The Chef #207
Jungkook berhenti bekerja saat suara klakson terdengar di gerbang, Bubble langsung bereaksi dengan melompat turun dari singgasananya di sisi bantal kepala Taehyung dan berlari ke pintu depan, menggonggong keras marah merasa teritorinya terancam.
Dan Jungkook baru saja meletakkan piring yang dicucinya di pengering saat Taehyung terhuyung-huyung keluar menyusul Bubble yang nampak seperti anjing kesetanan, menyakar-nyakar pintu kaca depan mereka berusaha keluar untuk mengendus siapa yang bertamu. Taehyung nyaris terantuk kakinya sendiri dan terjerembab ke lantai jika saja Jungkook tidak bergegas mengahmpirinya.
“Hei, hei, hei.” Jungkook bergegas mengelap tangannya dan menghampiri Taehyung, memapahnya dengan lembut. “Kaupikir kau akan ke mana?” Tanyanya mendelik pada Taehyung yang pucat.
“Mukamu pucat sekali, kita ke UGD saja, ya?” Desaknya menahan tubuh Taehyung yang memberontak lemah meminta dilepaskan. “Kau mau ke mana?” Dia mengerutkan alis. “Diam sebentar, kuambilkan jaket kita ke rumah sakit.”
Namun sebelum Jungkook bergerak, ponsel Taehyung berdering dan dia menoleh ke benda di tangan Taehyung. Seketika dia merasa perutnya mendidih oleh amarah yang memusingkan, Taehyung mengangkat tangannya akan menjawab teleponnya saat tanpa aba-aba Jungkook menyambar ponsel itu.
Dia menjawabnya.
“Halo, Taehyungie? Aku di depan. Benarkah ini rumahmu?”
Jungkook menggertakkan rahangnya hingga dia yakin giginya akan rontok jika dia melakukannya lebih kuat lagi. “Enyah dari rumah kami.” Geramnya dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Kaupikir ini jam berapa hingga kau punya nyali untuk bertamu?”
Hening sejenak.
“Oh, halo.” Hyungsik di seberang sana menyapa dengan akrab hingga Jungkook ingin sekali menonjok hidungnya hingga melesak ke dalam tengkoraknya. “Kau pasti Jungkook, kekasih Taehyungie, ya?”
Taehyungie.
“Aku tunangannya.” Sahut Jungkook dingin; amarah bergemuruh di telinganya hingga dia tidak bisa mendengar dengan jelas dan kepalanya berdenyut mengerikan karena berusaha keras menahan semua amarahnya. “Jika kau masih menghormatiku sebagai tunangan Taehyung, sebaiknya kau pulang dan kembali lagi besok. Dengan sopan.”
“Aku dengar Taehyungie sakit, jadi aku memutuskan untuk mampir. Apakah dia sudah makan? Aku bawa obat juga.”
Jungkook melirik Taehyung yang semakin pucat. “Very generous of you,” sahut Jungkook menggenggam ponsel Taehyung begitu kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. “Tapi aku bisa mengurus tunanganku dengan baik. Selamat malam.”
Dia mematikan sambungan telepon dan menurunkan tangannya. Mobil Hyungsik masih terparkir di depan, lampu depannya masih menyenteri bagian sisi rumah mereka dan kemudian ponsel Taehyung kembali berdering. Jungkook menepis tangan Taehyung yang akan meraihnya lalu mengangkat kembali teleponnya.
“Bagian mana dari kalimatku yang tidak kaufahami? Pergilah sebelum aku benar-benar melakukan sesuatu yang akan kusesali.” Jungkook langsung bicara tanpa mengizinkan Hyungsik mengucapkan salam.
“Setidaknya izinkan aku memberikan makanan dan obatnya? Taehyungie, 'kan, temanku.”
“Bawa saja semuanya pulang.” Sahut Jungkook, mulai berpikir dia sepertinya harus benar-benar keluar dan menghajar orang ini agar dia pulang. “Haruskah aku menelepon polisi?”
Hyungsik berhenti sebentar. “Baiklah, aku akan kembali besok.” Katanya tenang dan Jungkook ingin sekali mematahkan lehernya karena bersikap setenang itu bahkan setelah muncul di depan rumah mantan kekasihmu pukul sebelas malam lebih.
