The Chef #167

Taehyung menghela napas dalam-dalam.

Meja-meja sudah ditata dengan masing-masing buket bunga mungil segar di atasnya dengan standing acrylic yang terisi nama-nama tamu sesuai dengan meja mereka. Dia berdiri di tengah ruangan sementara anak servis mondar-mandir di sekitarnya menyiapkan soft opening mereka malam ini yang akan dihadiri jajaran chef profesional Indonesia.

Semua sudah disiapkan sejak pagi, dapur sudah sibuk dengan tim lengkap yang dipimpin Yugyeom walaupun sebenarnya hasil masakannya tidak terlalu mendekati masakan Jungkook. Resepnya boleh saja lengkap dan sangat detail, tapi hanya Jungkook yang tahu bagaimana mengeksekusi resep itu dengan baik. Belum lagi Yugyeom adalah pastry chef—dia pernah belajar cuisine selama di sekolah kulinari tapi dia tidak pernah menekuninya dengan serius.

Tidak seserius Jungkook melakukannya.

Taehyung melirik jam tangannya, sudah jam enam sore tapi Jungkook tidak juga memberinya kabar. Hal terakhir yang dibicarakannya hanya anak kucing abu-abu yang dipungutnya entah dimana dan Taehyung mendesah panjang; memijat pelipisnya yang terasa nyeri.

Dia sudah melompat ke dalam kolam, pilihannya tenggelam atau berenang.

Maka dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menghadapi apa pun yang akan terjadi. Jungkook berhak mendapatkan waktunya sendiri dan Taehyung harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri tanpa sepengetahuan Jungkook. Walaupun terasa dingin dan jahat, Jungkook benar.

Ini tanggung jawab Taehyung. Dia sendiri yang melakukannya tanpa Jungkook minta, jadi kenapa dia harus berharap Jungkook akan menyukainya? Dia berhak untuk tidak menyukai sesuatu yang tidak diharapkannya.

Bagi Taehyung ini adalah sebuah hadiah.

Maka Jungkook berhak menolaknya jika dia merasa dia tidak menyukainya dan Taehyung tidak perlu bersedih atas penolakan itu. Karena dia menyiapkan ini sebagai hadiah dan tidak ada kewajiban bagi Jungkook untuk menerimanya. Sekarang, dia akan mengurus hadiah ini dengan tenaganya sendiri.

Setelah grand opening, dia akan mengadakan rapat dengan para chef untuk menyusun menu walaupun dia benar-benar tidak faham bagaimana caranya tapi setidaknya dia punya sous chef berpengalaman yang faham. Dia yakin dia akan baik-baik saja setidaknya sampai Jungkook luluh.

Tamu-tamu dijadwalkan untuk tiba pukul tujuh malam dan band penghibur mereka sudah bersiaga di panggung kecil di sudut ruangan, melakukan check sound sejak sore tadi dan sekarang memainkan lagu-lagu klasik kesukaan Jungkook dengan mendayu-dayu. Taehyung juga sudah menyiapkan naskah untuk digunakannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tamu.

“Jungkook sakit, dia tidak bisa menghadiri soft opening. Dia meminta maaf sedalam-dalamnya atas ketidak-profesionalitasannya hari ini dan berjanji akan menghadiri acara grand opening-nya.”

Walaupun jelas semua chef yang datang malam ini hanya menanti kehadiran Jungkook tapi Taehyung telah gagal meyakinkan Jungkook bahkan di menit-menit terakhir. Jadi dia menyerah dan memasrahkan seluruhnya pada keadaan; dia sudah melakukan yang terbaik.

Dia juga tidak ingin menekan Jungkook terlalu kuat dalam hal ini.

Pukul enam tiga puluh.

Semuanya sudah siap dengan sempurna. Taehyung meluncur mengelilingi ruangan untuk mengecek semuanya sesuai dengan planner yang dipegangnya. Dia memastikan semua acrylic nama cocok dengan mejanya dan pasangan duduknya, dia memastikan semua alat makan sudah dipoles, memastikan semua serbet rapi dan simetris.

Dia membawa nama Jungkook malam ini di hadapan seluruh rekan kerja dan seniornya, maka dia tidak akan membiarkan kecacatan apa pun merusaknya. Dia melongok ke dapur yang sibuk; suara api yang mendesis, teriakan orang-orang bersahut-sahutan ditingkahi suara denting peralatan masak dan desis api serta suara Yugyeom yang mengecek hot kitchen.

