The Chef #162

Kepalan tangan Jungkook menghantam dinding di hadapannya dan mengirimkan sentakan rasa nyeri ke seluruh tangan dan lengan bawahnya. Dia kemudian menumpukan keningnya ke dinding, memejamkan mata dan menghirup napas melalui mulutnya yang terbuka seperti seekor ikan koi yang dipaksa naik ke permukaan.

Tangannya bergetar hebat saat menerima pesan dari Chef Vindex. Chef paruh baya itu telah menemani perjalanan karirnya sejak Jungkook masih hanyalah seorang commis ambisius yang ingin mengisi posisi head chef. Bersama Chef Vindex-lah dia belajar banyak hal, belajar banyak teknik dan etos kerja yang akan membantunya naik perlahan-lahan.

Chef itulah yang selalu membimbing Jungkook untuk mengekplor bakatnya, menambah teknik-teknik baru, tidak takut untuk mencoba dan terus bermimpi. Saat akhirnya Chef Vin mengundurkan diri dan berangkat bekerja di luar negeri, dia menitipkan restoran padanya sebagai sous chef. Lonjakan yang sangat tinggi dalam karir Jungkook karena bimbingan dan evaluasi chef atas kinerjanya.

Jungkook tidak pernah ingin mengecewakan Chef Vindex seumur hidupnya.

Kepalanya terasa begitu pening dan menyakitkan. Memang tidak ada yang tahu mengenai kecelakaan Jungkook dan baru belakangan ini Jungkook kembali memegang ponselnya—kembali ke peradaban.

Bertemu orang-orang selain teman-temannya dan Taehyung membuat kepalanya sakit, lututnya lemas dan anxiety mencengkram perutnya dengan cara yang membuatnya mual. Dia benci perasaan ini, perasaan saat dia ingin berguling ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.

Menghindari seluruh kontak dengan semua orang karena dia takut, dia tidak mau menatap ekspektasi yang ada di mata mereka. Jungkook tidak siap menatap ekspektasi itu saat dia menyadari dia belum mampu melakukannya.

Setelah bangkit dari depresinya, Jungkook perlahan mulai kembali memasak. Mengasah kemampuanny sedikit demi sedikit, mengetes lidahnya dengan pasta cabai beberapa kali hanya demi mendapati organ itu tidak merespon sama sekali.

Dia sering terbangun tengah malam oleh perasaan anxious hanya untuk pergi ke dapur, menyicipi garam, cuka dan pasta cabai. Menempelkan semuanya ke lidahnya yang mati rasa. Berharap dalam gelap dia bisa setidaknya merasakan rasa-rasa itu walaupun hanya sedikit saja sehingga dia bisa berharap.

Namun nihil.

Tidak ada yang terjadi, sekeras apa pun Jungkook berusaha.

Walaupun Taehyung dan Jimin selalu memuji masakannya, selalu menenangkannya dengan memberitahunya betapa lezat masakannya tapi Jungkook tidak pernah puas. Hati kecilnya selalu takut bahwa mereka hanya sedang menghiburnya agar dia segera bangkit dan tidak menyulitkan mereka lagi dengan bersikap dramatis.

Dia terbiasa dengan tatapan kagum, terbiasa dengan kehebatannya di bawah lampu sorot. Dan dia tidak terbiasa dengan tatapan kasihan. Taehyung tidak memberitahu siapa pun tentang kecelakaannya dan semuanya merahasiakan hal itu dengan baik, menutupinya seperti sebuah luka koreng yang membusuk.

Tidak perlu ada yang tahu, begitu pikir Jungkook.

Mereka tidak perlu tahu seberapa berdarahnya dia merangkak berusaha kembali bangkit menjadi Chef Jungkook yang mereka kenal; si congkak berhati dingin yang ambisius. Mereka tidak perlu tahu bahwa Jungkook sekarang sedang cacat secara fisik dan mental.

Lalu tiba-tiba di tengah semua kekacauan kepala dan emosinya sendiri, Taehyung memberitahunya bahwa restorannya didirikan dan semua chef yang dihormatinya akan datang memberinya selamat. Menantinya untuk menyajikan makanan terhebatnya.

Taehyung seolah baru saja memeras lemon dan menggosokkan garam ke luka yang berdarah, membuat Jungkook tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia merasa seperti baru saja dihajar, ditendangi dan dipukuli. Seluruh diri dan emosinya koyak, porak-poranda.

Sanggupkah dia?

Sanggupkah dia membawa dirinya sendiri ke restoran menghadapi semua orang dengan kondisinya yang tidak sempurna seperti sebelumnya?

Dia begitu mencintai Taehyung dengan seluruh dirinya, tapi kali ini tunangannya sudah melangkah terlalu jauh dan Jungkook tidak yakin apakah dia ingin berlari mengejarnya atau memilih berbelok ke jalan lain yang berlawanan dengan Taehyung.

Kepalanya berdentam-dentam oleh stres, bagian belakang kepalanya terasa kesemutan. Ada ketakutan yang bercokol di sana seperti tumor yang menggerogotinya, membuat Jungkook lemah.