Apa yang sebenarnya dipikirkan Hyungsik?
Dan apa yang sebenarnya dipikirkan Taehyung hingga dia berpikir itu oke untuk memberikan alamat mereka pada mantannya?
Setelah derum mobil Hyungsik menghilang, Jungkook memejamkan mata dan mendesah. “Kau memang tidak pernah lelah mencari masalah, ya?” Tanyanya datar dan gemetar oleh perasaan amarah dan tidak percaya.
“Jungkook—,”
“Kau memberikan alamat kita pada mantanmu?”
Taehyung tercekat. “Dia bilang ingin berkenalan denganmu dan aku merasa tidak masalah jika dia mampir kapan-kapan ke rumah dan aku tidak tahu bahwa dia akan muncul malam ini juga.”
“Jadi saat aku memintamu istirahat,” Jungkook mengusap kepalanya; kepalanya berdenyut mengerikan. Dia lelah setelah bekerja, lelah karena khawatir pada keadaan Taehyung dan inilah yang didapatkannya saat tiba di rumah.
“Saat aku bekerja seperti kesetanan agar aku cepat pulang dan bisa mengurusmu, kau asik mengobrol dengan mantanmu, ya?”
“Tentu saja tidak!” Seru Taehyung, nampak begitu terluka dengan tuduhan Jungkook. “Dia hanya menghubungiku karena dia sedang di Bali dan aku juga di Bali, dia bertanya apakah bisa bertemu dan aku—!”
“Cukup.” Jungkook memijat pelipisnya yang berdenyut. “Bagian mana dari kesepakatan kita yang sudah jelas bahwa aku tidak suka Hyungsik? Bagian mana dari kata-kataku yang tidak kau fahami, Taehyung? Karena sungguh, aku tidak tahu lagi apa yang ada di kepalamu.”
Taehyung menatapnya. “Aku sudah memaafkan Hyungsik tentang masa lalu jadi aku merasa tidak ada salahnya untuk berteman dengannya dan niatnya baik.”
Jungkook menghela napas keras dan menatap Taehyung. “Dia membuangmu.” Katanya dingin. “Dia memacarimu hanya untuk bersenang-senang lalu meninggalkanmu saat dia bosan. Memanipulasimu. Menurutku itu alasan yang tepat untuk membencinya, silakan memaafkannya tapi kau tidak harus tetap berteman dengannya.”
“Aku punya kau sekarang, aku milikmu.” Taehyung menyentuh wajah Jungkook dengan tangannya yang gemetar, nampak begitu terluka dan takut Jungkook akan mengamuk. “Dan kau tidak perlu membencinya untukku. Aku sudah tidak membencinya, Jungkook. Dia sudah minta maaf dan menurutku itu cukup.” Dia menyentuh dada Jungkook, merasakan debaran jantungnya yang sekuat kuda.
“Jangan membenci siapa pun untukku,” bisiknya. “Aku tidak mau hatimu busuk karena rasa benci yang bahkan bukan porsimu.” Dia mendongak, tersenyum dengan bibirnya yang kering dan pucat akibat sakit.
“Kau sakit,” desah Jungkook kemudian, memutuskan bahwa dia tidak bisa marah hari ini dengan keadaan Taehyung yang sedang lemah lalu meraup Taehyung dalam gendongannya. “Ayo istirahat, kita bahas Hyungsik bangsat ini besok.”
“Jangan membenci—.”
“Diam.”
Taehyung mendesah panjang. “Kau marah padaku?” Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Jungkook yang kokoh, merasa kepalanya pening hanya dengan berdiri sebentar.
“Tentu saja.” Sahut Jungkook setengah mendengus seolah Taehyung sedang menanyakan hal yang benar-benar konyol.
Taehyung menghela napas dan menyentuh ulu hatinya yang terasa panas. “Maafkan aku.” Dia menatap Jungkook yang dengan lembut membaringkannya di ranjang dan membiarkan Bubble berbaring di sisi Taehyung.
