The Chef #194

“Terima kasih atas bantuan kalian semua malam ini,” Jungkook berdiri di ujung ruangan, menatap semua karyawan servisnya yang sudah bekerja banting tulang hari ini mengurus 3 gelombang reservasi grand opening Le Paradis.

Jejalan manusia membuat semua anak-anak pusing meladeninya, Taehyung bahkan sempat mampir ke dapur untuk menelan sebutir Panadol karena kepalanya terasa mau pecah. Belum lagi reservasi yang seharusnya masih satu jam lagi, sudah muncul di depan pintu memaksa masuk untuk duduk di meja yang masih terisi tamu lain.

Dan berkebalikan dengan Taehyung, Jungkook sangat menikmati adrenaline rush yang membanjiri seluruh pembuluh darahnya. Membuatnya begitu gembira dan mabuk karenannya. Entah berapa ratus piring yang sudah ditatanya, diberi setetes saus, ditaburi garnish yang cantik, ikan hangat selembut mentega yang diletakkannya di atas piring.

Saat piring terakhir selesai dikerjakan dan dia berseru:

“Service, please!”

Seluruh tim bersorak gembira.

Jungkook berbalik, menghela napas panjang dan melepaskan topi chef-nya. Menyalami sous chef-nya dengan akrab, menepuk bahunya menggumamkan terima kasih sebelum beranjak ke tengah dapur dan bertepuk tangan.

“Luar biasa!” Serunya bahagia dengan jantung berdebar kencang oleh adrenalin selama bekerja, wajah merah padam dan rambutnya yang mulai panjang basah oleh keringat setelah berjam-jam terjebak di dalam topi chef-nya.

Seluruh timnya membalas tepukan tangannya dengan riuh. Melepaskan penutup kepala mereka dan mendesah penuh kelegaan karena akhirnya terbebas. Kepuasan nampak di wajah mereka semua setelah kurang-lebih empat jam terpapar dalam tekanan yang hebat harus menjaga food flow mereka tetap pada standar sinting Jungkook yang terus berteriak dan memaksa mereka semua tetap bekerja seperti kesetanan.

Belum lagi tambahan-tambahan reservasi yang membengkak; reservasi untuk dua orang namun yang datang empat orang yang terpaksa harus diterima Taehyung mau tidak mau. Menambah dua slot menu ke kitchen yang nyaris menangis karena ledakan itu.

Setelah meja terakhir dibereskan, piring dessert terakhir dicuci bersih oleh steward, Jungkook mengajak semuanya berkumpul di restoran yang sudah bersih dan pintunya ditutup dan mengizinkan semua stafnya yang sudah legal untuk mendapatkan segelas sampanye dan yang masih di bawah umur mendapatkan mojito.

“Saya sendiri tidak akan mampu menyelesaikan semuanya, hanya dengan bantuan kalian-lah grand opening malam ini berjalan luar biasa mulus dan lancar. Saya senang memiliki kalian sebagai tim saya.”

Dia mengangkat gelasnya. “Setelah ini, saya meminta bantuan kalian semua kedepannya untuk menjaga kualitas restoran ini. Bersama, kita bisa melakukannya. Mari bersulang untuk kita semua, kita semua luar biasa!”

“Bersulang!”

Jungkook kemudian meneguk sampanyenya dan mendesah panjang. Menatap semua anak buahnya yang sekarang mulai mengambil canape, vol-au-vent, mini eclairs dan panganan-panganan kecil yang sengaja dimintanya untuk disiapkan tim pastry sebagai camilan setelah grand opening selesai.

“Seumur hidupku,” keluh Jungkook saat dia duduk di sisi Taehyung, Jimin dan Yugyeom, mengunyah vol-au-vent Yugyeom. “Baru kali ini aku merasakan rush hour sekejam itu.” Dia memijat kepalanya yang pening. “Syukurlah tidak ada timku yang pingsan karena pekerjaan malam ini—sangat kuapresiasi dengan tidak menambah pekerjaan kita semua.”

Yugyeom tersenyum ke gelas sampanyenya. “Aku memilih anak-anak yang tangguh, 'kan?”

Jungkook mengendikkan gelasnya ke Yugyeom. “Tertangguh.” Sahutnya setuju. “Trims.” Dan Yugyeom membalasnya dengan menyentuhkan gelas mereka hingga terdengar suara 'kling!' keras.

