eclairedelange

i write.

The Chef #207

Jungkook berhenti bekerja saat suara klakson terdengar di gerbang, Bubble langsung bereaksi dengan melompat turun dari singgasananya di sisi bantal kepala Taehyung dan berlari ke pintu depan, menggonggong keras marah merasa teritorinya terancam.

Dan Jungkook baru saja meletakkan piring yang dicucinya di pengering saat Taehyung terhuyung-huyung keluar menyusul Bubble yang nampak seperti anjing kesetanan, menyakar-nyakar pintu kaca depan mereka berusaha keluar untuk mengendus siapa yang bertamu. Taehyung nyaris terantuk kakinya sendiri dan terjerembab ke lantai jika saja Jungkook tidak bergegas mengahmpirinya.

“Hei, hei, hei.” Jungkook bergegas mengelap tangannya dan menghampiri Taehyung, memapahnya dengan lembut. “Kaupikir kau akan ke mana?” Tanyanya mendelik pada Taehyung yang pucat.

“Mukamu pucat sekali, kita ke UGD saja, ya?” Desaknya menahan tubuh Taehyung yang memberontak lemah meminta dilepaskan. “Kau mau ke mana?” Dia mengerutkan alis. “Diam sebentar, kuambilkan jaket kita ke rumah sakit.”

Namun sebelum Jungkook bergerak, ponsel Taehyung berdering dan dia menoleh ke benda di tangan Taehyung. Seketika dia merasa perutnya mendidih oleh amarah yang memusingkan, Taehyung mengangkat tangannya akan menjawab teleponnya saat tanpa aba-aba Jungkook menyambar ponsel itu.

Dia menjawabnya.

“Halo, Taehyungie? Aku di depan. Benarkah ini rumahmu?”

Jungkook menggertakkan rahangnya hingga dia yakin giginya akan rontok jika dia melakukannya lebih kuat lagi. “Enyah dari rumah kami.” Geramnya dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Kaupikir ini jam berapa hingga kau punya nyali untuk bertamu?”

Hening sejenak.

“Oh, halo.” Hyungsik di seberang sana menyapa dengan akrab hingga Jungkook ingin sekali menonjok hidungnya hingga melesak ke dalam tengkoraknya. “Kau pasti Jungkook, kekasih Taehyungie, ya?”

Taehyungie.

“Aku tunangannya.” Sahut Jungkook dingin; amarah bergemuruh di telinganya hingga dia tidak bisa mendengar dengan jelas dan kepalanya berdenyut mengerikan karena berusaha keras menahan semua amarahnya. “Jika kau masih menghormatiku sebagai tunangan Taehyung, sebaiknya kau pulang dan kembali lagi besok. Dengan sopan.”

“Aku dengar Taehyungie sakit, jadi aku memutuskan untuk mampir. Apakah dia sudah makan? Aku bawa obat juga.”

Jungkook melirik Taehyung yang semakin pucat. “Very generous of you,” sahut Jungkook menggenggam ponsel Taehyung begitu kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. “Tapi aku bisa mengurus tunanganku dengan baik. Selamat malam.”

Dia mematikan sambungan telepon dan menurunkan tangannya. Mobil Hyungsik masih terparkir di depan, lampu depannya masih menyenteri bagian sisi rumah mereka dan kemudian ponsel Taehyung kembali berdering. Jungkook menepis tangan Taehyung yang akan meraihnya lalu mengangkat kembali teleponnya.

“Bagian mana dari kalimatku yang tidak kaufahami? Pergilah sebelum aku benar-benar melakukan sesuatu yang akan kusesali.” Jungkook langsung bicara tanpa mengizinkan Hyungsik mengucapkan salam.

“Setidaknya izinkan aku memberikan makanan dan obatnya? Taehyungie, 'kan, temanku.”

“Bawa saja semuanya pulang.” Sahut Jungkook, mulai berpikir dia sepertinya harus benar-benar keluar dan menghajar orang ini agar dia pulang. “Haruskah aku menelepon polisi?”

Hyungsik berhenti sebentar. “Baiklah, aku akan kembali besok.” Katanya tenang dan Jungkook ingin sekali mematahkan lehernya karena bersikap setenang itu bahkan setelah muncul di depan rumah mantan kekasihmu pukul sebelas malam lebih.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Hyungsik?

Dan apa yang sebenarnya dipikirkan Taehyung hingga dia berpikir itu oke untuk memberikan alamat mereka pada mantannya?

Setelah derum mobil Hyungsik menghilang, Jungkook memejamkan mata dan mendesah. “Kau memang tidak pernah lelah mencari masalah, ya?” Tanyanya datar dan gemetar oleh perasaan amarah dan tidak percaya.

“Jungkook—,”

“Kau memberikan alamat kita pada mantanmu?”

Taehyung tercekat. “Dia bilang ingin berkenalan denganmu dan aku merasa tidak masalah jika dia mampir kapan-kapan ke rumah dan aku tidak tahu bahwa dia akan muncul malam ini juga.”

“Jadi saat aku memintamu istirahat,” Jungkook mengusap kepalanya; kepalanya berdenyut mengerikan. Dia lelah setelah bekerja, lelah karena khawatir pada keadaan Taehyung dan inilah yang didapatkannya saat tiba di rumah.

“Saat aku bekerja seperti kesetanan agar aku cepat pulang dan bisa mengurusmu, kau asik mengobrol dengan mantanmu, ya?”

“Tentu saja tidak!” Seru Taehyung, nampak begitu terluka dengan tuduhan Jungkook. “Dia hanya menghubungiku karena dia sedang di Bali dan aku juga di Bali, dia bertanya apakah bisa bertemu dan aku—!”

“Cukup.” Jungkook memijat pelipisnya yang berdenyut. “Bagian mana dari kesepakatan kita yang sudah jelas bahwa aku tidak suka Hyungsik? Bagian mana dari kata-kataku yang tidak kau fahami, Taehyung? Karena sungguh, aku tidak tahu lagi apa yang ada di kepalamu.”

Taehyung menatapnya. “Aku sudah memaafkan Hyungsik tentang masa lalu jadi aku merasa tidak ada salahnya untuk berteman dengannya dan niatnya baik.”

Jungkook menghela napas keras dan menatap Taehyung. “Dia membuangmu.” Katanya dingin. “Dia memacarimu hanya untuk bersenang-senang lalu meninggalkanmu saat dia bosan. Memanipulasimu. Menurutku itu alasan yang tepat untuk membencinya, silakan memaafkannya tapi kau tidak harus tetap berteman dengannya.”

“Aku punya kau sekarang, aku milikmu.” Taehyung menyentuh wajah Jungkook dengan tangannya yang gemetar, nampak begitu terluka dan takut Jungkook akan mengamuk. “Dan kau tidak perlu membencinya untukku. Aku sudah tidak membencinya, Jungkook. Dia sudah minta maaf dan menurutku itu cukup.” Dia menyentuh dada Jungkook, merasakan debaran jantungnya yang sekuat kuda.

“Jangan membenci siapa pun untukku,” bisiknya. “Aku tidak mau hatimu busuk karena rasa benci yang bahkan bukan porsimu.” Dia mendongak, tersenyum dengan bibirnya yang kering dan pucat akibat sakit.

“Kau sakit,” desah Jungkook kemudian, memutuskan bahwa dia tidak bisa marah hari ini dengan keadaan Taehyung yang sedang lemah lalu meraup Taehyung dalam gendongannya. “Ayo istirahat, kita bahas Hyungsik bangsat ini besok.”

“Jangan membenci—.”

“Diam.”

Taehyung mendesah panjang. “Kau marah padaku?” Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Jungkook yang kokoh, merasa kepalanya pening hanya dengan berdiri sebentar.

“Tentu saja.” Sahut Jungkook setengah mendengus seolah Taehyung sedang menanyakan hal yang benar-benar konyol.

Taehyung menghela napas dan menyentuh ulu hatinya yang terasa panas. “Maafkan aku.” Dia menatap Jungkook yang dengan lembut membaringkannya di ranjang dan membiarkan Bubble berbaring di sisi Taehyung.

“Menurutku,” Jungkook duduk di sisinya, membelai rambut Taehyung dengan jemarinya. “Saat kau menerima cincin dan lamaranku,” dia meraih tangan Taehyung dan mengecup cincinnya dengan lembut. “Itu berarti kau menyerahkan tanggung jawab atas dirimu dan hidupmu padaku. Mengizinkanku menjadi bagian dari hidupmu, menyatukan kau dan aku menjadi kita. Dan tidakkah menurutmu aku berhak setidaknya tahu saat kau memutuskan untuk menarik masalah ke kehidupan kita?

“Jika kau merasa aku bersikap berlebihan karena tidak menyukai Hyungsik, silakan. Aku tidak menyukainya karena dia penah menyia-nyiakanmu. Bersikap seenaknya dan sama sekali tidak menghargaimu sebagai seorang manusia, yang memiliki hati sama dengannya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan apakah kau membencinya juga atau tidak. Jika saja mantan tunanganku masih hidup kau akan membencinya juga. Hal itu naluriah sekali.”

Jungkook menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya dengan jemari masih bermain di rambut Taehyung. “Bayangkan jika saat kau sedang bekerja, memikirkanku yang sedang sakit di rumah lalu tengah malam mantanku datang berkunjung membawakanku makanan dan obat.

“Dan memanggilku—ick.” Wajah Jungkook berkerut jijik, tidak bisa menahan dirinya sendiri dan Taehyung tidak bisa tidak tersenyum. “Jungkookie.” Katanya lalu bergidik sendiri.

Lalu melanjutkan dengan serius, “Bagaimana perasaanmu?”

Taehyung terdiam.

Kemarin saat dia menyadari bahwa Jungkook pernah memiliki tunangan sebelum dirinya, seorang perempuan yang menemaninya dari sekolah hingga ke posisi head chef. Perempuan naas yang meninggal karena pekerjaannya. Perempuan yang jika dia tidak meninggal, maka Taehyung tidak akan pernah bisa berdiri di sini.

Dalam pelukan Jungkook yang hangat di rumah mereka bersama anjing kecil mereka yang menggemaskan.

Tidak akan memiliki satu pun kenyamanan dan kedamaian ini.

Dan dia merasa jengkel. Jika perempuan itu masih hidup maka sekarang Jungkook pasti sudah menikahinya, sudah hidup bahagia dan memiliki anak.

Anak kandung.

Hal yang sama sekali tidak bisa Taehyung berikan.

“Jengkel.” Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Taehyung jengkel, bagaimana Jungkook yang harus mengalaminya sendiri?

Jungkook tersenyum, sudah menduga jawabannya. “Nah.” Dia membuka matanya dan menatap Taehyung yang sekarang memeluknya lebih erat dari sebelumnya. “Sekarang kita faham perasaan masing-masing, kan? Mantanku sama sekali tidak membuangku, dia meninggal.

“Sementara Hyungsik? Dia sudah memperlakukanmu sehina itu. Berselingkuh darimu dan sama sekali tidak menganggapmu kekasihnya. Meninggalkanmu demi perempuan pertama yang ditemuinya dan apa yang kaulakukan? Memaafkannya dengan besar hati.

“Tapi apakah itu adil untukku? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, menghargaimu sebagai manusia dengan perasaan, meletakkanmu sejajar denganku, mengapresiasi setiap bantuanmu.

“Bertemu dengan bajingan yang pernah memperlakukanmu tidak adil, menyia-nyiakanmu dan menginjak-injak harga dirimu tidak akan bisa membuatku tenang hanya karena kau sudah memaafkannya. Apakah itu adil untukku yang berusaha untukmu setiap waktu?

“Tidak ada jaminan dia sedang berusaha mendekatimu lagi, 'kan? Dia pernah menyakitimu sekali dan jika kau cukup berbesar hati—atau bodoh untuk memaafkannya dan mengizinkannya kembali memasuki rumahmu, maka tidak ada jaminan dia akan kembali memporak-porandakan rumahmu.

“Karena apa? Kau yang mengizinkannya. Kau yang memberikannya kekuatan untuk itu.”

Taehyung menatapnya lalu bangkit, merangkak ke pangkuan Jungkook yang langsung memeluknya. “Maafkan aku,” dia duduk mengangkangi perut Jungkook dan menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. “Maafkan aku karena bersikap gegabah lagi. Kau benar... Aku tidak berhenti membuat masalah.”

Jungkook mengecup puncak kepalanya. “Dimaafkan. Selalu.” Dia memeluk pinggang langsing Taehyung dan meremas pantatnya yang lembut. “Hanya jika kau berjanji bahwa setelah ini kau akan selalu setidaknya memberitahuku jika ada hal-hal aneh yang akan terjadi semacam mantan yang muncul di rumah kita, oke?”

Taehyung mengangguk di dada Jungkook. Memejamkan mata saat merasakan belaian Jungkook di punggungnya, memikirkan bagaimana saat dia akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Hyungsik.

Sudah lama, lama sekali semenjak terakhir kali Hyungsik menghubunginya. Saat mereka bertemu, dia masih anak naif, menyusun tugas akhirnya sekaligus mencari kerja agar tidak menyulitkan orangtuanya. Hyungsik adalah kakak tingkatnya yang membantunya selama mencari pekerjaan dan membantu penelitian untuk tugas akhirnya.

Taehyung yang naif berpikir bahwa inilah lelaki yang akan menjadi akhir pelabuhannya. Dia akan menjaga Taehyung sepenuhnya. Seharusnya Taehyung tahu bahwa sejak awal hubungan itu sudah ada yang salah. Tidak pernah ada kalimat “Maukah kau jadi kekasihku?” dari Hyungsik dan Taehyung sudah merasa tidak nyaman dengan itu, namun karena dia sangat mencintai Hyungsik, dia merasa tidak masalah memberikan pengecualian.

Hyungsik juga selalu memberitahunya tentang bagaimana hubungan dua orang dewasa tidak perlu hal-hal semacam itu sehingga Taehyung yang naif merasa dia bersikap kekanakan karena mempertanyakan hubungan mereka. Kemudian setelah Taehyung mulai bekerja dan sibuk, Hyungsik pindah bekerja ke Riau.

Awal-awal hubungan jarak jauh mereka, semuanya lancar. Hyungsik selalu meneleponnya tiap pulang kerja, membicarakan pekerjaannya hari itu. Menanyakan kabar Taehyung dan mendengarkannya bercerita hingga ketiduran.

Taehyung merasa begitu utuh dan sempurna. Merasa dia sudah dewasa karena dia mengikuti segala permainan Hyungsik dan mengabaikan semua firasatnya yang kekanakan tentang hubungan mereka.

Hingga akhirnya Hyungsik berhenti menghubunginya selama tiga bulan.

Taehyung panik. Kebingungan. Apakah dia salah? Apakah dia melakukan hal yang salah dan keliru? Dan saat akhirnya Hyungsik membalas pesannya dia hanya mengatakan:

“Bukankah yang terpenting aku tahu bahwa kau kekasihku? Orang dewasa tidak bersikap seperti ini dalam hubungan. Selama kau tahu aku milikmu, aku tahu kau milikku, tidak perlu banyak komunikasi.”

Dan itu memukul mundur Taehyung; apakah dia sudah bersikap kekanakan lagi? Kenapa dia tidak bisa dewasa seperti Hyungsik?

Akhirnya Taehyung mengikuti permainan Hyungsik. Diam menunggu hingga Hyungsik mengabarinya, seperti bagaimana orang dewasa menghadapi hubungan mereka. Dan kemudian, dia menemukannya.

Dia tidak pernah membuka sosial medianya karena terlalu sibuk bekerja sebagai seorang junior di kantornya dan pertama kali melakukannya, hal pertama yang dilihatnya adalah foto Hyungsik bersama perempuan lain yang sudah dilamarnya.

Taehyung babak-belur. Tertipu, terkhianati dan terluka. Namun amarahnya jauh lebih kuat dari sakit hatinya karena kemudian dia menelepon Hyungsik, mengatainya dengan semua umpatan yang diketahuinya hingga puas lalu mematikan sambungan telepon. Memblokir semua nomor Hyungsik dari hidupnya dan melanjutkan hidupnya dengan sisa trauma yang menggerogoti punggungnya.

Dan sekarang saat dia bersama Jungkook.

Dia mengeratkan pelukannya hingga Jungkook tertawa kecil, mengecup keningnya. Inilah hubungan yang diinginkannya; mereka berdiskusi, mereka bicara, mereka saling menghormati dan saling mendukung saat kesulitan.

Dia ingat pertama kalinya dia membahas Hyungsik saat malam setelah dia memaafkan Jungkook karena berbohong tentang masa lalunya. Dia merasa Jungkook juga berhak mengetahui masa lalunya dan dari hari itulah kebencian Jungkook untuk Hyungsik terpupuk.

“Aku salah,” bisik Taehyung di dada Jungkook yang hangat; gemetar oleh rasa bersalah. Seharusnya dia mendiskusikan semuanya sebelum menerima kembali Hyungsik ke hidupnya. Harusnya dia meminta izin Jungkook untuk memberikan alamat mereka ke Hyungsik.

Dia sudah memilih Jungkook menjadi pasangannya. “Aku minta maaf.”

Jungkook mengecup keningnya. “Dimaafkan.” Dia tersenyum lembut dan menghela napas dalam-dalam, berusaha kuat untuk menekan rasa jengkel dan amarah yang masih bercokol di hatinya.

Jungkook berjanji dia akan berlari lebih jauh lagi besok untuk melampiaskan kekesalan ini. Dan sudah menyusun menu yang akan membuat Hyungsik begitu malu hingga dia tidak akan berpikir dia bisa merebut Taehyung kembali.

Taehyung adalah milik Jungkook dan dia tidak suka apa yang menjadi miliknya diusik.

“Aku akan membatalkan reservasi Hyungsik besok.” Taehyung bicara teredam di dada Jungkook yang hangat dan nyaman, beraroma familiar seperti rumah. Aroma yang menempel di setiap inci seprai mereka, di setiap pakaian Taehyung, di bantalan sofa, di selimut; di segala tempat.

“Tidak,” Jungkook tersenyum separo. “Karena sudah terlanjur, sekalian saja kau sombongkan betapa keren, kaya dan hebatnya kekasih barumu dibanding bajingan tengik penipu seperti dia. Besok aku akan masak di show kitchen untuknya.”

Taehyung mendongak dan Jungkook membalas tatapannya dengan alis terangkat sebelah, nampak begitu tampan hingga Taehyung ingin menangis karenannya. “Kau memang tidak bisa tidak sombong, ya?”

“Memangnya kenapa? Aku 'kan punya sesuatu untuk disombongkan.”

Taehyung tersenyum. “Baiklah.” Dia mendesah saat telapak tangan Jungkook membelai punggungnya dengan begitu lembut; membentuk pila-pola menenangkan yang membuatnya mengantuk.

“Oh, ya. Satu lagi.”

“Hm?”