“Menurutku,” Jungkook duduk di sisinya, membelai rambut Taehyung dengan jemarinya. “Saat kau menerima cincin dan lamaranku,” dia meraih tangan Taehyung dan mengecup cincinnya dengan lembut. “Itu berarti kau menyerahkan tanggung jawab atas dirimu dan hidupmu padaku. Mengizinkanku menjadi bagian dari hidupmu, menyatukan kau dan aku menjadi kita. Dan tidakkah menurutmu aku berhak setidaknya tahu saat kau memutuskan untuk menarik masalah ke kehidupan kita?
“Jika kau merasa aku bersikap berlebihan karena tidak menyukai Hyungsik, silakan. Aku tidak menyukainya karena dia penah menyia-nyiakanmu. Bersikap seenaknya dan sama sekali tidak menghargaimu sebagai seorang manusia, yang memiliki hati sama dengannya.
“Ini tidak ada hubungannya dengan apakah kau membencinya juga atau tidak. Jika saja mantan tunanganku masih hidup kau akan membencinya juga. Hal itu naluriah sekali.”
Jungkook menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya dengan jemari masih bermain di rambut Taehyung. “Bayangkan jika saat kau sedang bekerja, memikirkanku yang sedang sakit di rumah lalu tengah malam mantanku datang berkunjung membawakanku makanan dan obat.
“Dan memanggilku—ick.” Wajah Jungkook berkerut jijik, tidak bisa menahan dirinya sendiri dan Taehyung tidak bisa tidak tersenyum. “Jungkookie.” Katanya lalu bergidik sendiri.
Lalu melanjutkan dengan serius, “Bagaimana perasaanmu?”
Taehyung terdiam.
Kemarin saat dia menyadari bahwa Jungkook pernah memiliki tunangan sebelum dirinya, seorang perempuan yang menemaninya dari sekolah hingga ke posisi head chef. Perempuan naas yang meninggal karena pekerjaannya. Perempuan yang jika dia tidak meninggal, maka Taehyung tidak akan pernah bisa berdiri di sini.
Dalam pelukan Jungkook yang hangat di rumah mereka bersama anjing kecil mereka yang menggemaskan.
Tidak akan memiliki satu pun kenyamanan dan kedamaian ini.
Dan dia merasa jengkel. Jika perempuan itu masih hidup maka sekarang Jungkook pasti sudah menikahinya, sudah hidup bahagia dan memiliki anak.
Anak kandung.
Hal yang sama sekali tidak bisa Taehyung berikan.
“Jengkel.” Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Taehyung jengkel, bagaimana Jungkook yang harus mengalaminya sendiri?
Jungkook tersenyum, sudah menduga jawabannya. “Nah.” Dia membuka matanya dan menatap Taehyung yang sekarang memeluknya lebih erat dari sebelumnya. “Sekarang kita faham perasaan masing-masing, kan? Mantanku sama sekali tidak membuangku, dia meninggal.
“Sementara Hyungsik? Dia sudah memperlakukanmu sehina itu. Berselingkuh darimu dan sama sekali tidak menganggapmu kekasihnya. Meninggalkanmu demi perempuan pertama yang ditemuinya dan apa yang kaulakukan? Memaafkannya dengan besar hati.
“Tapi apakah itu adil untukku? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, menghargaimu sebagai manusia dengan perasaan, meletakkanmu sejajar denganku, mengapresiasi setiap bantuanmu.
“Bertemu dengan bajingan yang pernah memperlakukanmu tidak adil, menyia-nyiakanmu dan menginjak-injak harga dirimu tidak akan bisa membuatku tenang hanya karena kau sudah memaafkannya. Apakah itu adil untukku yang berusaha untukmu setiap waktu?
“Tidak ada jaminan dia sedang berusaha mendekatimu lagi, 'kan? Dia pernah menyakitimu sekali dan jika kau cukup berbesar hati—atau bodoh untuk memaafkannya dan mengizinkannya kembali memasuki rumahmu, maka tidak ada jaminan dia akan kembali memporak-porandakan rumahmu.
“Karena apa? Kau yang mengizinkannya. Kau yang memberikannya kekuatan untuk itu.”