“Aku tegang sekali.” Katanya tadi sore, pertama kalinya merokok dengan wajah suntuk. “Aku belum pernah memimpin tim hot dan cold kitchen mempersiapkan five course meal untuk 50 pax.” Dia menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya naik sebelum memijat pangkal hidungnya.

Taehyung berdiri di sisinya. Teringat kata-kata Jungkook: 'Menjadi chef bukan sekadar memasak makanan dan menjadi seksi dalam balutan seragam.'

Mungkin itulah yang dirasakan Yugyeom sekarang.

Bagaimana seluruh tamu agung itu adalah ahli di bidangnya dan Yugyeom belum memiliki kemampuan cuisine bahkan setengah dari kemampuan Jungkook. Dia sekarang harus memimpin satu tim untuk mengeksekusi resep Jungkook yang selalu membuatnya mengerang oleh rasa tegang.

“Aku harus mengurus mereka semua,” dia bergidik. “Kupikir dulu menjadi head chef pastilah menyenangkan karena kau hanya perlu marah-marah dan bersikap bajingan sepanjang waktu.

“Lalu ketika beban itu ditimpakan padaku, bum! Aku sekarang ingin sekali meneriaki wajah orang-orang dan benar-benar jengkel saat mereka tidak bergerak dengan cepat.

“Kurasa kita memang tidak bisa menilai orang lain sebelum benar-benar mengalami apa yang dialaminya secara langsung.”

Yugyeom menghembuskan asap rokoknya, membiarkan kalimat terakhirnya melayang di udara mereka dan meresap ke dalam paru-paru dan hati mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang memahami betul apa yang dirasakan Jungkook sekarang dan mereka sudah dengan tidak sopan berpikir mereka berhak menentukan kapan Jungkook siap untuk bergerak kembali.

“Aku akan memberikan apa pun,” katanya melempar puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. “Apa pun agar Jungkook muncul di kitchen, memimpin tim sesuai dengan keinginannya. Menyelamatkan makan malam ini. Karena sungguh, aku tidak yakin aku bisa melakukannya.”

'Aku tidak yakin aku bisa memimpin tim.'

Taehyung memijat pelipisnya yang berdenyut mengerikan lalu menutup pintu dapur, membiarkan suara keriuhan dapur tenggelam bersama tertutupnya pintu ganda. Bersandar di pintu pendingin dan bernapas melalui mulutnya. Kepalanya berdenyut mengerikan karena ketegangan.

Dia akan menyambut semua senior Jungkook tanpa Jungkook malam ini.

Benar.

Mereka semua tidak faham apa yang dirasakan Jungkook. Berdiri di sana, memimpin puluhan anak buah; sous chef, CDP, DCDP dan commis untuk memberi makan orang-orang kelaparan dengan tepat waktu. Dengan enak dan lancar. Menjadi chef bukan sekadar menjadi keren dalam balutan seragam dan topi tinggi.

Dia sedang memejamkan mata saat seorang anak servis menghampirinya. “Pak,” katanya pelan-pelan dan Taehyung membuka matanya.

“Oh, ya?” Dia menegakkan tubuhnya. “Maaf, kenapa?”

Anak itu mengangguk. “Tamu reservasi meja satu VIP sudah datang, Pak. Katanya ingin bertemu Bapak dulu.”

Taehyung mengecek planner-nya; mengecek nama yang mengisi meja 1 VIP. “Siapa, ya?” Dia bergegas melangkah menuju bagian depan restoran diikuti oleh anak servis yang tergopoh-gopoh dalam balutan seragamnya yang ketat dengan heels yang menimbulkan suara 'tak! tak! tak!' nyaring dalam setiap langkahnya.

Taehyung mendorong pintu ke arah area restoran dan langsung bertemu mata dengan lelaki paruh baya yang tersenyum hangat padanya. Dia berdiri dengan pakaian kasual dan celana jins, nampak masih kuat dan muda. Mengamati restoran dengan tertarik dan puas seperti seorang ayah yang melihat hasil prakarya anaknya mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya.

“Beliau Chef Vindex, Pak.” Kata anak servis di belakangnya tepat saat Taehyung membalas senyuman chef senior itu.

