The Chef #202

“Chef?”

Jungkook mengerjap. “Oh, maaf.” Dia mendesah dan mengusap wajahnya lalu menoleh pada sous chef-nya yang tersenyum. “Apa katamu tadi?” Tanyanya dengan suara pelan.

“Chef oke?” Tanya sous chef-nya. “Chef sedang tidak fokus.”

Jungkook mengendikkan bahunya. “Taehyung sakit.” Dia mendesah. “Dua hari mengurus grand opening, dia sibuk menghitung profit restoran hingga larut lalu minum kopi dan makan mie instan.” Dia bergidik seolah mie instan telah menyebarkan virus zombie ke seluruh dunia.

Jungkook tidak habis pikir. Taehyung punya chef bintang lima berbaring di ranjangnya dan dia masih punya nyali untuk menyeduh mie instan. Di kulkas ada banyak bahan makanan yang bisa dibuatnya dan Taehyung memilih mie instan. Dia bahkan sebenarnya bisa membuat telur dadar sayur dan makan nasi, demi Tuhan. Kenap harus mie instan? Dengan kondisi dalam keadaan tertekan stres dan baru saja minum kopi?

Dia memijat keningnya.

“Lalu pagi ini dia merasa ulu hatinya panas seperti terbakar dan vertigonya kumat. Jadi aku memberikannya obat pusing dan obat maag sebelum berangkat serta membuatkannya bubur.”

Sous chef-nya mengangguk. “Chef mungkin pulang saja?” Tawarnya. “Biar saya dan anak-anak yang mengurus reservasi hari ini.”

Jungkook menggeleng. “Tidak, tidak. Kita lumayan penuh hari ini jadi tidak adil bagi kalian jika saya meninggalkan tim saat sedang penuh.” Dia lalu mendesah keras. “Kita selesaikan secepatnya saja jadi saya bisa segera pulang.”

Jungkook kembali bergabung dalam pusaran pekerjaan timnya di dapur. Mengecek saus, mem-plating makanan, meneriaki mereka yang bekerja terlalu lambat dan memastikan makanan tiba di meja pelanggan tepat waktu. Dia mendorong mundur pikiran khawatirnya tentang Taehyung yang berbaring di ranjang, mengerang keras saat dia berangkat kerja.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jungkook, duduk di pinggir ranjang dan meremas tangan Taehyung yang terasa dingin. Bubble melompat naik ke kasur, mendengking sedih dan menyusupkan dirinya di sisi Taehyung.

“Pusing,” keluh Taehyung berdeguk lalu menyentuh ulu hatinya. “Panas sekali di sini. Seperti ada yang menyurukkan besi panas ke tenggorokanku.” Dia berdeham keras lalu terbatuk. “Ini sudah jam berapa? Kau harus prep, kan? Sana berangkat.”

“Lalu kau?”

Taehyung tersenyum, meremas tangannya. “Aku baik-baik saja. Hanya asam lambung naik, sore nanti pasti sudah membaik. Gih, berangkatlah.” Dia menepuk tangan Jungkook sayang. “Maaf aku makan mie instan semalam.”

Jungkook mendesah, mengusap rambutnya yang menutupi kening lalu mengecupnya lembut. “Dimaafkan.” Dia tersenyum. “Besok, buatlah telur dadar saja, oke? Kita bahkan punya naget ayam di freezer, kenapa kau memilih mie instan? Besok semua stok mie instan akan kubuang.”

“Aku ingin yang praktis.” Taehyung mendesah.

“Memangnya naget tidak praktis?”

Taehyung mengecurutkan bibirnya dan Jungkook tidak tahan untuk tidak mengecupnya. “Maaf,” katanya lagi membelai pipi Jungkook yang agak kasar karena belum dicukur. “Kau lucu sekali jika sedang khawatir.”

Jungkook memutar bola matanya. “Aku ingin bilang begitu juga padamu tapi terakhir kali aku menyulitkanmu, kau nampak seperti zombie yang belum makan manusia sama sekali.” Dia menyubit hidung Taehyung yang mengerang.

“Hari ini aku bawa mobil, ya? Aku akan segera pulang begitu restoran tutup atau setidaknya pesanan sudah mulai turun.” Dia bangkit, mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek jins siap berangkat.

“Aku sudah membuatkanmu bubur, tinggal dihangatkan di microwave jika kau ingin makan, oke? Jangan terlambat.” Dia menepuk obat di nakas. “Obatnya diminum 30 menit sebelum makan, dihisap seperti permen, oke?”

“Siap, Pak Dokter.”

Jungkook tertawa lalu mengecupnya lagi. “Tidak ada dokter yang seseksi aku.” Tukasnya dan Taehyung tertawa, terhibur walaupun kemudian harus mengerang karena hal itu membuat ulu hatinya nyeri.

“Sombongnya.” Taehyung terkekeh. “Sudah sana, berangkat sebelum terlambat. Aku akan makan nanti, janji.”

“Kau janji akan menghubungiku jika kenapa-kenapa?”

Taehyung tersenyum. “Janji.”