Kepalan tangannya kembali menghantam dinding sebelum dia berteriak frustasi dan mendudukkan dirinya di ranjang yang berderit. Dia menatap jendela, ke pemandangan langit biru cerah yang menenangkan. Kepalanya berkelana ke hari pertama dia memasuki dapur profesional dengan seragamnya sendiri, bukan lagi seorang anak trainee.

Seorang commis.

Satu langkah pertama yang membuatnya begitu bersemangat hingga dia datang ke kitchen pagi sekali dan anak malam menatapnya dengan heran tapi Jungkook tidak peduli. Dia di sini untuk menjadi seorang chef, dia memiliki apa yang orang lain tidak miliki; bakat dan kemauan yang keras. Dia hanya butuh mendongak pada orang yang kan menjadikannya hebat; orang-orang lain tidak penting.

Maka Jungkook melakukannya.

Dia terus maju; berjalan, berlari bahkan merangkak. Dia terus bergerak maju, tidak pernah mundur dan tidak sudi untuk mundur. Dia mengejar mimpi yang sudah digenggamnya di tangannya, sudah termampang nyata di hadapannya; dia hanya perlu meraihnya.

Dia sempat menggenggam piala itu di tangannya, menciuminya dan menangkatnya ke udara; dia adalah seorang chef termuda dan terbaik di bidangnya. Dia mendapatkan ini dengan kemampuannya sendiri.

Dia berhasil.

Maka restoran itu akan menjadi sebuah piala permanen yang menandai pencapaian terhebatnya sebagai seorang juru masak; dia akan terus mengingatkan dunia betapa hebatnya dia.

Lalu kepalanya terhantam dan dia kehilangan indera perasanya.

Jungkook bisa merasakan langit runtuh di bahunya saat dia menyadari dia tidak bisa merasakan makanannya bukan karena makanan itu, tapi karena dirinya sendiri.

Dia merasa cacat dan gagal. Untuk apa dia kemudian menjalankan restoran itu dengan keadaan koyak oleh duka dan kenyataan? Dia tidak mau melakukannya. Dia ingin berdiri di sana sebagai Jeon Jungkook yang kuat, penuh percaya diri dan congkak; dia ingin menjadi dirinya sendiri.

Bukan Jeon Jungkook yang cacat dan gagal. Dia tidak mau berdiri di sana dalam keadaan seperti ini.

Dan sekarang, semuanya sudah disiapkan seolah Jungkook dilemparkan ke kolam tanpa diajari berenang sebelumnya.

Dan Chef Vindex akan datang, menyisihkan waktu berharganya mengurus In-Flight Dinning Garuda Indonesia yang sibuk, khusus untuknya.

Dia merasa seluruh dunia berputar di sekitarnya, membuatnya merasa vertigo parah dan limbung oleh sensasinya. Bagaimana dia harus melakukannya? Sanggupkah dia menatap semua orang? Sanggupkah dia melakukannya? Sanggupkah dia memimpin tim untuk memberi makan seluruh seniornya di dunia kulinari dan khususnya, gurunya selama ini, Chef Vindex?

Mampukah Jungkook?

Layakkah dia?

Dia meraih ponselnya, menatap benda itu; menatap refleksinya di atas layar gelap lalu membuka kuncinya. Dia menghela napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan rasa pening di kepalanya yang terasa dicengkram. Dia mencari-cari nama di buku kontak seraya bernapas melalui mulutnya lalu menekan tanda telepon pada kontak itu.

Dia tidak pernah menunjukkan betapa lemah dan cacatnya dia pada orang lain selain orang ini. Karena orang inilah yang akan membantunya menjadi lebih baik, menjadi chef yang jauh lebih hebat lagi.

Nada tering terdengar dari seberang sana; sekali, tiga kali....

Jungkook sudah akan menyerah saat akhirnya nada dering berhenti dan digantikan suara keresak dan dehaman yang sudah sangat familiar dengan dirinya, menarik kenangan lama yang membuatnya merinding dan mulai menangis.

“Halo, Boy? Kenapa kau menangis?” Tanya suara dari seberang dengan geli dan penuh sayang. “Kau mengalami serangan grogi sebelum pembukaan restoran, ya?”

Jungkook tersenyum dengan air mata meleleh di pipinya. Sudah lama sekali sejak dia menelepon Chef Vindex dan mengobrol dengannya, sejak seniornya itu sibuk di perusahaan penerbangan dan Jungkook sibuk mengejar mimpinya. Jalan mereka tidak lagi bertemu.

“Chef Vin.” Dia mengusap air matanya dan membersit keras. “Saya butuh bantuan....”

Di seberang sana, chef senior itu tertawa serak kebapakan. “Boy,” katanya lembut.

“Kau punya rahasia yang ingin dibagikan padaku? Kau selalu menangis tiap kali ingin menceritakan sesuatu yang tidak ingin dunia ketahui.” Dia lalu bergerak dan mengatakan sesuatu ke sekretarisnya sebelum kembali ke Jungkook.

“Oke, aku bebas. Silakan, Boy, aku akan membantumu. Seperti biasa.”

Seperti biasa.

Jungkook menunduk, membuka mulutnya untuk berusaha bernapas sebelum kembali menangis.

*