The Chef #190
“Pagi.”
“Pagi, Chef!”
Jungkook mendorong pintu ganda di hadapannya terbuka dan memasang harnet di kepalanya dengan topi chef-nya dikepit di ketiaknya. “Mana semua bahan bakunya? Sudah dipilah?” Tanyanya langsung ke sous chef-nya yang mengangguk.
“Sudah, Chef.” Sous chef-nya langsung membimbing Jungkook yang memasang topinya di kepala melangkah ke butcher yang sekarang sibuk mengurus protein mereka dengan pisau-pisau tajam dan aroma basah daging yang membuat Jungkook sejenak tidak nyaman.
Dia tidak pernah bisa membayangkan harus bekerja menjadi CDP butcher, dia pasti akan menjadi vegetarian di akhir minggu pertamnya bekerja karena aroma anyir darah dan daging segar selalu membuat perutnya tidak terlalu nyaman. Dia suka aroma remah yang tajam; kunyit, jahe, merica, bubuk pala.
Jungkook menyentuh setiap daging yang ada di meja untuk mengecek suhu daging dan kesegarannya dengan buku jarinya dan merasa puas atas kualitasnya. “Suplayer mana?” Tanyanya pada sous chef-nya. “Lumayan.”
“Langganan restoran saya dulu, Chef.” Sahut sous-nya dan Jungkook mengangguk. “Daging soft opening kemarin juga dari suplayer yang sama dan Pak Taehyung sudah oke dengan harganya.”
“Ya kalau Taehyung oke, saya oke.” sahut Jungkook kalem lalu menoleh ke butcher-nya yang mulai bekerja dengan apron hitam licinnya. “Tolong disiapkan sesuai dengan menu. Jangan terlalu tebal, tangan terlalu tipis. Sekiranya bisa cukup untuk 250 pax.” Jungkook memberitahu CDP-nya yang sedang menajamkan pisaunya dengan honing rod dengan suara decit stainless yang menyakitkan telinga.
“Siap, Chef.” Sahut CDP-nya, mengangguk.
“Oke, trims.” Balas Jungkook mengangguk lalu keluar dari butcher. “Sisanya bagaimana?”
Sous chef mengangguk. “Untuk appetizer baru setengah, Chef. Canape sedang disiapkan, dessert juga sedang mulai disiapkan di pastry. Protein seperti yang Chef lihat sendiri, lalu sayuran sedang disiapkan, bumbu-bumbu juga. Perkiraan kasarnya jam 3 siang kita sudah siap untuk 250 pax.”
Jungkook mengamati dapur dengan saksama, mengamati efisiensi anak-anaknya bekerja di section mereka masing-masing. Beberapa anak memotong sayuran dan bawang, beberapa menyiapkan tiap bumbu dalam porsi-porsi 1 pax agar nantinya siap dimasak ketika harus dihidangkan dan beberapa mulai meracik bumbu. Aroma rempah, bising api dan gas yang dibuka terlalu lebar terasa menyesakkan dan Jungkook menghela napas dalam-dalam.
Dia sungguh merindukan kehidupan ini.
“Kau tidak perlu membuka apinya sebesar itu,” keluhnya pada commis yang sedang bekerja di hot kitchen. “Efisiensi dan bau gasnya ke seluruh ruangan.” Tambahnya dengan gestur memintanya mengecilkan apinya dan commis itu bergegas menurunkan gasnya hingga api mengecil.
Bagaimana bisa dia melepaskan ini beberapa bulan lalu dan menganggap tempat ini bukan identitasnya lagi?
Berada di tengah-tengah semua orang yang bergerak dinamis menyiapkan preparation untuk grand opening mereka nanti malam, mengecek makanan, merasakan adrenalin mengalir di pembuluh darahnya dan ketegangan yang menggelayut di bahunya; Jungkook mendapati bahwa dia ternyata sangat merindukan kesibukan ini.
Dia begitu mencintai pekerjaannya.
“Canape-nya bagaimana?” tanya Jungkook menghampiri section tempat canape dikerjakan satu orang commis dan mengecek potongan-potongan bahan bakunya dan mengangguk. “Pas.” Dia menyomot sepotong bacon, mengamati ukuran dan ketebalannya lalu secara naluriah, menyuapnya.
“Agak asin,” komentarnya sambil lalu. “Coba buatkan saya satu dengan keju, tanpa keju dan telur.” Dia mengelap tangannya di apron.
