The Chef #177
“Jangan menggedor pintunya begitu!” Seru Jungkook dari dalam kamar mandi. “Let me poop in peace!”
“Kau seharusnya menjelaskan sebelum memutuskan untuk BAB!” Balas Taehyung dari luar pintu, menghantamkan kepalan tangannya lagi ke pintu kamar mandi yang malang hingga Bubble terjengkang kaget dan menyalak keras, mengibaskan ekornya dengan semangat, berpikir kedua majikannya sedang mengajaknya bermain.
“Memangnya aku bisa mengatur kapan usus besarku ingin membuang hasil ekskresi? Yang benar saja!” Sahut Jungkook, suaranya menggema dari dalam kamar mandi.
“Jeon Jungkook!”
“Sebentar, Jeon Taehyung, demi Tuhan!”
Taehyung menendang pintunya sekali lagi sebelum mendengus dan beranjak ke kamar mereka dengan Bubble yang mengekor di belakangnya. Taehyung mendudukkan diri di sofa sudut mereka yang menghadap ke kolam renang dan melirik mobilnya yang sekarang terparkir dengan mulus di garasi kecil rumah mereka.
Memang saat melihat bentuk rumahnya, Taehyung memutuskan bahwa mobil Jungkook lebih layak untuk mendapatkan tempat dan sudah mempertimbangkan untuk menjual saja mobilnya berhubung mereka sekarang bekerja di tempat yang sama.
Bayangkan bagaimana kagetnya dia saat perusahaan ekspedisi datang dan yang tiba adalah mobilnya alih-alih mobil Jungkook yang menyebut harganya saja Taehyung tidak berani.
Rumah mereka butuh banyak renovasi untuk menampung ambisi keduanya. Jungkook berencana menambah lebar dapur, Taehyung ingin menambah ruang kerja dan juga ruang garasi yang saking pasnya jika pengemudi mobilnya tidak ahli, spion dan bagian sisi mobil akan tergerus dinding saat dikeluarkan.
Namun dia tidak bisa tidak senang melihat mobilnya terparkir di garasi; hasil tabungannya yang sangat berharga (dengan sedikit suntikan dana dari Jungkook karena Tuhan tahu betapa mahal RCPP membayarnya, belum lagi kelas-kelas profesionalnya, belum lagi sesi-sesi guest chef-nya), terparkir halus dengan cat mengilat—tanpa cacat.
Bubble melompat ke pangkuannya dan bergelung, menatapnya dan mendengking meminta perhatian. Maka Taehyung mengulurkan tangan dan membelai kepalanya dan Bubble memejamkan mata. Terdengar suara flush dari kamar mandi dan Taehyung menegakkan duduknya.
Dia memicingkan mata saat Jungkook keluar dari kamar mandi dengan wajah polos tidak berdosa. “Sudah cuci tangan dengan sabun?” tanyanya.
“Sudah,” balas Jungkook memutar bola matanya.
“Kenapa yang tiba malah mobilku? Kenapa mereka memasang kitchen set? Uang dari mana?”
Jungkook tertawa serak, dia menghampiri Taehyung lalu duduk di sisinya. Menatap mobil Taehyung. “Sudah dicek? Ada yang lecet tidak?”
Taehyung memicingkan mata. “Sudah tadi. Tidak ada yang lecet.”
“Bagus, deh.” Dia lalu meregangkan tubuh dan Bubble melompat ke pangkuannya. “Jadi,” katanya menggaruk telinga Bubble. “Aku menjual apartemen dan mobilku.”
“APA?!”
Jungkook berjengit dan Bubble menyalak kaget pada Taehyung yang sekarang separo terduduk dan separo berdiri. “Serius, apakah kau tidak lelah berteriak-teriak seharian?”
“Jika saja kau berhenti membuat kepalaku pening.”