“Chef,” sapa Taehyung tersenyum ramah langsung mengangguk berterima kasih pada anak servis lalu menghampiri Vindex yang melangkah ke arahnya juga. Mereka bertemu di tengah ruangan dan Taehyung langsung mengulurkan tangannya yang dibalas dengan jabatan tangan yang hangat. “Senang bertemu dengan Anda.”

“Taehyung.” Chef itu tersenyum. “Saya sudah dengar banyak tentangmu.” Dia menepuk tangan Taehyung akrab. “Saya tiba terlalu awal, ya? Penerbangan saya di-reschedule dan saya tiba lebih sore dari seharusnya. Daripada menghabiskan waktu dengan termangu di kamar, saya memutuskan untuk datang saja. Apakah tidak masalah?”

“Tidak, sama sekali tidak, Chef.” Taehyung mengulaskan senyumannya yang cerah lalu membimbing Vindex ke mejanya, meja paling depan dekat dengan showing kitchen. Juru masak itu meraih tempat duduknya dan duduk sesuai dengan namanya.

“Saya tadi datang bersama teman saya tapi sepertinya dia sedang ke toilet.” Dia tersenyum.

“Oh, tidak apa-apa, Chef.” Dia kemudian mencatat di kepalanya untuk menggeser satu nama demi memberikan satu kursi bagi teman Vindex walaupun pada awal reservasinya, dia mengatakan akan tiba sendirian.

“Silakan duduk, Chef. Anda ingin minum sesuatu?” Taehyung sendiri yang meraih menu terlipat di atas meja dan membukanya untuk dibaca oleh Vindex. “Sembari menunggu para tamu lain.”

Vindex menatap menu lalu tersenyum. “Bagaimana jika saya bertemu Jungkook sebelum semua tamu datang? Sudah lama sekali saya tidak bertemu Jungkook.” Dia mendongak menatap Taehyung. “Dan air putih saja untuk sekarang.”

Taehyung menelan ludah, apa yang harus dikatakannya?

*

Yugyeom mulai uring-uringan.

Dia mendadak tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya padahal dua hari lalu saat mereka mencoba semua menu Jungkook, dia faham. Dia merasa percaya diri untuk memimpin timnya. Namun menjadi head chef dengan tamu sungguhan yang menunggu makanan ternyata tidak semenyenangkan apa yang dipikirkannya.

Dia lebih suka kembali ke pastry section, men-temper cokelat atau mencetak ribuan choux daripada harus menyicipi semua saus, mengecek tingkat kematangan semua protein dan memastikan semua kondimen disiapkan tepat waktu bersamaan dengan semua susunannya untuk di-plating.

Tidak ada yang boleh tertinggal di belakang. Protein, saus dan salad harus tiba di meja plating bersamaan. Begitulah Jungkook selalu menetapkan standarnya.

Dia berdiri di meja plating, menyiapkan semuanya dengan sous chef-nya. Mengecek semua daging dan saus, berteriak marah saat ada yang tidak sesuai dan tidak jarang menyambar sendiri frying pan-nya dan memasak makanan itu sendiri dengan wajah keras yang merah padam oleh amarah.

Yugyeom hanya pernah bekerja bersama Jungkook sekali, dan dia tahu betapa gilanya Jungkook pada standar. Dia tidak suka jika ada setitik saus pun yang jatuh di piring tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Maka dia pasti sudah sinting karena dia berharap dia bisa mengeksekusi menu Jungkook dan dihidangkan atas namanya kepada seluruh rekan kerjanya dan juga seniornya.

“Aku lebih suka membuat choux. Sungguh.” Keluhnya menyedihkan saat bergerak menyelip di antara para commis untuk mengecek saus dan daging yang sedang dimasak untuk appetizer.

Nampan-nampan dengan lusinan canape mungil sudah dibawa keluar oleh beberapa anak servis beserta cocktail-cocktail dalam gelas anggun yang sejak sore tadi disiapkan bartender. Keluarnya canape menandakan mulainya hot kitchen menyiapkan appetizer karena tamu-tamu akan mulai berdatangan untuk makan.

Mereka datang untuk makan.