Jungkook menatapnya sejenak, seolah menilai keseriusan kata-katanya lalu mendesah dan berdiri. “Baiklah, aku berangkat dulu, oke?”

“Cium aku sekali lagi?”

Terkekeh, Jungkook merunduk. Mencium bibirnya dengan dalam dan lembut, membelai rahangnya dengan punggung tangannya sebelum mengecup kedua pipinya bergiliran dan keningnya.

“Jangan kangen,” Taehyung tersenyum dari balik selimutnya dan Jungkook mendesah panjang.

“Aku sudah rindu, demi Tuhan.” Dia berdiri di pintu kamar lalu menutupnya. “Aku akan mengunci pintu depan, oke? Kau diam saja di kamar seharian.”

“Baik, Kapten. Selamat bekerja?”

“Terima kasih, Sayang. Selamat istirahat.”

Jungkook di masa kini mendesah, meletakkan potongan ikan dengan kulit yang garing di atas piring dan mulai menatanya sesuai dengan order request yang ditempel di bagian depan mejanya. Dia membubuhkan saus dan kondimen serta edible flower dengan pinset agar tidak rusak sebelum mengelap kotoran di sisi piring dengan lap di pinggangnya dan mengangkat piring ke atas.

“Service, please!” Serunya dan seorang anak servis yang bersiaga di sisinya bergegas menghampirinya, meraih piring itu, meletakkanya di nampan dan meluncur ke arah meja yang menunggu makanannya.

Jungkook meraih pulpen yang diselipkan di lengan kiri kemejanya dan menyoret pesanan yang sudah diselesaikannya dan melepaskannya dari konter, menyisihkannya ke keranjang yang akan diambil anak akunting untuk dicek dengan nota dari kasir dan sistem.

Dia berpindah ke menu selanjutnya. “Mana ayamnya?!” Serunya.

“Siap, Chef! Satu menit!”

“Satu menit!” Ulang Jungkook.

“Satu menit, Chef!” Balas timnya yang menyiapkan menu itu.

“Sausnya siap! Aku butuh ayamnya!” Commis lainnya di bagian saus meluncur ke arahnya dengan saucer terisi saus yang masih menggelegak setelah diangkat dari hot kitchen.

Jungkook menerima sausnya, meraih sendok dan menyicipinya seujung dan mendecap. “Oke,” katanya mengangguk atas rasa saus dan teksturnya. “Ayam!” Dia kemudian menoleh ke sous chef-nya yang langsung menggunakan sendoknya untuk menyendok saus dan menyecapnya.

“Oke, Chef.” Dia mengangguk dan Jungkook balas mengngguk.

“Coming, Chef!” Balas commis-nya, membawa piring yang terisi ayam yang masih mendesis setelah dikerjakannya ke konter Jungkook.

Menggumamkan terima kasih, Jungkook menyentuh ayam itu dengan punggung tangannya, mengecek kematangan ayam dari suhunya dan mengangguk puas. “Sempurna!” Serunya pada commis itu. “Thanks!”

“Siap, Chef!” Balas commis-nya.

Jungkook meletakkan potongan ayam dengan perlahan di atas sayuran yang dibumbui, menaburinya dengan potongan bawang goreng lalu membubuhkan sausnya di sisi piring. Seperti tadi, mengelap sekitar piringnya sebelum mengangkat piringnya ke atas.

“Service, please!”

Dia menyoret pesanan itu. Menerima pesanan lain dari anak servis dan menoleh ke timnya. “Dua ayam, satu urap dan dua sup babi. Berapa lama?!” Tanyanya pada semua timnya.

“Delapan menit untuk ayamnya, Chef!”

“Delapan menit.” Sahut Jungkook mengangguk, menempelkan pesanan itu di konter di hadapannya.

Saat akhirnya piring terakhir malam itu diangkat, Jungkook mendesah. Berbalik dan menoleh ke timnya yang juga mendesah keras karena akhirnya menyelesaikan servis hari ini.

Jungkook melirik jam dinding di dapur dan mengerang, sudah pukul sembilan malam lebih. Mereka masih harus membersihkan dapur dan evaluasi. Dia akan pulang agak terlambat malam ini. Jadi dia bergegas meluncur ke tengah ruangan dan menepuk tangannya sekali.

“Terima kasih atas bantuan kalian hari ini,” katanya mengangguk pada semua timnya yang sedang berdiri di section masing-masing yang sekarang hening karena semua pesanan sudah keluar dan di makan.

Di belakang dapur, steward sedang sibuk menyuci piring-piring yang dibawa masuk oleh anak servis. Suara dentang-dentang piring dicuci, gemericik air dan obrolan ringan mereka sudah akrab dengan telinga Jungkook tiap kali mengakhiri servis.

“Tapi maaf saya harus pulang duluan,” dia meraih topinya, melepaskan harnet di rambutnya dan menggoyangkan kepalanya ringan hingga rambutnya terurai. Basah dan lengket oleh keringat. “Taehyung sakit jadi saya harus menemaninya. Sisanya akan dilanjutkan oleh Bli Made, oke?”

Sous chef-nya mengangguk. “Siap, Chef. Hati-hati di jalan.”

