The Chef #186
“Jimin nampak bahagia.” Taehyung meletakkan ponselnya lalu beranjak ke ranjang, ke Jungkook yang menantinya bersama Bubble.
Taehyung menyingkap selimut dan merangkak naik ke ranjang, menyusupkan dirinya di dada Jungkook yang bersandar ke kepala ranjang.
Dia mendesah panjang saat hangat tubuh Jungkook dan aroma sabun mandinya membuat seluruh sarafnya mengendur dan rileks.
Seketika itu juga mengantuk oleh kehadiran Jungkook.
Jungkook meraih tangannya, mengaitkan jemarinya di sana lalu mengecup punggung tangan Taehyung serta satu per satu buku jemarinya.
“Dia layak mendapatkannya.” Jungkook tersenyum lalu mengecup puncak kepala Taehyung. “Aku memberitahu Yoon tentang Jimin kemarin saat soft opening, memintanya untuk yah... mungkin sekadar mencoba?”
Taehyung mendogak, kaget. “Sungguh? Kau melakukannya?” Tanyanya dan Bubble menyalak ceria seolah mengatakan 'Kau berteriak?? Ayo bermain!'
Jungkook terkekeh. “Yoon ini bukan tipe lelaki yang akan menyadari dia sedang didekati jika tidak terang-terangan jadi aku memberitahunya satu-dua hal agar dia bisa menyadari Jimin dan kurasa dia juga tertarik pada Jimin setelah kukenalkan dia padanya.”
“Kau baik sekali,” desah Taehyung lalu menyandarkan kepalanya di dada telanjang Jungkook dan menjalankan jemarinya di perut Jungkook.
“Aku mencoba merayumu dengan membantu sahabatmu. Apakah aku berhasil?” Jungkook tersenyum lebar dan Taehyung otomatis balas tersenyum.
“Kau tidak perlu merayuku karena aku dengan senang hati akan berlutut di kakimu,” Taehyung menjulurkan tangan ke tubuh Jungkook lalu meremasnya hingga Jungkook terkekeh—Taehyung suka melakukannya saat bosan, seperti hiburan untuk mengisi waktu luang.
“Jangan dibegitukan jika kau tidak ingin berkemah,” katanya geli, menyingkirkan tangan Taehyung dari tubuhnya tapi kekasihnya terus meremasnya seolah sedang bermain dengan benda kenyal pelepas stres.
“Dan kenapa kau harus berlutut di kakiku? Aku tidak ingin menempatkan siapa pun di bawahku. Kau dan aku sama tingginya; kita memutuskan apa-apa bersama.” Dia menegur Taehyung dengan lembut membelai kepalanya.
“Lho? Aku ingin memberimu blowjob kok, kenapa jadi membahas derajat, harkat dan martabat begitu?” Tukas Taehyung dan Jungkook tertawa, lepas dan menyenangkan hingga Taehyung memejamkan mata menikmati suara itu.
“Kau bahagia bersamaku?” Tanya Jungkook kemudian setelah diam.
Suasana malam mereka begitu syahdu. Semenjak tinggal di pinggiran Ubud, pukul 9 malam sudah menjadi waktu beristirahat mereka. Jalanan kampung di depan rumah mereka terasa sepi dan lenggang, persawahan yang membentang di belakang rumah menyajikan mereka suara jangkrik dan desir dedaunan padi muda tiap kali terhempas angin.
Gemericik air kolam renang mereka, aroma kamboja dan rumput basah. Tanaman pisang hias di sisi lain rumah, garasi mungil mereka: sempurna.
Semuanya terasa begitu segar dan berbeda sekali dengan apa yang biasa mereka alami di apartemen di tengah kota yang hiruk-pikuk.
Bali telah membuat mereka jatuh cinta dan betah. Hidup bersama masyarakat Bali yang ramah dan perhatian, gaya hidup yang sederhana (khususnya di bagian pinggiran Bali).
Beberapa meter dari rumah mereka ada pasar tradisional, ke sanalah Taehyung suka menghabiskan pagi butanya saat Jungkook bangun membuat sarapan.
Berjalan-jalan menikmati suasana pasar, menawar buah-buahan dan sayuran segar. Membeli sarapan unik yang belum pernah dicobanya lalu berjalan kembali pulang tanpa dikejar-kejar waktu harus berangkat pagi sekali agar tidak terkena macet.
Perubahan pola hidup membuat hubungan mereka terasa lebih segar dan ringan.
Taehyung suka sekali pilihannya untuk membeli rumah ini.
