eclairedelange

i write.

Courage—1st Step.

Good morning, Sales Office, Taehyung's speaking. May I help you?

“Pak Taehyung.”

Taehyung berhenti mencoba membuka Night Report yang dikirimkan Night Audit dan memfokuskan diri pada telepon di tangannya sementara tim Sales & Marketing beranjak ke sekitarnya untuk morning briefing mereka yang biasa sebelum bekerja.

“Bu Ayu, ya. Halo, saya. Bagaimana?”

“Pak, ini Sales tempo hari Bapak GM wawancarai, sudah datang. Saya minta admin antarkan ke Sales sekarang atau bagaimana?”

Taehyung melirik jam tangannya dan mendesah. “Tidak apa-apa, Bu. Sekarang saja sekalian dia berkenalan dengan Sales sebelum saya briefing.” Dia punya waktu empat puluh menit untuk briefing dan akan dipotong dengan perkenalan Sales baru.

Tim SM selalu merupakan tim yang turn over-nya tertinggi. Entah karena mereka semua lulusan anyaran yang kaget dengan bagaimana Sales harus bergerak seperti kuda demi occupancy hotel dan secara harfiah adalah gaji seluruh pegawai hotel. Walaupun Taehyung yang sekarang menjabat sebagai Sales & Marketing Manager di hotel bintang empat yang berasal dari chain yang lumayan terkenal, tidak meminimalisir pening kepalanya saat setiap tahun anak-anaknya terus berganti.

“Baik, Pak. Admin saya akan mengantarnya naik.”

“Ya, baik. Trims, Bu Ayu.”

“Kembali, Pak.”

Taehyung meletakkan gagang telepon kembali ke pesawat telepon dan membuka surel laporan Hotel Competitor yang dikirim anak malam. Dia membacanya dengan screening mendesah saat melihat hotel-hotel di Ring 1 alias Malioboro, terisi penuh setiap harinya.

Bagaimana caranya dia menarik pasar itu ke hotel mereka?

“Baik.” Katanya kemudian mencoba menghalau pening kepalanya. Semalam mereka closing dengan baik, tapi GM mereka pasti tidak suka jika ada hotel lain yang closing lebih baik dari mereka.

“Sebentar lagi akan ada Sales baru yang bergabung, Sales Banquet.” Tambahnya segera sebelum E-Commerce-nya, Mingyu, sempat bertanya.

“Maaf. Saya tidak bisa menemukan Sales Government baru karena FBM sudah mengomel terus karena kewalahan mengurus penjualan banquet. Jadi, maaf, Yugyeom, kau harus bekerja sendiri dulu.” Dia mendesah lalu melirik sticky note yang ditempelkannya di buletin di sisi mejanya dan teringat.

“Oh, ya. Bagaimana lead untuk Kementan kemarin? Mereka konfirm di kita?”

Yugyeom mengangguk. “Iya, Pak. Kemarin sudah saya kirimkan LS via pos dan guarantee letter. Jadi tinggal saya pastikan payment dan perhitungan mark up mereka.”

Taehyung mengangguk puas. Mereka sudah menabung 900 room nights, lumayan. “Jangan lupa infokan ke Bapak tentang perhitungan mark up-nya karena saya lihat kemarin lebih dari dua puluh persen.”

Yugyeom menyatat sesuatu di bukunya seraya mengangguk. Taehyung kembali ke surelnya. “Kemarin malam kita closing di 80% dan 101 Malioboro di 90%.” Dia berdecak kesal lalu mendongak. “Bisakah saya mendapatkan info 90% dari 101 ini FIT atau GIT?”

“Siap, Pak.” Jimin, Sales Corporate-nya mengangguk. Menyatat sesuatu di bukunya untuk dikerjakan nanti.

“Saya bisa terima setelah MB?”

“Bisa, Pak.”

“Oke, terima kasih.”

Lalu dia baru saja membuka suara untuk melanjutkan saat ketukan terdengar dari pintu dan seluruh tim SM menoleh. Menemukan HRD Admin mereka berdiri di depan seorang pemuda tinggi dengan balutan seragam back office mereka yang berwarna abu-abu cerdas.

Celananya kesempitan, pahanya tercekik. Begitu pula jasnya.

“Dia tidak diukur sebelumnya?” Tanya Taehyung memicingkan mata. “Seragamnya...,” dia mendesah panjang.

“Tidak ada yang cukup, Pak. Jadi sedang dibuatkan yang baru. Saya akan usahakan segera selesai.” Admin itu menyingkir, memberikan jalan bagi anak baru itu berdiri menghadap tim dan tersenyum sebelum pamit kembali ke ruangannya.

Dan Taehyung jatuh cinta.

Pada pandangan pertama.

Pemuda itu menatap semua orang di ruangan satu per satu, tersenyum lebar dan ramah. Nampak konyol dalam balutan seragam kekecilan yang memeluk tubuhnya dengan cara yang aneh; kancing-kancing jas abu-abunya nampak mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk bertahan dan Taehyung harus melakukan sesuatu dengan House Keeping tentang ini.

Dia tidak sudi anak buahnya bertemu tamu dengan seragam kekecilan seperti Hulk begitu.

Dan Taehyung menyesal kenapa dia harus mengajukan long leave tiga hari lalu dan tidak mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai pemuda ini dan malah GM sendiri yang melakukannya dan memberitahunya anak itu cocok.

Jadi Taehyung menurut saja.

“Halo, selamat pagi.”

“Selamat pagi.” Balas semuanya dengan kompak.

Pemuda itu dengan sopan membalas tatapan semua orang satu per satu. Tersenyum ramah dan mencoba membaca nama yang disematkan di sisi kiri seragam mereka dari jauh.

“Selamat pagi,” Taehyung mengangguk. “Silakan perkenalkan dirimu. Dan tolong, buka saja kancing jasmu. Saya takut kancingnya copot.” Dia menggerakkan jarinya, memberi gestur pada pemuda itu untuk membuka saja kancing jasnya.

Kikuk dan kaget, pemuda itu kemudian melepaskan kancing jasnya dan nampak lebih rileks setelah itu. “Terima kasih, Pak Taehyung.”

Wow.

Caranya mengucapkan nama Taehyung terasa begitu mendebarkan hingga Taehyung harus menggelengkan kepalanya sejenak agar tidak sinting. “Sama-sama.” Katanya ringan dengan jantung berdebar. “Namamu?”

“Saya Jungkook.” Dia tersenyum. “Hari ini saya bergabung sebagai Sales. Mohon bantuannya. Ini pertama kalinya saya bekerja jadi banyak sekali hal yang saya belum fahami.”

Taehyung mengangguk—sudah menduga bahwa dia adalah lulusan anyar. “Tidak masalah,” sahutnya. “Saya Taehyung. Ini Mingyu, E-Commerce. Dia yang mengurus harga-harga yang kaulihat di Traveloka, Tiket, Booking dan lain-lain. Kerjanya hanya di belakang komputer.

“Lalu ini Yugyeom, Sales yang bertanggung jawab untuk grup Pemerintah. Kementerian, DPR, DPRD. Grup-grup terbesar dengan harga-harga tertinggi. Dia punya banyak pekerjaan karena sendirian, tapi dia bisa tetap membantumu jika ada waktu luang.” Taehyung mengarahkan tangannya ke Yugyeom yang mengangguk, melambai pada Jungkook yang mengangguk sopan padanya seperti yang dilakukannya ke Mingyu tadi.

“Dia Rose, Admin kami. Kau akan banyak berhubungan dengannya untuk dokumen dan laporan. Dia galak, jadi jika dia bilang untuk mengumpul laporan hari Senin pukul 11, maka lakukan. Saya tidak suka ada yang berteriak-teriak masalah laporan.”

Semuanya tertawa dan Rose mengangguk serius. “Semua laporan harus kuterima tepat waktu jika kau masih ingin hidupmu tenang di sini.” Lalu dia tersenyum lebar. “Halo, Jungkook.”

“Halo, Kak.” Balas Jungkook melemparkan senyuman lebarnya yang membuat Taehyung nyaris saja meraihnya lalu mencubit pipinya yang tembam saat otot pipinya bergerak merespon senyumannya.

“Lalu,” Taehyung melanjutkan, melirik jam. Dia masih punya sepuluh menit. “Ini Jimin, dia Sales Corporate. Dia mengurus asosiasi, kesatuan, grup-grup hobi dan sejenisnya.”

Jimin melambai ramah pada Jungkook. “Selama ini aku yang mengerjakan Banquet, jadi aku akan mengajarimu banyak hal hari ini, oke?” Katanya ramah dan Jungkook mengangguk, nampak bersemangat pada hari pertamanya bekerja.

Semoga tetap begitu, pikir Taehyung. Jadi dia bisa fokus mencari Sales Government sebelum Yugyeom meninggal karena mengurus terlalu banyak dari yang bisa dikerjakannya.

“Terakhir, ada Jackson.” Taehyung melambai pada Jackson yang mengangguk dan mengulaskan senyuman sejuta watt-nya yang selalu berhasil membuat grup-grup konfirm di hotel mereka—apalagi jika PIC-nya ibu-ibu.

“Sama seperti Jimin, dia juga Corporate namun dia saya fokuskan pada bangking dan ekspat. Dia mengurus kaum-kaum business man yang necis dan rapi.”

Taehyung menatap jamnya dan mendesah. “Baiklah, saya harus MB.” Katanya berdiri, meraih bukunya dan tersenyum pada Jungkook. “Silakan berkenalan dengan semuanya dan tanya Jimin apa yang bisa kaukerjakan, oke?” Lalu dia bergegas permisi.

“Jangan lupa 101, Jimin!” Katanya menuruni tangga menuju ruang morning briefing dengan semua kepala departemen dan general manager.

Dia tersenyum seraya melangkah panjang-panjang menyusuri lorong back office dengan buku tergenggam di tangannya.

Nampaknya setelah ini, hari-harinya akan sangat menarik.

*

Note:

1) Night Report: biasanya terisi occupancy hotel-hotel kompetitor yang berada di sekitar wilayah hotel itu. Jumlah kamar terjual, harga terjual dan persentase laku mereka. Biasanya angka ini didapatkan dari sistem setiap jam 12 malam sebelum setelah berganti hari dan dibagikan melalui grup WA yang anggotanya merupakan Night Audit—karyawan Resepsionis (Front Office) yang masuk shift 3 (jam 11 malam hingga 7 pagi) sebelum running sistem baru untuk hari selanjutnya. Datanya bisa dimanipulasi, jadi tidak bisa dipercaya 100%, bahkan terkadang ada hotel-hotel yang tidak share sama sekali.