“Setiap hari Senin kita libur,” kata Jungkook kemudian. “Berarti besok aku bisa bertemu denganmu dan Bli Made untuk membahas jadwal kerja dan segala macam? Serta HRM dan Chief Accountant-nya,” dia mengecup Taehyung yang sedang sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.

“Kau lapar, ya?” tanyanya terkekeh.

“Diam.” Taehyung mendelik. “Bukan kau yang harus berdiri di depan pintu dikata-katai saat meja mereka belum siap atau kursinya kurang karena mereka memesan meja untuk dua orang dan yang datang empat orang.”

“Oh, Sayangku,” Jungkook tersenyum, meraih Taehyung ke pelukannya lalu menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman kecil hingga Yugyeom dan Jimin mendesah dan memalingkan wajah dari dengan sopan. “Setelah ini aku akan memijatmu, oke? Kau ingin kubuatkan sesuatu sebelum tidur?”

Taehyung menatapnya lalu nyengir. “Roti isi telur mayo?”

Jungkook mengecup pelipisnya. “Baiklah, roti isi telur mayo.” Dia kemudian menambahkan. “Kau bisa mulai membantuku untuk mengerjakan jadwal dan mengurus detailnya, kan?”

Taehyung mengangguk. “Sudah kucicil beberapa hari ini dengan HRM,” dia menepuk planner di atas meja dengan desahan panjang. “Besok akan kami bicarakan lagi. Kontrak-kontrak karyawan juga akan disempurnakan, buku Kesepakatan Kerja Bersama juga harus mulai dibagikan karena Dinas Tenaga Kerja baru memberikan versi yang ditanda-tangani dua hari lalu.”

Jungkook mengangguk-angguk. “Baiklah.” Dia menyesap minumannya, mengamati karyawan-karyawannya yang duduk bergerombol menikmati camilan dan minuman mereka, nampak lelah namun bahagia.

“Aku juga sudah mengimpor laporan penjualan dari sistem ke excel,” Taehyung menambahkan lalu menoleh pada Jimin. “Besok juga akan kita lihat, ya? Untuk menghitung profit dan modal yang kembali hari ini. Lalu untuk website, mungkin sebaiknya kita mencari orang yang akan memegangnya karena kita tidak bisa terlalu lama menyewa tim PR setelah grand opening dan—,”

Jungkook menghentikannya bicara dengan mengunci dagu Taehyung dengan ibu jari dan telunjuknya lalu membaliknya menghadap Jungkook dan mencium bibirnya. “Berisik.” Katanya dengan mata berbinar. “Tidak bisakah kau menikmati after party-nya sebentar sebelum berbicara tentang pekerjaan? Minum segelas vodka,”

Mendesah panjang, Taehyung menutup planner-nya. “Menyerah,” dia tersenyum. “Maafkan aku.” Dia lalu menuang satu shot vodka ke dalam gelasnya yang terisi irisan jeruk lalu meneguknya dalam satu tegukan panjang dan mengernyit.

“Dimaafkan,” Jungkook tersenyum. “Besok aku akan mengizinkanmu berbicara tentang pekerjaan sepuas hatimu, tapi tidak hari ini. Ayo makanlah sesuatu.” Dia meraih piring canape di atas meja, mendorongnya ke hadapan Taehyung.

“Saya sudah dengar banyak tentang Chef sebelum ini,” sous chef-nya bicara dan Jungkook menoleh sopan padanya. “Tapi setelah bekerja dua malam dengan Chef saya merasa hal-hal yang saya dengan salah sekali.”

Jungkook mengerutkan alis. “Memangnya apa yang Bli dengar?” tanyanya tersenyum.

“Chef jauh lebih hebat dari kata mereka,” sous chef-nya tertawa serak. “Maksudnya, saya belum pernah melihat seorang head chef setenang itu menghadapi alur makanan segila tadi. Chef tetap fokus dan mengerjakan semua detailnya dengan sempurna. Bisa mengendalikan seluruh dapur dengan baik, memegang kontrol sepenuhnya. Tidak terdistraksi banyaknya tambahan set menu yang harus disiapkan di detik terakhir.”

