The Chef #197

“Halo, selamat pagi, Chef. Kabar baik?”

Jungkook tersenyum pada dokter di hadapannya. “Selamat pagi, Dok.” Balasnya seraya duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja dokter dan Taehyung di sisinya menyusul. “Baik sekali.”

“Oke,” dokter itu mendesah keras dan tersenyum lebar. “Saya dengar rasa asin Anda sudah kembali? Apakah bertahan lagi kali ini? Tidak seperti rasa pahit kemarin?” Dia menyatat sesuatu di kartu periksa Jungkook di hadapannya.

“Bertahan.” Jungkook mengangguk.

Dokternya ikut mengangguk. “Dari catatan fisik, Anda sudah mulai kembali aktif berolahraga, ya?” Tanyanya santai, mengecek catatan fisik Jungkook yang tadi ditanyakan oleh perawat jaga.

“Saya sudah kembali aktif di dapur, jadi saya harus mengimbanginya dengan olahraga agar tidak mudah lelah.” Jungkook menjawab. “Saya berangkat kerja dengan berlari, sekitar 7 kilometer setiap pagi.”

“Pulangnya?”

“Kadang lari atau dengan mobil.”

Dokter itu nampak puas. “Saya seharusnya tidak meragukan kemampuan fisik Anda, ya, Chef.” Dia tersenyum lebar. “Lalu hasil tes hari ini,” dia berdendang lembut, meraih beberapa kertas dan membacanya.

Dia membawa kertas ronsen ke X-Ray viewer dan menyalakan lampunya, dari balik kacamatanya, dia membaca hasilnya dengan alis berkerut. “Hasil MRI dan CT scan baik, ya,” komentarnya mengganti hasil ronsen dengan kertas lain dan membacanya sebelum mematikan lampu.

Kemudian dokter itu bangkit, “Mari, Chef.” Katanya melambaikan tangan ke arah tempat tidur dan Jungkook berdiri, melangkah ke arah ranjang dan mendudukkan diri di sana, menyeka rambutnya yang mulai panjang.

Dokter menyenteri bekas luka operasi Jungkook dan mengangguk, mengizinkan Jungkook menurunkan rambutnya. “Apakah ada keluhan dengan lukanya? Pusing atau sebagainya?” Tanyanya saat kembali ke mejanya dan Jungkook mengekor dengan setia.

“Tidak,” Jungkook menggeleng. “Hanya gatal.”

“Reaksi wajar saat lukanya mengering.” Dokter itu tersenyum. “Hasil tes hari ini juga baik, fisik baik, MRI tidak ada masalah.” Dia merapikan semua berkas Jungkook di meja dan tersenyum. “Anda merasakan obatnya saat tes?” Tanyanya.

Jungkook mengangguk. “Sedikit, tapi samar-samar. Tapi terasa. Tidak pahit, tidak asin. Hanya aneh, mengigit lalu lidah saya terasa kebas beberapa saat sebelum akhirnya kembali normal.”

Dokter itu mengangguk, menyatat sesuatu lagi sebelum kembali menatapnya dengan hangat. “Anda boleh terus melatih lidah Anda, Chef. Tapi saya tidak menjanjikan 100% indera perasa Anda kembali karena saraf Anda sudah korup, tapi sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?”

“Kita cek kembali bulan depan, ya, Chef?” Kata dokternya saat kunjungan selesai dan menyalami Jungkook hangat. “Semoga Anda datang dengan rasa baru di lidah Anda.”

Setelah mendapatkan multivitamin untuk membuat sarafnya menyembuhkan diri lebih cepat, mereka akhirnya pulang. Taehyung melangkah di sisinya dengan kemeja bercorak yang membalut tubuh langsingnya dengan sempurna, menenteng paper bag obat Jungkook.

“Kau ingin donat?” Tanya Jungkook kemudian seraya membuka kunci mobil mereka.

“Donat?” Balas Taehyung kebingungan. “Kau ingin beli donat?”

“Tidak,” Jungkook terkekeh. “Aku ingin membuat donat. Atau cronut, dalam hal ini. Aku tadi menonton MasterClass Dominique Ansel tadi sambil menunggumu menebus obat dan dia membuat resep ciptaannya, cronut. Dan aku tertarik mencobanya. Kau mau makan?”

Taehyung tersenyum saat Jungkook membukakan pintu penumpang untuknya, dia mendudukkan diri di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman sementara Jungkook berlari memutari bagian depan mobil dan membuka pintu pengemudi.

“Kapan memangnya aku tidak mau makan makananmu?” Tanya Taehyung menyetel penyejuk mobil dan mencari siaran radio. “Kau mau mampir ke toko bahan kue?”

Jungkook mengangguk, nampak bersemangat. “Kita akan merayakan kembalinya rasa asinku!” Dia menoleh ke Taehyung dengan kedua tangannya di roda kemudi, dan nyengir hingga pangkal hidungnya berkerut-kerut menggemaskan.

Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak balas tersenyum. “Baiklah, Pangeran. Kita akan belanja bahan kue untuk cronut-mu.”

“Tahukah kau? Dominique Ansel itu yang menciptakan cronut?” Tanya Jungkook kemudian setelah memasukkan perseneling dan mulai menginjak gas seraya menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum keluar dari tempat parkir mereka. “Dia menciptakan resep yang sekarang digunakan J.CO untuk menu mereka—perusahaan waralaba donat! Gila!”