“Minta bajingan itu berhenti memanggilmu Taehyungie. Dia pikir dia siapa?”

Taehyung tersenyum dengan mata terpejam. “Baik, Chef. Apa saja untukmu.” Dia kemudian mendongak, menakupkan wajah Jungkook dalam kedua telapak tangannya dan meraihnya ke ciuman yang panjang dan dalam.

Hati Taehyung begitu dipenuhi dengan rasa cintanya untuk Jungkook hingga dia sesak. Ulu hatinya terasa begitu panas hingga Taehyung sulit bernapas. Dia berpikir jantungnya berdebar karena dia begitu mencintai Jungkook, begitu dipenuhi rasa lega karena dia memilih kekasih yang benar kali ini.

Lelaki yang tidak akan meninggalkannya dan akan selalu mendampinginya dalam keadaan bagaimana pun juga sebagaimana dia melakukannya untuk Jungkook.

Namun dia salah karena dia kemudian berdeguk keras hingga Bubble menyalak, asam lambung menyodok paru-parunya hingga naik ke tenggorokannya dengan sensasi terbakar yang menyesakkan lalu dia muntah ke dada Jungkook dan hal yang terakhir di proses otaknya yang malang hanya suara terkesirap kaget Jungkook.

“Taehyung!”

*

The Chef #202

“Chef?”

Jungkook mengerjap. “Oh, maaf.” Dia mendesah dan mengusap wajahnya lalu menoleh pada sous chef-nya yang tersenyum. “Apa katamu tadi?” Tanyanya dengan suara pelan.

“Chef oke?” Tanya sous chef-nya. “Chef sedang tidak fokus.”

Jungkook mengendikkan bahunya. “Taehyung sakit.” Dia mendesah. “Dua hari mengurus grand opening, dia sibuk menghitung profit restoran hingga larut lalu minum kopi dan makan mie instan.” Dia bergidik seolah mie instan telah menyebarkan virus zombie ke seluruh dunia.

Jungkook tidak habis pikir. Taehyung punya chef bintang lima berbaring di ranjangnya dan dia masih punya nyali untuk menyeduh mie instan. Di kulkas ada banyak bahan makanan yang bisa dibuatnya dan Taehyung memilih mie instan. Dia bahkan sebenarnya bisa membuat telur dadar sayur dan makan nasi, demi Tuhan. Kenap harus mie instan? Dengan kondisi dalam keadaan tertekan stres dan baru saja minum kopi?

Dia memijat keningnya.

“Lalu pagi ini dia merasa ulu hatinya panas seperti terbakar dan vertigonya kumat. Jadi aku memberikannya obat pusing dan obat maag sebelum berangkat serta membuatkannya bubur.”

Sous chef-nya mengangguk. “Chef mungkin pulang saja?” Tawarnya. “Biar saya dan anak-anak yang mengurus reservasi hari ini.”

Jungkook menggeleng. “Tidak, tidak. Kita lumayan penuh hari ini jadi tidak adil bagi kalian jika saya meninggalkan tim saat sedang penuh.” Dia lalu mendesah keras. “Kita selesaikan secepatnya saja jadi saya bisa segera pulang.”

Jungkook kembali bergabung dalam pusaran pekerjaan timnya di dapur. Mengecek saus, mem-plating makanan, meneriaki mereka yang bekerja terlalu lambat dan memastikan makanan tiba di meja pelanggan tepat waktu. Dia mendorong mundur pikiran khawatirnya tentang Taehyung yang berbaring di ranjang, mengerang keras saat dia berangkat kerja.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jungkook, duduk di pinggir ranjang dan meremas tangan Taehyung yang terasa dingin. Bubble melompat naik ke kasur, mendengking sedih dan menyusupkan dirinya di sisi Taehyung.

“Pusing,” keluh Taehyung berdeguk lalu menyentuh ulu hatinya. “Panas sekali di sini. Seperti ada yang menyurukkan besi panas ke tenggorokanku.” Dia berdeham keras lalu terbatuk. “Ini sudah jam berapa? Kau harus prep, kan? Sana berangkat.”

“Lalu kau?”

Taehyung tersenyum, meremas tangannya. “Aku baik-baik saja. Hanya asam lambung naik, sore nanti pasti sudah membaik. Gih, berangkatlah.” Dia menepuk tangan Jungkook sayang. “Maaf aku makan mie instan semalam.”

Jungkook mendesah, mengusap rambutnya yang menutupi kening lalu mengecupnya lembut. “Dimaafkan.” Dia tersenyum. “Besok, buatlah telur dadar saja, oke? Kita bahkan punya naget ayam di freezer, kenapa kau memilih mie instan? Besok semua stok mie instan akan kubuang.”

“Aku ingin yang praktis.” Taehyung mendesah.

“Memangnya naget tidak praktis?”

Taehyung mengecurutkan bibirnya dan Jungkook tidak tahan untuk tidak mengecupnya. “Maaf,” katanya lagi membelai pipi Jungkook yang agak kasar karena belum dicukur. “Kau lucu sekali jika sedang khawatir.”

Jungkook memutar bola matanya. “Aku ingin bilang begitu juga padamu tapi terakhir kali aku menyulitkanmu, kau nampak seperti zombie yang belum makan manusia sama sekali.” Dia menyubit hidung Taehyung yang mengerang.

“Hari ini aku bawa mobil, ya? Aku akan segera pulang begitu restoran tutup atau setidaknya pesanan sudah mulai turun.” Dia bangkit, mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek jins siap berangkat.

“Aku sudah membuatkanmu bubur, tinggal dihangatkan di microwave jika kau ingin makan, oke? Jangan terlambat.” Dia menepuk obat di nakas. “Obatnya diminum 30 menit sebelum makan, dihisap seperti permen, oke?”

“Siap, Pak Dokter.”

Jungkook tertawa lalu mengecupnya lagi. “Tidak ada dokter yang seseksi aku.” Tukasnya dan Taehyung tertawa, terhibur walaupun kemudian harus mengerang karena hal itu membuat ulu hatinya nyeri.

“Sombongnya.” Taehyung terkekeh. “Sudah sana, berangkat sebelum terlambat. Aku akan makan nanti, janji.”

“Kau janji akan menghubungiku jika kenapa-kenapa?”

Taehyung tersenyum. “Janji.”

Jungkook menatapnya sejenak, seolah menilai keseriusan kata-katanya lalu mendesah dan berdiri. “Baiklah, aku berangkat dulu, oke?”

“Cium aku sekali lagi?”

Terkekeh, Jungkook merunduk. Mencium bibirnya dengan dalam dan lembut, membelai rahangnya dengan punggung tangannya sebelum mengecup kedua pipinya bergiliran dan keningnya.

“Jangan kangen,” Taehyung tersenyum dari balik selimutnya dan Jungkook mendesah panjang.

“Aku sudah rindu, demi Tuhan.” Dia berdiri di pintu kamar lalu menutupnya. “Aku akan mengunci pintu depan, oke? Kau diam saja di kamar seharian.”

“Baik, Kapten. Selamat bekerja?”

“Terima kasih, Sayang. Selamat istirahat.”

Jungkook di masa kini mendesah, meletakkan potongan ikan dengan kulit yang garing di atas piring dan mulai menatanya sesuai dengan order request yang ditempel di bagian depan mejanya. Dia membubuhkan saus dan kondimen serta edible flower dengan pinset agar tidak rusak sebelum mengelap kotoran di sisi piring dengan lap di pinggangnya dan mengangkat piring ke atas.

“Service, please!” Serunya dan seorang anak servis yang bersiaga di sisinya bergegas menghampirinya, meraih piring itu, meletakkanya di nampan dan meluncur ke arah meja yang menunggu makanannya.

Jungkook meraih pulpen yang diselipkan di lengan kiri kemejanya dan menyoret pesanan yang sudah diselesaikannya dan melepaskannya dari konter, menyisihkannya ke keranjang yang akan diambil anak akunting untuk dicek dengan nota dari kasir dan sistem.

Dia berpindah ke menu selanjutnya. “Mana ayamnya?!” Serunya.

“Siap, Chef! Satu menit!”

“Satu menit!” Ulang Jungkook.

“Satu menit, Chef!” Balas timnya yang menyiapkan menu itu.

“Sausnya siap! Aku butuh ayamnya!” Commis lainnya di bagian saus meluncur ke arahnya dengan saucer terisi saus yang masih menggelegak setelah diangkat dari hot kitchen.

Jungkook menerima sausnya, meraih sendok dan menyicipinya seujung dan mendecap. “Oke,” katanya mengangguk atas rasa saus dan teksturnya. “Ayam!” Dia kemudian menoleh ke sous chef-nya yang langsung menggunakan sendoknya untuk menyendok saus dan menyecapnya.

“Oke, Chef.” Dia mengangguk dan Jungkook balas mengngguk.

“Coming, Chef!” Balas commis-nya, membawa piring yang terisi ayam yang masih mendesis setelah dikerjakannya ke konter Jungkook.

Menggumamkan terima kasih, Jungkook menyentuh ayam itu dengan punggung tangannya, mengecek kematangan ayam dari suhunya dan mengangguk puas. “Sempurna!” Serunya pada commis itu. “Thanks!”

“Siap, Chef!” Balas commis-nya.

Jungkook meletakkan potongan ayam dengan perlahan di atas sayuran yang dibumbui, menaburinya dengan potongan bawang goreng lalu membubuhkan sausnya di sisi piring. Seperti tadi, mengelap sekitar piringnya sebelum mengangkat piringnya ke atas.

“Service, please!”

Dia menyoret pesanan itu. Menerima pesanan lain dari anak servis dan menoleh ke timnya. “Dua ayam, satu urap dan dua sup babi. Berapa lama?!” Tanyanya pada semua timnya.

“Delapan menit untuk ayamnya, Chef!”

“Delapan menit.” Sahut Jungkook mengangguk, menempelkan pesanan itu di konter di hadapannya.

Saat akhirnya piring terakhir malam itu diangkat, Jungkook mendesah. Berbalik dan menoleh ke timnya yang juga mendesah keras karena akhirnya menyelesaikan servis hari ini.

Jungkook melirik jam dinding di dapur dan mengerang, sudah pukul sembilan malam lebih. Mereka masih harus membersihkan dapur dan evaluasi. Dia akan pulang agak terlambat malam ini. Jadi dia bergegas meluncur ke tengah ruangan dan menepuk tangannya sekali.

“Terima kasih atas bantuan kalian hari ini,” katanya mengangguk pada semua timnya yang sedang berdiri di section masing-masing yang sekarang hening karena semua pesanan sudah keluar dan di makan.

Di belakang dapur, steward sedang sibuk menyuci piring-piring yang dibawa masuk oleh anak servis. Suara dentang-dentang piring dicuci, gemericik air dan obrolan ringan mereka sudah akrab dengan telinga Jungkook tiap kali mengakhiri servis.

“Tapi maaf saya harus pulang duluan,” dia meraih topinya, melepaskan harnet di rambutnya dan menggoyangkan kepalanya ringan hingga rambutnya terurai. Basah dan lengket oleh keringat. “Taehyung sakit jadi saya harus menemaninya. Sisanya akan dilanjutkan oleh Bli Made, oke?”

Sous chef-nya mengangguk. “Siap, Chef. Hati-hati di jalan.”

“Tolong kunci restorannya, ya, Bli.” Pesan Jungkook dan sous chef-nya mengangguk menyanggupi. “Maafkan saya, Tim.” Dia menakupkan tangannya ke arah mereka dan membungkuk ringan.

“Tidak apa-apa, Chef.” Sahut salah satu CDP-nya dan timnya mengangguk-angguk setuju. “Semoga Pak Taehyung cepat sembuh.”

“Semoga.” Balas Jungkook yang sudah bergegas keluar dari dapur. “Terima kasih doanya, sampai bertemu besok.”

Jungkook mendorong pintu ganda restoran dan meluncur ke loker, mengganti bajunya dan membawa seragamnya pulang. Dia setengah berlari saat melewati tempat parkir ke mobilnya yang terparkir di sudut dan membuka kuncinya.

Menyelipkan dirinya masuk ke kursi pengemudi, dia menekan tombol telepon ke nomor Taehyung dan menekan perintah loud speaker seraya memasang sabuk pengaman dan menyelipkan kunci ke lubang starter.

”'Alo?” Sapa suara Taehyung berkeresak dan dia mendesah. “By?”

“Halo, Sayang.” Jungkook menyalakan mesin dan memasukkan perseneling. “Kau sudah makan malam? Aku akan segera pulang, kau ingin kubelikan sesuatu?”

Taehyung terbatuk sekali. “Tidak, aku tidak mau apa-apa. Kau saja pulang.”

“Baiklah,” Jungkook menginjak gas dan mobilnya meluncur melewati gang serta muncul di jalan raya yang ramai. “Aku akan memasakanmu camilan sebelum tidur. Kau makan apa tadi?”

“Buburnya,” Taehyung menjawab dan terdengar suara gemeresak saat dia bergerak di ranjang dan Bubble mendengking. “Cukup banyak untuk dua kali makan.”

“Oke.” Jungkook menatap lurus ke jalanan. “Aku akan tiba sebentar lagi jika tidak macet, kau istirahat saja, ya?”

“Siap, Chef.”

“I love you.”

“I love you too.”

Jungkook baru saja akan mematikan sambungannya saat Taehyung berkata. “Eh, Sayang?”

Dia berhenti. “Ya?” tanyanya memasang sein dan membelok ke jalanan ke arah rumah mereka.

“Kau ingat Hyungsik?”

Jungkook mengerjap dan mencengkram kemudinya lebih erat dari yang diinginkannya, dia menghela napas dalam-dalam dan tersenyum; menjaga agar nada suaranya tidak terdengar kesal. “Ingat. Kenapa?”

“Dia sedang di Bali dan ingin mampir ke restoranmu. Aku mengundangnya datang dua hari lagi setelah aku sembuh. Bisakah kau menyajikan makanan untuknya? Pengalaman served by the chef pasti akan membuatnya senang.”

Chef muda itu menggertakkan rahangnya kesal dan jengkel. Kenapa dari semua orang dia harus menyajikan makanan untuk mantan kekasih tunangannya yang kebetulan bajingan? Kenapa dia harus mengontak Taehyung, sih? Kenapa dia tidak hidup bahagia selama-lamanya jauh dari kehidupan mereka?

Memang tidak ada yang salah jika berteman dengan mantan tapi Jungkook lebih suka untuk tidak memiliki hubungan apa pun dengan mantannya—yang kebetulan meninggal jadi Jungkook tidak tahu rasanya 'berteman' dengan mantan.

Kenapa Hyungsik tidak enyah saja, sih? Kenapa dia masih terus mencobai hidup Jungkook?

“Kenapa kau harus peduli jika dia senang?” Tanya Jungkook tanpa bisa menahan diri lalu mengatupkan mulutnya dengan suara keras; merasa bersalah atas kata-katanya yang terdengar lebih kasar dari yang direncanakannya. “Tidak, oke. Maafkan aku.” Ralatnya segera. “Aku akan lihat hari itu, jika reservasi penuh maka aku tidak bisa melakukannya.”

Taehyung di seberang sana diam dan Jungkook mendesah. “Baiklah.” Katanya kemudian, perlahan.

Sebelum Jungkook sempat mematikan sambungan telepon lagi, Taehyung menambahkan: “Dan Jungkook?”

Jungkook mengigit bagian dalam pipinya, menahan dirinya agar tidak berkata kasar tentan prospek mantan Taehyung menginjakkan kakinya di restoran Jungkook. Membayangkannya saja Jungkook jijik.

“Ya?” tanyanya.

“Kau tidak perlu cemburu pada Hyungsik.”

Dia memutar bola matanya tanpa bisa dicegah; mengingat bagaimana hubungan mereka berakhir, justru aneh jika Jungkook tidak cemburu.

“Ya, baiklah.” Katanya menatap lurus ke jalanan. “Aku akan segera tiba. Kita bicarakan ini nanti, kau sedang sakit. Dan tidak,” tukasnya saat Taehyung menghela napas untuk bicara. “Aku tidak terima debat.”

Dan dia berhasil membungkam Taehyung.

Sesaat, setidaknya.

*

The Chef #197

“Halo, selamat pagi, Chef. Kabar baik?”

Jungkook tersenyum pada dokter di hadapannya. “Selamat pagi, Dok.” Balasnya seraya duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja dokter dan Taehyung di sisinya menyusul. “Baik sekali.”

“Oke,” dokter itu mendesah keras dan tersenyum lebar. “Saya dengar rasa asin Anda sudah kembali? Apakah bertahan lagi kali ini? Tidak seperti rasa pahit kemarin?” Dia menyatat sesuatu di kartu periksa Jungkook di hadapannya.

“Bertahan.” Jungkook mengangguk.

Dokternya ikut mengangguk. “Dari catatan fisik, Anda sudah mulai kembali aktif berolahraga, ya?” Tanyanya santai, mengecek catatan fisik Jungkook yang tadi ditanyakan oleh perawat jaga.

“Saya sudah kembali aktif di dapur, jadi saya harus mengimbanginya dengan olahraga agar tidak mudah lelah.” Jungkook menjawab. “Saya berangkat kerja dengan berlari, sekitar 7 kilometer setiap pagi.”

“Pulangnya?”

“Kadang lari atau dengan mobil.”

Dokter itu nampak puas. “Saya seharusnya tidak meragukan kemampuan fisik Anda, ya, Chef.” Dia tersenyum lebar. “Lalu hasil tes hari ini,” dia berdendang lembut, meraih beberapa kertas dan membacanya.

Dia membawa kertas ronsen ke X-Ray viewer dan menyalakan lampunya, dari balik kacamatanya, dia membaca hasilnya dengan alis berkerut. “Hasil MRI dan CT scan baik, ya,” komentarnya mengganti hasil ronsen dengan kertas lain dan membacanya sebelum mematikan lampu.

Kemudian dokter itu bangkit, “Mari, Chef.” Katanya melambaikan tangan ke arah tempat tidur dan Jungkook berdiri, melangkah ke arah ranjang dan mendudukkan diri di sana, menyeka rambutnya yang mulai panjang.

Dokter menyenteri bekas luka operasi Jungkook dan mengangguk, mengizinkan Jungkook menurunkan rambutnya. “Apakah ada keluhan dengan lukanya? Pusing atau sebagainya?” Tanyanya saat kembali ke mejanya dan Jungkook mengekor dengan setia.

“Tidak,” Jungkook menggeleng. “Hanya gatal.”

“Reaksi wajar saat lukanya mengering.” Dokter itu tersenyum. “Hasil tes hari ini juga baik, fisik baik, MRI tidak ada masalah.” Dia merapikan semua berkas Jungkook di meja dan tersenyum. “Anda merasakan obatnya saat tes?” Tanyanya.