Biasanya akan dibaca pada saat morning briefing, mengecek kondisi pasar di hari sebelumnya dan merencanakan strategi penjualan untuk kedepannya.

2) Ring: wilayah padat wisatawan. Di Yogyakarta, terbagi menjadi 4 Ring dan dimulai dari Malioboro sebagai Ring 1 dan Ring 4 itu lokasi terjauh dari Malioboro (contoh Ring 4: Sheraton Yogyakarta).

3) Lead: rombongan bisnis yang akan menginap di hotel untuk keperluan bisnis. Biasanya PIC grup bakal survei dulu ke hotel-hotel, dimana dia bisa dapat harga termurah untuk arrangement-nya. Aku jelasin nanti sambil jalan ya, lebih enak pake contoh.

4) LS (Legal Support): terisi akta pendirian hotel, rekening koran 3 bulan terakhir dan pajak 3 bulan terakhir. Digunakan bagi instansi pemerintahan untuk mengecek bahwa hotel yang akan digunakan untuk lokakarya/kegiatan mereka bukanlah hotel fiktif untuk menggelapkan uang.

5) Banquet: acara-acara di hotel yang tidak menggunakan kamar. Contoh: pernikahan, makan malam grup arisan, dan sebagainya.

The Chef #258

Baby, tolong handukku!”

Jungkook yang baru saja menyalakan lilin aromaterapi untuk malam ini mendesah panjang. “Kau biasanya juga tidak pernah mengenakan handuk, kenapa sekarang berisik?” Balasnya pada Taehyung yang masih di dalam kamar mandi, membasuh diri setelah mengantar kedua orangtuanya kembali ke hotel dan meyakinkan mereka besok mereka akan berjalan-jalan.

“Nanti lantainya basah!” Balas Taehyung sengit dari dalam kamar mandi. “Cepat, aku kedinginan!”

Jungkook mendesah panjang, beranjak keluar dari kamar dengan Bubble yang mengekor dengan ceria. Dia menuju ruang cuci, meraih handuk Taehyung di jemuran kecil mereka lalu beranjak ke kamar mandi. Dia berhenti sejenak, menyampirkan handuk di konter dapur, menangkap Bubble yang menyalak ceria lalu memasukkannya ke kandangnya.

Bubble menggonggong marah. Apa-apaan ini, Dadda?!

Jungkook memberikannya camilan. “Maafkan aku, Sayang. Besok kita berenang, ya? Malam ini kau harus tidur di sana. Oke, Sobat?” Dia menyentil hidung Bubble lembut, terkekeh saat anjing itu menyalak lagi sebelum bangkit.

Meraih kembali handuk Taehyung lalu beranjak ke kamar mandi yang pintunya terkuak. Dia sudah bisa melihat kaki kurus Taehyung yang masih basah dan merasah panas hanya dengan melihatnya.

Dia membuka pintunya dan menemukan suaminya sedang berdiri di depan wastafel, memijit tabung pasta gigi ke atas sikat giginya dengan tubuh telanjang yang basah.

Rambutnya menempel ke kulit kepala dan keningnya, menatap Jungkook jengkel dari cermin dan entah mengapa tatapan jengkel Taehyung membuat seluruh tubuh Jungkook meremang oleh gairah. Dia berdeham lalu menunjukkan handuk di tangannya.

“Handukmu.” Katanya.

Jungkook tersenyum, membentangkan handuknya lalu membungkus tubuh Taehyung dengan handuk dan tubuhnya sendiri. Menempelkan tubuhnya yang panas ke tubuh Taehyung yang dingin setelah mandi. Taehyung mendesah panjang.

“Sebentar, aku harus sikat gigi,” keluhnya sementara tangan Jungkook menyelip ke dalam handuk dan memijat tubuhnya dengan lembut.

Desahan lain lolos dari bibirnya, dia meletakkan sikat gigi dan pasta gigi di atas wastafel, menyandarkan tubuhnya ke Jungkook dan memejamkan mata saat jemari Jungkook yang handal mulai menggodanya dengan lembut dan panas. Tubuhnya yang tadi terasa dingin, sekarang mulai hangat. Taehyung menatap ke cermin, bertemu mata dengan Jungkook yang hanya terbalut celana bokser pendeknya yang jelek.

Ingatkan Taehyung untuk membuang semua pakaian jelek Jungkook besok.

“Kita sudah bercinta setiap hari,” kata Jungkook saat membenamkan wajahnya ke cerukan leher Taehyung yang selembut mentega. “Apakah malam ini akan berbeda?” Tanyanya serak.

Taehyung berdeguk gelisah. “Entah,” sahutnya tercekat. “Apa yang sudah kausiapkan?”

Jungkook menatap refleksi mereka di cermin dan mengapresiasi betapa indahnya Taehyung dengan handuk setengah melorot dan tubuh telanjangnya di bawah sinar cahaya lampu terang kamar mandi. Mereka seharusnya melakukan ini sejak awal.

Apakah Jungkook harus memasang cermin besar di kamar mereka?

“Kau indah sekali,” bisiknya parau, menyapukan punggung tangannya di lekukan tubuh Taehyung yang lembab oleh air. Mendesah panjang dengan napasnya yang menderu di telinga Taehyung. “Dan kau milikku.”

Taehyung terkekeh serak, tangannya meraih rambut Jungkook lalu menjambaknya. “Ya, aku milikmu.” Katanya lalu tertawa saat Jungkook menyapukan lengannya ke kakinya, menggendong Taehyung seperti bayi koala.

“Kau bajingan tengik sombong yang memasak untuk pernikahanmu sendiri,” kekehnya serak, mencium Jungkook dalam-dalam.

Meremas rambutnya agar Taehyung tidak meninggalkan bibirnya sementara mereka beranjak ke ranjang. Aroma lilin yang lembut menyambut Taehyung dan dia mendesah—Jungkook memilih lilin favoritnya untuk yoga dan dia suka itu. Bubble sedang mendengking dari kandangnya, kesal karena dimasukkan kandang.

“Hari ini, kita akan melakukannya secara misionaris.” Jungkook membaringkan Tehyung ke ranjang. “Sebagai apresiasi seks pertama kita dulu sebelum kau tahu segala hal tentangku di ranjang dan yah,” dia mengendikkan bahunya. “Aku agak lelah.”

Taehyung tertawa, teringat betapa terkejutnya dia saat Jungkook datang membawa selai stroberi buatan tangannya sendiri untuk dioleskan ke tubuhnya. Dan itulah pertama kalinya dia menikmati seks paling luar biasa di hidupnya. Teringat pula es batu yang digigit Jungkook untuk melukiskan jalur lembut di tubuhnya, cokelat di dadanya; hal-hal gila menggairahkan yang mewarnai kehidupan mereka selama ini.

“Aku tidak keberatan menjadi normal semalam saja,” Taehyung merangkulkan lengannya ke leher Jungkook yang menaunginya dengan hangat. “Tapi kau tidak perlu memaksakan dirimu jika kau memang lelah.”

Jungkook menggeleng. “Tidak, aku masih kuat satu ronde,” kerlingnya dan Taehyung terkekeh. Jungkook menempelkan dirinya pada Taehyung lagi—tubuh mereka bertemu dan Taehyung meloloskan desahan panjang yang lega.

Kepalanya terbenam semakin dalam ke bantalnya, mulutnya terbuka tanpa suara merespon gerakan kecil Jungkook yang juga tersesat dalam kepalanya sendiri. Bagaimana status mereka, cincin emas yang melingkar di jemari mereka, mengubah persepsi mereka tentang hubungan seksual.

Seluruh tubuh Jungkook terasa begitu baru dan asing, seolah mereka tidak pernah bercinta sebelum ini. Tangan Taehyung gemetar saat dia membelai otot bahu Jungkook yang keras, jemarinya menggelincir turun ke pinggangnya lalu membelai lekukan pantatnya yang kencang.

“Kau sendiri indah,” katanya serak lalu mendesah keras saat Jungkook kembali menempelkan tubuh mereka dan menggesekannya lembut. “Oh, sial.” Gumamnya, pening. “Misionaris tidak pernah terasa sepanas ini.”

“Menjadi normal semalam tidak ada salahnya.” Jungkook setuju, menyapu handuk Taehyung jatuh lalu melepas celananya sendiri sebelum kembali menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Taehyung dan menciumnya.

Panjang, lama dan panas.

Dia menarik ciuman panas dan basah turun ke leher Taehyung, menjilat dan menghisapnya lembut lalu beranjak ke cuping telinganya yang merah padam oleh gairah. Dia menjulurkan lidahnya, menjilat sisi luarnya dan Taehyung mengerang—gemetar saat meremas lengan atasnya.

Tubuhnya merespon itu dengan melengkungkan punggungnya. Membuat Jungkook mendesiskan umpatan saat tubuh mereka menempel dengan cara yang begitu intim hingga kepalanya pening. Dia membenamkan wajahnya di bantal, berusaha mengatur dirinya sendiri yang nyaris meledak entah karena gairah atau rasa lelah yang membakar seluruh ototnya hingga terasa seperti agar-agar.

Kemudian dia berhenti.

Taehyung mengerang karena tubuh Jungkook begitu berat menimpanya. “Sayang?” Panggilnya serak. “Sayang, kau menimpaku. Sesak!” Katanya, berusaha menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Jungkook lalu menyadari sesuatu.

Dia diam untuk mendengarkan.

Jungkook mendengkur.

Taehyung tertawa serak, “Dasar bajingan congkak,” kekehnya. “Bisa lelah juga ternyata.” Dia dengan lembut menggulingkan tubuh Jungkook dari tubuhnya dengan sisa tenaganya sendiri.

Jungkook menghantam kasur dengan igauan kecil, sejenak Taehyung takut dia baru saja membangunkan Jungkook namun chef muda itu kembali lelap sedetik setelah kepalanya menyentuh bantal. Nampak benar-benar lelap hingga Taehyung tidak habis pikir bagaimana bisa dia dari sangat bergairah jadi tertidur lelap?

Tapi Taehyung tidak mempermasalahkannya. Dia bangkit, menghamparkan selimut ke tubuh Jungkook dan mengecup keningnya.

Suaminya boleh tidur setelah servis panjang yang dikerjakannya tadi dan Taehyung harus puas bermain solo di malam pertama mereka karena sudah terlanjur basah.

Setelah menyelesaikan urusannya, dia mengenakan jubah mandi untuk beranjak ke dapur. Meraih sekotak jus, menenggaknya langsung dari kartonnya sebelum kembali ke ranjang. Menyusupkan diri ke sisi suaminya yang terlelap begitu nyenyak seperti bayi lalu memeluknya, menyandarkan kepalanya di leher Jungkook yang hangat dan memejamkan mata.