“Wah! Tahan, tahan!” seru Jimin melambaikan tangan ke arah sous chef Jungkook yang kebingungan. “Tahan! Kepalanya membesar, jangan dipuji! Kepalanya baru cidera, jadi benda itu sensitif dan—ADUH! Untuk apa itu?!” Jimin mendelik pada Jungkook yang baru saja menendang tulang keringnya dari bawah meja.

“Bung, kau masih menggunakan safety shoes!” Jimin mengangkat kakinya dan mengusap tulang keringnya yang berdenyut mengerikan. “Tidakkah kau tahu betapa sakitnya benda itu!?”

Jungkook mengabaikannya dan Jimin memelototinya sebelum membalas tendangannya dan Jungkook mengaduh. “Makan itu!” serunya.

Sous chef-nya tertawa dan menatap Jungkook. “Saya secara pribadi senang Chef tidak memutuskan untuk berhenti menjadi chef,” dia tersenyum dan Taehyung di bawah meja, meraih tangan Jungkook dan meremasnya hangat. “Dunia kuliner pasti sedih sekali kehilangan seorang maestro seperti Chef yang bahkan tanpa indera perasa masih bisa memasak dengan sehebat itu.”

“Walaupun saya harus merepotkan Bli tadi untuk menyicipi makanan-makanannya,” Jungkook tersenyum.

Sebelum soft dan grand opening, Jungkook sudah meminta sous chef dan Yugyeom untuk mengecek rasa makanan yang dimasaknya dan meminta mereka untuk mengingat rasa itu sebagai standar. Jungkook kesulitan, tentu karena dia tetap harus menyicipi makanannya untuk tahu seberapa benar masakan itu dan koreksi rasa, tapi dengan firasat dan pengalaman bertahun-tahun, dia tetap bisa menakar bumbu dengan sempurna.

Mengandalkan satu-satunya rasa yang dimiliki lidahnya; asin.

Dia terkadang merasa begitu frustasi, seperti bayi yang dikurung dan sulit sekali bergerak. Namun saat dia merasa sebentar lagi meledak, dia menghela napas dan berusaha lagi—tidak mengizinkan keadaan mengalahkannya sama sekali. Dan berkat kerja sama dengan sous chef-nya, mereka berhasil menyiptakan rasa yang diinginkan Jungkook.

Sekarang dia sudah fasih merasakan asin yang tepat dengan lidahnya yang kebingungan. Asin yang normal akan terasa asin sekali dan dia sudah menyatat rasa asin itu di lidahnya sebagai standar; mulai perlahan-lahan mengatasi kesulitannya sendiri.

“Tidak masalah,” sahut sous chef-nya ramah. “Itu sudah tugas saya, Chef.”

Saat akhirnya mereka membubarkan diri setelah Taehyung mengunci restoran dan dia, Jimin, Yugyeom dan sous chef Jungkook berpisah di depan pintu, Jungkook mengemudikan mobil Taehyung pulang sementara kekasihnya berbaring di kursi penumpang, teler kelelahan.

“Ayo mandi, lalu istirahat.” Jungkook menjulurkan tubuhnya untuk mengecup kening Taehyung setelah berhasil memasukkan mobil mereka ke garasi dan menutup pintu gerbang rumah. “Sementara kau mandi, aku akan membuatkanmu roti isi.”

Taehyung menggeleng, menatapnya dalam keremangan lalu menggeser duduknya. Meraih Jungkook dengan kedua lengannya dan mengerlingnya. “Bagaimana jika kau bergabung saja denganku di kamar mandi?”

Jungkook menyunggingkan senyuman separonya. “Oh. Dengan senang hati,” dia kemudian melepaskan sabuk pengamannya, bergegas keluar dari mobil, berlari kecil melewati bagian belakang mobil dan membuka pintu penumpang Taehyung yang tersenyum lebar, membuka kedua lengannya lebar-lebar.

Meraihnya dalam kedua lengannya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah seraya menyiumi wajahnya dengan rakus. Tangan Taehyung menyalakan saklar saat mereka berjalan masuk dan membuka kunci pintu dengan bibir yang masih sibuk di bibir Jungkook dan berdecak kesal saat kunci tidak juga mau terbuka, sebelum Jungkook memutuskan untuk menendang pintunya, suara klik pintu terbuka terdengar.