“Tolong kunci restorannya, ya, Bli.” Pesan Jungkook dan sous chef-nya mengangguk menyanggupi. “Maafkan saya, Tim.” Dia menakupkan tangannya ke arah mereka dan membungkuk ringan.

“Tidak apa-apa, Chef.” Sahut salah satu CDP-nya dan timnya mengangguk-angguk setuju. “Semoga Pak Taehyung cepat sembuh.”

“Semoga.” Balas Jungkook yang sudah bergegas keluar dari dapur. “Terima kasih doanya, sampai bertemu besok.”

Jungkook mendorong pintu ganda restoran dan meluncur ke loker, mengganti bajunya dan membawa seragamnya pulang. Dia setengah berlari saat melewati tempat parkir ke mobilnya yang terparkir di sudut dan membuka kuncinya.

Menyelipkan dirinya masuk ke kursi pengemudi, dia menekan tombol telepon ke nomor Taehyung dan menekan perintah loud speaker seraya memasang sabuk pengaman dan menyelipkan kunci ke lubang starter.

”'Alo?” Sapa suara Taehyung berkeresak dan dia mendesah. “By?”

“Halo, Sayang.” Jungkook menyalakan mesin dan memasukkan perseneling. “Kau sudah makan malam? Aku akan segera pulang, kau ingin kubelikan sesuatu?”

Taehyung terbatuk sekali. “Tidak, aku tidak mau apa-apa. Kau saja pulang.”

“Baiklah,” Jungkook menginjak gas dan mobilnya meluncur melewati gang serta muncul di jalan raya yang ramai. “Aku akan memasakanmu camilan sebelum tidur. Kau makan apa tadi?”

“Buburnya,” Taehyung menjawab dan terdengar suara gemeresak saat dia bergerak di ranjang dan Bubble mendengking. “Cukup banyak untuk dua kali makan.”

“Oke.” Jungkook menatap lurus ke jalanan. “Aku akan tiba sebentar lagi jika tidak macet, kau istirahat saja, ya?”

“Siap, Chef.”

“I love you.”

“I love you too.”

Jungkook baru saja akan mematikan sambungannya saat Taehyung berkata. “Eh, Sayang?”

Dia berhenti. “Ya?” tanyanya memasang sein dan membelok ke jalanan ke arah rumah mereka.

“Kau ingat Hyungsik?”

Jungkook mengerjap dan mencengkram kemudinya lebih erat dari yang diinginkannya, dia menghela napas dalam-dalam dan tersenyum; menjaga agar nada suaranya tidak terdengar kesal. “Ingat. Kenapa?”

“Dia sedang di Bali dan ingin mampir ke restoranmu. Aku mengundangnya datang dua hari lagi setelah aku sembuh. Bisakah kau menyajikan makanan untuknya? Pengalaman served by the chef pasti akan membuatnya senang.”

Chef muda itu menggertakkan rahangnya kesal dan jengkel. Kenapa dari semua orang dia harus menyajikan makanan untuk mantan kekasih tunangannya yang kebetulan bajingan? Kenapa dia harus mengontak Taehyung, sih? Kenapa dia tidak hidup bahagia selama-lamanya jauh dari kehidupan mereka?

Memang tidak ada yang salah jika berteman dengan mantan tapi Jungkook lebih suka untuk tidak memiliki hubungan apa pun dengan mantannya—yang kebetulan meninggal jadi Jungkook tidak tahu rasanya 'berteman' dengan mantan.

Kenapa Hyungsik tidak enyah saja, sih? Kenapa dia masih terus mencobai hidup Jungkook?

“Kenapa kau harus peduli jika dia senang?” Tanya Jungkook tanpa bisa menahan diri lalu mengatupkan mulutnya dengan suara keras; merasa bersalah atas kata-katanya yang terdengar lebih kasar dari yang direncanakannya. “Tidak, oke. Maafkan aku.” Ralatnya segera. “Aku akan lihat hari itu, jika reservasi penuh maka aku tidak bisa melakukannya.”

Taehyung di seberang sana diam dan Jungkook mendesah. “Baiklah.” Katanya kemudian, perlahan.

Sebelum Jungkook sempat mematikan sambungan telepon lagi, Taehyung menambahkan: “Dan Jungkook?”

Jungkook mengigit bagian dalam pipinya, menahan dirinya agar tidak berkata kasar tentan prospek mantan Taehyung menginjakkan kakinya di restoran Jungkook. Membayangkannya saja Jungkook jijik.

“Ya?” tanyanya.

“Kau tidak perlu cemburu pada Hyungsik.”

Dia memutar bola matanya tanpa bisa dicegah; mengingat bagaimana hubungan mereka berakhir, justru aneh jika Jungkook tidak cemburu.

“Ya, baiklah.” Katanya menatap lurus ke jalanan. “Aku akan segera tiba. Kita bicarakan ini nanti, kau sedang sakit. Dan tidak,” tukasnya saat Taehyung menghela napas untuk bicara. “Aku tidak terima debat.”

Dan dia berhasil membungkam Taehyung.

Sesaat, setidaknya.

*