Jungkook mengangguk. “Sedikit, tapi samar-samar. Tapi terasa. Tidak pahit, tidak asin. Hanya aneh, mengigit lalu lidah saya terasa kebas beberapa saat sebelum akhirnya kembali normal.”

Dokter itu mengangguk, menyatat sesuatu lagi sebelum kembali menatapnya dengan hangat. “Anda boleh terus melatih lidah Anda, Chef. Tapi saya tidak menjanjikan 100% indera perasa Anda kembali karena saraf Anda sudah korup, tapi sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?”

“Kita cek kembali bulan depan, ya, Chef?” Kata dokternya saat kunjungan selesai dan menyalami Jungkook hangat. “Semoga Anda datang dengan rasa baru di lidah Anda.”

Setelah mendapatkan multivitamin untuk membuat sarafnya menyembuhkan diri lebih cepat, mereka akhirnya pulang. Taehyung melangkah di sisinya dengan kemeja bercorak yang membalut tubuh langsingnya dengan sempurna, menenteng paper bag obat Jungkook.

“Kau ingin donat?” Tanya Jungkook kemudian seraya membuka kunci mobil mereka.

“Donat?” Balas Taehyung kebingungan. “Kau ingin beli donat?”

“Tidak,” Jungkook terkekeh. “Aku ingin membuat donat. Atau cronut, dalam hal ini. Aku tadi menonton MasterClass Dominique Ansel tadi sambil menunggumu menebus obat dan dia membuat resep ciptaannya, cronut. Dan aku tertarik mencobanya. Kau mau makan?”

Taehyung tersenyum saat Jungkook membukakan pintu penumpang untuknya, dia mendudukkan diri di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman sementara Jungkook berlari memutari bagian depan mobil dan membuka pintu pengemudi.

“Kapan memangnya aku tidak mau makan makananmu?” Tanya Taehyung menyetel penyejuk mobil dan mencari siaran radio. “Kau mau mampir ke toko bahan kue?”

Jungkook mengangguk, nampak bersemangat. “Kita akan merayakan kembalinya rasa asinku!” Dia menoleh ke Taehyung dengan kedua tangannya di roda kemudi, dan nyengir hingga pangkal hidungnya berkerut-kerut menggemaskan.

Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak balas tersenyum. “Baiklah, Pangeran. Kita akan belanja bahan kue untuk cronut-mu.”

“Tahukah kau? Dominique Ansel itu yang menciptakan cronut?” Tanya Jungkook kemudian setelah memasukkan perseneling dan mulai menginjak gas seraya menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum keluar dari tempat parkir mereka. “Dia menciptakan resep yang sekarang digunakan J.CO untuk menu mereka—perusahaan waralaba donat! Gila!”

Taehyung menyandarkan tubuhnya semakin dalam di kursi, tersenyum mendengarkan celotehan Jungkook yang saat senang akan terdengar seperti bayi umur lima tahun yang baru mulai menyadari fungsi pita suaranya.

Dan dia menyukai itu. Menyukai bagaimana Jungkook berceloteh heboh tentang minatnya pada dunia kulinari, memberitahu Taehyung semua masakan hebat chef-chef yang digemarinya, mengajak Taehyung mencobanya, meminta Taehyung mencicipi masakannya.

Itulah yang selalu membuat Taehyung betah bersamanya.

Bagaimana Jungkook nampak begitu bersinar saat dia membicarakan tentang minatnya, bagaimana dia nampak begitu luar biasa hidup dengannya.

Saat mereka berhenti di toko bahan kue, Jungkook langsung bergegas keluar. Mengambil keranjang dan melesat membeli bahan-bahan yang dibutuhkannya sementara Taehyung puas memilih dried fruits yang suka dijadikannya cemilan atau dimakan bersama serealnya.

“Sudah?” Tanyanya saat menghampiri Jungkook yang sedang memasukkan butter ke keranjangnya. “Memangnya membuat cronut ini lebih susah dari croissant?”

Jungkook menggeleng. “Hanya menyetak croissant base-mu menjadi bulat saja.” Dia menatap keranjangnya lalu mengingat-ingat lagi. “Kau mau chocolate ganache?”

“Apa saja, Chef.” Taehyung tersenyum lebar.

“Oke,” Jungkook kembali melangkah menjauhinya dan Taehyung tersenyum. Mengamati dengan lekat bagaimana kemeja Jungkook membalut tubuhnya dengan celana pendek khaki yang memamerkan tato di betisnya, rambutnya yang mulai meriap di bagian tengkuknya, pinggang kecilnya dan bahunya yang bidang.

Setelahnya, mereka berkendara pulang dengan Jungkook yang berdendang mengikuti suara lagu di radio mereka dengan jendela terbuka karena cuaca Bali cukup sejuk hari itu. Taehyung membiarkan wajahnya dibelai oleh angin dan memejamkan mata.

Bubble menyalak ceria saat mendengar suara derum mobil mereka tiba dan saat Taehyung mendorong gerbang terbuka, anjing mereka sudah menyakar-nyakar pintu depan mencoba keluar dengan ekor dikibas-kibaskan heboh. Menggonggong ke arah cermin, memaksa untuk keluar melompat ke pelukan Taehyung.

Sementara Jungkook memasukkan mobil, Taehyung berlari ke pintu depan. “Babeeel!” Serunya ceria, merogoh saku untuk mengelurkan kunci rumah. “Babel, Babel, Babel.” Dendangnya lalu tertawa saat anjing mereka semakin marah karena ditahan.

Taehyung memutar kunci dan membuka pintu lalu berjongkok, menerima Bubble yang melompat ke pelukannya dan menjilati wajahnya dengan penuh semangat. Saat dia berbalik, Jungkook sedang membawa belanjaan mereka di kedua lengannya.

“Hai, Bocah,” dia menyundulkan keningnya ke Bubble yang menyalak ceria dan Jungkook terkekeh.

Mereka memasuki rumah dan Jungkook meletakkan semu belanjaannya di atas konter dapurnya, memilah isinya dan memasukkan semua balok-balok butter ke kulkas sebelum semuanya meleleh karena suhu ruangan. Kemudian dia melipat tas belanja mereka, menyimpannya di kabinet atas dan mendesah.

Taehyung sedang berbaring di karpet ruang depan, bersama Bubble yang menjilati wajahnya.

“Kau tidak mau berganti baju dulu?” Tanya Jungkook membuka kemejanya sendiri yang mulai lengket oleh keringat dan mendesah saat tubuh telanjangnya terpapar udara.

Taehyung menumpukan kepalanya di tangan dan bersiul panjang, mengamati dengan tertarik garis V menukik di garis celana Jungkook, otot halus Jungkook yang sekarang mulai kembali sejak dia mulai kembali berolahraga dan garis rambut tipis yang dimulai dari bagian bawah pusarnya turun hingga ke balik garis celananya.

“Lihat dirimu.” Dia menyampukan tatapan tertarik ke tubuh Jungkook. “Bisakah aku memesanmu untuk makan malam?”

Jungkook tersenyum separo. “Atau cemilan siang juga tidak apa-apa, tertarik?”

“Makan malam saja,” Taehyung berguling telentang lalu terkesirap saat Jungkook mengangkanginya dan menempelkan tubuh mereka hingga Taehyung mendesah panjang. “Kau ini memang tidak boleh digodai sedikit saja!” Dia mendelik, merangkulkan kedua lengannya di leher Jungkook.

“Dasar tidak tahu malu,” keluhnya tersenyum lebar dan Jungkook mengecup bibirnya keras dan basah. “Sana, buatkan aku cronut!”

Jungkook terkekeh lalu bangkit dengan lugas dan menyugar rambutnya yang membentuk tirai di wajahnya. “Baiklah, baiklah. Aku ditolak.”

“Mulai deh,” Taehyung memutar bola matanya lalu tertawa dan Jungkook balas tertawa, beranjak ke dapur. Taehyung bersiul panjang menggodanya. “Hei, Seksi. Kau sedang luang tidak? Sini main sama Om.”

Dan hanya untuk menggoda Taehyung, Jungkook menggerakkan pinggulnya mengejek dan Taehyung tertawa.

*

The Chef #194

“Terima kasih atas bantuan kalian semua malam ini,” Jungkook berdiri di ujung ruangan, menatap semua karyawan servisnya yang sudah bekerja banting tulang hari ini mengurus 3 gelombang reservasi grand opening Le Paradis.

Jejalan manusia membuat semua anak-anak pusing meladeninya, Taehyung bahkan sempat mampir ke dapur untuk menelan sebutir Panadol karena kepalanya terasa mau pecah. Belum lagi reservasi yang seharusnya masih satu jam lagi, sudah muncul di depan pintu memaksa masuk untuk duduk di meja yang masih terisi tamu lain.

Dan berkebalikan dengan Taehyung, Jungkook sangat menikmati adrenaline rush yang membanjiri seluruh pembuluh darahnya. Membuatnya begitu gembira dan mabuk karenannya. Entah berapa ratus piring yang sudah ditatanya, diberi setetes saus, ditaburi garnish yang cantik, ikan hangat selembut mentega yang diletakkannya di atas piring.

Saat piring terakhir selesai dikerjakan dan dia berseru:

“Service, please!”

Seluruh tim bersorak gembira.

Jungkook berbalik, menghela napas panjang dan melepaskan topi chef-nya. Menyalami sous chef-nya dengan akrab, menepuk bahunya menggumamkan terima kasih sebelum beranjak ke tengah dapur dan bertepuk tangan.

“Luar biasa!” Serunya bahagia dengan jantung berdebar kencang oleh adrenalin selama bekerja, wajah merah padam dan rambutnya yang mulai panjang basah oleh keringat setelah berjam-jam terjebak di dalam topi chef-nya.

Seluruh timnya membalas tepukan tangannya dengan riuh. Melepaskan penutup kepala mereka dan mendesah penuh kelegaan karena akhirnya terbebas. Kepuasan nampak di wajah mereka semua setelah kurang-lebih empat jam terpapar dalam tekanan yang hebat harus menjaga food flow mereka tetap pada standar sinting Jungkook yang terus berteriak dan memaksa mereka semua tetap bekerja seperti kesetanan.

Belum lagi tambahan-tambahan reservasi yang membengkak; reservasi untuk dua orang namun yang datang empat orang yang terpaksa harus diterima Taehyung mau tidak mau. Menambah dua slot menu ke kitchen yang nyaris menangis karena ledakan itu.

Setelah meja terakhir dibereskan, piring dessert terakhir dicuci bersih oleh steward, Jungkook mengajak semuanya berkumpul di restoran yang sudah bersih dan pintunya ditutup dan mengizinkan semua stafnya yang sudah legal untuk mendapatkan segelas sampanye dan yang masih di bawah umur mendapatkan mojito.

“Saya sendiri tidak akan mampu menyelesaikan semuanya, hanya dengan bantuan kalian-lah grand opening malam ini berjalan luar biasa mulus dan lancar. Saya senang memiliki kalian sebagai tim saya.”

Dia mengangkat gelasnya. “Setelah ini, saya meminta bantuan kalian semua kedepannya untuk menjaga kualitas restoran ini. Bersama, kita bisa melakukannya. Mari bersulang untuk kita semua, kita semua luar biasa!”

“Bersulang!”

Jungkook kemudian meneguk sampanyenya dan mendesah panjang. Menatap semua anak buahnya yang sekarang mulai mengambil canape, vol-au-vent, mini eclairs dan panganan-panganan kecil yang sengaja dimintanya untuk disiapkan tim pastry sebagai camilan setelah grand opening selesai.

“Seumur hidupku,” keluh Jungkook saat dia duduk di sisi Taehyung, Jimin dan Yugyeom, mengunyah vol-au-vent Yugyeom. “Baru kali ini aku merasakan rush hour sekejam itu.” Dia memijat kepalanya yang pening. “Syukurlah tidak ada timku yang pingsan karena pekerjaan malam ini—sangat kuapresiasi dengan tidak menambah pekerjaan kita semua.”

Yugyeom tersenyum ke gelas sampanyenya. “Aku memilih anak-anak yang tangguh, 'kan?”

Jungkook mengendikkan gelasnya ke Yugyeom. “Tertangguh.” Sahutnya setuju. “Trims.” Dan Yugyeom membalasnya dengan menyentuhkan gelas mereka hingga terdengar suara 'kling!' keras.

“Setiap hari Senin kita libur,” kata Jungkook kemudian. “Berarti besok aku bisa bertemu denganmu dan Bli Made untuk membahas jadwal kerja dan segala macam? Serta HRM dan Chief Accountant-nya,” dia mengecup Taehyung yang sedang sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.

“Kau lapar, ya?” tanyanya terkekeh.

“Diam.” Taehyung mendelik. “Bukan kau yang harus berdiri di depan pintu dikata-katai saat meja mereka belum siap atau kursinya kurang karena mereka memesan meja untuk dua orang dan yang datang empat orang.”

“Oh, Sayangku,” Jungkook tersenyum, meraih Taehyung ke pelukannya lalu menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman kecil hingga Yugyeom dan Jimin mendesah dan memalingkan wajah dari dengan sopan. “Setelah ini aku akan memijatmu, oke? Kau ingin kubuatkan sesuatu sebelum tidur?”

Taehyung menatapnya lalu nyengir. “Roti isi telur mayo?”

Jungkook mengecup pelipisnya. “Baiklah, roti isi telur mayo.” Dia kemudian menambahkan. “Kau bisa mulai membantuku untuk mengerjakan jadwal dan mengurus detailnya, kan?”

Taehyung mengangguk. “Sudah kucicil beberapa hari ini dengan HRM,” dia menepuk planner di atas meja dengan desahan panjang. “Besok akan kami bicarakan lagi. Kontrak-kontrak karyawan juga akan disempurnakan, buku Kesepakatan Kerja Bersama juga harus mulai dibagikan karena Dinas Tenaga Kerja baru memberikan versi yang ditanda-tangani dua hari lalu.”

Jungkook mengangguk-angguk. “Baiklah.” Dia menyesap minumannya, mengamati karyawan-karyawannya yang duduk bergerombol menikmati camilan dan minuman mereka, nampak lelah namun bahagia.

“Aku juga sudah mengimpor laporan penjualan dari sistem ke excel,” Taehyung menambahkan lalu menoleh pada Jimin. “Besok juga akan kita lihat, ya? Untuk menghitung profit dan modal yang kembali hari ini. Lalu untuk website, mungkin sebaiknya kita mencari orang yang akan memegangnya karena kita tidak bisa terlalu lama menyewa tim PR setelah grand opening dan—,”

Jungkook menghentikannya bicara dengan mengunci dagu Taehyung dengan ibu jari dan telunjuknya lalu membaliknya menghadap Jungkook dan mencium bibirnya. “Berisik.” Katanya dengan mata berbinar. “Tidak bisakah kau menikmati after party-nya sebentar sebelum berbicara tentang pekerjaan? Minum segelas vodka,”

Mendesah panjang, Taehyung menutup planner-nya. “Menyerah,” dia tersenyum. “Maafkan aku.” Dia lalu menuang satu shot vodka ke dalam gelasnya yang terisi irisan jeruk lalu meneguknya dalam satu tegukan panjang dan mengernyit.

“Dimaafkan,” Jungkook tersenyum. “Besok aku akan mengizinkanmu berbicara tentang pekerjaan sepuas hatimu, tapi tidak hari ini. Ayo makanlah sesuatu.” Dia meraih piring canape di atas meja, mendorongnya ke hadapan Taehyung.

“Saya sudah dengar banyak tentang Chef sebelum ini,” sous chef-nya bicara dan Jungkook menoleh sopan padanya. “Tapi setelah bekerja dua malam dengan Chef saya merasa hal-hal yang saya dengan salah sekali.”

Jungkook mengerutkan alis. “Memangnya apa yang Bli dengar?” tanyanya tersenyum.

“Chef jauh lebih hebat dari kata mereka,” sous chef-nya tertawa serak. “Maksudnya, saya belum pernah melihat seorang head chef setenang itu menghadapi alur makanan segila tadi. Chef tetap fokus dan mengerjakan semua detailnya dengan sempurna. Bisa mengendalikan seluruh dapur dengan baik, memegang kontrol sepenuhnya. Tidak terdistraksi banyaknya tambahan set menu yang harus disiapkan di detik terakhir.”

“Wah! Tahan, tahan!” seru Jimin melambaikan tangan ke arah sous chef Jungkook yang kebingungan. “Tahan! Kepalanya membesar, jangan dipuji! Kepalanya baru cidera, jadi benda itu sensitif dan—ADUH! Untuk apa itu?!” Jimin mendelik pada Jungkook yang baru saja menendang tulang keringnya dari bawah meja.

“Bung, kau masih menggunakan safety shoes!” Jimin mengangkat kakinya dan mengusap tulang keringnya yang berdenyut mengerikan. “Tidakkah kau tahu betapa sakitnya benda itu!?”

Jungkook mengabaikannya dan Jimin memelototinya sebelum membalas tendangannya dan Jungkook mengaduh. “Makan itu!” serunya.

Sous chef-nya tertawa dan menatap Jungkook. “Saya secara pribadi senang Chef tidak memutuskan untuk berhenti menjadi chef,” dia tersenyum dan Taehyung di bawah meja, meraih tangan Jungkook dan meremasnya hangat. “Dunia kuliner pasti sedih sekali kehilangan seorang maestro seperti Chef yang bahkan tanpa indera perasa masih bisa memasak dengan sehebat itu.”

“Walaupun saya harus merepotkan Bli tadi untuk menyicipi makanan-makanannya,” Jungkook tersenyum.

Sebelum soft dan grand opening, Jungkook sudah meminta sous chef dan Yugyeom untuk mengecek rasa makanan yang dimasaknya dan meminta mereka untuk mengingat rasa itu sebagai standar. Jungkook kesulitan, tentu karena dia tetap harus menyicipi makanannya untuk tahu seberapa benar masakan itu dan koreksi rasa, tapi dengan firasat dan pengalaman bertahun-tahun, dia tetap bisa menakar bumbu dengan sempurna.

Mengandalkan satu-satunya rasa yang dimiliki lidahnya; asin.

Dia terkadang merasa begitu frustasi, seperti bayi yang dikurung dan sulit sekali bergerak. Namun saat dia merasa sebentar lagi meledak, dia menghela napas dan berusaha lagi—tidak mengizinkan keadaan mengalahkannya sama sekali. Dan berkat kerja sama dengan sous chef-nya, mereka berhasil menyiptakan rasa yang diinginkan Jungkook.

Sekarang dia sudah fasih merasakan asin yang tepat dengan lidahnya yang kebingungan. Asin yang normal akan terasa asin sekali dan dia sudah menyatat rasa asin itu di lidahnya sebagai standar; mulai perlahan-lahan mengatasi kesulitannya sendiri.

“Tidak masalah,” sahut sous chef-nya ramah. “Itu sudah tugas saya, Chef.”