Bubble menyalak ceria menyambut keduanya pulang namun Jungkook dengan lembut menyingkirkan anjing kecil itu dari jalan mereka dengan kakinya dan Bubble mendengking kesal saat kedua majikannya mengabaikannya. Dia menggonggong protes sekali lagi. Terus menggonggong sementara Jungkook membawa Taehyung langsung ke kamar mandi—tidak terima karena diacuhkan.

“Lebih efisien,” kata Taehyung tersenyum, memandang Jungkook dari balik bulu matanya yang panjang saat chef muda itu membaringkannya di bathtub yang kering.

Jungkook menyalakan shower-nya dan menaungi Taehyung di dalam bathtub. “Kau faham apa yang sedang kaulakukan, kan?” Dia menatap tubuh Taehyung dengan matanya yang gelap dan kurang ajar lalu menyodok bagian dalam mulutnya dengan lidah.

Taehyung merangkulkan kedua lengannya ke leher Jungkook, meraihnya mendekat sementara air mengguyur mereka berdua dengan suhu hangat-hangat kuku yang nyaman. Jungkook nampak luar biasa seksi dengan rambut basah menempel di keningnya dan air mengalir di hidung bangirnya.

“Tentu saja,” sahutnya mendesah. “Sekarang lakukan apa saja yang kauinginkan, sebelum aku mati karena menginginkanmu.” Dia melenguh keras saat Jungkook merunduk mengecup lehernya yang terbuka dan menghisapnya lembut.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri karena lelah namun sentuhan dan kecupan Jungkook terasa seperti candu yang membakar seluruh rasa lelah Taehyung hingga lenyap. Dia membiarkan Jungkook melepaskan pakaiannya yang basah dan menciumi seluruh tubuhnya yang terbuka.

Menjulurkan tubuh atasnya, Taehyung membantu Jungkook melepaskan pakaiannya dan mengecup tubuh atasnya yang basah. Menarik ciuman malas dari tulang belikatnya, turun ke dadanya dan terus ke perutnya hingga Jungkook mengigil olehnya.

“Ya Tuhan,” bisik Jungkook lalu meraih Taehyung dalam kedua lengannya yang kokoh, melepaskan sisa pakaiannya sebelum mendudukkannya di atas pangkuannya.

Keduanya mendesah panjang saat tubuh mereka bersatu. Taehyung menggerakkan pinggulnya perlahan sementara Jungkook mengerang keras; suaranya menggema di dalam kamar mandi mereka ditingkahi suara shower yang memercik dan tangannya yang bebas memijat tubuh Taehyung yang berdenyut oleh gairah di atas perutnya.

“Kau membuatku gila,” Jungkook berbisik tercekat, mengulum telinga Taehyung hingga pemuda itu sejenak kehilangan ritme gerakan pinggulnya dan mengigil oleh lidah panas Jungkook.

Kehilangan kesabaran, Jungkook meraih pinggul Taehyung dan menggerakkannya sesuai dengan keinginannya hingga keduanya kembali mendesah keras berbarengan. Jungkook memangut bibir Taehyung, menyelipkan lidahnya masuk tanpa sedikit pun memperlambat gerakan tangannya di pinggul Taehyung.

Taehyung melepaskan ciuman mereka hanya untuk mengerang keras, setengah berteriak saat Jungkook mempercepat gerakannya dan dia melemparkan kepalanya ke belakang; mengekspos lehernya yang indah. Jungkook menjulurkan lehernya, mengecup jakunnya dan Taehyung berdeguk penuh kenikmatan.

“Ya Tuhan, ya Tuhan, Jungkook!” Taehyung mendesah panjang, kacau oleh kenikmatan yang membuat otaknya beku. Dia menjambak rambut Jungkook dengan jemarinya, mendesah liar hingga Jungkook merinding olehnya.

“Kau suka itu?” tanyanya lalu terkesirap saat Taehyung menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan, membuat tubuh Jungkook mengejang oleh bagaimana Taehyung menjepitnya. “Oh, sial.” Erangnya keras, terengah dengan kedua lengannya terkulai di sisi bathtub, membiarkan Taehyung bergerak.

“Sial, sial. Sialsialsial.” Keluhnya mengernyit saat seluruh tubuhnya nyeri. “Sial.” Erangnya serak sekali lagi, merangkul pinggang kecil Taehyung dan meremas pantatnya yang terasa selembut roti.