“Selamat tidur, Suami.” Bisiknya serak, merasa begitu bahagia hingga hatinya penuh dan hangat. Dia melingkarkan lengannya di atas perut Jungkook dan melilitkan kakinya di kaki Jungkook di bawah selimut, mendesah panjang dan bahagia.

Tidak ada seks, tidak masalah. Hal terpenting adalah dia memiliki Jeon Jungkook sepenuhnya.

*

The Chef #256 – The Wedding

Kim Taehyung belum pernah merasa sehebat ini sebelumnya.

Dia duduk di mejanya, di sisi kanannya kedua orangtuanya sedang berbincang akrab dengan orangtua Jungkook—kawan lama yang akhirnya kembali bertemu dalam pernikahan anak mereka yang digelar mendadak dan begitu ekslusif—mendadak untuk Taehyung karena ternyata kedua orangtua mereka sudah tahu pernikahan ini dua bulan sebelumnya. Di sisinya, meja dengan table card 'Jeon Jungkook' kosong karena suaminya yang congkak itu sedang berada di balik meja plating dengan pinset.

Membungkuk ke atas piring yang dia kerjakan dengan penuh perhatian dan ketelatenan, dengan topi chef tinggi dan seragam chef kebanggaannya yang digunakannya saat berangkat ke acara Chef of the Year dengan bordiran namanya di bawah bendera mungil Indonesia di dada kanannya dengan tulisan 'Finalist Chef of the Year'.

Jungkook jarang mengenakan seragam itu, pakaian itu selalu dilihat Taehyung digantung di lemarinya. Sesekali dicuci dan diseterika rapi, tapi tidak pernah digunakan. Jungkook selalu mengatakan bahwa seragam itu hanya akan digunakannya di saat-saat terpenting hidupnya.

Dan jelas, pernikahannya adalah salah satunya.

Di atas meja sudah tersedia peralatan makan five course meal yang disediakan anak servis untuk mereka dengan jejeran sendok, garpu dan pisau yang disesuaikan dengan menu yang mereka makan; ikan, daging dan sup. Saat mereka dipersilakan Jungkook untuk duduk, anak servis langsung membantu para ibu untuk duduk di kursi mereka. Mengisi gelas dengan air, menyampirkan serbet di pangkuan mereka untuk fine dining.

Di sisi kiri Taehyung sudah ada sepotong roti chia seed bulat dan mentega serta pisaunya untuk dimakan seraya menanti makanan pembuka mereka; ibu Jungkook sedang menikmati rotinya dengan mentega sambil berbincang dengan ibu Taehyung.

Mereka nampak sehat, Taehyung bersyukur. Kedua ibu mereka sedang membicarakan kursus amigurumi yang mereka berdua ikuti bersama sementara para ayah sedang membahas restoran Jungkook karena pada saat soft dan grand opening mereka tidak bisa datang. Mereka sedang mengamati interior ruangan, setelah tadi mengecek kualitas bangunan dan membicarakan rangka baja dan macam-macam bersama Yoongi.

Taehyung terenyuh saat mendengar pujian mereka saat memasuki restoran. Restoran standar bintang lima dengan langit-langit tinggi, dinding kaca dan retro, lampu kristal yang berkilauan, meja-meja bersih dengan linen kencang, show kitchen yang berkilauan dan anak mereka yang berdiri dengan seragam chef kebanggaannya, memeluk mereka satu per satu dengan hangat.

Meninggalkan jejak aroma rempah di pakaian mereka.

Taehyung juga menyadari betapa belakangan ini mereka jarang sekali mengabari orangtua mereka tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka. Bahkan hal sebesar Jungkook operasi saraf pun mereka putuskan untuk disimpan sendiri agar tidak membebani orangtua mereka. Mereka tidak perlu khawatir, Jungkook dan Taehyung bisa menghadapinya bersama.

Ruangan restoran yang biasanya ramai, kini hanya terisi dua meja dengan karangan bunga menggemasnya di bagian atasnya. Ada Jimin, Yoongi, Mingyu dan satu kursi kosong yang harusnya diduduki Yugyeom yang sekarang masih mempersiapkan dessert mereka. Sedang bersenda-gurau, tertawa menikmati panganan-panganan yang terjadi di meja prasmanan panjang di sisi mereka.

Taehyung sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa Jungkook berpikir dia sendiri yang harus memasak makanannya? Tidakkah dia percaya dengan sous chef-nya?

Tapi mengingat bagaimana sous chef itu sempat begitu patah arang saat melihat presentasi menu-menu Le Paradis yang harus ditirunya, Taehyung faham mungkin memang dia tidak berkenan merusak pernikahan Jungkook dengan ilmunya yang tidak menyamai Jungkook.

Service, please!

Taehyung menoleh dan Jungkook sedang menegakkan tubuh, tersenyum separo congkak padanya dengan lima piring berjajar di atas konternya. Anak servis bergegas menghampirinya, mereka meraih piring-piring itu dan mengantarnya ke meja Taehyung.

“Jungkook ini,” keluh ibu Jungkook mendesah keras saat makanan disajikan dari sisi kanannya. “Kenapa dia tidak mau duduk di sini? Kenapa malah dia memasak? Memangnya dia tidak ingin mengobrol dengan kami?”

Taehyung memutar bola matanya, menerima makanannya. “Ibu tahu sendiri dia bagaimana, 'kan? Aku tidak melakukan apa pun.” Katanya membenahi serbet yang disampirkan di pangkuannya lalu meraih satu sendok di sisi piringnya—yang terdekat dari piringnya. “Tidak akan ada yang bisa mengubah pikirannya, jadi kubiarkan saja.”

Dia tersenyum menatap appetizer yang disajikan karena dia baru saja memakan makanan itu tadi. Ada sepotong sate lilit dengan presentasi mewah yang dipadukan dengan urab lezat berempah. Taehyung menyendok sayurnya dan menyuapnya, mendesah merasakan ledakan rasa gurih, lezat dan sepercik rasa manis dari parutan kelapa. Harum dari daun jeruk dan renyahnya kacang panjang mentah.

“Dia melarang Mama ke rumah kalian,” desah ibu Taehyung menatap anaknya protes dan Taehyung menyunggingkan senyuman lebar. “Katanya sedang membuat kejutan untukmu.”

“Ya ini,” Taehyung melambaikan tangan ke pesta mungil mereka. “Dia mempersiapkan pernikahan.”

“Jungkook ini memang benar-benar,” ibu Taehyung menatap ibu Jungkook yang mendesah panjang, kemudian mulai mengomel tentang masa kecil dan masa muda ambisius Jungkook.

“Jadi, kalian hanya akan mengurus surat-suratnya dan sudah?” Tanya ayah Jungkook, memotong makanannya dan mendesah panjang menyecap rasa makanannya. “Dia memang berbakat.” Katanya serak.

Taehyung mengangguk, mempersilakan anak servis membereskan piringnya dan menunggu makanan selanjutnya seraya menanti orangtua mereka makan. Taehyung tidak ingin makan dengan kenyang, dia harus menyicipi semua menu malam ini.

“Ya begitulah.” Sahut Taehyung kalem. “Lagi pula, hal paling penting dari pernikahan adalah itu, kan? Resepsi besar-besaran tidak terlalu menarik untukku. Restoran lebih butuh banyak uang, Ayah. Kami sepakat untuk mengalokasikan uangnya ke sini daripada pesta besar-besaran.”

Ayah Jungkook menyikut ayah Taehyung akrab, tertawa serak. “Anakku menikahi akuntan, inilah yang mereka lakukan.” Godanya dengan suara berat dan ayah Taehyung tertawa.

“Anakku menikah chef, dan inilah yang mereka lakukan.” Balasnya, melambai ke restoran yang mereka tempati dan makanan di hadapannya.

“Anak kita menikahi orang yang tepat untuk diri mereka masing-masing, ya, kan?” Desah ibu Jungkook, menjulurkan tangan dan membelai pipi Taehyung lembut. “Kalian jarang sekali mampir, Ibu rindu.”

Taehyung tertawa. “Maaf, Ibu. Restoran benar-benar menyita pikiran kami. Tapi kita bisa pergi bersama besok, bagaimana?” Tawarnya tersenyum lebar.

“Ah, boleh!” Seru ibu Taehyung senang, menyeka bibirnya dengan serbet. “Kita ke Kuta, ya? Mama ingin itu... dikepang kecil-kecil. Pasti lucu.”

Taehyung kembali tertawa, “Siap, Mama.” Katanya lalu melirik Jungkook yang sekarang menatapnya, tersenyum lebar. Melemparkan air kiss padanya, Taehyung berpura-pura menangkapnya, lalu menyelipkannya ke sakunya.

Jungkook menatapnya kaget dan kecewa yang jenaka dan Taehyung menepuk sakunya. “Untuk nanti,” katanya tanpa suara dan Jungkook tertawa.

Piring dibereskan dan makanan selanjutnya dibawakan. Dia meraih sendok sup sesuai dengan urutannya. Table manner tidak begitu sulit jika sudah ingat aturan dasarnya; nampak mengerikan karena begitu banyak sendok dan piring, namun selalu ingat untuk mengambil sendok dari sisi terluar urutannya.

Taehyung melirik ke meja sebelah dan menemukan Bubble sedang duduk dengan manis di sisi Jimin, mendongak menatap Jimin yang menyuapinya camilan agar tetap tenang. Dengan hiasan sayap dan tanduk unicorn, Bubble terlihat sangat menggemaskan.

Seolah menyadari tatapan Taehyung, Bubble menoleh dan menyalak ceria; seluruh ruangan menoleh pada anjing kecil yang mendengking menyedihkan—tidak suka dipisahkan dari Taehyung. Ekornya mengibas-kibas liar dan dia melolong rendah hingga Jimin tertawa.

“Tidak, tidaak.” Kata Jimin membelainya, menahan rantai di lehernya dengan telunjuk. Bubble semakin melolong panjang menyedihkan dan meja riuh oleh tawa.

Taehyung melambai kecil pada anjingnya yang menggemaskan, Bubble sudah akan melompat dari kursi untuk menghampirinya tapi Taehyung langsung memberikannya telunjuk, melarangnya untuk melompat. Bubble mendengking lirih namun diam di kursinya.

“Duduk.” Kata Taehyung tenang dan Bubble menurut walaupun dengan mata berkaca-kaca karena ditolak. “Good boy,” katanya lembut. Jimin menyobek rotinya, menyuapinya ke Bubble sebagai imbalan sebelum kembali meraih sendoknya dan mulai menyuap makanan keduanya.

Makan malam berjalan lancar dan aman, Jungkook sendiri yang menyajikan makanan penutup sebelum akhirnya bergabung di meja dengan pakaian beraroma tajam rempah. Dia mengecup pipi masing-masing ibu Taehyung dan ibunya sebelum menerima roti chia seeds dari anak servis dan dia langsung menyuapnya habis.