Taehyung menatapnya lalu bangkit, merangkak ke pangkuan Jungkook yang langsung memeluknya. “Maafkan aku,” dia duduk mengangkangi perut Jungkook dan menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. “Maafkan aku karena bersikap gegabah lagi. Kau benar... Aku tidak berhenti membuat masalah.”
Jungkook mengecup puncak kepalanya. “Dimaafkan. Selalu.” Dia memeluk pinggang langsing Taehyung dan meremas pantatnya yang lembut. “Hanya jika kau berjanji bahwa setelah ini kau akan selalu setidaknya memberitahuku jika ada hal-hal aneh yang akan terjadi semacam mantan yang muncul di rumah kita, oke?”
Taehyung mengangguk di dada Jungkook. Memejamkan mata saat merasakan belaian Jungkook di punggungnya, memikirkan bagaimana saat dia akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Hyungsik.
Sudah lama, lama sekali semenjak terakhir kali Hyungsik menghubunginya. Saat mereka bertemu, dia masih anak naif, menyusun tugas akhirnya sekaligus mencari kerja agar tidak menyulitkan orangtuanya. Hyungsik adalah kakak tingkatnya yang membantunya selama mencari pekerjaan dan membantu penelitian untuk tugas akhirnya.
Taehyung yang naif berpikir bahwa inilah lelaki yang akan menjadi akhir pelabuhannya. Dia akan menjaga Taehyung sepenuhnya. Seharusnya Taehyung tahu bahwa sejak awal hubungan itu sudah ada yang salah. Tidak pernah ada kalimat “Maukah kau jadi kekasihku?” dari Hyungsik dan Taehyung sudah merasa tidak nyaman dengan itu, namun karena dia sangat mencintai Hyungsik, dia merasa tidak masalah memberikan pengecualian.
Hyungsik juga selalu memberitahunya tentang bagaimana hubungan dua orang dewasa tidak perlu hal-hal semacam itu sehingga Taehyung yang naif merasa dia bersikap kekanakan karena mempertanyakan hubungan mereka. Kemudian setelah Taehyung mulai bekerja dan sibuk, Hyungsik pindah bekerja ke Riau.
Awal-awal hubungan jarak jauh mereka, semuanya lancar. Hyungsik selalu meneleponnya tiap pulang kerja, membicarakan pekerjaannya hari itu. Menanyakan kabar Taehyung dan mendengarkannya bercerita hingga ketiduran.
Taehyung merasa begitu utuh dan sempurna. Merasa dia sudah dewasa karena dia mengikuti segala permainan Hyungsik dan mengabaikan semua firasatnya yang kekanakan tentang hubungan mereka.
Hingga akhirnya Hyungsik berhenti menghubunginya selama tiga bulan.
Taehyung panik. Kebingungan. Apakah dia salah? Apakah dia melakukan hal yang salah dan keliru? Dan saat akhirnya Hyungsik membalas pesannya dia hanya mengatakan:
“Bukankah yang terpenting aku tahu bahwa kau kekasihku? Orang dewasa tidak bersikap seperti ini dalam hubungan. Selama kau tahu aku milikmu, aku tahu kau milikku, tidak perlu banyak komunikasi.”
Dan itu memukul mundur Taehyung; apakah dia sudah bersikap kekanakan lagi? Kenapa dia tidak bisa dewasa seperti Hyungsik?
Akhirnya Taehyung mengikuti permainan Hyungsik. Diam menunggu hingga Hyungsik mengabarinya, seperti bagaimana orang dewasa menghadapi hubungan mereka. Dan kemudian, dia menemukannya.
Dia tidak pernah membuka sosial medianya karena terlalu sibuk bekerja sebagai seorang junior di kantornya dan pertama kali melakukannya, hal pertama yang dilihatnya adalah foto Hyungsik bersama perempuan lain yang sudah dilamarnya.
Taehyung babak-belur. Tertipu, terkhianati dan terluka. Namun amarahnya jauh lebih kuat dari sakit hatinya karena kemudian dia menelepon Hyungsik, mengatainya dengan semua umpatan yang diketahuinya hingga puas lalu mematikan sambungan telepon. Memblokir semua nomor Hyungsik dari hidupnya dan melanjutkan hidupnya dengan sisa trauma yang menggerogoti punggungnya.
