The Chef #170
Soft Opening Night
“Saya sudah dengar banyak tentangmu dari Jungkook.” Vindex menatap Taehyung. “Saya juga sudah dengar semua masalahnya tadi setiba saya di Bali kami langsung bertemu.”
Dia lalu menepuk bahu Taehyung akrab. “Jungkook itu bukan tipe lelaki yang mudah dihadapi. Kami para chef adalah bajingan congkak yang tidak pernah puas dengan ambisi.
Maka saat dia mengatakan dia butuh istirahat, dia memang butuh istirahat. Sebenarnya semua sesederhana itu,” dia tersenyum sementara Jungkook mengitari ruangan, menyapa semua teman-temannya setelah melepas topi chef yang membuat rambutnya basah oleh keringat.
“Tapi saya tahu,” tambahnya. “Kau hanya ingin membuatnya senang. Mengembalikannya ke bawah lampu sorot. Tapi terkadang mendesaknya terus tidak baik, dia akan kembali saat dia ingin. Ini dunianya, separuh kehidupannya jadi dia tidak mungkin melepaskannya begitu saja tanpa perlawanan.”
Taehyung menatap Jungkook yang sekarang menggendong anak lelaki Arnold yang tembam bermata bulat di pinggangnya dengan ceria; nampak... sangat cocok. Mereka sedang mengobrol; Arnold, Juna dan Jungkook seperti trio kawan lama yang punya banyak cerita untuk dibagikan.
“Bagaimana Anda melakukannya?” Tanya Taehyung menoleh ke Vindex yang sekarang juga sedang menatap Jungkook dengan sorot penuh rasa bangga seorang ayah. “Kami tidak pernah berhasil melakukannya.”
Vindex menyesap sampanye di tangannya. “Hanya mengobrol.” Dia tersenyum. “Dengan Jungkook, kau hanya harus bersikap logis dan tegas. Ingat,” dia menatap Taehyung. “Tegas dan amarah sangatlah berbeda.”
*
“Sama sekali?”
Jungkook menatap chef senior di hadapannya dengan tatapan nanar yang pasrah. “Sama sekali.” Dia meraih pasta cabai yang selalu di bawanya dan memijit kemasannya hingga secuil pasta keluar dari bagian atasnya lalu menyoleknya dengan telunjuk dan membawanya ke lidahnya.
Dia menyesapnya dan menggeleng. “Sama sekali tidak ada.”
Vindex menatapnya dengan alis berkerut. “Setelah benturan kedua dan operasinya, lidahmu belum sama sekali menunjukkan perkembangan?”
“Sekali,” aku Jungkook meletakkan pasta cabainya di meja.
Vindex, setelah menerima telepon Jungkook langsung menjadwalkan ulang penerbangannya dan tiba di Bali tiga jam dari jadwal penerbangan sebelumnya dan Jungkook sudah menelepon bagian resepsionis untuk mengirim driver ke bandara, menjemput tamunya.
Dan sekarang kedua chef itu duduk berhadapan di ruang tamu kecil kamar Jungkook.
“Pahit.” Jungkook menatap Vindex. “Lalu setelahnya lenyap kembali.”
Vindex menyandarkan tubuhnya di kursi sementara Jungkook mengusap rambutnya. Mereka bersidiam sejenak, tidak saling menatap. Kemudian Vindex mendesah panjang.
“Lalu selama ini yang mengurus semua restoranmu adalah Taehyung?”
Jungkook mengangguk. Menumpukan kedua sikunya di atas lututnya dan menunduk, memejamkan mata sementara kepalanya berdentam-dentam mengeringan. “Dia sama sekali tidak memberitahuku tentang pembangunan restoran itu. Aku baru tahu semalam dan hari ini soft opening.”
Dia mendongak, menatap Vindex yang menyandarkan kedua lengannya di sandaran lengan kursi yang didudukinya. “Aku... tidak yakin aku bisa melakukannya, Chef.”
Vindex menatapnya. “Kenapa?”
Jungkook mengerjap. “Karena aku cacat?”
“Cacat bagaimana?”
“Lidahku tidak bisa merasakan apa pun.”
“Benar. Tapi seluruh tubuhmu yang lain? Mereka sehat, kan?”