Dia meraih Bubble yang melolong ceria saat Jungkook memeluknya. Menjilati wajahnya dengan heboh, mengibaskan ekornya dengan begitu kuat hingga Taehyung takut ekornya akan lepas. Dan langsung melompat ke atas serbet Taehyung, melompati dada Taehyung dan menjilati wajahnya.

“Cukup, Bubble!” Seru Taehyung ceria dan Jungkook bergegas meraih anjing mereka, menjauhkannya dari wajah Taehyung yang sekarang basah oleh saliva. Taehyung menyekanya dengan serbet dan membelai kepala Bubble yang menatapnya ceria.

“Memangnya kau tidak makan?” Tanya ibunya mengamati bagaimana Jungkook merobek rotinya menjadi dua lalu menjejalkannya ke mulutnya dengan lahap dan Jungkook menggeleng.

“Tidak, Ibu, aku kenyang.” Katanya dan Taehyung selalu tahu setiap kali menyelesaikan servis, hal yang dibutuhkan Jungkook bukan makanan tapi tidur. Dia kemudian meraih tangan Taehyung, menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung lalu menggenggamnya erat. “Jadi,” katanya.

“Kami menikah.” Katanya dengan nada takzim yang membuat Taehyung merinding dan dia menoleh, menatap chef muda di sisinya yang sedang menatap orangtuanya dengan senyuman lebar di bibirnya—seperti anak berusia lima tahun yang baru saja memenangkan penghargaan.

“Kalian sudah tinggal bersama sejak lama, seharusnya tidak ada hal yang berbeda kecuali sekarang kalian harus mengurus keuangan bersama, menatap ke depan sebagai pasangan, bukan lagi individu mandiri.” Ayah Jungkook menatap keduanya bergantian dari balik kacamatanya.

“Jika ada masalah,” ibu Jungkook menambahkan. “Tolong diselesaikan baik-baik, ya? Jangan ada pertengkaran yang tidak perlu.”

“Benar.” Ibu Taehyung menyela dengan semangat, menghabiskan hidangan penutupnya. “Kalian sudah bekerjasama mendirikan restoran semewah ini, bukan berarti kalian akan sukses menjalani bahtera rumah tangga. Hal itu sesuatu yang berbeda, kalian harus belajar memahami satu sama lain, bersabar dan menghadapi masalah bersama-sama.”

Taehyung dan Jungkook saling melirik dan bertukar senyuman lebar, siap menerima wejangan semalam suntuk dari kedua orangtua mereka. Kedua orangtua mereka tidak perlu tahu apa saja yang sudah mereka hadapi bersama sejauh ini; rumah sakit, depresi, kejutan, pertengkaran....

Mereka mungkin bukan pasangan paling sempurna di muka bumi ini, tapi Jungkook yakin setelah segala hal yang mereka hadapi selama ini mereka bisa menjadi lebih baik setiap harinya.

Jungkook lebih dari siap; mereka berdua telah melewati banyak hal untuk menunjukkan kualitas diri masing-masing. Taehyung mungkin kadang menarik diri saat ada masalah, namun dia selalu kembali dengan lebih kuat lagi untuk menyelesaikan masalahnya. Menyeret Jungkook yang depresi untuk kembali ke permukaan dengan tiraninya.

Mereka akan baik-baik saja, Jungkook yakin.

Di bawah meja, kaki mereka bersentuhan dan tangan mereka bertautan dengan erat dan hangat.

Petualangan baru ada di hadapan mereka, siap untuk dijelajahi dan dikalahkan.

Hanya untuk memuaskan teman-temannya, Jungkook meraih Taehyung dan berdansa dengannya di tengah kedua meja. Tertawa saat tidak sengaja menginjak kaki Jungkook. Betapa tangan Jungkook terasa begitu benar di pinggangnya, bagaimana tangan Taehyung terasa hangat di bahunya.

Mereka bergerak dengan lembut, menatap ke dalam mata masing-masing. Tersenyum lebar hingga pipi mereka nyeri. Terasa seolah selama ini Jungkook belum pernah memeluk Taehyung sehangat dan seerat ini, seolah selama ini mereka tidak tinggal bersama; bertengkar, menangis, berdebat, berdiskusi....

Seolah sebelum menyematkan cincin pernikahan mereka, Taehyung adalah orang asing. Sekarang jantung pemuda itu berdebar begitu hangat dan basah, seolah hidup Jungkook bergantung pada detakan itu.

Bergantung pada senyuman Taehyung.

Pada tawanya.

Senyumannya.

Taehyung telah menyihirnya, menjadikannya pria yang jauh lebih dewasa dan kuat dari sebelumnya. Pertemuan mereka yang hanya karena sup di Twitter hingga akhirnya berpacaran, bertunangan, menghadapi begitu banyak terjangan masalah dan akhirnya Jungkook memutuskan bahwa mereka layak menikah.

Mereka siap menikah.

Dan Jungkook tidak pernah menyesal telah menemukan Taehyung, memperjuangkan hubungan mereka dan berusaha menjadi lebih baik untuknya.

Karena Taehyung adalah jawaban dari segala pertanyaannya.

*

The Chef #246

“Kenapa kau mengamatiku begitu?”

Jungkook terkekeh serak, duduk di sisi meja menatap Taehyung yang sedang menyendok panganan pencuci mulut di piringnya dengan ceria. Nampak sangat menikmati kreasi tangan yang dikerjakan Jungkook sejak pagi.

Ledakan rasa manis yang pas, gurih kumbu hitam dan kondimennya yang segar membuat Taehyung mendesah dalam tiap gigitannya. Dia selalu kagum pada hebatnya Jungkook dalam menciptakan kreasi baru; dia seperti dewa. Kreatif, dinamis dan selalu mencoba hal-hal baru di luar apa yang biasa dilakukannya.

Tangannya bersandar di sisi meja, bersih dan kapalan. Taehyung mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangannya dan membelainya lembut sambil menyendok makanannya. Menyapukan sendoknya ke permukaan piring untuk mengais saus yang disapukan Jungkook di atasnya.

“Aku tidak akan menyisakan setetes pun.” Katanya dan Jungkook tertawa.

Taehyung kemudian beranjak ke saus markisa dan gulungan pasta kumbu hitam yang dibentuk tabung beku yang mulai meleleh. Membenamkan sendoknya di sana lalu berhenti saat sendoknya menabrak sesuatu yang menahan lajunya di makanan yang setengah meleleh itu.

Dia berhenti sejenak, menatap sendoknya yang berhenti di tengah jalan. Hening saat mereka berdua bersidiam. Taehyung berdeham.

“Apakah ini seperti yang kupikirkan?” Tanyanya dengan suara gemetar menahan tawa dan di sisinya, bibir bawah Jungkook bergetar berusaha menahan tawanya sendiri.

“Entah.” Jungkook berhasil bicara dengan susah-payah. “Menurutmu?”

Taehyung mengulum bibirnya, menggertakkan rahangnya menahan tawa yang sudah akan lepas di ujung lidahnya. Di sisinya, Jungkook menggenggam sisi meja dengan begitu kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Keduanya bergetar menahan tawa karena kejadian ini sudah pernah terjadi sebelumnya.

Jungkook berusaha mempertahankan wajahnya tetap kalem saat Taehyung meraih kumbu hitam bekunya dan memecahkannya dengan jemarinya yang kurus dan langsing. Saus gula dan lelehan kumbu hitam meluruh dari jemarinya.

Dan dia menemukannya; cincin emas kurus yang berkilau oleh cahaya dan lengket oleh gula kumbu hitamnya.

Taehyung mengangkat cincin itu ke antara mereka berdua dan mereka bertatapan.

Hening.

Lalu keduanya meledak dalam serangan histeria tawa aneh yang memusingkan. Jungkook membungkuk, memegang perutnya sementara berusaha mengatur jalan napas ke paru-parunya yang tercekik oleh tawa sementara di sisinya Taehyung sedang bersandar penuh ke kursinya, kepalanya terlempar ke belakang dengan mata terpejam dan tawa ringan yang terdengar seperti genta angin.

“Kau memang sungguh tidak kreatif!” Taehyung berseru. “Aku tidak akan menelan cincin tunanganku lagi, kau dengar aku?” Taehyung tertawa dan meraih gelas airnya, menyelupkan telunjuk dan jari tengahnya yang memegang cincin ke dalam gelas, mencuci cincinnya.

“Siapa bilang itu cincin tunangan?” Jungkook tertawa, meraih cincin itu dari tangan Taehyung dan kemudian berdeham, berubah pikiran. “Sebentar. Aku butuh penonton.” Katanya lalu menarik Taehyung yang tertawa serak keluar dari ruangan Jungkook.

“Bangsat congkak!” Taehyung tertawa.

Jungkook berdeham keras sekali dan seluruh isi dapur menoleh, berhenti bekerja. Lalu pemuda itu berlutut di hadapan Taehyung yang bersedekap dengan senyuman lebar di bibirnya, jejak tawa masih menetes dari sudut bibirnya.

Jungkook menelan ludah, tiba-tiba merasa gugup. “Aku sudah melakukan ini enam kali, kenapa rasanya masih gugup?” Keluhnya sementara seluruh dapur, khususnya para perempuan dari pastry section mengamati mereka dengan senyuman di bibirnya.

Suara bisik-bisik terdengar dan semua kegiatan dihentikan. Kompor dimatikan, butcher berhenti memutilasi daging, para helper berhenti memotong bawang dan semua mata tertuju pada Jungkook yang sedang berlutut di lantai dapur mendongak ke Taehyung yang tersenyum begitu lebar hingga pipinya nyeri.

You noob,” Taehyung terkekeh, sama gugup dan membuncah oleh perasaan gembira.

Jungkook mendelik padanya dan tersenyum. “Oke.” Katanya mendesah keras. “Here we go,” dia memejamkan matanya, menghela napas dari mulutnya dan mendongak. “Kim Taehyung,” katanya jernih.

Suaranya memantul, bergaung menjangkau ke seluruh sudut dapur yang sekarang hening menanti mereka. Beberapa commis mengangkat ponsel mereka diam-diam, merekam dan Taehyung tidak keberatan. Dia mungkin akan meminta video itu nanti.

Sadly, this is not another engagement ring,” Jungkook tersenyum separo, memberikan Taehyung senyuman paling cerah dan indah yang pernah dilihatnya. Jantungnya berdebar begitu kencang, menonjok tulang rusuknya yang malang.