Saat akhirnya mereka membubarkan diri setelah Taehyung mengunci restoran dan dia, Jimin, Yugyeom dan sous chef Jungkook berpisah di depan pintu, Jungkook mengemudikan mobil Taehyung pulang sementara kekasihnya berbaring di kursi penumpang, teler kelelahan.

“Ayo mandi, lalu istirahat.” Jungkook menjulurkan tubuhnya untuk mengecup kening Taehyung setelah berhasil memasukkan mobil mereka ke garasi dan menutup pintu gerbang rumah. “Sementara kau mandi, aku akan membuatkanmu roti isi.”

Taehyung menggeleng, menatapnya dalam keremangan lalu menggeser duduknya. Meraih Jungkook dengan kedua lengannya dan mengerlingnya. “Bagaimana jika kau bergabung saja denganku di kamar mandi?”

Jungkook menyunggingkan senyuman separonya. “Oh. Dengan senang hati,” dia kemudian melepaskan sabuk pengamannya, bergegas keluar dari mobil, berlari kecil melewati bagian belakang mobil dan membuka pintu penumpang Taehyung yang tersenyum lebar, membuka kedua lengannya lebar-lebar.

Meraihnya dalam kedua lengannya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah seraya menyiumi wajahnya dengan rakus. Tangan Taehyung menyalakan saklar saat mereka berjalan masuk dan membuka kunci pintu dengan bibir yang masih sibuk di bibir Jungkook dan berdecak kesal saat kunci tidak juga mau terbuka, sebelum Jungkook memutuskan untuk menendang pintunya, suara klik pintu terbuka terdengar.

Bubble menyalak ceria menyambut keduanya pulang namun Jungkook dengan lembut menyingkirkan anjing kecil itu dari jalan mereka dengan kakinya dan Bubble mendengking kesal saat kedua majikannya mengabaikannya. Dia menggonggong protes sekali lagi. Terus menggonggong sementara Jungkook membawa Taehyung langsung ke kamar mandi—tidak terima karena diacuhkan.

“Lebih efisien,” kata Taehyung tersenyum, memandang Jungkook dari balik bulu matanya yang panjang saat chef muda itu membaringkannya di bathtub yang kering.

Jungkook menyalakan shower-nya dan menaungi Taehyung di dalam bathtub. “Kau faham apa yang sedang kaulakukan, kan?” Dia menatap tubuh Taehyung dengan matanya yang gelap dan kurang ajar lalu menyodok bagian dalam mulutnya dengan lidah.

Taehyung merangkulkan kedua lengannya ke leher Jungkook, meraihnya mendekat sementara air mengguyur mereka berdua dengan suhu hangat-hangat kuku yang nyaman. Jungkook nampak luar biasa seksi dengan rambut basah menempel di keningnya dan air mengalir di hidung bangirnya.

“Tentu saja,” sahutnya mendesah. “Sekarang lakukan apa saja yang kauinginkan, sebelum aku mati karena menginginkanmu.” Dia melenguh keras saat Jungkook merunduk mengecup lehernya yang terbuka dan menghisapnya lembut.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri karena lelah namun sentuhan dan kecupan Jungkook terasa seperti candu yang membakar seluruh rasa lelah Taehyung hingga lenyap. Dia membiarkan Jungkook melepaskan pakaiannya yang basah dan menciumi seluruh tubuhnya yang terbuka.

Menjulurkan tubuh atasnya, Taehyung membantu Jungkook melepaskan pakaiannya dan mengecup tubuh atasnya yang basah. Menarik ciuman malas dari tulang belikatnya, turun ke dadanya dan terus ke perutnya hingga Jungkook mengigil olehnya.

“Ya Tuhan,” bisik Jungkook lalu meraih Taehyung dalam kedua lengannya yang kokoh, melepaskan sisa pakaiannya sebelum mendudukkannya di atas pangkuannya.

Keduanya mendesah panjang saat tubuh mereka bersatu. Taehyung menggerakkan pinggulnya perlahan sementara Jungkook mengerang keras; suaranya menggema di dalam kamar mandi mereka ditingkahi suara shower yang memercik dan tangannya yang bebas memijat tubuh Taehyung yang berdenyut oleh gairah di atas perutnya.

“Kau membuatku gila,” Jungkook berbisik tercekat, mengulum telinga Taehyung hingga pemuda itu sejenak kehilangan ritme gerakan pinggulnya dan mengigil oleh lidah panas Jungkook.

Kehilangan kesabaran, Jungkook meraih pinggul Taehyung dan menggerakkannya sesuai dengan keinginannya hingga keduanya kembali mendesah keras berbarengan. Jungkook memangut bibir Taehyung, menyelipkan lidahnya masuk tanpa sedikit pun memperlambat gerakan tangannya di pinggul Taehyung.

Taehyung melepaskan ciuman mereka hanya untuk mengerang keras, setengah berteriak saat Jungkook mempercepat gerakannya dan dia melemparkan kepalanya ke belakang; mengekspos lehernya yang indah. Jungkook menjulurkan lehernya, mengecup jakunnya dan Taehyung berdeguk penuh kenikmatan.

“Ya Tuhan, ya Tuhan, Jungkook!” Taehyung mendesah panjang, kacau oleh kenikmatan yang membuat otaknya beku. Dia menjambak rambut Jungkook dengan jemarinya, mendesah liar hingga Jungkook merinding olehnya.

“Kau suka itu?” tanyanya lalu terkesirap saat Taehyung menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan, membuat tubuh Jungkook mengejang oleh bagaimana Taehyung menjepitnya. “Oh, sial.” Erangnya keras, terengah dengan kedua lengannya terkulai di sisi bathtub, membiarkan Taehyung bergerak.

“Sial, sial. Sialsialsial.” Keluhnya mengernyit saat seluruh tubuhnya nyeri. “Sial.” Erangnya serak sekali lagi, merangkul pinggang kecil Taehyung dan meremas pantatnya yang terasa selembut roti.

“Aku tidak akan membuat ini mudah,” kata Jungkook kemudian, meraih tubuh Taehyung dan mengangkatnya ke atas pelukannya. Menyatukan tubuh mereka sekali lagi hingga Taehyung terkesirap keras dan menempelkan punggung Taehyung ke dinding kamar mandi sebelum menyentakkan tubuhnya.

“OOH!” Taehyung berseru gemetar, “Tidak, tidaktidak!” Serunya sementara Jungkook bergerak seperti kesetanan. “Tidak, Jungkook tidak, tidak!” Dia mengerang keras dan panjang, menumpukan kepalanya di bahu Jungkook yang terus bergerak.

Tubuh Taehyung terasa seperti terbelah dua oleh sakit dan kenikmatan. Dia mengerang sementara Jungkook mendesah berat.

Bagaimana dia bisa tetap menggendong Taehyung setelah sepanjang malam berdiri dan menyiapkan makanan?

Jungkook pasti bukan manusia.

“OOH!” Taehyung kembali mengerang, mengigit leher Jungkook dan menjambak rambutnya. “Jangan berhenti, jangan!” Dia mengernyit saat perut bagian bawahnya mulai mengejang dengan cara yang memusingkan. “Aku... aku tiba.” Katanya tercekat.

Dan Jungkook mempercepat temponya hingga Taehyung berteriak nyaring. Bubble menggonggong dari depan pintu yang terbuka, ekornya dilipat ke bawah perutnya dan dia menyalak galak ke arah Taehyung dan Jungkook yang bercinta—bereaksi terhadap teriakan Taehyung.

Lalu dia melolong saat Taehyung kembali menjerit, kali ini bersama Jungkook yang menggeram saat keduanya tiba.

Dan semuanya hening.

Bubble menyalak keras lagi, sekali.

“Hei, hei,” Jungkook terkekeh ke anjing mereka saat menurunkan Taehyung. “Kami tidak apa-apa,” katanya lalu merosot ke dalam bathtub, mendudukkan diri dan bersandar di dinding ujung, menjulurkan lengan ke arah Bubble. “Kemari,”

Bubble menggeram sejenak sebelum perlahan mendekat, mengendus tangan Jungkook dan merasa cukup aman lalu menjilat tangannya dan mengibaskan ekornya lagi.

“Anak pintar,” Jungkook tersenyum. “Kau lapar, ya? Sebentar, yaa? Aku harus—OH, fuck!” Dia menggeram dan Bubble terlompat mundur dengan kaget dan menggeram ke arahnya. “Sial, sial!” Serunya kaget saat Taehyung tanpa aba-aba menjulurkan tangan dan memeluk Jungkook dalam mulutnya yang panas.

“Sial!” Erang Jungkook, pening dengan manuver lidah Taehyung yang begitu ahli di tubuhnya.

Taehyung menatapnya melalui sela-sela bulu mata panjangnya dengan lidah terjulur, membelai tubuh Jungkook.

“Kau suka itu?” tanyanya dengan mulut penuh dan Jungkook bersumpah tidak ada yang lebih seksi dari Taehyung yang merunduk di antara kedua kakinya, berwajah merah padam dan rambut basah menempel di keningnya.

Jungkook tersenyum separo, tangannya terjulur lalu menjambak rambut Taehyung, membenamkan mulut Taehyung kembali ke tubuhnya dan mengerang keras. “Ya,” desahnya serak dan berat. “Ya, buat mulutmu berguna.” Dia mengernyit dan melepaskan satu desahan panjang lain yang membuat Taehyung tersenyum lalu menghisap lembut.

“OH FUCK!” seru Jungkook keras, memukul dinding di sisinya dengan kepalan tangan dan menggertakkan giginya akibat sensasi yang memusingkan. “Fuck, Taehyung. Fuck.”

Taehyung tersenyum simpul, menarik mulutnya hingga ke ujung lalu tanpa aba-aba kembali menghisap, kali ini jauh lebih kuat.

Dan Jungkook bergetar, seperti robot buatan yang rusak oleh terlalu banyak komando dan siap meledak kapan saja.

“Aku tidak akan membuat ini mudah,” Taehyung tersenyum separo dengan tangannya yang bergerak lincah di tubuh Jungkook. “Kau ingat ini.”

*

The Chef #190

“Pagi.”

“Pagi, Chef!”

Jungkook mendorong pintu ganda di hadapannya terbuka dan memasang harnet di kepalanya dengan topi chef-nya dikepit di ketiaknya. “Mana semua bahan bakunya? Sudah dipilah?” Tanyanya langsung ke sous chef-nya yang mengangguk.

“Sudah, Chef.” Sous chef-nya langsung membimbing Jungkook yang memasang topinya di kepala melangkah ke butcher yang sekarang sibuk mengurus protein mereka dengan pisau-pisau tajam dan aroma basah daging yang membuat Jungkook sejenak tidak nyaman.

Dia tidak pernah bisa membayangkan harus bekerja menjadi CDP butcher, dia pasti akan menjadi vegetarian di akhir minggu pertamnya bekerja karena aroma anyir darah dan daging segar selalu membuat perutnya tidak terlalu nyaman. Dia suka aroma remah yang tajam; kunyit, jahe, merica, bubuk pala.

Jungkook menyentuh setiap daging yang ada di meja untuk mengecek suhu daging dan kesegarannya dengan buku jarinya dan merasa puas atas kualitasnya. “Suplayer mana?” Tanyanya pada sous chef-nya. “Lumayan.”

“Langganan restoran saya dulu, Chef.” Sahut sous-nya dan Jungkook mengangguk. “Daging soft opening kemarin juga dari suplayer yang sama dan Pak Taehyung sudah oke dengan harganya.”

“Ya kalau Taehyung oke, saya oke.” sahut Jungkook kalem lalu menoleh ke butcher-nya yang mulai bekerja dengan apron hitam licinnya. “Tolong disiapkan sesuai dengan menu. Jangan terlalu tebal, tangan terlalu tipis. Sekiranya bisa cukup untuk 250 pax.” Jungkook memberitahu CDP-nya yang sedang menajamkan pisaunya dengan honing rod dengan suara decit stainless yang menyakitkan telinga.

“Siap, Chef.” Sahut CDP-nya, mengangguk.

“Oke, trims.” Balas Jungkook mengangguk lalu keluar dari butcher. “Sisanya bagaimana?”

Sous chef mengangguk. “Untuk appetizer baru setengah, Chef. Canape sedang disiapkan, dessert juga sedang mulai disiapkan di pastry. Protein seperti yang Chef lihat sendiri, lalu sayuran sedang disiapkan, bumbu-bumbu juga. Perkiraan kasarnya jam 3 siang kita sudah siap untuk 250 pax.”

Jungkook mengamati dapur dengan saksama, mengamati efisiensi anak-anaknya bekerja di section mereka masing-masing. Beberapa anak memotong sayuran dan bawang, beberapa menyiapkan tiap bumbu dalam porsi-porsi 1 pax agar nantinya siap dimasak ketika harus dihidangkan dan beberapa mulai meracik bumbu. Aroma rempah, bising api dan gas yang dibuka terlalu lebar terasa menyesakkan dan Jungkook menghela napas dalam-dalam.

Dia sungguh merindukan kehidupan ini.

“Kau tidak perlu membuka apinya sebesar itu,” keluhnya pada commis yang sedang bekerja di hot kitchen. “Efisiensi dan bau gasnya ke seluruh ruangan.” Tambahnya dengan gestur memintanya mengecilkan apinya dan commis itu bergegas menurunkan gasnya hingga api mengecil.

Bagaimana bisa dia melepaskan ini beberapa bulan lalu dan menganggap tempat ini bukan identitasnya lagi?

Berada di tengah-tengah semua orang yang bergerak dinamis menyiapkan preparation untuk grand opening mereka nanti malam, mengecek makanan, merasakan adrenalin mengalir di pembuluh darahnya dan ketegangan yang menggelayut di bahunya; Jungkook mendapati bahwa dia ternyata sangat merindukan kesibukan ini.

Dia begitu mencintai pekerjaannya.

“Canape-nya bagaimana?” tanya Jungkook menghampiri section tempat canape dikerjakan satu orang commis dan mengecek potongan-potongan bahan bakunya dan mengangguk. “Pas.” Dia menyomot sepotong bacon, mengamati ukuran dan ketebalannya lalu secara naluriah, menyuapnya.

“Agak asin,” komentarnya sambil lalu. “Coba buatkan saya satu dengan keju, tanpa keju dan telur.” Dia mengelap tangannya di apron.

“Siap, Chef.” Sahut commis-nya lalu bergegas membuatkannya satu contoh canape masing-masing sesuai dengan kehendak Jungkook saat kepala chef itu lalu beranjak untuk mengecek yang lain diikuti oleh sous chef-nya yang mengekor setia.

Lalu Jungkook berhenti.

Begitu mendadak hingga sous chef-nya nyaris terpeleset menabraknya.

“Chef?” tanya sous-nya, kebingungan.

Jungkook menggertakkan giginya lalu tiba-tiba kembali berbalik kembali ke commis yang sedang mengerjakan canape. Dia berhenti di sisi konter commis malang yang sekarang mendongak kebingungan karena head chef-nya menatap pekerjaan di meja seolah akan membakarnya hanya dengan tatapan matanya lalu meraih sepotong bacon lagi, kali ini menambahkannya sepotong keju cheddar dan menjejalkan keduanya ke mulutnya.

Dia menahan napas lalu tersedak keras—batuknya menggema ke seluruh ruangan mengalahkan semua suara lain.

Seluruh dapur menoleh kaget, berhenti bekerja dan menoleh ke Jungkook yang sedang membekap mulutnya sendiri dengan wajah pias sepucat tembok. Mendengar suara Jungkook, Yugyeom yang sejak tadi berada di pastry section bergegas keluar membawa selapis aroma choux hangat yang baru matang dan cokelat saat menghampiri temannya.

“Hei, kau oke?” Tanyanya setengah panik saat Jungkook membungkuk dengan satu tangan di mulutnya, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jungkook. “Apa yang terjadi?” Dia menoleh ke sous chef Jungkook yang menggeleng, sama bingungnya.

Jungkook diam dan mengunyah perlahan; tidak menyangka bahwa saat keju dan bacon mendarat di lidahnya dan tercampur dengan salivanya; rasa gurih dan asin keduanya meledak di seluruh rongga mulutnya. Lidahnya mendecap, mencari-cari sisa makanan ke seluruh penjuru mulut dengan penuh kerinduan setelah sekian lama tidak menyecap apa pun.

“Ya Tuhan...” Bisiknya, gemetar. “Ya Tuhan!” Dia lalu menyambar sepotong bacon lagi di meja dan menyerahkannya pada Yugyeom. “Coba, dan katakan padaku bagaimana rasanya!”

Yugyeom menatapnya dengan alis berkerut dan menerima bacon dari Jungkook lalu membawanya ke mulutnya, mengunyah dengan ringkas lalu menelan tanpa benar-benar menyadari apa yang dimakannya.

“Seperti bacon pada umumnya. Asin dan gurih.” Sahutnya mengendikkan bahu lalu berhenti sejenak dan terkesirap saat menyadarinya.

“Ya Tuhan!” Serunya gemetar oleh rasa gembira. “Kau merasakannya?! Katakan padaku kau merasakannya!”

Jungkook tertawa serak. “Ya!” Balasnya ceria. “Agak terlalu asin di lidahku tapi tidak apa-apa! Distortion is way better than nothing!”

Sebelum siapa pun di sekitarnya bereaksi, dia menepuk bahu sous chef-nya dengan cengiran lebar di bibirnya; sangat bahagia hingga dadanya terasa sesak. “Saya harus ke depan sebentar!” Lalu tanpa aba-aba melesat melewati pintu ganda dapur yang mengarah ke restoran dan menemukan Taehyung sedang berdiri di tengah ruangan.

Taehyung sedang membelakanginya, mengecek meja dan warna linen serta bunga-bunga segar yang baru saja dihantarkan dalam balutan kertas koran yang sekarang mulai dibuka oleh dua anak servis dan dirapikan untuk dipasang di dalam vas bunga tunggal di atas meja.

“Buang saja yang cacat,” keluhnya saat Jungkook mendekat. “Catat berapa banyak yang jelek dan aku akan mengirimkan komplain ke mereka. Bisa-bisanya mereka memberiku bunga busuk,” dia menyatat sesuatu di planner-nya yang belakangan ini digenggamnya seperti kitab suci.

Jungkook melangkah mendekatinya dalam langkah panjang yang lebar lalu meraup Taehyung dalam pelukannya hingga pemuda itu terkesirap kaget yang keras dan menjatuhkan planner di tangannya. Buku itu menghantam lantai dengan suara debum dan beberapa nota-nota yang diselipkan Taehyung di lembar-lembarnya berserakan.

Sebelum dia sempat marah, Jungkook meraih bibirnya dan menciumnya.

“Ada apa ini?” Seru Taehyung saat Jungkook berhenti menciumnya; menatapnya jengkel. “Aku sedang bekerja!” keluhnya.