Jungkook terkekeh. “Kau sudah lihat isi rekening tabungan kita masing-masing, kan? Isinya menyedihkan. Sementara restoran masih butuh modal yang lumayan hingga kita benar-benar bisa mendapatkan profit untuk menutup semua pengeluaran termasuk gaji. Sementara kebutuhan kita juga terus berjalan.
“Katamu mobilku yang akan dikirim dan aku cek harga jual mobilmu tidak terlalu bagus jadi kukatakan pada Jimin untuk mengirim mobilmu saja lalu meminta sales Nissan menjualkan mobilku. Dan sekarang mobilku ada di tangan yang tepat, juga apartemenku. Uangnya sudah ditransfer ke rekening kita. Totalnya bisa kaulihat sendiri setelah dipotong biaya kirim mobil dan barang-barangku.
“Jadi, yah. Gunakan uangnya dengan bijak, oke?”
Taehyung menatapnya, masih tidak menyangka bahwa Jungkook benar-benar menjual apartemen dan mobilnya untuk modal usahanya. “Tapi itu... mobilmu?”
Jungkook mengendikkan bahunya ringan. “Aku tidak masalah dengan mobilmu. Harga jualnya jelek sekali, maaf. Makanya aku berpikir untuk melepaskan mobilku saja. Lagi pula di sini kita tidak terlalu sering menggunakan mobil dan kita tidak harus berangkat kerja berlawanan arah, kan?”
Taehyung masih duduk diam, mencerna segalanya.
“Oh, iya.” Jungkook menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, gestur yang selalu dilakukannya saat dia akan mengakui kesalahannya dan Taehyung menatapnya, menunggu.
“Aku juga... mengambil sedikit untuk kitchen set-nya; tidak mahal kok sungguh! Nanti kukirimkan perhitungannya. Aku tidak betah dengan dapurnya, maafkan aku!” Dia buru-buru menambahkan.
“Setelah ini aku akan kembalikan semuanya padamu, silakan atur uangnya. Aku tidak akan menyentuhnya. Semuanya untuk restoran.
“Dan kurasa kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Aku harus memastikan restoran cukup stabil secara finansial sebelum bisa mulai menyisihkan uang untuk pernikahan.” Dia menatap Taehyung dengan tatapan bersalah seperti seekor anak anjing yang menggemaskan.
“Jungkook.”
“Oh. Kau marah.”
“Apa? Tidak!”
Jungkook menatapnya. “Kau memanggilku Jungkook.”
“Aku... syok.” Taehyung menggaruk kepalanya dan menatap bergantian ke mobilnya dan dapur baru mereka yang memang tidak sekeren dapur Jungkook di apartemennya kemarin tapi setidaknya dia sekarang bisa memanggang dan memasak dengan ceria setelah kemarin bersikap seperti penderita wasir tiap kali ke dapur yang sederhana dan tidak lengkap.
“Karena?” tanya Jungkook dengan alis berkerut.
“Kau menjual mobilmu?”
Jungkook tertawa. “Lalu kenapa?” Tanyanya geli. “Sayang, ini restoranku. Tentu saja aku yang harus berkorban. Jika aku menjual mobilmu untuk keperluanku, itu baru tidak sopan.”
“Ups.” Taehyung menatapnya dengan bibir membentuk garis lurus yang menggemaskan. Merasa tersindir karena telah menggunakan uang Jungkook tanpa izinnya.
Jungkook terkekeh, meraih pemuda itu ke dalam pelukannya hingga bersandar di bahunya. “Tidak apa-apa,” katanya mengecup kening Taehyung. “Terima kasih sudah berusaha mengembalikanku ke jalur yang benar walaupun aku keliru melihatnya.”
“Tidak,” Taehyung menjalankan jemarinya ke perut Jungkook. “Aku lupa bahwa terkadang seorang chef butuh pendapat chef lain tentang masalahnya. Menurutmu, aku pasti tidak faham tentang masalahmu. Aku seharusnya menghubungi Chef Vin lebih cepat.”
