke otak untuk dikenali. Benturan pada bagian ini, jika cukup traumatis dapat menyebabkan burning mouth sensation; perasaan geli yang aneh pada mulut sebelum berangsur-angsur mengubah persepsi rasa pada lidah penderita.
“Saya yakin kerusakan pada saraf inilah yang menyebabkan perubahan persepsi rasa pada lidah tunangan Anda berubah. Seperti yang Anda ceritakan: makanan terlalu asin, terlalu pedas dan semacamnya. Lalu karena tidak juga mendapatkan penanggulangan, lidah akan mulai mengalami distorsi; kesulitan untuk membedakan rasa. Apa lagi tunangan Anda adalah seorang chef—hal ini pasti sangat menganggu dalam kegiatan sehari-hari.”
Dia melingkari bagian saraf yang dimaksudnya, terletak di bagian sisi kepala dekat dengan telinga. Hal itu membuat Taehyung mual. “Benturan kedua cukup kuat dan sayangnya, mengenai bagian yang sama dengan benturannya dan memperkuat efeknya.”
Dia lalu mendongak menatap Taehyung, nampak steril dari emosi sama sekali dan itu membuat Taehyung semakin mual. Ulu hatinya terbakar oleh asam lambung yang naik perlahan. “Saya harus melakukan operasi untuk memperbaiki corda tympani tunangan Anda karena kerusakan ini dapat menyebabkan ageusia atau hilangnya kemampuan lidah untuk membedakan rasa sama sekali.
“Ageusia jarang terjadi pada pasien-pasien saya, angkanya tidak menyentuh 1% namun tunangan Anda mengalami dua kali trauma minor dan mayor pada bagian corda tympani-nya yang menyebabkan naiknya persentasi kerusakan pada bagian saraf itu. Tunangan Anda sial, katakanlah begitu.”
Taehyung menatap dokter di hadapannya dengan tatapan pasrah yang memilukan.
“Untuk mengetes kerusakan pada lidah tunangan Anda, kami juga sudah mengetes lidah tunangan Anda dengan tes sip, spit and rinse* sebelum ini,” dokter menatap Taehyung, mendesah berat dan lelah sebelum melanjutkan dengan pahit.
“Dan saya benar-benar menyesal menginformasikan Anda bahwa lidah tunangan Anda sudah tidak berfungsi sama sekali.”
Taehyung oleng, berdeguk karena asam lambungnya menonjok naik dan membakar leher dan rongga mulutnya namun dia menelannya kembali dengan susah payah. “Apakah...” tanyanya praktis mencicit seperti seekor tikus yang ketakutan. “Apakah operasi dapat menyembuhkannya?”
Dokter menatapnya, masih cukup beradab untuk bersimpati yang sangat dihargai Taehyung. “Saraf merupakan bagian paling sensitif dari tubuh manusia, Pak Taehyung.” Katanya berat dan Taehyung bisa mendengar harapannya putus dengan suara keras hingga membuat kepalanya pening.
“Saya bisa memperbaiki saraf tunangan Anda, namun saraf yang rusak tidak akan pernah bisa menjadi sesempurna sebelum operasi. Tunangan Anda mungkin bisa menyecap kembali namun saya yakin lidahnya akan tetap mengalami distorsi rasa.
“Belum lagi efek samping pasca-operasi yang setidaknya membutuhkan 12 hari hingga 1 bulan atau lebih untuk proses penyembuhan secara emosi. Pada beberapa kasus, dapat menyebabkan depresi berkepanjangan. Maka, saya pesimis apakah dengan kondisi ini, tunangan Anda masih mampu menjalankan perannya sebagai seorang chef.”
“Yugyeom,” bisik Taehyung di masa sekarang, terlalu pusing untuk memikirkan lanjutan ingatan pembicaraannya dengan dokter Jungkook. “Dia kehilangan indera perasanya... Bagaimana menurutmu dia akan bersikap? Dia akan hancur. Hancur.” Bisik Taehyung, meremas gelas kertas bekas kopinya yang kosong.
“Restoran itu adalah mimpinya,” tambahnya, matanya mulai buram oleh air mata. Hatinya begitu nyeri membayangkan reaksi Jungkook saat mimpi dan ambisinya remuk terinjak-injak kenyataan; kecerobohannya sendiri—tidak, hal yang memulai semua ini adalah Taehyung.
Bagaimana dia tidak mempertimbangkan momentum Jungkook hari itu di Monkey Forest, membuatnya menoleh dan membentur batu.
Jika saja, jika saja Taehyung memilih untuk meraih tubuh Jungkook, memeluknya merunduk untuk menghindarkannya dari botol; maka kepalanya tidak akan cidera. Saraf sialnya tidak akan terluka, dia tidak akan terganggu oleh lidahnya yang kesulitan bekerja akibat kerusakan itu.