Jungkook nyengir. “Baconnya asin.” Katanya masih nyengir dengan Taehyung di pelukannya.

Taehyung menatapnya seolah Jungkook sudah gila. “Tentu saja asin, itu, 'kan, bacon!” Balasnya menggeliat berusaha melepaskan diri. “Memangnya kau tidak punya sesuatu yang lebih penting untuk—,”

Dia berhenti.

Jungkook masih nyengir.

“Apa... katamu?” Tanyanya kemudian, jantungnya berdebar—menonjok rusuknya hingga terasa nyeri dan wajahnya memucat. “Apa tadi katamu?” Nadanya sekarang naik. “Bagaimana rasa baconnya??” Dia nyaris histeris.

“Asin.”

Taehyung terkesirap keras. “Apa?!”

“Asin!” Jungkook tertawa. “Aku sudah mencobanya dua kali dan rasa asinnya tetap di lidahku! Yah, agak terlalu asin, sih,” tambahnya kemudian meringis. “Tapi setidaknya asin, oke? Jadi menurutku—.”

Taehyung tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya karena dia kemudian menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangannya lalu membenamkan bibirnya ke bibir Jungkook dengan suara kecupan keras yang basah. “Ya Tuhan,” bisiknya gemetar. “Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung!”

Jungkook nyengir, pipinya nyeri sekali setelah sejak tadi tidak berhenti nyengir. “Besok kita harus ke Siloam.” Katanya menuntut dan Taehyung mengangguk. “Kita coba tes lidah sialan ini dengan obatnya, oke?”

“Tentu,” dia tersenyum lalu mendesah saat merasakan matanya memanas dan air mata mulai meluruh ke pipinya. Dia terisak sambil tertawa, dengan panik menyeka air mata yang mulai deras. “Ya, tentu.” Katanya menangis dan Jungkook memeluknya semakin erat ke dadanya yang hangat.

“Ya Tuhan...” Bisik Taehyung terisak dan memeluk Jungkook, menyandarkan dagunya di bahu Jungkook. “Kenapa aku malah menangis?” Keluhnya setengah merengek dan Jungkook tertawa hangat di pelukannya, napasnya membelai telinga Taehyung dan entah bagaimana perasaan Taehyung terasa begitu hangat dan membuncah oleh cinta pada Jungkook.

Dia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di seragam Jungkook yang berwarna putih menyilaukan serta meledak dalam tangis yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.

“Ssshh...” Bisik Jungkook lembut dan memejamkan mata di bahu Taehyung. “Aku baik-baik saja, sudah jangan menangis.” Dia tersenyum dan mengecup pelipis Taehyung yang masih gemetar oleh tangisnya.

“Terima kasih sudah sabar denganku,” Jungkook mengecup pelipisnya sekali lagi lalu puncak kepalanya. “Kau bisa saja menamparku bolak-balik lalu pergi dan melanjutkan kehidupanmu, tapi tidak.

“Kau memutuskan untuk merawatku dengan kesabaran malaikat dan ketenangan samudera. Mencoba menyeretku kembali ke permukaan walaupun aku terengah-engah menolakmu. Terima kasih, terima kasih...” Dia membenamkan wajahnya di rambut Taehyung dan menghirup aromanya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh Taehyung yang manis dan khas.

Terasa familiar, seperti rumah.

“Dan sekarang,” Jungkook menguraikan pelukan mereka lalu menangkup wajah Taehyung yang merah padam dan basah oleh air mata yang asin dan lengket lalu memberikan kelopak mata Taehyung masing-masing satu kecupan sehalus sayap kupu-kupu.

“Aku akan terus melangkah maju. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku...”

Taehyung terisak dengan suara nyaring yang terdengar menyakitkan dan Jungkook terkekeh, kembali memeluknya dengan hangat. “Bayi besarku,” bisiknya tersenyum. “Jangan menangis lagi.”

“To be fair,” isak Taehyung mendelik dan Jungkook tertawa. “Kau juga bayi besar!”

“Iya, iya.” Jungkook nyengir. “Apa saja untukmu, Your Highness.” Dia mengusap air mata di pipi Taehyung dengan telapak tangannya yang beraroma bumbu dan kapalan.

“I love you.” Taehyung tercekat.

“I love you more.” Sahut Jungkook seketika itu juga.

*

The Chef #186

“Jimin nampak bahagia.” Taehyung meletakkan ponselnya lalu beranjak ke ranjang, ke Jungkook yang menantinya bersama Bubble.

Taehyung menyingkap selimut dan merangkak naik ke ranjang, menyusupkan dirinya di dada Jungkook yang bersandar ke kepala ranjang.

Dia mendesah panjang saat hangat tubuh Jungkook dan aroma sabun mandinya membuat seluruh sarafnya mengendur dan rileks.

Seketika itu juga mengantuk oleh kehadiran Jungkook.

Jungkook meraih tangannya, mengaitkan jemarinya di sana lalu mengecup punggung tangan Taehyung serta satu per satu buku jemarinya.

“Dia layak mendapatkannya.” Jungkook tersenyum lalu mengecup puncak kepala Taehyung. “Aku memberitahu Yoon tentang Jimin kemarin saat soft opening, memintanya untuk yah... mungkin sekadar mencoba?”

Taehyung mendogak, kaget. “Sungguh? Kau melakukannya?” Tanyanya dan Bubble menyalak ceria seolah mengatakan 'Kau berteriak?? Ayo bermain!'

Jungkook terkekeh. “Yoon ini bukan tipe lelaki yang akan menyadari dia sedang didekati jika tidak terang-terangan jadi aku memberitahunya satu-dua hal agar dia bisa menyadari Jimin dan kurasa dia juga tertarik pada Jimin setelah kukenalkan dia padanya.”

“Kau baik sekali,” desah Taehyung lalu menyandarkan kepalanya di dada telanjang Jungkook dan menjalankan jemarinya di perut Jungkook.

“Aku mencoba merayumu dengan membantu sahabatmu. Apakah aku berhasil?” Jungkook tersenyum lebar dan Taehyung otomatis balas tersenyum.

“Kau tidak perlu merayuku karena aku dengan senang hati akan berlutut di kakimu,” Taehyung menjulurkan tangan ke tubuh Jungkook lalu meremasnya hingga Jungkook terkekeh—Taehyung suka melakukannya saat bosan, seperti hiburan untuk mengisi waktu luang.

“Jangan dibegitukan jika kau tidak ingin berkemah,” katanya geli, menyingkirkan tangan Taehyung dari tubuhnya tapi kekasihnya terus meremasnya seolah sedang bermain dengan benda kenyal pelepas stres.

“Dan kenapa kau harus berlutut di kakiku? Aku tidak ingin menempatkan siapa pun di bawahku. Kau dan aku sama tingginya; kita memutuskan apa-apa bersama.” Dia menegur Taehyung dengan lembut membelai kepalanya.

“Lho? Aku ingin memberimu blowjob kok, kenapa jadi membahas derajat, harkat dan martabat begitu?” Tukas Taehyung dan Jungkook tertawa, lepas dan menyenangkan hingga Taehyung memejamkan mata menikmati suara itu.

“Kau bahagia bersamaku?” Tanya Jungkook kemudian setelah diam.

Suasana malam mereka begitu syahdu. Semenjak tinggal di pinggiran Ubud, pukul 9 malam sudah menjadi waktu beristirahat mereka. Jalanan kampung di depan rumah mereka terasa sepi dan lenggang, persawahan yang membentang di belakang rumah menyajikan mereka suara jangkrik dan desir dedaunan padi muda tiap kali terhempas angin.

Gemericik air kolam renang mereka, aroma kamboja dan rumput basah. Tanaman pisang hias di sisi lain rumah, garasi mungil mereka: sempurna.

Semuanya terasa begitu segar dan berbeda sekali dengan apa yang biasa mereka alami di apartemen di tengah kota yang hiruk-pikuk.

Bali telah membuat mereka jatuh cinta dan betah. Hidup bersama masyarakat Bali yang ramah dan perhatian, gaya hidup yang sederhana (khususnya di bagian pinggiran Bali).

Beberapa meter dari rumah mereka ada pasar tradisional, ke sanalah Taehyung suka menghabiskan pagi butanya saat Jungkook bangun membuat sarapan.

Berjalan-jalan menikmati suasana pasar, menawar buah-buahan dan sayuran segar. Membeli sarapan unik yang belum pernah dicobanya lalu berjalan kembali pulang tanpa dikejar-kejar waktu harus berangkat pagi sekali agar tidak terkena macet.

Perubahan pola hidup membuat hubungan mereka terasa lebih segar dan ringan.

Taehyung suka sekali pilihannya untuk membeli rumah ini.

“Bahagia.” Sahutnya, merinding oleh betapa benarnya kata itu terasa di bibirnya dalam dekapan Jungkook dan mendengarkan suara detak jantungnya yang teratur.

“Sangat bahagia. Kau tidak perlu bertanya.”

Jungkook tersenyum, mengeratkan pelukannya dan mendesah panjang. “Bagaimana jika hari itu aku tidak mengomentari sup ketumbarmu, ya? Kita pasti tidak akan bertemu.”

Taehyung terbahak teringat kebodohannya jutaan tahun lalu yang dikomentari oleh chef muda berbakat.

Dia hanyalah karyawan biasa saat itu, masih second layer dan hanya mampu tinggal di kos-kosan yang walaupun lumayan eksklusif jelas berbeda dengan apartemen Jungkook.

Maka awal hubungan mereka menjadi serius adalah sebuah pengalaman yang mengubah hidup Taehyung bagaimana matanya kemudian terbuka pada dunia hingar-bingar kemewahan.

Lalu karirnya melonjak naik seolah Jungkook adalah kucing keberuntungannya dan dia mulai bisa menabung. Hidupnya mulai membaik. Memiliki mobil dan sekarang bahkan rumah.

Sungguh, siapa sangka sup ketumbarnya bisa membawa Taehyung hingga di posisi ini?

Bersama seorang chef paling baik, paling menyenangkan dan paling penyayang di seluruh dunia?

“Besok aku akan membuatkanmu sup untuk sarapan,” katanya mendongak menatap Jungkook yang tertawa. “Untuk mengenang masa lalu. Oke?”

“Oke.” Jungkook membelai wajahnya dengan buku jemarinya yang lembut. “Kali ini aku yang akan memberitahumu bedanya ketumbar dan merica.”

Taehyung terkekeh, menyusupkan diri lebih dalam ke dada Jungkook seperti seekor kucing yang bergelung di pelukan goldem retriever hangat yang ramah.

Jungkook membelai kepalanya sayang, “Ya Tuhan, aku sungguh sangat mencintaimu.” Dia merunduk, mengecup sudut bibir Taehyung sebelum mengecup bibirnya.

“You're the best thing that ever happened to me in my whole life.” Bisiknya di bibir Taehyung.

“Even better than your restaurant?”

Jungkook berhenti. “Hmm...” katanya berpura-pura berpikir dan Taehyung memukul perutnya main-main dengan suara “plak!” keras yang membuat Jungkook mengaduh.

“Kau lebih baik karena kau yang menjadikan restoran itu ada,” Jungkook kemudian mengulaskan senyuman lebarnya lalu mengerling leher Taehyung yang terbuka dan kerah V jubah mandinya yang menukik rendah dan aroma lembut sabun mandinya.

“Hmm... Kau mau berkemah, tidak?”

Taehyung memutar bola matanya. “Kenapa, sih, hormonmu itu? Tidak. Aku harus tidur. Besok aku punya janji pagi-pagi sekali dengan vendor untuk grand opening—Ooh!”

Suara Taehyung berubah menjadi desahan panjang saat tanpa aba-aba, Jungkook merunduk dan menjilat sisi lehernya dengan lidahnya yang panas.

“Jungkook,” rengek Taehyung namun pasrah saat Jungkook membaringkannya dengan lembur di ranjang.

Bubble menyalak sekali lalu dengan kesal melompat turun dari ranjang dan bergelung di kasur mungilnya di sudut ruangan, ngambek.

“Hm?” tanya Jungkook menyingkap jubah mandi Taehyung dan membelai tubuhnya dengan sentuhan selembut kelopak mawar hingga Taehyung gemetar.

“Katanya kau sudah menahan ini satu bulan, sekarang aku akan mengganti semua kesepianmu,” Jungkook merunduk, menyapukan ujung lidahnya ke pusar Taehyung hingga pemuda di bawahnya terkesirap kecil.

“Aku... ada janji!” Rengek Taehyung menyedihkan dan saat lidah panas Jungkook turun ke bawah pinggulnya, dia menyerah dan membiarkan Jungkook melakukan apa saja atas tubuhnya.

“Aku tidak dengar.” Sahut Jungkook dan Taehyung terbelah antara ingin memintanya terus mengulum tubuhnya atau mematahkan leher Jungkook.

“Kau bedebah bangsat,” keluhnya terbaring kehabisan napas di ranjang, begitu nikmat hingga kepalanya terasa lepas dari lehernya sementara Jungkook sibuk di antara kedua kakinya.

Dia menyerah pada pilihan pertama.

“OH! Jangan digigit, Jeon Jungkook!”

*

The Chef #177

“Jangan menggedor pintunya begitu!” Seru Jungkook dari dalam kamar mandi. “Let me poop in peace!”

“Kau seharusnya menjelaskan sebelum memutuskan untuk BAB!” Balas Taehyung dari luar pintu, menghantamkan kepalan tangannya lagi ke pintu kamar mandi yang malang hingga Bubble terjengkang kaget dan menyalak keras, mengibaskan ekornya dengan semangat, berpikir kedua majikannya sedang mengajaknya bermain.

“Memangnya aku bisa mengatur kapan usus besarku ingin membuang hasil ekskresi? Yang benar saja!” Sahut Jungkook, suaranya menggema dari dalam kamar mandi.

“Jeon Jungkook!”

“Sebentar, Jeon Taehyung, demi Tuhan!”

Taehyung menendang pintunya sekali lagi sebelum mendengus dan beranjak ke kamar mereka dengan Bubble yang mengekor di belakangnya. Taehyung mendudukkan diri di sofa sudut mereka yang menghadap ke kolam renang dan melirik mobilnya yang sekarang terparkir dengan mulus di garasi kecil rumah mereka.

Memang saat melihat bentuk rumahnya, Taehyung memutuskan bahwa mobil Jungkook lebih layak untuk mendapatkan tempat dan sudah mempertimbangkan untuk menjual saja mobilnya berhubung mereka sekarang bekerja di tempat yang sama.

Bayangkan bagaimana kagetnya dia saat perusahaan ekspedisi datang dan yang tiba adalah mobilnya alih-alih mobil Jungkook yang menyebut harganya saja Taehyung tidak berani.

Rumah mereka butuh banyak renovasi untuk menampung ambisi keduanya. Jungkook berencana menambah lebar dapur, Taehyung ingin menambah ruang kerja dan juga ruang garasi yang saking pasnya jika pengemudi mobilnya tidak ahli, spion dan bagian sisi mobil akan tergerus dinding saat dikeluarkan.

Namun dia tidak bisa tidak senang melihat mobilnya terparkir di garasi; hasil tabungannya yang sangat berharga (dengan sedikit suntikan dana dari Jungkook karena Tuhan tahu betapa mahal RCPP membayarnya, belum lagi kelas-kelas profesionalnya, belum lagi sesi-sesi guest chef-nya), terparkir halus dengan cat mengilat—tanpa cacat.

Bubble melompat ke pangkuannya dan bergelung, menatapnya dan mendengking meminta perhatian. Maka Taehyung mengulurkan tangan dan membelai kepalanya dan Bubble memejamkan mata. Terdengar suara flush dari kamar mandi dan Taehyung menegakkan duduknya.

Dia memicingkan mata saat Jungkook keluar dari kamar mandi dengan wajah polos tidak berdosa. “Sudah cuci tangan dengan sabun?” tanyanya.

“Sudah,” balas Jungkook memutar bola matanya.

“Kenapa yang tiba malah mobilku? Kenapa mereka memasang kitchen set? Uang dari mana?”

Jungkook tertawa serak, dia menghampiri Taehyung lalu duduk di sisinya. Menatap mobil Taehyung. “Sudah dicek? Ada yang lecet tidak?”

Taehyung memicingkan mata. “Sudah tadi. Tidak ada yang lecet.”

“Bagus, deh.” Dia lalu meregangkan tubuh dan Bubble melompat ke pangkuannya. “Jadi,” katanya menggaruk telinga Bubble. “Aku menjual apartemen dan mobilku.”

“APA?!”

Jungkook berjengit dan Bubble menyalak kaget pada Taehyung yang sekarang separo terduduk dan separo berdiri. “Serius, apakah kau tidak lelah berteriak-teriak seharian?”

“Jika saja kau berhenti membuat kepalaku pening.”

Jungkook terkekeh. “Kau sudah lihat isi rekening tabungan kita masing-masing, kan? Isinya menyedihkan. Sementara restoran masih butuh modal yang lumayan hingga kita benar-benar bisa mendapatkan profit untuk menutup semua pengeluaran termasuk gaji. Sementara kebutuhan kita juga terus berjalan.

“Katamu mobilku yang akan dikirim dan aku cek harga jual mobilmu tidak terlalu bagus jadi kukatakan pada Jimin untuk mengirim mobilmu saja lalu meminta sales Nissan menjualkan mobilku. Dan sekarang mobilku ada di tangan yang tepat, juga apartemenku. Uangnya sudah ditransfer ke rekening kita. Totalnya bisa kaulihat sendiri setelah dipotong biaya kirim mobil dan barang-barangku.

“Jadi, yah. Gunakan uangnya dengan bijak, oke?”

Taehyung menatapnya, masih tidak menyangka bahwa Jungkook benar-benar menjual apartemen dan mobilnya untuk modal usahanya. “Tapi itu... mobilmu?”

Jungkook mengendikkan bahunya ringan. “Aku tidak masalah dengan mobilmu. Harga jualnya jelek sekali, maaf. Makanya aku berpikir untuk melepaskan mobilku saja. Lagi pula di sini kita tidak terlalu sering menggunakan mobil dan kita tidak harus berangkat kerja berlawanan arah, kan?”

Taehyung masih duduk diam, mencerna segalanya.

“Oh, iya.” Jungkook menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, gestur yang selalu dilakukannya saat dia akan mengakui kesalahannya dan Taehyung menatapnya, menunggu.

“Aku juga... mengambil sedikit untuk kitchen set-nya; tidak mahal kok sungguh! Nanti kukirimkan perhitungannya. Aku tidak betah dengan dapurnya, maafkan aku!” Dia buru-buru menambahkan.

“Setelah ini aku akan kembalikan semuanya padamu, silakan atur uangnya. Aku tidak akan menyentuhnya. Semuanya untuk restoran.