“Bukan tidak faham—,” mulai Jungkook, tidak setuju pada cara Taehyung menjabarkan masalah mereka.
“Tapi memang begitu.” Taehyung mendongak, mencegah Jungkook bicara. “Beberapa jam sebelum soft opening, aku dan Yugyeom bicara. Dan kami berdua benar-benar stres karena kami menggunakan namamu dan menumu tapi tidak ada yang benar-benar bisa memasak itu kecuali dirimu sendiri.
“Yugyeom bukan cuisine chef dan dia tidak pernah bahkan jadi sous chef. Dan menjadi head chef sementara membuatnya benar-benar tertekan. Lalu di sana aku menyadari betapa sebenarnya aku dan Yugyeom tidak faham apa yang sedang kaualami dan saat mendengar bagaimana Chef Vin melakukannya; aku kemudian menyadari.
“Kau ini bajingan congkak,” Taehyung tersenyum simpul lalu menyentuh ujung hidung Jungkook dengan telunjuknya. “Tentu saja kau butuh orang yang kauhormati untuk memberitahumu apa yang benar. Tentu saja kau butuh Chef Vin, orang yang seumur hidup kauhormati untuk memukuli pantatmu karena kau nakal di sekolah. Kau tidak akan mengizinkan siapa pun memberitahumu kecuali kau sudah mengakui sendiri orang itu lebih hebat darimu.
“Benar?”
Jungkook menatapnya sejenak, mencerna kata-kata Taehyung dengan perlahan lalu mendengus. “Pintar.” Katanya tulus lalu merunduk dan mencium Taehyung yang terkekeh ceria.
“Aku tidak peduli siapa yang menyelamatkanmu,” Taehyung menatapnya. “Aku tidak butuh spotlight sebagai orang yang menyelamatkanmu atau apa. Untukku,” dia tersenyum lembut. “Kau selamat saja sudah merupakan hadiah yang luar biasa. Aku tidak peduli siapa yang membantumu bangkit karena aku tidak punya kemampuan itu, aku tidak faham apa yang sedang kaurasakan dan kaualami dan seberapa berat itu untukmu—tapi aku akan selalu menemanimu dalam prosesnya.”
Jungkook mendesah lalu menempelkan kening mereka berdua dan bernapas melalui mulutnya. Merasakan napas Taehyung menerpa wajahnya dengan lembut sebelum meraih bibir Taehyung dengan bibirnya lalu memangutnya dalam ciuman yang dalam dan lembut.
“What have I done in my previous life to even deserve you?” Bisiknya di sudut bibir Taehyung yang terkuak dan basah oleh saliva mereka.
“Being you.” Taehyung tersenyum, matanya masih terpejam. Menikmati sisa rasa Jungkook yang tertinggal di bibir dan rongga mulutnya.
Mendesah, Jungkook menurunkan Bubble dari pangkuannya lalu menyentuh bagian depan pakaian Taehyung. Menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke balik kaus Taehyung dan membelai dadanya hingga pemuda itu tercekat dan secara naluriah mendekatkan diri pada Jungkook.
Jungkook menatap wajah Taehyung yang memerah seolah terhipnotis keindahannya; bibirnya terkuak dan matanya terpejam menikmati sentuhan Jungkook yang begitu lembut ke seluruh tubuhnya yang menjerit merindukan sentuhan Jungkook.
“Sudah lama, ya?” bisik Jungkook lalu menjulurkan lidah dan menjilat cuping telinga Taehyung hingga pemuda itu mengigil. “Kau pasti sangat frustasi tidur sendirian selama ini.” Bisiknya lagi dengan suara serak sialannya.
“Kau tidak tahu rasanya, percayalah.” Balas Taehyung merengek saat ibu jari Jungkook menyentuh puncak dadanya dan mengusapnya melingkar; otak Taehyung terasa dipelintir sesuai dengan gerakan jemari Jungkook di tubuhnya. Melukiskan jejak panas yang membuatnya merinding dengan lembut.