Atau jika saja hari itu dia meminta Jungkook melakukan MRI scan untuk mengecek kerusakan lebih lanjut sehingga mereka bisa segera menanggulanginya.
Taehyung menghancurkan hidup Jungkook yang ditatanya dengan baik dengan penuh ambisi dan mimpi selama ini; hidup yang disusunnya dengan penuh kehati-hatian seperti membangun rumah kartu yang tinggi.
“Bagaimana aku harus memberitahunya?” tanyanya, air mata meleleh dari sudut matanya yang panas. Meluncur di pipinya dan menetes ke lantai.
Yugyeom mendesah berat, menjulurkan tangan dan memeluknya akrab. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” katanya meremas bahu Taehyung hangat. “Kau sama tidak tahunya dengan kita semua, kau tahu bagaimana dia bersikap jagoan dan sok kuat selama ini tiap kali kita mencemaskan kepalanya.
“Bersikap bahwa dia baik-baik saja, menolak bantuan, menolak dikhawatirkan. Jika saja dia memberitahumu tentang persepsi rasanya yang berubah, kita bisa melakukan penanggulangan dengan cepat.
“Tapi, tidak ada yang salah; bukan kau, bukan juga Jungkook.” Yugyeom melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Taehyung akrab. “Hal-hal terjadi karena hal itu memang harus terjadi. Tanpa atau dengan andilmu, Jungkook akan mengalami hal ini. Mari kita coba lihat pembelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari kejadian ini.”
“Menyalahkan dirimu sendiri,” Yugyeom menambahkan saat Jimin datang, tergopoh-gopoh dengan tas Taehyung—dia meminta Jimin men-check out-kannya dari hotel dan mengurus refund pembayaran kamar mereka. “Tidak akan memperbaiki keadaan, malah hanya akan memperparahnya.”
“Taehyung,” lanjutnya saat Jimin berdiri di sisinya dan terkesirap saat Taehyung merunduk, bahunya berguncang dan dia membekap wajahnya; menangis tanpa suara dengan hati yang begitu berat dan sesak oleh rasa bersalah. “Dia membutuhkanmu untuk tetap waras, oke? Dia membutuhkanmu untuk menjadi kuat dan tegar demi kalian. Kau harus kuat; kalian punya kami, kalian tidak sendirian...”
Jimin meletakkan tas Taehyung dan Jungkook di lantai, berlutut dan memeluk sahabatnya dengan erat; membenamkan wajah Taehyung yang kebas oleh tangis ke dadanya yang hangat dan beraroma matahari. Taehyung melumer dalam pelukan itu dan membalasnya, terisak di cerukan leher Jimin yang memejamkan mata.
Mereka sedang berbagi nyeri di dada Taehyung, nyeri yang membakar organnya hingga dia tidak yakin bagaimana bisa dia masih tetap hidup dengan sakit setajam ini? Bagaimana mungkin dia masih bernapas?
Bagaimana dia harus memberitahu Jungkook tentang ini?
“Jimin, itu mimpinya...” Isak Taehyung tercekat, meracau seperti seseorang yang sedang mabuk oleh narkoba—dalam kasus Taehyung, rasa sakit yang membuatnya mabuk. “Itu mimpinya seumur hidup, bagaimana mungkin aku memberitahunya bahwa mimpi itu harus kandas setelah berbulan-bulan perencanaan? Bagaimana aku harus memberitahunya tanpa menyakiti hatinya?”
Dia kembali meledak dalam tangis memilukan yang menyayat hati. Baik Yugyeom maupun Jimin tidak kuasa mengatakan apa pun karena sama seperti Taehyung, mereka berdua juga sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Jungkook.
Jimin mendongak, menatap Yugyeom yang mendesah panjang dan mengusap wajahnya lelah—menyandarkan diri di dinding di belakangnya dan memejamkan mata.
Duka bergelayut rendah di antara mereka, begitu menyesakkan seperti menghirup racun dalam tiap helaan napas mereka. Tidak ada yang faham, tidak ada yang sanggup—namun juga tidak tega membiarkan Jungkook terbaring tanpa mengetahui nasib yang sedang menantinya.
Karena dia mungkin tidak akan bisa menjadi seorang chef lagi.
*
*Sip, spit and rinse: tes yang dilakukan dokter otolaryngologist untuk mengecek indera perasa dengan meneteskan cairan obat ke atas lidah pasien (sip), meminta pasien meludahkan cairan itu (spit) lalu membilasnya (rinse). Tes ini akan menentukan seberapa kemampuan lidah untuk menyecap rasa dengan mengamati reaksi taste-buds pada cairan obat.