“Siap, Chef.” Sahut commis-nya lalu bergegas membuatkannya satu contoh canape masing-masing sesuai dengan kehendak Jungkook saat kepala chef itu lalu beranjak untuk mengecek yang lain diikuti oleh sous chef-nya yang mengekor setia.
Lalu Jungkook berhenti.
Begitu mendadak hingga sous chef-nya nyaris terpeleset menabraknya.
“Chef?” tanya sous-nya, kebingungan.
Jungkook menggertakkan giginya lalu tiba-tiba kembali berbalik kembali ke commis yang sedang mengerjakan canape. Dia berhenti di sisi konter commis malang yang sekarang mendongak kebingungan karena head chef-nya menatap pekerjaan di meja seolah akan membakarnya hanya dengan tatapan matanya lalu meraih sepotong bacon lagi, kali ini menambahkannya sepotong keju cheddar dan menjejalkan keduanya ke mulutnya.
Dia menahan napas lalu tersedak keras—batuknya menggema ke seluruh ruangan mengalahkan semua suara lain.
Seluruh dapur menoleh kaget, berhenti bekerja dan menoleh ke Jungkook yang sedang membekap mulutnya sendiri dengan wajah pias sepucat tembok. Mendengar suara Jungkook, Yugyeom yang sejak tadi berada di pastry section bergegas keluar membawa selapis aroma choux hangat yang baru matang dan cokelat saat menghampiri temannya.
“Hei, kau oke?” Tanyanya setengah panik saat Jungkook membungkuk dengan satu tangan di mulutnya, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jungkook. “Apa yang terjadi?” Dia menoleh ke sous chef Jungkook yang menggeleng, sama bingungnya.
Jungkook diam dan mengunyah perlahan; tidak menyangka bahwa saat keju dan bacon mendarat di lidahnya dan tercampur dengan salivanya; rasa gurih dan asin keduanya meledak di seluruh rongga mulutnya. Lidahnya mendecap, mencari-cari sisa makanan ke seluruh penjuru mulut dengan penuh kerinduan setelah sekian lama tidak menyecap apa pun.
“Ya Tuhan...” Bisiknya, gemetar. “Ya Tuhan!” Dia lalu menyambar sepotong bacon lagi di meja dan menyerahkannya pada Yugyeom. “Coba, dan katakan padaku bagaimana rasanya!”
Yugyeom menatapnya dengan alis berkerut dan menerima bacon dari Jungkook lalu membawanya ke mulutnya, mengunyah dengan ringkas lalu menelan tanpa benar-benar menyadari apa yang dimakannya.
“Seperti bacon pada umumnya. Asin dan gurih.” Sahutnya mengendikkan bahu lalu berhenti sejenak dan terkesirap saat menyadarinya.
“Ya Tuhan!” Serunya gemetar oleh rasa gembira. “Kau merasakannya?! Katakan padaku kau merasakannya!”
Jungkook tertawa serak. “Ya!” Balasnya ceria. “Agak terlalu asin di lidahku tapi tidak apa-apa! Distortion is way better than nothing!”
Sebelum siapa pun di sekitarnya bereaksi, dia menepuk bahu sous chef-nya dengan cengiran lebar di bibirnya; sangat bahagia hingga dadanya terasa sesak. “Saya harus ke depan sebentar!” Lalu tanpa aba-aba melesat melewati pintu ganda dapur yang mengarah ke restoran dan menemukan Taehyung sedang berdiri di tengah ruangan.
Taehyung sedang membelakanginya, mengecek meja dan warna linen serta bunga-bunga segar yang baru saja dihantarkan dalam balutan kertas koran yang sekarang mulai dibuka oleh dua anak servis dan dirapikan untuk dipasang di dalam vas bunga tunggal di atas meja.
“Buang saja yang cacat,” keluhnya saat Jungkook mendekat. “Catat berapa banyak yang jelek dan aku akan mengirimkan komplain ke mereka. Bisa-bisanya mereka memberiku bunga busuk,” dia menyatat sesuatu di planner-nya yang belakangan ini digenggamnya seperti kitab suci.
Jungkook melangkah mendekatinya dalam langkah panjang yang lebar lalu meraup Taehyung dalam pelukannya hingga pemuda itu terkesirap kaget yang keras dan menjatuhkan planner di tangannya. Buku itu menghantam lantai dengan suara debum dan beberapa nota-nota yang diselipkan Taehyung di lembar-lembarnya berserakan.
Sebelum dia sempat marah, Jungkook meraih bibirnya dan menciumnya.