“Dan kurasa kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Aku harus memastikan restoran cukup stabil secara finansial sebelum bisa mulai menyisihkan uang untuk pernikahan.” Dia menatap Taehyung dengan tatapan bersalah seperti seekor anak anjing yang menggemaskan.

“Jungkook.”

“Oh. Kau marah.”

“Apa? Tidak!”

Jungkook menatapnya. “Kau memanggilku Jungkook.”

“Aku... syok.” Taehyung menggaruk kepalanya dan menatap bergantian ke mobilnya dan dapur baru mereka yang memang tidak sekeren dapur Jungkook di apartemennya kemarin tapi setidaknya dia sekarang bisa memanggang dan memasak dengan ceria setelah kemarin bersikap seperti penderita wasir tiap kali ke dapur yang sederhana dan tidak lengkap.

“Karena?” tanya Jungkook dengan alis berkerut.

“Kau menjual mobilmu?”

Jungkook tertawa. “Lalu kenapa?” Tanyanya geli. “Sayang, ini restoranku. Tentu saja aku yang harus berkorban. Jika aku menjual mobilmu untuk keperluanku, itu baru tidak sopan.”

“Ups.” Taehyung menatapnya dengan bibir membentuk garis lurus yang menggemaskan. Merasa tersindir karena telah menggunakan uang Jungkook tanpa izinnya.

Jungkook terkekeh, meraih pemuda itu ke dalam pelukannya hingga bersandar di bahunya. “Tidak apa-apa,” katanya mengecup kening Taehyung. “Terima kasih sudah berusaha mengembalikanku ke jalur yang benar walaupun aku keliru melihatnya.”

“Tidak,” Taehyung menjalankan jemarinya ke perut Jungkook. “Aku lupa bahwa terkadang seorang chef butuh pendapat chef lain tentang masalahnya. Menurutmu, aku pasti tidak faham tentang masalahmu. Aku seharusnya menghubungi Chef Vin lebih cepat.”

“Bukan tidak faham—,” mulai Jungkook, tidak setuju pada cara Taehyung menjabarkan masalah mereka.

“Tapi memang begitu.” Taehyung mendongak, mencegah Jungkook bicara. “Beberapa jam sebelum soft opening, aku dan Yugyeom bicara. Dan kami berdua benar-benar stres karena kami menggunakan namamu dan menumu tapi tidak ada yang benar-benar bisa memasak itu kecuali dirimu sendiri.

“Yugyeom bukan cuisine chef dan dia tidak pernah bahkan jadi sous chef. Dan menjadi head chef sementara membuatnya benar-benar tertekan. Lalu di sana aku menyadari betapa sebenarnya aku dan Yugyeom tidak faham apa yang sedang kaualami dan saat mendengar bagaimana Chef Vin melakukannya; aku kemudian menyadari.

“Kau ini bajingan congkak,” Taehyung tersenyum simpul lalu menyentuh ujung hidung Jungkook dengan telunjuknya. “Tentu saja kau butuh orang yang kauhormati untuk memberitahumu apa yang benar. Tentu saja kau butuh Chef Vin, orang yang seumur hidup kauhormati untuk memukuli pantatmu karena kau nakal di sekolah. Kau tidak akan mengizinkan siapa pun memberitahumu kecuali kau sudah mengakui sendiri orang itu lebih hebat darimu.

“Benar?”

Jungkook menatapnya sejenak, mencerna kata-kata Taehyung dengan perlahan lalu mendengus. “Pintar.” Katanya tulus lalu merunduk dan mencium Taehyung yang terkekeh ceria.

“Aku tidak peduli siapa yang menyelamatkanmu,” Taehyung menatapnya. “Aku tidak butuh spotlight sebagai orang yang menyelamatkanmu atau apa. Untukku,” dia tersenyum lembut. “Kau selamat saja sudah merupakan hadiah yang luar biasa. Aku tidak peduli siapa yang membantumu bangkit karena aku tidak punya kemampuan itu, aku tidak faham apa yang sedang kaurasakan dan kaualami dan seberapa berat itu untukmu—tapi aku akan selalu menemanimu dalam prosesnya.”

Jungkook mendesah lalu menempelkan kening mereka berdua dan bernapas melalui mulutnya. Merasakan napas Taehyung menerpa wajahnya dengan lembut sebelum meraih bibir Taehyung dengan bibirnya lalu memangutnya dalam ciuman yang dalam dan lembut.

“What have I done in my previous life to even deserve you?” Bisiknya di sudut bibir Taehyung yang terkuak dan basah oleh saliva mereka.

“Being you.” Taehyung tersenyum, matanya masih terpejam. Menikmati sisa rasa Jungkook yang tertinggal di bibir dan rongga mulutnya.

Mendesah, Jungkook menurunkan Bubble dari pangkuannya lalu menyentuh bagian depan pakaian Taehyung. Menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke balik kaus Taehyung dan membelai dadanya hingga pemuda itu tercekat dan secara naluriah mendekatkan diri pada Jungkook.

Jungkook menatap wajah Taehyung yang memerah seolah terhipnotis keindahannya; bibirnya terkuak dan matanya terpejam menikmati sentuhan Jungkook yang begitu lembut ke seluruh tubuhnya yang menjerit merindukan sentuhan Jungkook.

“Sudah lama, ya?” bisik Jungkook lalu menjulurkan lidah dan menjilat cuping telinga Taehyung hingga pemuda itu mengigil. “Kau pasti sangat frustasi tidur sendirian selama ini.” Bisiknya lagi dengan suara serak sialannya.

“Kau tidak tahu rasanya, percayalah.” Balas Taehyung merengek saat ibu jari Jungkook menyentuh puncak dadanya dan mengusapnya melingkar; otak Taehyung terasa dipelintir sesuai dengan gerakan jemari Jungkook di tubuhnya. Melukiskan jejak panas yang membuatnya merinding dengan lembut.

“Aku akan membuatnya begitu lama hingga kau puas, bagaimana?” Jungkook mengecup bagian bawah telinganya, denyutan nadinya yang menggila lalu menarik ciuman malas dan basah sepanjang garis rahangnya hingga Taehyung berdeguk-deguk dan mengigil seperti seekor ikan yang dibawa naik ke permukaan.

“Ya...” desahnya panjang. “Ya, tolong. Ya...”

“Di mana kau ingin aku menyentuhmu?” Tanya Jungkook serak, membawa ciumannya turun ke leher Taehyung dan menyangga punggungnya dengan telapak tangannya saat secara refleks Taehyung melengkungkan punggungnya, mengekspos lehernya ke udara meminta Jungkook mendekat.

“Di—,” deguk Taehyung mengerang saat Jungkook menghisap kulitnya lembut lalu menjilatnya halus. “Di mana-mana.” Cekatnya nyaris tercekik napasnya sendiri. “Tolong...”

Jungkook tersenyum, menikmati suara Taehyung di telinganya. Tangannya bergerak mengusap perut Taehyung lalu turun ke rambut halus di dasar perutnya hingga Taehyung mengejang oleh sentuhannya. “Di sini?” tanyanya.

“Ya,” Taehyung terkesirap. “Ya, di sana.”

Jungkook menggerakkan jarinya turun, menyelip ke karet celana Taehyung dan membelai tubuhnya yang panas dengan ujung telunjuknya. “Di sini?”

“Ya Tuhan....” Taehyung melempar kepalanya ke belakang, terengah-engah menyedihkan dengan tangan Jungkook di punggungnya.

Menyerah, Jungkook membaringkan Taehyung di sofa panjang mereka sebelum melepaskan pakaiannya dan merunduk ke atas tubuhnya yang berkedut gelisah oleh paparan udara. Jungkook terkekeh lalu meniup tubuh Taehyung hingga pemuda itu gemetar.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Jungkook, bibirnya menyentuh permukaan kulit Taehyung dalam setiap kata yang diucapkannya dalam sentuhan sehalus sayap kupu-kupu yang membuat Taehyung nyaris sinting.

“Tolong...” Mohon Taehyung mengigil, tangannya yang buta bergerak meraih kepala Jungkook dan memaksanya merunduk.

Jungkook menurutinya, mengecup Taehyung hingga pemuda itu mendesah begitu keras hingga tubuh Jungkook terasa dipecuti gairah. Dia menggertakkan rahangnya sebelum kemudian membuka mulutnya dan memeluk Taehyung yang langsung berteriak nyaring dan panjang seperti seekor serigala.

“Kasihan,” Jungkook menarik mulutnya, terkekeh terhibur. “Sebegitunya merindukanku, ya?” Tanyanya membelai bagian dalam paha Taehyung dan tersenyum mengamati betapa indahnya Taehyung yang terbaring di sofa dengan wajah merah padam.

Dia kembali merunduk, memeluk Taehyung dalam rongga mulutnya dan sebelum dia bisa bersikap brengsek, Taehyung merangkulkan kakinya ke leher Jungkook dan menahannya di sana.

“Tolong gunakan mulut bangsatmu itu untuk sesuatu yang berguna.” Geramnya dan Jungkook tertawa tanpa suara dan tanpa aba-aba, menghisap lembut hingga Taehyung terkesirap keras—begitu keras hingga Jungkook merasa tetangga mereka pasti mendengarnya.

Punggungnya melengkung di atas sofa lalu kembali mendarat ke sofa dengan suara debam lembut dan meremas bantalan sofa dengan kedua tangannya. Nampak benar-benar mabuk oleh rasa nikmat yang diberikan Jungkook hanya dengan mulutnya.

Dia akan membuat ini begitu lama hingga Taehyung tersiksa.

*

The Chef #170

Soft Opening Night

“Saya sudah dengar banyak tentangmu dari Jungkook.” Vindex menatap Taehyung. “Saya juga sudah dengar semua masalahnya tadi setiba saya di Bali kami langsung bertemu.”

Dia lalu menepuk bahu Taehyung akrab. “Jungkook itu bukan tipe lelaki yang mudah dihadapi. Kami para chef adalah bajingan congkak yang tidak pernah puas dengan ambisi.

Maka saat dia mengatakan dia butuh istirahat, dia memang butuh istirahat. Sebenarnya semua sesederhana itu,” dia tersenyum sementara Jungkook mengitari ruangan, menyapa semua teman-temannya setelah melepas topi chef yang membuat rambutnya basah oleh keringat.

“Tapi saya tahu,” tambahnya. “Kau hanya ingin membuatnya senang. Mengembalikannya ke bawah lampu sorot. Tapi terkadang mendesaknya terus tidak baik, dia akan kembali saat dia ingin. Ini dunianya, separuh kehidupannya jadi dia tidak mungkin melepaskannya begitu saja tanpa perlawanan.”

Taehyung menatap Jungkook yang sekarang menggendong anak lelaki Arnold yang tembam bermata bulat di pinggangnya dengan ceria; nampak... sangat cocok. Mereka sedang mengobrol; Arnold, Juna dan Jungkook seperti trio kawan lama yang punya banyak cerita untuk dibagikan.

“Bagaimana Anda melakukannya?” Tanya Taehyung menoleh ke Vindex yang sekarang juga sedang menatap Jungkook dengan sorot penuh rasa bangga seorang ayah. “Kami tidak pernah berhasil melakukannya.”

Vindex menyesap sampanye di tangannya. “Hanya mengobrol.” Dia tersenyum. “Dengan Jungkook, kau hanya harus bersikap logis dan tegas. Ingat,” dia menatap Taehyung. “Tegas dan amarah sangatlah berbeda.”

*

“Sama sekali?”

Jungkook menatap chef senior di hadapannya dengan tatapan nanar yang pasrah. “Sama sekali.” Dia meraih pasta cabai yang selalu di bawanya dan memijit kemasannya hingga secuil pasta keluar dari bagian atasnya lalu menyoleknya dengan telunjuk dan membawanya ke lidahnya.

Dia menyesapnya dan menggeleng. “Sama sekali tidak ada.”

Vindex menatapnya dengan alis berkerut. “Setelah benturan kedua dan operasinya, lidahmu belum sama sekali menunjukkan perkembangan?”

“Sekali,” aku Jungkook meletakkan pasta cabainya di meja.

Vindex, setelah menerima telepon Jungkook langsung menjadwalkan ulang penerbangannya dan tiba di Bali tiga jam dari jadwal penerbangan sebelumnya dan Jungkook sudah menelepon bagian resepsionis untuk mengirim driver ke bandara, menjemput tamunya.

Dan sekarang kedua chef itu duduk berhadapan di ruang tamu kecil kamar Jungkook.

“Pahit.” Jungkook menatap Vindex. “Lalu setelahnya lenyap kembali.”

Vindex menyandarkan tubuhnya di kursi sementara Jungkook mengusap rambutnya. Mereka bersidiam sejenak, tidak saling menatap. Kemudian Vindex mendesah panjang.

“Lalu selama ini yang mengurus semua restoranmu adalah Taehyung?”

Jungkook mengangguk. Menumpukan kedua sikunya di atas lututnya dan menunduk, memejamkan mata sementara kepalanya berdentam-dentam mengeringan. “Dia sama sekali tidak memberitahuku tentang pembangunan restoran itu. Aku baru tahu semalam dan hari ini soft opening.”

Dia mendongak, menatap Vindex yang menyandarkan kedua lengannya di sandaran lengan kursi yang didudukinya. “Aku... tidak yakin aku bisa melakukannya, Chef.”

Vindex menatapnya. “Kenapa?”

Jungkook mengerjap. “Karena aku cacat?”

“Cacat bagaimana?”

“Lidahku tidak bisa merasakan apa pun.”

“Benar. Tapi seluruh tubuhmu yang lain? Mereka sehat, kan?”

“Sehat, Chef.”

“Bagian mana lagi dari dirimu yang terasa sakit dan tidak nyaman selain lidahmu?”

Jungkook menatap Vindex, tidak memahami arah pembicaraan mereka lalu menyentuh kepalanya sendiri. “Kepalaku.” Katanya lemah. “Terlalu banyak pikiran yang menyakitiku belakangan ini. Seperti kanker ganas yang membuat tidurku tidak nyenyak, rasanya sakit sekali.

“Bahkan hal sesederhana berpikir membuat otakku nyeri. Aku ingin berhenti berpikir. Ingin membuka tempurung kepalaku lalu mengeluarkan otakku hanya agar aku bisa berhenti berpikir sebentar saja karena sungguh, di dalam sana begitu menyakitkan.”

“Boy,” Vindex menepuk bahunya lalu meremasnya dengan lembut. “Terkadang saat kau memikirkan terlalu banyak hal kau lupa untuk menghadapinya. Masalahmu hanya akan selesai jika kau menghadapinya. Berhenti khawatir sejenak dan hadapi saja—gagal atau berhasil, itu adalah hadiah. Proses sebenarnya adalah bagaimana kau bangkit untuk menghadapi masalahmu.

“Dalam pikiranmu, mungkin masalah itu terasa begitu berat dan menyesakkan tapi setelah kau menghadapinya, kau pasti menyadari betapa masalah itu tidak punya kuasa atas dirimu sendiri. Kau yang memberikan masalah itu kuasa atas hidupmu.

“Kau seorang chef,” Vindex meraih kedua tangan Jungkook dan menengadahkannya hingga Jungkook menatap telapak tangannya sendiri. “Memasak itu identitasmu, separuh hidupmu. Aku yakin kau bisa melakukannya bahkan tanpa berpikir.

“Kau sekarang hanya sedang cemas. Cemas akan hal yang sebenarnya tidak ada. Kau cemas tentang bagaimana orang-orang akan memandangmu setelah ini karena bagaimana bisa seorang chef tidak memiliki indera perasa? Bagaimana mereka akan berhenti menghormatimu hanya karena kau tidak bisa merasakan kembali?

“Kau takut. Aku faham sekali. Tapi, Boy, ketakutan itu tidak perlu diberi makan terus menerus. Malam ini soft opening restoranmu, banyak teman-temanmu yang diundang. Mereka di sana adalah timmu, mereka membutuhkanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk datang ke sana dan memasak—aku tahu kau memasak karena itu adalah bakatmu, passion-mu dan apa pun yang dipaksakan tidak akan berakhir baik.

“Aku hanya akan memintamu mempertimbangkan ini.”

Vindex menatapnya. “Kau adalah seorang chef. Kau adalah chef paling ambisius, paling keras kepala, paling congkak dan paling berbakat yang pernah kutemui. Maka aku mendampingimu, membimbingmu terus hingga kau tiba di titik puncak.

“Dan kau membuktikannya pada semua orang; membungkam mereka yang memandangmu sebelah mata, meremehkan tekad dan ambisimu. Membuat mereka tunduk di kakimu oleh bakat yang kauasah terus-menerus dibahanbakari oleh kekeraskepalaanmu.

“Kau menunjukkan kekuatan dan daya tahan yang luar biasa saat bekerja di bawah tekanan. Kau berhasil mengalahkan hal-hal mustahil dan menjadikannya mungkin. Kau berbakat, Jungkook. Kau sangat berbakat. Tidak pernah membiarkan siapa pun dan apa pun memukulmu mundur, bahkan kemustahilan pun tidak.

“Lalu, apakah kau akan membiarkan keadaan mengalahkanmu sekarang?” Vindex menatapnya lalu menyunggingkan senyuman, menepuk tangan Jungkook yang sehat.

“Atau kau yang mengalahkan keadaan? Seperti biasa?”

*

“Selamat malam.”

Jungkook diam sejenak dan tersenyum lebar saat seluruh ruangan bertepuk tangan meriah setelah dia berdiri di panggung kecil bersama band yang sejak tadi memainkan lagu-lagu kesukaannya dengan mendayu-dayu lirih. Jungkook menanti hingga semua orang berhenti bertepuk tangan sebelum berdeham dan menerima pengeras suara dari vokalis band di sisinya.

“Sepertinya saya tidak perlu pengeras suara,” katanya mengembalikan pengeras suara di tangannya ke vokalis band yang menerimanya dengan kikuk. “Saya terbiasa berteriak-teriak di dapur jadi tidak masalah, ya?” Tanyanya ke seluruh tamu yang sekarang tertawa.

“Selamat malam sekali lagi kepada seluruh rekan dan senior saya di dunia kulinari,” Jungkook menebarkan senyuman ke seluruh penjuru ruangan. Suaranya yang sudah terlatih untuk berteriak mengalahkan suara-suara berisik di dalam dapur menjangkau ke seluruh ruangan dalam pantulan suara yang tenang dan jernih.

Senang saat merasakan deru darah di pembuluh darahnya dan bagaimana hal ini memberikannya suntikan rasa semangat yang belum pernah dirasakannya lagi. Adrenalin mengisi seluruh dirinya hingga dia pening dan sudah sangat lama semenjak dia berdiri di tengah ruangan, menjadi pusat perhatian dan menerima pujian atas semua menu yang dihidangkannya malam ini.

Jungkook baru menyadari betapa dia sangat merindukan pekerjaan ini.