“Bahagia.” Sahutnya, merinding oleh betapa benarnya kata itu terasa di bibirnya dalam dekapan Jungkook dan mendengarkan suara detak jantungnya yang teratur.
“Sangat bahagia. Kau tidak perlu bertanya.”
Jungkook tersenyum, mengeratkan pelukannya dan mendesah panjang. “Bagaimana jika hari itu aku tidak mengomentari sup ketumbarmu, ya? Kita pasti tidak akan bertemu.”
Taehyung terbahak teringat kebodohannya jutaan tahun lalu yang dikomentari oleh chef muda berbakat.
Dia hanyalah karyawan biasa saat itu, masih second layer dan hanya mampu tinggal di kos-kosan yang walaupun lumayan eksklusif jelas berbeda dengan apartemen Jungkook.
Maka awal hubungan mereka menjadi serius adalah sebuah pengalaman yang mengubah hidup Taehyung bagaimana matanya kemudian terbuka pada dunia hingar-bingar kemewahan.
Lalu karirnya melonjak naik seolah Jungkook adalah kucing keberuntungannya dan dia mulai bisa menabung. Hidupnya mulai membaik. Memiliki mobil dan sekarang bahkan rumah.
Sungguh, siapa sangka sup ketumbarnya bisa membawa Taehyung hingga di posisi ini?
Bersama seorang chef paling baik, paling menyenangkan dan paling penyayang di seluruh dunia?
“Besok aku akan membuatkanmu sup untuk sarapan,” katanya mendongak menatap Jungkook yang tertawa. “Untuk mengenang masa lalu. Oke?”
“Oke.” Jungkook membelai wajahnya dengan buku jemarinya yang lembut. “Kali ini aku yang akan memberitahumu bedanya ketumbar dan merica.”
Taehyung terkekeh, menyusupkan diri lebih dalam ke dada Jungkook seperti seekor kucing yang bergelung di pelukan goldem retriever hangat yang ramah.
Jungkook membelai kepalanya sayang, “Ya Tuhan, aku sungguh sangat mencintaimu.” Dia merunduk, mengecup sudut bibir Taehyung sebelum mengecup bibirnya.
“You're the best thing that ever happened to me in my whole life.” Bisiknya di bibir Taehyung.
“Even better than your restaurant?”
Jungkook berhenti. “Hmm...” katanya berpura-pura berpikir dan Taehyung memukul perutnya main-main dengan suara “plak!” keras yang membuat Jungkook mengaduh.
“Kau lebih baik karena kau yang menjadikan restoran itu ada,” Jungkook kemudian mengulaskan senyuman lebarnya lalu mengerling leher Taehyung yang terbuka dan kerah V jubah mandinya yang menukik rendah dan aroma lembut sabun mandinya.
“Hmm... Kau mau berkemah, tidak?”
Taehyung memutar bola matanya. “Kenapa, sih, hormonmu itu? Tidak. Aku harus tidur. Besok aku punya janji pagi-pagi sekali dengan vendor untuk grand opening—Ooh!”
Suara Taehyung berubah menjadi desahan panjang saat tanpa aba-aba, Jungkook merunduk dan menjilat sisi lehernya dengan lidahnya yang panas.
“Jungkook,” rengek Taehyung namun pasrah saat Jungkook membaringkannya dengan lembur di ranjang.
Bubble menyalak sekali lalu dengan kesal melompat turun dari ranjang dan bergelung di kasur mungilnya di sudut ruangan, ngambek.
“Hm?” tanya Jungkook menyingkap jubah mandi Taehyung dan membelai tubuhnya dengan sentuhan selembut kelopak mawar hingga Taehyung gemetar.
“Katanya kau sudah menahan ini satu bulan, sekarang aku akan mengganti semua kesepianmu,” Jungkook merunduk, menyapukan ujung lidahnya ke pusar Taehyung hingga pemuda di bawahnya terkesirap kecil.
“Aku... ada janji!” Rengek Taehyung menyedihkan dan saat lidah panas Jungkook turun ke bawah pinggulnya, dia menyerah dan membiarkan Jungkook melakukan apa saja atas tubuhnya.
“Aku tidak dengar.” Sahut Jungkook dan Taehyung terbelah antara ingin memintanya terus mengulum tubuhnya atau mematahkan leher Jungkook.
“Kau bedebah bangsat,” keluhnya terbaring kehabisan napas di ranjang, begitu nikmat hingga kepalanya terasa lepas dari lehernya sementara Jungkook sibuk di antara kedua kakinya.
Dia menyerah pada pilihan pertama.
“OH! Jangan digigit, Jeon Jungkook!”
*