“Ada apa ini?” Seru Taehyung saat Jungkook berhenti menciumnya; menatapnya jengkel. “Aku sedang bekerja!” keluhnya.
Jungkook nyengir. “Baconnya asin.” Katanya masih nyengir dengan Taehyung di pelukannya.
Taehyung menatapnya seolah Jungkook sudah gila. “Tentu saja asin, itu, 'kan, bacon!” Balasnya menggeliat berusaha melepaskan diri. “Memangnya kau tidak punya sesuatu yang lebih penting untuk—,”
Dia berhenti.
Jungkook masih nyengir.
“Apa... katamu?” Tanyanya kemudian, jantungnya berdebar—menonjok rusuknya hingga terasa nyeri dan wajahnya memucat. “Apa tadi katamu?” Nadanya sekarang naik. “Bagaimana rasa baconnya??” Dia nyaris histeris.
“Asin.”
Taehyung terkesirap keras. “Apa?!”
“Asin!” Jungkook tertawa. “Aku sudah mencobanya dua kali dan rasa asinnya tetap di lidahku! Yah, agak terlalu asin, sih,” tambahnya kemudian meringis. “Tapi setidaknya asin, oke? Jadi menurutku—.”
Taehyung tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya karena dia kemudian menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangannya lalu membenamkan bibirnya ke bibir Jungkook dengan suara kecupan keras yang basah. “Ya Tuhan,” bisiknya gemetar. “Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung!”
Jungkook nyengir, pipinya nyeri sekali setelah sejak tadi tidak berhenti nyengir. “Besok kita harus ke Siloam.” Katanya menuntut dan Taehyung mengangguk. “Kita coba tes lidah sialan ini dengan obatnya, oke?”
“Tentu,” dia tersenyum lalu mendesah saat merasakan matanya memanas dan air mata mulai meluruh ke pipinya. Dia terisak sambil tertawa, dengan panik menyeka air mata yang mulai deras. “Ya, tentu.” Katanya menangis dan Jungkook memeluknya semakin erat ke dadanya yang hangat.
“Ya Tuhan...” Bisik Taehyung terisak dan memeluk Jungkook, menyandarkan dagunya di bahu Jungkook. “Kenapa aku malah menangis?” Keluhnya setengah merengek dan Jungkook tertawa hangat di pelukannya, napasnya membelai telinga Taehyung dan entah bagaimana perasaan Taehyung terasa begitu hangat dan membuncah oleh cinta pada Jungkook.
Dia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di seragam Jungkook yang berwarna putih menyilaukan serta meledak dalam tangis yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.
“Ssshh...” Bisik Jungkook lembut dan memejamkan mata di bahu Taehyung. “Aku baik-baik saja, sudah jangan menangis.” Dia tersenyum dan mengecup pelipis Taehyung yang masih gemetar oleh tangisnya.
“Terima kasih sudah sabar denganku,” Jungkook mengecup pelipisnya sekali lagi lalu puncak kepalanya. “Kau bisa saja menamparku bolak-balik lalu pergi dan melanjutkan kehidupanmu, tapi tidak.
“Kau memutuskan untuk merawatku dengan kesabaran malaikat dan ketenangan samudera. Mencoba menyeretku kembali ke permukaan walaupun aku terengah-engah menolakmu. Terima kasih, terima kasih...” Dia membenamkan wajahnya di rambut Taehyung dan menghirup aromanya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh Taehyung yang manis dan khas.
Terasa familiar, seperti rumah.
“Dan sekarang,” Jungkook menguraikan pelukan mereka lalu menangkup wajah Taehyung yang merah padam dan basah oleh air mata yang asin dan lengket lalu memberikan kelopak mata Taehyung masing-masing satu kecupan sehalus sayap kupu-kupu.
“Aku akan terus melangkah maju. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku...”
Taehyung terisak dengan suara nyaring yang terdengar menyakitkan dan Jungkook terkekeh, kembali memeluknya dengan hangat. “Bayi besarku,” bisiknya tersenyum. “Jangan menangis lagi.”
“To be fair,” isak Taehyung mendelik dan Jungkook tertawa. “Kau juga bayi besar!”
“Iya, iya.” Jungkook nyengir. “Apa saja untukmu, Your Highness.” Dia mengusap air mata di pipi Taehyung dengan telapak tangannya yang beraroma bumbu dan kapalan.
“I love you.” Taehyung tercekat.
“I love you more.” Sahut Jungkook seketika itu juga.
*