Hal yang dulu memberi makna pada hidupnya saat dia merasa tidak lagi memiliki tujuan atas hidupnya yang menyedihkan. Memberikannya semangat untuk terus melangkah maju mengejar satu-satunya mimpi yang mengikatnya terus ke bumi.

Satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan hidup.

Satu-satunya sebelum dia bertemu Kim Taehyung.

“Saya merasa sangat terhormat karena Anda semua berkenan meluangkan waktu Anda di tengah-tengah kesibukan masing-masing untuk berbagi kebahagiaan bersama saya atas pendirian restoran baru saya yang sesungguhnya—,” mata Jungkook bergulir ke Taehyung yang berdiri di sisi meja Vindex, sejak malam dimulai tidak meninggalkan sisi tamu istimewa Jungkook itu sama sekali.

“Tidak akan pernah berdiri jika bukan tanpa dedikasi, cinta dan kesabaran kekasih saya, Kim Taehyung.” Dia menatap langsung ke mata Taehyung yang sekarang menghela napas panjang dan tersenyum saat ruangan bertepuk tangan padanya.

Taehyung melangkah maju dalam dua langkah panjang, berbalik menghadap ruangan dan membungkuk singkat berterima kasih sebelum kembali ke sisi Vindex yang menyalaminya hangat.

“Proyek ini sebenarnya sudah saya batalkan,” Jungkook memulai kembali. “Karena... ada banyak hal yang terjadi selama ini.” Dia menatap Vindex yang mengangguk menyemangatinya. “Saya merasa saya tidak layak menjadi seorang chef lagi setelah kejadian itu dan memutuskan untuk membatalkan pendirian restoran ini. Namun Kim Taehyung dengan seluruh tekadnya membawa saya kembali ke dunia ini, menerjang segala halangan untuk mewujudkan mimpi yang saya sendiri sudah lepaskan.

“Tanpanya, saya mungkin masih tersesat dan melepaskan satu-satunya mimpi yang membuat saya terus bisa bertahan hidup.” Dia menghela napas, menatap ruangan yang sekarang balas menatapnya, mendengarkan dengan sopan.

“Kemudian Chef Vin,” Jungkook tersenyum lalu mendesah keras dan menelengkan wajahnya ke kanan, memasang wajah menyerah yang jenaka. “Selalu dan selalu Chef Vin, kan?”

Seluruh ruangan, khususnya para chef yang sudah sejak lama mengetahui sepak-terjang Jungkook dalam dunia kulinari, tertawa.

“Memang selalu Chef Vin.” Arnold bersidekap, bersandar di kursinya dan mengangguk-angguk serius hingga beberapa chef kembali tertawa.

“Hei. Apa lagi salahku?” Balas Vindex, menoleh ke arah Arnold yang tertawa dan balas tertawa.

Jungkook tertawa lalu melanjutkan dengan suaranya yang keras dan membuat semuanya kembali hening. “Chef Vin membantu saya untuk meyakinkan diri bahwa terlepas dari apa yang sekarang terjadi pada tubuh saya, bakat saya dalam dunia memasak tidak akan mati semudah itu hanya karena satu dan lain hal.”

Dia menghela napas lalu tersenyum. “Maka di sinilah saya sekarang, menyambut Anda semua sekalian dalam balutan seragam kebanggaan kita semua alih-alih bergelung di kamar yang gelap mengasihani diri saya sendiri.

“Terima kasih atas dukungan dari semua pihak hingga saya bisa berdiri di sini, saat ini. Saya tidak akan pernah bisa melakukannya sendiri; ada banyak bantuan dan dukungan yang mungkin luput saya perhatikan dan apresiasi selama ini. Orang-orang yang membantu saja menjadi diri saya hari ini dengan segala prestasi yang gemilang.

“Terima kasih banyak atas bantuan, didikan dan bimbingan Anda-Anda sekalian selama ini dan saya berharap makanan yang terhidang di meja Anda malam ini terasa sama luar biasanya dengan perasaan saya saat memasaknya untuk Anda sekalian.”

Lalu dia meraih gelas sampanyenya dan mengangkatnya ke udara, “Untuk kita semua.”

Taehyung mengangkat gelasnya. “Untuk Jeon Jungkook.” Koreksinya dan Vindex tertawa dan menyusulnya berdiri dengan gelas di tangannya.

“Untuk Jeon Jungkook.” Balasnya dan seluruh ruangan berdiri dengan suara derit kursi menyapu lantai yang seragam.

“Untuk Jeon Jungkook.” Mereka mengangkat gelasnya lalu meneguk isinya sementara Jungkook di panggung menatap Taehyung dengan tatapan penuh cinta dan kebanggaan yang membuat perut Taehyung melilit oleh rasa cinta.

Jungkook menuruni panggung dan membiarkan band melanjutkan lagu setelah tepuk tangan meriah turun dan makanan penutup mulai dihidangkan. Piring-piring dibereskan dengan suara dentang-dentang yang akrab dengan seluruh diri Jungkook yang menghabiskan nyaris separuh usianya di dapur. Dia menghampiri Taehyung, meraih pinggangnya lalu mencium bibirnya.

“Menikahlah denganku.” Katanya menatap mata Taehyung seolah terhipnotis dan pemuda dalam pelukannya tertawa.

Dia mengangkat tangannya, memamerkan cincin yang melingkar di jarinya. “Kau sudah melamarku lima kali,” dia nyengir. “Sekarang saatnya menggelar pernikahannya, bukan melamarku berulang-ulang kali, Bodoh.”

Jungkook masih menatapnya, nampak seperti orang buta yang baru pertama kali menatap cahaya. Terhipnotis sepenuhnya oleh senyuman Taehyung dan dia bahkan tidak berkedip. Tidak mengindahkan gurauan Taehyung sama sekali saat dia kembali mengecup bibirnya dan mengangguk.

“Baiklah. Wedding it is. Kau pilih tempatnya.”

Jantung Taehyung terasa berhenti berdetak untuk satu detik yang terasa lama. “Apa?” Tanyanya kebingungan sekaligus merinding oleh rasa bahagia. Jungkook sedang bercanda, ya? Mereka akan sungguh-sungguh menikah?

“Ayo menikah,” ulang Jungkook tenang, matanya menatap langsung ke mata Taehyung dan membuatnya merasa seolah sedang ditelanjangi. “Tinggal sebutkan tempat dan tanggalnya. I'll make it happen.”

Taehyung tersenyum simpul mendengar kecongkakan dan percaya diri Jungkook yang menetes dari bibirnya yang manis. “Seperti Bandung Bondowoso?”

“Persis.”

Taehyung merangkulkan kedua lengannya di leher Jungkook dan tersenyum. “Baik.” Katanya mengerling Jungkook. “Ayo menikah.” Lalu menarik tengkuk Jungkook mendekat ke arahnya dan mencium bibirnya.

“Ya. Ayo menikah,” bisik Jungkook di bibirnya yang terkuak dan tersenyum lebar sementara satu ruangan mulai bertepuk tangan lagi dengan meriah.

*

The Chef #167

Taehyung menghela napas dalam-dalam.

Meja-meja sudah ditata dengan masing-masing buket bunga mungil segar di atasnya dengan standing acrylic yang terisi nama-nama tamu sesuai dengan meja mereka. Dia berdiri di tengah ruangan sementara anak servis mondar-mandir di sekitarnya menyiapkan soft opening mereka malam ini yang akan dihadiri jajaran chef profesional Indonesia.

Semua sudah disiapkan sejak pagi, dapur sudah sibuk dengan tim lengkap yang dipimpin Yugyeom walaupun sebenarnya hasil masakannya tidak terlalu mendekati masakan Jungkook. Resepnya boleh saja lengkap dan sangat detail, tapi hanya Jungkook yang tahu bagaimana mengeksekusi resep itu dengan baik. Belum lagi Yugyeom adalah pastry chef—dia pernah belajar cuisine selama di sekolah kulinari tapi dia tidak pernah menekuninya dengan serius.

Tidak seserius Jungkook melakukannya.

Taehyung melirik jam tangannya, sudah jam enam sore tapi Jungkook tidak juga memberinya kabar. Hal terakhir yang dibicarakannya hanya anak kucing abu-abu yang dipungutnya entah dimana dan Taehyung mendesah panjang; memijat pelipisnya yang terasa nyeri.

Dia sudah melompat ke dalam kolam, pilihannya tenggelam atau berenang.

Maka dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menghadapi apa pun yang akan terjadi. Jungkook berhak mendapatkan waktunya sendiri dan Taehyung harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri tanpa sepengetahuan Jungkook. Walaupun terasa dingin dan jahat, Jungkook benar.

Ini tanggung jawab Taehyung. Dia sendiri yang melakukannya tanpa Jungkook minta, jadi kenapa dia harus berharap Jungkook akan menyukainya? Dia berhak untuk tidak menyukai sesuatu yang tidak diharapkannya.

Bagi Taehyung ini adalah sebuah hadiah.

Maka Jungkook berhak menolaknya jika dia merasa dia tidak menyukainya dan Taehyung tidak perlu bersedih atas penolakan itu. Karena dia menyiapkan ini sebagai hadiah dan tidak ada kewajiban bagi Jungkook untuk menerimanya. Sekarang, dia akan mengurus hadiah ini dengan tenaganya sendiri.

Setelah grand opening, dia akan mengadakan rapat dengan para chef untuk menyusun menu walaupun dia benar-benar tidak faham bagaimana caranya tapi setidaknya dia punya sous chef berpengalaman yang faham. Dia yakin dia akan baik-baik saja setidaknya sampai Jungkook luluh.

Tamu-tamu dijadwalkan untuk tiba pukul tujuh malam dan band penghibur mereka sudah bersiaga di panggung kecil di sudut ruangan, melakukan check sound sejak sore tadi dan sekarang memainkan lagu-lagu klasik kesukaan Jungkook dengan mendayu-dayu. Taehyung juga sudah menyiapkan naskah untuk digunakannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tamu.

“Jungkook sakit, dia tidak bisa menghadiri soft opening. Dia meminta maaf sedalam-dalamnya atas ketidak-profesionalitasannya hari ini dan berjanji akan menghadiri acara grand opening-nya.”

Walaupun jelas semua chef yang datang malam ini hanya menanti kehadiran Jungkook tapi Taehyung telah gagal meyakinkan Jungkook bahkan di menit-menit terakhir. Jadi dia menyerah dan memasrahkan seluruhnya pada keadaan; dia sudah melakukan yang terbaik.

Dia juga tidak ingin menekan Jungkook terlalu kuat dalam hal ini.

Pukul enam tiga puluh.

Semuanya sudah siap dengan sempurna. Taehyung meluncur mengelilingi ruangan untuk mengecek semuanya sesuai dengan planner yang dipegangnya. Dia memastikan semua acrylic nama cocok dengan mejanya dan pasangan duduknya, dia memastikan semua alat makan sudah dipoles, memastikan semua serbet rapi dan simetris.

Dia membawa nama Jungkook malam ini di hadapan seluruh rekan kerja dan seniornya, maka dia tidak akan membiarkan kecacatan apa pun merusaknya. Dia melongok ke dapur yang sibuk; suara api yang mendesis, teriakan orang-orang bersahut-sahutan ditingkahi suara denting peralatan masak dan desis api serta suara Yugyeom yang mengecek hot kitchen.

“Aku tegang sekali.” Katanya tadi sore, pertama kalinya merokok dengan wajah suntuk. “Aku belum pernah memimpin tim hot dan cold kitchen mempersiapkan five course meal untuk 50 pax.” Dia menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya naik sebelum memijat pangkal hidungnya.

Taehyung berdiri di sisinya. Teringat kata-kata Jungkook: 'Menjadi chef bukan sekadar memasak makanan dan menjadi seksi dalam balutan seragam.'

Mungkin itulah yang dirasakan Yugyeom sekarang.

Bagaimana seluruh tamu agung itu adalah ahli di bidangnya dan Yugyeom belum memiliki kemampuan cuisine bahkan setengah dari kemampuan Jungkook. Dia sekarang harus memimpin satu tim untuk mengeksekusi resep Jungkook yang selalu membuatnya mengerang oleh rasa tegang.

“Aku harus mengurus mereka semua,” dia bergidik. “Kupikir dulu menjadi head chef pastilah menyenangkan karena kau hanya perlu marah-marah dan bersikap bajingan sepanjang waktu.

“Lalu ketika beban itu ditimpakan padaku, bum! Aku sekarang ingin sekali meneriaki wajah orang-orang dan benar-benar jengkel saat mereka tidak bergerak dengan cepat.

“Kurasa kita memang tidak bisa menilai orang lain sebelum benar-benar mengalami apa yang dialaminya secara langsung.”

Yugyeom menghembuskan asap rokoknya, membiarkan kalimat terakhirnya melayang di udara mereka dan meresap ke dalam paru-paru dan hati mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang memahami betul apa yang dirasakan Jungkook sekarang dan mereka sudah dengan tidak sopan berpikir mereka berhak menentukan kapan Jungkook siap untuk bergerak kembali.

“Aku akan memberikan apa pun,” katanya melempar puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. “Apa pun agar Jungkook muncul di kitchen, memimpin tim sesuai dengan keinginannya. Menyelamatkan makan malam ini. Karena sungguh, aku tidak yakin aku bisa melakukannya.”

'Aku tidak yakin aku bisa memimpin tim.'

Taehyung memijat pelipisnya yang berdenyut mengerikan lalu menutup pintu dapur, membiarkan suara keriuhan dapur tenggelam bersama tertutupnya pintu ganda. Bersandar di pintu pendingin dan bernapas melalui mulutnya. Kepalanya berdenyut mengerikan karena ketegangan.

Dia akan menyambut semua senior Jungkook tanpa Jungkook malam ini.

Benar.

Mereka semua tidak faham apa yang dirasakan Jungkook. Berdiri di sana, memimpin puluhan anak buah; sous chef, CDP, DCDP dan commis untuk memberi makan orang-orang kelaparan dengan tepat waktu. Dengan enak dan lancar. Menjadi chef bukan sekadar menjadi keren dalam balutan seragam dan topi tinggi.

Dia sedang memejamkan mata saat seorang anak servis menghampirinya. “Pak,” katanya pelan-pelan dan Taehyung membuka matanya.

“Oh, ya?” Dia menegakkan tubuhnya. “Maaf, kenapa?”

Anak itu mengangguk. “Tamu reservasi meja satu VIP sudah datang, Pak. Katanya ingin bertemu Bapak dulu.”

Taehyung mengecek planner-nya; mengecek nama yang mengisi meja 1 VIP. “Siapa, ya?” Dia bergegas melangkah menuju bagian depan restoran diikuti oleh anak servis yang tergopoh-gopoh dalam balutan seragamnya yang ketat dengan heels yang menimbulkan suara 'tak! tak! tak!' nyaring dalam setiap langkahnya.

Taehyung mendorong pintu ke arah area restoran dan langsung bertemu mata dengan lelaki paruh baya yang tersenyum hangat padanya. Dia berdiri dengan pakaian kasual dan celana jins, nampak masih kuat dan muda. Mengamati restoran dengan tertarik dan puas seperti seorang ayah yang melihat hasil prakarya anaknya mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya.

“Beliau Chef Vindex, Pak.” Kata anak servis di belakangnya tepat saat Taehyung membalas senyuman chef senior itu.

“Chef,” sapa Taehyung tersenyum ramah langsung mengangguk berterima kasih pada anak servis lalu menghampiri Vindex yang melangkah ke arahnya juga. Mereka bertemu di tengah ruangan dan Taehyung langsung mengulurkan tangannya yang dibalas dengan jabatan tangan yang hangat. “Senang bertemu dengan Anda.”

“Taehyung.” Chef itu tersenyum. “Saya sudah dengar banyak tentangmu.” Dia menepuk tangan Taehyung akrab. “Saya tiba terlalu awal, ya? Penerbangan saya di-reschedule dan saya tiba lebih sore dari seharusnya. Daripada menghabiskan waktu dengan termangu di kamar, saya memutuskan untuk datang saja. Apakah tidak masalah?”

“Tidak, sama sekali tidak, Chef.” Taehyung mengulaskan senyumannya yang cerah lalu membimbing Vindex ke mejanya, meja paling depan dekat dengan showing kitchen. Juru masak itu meraih tempat duduknya dan duduk sesuai dengan namanya.

“Saya tadi datang bersama teman saya tapi sepertinya dia sedang ke toilet.” Dia tersenyum.

“Oh, tidak apa-apa, Chef.” Dia kemudian mencatat di kepalanya untuk menggeser satu nama demi memberikan satu kursi bagi teman Vindex walaupun pada awal reservasinya, dia mengatakan akan tiba sendirian.

“Silakan duduk, Chef. Anda ingin minum sesuatu?” Taehyung sendiri yang meraih menu terlipat di atas meja dan membukanya untuk dibaca oleh Vindex. “Sembari menunggu para tamu lain.”

Vindex menatap menu lalu tersenyum. “Bagaimana jika saya bertemu Jungkook sebelum semua tamu datang? Sudah lama sekali saya tidak bertemu Jungkook.” Dia mendongak menatap Taehyung. “Dan air putih saja untuk sekarang.”

Taehyung menelan ludah, apa yang harus dikatakannya?

*

Yugyeom mulai uring-uringan.

Dia mendadak tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya padahal dua hari lalu saat mereka mencoba semua menu Jungkook, dia faham. Dia merasa percaya diri untuk memimpin timnya. Namun menjadi head chef dengan tamu sungguhan yang menunggu makanan ternyata tidak semenyenangkan apa yang dipikirkannya.

Dia lebih suka kembali ke pastry section, men-temper cokelat atau mencetak ribuan choux daripada harus menyicipi semua saus, mengecek tingkat kematangan semua protein dan memastikan semua kondimen disiapkan tepat waktu bersamaan dengan semua susunannya untuk di-plating.

Tidak ada yang boleh tertinggal di belakang. Protein, saus dan salad harus tiba di meja plating bersamaan. Begitulah Jungkook selalu menetapkan standarnya.

Dia berdiri di meja plating, menyiapkan semuanya dengan sous chef-nya. Mengecek semua daging dan saus, berteriak marah saat ada yang tidak sesuai dan tidak jarang menyambar sendiri frying pan-nya dan memasak makanan itu sendiri dengan wajah keras yang merah padam oleh amarah.

Yugyeom hanya pernah bekerja bersama Jungkook sekali, dan dia tahu betapa gilanya Jungkook pada standar. Dia tidak suka jika ada setitik saus pun yang jatuh di piring tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Maka dia pasti sudah sinting karena dia berharap dia bisa mengeksekusi menu Jungkook dan dihidangkan atas namanya kepada seluruh rekan kerjanya dan juga seniornya.

“Aku lebih suka membuat choux. Sungguh.” Keluhnya menyedihkan saat bergerak menyelip di antara para commis untuk mengecek saus dan daging yang sedang dimasak untuk appetizer.