Jungkook sudah melamarnya lima kali namun tetap saja, menatap lelaki itu berlutut di hadapannya dengan begitu gugup—hal yang sangat langka terjadi pada chef muda pongah yang membangun sebuah standar tinggi atas makanan lokal Bali di Campuhan.

Chef Jungkook tidak pernah menunduk atau merendahkan diri untuk siapa pun kecuali untuk meminta kesediaan Taehyung untuk menikahinya, menjadi teman hidupnya. Menjadi tua bersamanya, saling mendukung dalam keadaan sesulit apa pun, saling berbahagia dalam keadaan kelebihan, menemani dalam sakit, bersuka-cita dalam kesehatan.

Menjadi bagian dari seluruh hidup Jungkook yang hingar-bingar. Menjadi hening dalam setiap keriuhan, menjadi lembut dalam setiap kerasnya hidup, menjadi selimut dalam dinginnya tantangan yang mungkin mereka hadapi.

Menjadi rumah bagi jiwa mereka yang lelah.

Menjadi Jeon Taehyung.

Because this is our wedding rings. So, Kim Taehyung, would you give me the honor to marry you?

Taehyung tertawa serak, tangannya gemetar saat dia menjulurkannya ke arah Jungkook yang berlutut di hadapannya. “Tentu saja, Bodoh. Memang apa lagi jawabannya? I grant you the honor to marry me.”

Tertawa gemetar, Jungkook meraih tangannya dan Taehyung tertawa merasakan betapa dinginnya tangan Jungkook saat dia berusaha menyelipkan cincin ke jari Taehyung lalu mengumpat saat tremor tangannya terlalu kuat dan cincin menggelincir dari genggamannya; jatuh membentur lantai dan menggelinding.

Seluruh dapur mulai tertawa dan Jungkook berdecak keras.

“Kalian harus melupakan ini, oke?!” Katanya pada semua anak buahnya yang tertawa serentak. “Saya tidak gugup!” Dia mendelik namun semua anak buahnya malah semakin berusaha keras menahan tawa mereka.

Dan Yugyeom terserang serentetan batuk keras yang terdengar persis seperti tawa terbahak-bahak yang panjang.

“Siap, Chef!” Balas mereka, tertawa-tawa rendah.

“Cukup!”

“Siap, Chef!”

Mereka langsung diam kembali, tapi masih mengulum senyuman lebar mereka.

Jungkook kembali mendesah keras, dia meraih cincin yang tadi menggelinding ke kaki Taehyung. “Goddamnit,” keluhnya lalu menghela napas dari mulutnya dan meraih tangan Taehyung kembali.

Dengan cepat, memanfaatkan sisa percaya dirinya tadi setelah memarahi anak buahnya, Jungkook menyelipkan cincinnya ke jari Taehyung hingga ke dasar lalu membawanya ke bibirnya. Mengecup cincin itu, setiap buku jari Taehyung lalu punggung tangannya.

Seluruh dapur bersorak riuh, bertepuk tangan meriah dan beberapa anak pastry bahkan menangis terisak-isak, menyeka air mata mereka dengan ujung apronnya yang beraroma tajam ekstrak vanili. Jungkook kemudian berdiri, meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan mendesah panjang dan rileks.

“Kau milikku.” Bisiknya di telinga Taehyung sementara ruangan gegap-gempita oleh histeria kebahagiaan tim Jungkook. Telapak tangan Jungkook terasa begitu hangat dan menenangkan di punggung Taehyung saat dia memeluknya begitu erat hingga Taehyung takut tubuhnya akan remuk karena pelukan itu.

“Kau milikku.”

“Selalu.” Balas Taehyung tersenyum, membelai punggung tegap Jungkook dengan telapak tangannya.

Milikku terdengar begitu indah saat ini, seolah selama ini Jungkook belum memiliki Taehyung seutuhnya.

“Lalu kapan kita akan menikah?” Godanya geli dengan jantung yang masih berpacu liar akibat histeria lamaran mereka. “Kita sudah bertunangan dua setengah tahun dengan setidaknya enam kali lamaran, tapi kau belum juga menggelar pernikahan? Kau sedang menyia-nyiakan kehormatan yang kuberikan padamu, kau tahu.”

Anehnya, seluruh dapur tiba-tiba kembali hening menyambut kalimat Taehyung itu. Semua saling mengerling dengan penuh arti di balik punggung Taehyung. Berbisik-bisik dan berkusuk-kusuk menbicarakan sesuatu. Yugyeom mendelik pada semuanya agar tidak ada siapa pun yang mengatakan apa pun tentang ini.

Jungkook kemudian tertawa serak. “Tidakkah kau bertanya kenapa aku memesan begitu banyak bebek untuk hari ini? Padahal kita tidak punya menu bebek?”

Taehyung mengerjapkan mata, menguraikan pelukan Jungkook dan menatapnya. “Apa?” Tanyanya. “Kupikir ada reservasi yang harus menggunakan bebek? Aku hanya menyetujui dokumen pembeliannya dan tidak....” Suara Taehyung perlahan memelan dan lenyap.

Seluruh dapur hening.

Dan Taehyung terkesirap keras saat pemahaman melintas di kepalanya; Jungkook nyaris bisa mendengar suara 'klik!' keras di kepalanya saat Taehyung akhirnya menyatukan semua informasi yang didapatkannya.

“OH! Kau... bajingan!” Serunya histeris, panik dan juga tertawa. Benar-benar kebingungan dengan informasi yang baru diterimanya; Apa-apaan?? “Kita menikah... malam ini?!” Dia tersedak napasnya sendiri. “Yang benar saja?!”

Jungkook tertawa, terdengar sangat terhibur dengan reaksi Taehyung dan mendapatinya begitu indah. “Kenapa memangnya?” Tanyanya kalem.

Kenapa katanya????

Sungguh, Taehyung akan membunuh Jeon Jungkook pada malam pertama mereka. Sungguh.

“Kita hanya akan makan malam bersama beberapa orang,” lanjutnya dengan kepercayaan diri pongah lamanya yang kembali sepenuhnya hingga Tehyung ingin sekali menyarangkan safety shoes-nya ke wajah congkak tampan itu.

“Orangtuamu sudah di hotel pagi tadi dan aku melarang mereka menghubungimu. Orangtuaku tiba di bandara satu jam lagi dan malam ini mereka akan bergabung bersama kita di makan malamnya.

“Lalu besok kita akan mengurus surat-surat pernikahannya. Seperti katamu tadi, aku tidak mau menyia-nyiakan kehormatan yang sudah kauberikan padaku.”

Taehyung gemetar.

Orangtuanya sudah di Bali? Mereka tahu pernikahan Taehyung dilaksanakan hari ini dan Taehyung bahkan belum tahu akan mengenakan pakaian apa? Dan apakah Jungkook pergi ke dapur subuh-subuh untuk... menyiapkan makanan pernikahan mereka?

Dia menikah dan dia yang memasak makanannya? Memang bangsat perfeksionis!

Taehyung bisa saja berteriak sekarang karena otaknya kram memproses informasi baru ini. Namun dia hanya berdiri di sana, membuka dan menutup mulutnya; kebingungan seperti sedang berenang di dalam agar-agar. Otaknya macet saat berusaha mencerna semuanya.

Dia menatap tunangannya—calon suaminya yang sedang tersenyum pongah di hadapannya. Nampak seindah, setampan dan sesempurna dewa perang muda dalam balutan seragam chef-nya yang berkilau, apron bernoda dan topi tinggi chef-nya yang mengintimidasi.

Surprise, motherfucker.” Bisiknya menaikkan sebelah alisnya dan menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah, dengan wajah jenaka yang begitu tampan hingga Taehyung menahan napasnya. “Bet you didn't see this coming.

Jeon Bajingan Jungkook ini memang benar-benar!

*

The Chef #243

Membantah kata-kata Jungkook, Taehyung akhirnya tiba di dapur Le Paradis yang sudah mulai sibuk dengan anak-anak buah Jungkook yang sedang mempersiapkan bahan baku makanan.

Mereka semua bergerak dengan cepat, ringkas dan cekatan. Tidak ada yang terlalu banyak bicara, tapi tidak juga dalam suasana tegang yang mencekam. Mereka masih bergunjing, masih bersenda-gurau namun dalam taraf normal yang ditoleransi Jungkook.

Sementara sang chef muda sendiri sedang berdiri di tengah hot kitchen dengan seragam dan apronnya yang mulai ternoda bumbu-bumbu yang sejak tadi dikerjakannya. Dia menunduk ke atas frying pan, nampak sangat fokus pada daging bebek yang dikerjakannya dengan alis berkerut, tulang rahang yang tajam dan kening yang begitu menakjubkan karena seluruh rambutnya diikat naik.

Suara tak-tak-tak cepat pisau beradu dengan chopping board mengikuti bagaiman lincahnya tangan para commis mengerjakan pekerjaan mereka, suara mendesis dari frying pan Jungkook, suara tulang hewan yang dipukul putus dari butcher; entah mengapa semenjak menjadi tunangan chef, suara ini terasa begitu akrab dan familiar dengan kehidupan Taehyung sendiri.

Dia selalu mendengar suara ini setiap hari Sabtu atau Minggu yang cerah, saat dia terbangun dan Jungkook sedang berdiri di balik kompor dengan apron dan lap kesayangannya tersangkut di celana training buluknya. Sedang memasak sesuatu yang lezat untuk Taehyung, nampak cerah dan segar setelah berolahraga dengan ujung-ujung rambut yang agak basah setelah mandi. Aroma masakan sudah mengungkung seluruh ruang di apartemen mereka, ke setiap celah dan sudutnya.

Taehyung menghela napas untuk menenangkan seluruh sarafnya karena tubuhnya tahu, ini adalah aroma rumah.

Bubble mengibaskan ekor ceria di kakinya, mendangak dan terengah-engah serta menyalak ceria. Taehyung akan berdiri di kusen pintu, menatap adegan itu dengan hati yang terasa begitu hangat. Jungkook yang terkekeh saat Bubble menjilat kakinya meminta camilan, menyalak dan berusaha menyakar-nyakar kakinya dalam usahanya menarik perhatian Jungkook.

Dan chef muda itu akan menyerah, menarik laci kabinet dan menarik camilan Bubble dan memberikannya pada anjing kecil mereka yang akan menggonggong panjang berterima kasih. Dan Jungkook akan menyadari kehadiran Taehyung, menoleh dan tersenyum cerah padanya.

“Pagi, Sayang?” itulah yang akan dikatakannya pertama kali dengan suara seraknya.

Tidak masuk akal bagaimana berada dalam satu ruangan dengan Jungkook masih bisa membuat Taehyung begitu merindukannya hingga seluruh tubuhnya nyeri.

Sekarang Jungkook sedang mengerjakan sesuatu dalam dunianya sendiri, seperti memiliki gelembung kedap suara di sekitarnya.