Dan sekarang saat dia bersama Jungkook.
Dia mengeratkan pelukannya hingga Jungkook tertawa kecil, mengecup keningnya. Inilah hubungan yang diinginkannya; mereka berdiskusi, mereka bicara, mereka saling menghormati dan saling mendukung saat kesulitan.
Dia ingat pertama kalinya dia membahas Hyungsik saat malam setelah dia memaafkan Jungkook karena berbohong tentang masa lalunya. Dia merasa Jungkook juga berhak mengetahui masa lalunya dan dari hari itulah kebencian Jungkook untuk Hyungsik terpupuk.
“Aku salah,” bisik Taehyung di dada Jungkook yang hangat; gemetar oleh rasa bersalah. Seharusnya dia mendiskusikan semuanya sebelum menerima kembali Hyungsik ke hidupnya. Harusnya dia meminta izin Jungkook untuk memberikan alamat mereka ke Hyungsik.
Dia sudah memilih Jungkook menjadi pasangannya. “Aku minta maaf.”
Jungkook mengecup keningnya. “Dimaafkan.” Dia tersenyum lembut dan menghela napas dalam-dalam, berusaha kuat untuk menekan rasa jengkel dan amarah yang masih bercokol di hatinya.
Jungkook berjanji dia akan berlari lebih jauh lagi besok untuk melampiaskan kekesalan ini. Dan sudah menyusun menu yang akan membuat Hyungsik begitu malu hingga dia tidak akan berpikir dia bisa merebut Taehyung kembali.
Taehyung adalah milik Jungkook dan dia tidak suka apa yang menjadi miliknya diusik.
“Aku akan membatalkan reservasi Hyungsik besok.” Taehyung bicara teredam di dada Jungkook yang hangat dan nyaman, beraroma familiar seperti rumah. Aroma yang menempel di setiap inci seprai mereka, di setiap pakaian Taehyung, di bantalan sofa, di selimut; di segala tempat.
“Tidak,” Jungkook tersenyum separo. “Karena sudah terlanjur, sekalian saja kau sombongkan betapa keren, kaya dan hebatnya kekasih barumu dibanding bajingan tengik penipu seperti dia. Besok aku akan masak di show kitchen untuknya.”
Taehyung mendongak dan Jungkook membalas tatapannya dengan alis terangkat sebelah, nampak begitu tampan hingga Taehyung ingin menangis karenannya. “Kau memang tidak bisa tidak sombong, ya?”
“Memangnya kenapa? Aku 'kan punya sesuatu untuk disombongkan.”
Taehyung tersenyum. “Baiklah.” Dia mendesah saat telapak tangan Jungkook membelai punggungnya dengan begitu lembut; membentuk pila-pola menenangkan yang membuatnya mengantuk.
“Oh, ya. Satu lagi.”
“Hm?”
“Minta bajingan itu berhenti memanggilmu Taehyungie. Dia pikir dia siapa?”
Taehyung tersenyum dengan mata terpejam. “Baik, Chef. Apa saja untukmu.” Dia kemudian mendongak, menakupkan wajah Jungkook dalam kedua telapak tangannya dan meraihnya ke ciuman yang panjang dan dalam.
Hati Taehyung begitu dipenuhi dengan rasa cintanya untuk Jungkook hingga dia sesak. Ulu hatinya terasa begitu panas hingga Taehyung sulit bernapas. Dia berpikir jantungnya berdebar karena dia begitu mencintai Jungkook, begitu dipenuhi rasa lega karena dia memilih kekasih yang benar kali ini.
Lelaki yang tidak akan meninggalkannya dan akan selalu mendampinginya dalam keadaan bagaimana pun juga sebagaimana dia melakukannya untuk Jungkook.
Namun dia salah karena dia kemudian berdeguk keras hingga Bubble menyalak, asam lambung menyodok paru-parunya hingga naik ke tenggorokannya dengan sensasi terbakar yang menyesakkan lalu dia muntah ke dada Jungkook dan hal yang terakhir di proses otaknya yang malang hanya suara terkesirap kaget Jungkook.
“Taehyung!”
*