Nampan-nampan dengan lusinan canape mungil sudah dibawa keluar oleh beberapa anak servis beserta cocktail-cocktail dalam gelas anggun yang sejak sore tadi disiapkan bartender. Keluarnya canape menandakan mulainya hot kitchen menyiapkan appetizer karena tamu-tamu akan mulai berdatangan untuk makan.

Mereka datang untuk makan.

Ini restoran, bukan lagi hotel sebagaimana tempat Yugyeom dulu bekerja. Mereka kemari untuk makanannya, bukan menginap, berenang atau pergi ke pusat kebugaran. Mereka datang dalam keadaan lapar untuk makan. Hal itu sangat berbeda.

Dia sedang meraih sendok untuk menyicipi saus saat seseorang mendorong pintu ganda dapur terbuka dengan berisik dan bersiul nyaring. Yugyeom sudah menghela napas akan meneriaki orang itu dengan kata kasar saat orang itu berdecak keras.

Yugyeom mengenali suara itu.

“Wah. Kacau sekali, ya.”

Dia berhenti bekerja. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia memejamkan mata; ketegangan yang sejak tadi bergelayut di tubuhnya meluruh menjadi genangan lengket di lantai tempatnya berdiri, sendoknya jatuh ke konter dengan dramatis dan menimbulkan suara dentang nyaring yang menggema ke seluruh ruangan. Dia harus berpegangan pada sisi konter dapur karena lututnya terasa lemas oleh rasa syukur yang dahsyat.

“Kau bajingan bangsat,” katanya lalu tertawa terbahak-bahak histeris dan berbalik, menemukan satu-satunya sahabatnya.

Jeon Jungkook.

Sedang berdiri di tengah dapur dengan seragamnya yang licin dan rapi, apron yang diikat kencang ke pinggang rampingnya serta rambut yang sudah diikat rapi dengan harnet tipis.

“Kau bedebah bangsat!” Yugyeom menerobos semua commis dan meluncur ke arah Jungkook yang tertawa serak, dia merengkuh tubuh sahabatnya dalam pelukan hangat yang membuat Jungkook tercekik. “Kau nyaris mempertaruhkan leherku! Kau nyaris membunuhku!”

Jungkook tertawa. “Iya, iya, aku juga mencintaimu.” Sahutnya lalu meraih topi yang digunakan Yugyeom dan menggantinya dengan topi lain yang lebih pendek untuk pastry chef.

Dia mengenakan topi head chef itu dan meluruskannya dengan lengannya. “Wow. It's nice to be back.” Desahnya saat topi itu terpasang pas di kepalanya.

Yugyeom mengusap air matanya dan tertawa gemetar, meluruskan topinya yang sekarang tidak terasa berat sama sekali karena Jeon Jungkook di sini. Dia akan bekerja seperti badai yang menghasilkan makanan lezat sesuai dengan standar sintingnya.

“Halo,” katanya kemudian pada seluruh dapur yang langsung berhenti bekerja saat mendengar suara alfanya yang serak. Dia mengedarkan padangannya ke seluruh section dengan ringkas lalu berdecak keras dengan jengkel.

Ini dia. Jeon Jungkook telah kembali.

“Kau,” panggilnya pada seorang commis di balik kompor. “Angkat sikumu!” Katanya berdecak. “Kau hanya akan membuat saus dan seragammu gosong.” Dia membentuk lengannya sendiri, “Lakukan begini.” Dia menyontohkannya dengan gerakan seanggun penari. “Kau lulus sekolah tidak, sih?”

Yugyeom mendapati dirinya tertawa dalam kelegaan yang melumpuhkan.

“Kau,” dia mendelik pada satu commis lagi yang sedang memotong bahan. “Kita akan memberi makan mereka malam ini. Jika kau memotong bawangmu selamban siput, mereka akan mendapat makanannya setidaknya besok. Sekolahmu tidak mengajarimu cara chopping, ya?”

Lalu dia mendesah. “Kacau sekali. Head chef kalian tadi memang tidak kompeten.” Dia mengerling Yugyeom dan menyunggingkan senyuman separonya yang congkak dan Yugyeom menatapnya, setengah ingin mematahkan leher Jungkook agar dia diam atau menciumnya.

“Saya Jeon Jungkook. Saya pemilik restoran dan kepala chef kalian malam ini serta seterusnya. Dan hal yang sangat saya benci adalah,” dia mengacungkan kepalan tangannya ke udara untuk dilihat semua orang.

“Satu, makanan mentah,” dia mengangkat telunjuknya. “Dua, makanan gosong,” dia menangkat jari tengahnya. “Tiga, makanan terlambat.” Dia menambahkan jari manisnya. “Empat, obrolan dalam bekerja yang tidak dibutuhkan.”

Dia mengangkat kelingkingnya. “Dan yang terakhir,” dia membuka jempolnya hingga sekarang telapak tanganny terpampang menghadap ke semua commis yang menatapnya dengan rasa hormat baru. “Tamu yang kecewa. Kalian semua faham?”

“Siap! Faham, Chef!”

“Apa yang saya benci?” Dia mengacungkan telunjuknya ke udara.

“Makanan mentah!” Sahut semuanya serentak, bahkan Yugyeom di sisinya. Jungkook mengangguk, memejamkan mata mendengarkan dengan saksama.

“Dua?” Dia mengangkat jari tengahnya.

“Makanan gosong!”

Jari manis, “Tiga?”

“Makanan terlambat!”

Kelingking, “Empat?”

“Obrolan tidak penting!”

Ibu jari, “Lima?”

“Tamu yang kecewa!”

Dia membuka mata dan menatap seluruh timnya satu per satu di matanya. “Semua orang di luar sana adalah tamu penting saya. Kita tidak bisa gagal karena kita tidak boleh gagal. Faham?”

“Siap! Faham, Chef!”

“Good. Sekarang ayo kita beri makan mereka semua.”

Dia baru saja akan beranjak ke meja plating saat pintu kitchen yang mengarah ke restoran menjeblak terbuka dan kedua daun pintunya menghantam dinding dengan suara keras yang dramatis.

“Demi Tuhan, ada apa ini!?” Seru Jungkook seketika lalu terkesirap keras saat sesosok tubuh berlari nyaris selincah cheetah langsing yang langsung melenting dan melompat ke arahnya, mengulurkan kedua lengannya untuk memeluknya lehernya.

Jungkook secara refleks meraih tubuh itu dengan kedua lengannya yang kuat, terhuyung ke belakang menerima bobot itu namun berhasil menjejak kakinya yang terlapis safety shoes dengan kuat di lantai.

Tubuh itu mengunci kedua kakinya di pinggang Jungkook lalu mencabut topinya, menyambar rambutnya dan mencium bibirnya dengan suara keras yang menggema ke seluruh dapur hingga semua tim seketika mengalihkan padangan dengan sopan.

Taehyung menjambak rambutnya dan menggeram di bibirnya. “Bajingan!” geramnya lalu kembali mencium Jungkook yang terkekeh.

“Halo juga, Sayang.”

“Jangan panggil aku begitu!”

“Oh baiklah, Taehyung.”

“Jangan panggil aku begitu!”

“Lalu apaa?!”

“Kau benar-benar—!” Taehyung menarik rambutnya hingga Jungkook terkesirap kaget terhibur dan memaksanya mendongak sebelum menciumnya kembali; kali ini jauh lebih dalam dan penuh amarah lalu mengigit bibirnya.

“Aduh!” Jungkook seketika melepaskan bibirnya dan merasakan darah terbit di bibirnya. “Kau galak sekali!” Dia menatap Taehyung dengan tatapan tidak setuju yang geli lalu melirik ke balik punggungnya dan nyengir.

“Oh, halo, Chef!” Sapanya pada Vindex yang berdiri di pintu ganda, tertawa.

“Saya menemukan teman saya, Taehyung. Ternyata Jungkook di kitchen, tempat semestinya.” Kata Vindex geli bersandar di kusen pintu yang terbuka.

“Oke, Lintah galak,” dia menatap Taehyung yang masih menatapnya dengan air mata meluruh di pipinya. “Aku harus memasak, oke? Aku tidak mau orang-orang makan makanan tidak layak. Sana, berdirilah di depan sambut semua orang untukku.”

“Kau tidak akan pergi lagi?”

“Tentu saja pergi.”

“Kenapa?!”

“Jika tamunya sudah pulang dan dapur sudah bersih, kenapa aku masih harus di da—ADUH! SAKIT!”

Taehyung menatapnya kesal dengan tangan menjambak rambut Jungkook kuat-kuat hingga chef muda itu meringis. Kakinya mencapit pinggang Jungkook dengan kuat hingga Jungkook merasa sesak namun dia tidak keberatan sama sekali.

Dia sudah pernah mengalami yang jauh lebih liar dari Taehyung.

“Kepalaku baru saja cidera, oke?” Katanya meringis. “Jangan kasar-kas—ADUH, SAYAAANG??”

*

The Chef #162

Kepalan tangan Jungkook menghantam dinding di hadapannya dan mengirimkan sentakan rasa nyeri ke seluruh tangan dan lengan bawahnya. Dia kemudian menumpukan keningnya ke dinding, memejamkan mata dan menghirup napas melalui mulutnya yang terbuka seperti seekor ikan koi yang dipaksa naik ke permukaan.

Tangannya bergetar hebat saat menerima pesan dari Chef Vindex. Chef paruh baya itu telah menemani perjalanan karirnya sejak Jungkook masih hanyalah seorang commis ambisius yang ingin mengisi posisi head chef. Bersama Chef Vindex-lah dia belajar banyak hal, belajar banyak teknik dan etos kerja yang akan membantunya naik perlahan-lahan.

Chef itulah yang selalu membimbing Jungkook untuk mengekplor bakatnya, menambah teknik-teknik baru, tidak takut untuk mencoba dan terus bermimpi. Saat akhirnya Chef Vin mengundurkan diri dan berangkat bekerja di luar negeri, dia menitipkan restoran padanya sebagai sous chef. Lonjakan yang sangat tinggi dalam karir Jungkook karena bimbingan dan evaluasi chef atas kinerjanya.

Jungkook tidak pernah ingin mengecewakan Chef Vindex seumur hidupnya.

Kepalanya terasa begitu pening dan menyakitkan. Memang tidak ada yang tahu mengenai kecelakaan Jungkook dan baru belakangan ini Jungkook kembali memegang ponselnya—kembali ke peradaban.

Bertemu orang-orang selain teman-temannya dan Taehyung membuat kepalanya sakit, lututnya lemas dan anxiety mencengkram perutnya dengan cara yang membuatnya mual. Dia benci perasaan ini, perasaan saat dia ingin berguling ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.

Menghindari seluruh kontak dengan semua orang karena dia takut, dia tidak mau menatap ekspektasi yang ada di mata mereka. Jungkook tidak siap menatap ekspektasi itu saat dia menyadari dia belum mampu melakukannya.

Setelah bangkit dari depresinya, Jungkook perlahan mulai kembali memasak. Mengasah kemampuanny sedikit demi sedikit, mengetes lidahnya dengan pasta cabai beberapa kali hanya demi mendapati organ itu tidak merespon sama sekali.

Dia sering terbangun tengah malam oleh perasaan anxious hanya untuk pergi ke dapur, menyicipi garam, cuka dan pasta cabai. Menempelkan semuanya ke lidahnya yang mati rasa. Berharap dalam gelap dia bisa setidaknya merasakan rasa-rasa itu walaupun hanya sedikit saja sehingga dia bisa berharap.

Namun nihil.

Tidak ada yang terjadi, sekeras apa pun Jungkook berusaha.

Walaupun Taehyung dan Jimin selalu memuji masakannya, selalu menenangkannya dengan memberitahunya betapa lezat masakannya tapi Jungkook tidak pernah puas. Hati kecilnya selalu takut bahwa mereka hanya sedang menghiburnya agar dia segera bangkit dan tidak menyulitkan mereka lagi dengan bersikap dramatis.

Dia terbiasa dengan tatapan kagum, terbiasa dengan kehebatannya di bawah lampu sorot. Dan dia tidak terbiasa dengan tatapan kasihan. Taehyung tidak memberitahu siapa pun tentang kecelakaannya dan semuanya merahasiakan hal itu dengan baik, menutupinya seperti sebuah luka koreng yang membusuk.

Tidak perlu ada yang tahu, begitu pikir Jungkook.

Mereka tidak perlu tahu seberapa berdarahnya dia merangkak berusaha kembali bangkit menjadi Chef Jungkook yang mereka kenal; si congkak berhati dingin yang ambisius. Mereka tidak perlu tahu bahwa Jungkook sekarang sedang cacat secara fisik dan mental.

Lalu tiba-tiba di tengah semua kekacauan kepala dan emosinya sendiri, Taehyung memberitahunya bahwa restorannya didirikan dan semua chef yang dihormatinya akan datang memberinya selamat. Menantinya untuk menyajikan makanan terhebatnya.

Taehyung seolah baru saja memeras lemon dan menggosokkan garam ke luka yang berdarah, membuat Jungkook tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia merasa seperti baru saja dihajar, ditendangi dan dipukuli. Seluruh diri dan emosinya koyak, porak-poranda.

Sanggupkah dia?

Sanggupkah dia membawa dirinya sendiri ke restoran menghadapi semua orang dengan kondisinya yang tidak sempurna seperti sebelumnya?

Dia begitu mencintai Taehyung dengan seluruh dirinya, tapi kali ini tunangannya sudah melangkah terlalu jauh dan Jungkook tidak yakin apakah dia ingin berlari mengejarnya atau memilih berbelok ke jalan lain yang berlawanan dengan Taehyung.

Kepalanya berdentam-dentam oleh stres, bagian belakang kepalanya terasa kesemutan. Ada ketakutan yang bercokol di sana seperti tumor yang menggerogotinya, membuat Jungkook lemah.

Kepalan tangannya kembali menghantam dinding sebelum dia berteriak frustasi dan mendudukkan dirinya di ranjang yang berderit. Dia menatap jendela, ke pemandangan langit biru cerah yang menenangkan. Kepalanya berkelana ke hari pertama dia memasuki dapur profesional dengan seragamnya sendiri, bukan lagi seorang anak trainee.

Seorang commis.

Satu langkah pertama yang membuatnya begitu bersemangat hingga dia datang ke kitchen pagi sekali dan anak malam menatapnya dengan heran tapi Jungkook tidak peduli. Dia di sini untuk menjadi seorang chef, dia memiliki apa yang orang lain tidak miliki; bakat dan kemauan yang keras. Dia hanya butuh mendongak pada orang yang kan menjadikannya hebat; orang-orang lain tidak penting.

Maka Jungkook melakukannya.

Dia terus maju; berjalan, berlari bahkan merangkak. Dia terus bergerak maju, tidak pernah mundur dan tidak sudi untuk mundur. Dia mengejar mimpi yang sudah digenggamnya di tangannya, sudah termampang nyata di hadapannya; dia hanya perlu meraihnya.

Dia sempat menggenggam piala itu di tangannya, menciuminya dan menangkatnya ke udara; dia adalah seorang chef termuda dan terbaik di bidangnya. Dia mendapatkan ini dengan kemampuannya sendiri.

Dia berhasil.

Maka restoran itu akan menjadi sebuah piala permanen yang menandai pencapaian terhebatnya sebagai seorang juru masak; dia akan terus mengingatkan dunia betapa hebatnya dia.

Lalu kepalanya terhantam dan dia kehilangan indera perasanya.

Jungkook bisa merasakan langit runtuh di bahunya saat dia menyadari dia tidak bisa merasakan makanannya bukan karena makanan itu, tapi karena dirinya sendiri.

Dia merasa cacat dan gagal. Untuk apa dia kemudian menjalankan restoran itu dengan keadaan koyak oleh duka dan kenyataan? Dia tidak mau melakukannya. Dia ingin berdiri di sana sebagai Jeon Jungkook yang kuat, penuh percaya diri dan congkak; dia ingin menjadi dirinya sendiri.

Bukan Jeon Jungkook yang cacat dan gagal. Dia tidak mau berdiri di sana dalam keadaan seperti ini.

Dan sekarang, semuanya sudah disiapkan seolah Jungkook dilemparkan ke kolam tanpa diajari berenang sebelumnya.

Dan Chef Vindex akan datang, menyisihkan waktu berharganya mengurus In-Flight Dinning Garuda Indonesia yang sibuk, khusus untuknya.

Dia merasa seluruh dunia berputar di sekitarnya, membuatnya merasa vertigo parah dan limbung oleh sensasinya. Bagaimana dia harus melakukannya? Sanggupkah dia menatap semua orang? Sanggupkah dia melakukannya? Sanggupkah dia memimpin tim untuk memberi makan seluruh seniornya di dunia kulinari dan khususnya, gurunya selama ini, Chef Vindex?

Mampukah Jungkook?

Layakkah dia?

Dia meraih ponselnya, menatap benda itu; menatap refleksinya di atas layar gelap lalu membuka kuncinya. Dia menghela napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan rasa pening di kepalanya yang terasa dicengkram. Dia mencari-cari nama di buku kontak seraya bernapas melalui mulutnya lalu menekan tanda telepon pada kontak itu.

Dia tidak pernah menunjukkan betapa lemah dan cacatnya dia pada orang lain selain orang ini. Karena orang inilah yang akan membantunya menjadi lebih baik, menjadi chef yang jauh lebih hebat lagi.

Nada tering terdengar dari seberang sana; sekali, tiga kali....

Jungkook sudah akan menyerah saat akhirnya nada dering berhenti dan digantikan suara keresak dan dehaman yang sudah sangat familiar dengan dirinya, menarik kenangan lama yang membuatnya merinding dan mulai menangis.

“Halo, Boy? Kenapa kau menangis?” Tanya suara dari seberang dengan geli dan penuh sayang. “Kau mengalami serangan grogi sebelum pembukaan restoran, ya?”

Jungkook tersenyum dengan air mata meleleh di pipinya. Sudah lama sekali sejak dia menelepon Chef Vindex dan mengobrol dengannya, sejak seniornya itu sibuk di perusahaan penerbangan dan Jungkook sibuk mengejar mimpinya. Jalan mereka tidak lagi bertemu.

“Chef Vin.” Dia mengusap air matanya dan membersit keras. “Saya butuh bantuan....”

Di seberang sana, chef senior itu tertawa serak kebapakan. “Boy,” katanya lembut.

“Kau punya rahasia yang ingin dibagikan padaku? Kau selalu menangis tiap kali ingin menceritakan sesuatu yang tidak ingin dunia ketahui.” Dia lalu bergerak dan mengatakan sesuatu ke sekretarisnya sebelum kembali ke Jungkook.

“Oke, aku bebas. Silakan, Boy, aku akan membantumu. Seperti biasa.”

Seperti biasa.

Jungkook menunduk, membuka mulutnya untuk berusaha bernapas sebelum kembali menangis.

*