Dia menakar bumbu, menyicipinya dengan kelingking mengandalkan dua rasa yang dimilikinya untuk menyiptakan kreasi barunya. Dia sibuk dengan frying pan di hadapannya dengan api yang dibuka besar, menaburkan bumbu, menggerakkan lengannya dalam bentuk oval mengayunkan frying pan hingga makanan di atasnya teraduk membentuk ombak mini yang cantik.

Setiap commis atau CDP-nya melewati wilayah Jungkook, mereka sebisa mungkin memberi ruang yang dibutuhkan lengan Jungkook untuk bekerja. Dia begitu cekatan dan sigap dengan dua frying pan yang masing-masing terisi di atas kompor di hadapannya, ada chopping board di sisinya dengan pisau yang tergeletak dan bumbu-bumbu di sekitarnya.

Dia selalu meraih lapnya untuk mengusap konternya tiap kali dia berhenti. Mendongak untuk mengecek anak-anaknya sekilas sebelum kembali menunduk dengan alis berkerut, bibir membentuk garis tipis yang menggoda dan mata yang tertuju sepenuhnya pada kreativitasnya yang mendesis menguarkan aroma rempah kuat Bali di atas wajan.

Taehyung masih menunggu di depan pintu masuk kitchen, beberapa anak yang melewatinya untuk ke cold storage mengangguk segan padanya karena mengenali Taehyung sebagai tunangan dan manajer restoran. Taehyung menyandarkan tubuh ke kusen pintu, melipat kedua lengannya di dada dan mengamati tunangannya bekerja.

Dia bergerak dengan lincah, namun tidak mengambil ruang lebih dari yang dibutuhkannya. Dia menjaga sikunya turun namun tetap bergerak dengan keluwesan yang mengejutkan. Pinggang rampingnya berputar saat dia meraih sesuatu di belakangnya lalu kembali fokus ke makanannya.

Saat dia mendongak dan mengedarkan pandangannya sekali lagi ke seluruh ruangan untuk mengecek anak buahnya, dia akhirnya menyadari Taehyung.

Jungkook mendesah, tersenyum lebar dan menelengkan wajahnya yang berkilau oleh humor. “Sejak kapan aku dimata-matai?” Tanyanya dari tempatnya dengan suara yang cukup keras untuk menjangkau Taehyung tapi tanpa berteriak.

“Sudah cukup lama,” sahut Taehyung tersenyum, mendorong tubuhnya berdiri lalu menghampiri Jungkook. Dia memamerkan kakinya yang terbalut salah satu safety shoes cadangan Jungkook tepat saat sang chef membuka mulut untuk memperingatkannya. “Aku sudah persiapan.”

Jungkook memandang sepatunya yang pasti kebesaran di kaki Taehyung lalu mengulurkan tangan, mengusap kepalanya dengan hangat; aroma rempah dan masakan langsung menguar dari telapak tangannya saat dia mengulurkannya ke Taehyung. Hinggap ke indera penciuman Taehyung, mengirimkan impuls ke otaknya yang seketika langsung merilekskan diri; ini Jungkook.

Dia rumah. Dia aman.

“Hai, Sayang.” Katanya lembut, menatap langsung ke mata Taehyung. “Kau lapar?”

Taehyung mengangguk menatap makanan di wajan yang masih mendesis. “Kau sedang membuat apa?” Tanyanya, menghela napas menghirup aroma masakan di wajan dan seketika merasa lapar. “Aromanya lezat.” Pujinya tulus.

“Sungguh?” Jungkook terkekeh. “Ini untukmu.” Dia menggoyangkan frying pan-nya lalu mengendikkan dagunya ke ruangannya di sudut. “Bisakah kau menunggu saja di dalam ruanganku?” Tanyanya lalu mendadak menyambar bahu Taehyung, yang terkesirap keras karena kaget, menyingkirkannya dari jalan sedetik sebelum seorang commis menabraknya dengan panci tinggi terisi air.

“Maaf, Chef!” Seru commis-nya. “Coming, coming! Hot!” Dia melangkah melewati orang-orang dengan luwes dengan sepanci makanan panas di tangannya yang terbalut sarung tangan tebal.

“Di sini terlalu berbahaya. Kau harus terus bergerak mengikuti gerakan semua orang, kekikukanmu akan membuatmu celaka.” Jungkook kembali menyelamatkan ujung baju Taehyung dari api yang menyambar dan tertawa. “Sana, selamatkan dirimu.”

Taehyung yang masih syok karena ujung kemejanya gosong bergegas berjalan cepat ke arah ruangan Jungkook. Nyaris menabrak anak pastry yang sedang membawa loyang panjang terisi choux-choux kosong yang baru matang.

“Maaf, Pak!” Serunya tanpa menoleh dan Taehyung menelan ludah; Jungkook benar, Taehyung lebih aman di dalam ruangannya.

Jadi dia bergegas menyelipkan tubuhnya ke ruangan Jungkook dan duduk di kursi Jungkook. Mac-nya ada di atas meja, tertutup dan di sisinya ada gelas yang terisi segenggam pulpen, di atas gelas itu ada foto Taehyung sedang menggendong Bubble nampak tersenyum lebar dan cerah. Di sudutnya ada tulisan tangan Jungkook:

Family—J.

Ini bukan kali pertama Taehyung melihat foto itu, tapi dia selalu merinding tiap kali membaca tulisan Jungkook di atas foto sederhana itu. Dia mendesah, mendongak menatap ke dapur, ke tunangannya yang sedang bekerja lalu mengangkat pan-nya dan menuang masakannya ke atas piring stainless untuk didinginkan.

Lalu dia mengelap konternya, mencuci semua barang yang digunakannya seraya mengawasi commis-nya bekerja tanpa suara atau ekspresi. Kemudian dia meraih piringnya dan beranjak ke bagian depan dapur, tempatnya mengerjakan plating. Dia membungkuk begitu lama di sana, bekerja dengan pinset dan macam-macam kondimen yang disiapkannya sendiri.

Taehyung menunggu sekitar dua puluh menit sebelum akhirnya Jungkook menegakkan punggungnya, bahunya merosot dan dia nampak lega sebelum mengelap sisi piringnya dan membawa benda itu ke ruangannya.

“Tok, tok?” Katanya serak dan membuka pintunya, tersenyum lebar. “Kau lapar? Apakah perutmu sakit?”

Taehyung menggeleng saat piring diletakkan di hadapannya. Aroma bumbu, daging bebek berlemak yang matang sempurna berwarna keemasan indah, dengan saus lembut berwarna lembut, edible flowers dan detail kecil yang begitu menggemaskan hingga hati Taehyung terenyuh.

Tentu ini bukan kali pertama Jungkook memasak untuknya, tapi hal itu selalu membuat jantungnya berdebar seperti kali pertama dia memasuki Pasola, meminta FB Captain untuk mengantarnya ke meja yang dipesankan Jungkook untuknya, bertemu pertama kalinya dengan chef baik yang mengoreksi makanannya.

Muda, bugar, indah dan beraroma seperti kayu manis yang hangat. Berdiri di hadapannya dengan topi tinggi chef-nya lalu mengulurkan tangannya yang penuh tato dan bicara dengan serak:

“Halo, Taehyung? Saya Jungkook.”

Taehyung tersenyum simpul ke makanannya lalu menerima sendok yang diberikan Jungkook. “Boleh kumakan?” Tanyanya menatap daging bebek yang matang ditata memanjang secara diagonal di atas piring putih, berbaring di atas kolam saus yang harum dengan beberapa kondimen di sisinya.

“Tentu.” Jungkook tersenyum. “Lalu beritahu aku apakah kau menyukainya.”

Taehyung mendongak, tersenyum. “Trims, Chef?” Katanya serak. “Bukan hanya untuk masakan ini tapi untuk segalanya.”

Jungkook merengkuh Taehyung ke dalam pelukannya dan Taehyung menyandarkan tubuh atasnya ke pinggang Jungkook. Menghirup dalam-dalam aroma masakan yang menempel lekat di permukaan seragam Jungkook. Mereka seperti itu selama beberapa menit, Jungkook melengkungkan punggungnya, mengecup puncak kepala Taehyung begitu lama dengan mata terpejam.

Berusaha menyalurkan seluruh perasaan cinta yang dimilikinya agar Taehyung tahu apa yang dirasakannya karena entah mengapa bahasa linear manusia tidak lagi sanggup menjelaskan perasaan di hati Jungkook untuk pemuda paling berani, paling sabar, paling galak dan paling perhatian yang dipilihnya menjadi teman hidupnya.

“Kembali kasih.” Katanya serak lalu melepaskan Taehyung dan tersenyum. Mata dan hatinya terasa nyeri oleh cinta dan rindu yang membuncah. Dia begitu mencintai Taehyung—sungguh. “Silakan makan, ya? Beritahu aku apa yang kurang dari menunya.”

Taehyung menatap makanannya. “Ini menu baru untuk restoran?” Tanyanya meraih sendok dan mulai menyendok daging bebek yang begitu lembut hingga saat disendok terasa seperti mentega.

Jungkook mengerlingnya, senyuman bermain di bibirnya. “Bisa jadi.” Katanya tenang. “Let's just see.

*

The Chef #236

“Apa yang sedang kaulakukan?” Jungkook muncul dari kamar mandi setelah berenang dan membilas diri, rambutnya yang basah menempel di lehernya.

Taehyung mendongak dari mangkuk yang sedang isinya sedang dikocoknya dengan whisker. “Membuat panekuk Swedia,” sahutnya ceria. “Seharusnya mudah dan aku tidak perlu menghancurkan dapur.” Dia menunduk ke adonannya.

“Hanya menyampur tepung, susu dan telur.” Katanya mendongak menatap Jungkook yang terkekeh. “Aku bisa saja menggunakan batter mix instan tapi aku tidak mau.”

Hari Senin yang cerah setelah Taehyung menyelesaikan perhitungan profit bulan pertama pembukaan Le Paradis dan menyadari mereka berhasil meraup cukup banyak untuk ditabung mengembalikan uang modal.

Setelah pusing menghitung gaji bersama HRM mereka, menghitung pemasukan dan pembayaran ke semua suplayer bersama Jimin; Taehyung akhirnya punya waktu beristirahat dengan camilan di piring yang dibuatkan Jungkook sejak pagi tadi.

Semua pertemuan dan pembahasan dilakukan via video call atau di teras rumah mereka yang rindang bersama Bubble yang menggonggongi kupu-kupu dengan ceria, berlari dengan kaki-kaki pendeknya lalu terantuk kakinya sendiri dan jatuh menghantam rumput dengan wajahnya, mendengking sedih.