Ini restoran, bukan lagi hotel sebagaimana tempat Yugyeom dulu bekerja. Mereka kemari untuk makanannya, bukan menginap, berenang atau pergi ke pusat kebugaran. Mereka datang dalam keadaan lapar untuk makan. Hal itu sangat berbeda.

Dia sedang meraih sendok untuk menyicipi saus saat seseorang mendorong pintu ganda dapur terbuka dengan berisik dan bersiul nyaring. Yugyeom sudah menghela napas akan meneriaki orang itu dengan kata kasar saat orang itu berdecak keras.

Yugyeom mengenali suara itu.

“Wah. Kacau sekali, ya.”

Dia berhenti bekerja. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia memejamkan mata; ketegangan yang sejak tadi bergelayut di tubuhnya meluruh menjadi genangan lengket di lantai tempatnya berdiri, sendoknya jatuh ke konter dengan dramatis dan menimbulkan suara dentang nyaring yang menggema ke seluruh ruangan. Dia harus berpegangan pada sisi konter dapur karena lututnya terasa lemas oleh rasa syukur yang dahsyat.

“Kau bajingan bangsat,” katanya lalu tertawa terbahak-bahak histeris dan berbalik, menemukan satu-satunya sahabatnya.

Jeon Jungkook.

Sedang berdiri di tengah dapur dengan seragamnya yang licin dan rapi, apron yang diikat kencang ke pinggang rampingnya serta rambut yang sudah diikat rapi dengan harnet tipis.

“Kau bedebah bangsat!” Yugyeom menerobos semua commis dan meluncur ke arah Jungkook yang tertawa serak, dia merengkuh tubuh sahabatnya dalam pelukan hangat yang membuat Jungkook tercekik. “Kau nyaris mempertaruhkan leherku! Kau nyaris membunuhku!”

Jungkook tertawa. “Iya, iya, aku juga mencintaimu.” Sahutnya lalu meraih topi yang digunakan Yugyeom dan menggantinya dengan topi lain yang lebih pendek untuk pastry chef.

Dia mengenakan topi head chef itu dan meluruskannya dengan lengannya. “Wow. It's nice to be back.” Desahnya saat topi itu terpasang pas di kepalanya.

Yugyeom mengusap air matanya dan tertawa gemetar, meluruskan topinya yang sekarang tidak terasa berat sama sekali karena Jeon Jungkook di sini. Dia akan bekerja seperti badai yang menghasilkan makanan lezat sesuai dengan standar sintingnya.

“Halo,” katanya kemudian pada seluruh dapur yang langsung berhenti bekerja saat mendengar suara alfanya yang serak. Dia mengedarkan padangannya ke seluruh section dengan ringkas lalu berdecak keras dengan jengkel.

Ini dia. Jeon Jungkook telah kembali.

“Kau,” panggilnya pada seorang commis di balik kompor. “Angkat sikumu!” Katanya berdecak. “Kau hanya akan membuat saus dan seragammu gosong.” Dia membentuk lengannya sendiri, “Lakukan begini.” Dia menyontohkannya dengan gerakan seanggun penari. “Kau lulus sekolah tidak, sih?”

Yugyeom mendapati dirinya tertawa dalam kelegaan yang melumpuhkan.

“Kau,” dia mendelik pada satu commis lagi yang sedang memotong bahan. “Kita akan memberi makan mereka malam ini. Jika kau memotong bawangmu selamban siput, mereka akan mendapat makanannya setidaknya besok. Sekolahmu tidak mengajarimu cara chopping, ya?”

Lalu dia mendesah. “Kacau sekali. Head chef kalian tadi memang tidak kompeten.” Dia mengerling Yugyeom dan menyunggingkan senyuman separonya yang congkak dan Yugyeom menatapnya, setengah ingin mematahkan leher Jungkook agar dia diam atau menciumnya.

“Saya Jeon Jungkook. Saya pemilik restoran dan kepala chef kalian malam ini serta seterusnya. Dan hal yang sangat saya benci adalah,” dia mengacungkan kepalan tangannya ke udara untuk dilihat semua orang.

“Satu, makanan mentah,” dia mengangkat telunjuknya. “Dua, makanan gosong,” dia menangkat jari tengahnya. “Tiga, makanan terlambat.” Dia menambahkan jari manisnya. “Empat, obrolan dalam bekerja yang tidak dibutuhkan.”