Taehyung menyandarkan tubuhnya semakin dalam di kursi, tersenyum mendengarkan celotehan Jungkook yang saat senang akan terdengar seperti bayi umur lima tahun yang baru mulai menyadari fungsi pita suaranya.

Dan dia menyukai itu. Menyukai bagaimana Jungkook berceloteh heboh tentang minatnya pada dunia kulinari, memberitahu Taehyung semua masakan hebat chef-chef yang digemarinya, mengajak Taehyung mencobanya, meminta Taehyung mencicipi masakannya.

Itulah yang selalu membuat Taehyung betah bersamanya.

Bagaimana Jungkook nampak begitu bersinar saat dia membicarakan tentang minatnya, bagaimana dia nampak begitu luar biasa hidup dengannya.

Saat mereka berhenti di toko bahan kue, Jungkook langsung bergegas keluar. Mengambil keranjang dan melesat membeli bahan-bahan yang dibutuhkannya sementara Taehyung puas memilih dried fruits yang suka dijadikannya cemilan atau dimakan bersama serealnya.

“Sudah?” Tanyanya saat menghampiri Jungkook yang sedang memasukkan butter ke keranjangnya. “Memangnya membuat cronut ini lebih susah dari croissant?”

Jungkook menggeleng. “Hanya menyetak croissant base-mu menjadi bulat saja.” Dia menatap keranjangnya lalu mengingat-ingat lagi. “Kau mau chocolate ganache?”

“Apa saja, Chef.” Taehyung tersenyum lebar.

“Oke,” Jungkook kembali melangkah menjauhinya dan Taehyung tersenyum. Mengamati dengan lekat bagaimana kemeja Jungkook membalut tubuhnya dengan celana pendek khaki yang memamerkan tato di betisnya, rambutnya yang mulai meriap di bagian tengkuknya, pinggang kecilnya dan bahunya yang bidang.

Setelahnya, mereka berkendara pulang dengan Jungkook yang berdendang mengikuti suara lagu di radio mereka dengan jendela terbuka karena cuaca Bali cukup sejuk hari itu. Taehyung membiarkan wajahnya dibelai oleh angin dan memejamkan mata.

Bubble menyalak ceria saat mendengar suara derum mobil mereka tiba dan saat Taehyung mendorong gerbang terbuka, anjing mereka sudah menyakar-nyakar pintu depan mencoba keluar dengan ekor dikibas-kibaskan heboh. Menggonggong ke arah cermin, memaksa untuk keluar melompat ke pelukan Taehyung.

Sementara Jungkook memasukkan mobil, Taehyung berlari ke pintu depan. “Babeeel!” Serunya ceria, merogoh saku untuk mengelurkan kunci rumah. “Babel, Babel, Babel.” Dendangnya lalu tertawa saat anjing mereka semakin marah karena ditahan.

Taehyung memutar kunci dan membuka pintu lalu berjongkok, menerima Bubble yang melompat ke pelukannya dan menjilati wajahnya dengan penuh semangat. Saat dia berbalik, Jungkook sedang membawa belanjaan mereka di kedua lengannya.

“Hai, Bocah,” dia menyundulkan keningnya ke Bubble yang menyalak ceria dan Jungkook terkekeh.

Mereka memasuki rumah dan Jungkook meletakkan semu belanjaannya di atas konter dapurnya, memilah isinya dan memasukkan semua balok-balok butter ke kulkas sebelum semuanya meleleh karena suhu ruangan. Kemudian dia melipat tas belanja mereka, menyimpannya di kabinet atas dan mendesah.

Taehyung sedang berbaring di karpet ruang depan, bersama Bubble yang menjilati wajahnya.

“Kau tidak mau berganti baju dulu?” Tanya Jungkook membuka kemejanya sendiri yang mulai lengket oleh keringat dan mendesah saat tubuh telanjangnya terpapar udara.

Taehyung menumpukan kepalanya di tangan dan bersiul panjang, mengamati dengan tertarik garis V menukik di garis celana Jungkook, otot halus Jungkook yang sekarang mulai kembali sejak dia mulai kembali berolahraga dan garis rambut tipis yang dimulai dari bagian bawah pusarnya turun hingga ke balik garis celananya.

“Lihat dirimu.” Dia menyampukan tatapan tertarik ke tubuh Jungkook. “Bisakah aku memesanmu untuk makan malam?”

Jungkook tersenyum separo. “Atau cemilan siang juga tidak apa-apa, tertarik?”

“Makan malam saja,” Taehyung berguling telentang lalu terkesirap saat Jungkook mengangkanginya dan menempelkan tubuh mereka hingga Taehyung mendesah panjang. “Kau ini memang tidak boleh digodai sedikit saja!” Dia mendelik, merangkulkan kedua lengannya di leher Jungkook.

“Dasar tidak tahu malu,” keluhnya tersenyum lebar dan Jungkook mengecup bibirnya keras dan basah. “Sana, buatkan aku cronut!”

Jungkook terkekeh lalu bangkit dengan lugas dan menyugar rambutnya yang membentuk tirai di wajahnya. “Baiklah, baiklah. Aku ditolak.”

“Mulai deh,” Taehyung memutar bola matanya lalu tertawa dan Jungkook balas tertawa, beranjak ke dapur. Taehyung bersiul panjang menggodanya. “Hei, Seksi. Kau sedang luang tidak? Sini main sama Om.”

Dan hanya untuk menggoda Taehyung, Jungkook menggerakkan pinggulnya mengejek dan Taehyung tertawa.

*