Maka Taehyung bergegas berlari ke arahnya dan menggendongnya seraya tertawa lembut sementara HRM-nya mengecek kembali perhitungan gaji yang baru saja dibuatnya. Taehyung menggendong Bubble di kepalanya seraya menunggu dalam balutan celana training abu-abu buluk milik Jungkook dan kaus tipis yang menempel di tubuhnya setelah melakukan yoga paginya.

Setelah HRM pulang, dia menemukan Jungkook baru saja menyelesaikan set workout paginya dengan barbel dan siap untuk berenang. Jadi dia melepaskan Bubble dan beranjak ke dapur, mengambil tepung dan susu untuk membuat camilan karena dia sudah merasa lapar setelah makan sereal tadi pagi.

Sudah dua minggu dia hidup sehat dengan makan berat tiga kali sehari dan camilan di antara tiga jam makannya dan lambungnya terbiasa dengan itu sehingga Taehyung jadi jauh lebih mudah lapar dan berat badannya lebih mudah naik. Begitu pula Jungkook yang menemani pola makannya.

Maka dia dan Jungkook menghabiskan lebih banyak waktu untuk berolahraga bersama.

Jungkook mengusap rambut basahnya dengan handuk dan membersit air keluar dari telinganya. “Kau habis menonton Pewdiepie lagi?” Tanyanya geli dan bersandar di dinding pinggir dapur, menonton kekasihnya menuang bahan-bahan.

“Awas, hati-hati.” Jungkook memperingatkan saat Taehyung membawa frying pan Jungkook ke kompor. “Benda itu lebih berat dari yang kaukira.”

“Memang.” Keluh Taehyung lalu menyalakan kompor lalu memanaskan pan-nya. “Kau ingin panekuknya dengan apa? Selai? Nutella?”

Jungkook mengangguk, menjempur handuknya lalu meraup Bubble yang sedang mengunyah mainannya. Anjing kecil itu menggonggong protes saat mainnya lepas dari giginya maka Jungkook membungkuk, meraih mainannya dan membiarkannya mengunyah lagi lalu beranjak mendekati Taehyung.

Taehyung menuang mentega ke atas pan yang panas dan mendesah saat aroma mentega menguar ke seluruh ruangang. Jungkook tersenyum, bersandar menontonnya. Taehyung meraih mangkuknya yang terisi adonan, menuangnya ke atas pan yang mendesis.

Aroma tepung dan susu yang dipanggang bersama mentega membuat perut Jungkook lapar. Bubble menoleh dari mainannya, mengendus tertarik. Mata bulatnya mengedip, dia menelengkan kepalanya tertarik pada aroma panekuk. Taehyung menggoyangkan pan hingga adonan menyebar membentuk lingkaran tipis di atas pan.

“Kecilkan apinya,” Jungkook menggerakkan satu tangannya dengan gestur memutar kenop kompor. “Nanti gosong.” Tambahnya saat mengamati volume asap yang muncul dari sisi pan Taehyung.

Hidung Jungkook yang sensitif sudah mendeteksi aroma gosong dari panekuk Taehyung apalagi dengan adonan setipis itu. Taehyung bergegas mengecilkan apinya dan nyengir—menyadari juga aroma gosong yang mulai merebak ke indera penciumannya.

“Bagaimana jika panekukku gosong dan gagal?” Tanyanya mengamati panekuknya seperti sedang mengamati anak bungsunya yang sedang belajar merangkak.

“Tentu saja kumakan.” Tandas Jungkook ringan. “Akan kumakan apa saja yang kaubuatkan untukku.”

Taehyung menoleh, nyengir padanya. “Sungguh?”

Jungkook mengangguk. “Panekuk gosong bukanlah makanan paling ekstrim yang pernah kaubuat. Penghargaan itu masih jadi milik bakwan kangkung.” Dia bergidik dengan wajah berkerut aneh yang membuat Taehyung tertawa ceria.

“Bukan gulai yang pecah?” Tanya Taehyung.

“Itu juga!” Jungkook menjentikkan jarinya keras dan Taehyung tertawa, kepalanya terlempar ke belakang merespon ledakan tawanya. “Aku ingat tiba di apartemen dengan satu ruangan beraroma seperti jeroan kambing dan bumbu santan. Kita menghabiskan semalaman untuk mengepel dan membersihkan ruangan dengan perut kelaparan lalu berakhir makan telur ceplok.”

Taehyung meraih spatula lalu menyungkil bagian pinggir-pinggir pan untuk melepaskan panekuknya dari lapisan pan dan tersenyum saat membaliknya namun mengerang saat ujung panekuknya ternyata gosong.

“Gosong...” Keluhnya dan Jungkook tertawa.

“Akan kumakan. Ditambahkan cokelat tidak akan terasa.” Dia terkekeh. “Ayo masih ada beberapa kali percobaan lagi, jangan menyerah.” Dia membelai Bubble yang menyalak ceria sekali seolah ikut menyemangatinya.

Taehyung menatapnya lalu tersenyum. Kembali meraih mangkuknya, menuang adonan ke atas pan yang sudah dilapisi mentega baru dan Jungkook tersenyum. Dia selalu suka ini, bagaimana Taehyung walaupun telah gagal berkali-kali, menyebabkan kekacauan dan bahkan hampir membakar gedung apartemen, dia selalu berani untuk mencoba kembali.

Tidak pernah kapok atau gentar.

Kualitas diri yang sangat disukai Jungkook.

Akhirnya Taehyung membalik panekuknya dengan lebih percaya diri lalu berseru senang saat panekuknya matang dengan mulus. Jungkook mengulurkan telapak tangannya dan Taehyung memberinya tos nyaring. Jungkook tertawa, mengamati tunangannya berkreasi dengan ceria di dapurnya dalam balutan pakaian Jungkook yang malah semakin menonjolkan betapa langsing tubuh Taehyung.

“Kita masih punya buah apa?” Tanya Taehyung setelah panekuknya matang, dia menjilat sisa adonan panekuk di jarinya.

Jungkook mendongak dari kesibukannya menggaruk telinga Bubble yang berbaring telentang di pangkuannya. “Hmm... Kurasa ada stroberi di freezer, coba dicek.”

Taehyung membuka pintu ganda kulkas mereka dan menemukan sekotak stroberi yang masih disegel. “Ah, ketemu!” Katanya ceria lalu menuntup kulkas dengan pantatnya membawa piring panekuknya ke teras dapur, mulai menghiasnya dengan selai dan potongan stroberi.

Jungkook mengamati dengan geli saat tunangannya melapisi panekuk dengan Nutella lalu menggulungnya perlahan. “Kenapa tidak dibentuk segitiga saja?” Tanyanya kalem.

“Kata Pewdiepie ini harus digulung.” Taehyung tidak mendongak dari prakaryanya. “Aku mendengarkan orang Swedia asli.” Dia kemudian meletakkan satu panekuk yang sudah digulung dengan isian Nutella dan stroberi di piring dan tersenyum puas.

“Kelihatan enak.” Puji Jungkook tulus saat Taehyung meletakkan piringnya di atas meja di hadapannya. Panekuk itu sungguh terlihat lezat dengan potongan stoberi segar dan keahlian Taehyung menata makanan. “Aku boleh makan?”

“Sebentar!” Taehyung bergegas ke kamar, mengambil ponselnya dengan suara langkah kaki berisik di atas lantai linoleum mereka. “Aku harus pamer dulu! Ini masakan pertamaku yang berhasil!”

Dia lalu berdecak melihat satu panekuknya yang gosong dan menatap Jungkook, “Bisa tolong singkirkan yang gosong?”

Jungkook tertawa, meraih panekuk yang gosong dan menjejalkannya ke mulutnya. “Sudah,” katanya dengan mulut penuh dan mendesah karena panekuknya terasa hangat di lidahnya walaupun dia belum bisa merasakan manis.

Taehyung menatapnya, tersenyum lebar lalu memfoto makanan di hadapannya. “Yap!” Serunya lalu mendudukkan diri di sofa di hadapan Jungkook. “Silakan dimakan, Chef. Lalu beri aku penilaian.”

Jungkook berdeham, berpura-pura serius dan Taehyung tertawa. Jungkook melepaskan Bubble yang melompat ke pangkuan Taehyung lalu meraih garpu dan pisau. Dia memotong sedikit ujung panekuk lalu memakannya dengan ringkas dan meletakkan kembali garpunya di sisi meja, persis seperti bagaimana dia menyicipi makanan buatan commis-nya lalu mengangguk-angguk saat mengunyah.

Taehyung menatapnya, menahan senyuman sambil menggaruk telinga Bubble, mengikuti permainan tunangannya. “Bagaimana, Chef? Saya bisa bekerja dengan Chef sekarang?”

Pancake won't get you anywhere.” Jungkook menggeleng dramatis dengan mata tertutup. “It surely won't win my heart either.” Lalu dia mengerling Taehyung, menyapukan tatatpan kurang ajar ke seluruh tubuhnya.

“Tapi jika kau tertarik pada hal lain, aku bisa memberimu blowjob. Bagaimana?”

Taehyung tertawa serak, beranjak ke arah Jungkook lalu duduk di pangkuannya. Mendorong Jungkook bersandar lebih dalam ke sofa dan menjambak rambutnya ringan, membaksa Jungkook mendongak.

Chef muda itu tertawa terhibur lalu mengerang panjang saat Taehyung mulai menggerakkan pinggulnya di atas pangkuannya.

“Baiklah,” balas Taehyung, merunduk menyapukan lidahnya ke leher Jungkook yang langsung mengumpat keras.

Blowjob it is.” Taehyung menjulurkan lidah, menjilat cuping telinga Jungkook yang melenguh, memeluk pinggangnya dan mengangkatnya semakin ke atas—terengah menyenangkan.

Even better.”

*

The Chef #231

Taehyung duduk di ranjangnya, sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

Hasil operasi sudah keluar dan memang ada luka di bagian lambung Taehyung namun belum cukup lebar dan besar untuk menyebabkan kerusakan yang fatal sehingga dokter hanya akan meresepkan obat-obatan yang harus diminum secara rutin dan mengtur apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan Taehyung.

Dia harus mengucapkan selamat tinggal pada vodkanya yang setelah operasi saat Jungkook berkesempatan untuk pulang mengambil pakaian dan mencuci, sudah dibuang isinya ke bak cuci agar Taehyung tidak tergoda lagi.

Sekarang tunangannya sudah duduk, mengunyah sarapannya dengan tekun tanpa protes menonton televisi yang menayangkan film kartun anak-anak dengan suara sayup-sayup. Nafsu makannya baik, kondisinya stabil, infusnya sudah tidak terlalu banyak, dia juga sudah nampak jauh lebih baik. Demamnya turun, pusingnya sudah tidak ada dan ulu hatinya tidak lagi sakit.