Dia mengangkat kelingkingnya. “Dan yang terakhir,” dia membuka jempolnya hingga sekarang telapak tanganny terpampang menghadap ke semua commis yang menatapnya dengan rasa hormat baru. “Tamu yang kecewa. Kalian semua faham?”

“Siap! Faham, Chef!”

“Apa yang saya benci?” Dia mengacungkan telunjuknya ke udara.

“Makanan mentah!” Sahut semuanya serentak, bahkan Yugyeom di sisinya. Jungkook mengangguk, memejamkan mata mendengarkan dengan saksama.

“Dua?” Dia mengangkat jari tengahnya.

“Makanan gosong!”

Jari manis, “Tiga?”

“Makanan terlambat!”

Kelingking, “Empat?”

“Obrolan tidak penting!”

Ibu jari, “Lima?”

“Tamu yang kecewa!”

Dia membuka mata dan menatap seluruh timnya satu per satu di matanya. “Semua orang di luar sana adalah tamu penting saya. Kita tidak bisa gagal karena kita tidak boleh gagal. Faham?”

“Siap! Faham, Chef!”

“Good. Sekarang ayo kita beri makan mereka semua.”

Dia baru saja akan beranjak ke meja plating saat pintu kitchen yang mengarah ke restoran menjeblak terbuka dan kedua daun pintunya menghantam dinding dengan suara keras yang dramatis.

“Demi Tuhan, ada apa ini!?” Seru Jungkook seketika lalu terkesirap keras saat sesosok tubuh berlari nyaris selincah cheetah langsing yang langsung melenting dan melompat ke arahnya, mengulurkan kedua lengannya untuk memeluknya lehernya.

Jungkook secara refleks meraih tubuh itu dengan kedua lengannya yang kuat, terhuyung ke belakang menerima bobot itu namun berhasil menjejak kakinya yang terlapis safety shoes dengan kuat di lantai.

Tubuh itu mengunci kedua kakinya di pinggang Jungkook lalu mencabut topinya, menyambar rambutnya dan mencium bibirnya dengan suara keras yang menggema ke seluruh dapur hingga semua tim seketika mengalihkan padangan dengan sopan.

Taehyung menjambak rambutnya dan menggeram di bibirnya. “Bajingan!” geramnya lalu kembali mencium Jungkook yang terkekeh.

“Halo juga, Sayang.”

“Jangan panggil aku begitu!”

“Oh baiklah, Taehyung.”

“Jangan panggil aku begitu!”

“Lalu apaa?!”

“Kau benar-benar—!” Taehyung menarik rambutnya hingga Jungkook terkesirap kaget terhibur dan memaksanya mendongak sebelum menciumnya kembali; kali ini jauh lebih dalam dan penuh amarah lalu mengigit bibirnya.

“Aduh!” Jungkook seketika melepaskan bibirnya dan merasakan darah terbit di bibirnya. “Kau galak sekali!” Dia menatap Taehyung dengan tatapan tidak setuju yang geli lalu melirik ke balik punggungnya dan nyengir.

“Oh, halo, Chef!” Sapanya pada Vindex yang berdiri di pintu ganda, tertawa.

“Saya menemukan teman saya, Taehyung. Ternyata Jungkook di kitchen, tempat semestinya.” Kata Vindex geli bersandar di kusen pintu yang terbuka.

“Oke, Lintah galak,” dia menatap Taehyung yang masih menatapnya dengan air mata meluruh di pipinya. “Aku harus memasak, oke? Aku tidak mau orang-orang makan makanan tidak layak. Sana, berdirilah di depan sambut semua orang untukku.”

“Kau tidak akan pergi lagi?”

“Tentu saja pergi.”

“Kenapa?!”

“Jika tamunya sudah pulang dan dapur sudah bersih, kenapa aku masih harus di da—ADUH! SAKIT!”

Taehyung menatapnya kesal dengan tangan menjambak rambut Jungkook kuat-kuat hingga chef muda itu meringis. Kakinya mencapit pinggang Jungkook dengan kuat hingga Jungkook merasa sesak namun dia tidak keberatan sama sekali.

Dia sudah pernah mengalami yang jauh lebih liar dari Taehyung.

“Kepalaku baru saja cidera, oke?” Katanya meringis. “Jangan kasar-kas—ADUH, SAYAAANG??”

*