“Sehat, Chef.”
“Bagian mana lagi dari dirimu yang terasa sakit dan tidak nyaman selain lidahmu?”
Jungkook menatap Vindex, tidak memahami arah pembicaraan mereka lalu menyentuh kepalanya sendiri. “Kepalaku.” Katanya lemah. “Terlalu banyak pikiran yang menyakitiku belakangan ini. Seperti kanker ganas yang membuat tidurku tidak nyenyak, rasanya sakit sekali.
“Bahkan hal sesederhana berpikir membuat otakku nyeri. Aku ingin berhenti berpikir. Ingin membuka tempurung kepalaku lalu mengeluarkan otakku hanya agar aku bisa berhenti berpikir sebentar saja karena sungguh, di dalam sana begitu menyakitkan.”
“Boy,” Vindex menepuk bahunya lalu meremasnya dengan lembut. “Terkadang saat kau memikirkan terlalu banyak hal kau lupa untuk menghadapinya. Masalahmu hanya akan selesai jika kau menghadapinya. Berhenti khawatir sejenak dan hadapi saja—gagal atau berhasil, itu adalah hadiah. Proses sebenarnya adalah bagaimana kau bangkit untuk menghadapi masalahmu.
“Dalam pikiranmu, mungkin masalah itu terasa begitu berat dan menyesakkan tapi setelah kau menghadapinya, kau pasti menyadari betapa masalah itu tidak punya kuasa atas dirimu sendiri. Kau yang memberikan masalah itu kuasa atas hidupmu.
“Kau seorang chef,” Vindex meraih kedua tangan Jungkook dan menengadahkannya hingga Jungkook menatap telapak tangannya sendiri. “Memasak itu identitasmu, separuh hidupmu. Aku yakin kau bisa melakukannya bahkan tanpa berpikir.
“Kau sekarang hanya sedang cemas. Cemas akan hal yang sebenarnya tidak ada. Kau cemas tentang bagaimana orang-orang akan memandangmu setelah ini karena bagaimana bisa seorang chef tidak memiliki indera perasa? Bagaimana mereka akan berhenti menghormatimu hanya karena kau tidak bisa merasakan kembali?
“Kau takut. Aku faham sekali. Tapi, Boy, ketakutan itu tidak perlu diberi makan terus menerus. Malam ini soft opening restoranmu, banyak teman-temanmu yang diundang. Mereka di sana adalah timmu, mereka membutuhkanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk datang ke sana dan memasak—aku tahu kau memasak karena itu adalah bakatmu, passion-mu dan apa pun yang dipaksakan tidak akan berakhir baik.
“Aku hanya akan memintamu mempertimbangkan ini.”
Vindex menatapnya. “Kau adalah seorang chef. Kau adalah chef paling ambisius, paling keras kepala, paling congkak dan paling berbakat yang pernah kutemui. Maka aku mendampingimu, membimbingmu terus hingga kau tiba di titik puncak.
“Dan kau membuktikannya pada semua orang; membungkam mereka yang memandangmu sebelah mata, meremehkan tekad dan ambisimu. Membuat mereka tunduk di kakimu oleh bakat yang kauasah terus-menerus dibahanbakari oleh kekeraskepalaanmu.
“Kau menunjukkan kekuatan dan daya tahan yang luar biasa saat bekerja di bawah tekanan. Kau berhasil mengalahkan hal-hal mustahil dan menjadikannya mungkin. Kau berbakat, Jungkook. Kau sangat berbakat. Tidak pernah membiarkan siapa pun dan apa pun memukulmu mundur, bahkan kemustahilan pun tidak.
“Lalu, apakah kau akan membiarkan keadaan mengalahkanmu sekarang?” Vindex menatapnya lalu menyunggingkan senyuman, menepuk tangan Jungkook yang sehat.
“Atau kau yang mengalahkan keadaan? Seperti biasa?”
*
“Selamat malam.”
Jungkook diam sejenak dan tersenyum lebar saat seluruh ruangan bertepuk tangan meriah setelah dia berdiri di panggung kecil bersama band yang sejak tadi memainkan lagu-lagu kesukaannya dengan mendayu-dayu lirih. Jungkook menanti hingga semua orang berhenti bertepuk tangan sebelum berdeham dan menerima pengeras suara dari vokalis band di sisinya.