“Aku akan membuatnya begitu lama hingga kau puas, bagaimana?” Jungkook mengecup bagian bawah telinganya, denyutan nadinya yang menggila lalu menarik ciuman malas dan basah sepanjang garis rahangnya hingga Taehyung berdeguk-deguk dan mengigil seperti seekor ikan yang dibawa naik ke permukaan.
“Ya...” desahnya panjang. “Ya, tolong. Ya...”
“Di mana kau ingin aku menyentuhmu?” Tanya Jungkook serak, membawa ciumannya turun ke leher Taehyung dan menyangga punggungnya dengan telapak tangannya saat secara refleks Taehyung melengkungkan punggungnya, mengekspos lehernya ke udara meminta Jungkook mendekat.
“Di—,” deguk Taehyung mengerang saat Jungkook menghisap kulitnya lembut lalu menjilatnya halus. “Di mana-mana.” Cekatnya nyaris tercekik napasnya sendiri. “Tolong...”
Jungkook tersenyum, menikmati suara Taehyung di telinganya. Tangannya bergerak mengusap perut Taehyung lalu turun ke rambut halus di dasar perutnya hingga Taehyung mengejang oleh sentuhannya. “Di sini?” tanyanya.
“Ya,” Taehyung terkesirap. “Ya, di sana.”
Jungkook menggerakkan jarinya turun, menyelip ke karet celana Taehyung dan membelai tubuhnya yang panas dengan ujung telunjuknya. “Di sini?”
“Ya Tuhan....” Taehyung melempar kepalanya ke belakang, terengah-engah menyedihkan dengan tangan Jungkook di punggungnya.
Menyerah, Jungkook membaringkan Taehyung di sofa panjang mereka sebelum melepaskan pakaiannya dan merunduk ke atas tubuhnya yang berkedut gelisah oleh paparan udara. Jungkook terkekeh lalu meniup tubuh Taehyung hingga pemuda itu gemetar.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Jungkook, bibirnya menyentuh permukaan kulit Taehyung dalam setiap kata yang diucapkannya dalam sentuhan sehalus sayap kupu-kupu yang membuat Taehyung nyaris sinting.
“Tolong...” Mohon Taehyung mengigil, tangannya yang buta bergerak meraih kepala Jungkook dan memaksanya merunduk.
Jungkook menurutinya, mengecup Taehyung hingga pemuda itu mendesah begitu keras hingga tubuh Jungkook terasa dipecuti gairah. Dia menggertakkan rahangnya sebelum kemudian membuka mulutnya dan memeluk Taehyung yang langsung berteriak nyaring dan panjang seperti seekor serigala.
“Kasihan,” Jungkook menarik mulutnya, terkekeh terhibur. “Sebegitunya merindukanku, ya?” Tanyanya membelai bagian dalam paha Taehyung dan tersenyum mengamati betapa indahnya Taehyung yang terbaring di sofa dengan wajah merah padam.
Dia kembali merunduk, memeluk Taehyung dalam rongga mulutnya dan sebelum dia bisa bersikap brengsek, Taehyung merangkulkan kakinya ke leher Jungkook dan menahannya di sana.
“Tolong gunakan mulut bangsatmu itu untuk sesuatu yang berguna.” Geramnya dan Jungkook tertawa tanpa suara dan tanpa aba-aba, menghisap lembut hingga Taehyung terkesirap keras—begitu keras hingga Jungkook merasa tetangga mereka pasti mendengarnya.
Punggungnya melengkung di atas sofa lalu kembali mendarat ke sofa dengan suara debam lembut dan meremas bantalan sofa dengan kedua tangannya. Nampak benar-benar mabuk oleh rasa nikmat yang diberikan Jungkook hanya dengan mulutnya.
Dia akan membuat ini begitu lama hingga Taehyung tersiksa.
*