“Aku tidak akan membuat ini mudah,” kata Jungkook kemudian, meraih tubuh Taehyung dan mengangkatnya ke atas pelukannya. Menyatukan tubuh mereka sekali lagi hingga Taehyung terkesirap keras dan menempelkan punggung Taehyung ke dinding kamar mandi sebelum menyentakkan tubuhnya.

“OOH!” Taehyung berseru gemetar, “Tidak, tidaktidak!” Serunya sementara Jungkook bergerak seperti kesetanan. “Tidak, Jungkook tidak, tidak!” Dia mengerang keras dan panjang, menumpukan kepalanya di bahu Jungkook yang terus bergerak.

Tubuh Taehyung terasa seperti terbelah dua oleh sakit dan kenikmatan. Dia mengerang sementara Jungkook mendesah berat.

Bagaimana dia bisa tetap menggendong Taehyung setelah sepanjang malam berdiri dan menyiapkan makanan?

Jungkook pasti bukan manusia.

“OOH!” Taehyung kembali mengerang, mengigit leher Jungkook dan menjambak rambutnya. “Jangan berhenti, jangan!” Dia mengernyit saat perut bagian bawahnya mulai mengejang dengan cara yang memusingkan. “Aku... aku tiba.” Katanya tercekat.

Dan Jungkook mempercepat temponya hingga Taehyung berteriak nyaring. Bubble menggonggong dari depan pintu yang terbuka, ekornya dilipat ke bawah perutnya dan dia menyalak galak ke arah Taehyung dan Jungkook yang bercinta—bereaksi terhadap teriakan Taehyung.

Lalu dia melolong saat Taehyung kembali menjerit, kali ini bersama Jungkook yang menggeram saat keduanya tiba.

Dan semuanya hening.

Bubble menyalak keras lagi, sekali.

“Hei, hei,” Jungkook terkekeh ke anjing mereka saat menurunkan Taehyung. “Kami tidak apa-apa,” katanya lalu merosot ke dalam bathtub, mendudukkan diri dan bersandar di dinding ujung, menjulurkan lengan ke arah Bubble. “Kemari,”

Bubble menggeram sejenak sebelum perlahan mendekat, mengendus tangan Jungkook dan merasa cukup aman lalu menjilat tangannya dan mengibaskan ekornya lagi.

“Anak pintar,” Jungkook tersenyum. “Kau lapar, ya? Sebentar, yaa? Aku harus—OH, fuck!” Dia menggeram dan Bubble terlompat mundur dengan kaget dan menggeram ke arahnya. “Sial, sial!” Serunya kaget saat Taehyung tanpa aba-aba menjulurkan tangan dan memeluk Jungkook dalam mulutnya yang panas.

“Sial!” Erang Jungkook, pening dengan manuver lidah Taehyung yang begitu ahli di tubuhnya.

Taehyung menatapnya melalui sela-sela bulu mata panjangnya dengan lidah terjulur, membelai tubuh Jungkook.

“Kau suka itu?” tanyanya dengan mulut penuh dan Jungkook bersumpah tidak ada yang lebih seksi dari Taehyung yang merunduk di antara kedua kakinya, berwajah merah padam dan rambut basah menempel di keningnya.

Jungkook tersenyum separo, tangannya terjulur lalu menjambak rambut Taehyung, membenamkan mulut Taehyung kembali ke tubuhnya dan mengerang keras. “Ya,” desahnya serak dan berat. “Ya, buat mulutmu berguna.” Dia mengernyit dan melepaskan satu desahan panjang lain yang membuat Taehyung tersenyum lalu menghisap lembut.

“OH FUCK!” seru Jungkook keras, memukul dinding di sisinya dengan kepalan tangan dan menggertakkan giginya akibat sensasi yang memusingkan. “Fuck, Taehyung. Fuck.”

Taehyung tersenyum simpul, menarik mulutnya hingga ke ujung lalu tanpa aba-aba kembali menghisap, kali ini jauh lebih kuat.

Dan Jungkook bergetar, seperti robot buatan yang rusak oleh terlalu banyak komando dan siap meledak kapan saja.

“Aku tidak akan membuat ini mudah,” Taehyung tersenyum separo dengan tangannya yang bergerak lincah di tubuh Jungkook. “Kau ingat ini.”

*