“Sepertinya saya tidak perlu pengeras suara,” katanya mengembalikan pengeras suara di tangannya ke vokalis band yang menerimanya dengan kikuk. “Saya terbiasa berteriak-teriak di dapur jadi tidak masalah, ya?” Tanyanya ke seluruh tamu yang sekarang tertawa.
“Selamat malam sekali lagi kepada seluruh rekan dan senior saya di dunia kulinari,” Jungkook menebarkan senyuman ke seluruh penjuru ruangan. Suaranya yang sudah terlatih untuk berteriak mengalahkan suara-suara berisik di dalam dapur menjangkau ke seluruh ruangan dalam pantulan suara yang tenang dan jernih.
Senang saat merasakan deru darah di pembuluh darahnya dan bagaimana hal ini memberikannya suntikan rasa semangat yang belum pernah dirasakannya lagi. Adrenalin mengisi seluruh dirinya hingga dia pening dan sudah sangat lama semenjak dia berdiri di tengah ruangan, menjadi pusat perhatian dan menerima pujian atas semua menu yang dihidangkannya malam ini.
Jungkook baru menyadari betapa dia sangat merindukan pekerjaan ini.
Hal yang dulu memberi makna pada hidupnya saat dia merasa tidak lagi memiliki tujuan atas hidupnya yang menyedihkan. Memberikannya semangat untuk terus melangkah maju mengejar satu-satunya mimpi yang mengikatnya terus ke bumi.
Satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan hidup.
Satu-satunya sebelum dia bertemu Kim Taehyung.
“Saya merasa sangat terhormat karena Anda semua berkenan meluangkan waktu Anda di tengah-tengah kesibukan masing-masing untuk berbagi kebahagiaan bersama saya atas pendirian restoran baru saya yang sesungguhnya—,” mata Jungkook bergulir ke Taehyung yang berdiri di sisi meja Vindex, sejak malam dimulai tidak meninggalkan sisi tamu istimewa Jungkook itu sama sekali.
“Tidak akan pernah berdiri jika bukan tanpa dedikasi, cinta dan kesabaran kekasih saya, Kim Taehyung.” Dia menatap langsung ke mata Taehyung yang sekarang menghela napas panjang dan tersenyum saat ruangan bertepuk tangan padanya.
Taehyung melangkah maju dalam dua langkah panjang, berbalik menghadap ruangan dan membungkuk singkat berterima kasih sebelum kembali ke sisi Vindex yang menyalaminya hangat.
“Proyek ini sebenarnya sudah saya batalkan,” Jungkook memulai kembali. “Karena... ada banyak hal yang terjadi selama ini.” Dia menatap Vindex yang mengangguk menyemangatinya. “Saya merasa saya tidak layak menjadi seorang chef lagi setelah kejadian itu dan memutuskan untuk membatalkan pendirian restoran ini. Namun Kim Taehyung dengan seluruh tekadnya membawa saya kembali ke dunia ini, menerjang segala halangan untuk mewujudkan mimpi yang saya sendiri sudah lepaskan.
“Tanpanya, saya mungkin masih tersesat dan melepaskan satu-satunya mimpi yang membuat saya terus bisa bertahan hidup.” Dia menghela napas, menatap ruangan yang sekarang balas menatapnya, mendengarkan dengan sopan.
“Kemudian Chef Vin,” Jungkook tersenyum lalu mendesah keras dan menelengkan wajahnya ke kanan, memasang wajah menyerah yang jenaka. “Selalu dan selalu Chef Vin, kan?”
Seluruh ruangan, khususnya para chef yang sudah sejak lama mengetahui sepak-terjang Jungkook dalam dunia kulinari, tertawa.
“Memang selalu Chef Vin.” Arnold bersidekap, bersandar di kursinya dan mengangguk-angguk serius hingga beberapa chef kembali tertawa.
“Hei. Apa lagi salahku?” Balas Vindex, menoleh ke arah Arnold yang tertawa dan balas tertawa.
Jungkook tertawa lalu melanjutkan dengan suaranya yang keras dan membuat semuanya kembali hening. “Chef Vin membantu saya untuk meyakinkan diri bahwa terlepas dari apa yang sekarang terjadi pada tubuh saya, bakat saya dalam dunia memasak tidak akan mati semudah itu hanya karena satu dan lain hal.”
Dia menghela napas lalu tersenyum. “Maka di sinilah saya sekarang, menyambut Anda semua sekalian dalam balutan seragam kebanggaan kita semua alih-alih bergelung di kamar yang gelap mengasihani diri saya sendiri.
“Terima kasih atas dukungan dari semua pihak hingga saya bisa berdiri di sini, saat ini. Saya tidak akan pernah bisa melakukannya sendiri; ada banyak bantuan dan dukungan yang mungkin luput saya perhatikan dan apresiasi selama ini. Orang-orang yang membantu saja menjadi diri saya hari ini dengan segala prestasi yang gemilang.
“Terima kasih banyak atas bantuan, didikan dan bimbingan Anda-Anda sekalian selama ini dan saya berharap makanan yang terhidang di meja Anda malam ini terasa sama luar biasanya dengan perasaan saya saat memasaknya untuk Anda sekalian.”
Lalu dia meraih gelas sampanyenya dan mengangkatnya ke udara, “Untuk kita semua.”
Taehyung mengangkat gelasnya. “Untuk Jeon Jungkook.” Koreksinya dan Vindex tertawa dan menyusulnya berdiri dengan gelas di tangannya.
“Untuk Jeon Jungkook.” Balasnya dan seluruh ruangan berdiri dengan suara derit kursi menyapu lantai yang seragam.
“Untuk Jeon Jungkook.” Mereka mengangkat gelasnya lalu meneguk isinya sementara Jungkook di panggung menatap Taehyung dengan tatapan penuh cinta dan kebanggaan yang membuat perut Taehyung melilit oleh rasa cinta.
Jungkook menuruni panggung dan membiarkan band melanjutkan lagu setelah tepuk tangan meriah turun dan makanan penutup mulai dihidangkan. Piring-piring dibereskan dengan suara dentang-dentang yang akrab dengan seluruh diri Jungkook yang menghabiskan nyaris separuh usianya di dapur. Dia menghampiri Taehyung, meraih pinggangnya lalu mencium bibirnya.
“Menikahlah denganku.” Katanya menatap mata Taehyung seolah terhipnotis dan pemuda dalam pelukannya tertawa.
Dia mengangkat tangannya, memamerkan cincin yang melingkar di jarinya. “Kau sudah melamarku lima kali,” dia nyengir. “Sekarang saatnya menggelar pernikahannya, bukan melamarku berulang-ulang kali, Bodoh.”
Jungkook masih menatapnya, nampak seperti orang buta yang baru pertama kali menatap cahaya. Terhipnotis sepenuhnya oleh senyuman Taehyung dan dia bahkan tidak berkedip. Tidak mengindahkan gurauan Taehyung sama sekali saat dia kembali mengecup bibirnya dan mengangguk.
“Baiklah. Wedding it is. Kau pilih tempatnya.”
Jantung Taehyung terasa berhenti berdetak untuk satu detik yang terasa lama. “Apa?” Tanyanya kebingungan sekaligus merinding oleh rasa bahagia. Jungkook sedang bercanda, ya? Mereka akan sungguh-sungguh menikah?
“Ayo menikah,” ulang Jungkook tenang, matanya menatap langsung ke mata Taehyung dan membuatnya merasa seolah sedang ditelanjangi. “Tinggal sebutkan tempat dan tanggalnya. I'll make it happen.”
Taehyung tersenyum simpul mendengar kecongkakan dan percaya diri Jungkook yang menetes dari bibirnya yang manis. “Seperti Bandung Bondowoso?”
“Persis.”
Taehyung merangkulkan kedua lengannya di leher Jungkook dan tersenyum. “Baik.” Katanya mengerling Jungkook. “Ayo menikah.” Lalu menarik tengkuk Jungkook mendekat ke arahnya dan mencium bibirnya.
“Ya. Ayo menikah,” bisik Jungkook di bibirnya yang terkuak dan tersenyum lebar sementara satu ruangan mulai bertepuk tangan lagi dengan meriah.
*