Besok dia sudah bisa pulang dengan pola hidup baru yang harus dijalaninya dan check up satu bulan sekali selama tiga bulan pertama. Jungkook sudah merencanakan menu-menu makan Taehyung yang bebas dari bumbu keras, cabai dan asam. Dia tidak boleh minum kopi lagi, tidak boleh begadang, harus mulai ikut berolahraga dan tidak boleh menunda makan sama sekali. Dia harus hidup sehat dengan makan tiga kali sehari dengan camilan di antara jam makannya.

Semua hanya agar lambungnya bisa menyembuhkan diri.

“Hidupku menderita.” Keluh Taehyung saat itu, selepas malam saat Jungkook akhirnya naik ke ranjangnya untuk memeluknya sebelum tidur karena Taehyung tidak akan bisa tidur sebelum Jungkook naik untuk memeluknya.

“Sejak kapan hidup sehat berarti menderita?” Jungkook terkekeh, mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepalanya. “Kau akan baik-baik saja. Aku bersamamu. Tidurlah sekarang, besok kita bicara lagi.”

Sekarang chef muda itu sedang duduk di sofa dengan Yugyeom. Hari ini Senin, restoran tutup dan besok saat Taehyung akhirnya pulang Jungkook hanya akan muncul saat servis. Pagi hari akan digunakannya untuk menemani Taehyung di rumah sebelum pukul empat sore dia akan ke restoran, menyelesaikan servis lalu kembali pulang*.

Mereka sedang membahas sesuatu, Jungkook menggambar dan menulis di atas kertas kosong. Mendiskusikan masakan dan teknik yang tidak difahami Taehyung namun menilik dari seberapa fokusnya Jungkook, sepertinya itu penting. Dia juga menggambar visual makanannya dalam garis-garis tebal beraninya di atas kertas. Nampak begitu serius dengan alis berkerut yang nampak seksi. Taehyung mengamatinya dari ranjang.

“Kalian sedang apa, sih?” Tanyanya, menyuap buburnya yang secara mengejutkan terasa lezat walaupun tetap saja tidak seenak apa yang dibayangkan Taehyung. Sudahkah dia mengatakan bahwa dia benci sekali ayam rebus yang basah?

Jungkook tidak mendongak dari kesibukannya menggambar dan menulis menu imajiner yang sudah gatal ingin dicobanya. Taehyung merasakan sentakan adrenalin di dasar perutnya; percobaan menu kreasi Jungkook adalah hal yang magis sekali. Bagaimana dia memasak dengan insting dan nalurinya, mencoba ini-itu, meracik bumbu seperti penyihir menciptakan ramuan cinta lalu bahkan mem-plating-nya dengan cantik.

Membiarkan Taehyung mencicipinya, mengulangnya, menyempurnakannya; Taehyung selalu suka menyaksikan Jungkook seperti seorang seniman—memasak makanan dari menu yang dibayangkannya, menyajikannya persis seperti apa yang diinginkannya.

Taehyung selalu ingin bercinta di atas meja dapur tiap kali Jungkook mulai sibuk menyiptakan menu baru.

“Bukannya besok mantanmu akan datang?” Katanya kalem, menulis serangkaian kata-kata di atas kertas lalu mencoret-coretnya. “Aku menyiapkan menu untuk show kitchen.”

Sendok bubur Taehyung berhenti di udara, beberapa senti di depan mulutnya yang terbuka dan wajahnya berkerut terganggu. “Tidak perlu sibuk,” dia memutar bola matanya dan menyuap buburnya. “Dia tidak jadi datang.”

Jungkook menoleh, nampak jengkel karena tidak bisa pamer. “Apa—?”

Taehyung mengendikkan bahunya, terlalu keras hingga gaun rumah sakitnya melorot dan dia bergegas menyekanya. “Dia mengirimiku pesan. Nampaknya kata-katamu kemarin tentang menghormati kehidupan baruku menancap di kepalanya karena dia sekarang begitu segan padamu.”

Yugyeom tertawa ringan, bersandar semakin dalam di sofa nampak kelelahan setelah servis semalam yang menurutnya ramai sekali hingga mengantri. “Siapa yang tidak saat dia bicara dengan Hyungsik seperti bagaimana dia bicara pada semua commis dan CDP-nya? Aku tahu dia sengaja begitu.”

Terkekeh puas, Jungkook mengendikkan bahunya dengan ringan tapi tetap dengan aura congkak yang membuat Taehyung menghela napas panjang. “Yah, begitulah. Setidaknya sekarang dia faham bahwa di sini, ada batasannya. Dan dia tahu siapa yang berkuasa.” Dia menatap kertas di tangannya. “Lalu menu-menu ini...?”

Taehyung menatapnya dan Jungkook balas menatapnya. Hening sejenak lalu Jungkook tersenyum lebar. “Well, I can make use of it later.” Katanya kemudian melipat kertasnya dan menjejalkannya ke tas yang selalu dibawanya berpergian.

Kemudian dia bangkit menghampiri Taehyung. “Apakah makananmu tidak enak?” Tanyanya sementara Yugyeom berselonjor di sofa, mulai mengantuk.

“Enak.” Taehyung mengangguk, mengunyah buburnya yang lembut perlahan. Mendongak menatap Jungkook yang mengamatinya. “Hanya saja setelah tahu ada yang salah dengan lambungku, rasanya tiap makanan bisa melukaiku.”

Jungkook membelai rambutnya, mengecup pelipisnya sayang. Dia beraroma menyejukkan—campuran antara keringatnya yang familiar, secercah deodoran maskulinnya juga aroma lembut sabun mandi yang hanya dimiliki Jungkook. Berada dalam pelukannya membuat Taehyung begitu tenang dan lega, lumer seperti cokelat yang dilelehkan.

“Setelah ini kita akan bicara tentang minuman kerasmu,” Jungkook menjentikkan jarinya di dagu Taehyung yang tersenyum. “Tubuhmu itu milikku, dan kau harus menjaga milikku baik-baik. Aku tidak suka milikku diganggu.”

Taehyung mengulum senyumannya mendengar kata-kata Jungkook. “Berisik,” katanya nyengir sebelum lalu mendesah panjang menatap makanannya yang menyedihkan walaupun enak. “Tapi sekarang aku ingin pulang.” Katanya. “Aku rindu Bubble.”

“Besok kita pulang,” Jungkook tersenyum padanya, mendudukkan diri di sisi ranjang dan mengambil alih baki makanan di tangan Taehyung. Dia kemudian meraih sendok dan mulai menyuapi makanan Taehyung. “Hanya jika kau menghabiskan makananmu hari ini.”

Taehyung tersenyum, membuka mulutnya dan membiarkan Jungkook menyuapinya. Dia nampak segar setelah mandi dengan kaus lengan pendek dan celana pendek yang membalut pahanya dengan pas. Beraroma seperti sabun mandi tipis yang menenangkan. Dia menyugar rambutnya dengan gerakan halus, menyingkap bekas lukanya di bagian bawah telinga kanan yang mulai membentuk carut gelap yang sebentar lagi akan terkelupas dan membentuk bekas luka merah muda sensitif.

“Bekas lukamu dalam juga,” Taehyung menjulurkan lengannya ke bagian bawah telinga Jungkook dan menyentuhnya lembut. Terasa keras namun Jungkook masih mendesis saat dia menekannya lembut. “Sakit?” Tanyanya.

Jungkook menggeleng. “Lebih ke rasa kebas yang aneh.” Dia mengendikkan bahunya, menyendok buburnya, membawa sendok ke bibir Taehyung yang langsung menyuapnya dan Jungkook tersenyum puas. “Nanti setelah kering dan sembuh, aku akan menato—ADUH!” Dia meringis saat tangan Taehyung menghantam kepalanya hingga membuat telinganya sejenak berdenging.

“Sayaaang?” Serunya tidak terima, terenyak di tempatnya dan Taehyung menatapnya jengkel. “Kenapa aku dipukul?”

Yugyeom terbangun oleh teriakan Jungkook dan mendesah keras. “Ini rumah sakit, demi Tuhan!” Katanya kesal. “Keep it down!”

“Kau menyebalkan.” Keluh Taehyung dan Yugyeom menggeleng tidak habis pikir sebelum berbalik kembali tidur. “Kenapa ditato? Kita bisa membelikannya Dermatix atau apa agar bekas lukanya hilang.”

Jungkook mengernyit. “Mending digambari.” Sahutnya kalem lalu merunduk sebelum Taehyung sempat memukul kepalanya lagi. “Tidak akan yang aneh-aneh, janji!”

Taehyung menatapnya dengan alis berkerut dalam. “Bukannya di sana riskan?Ada nadi, ada saraf. Kau sinting, ya?”

Jungkook menggaruk ringan bekas lukanya dan mengendikkan bahunya. “Gampang bisa diakali.” Dia kemudian menatap Taehyung dan tertawa melihat ekspresinya. “Baikalah, baiklah tidak akan kulakukan. Ayo beli Dermatix.” Dia menyendok buburnya lagi. “Aaa?”

Masih menatap tunangannya dengan jengkel, Taehyung kemudian membuka mulutnya dan menyuap buburnya. Seraya mengunyah dia menjulurkan tangan, membelai sisi wajah Jungkook dengan lembut dan Jungkook menyandarkan kepalanya di telapak tangan Taehyung.

“Aku ingin bercinta.” Keluh Taehyung tiba-tiba tanpa peringatan dan Jungkook tertawa serak. “Aku benci sakit.”

“Besok kita sudah di rumah dan aku akan memberikanmu satu-dua blowjob yang layak kaudapatkan karena sudah menjadi anak baik selama di rumah sakit, oke?” Jungkook membawa sesendok bubur lagi ke arah Taehyung.

Taehyung tersenyum cerah, membuka mulutnya dan menyuap makanannya. “Janji?”

“Janji.” Jungkook tertawa serak. “Kau mudah sekali dimanipulasi, ya?”

“Hanya denganmu.” Taehyung menjulurkan tangan dan tanpa aba-aba meremas tubuh Jungkook hingga pemuda itu mendesis kaget, refleks menjauhkan tangan Taehyung dari tubuhnya.

“Kau tahu itu sakit, 'kan, By.” Keluh Jungkook kembali menyendok bubur dan akhirnya mendesah, membiarkan Taehyung memainkan jemarinya di antara selangkangannya—hiburan yang sangat digemari Taehyung kapan pun dia bosan. “Kalau berdiri, itu bukan salahku, oke?”

“Fluffy,” kata Taehyung tersenyum lebar, jemarinya dengan lincah bergerak hingga Jungkook harus menahan napas agar tidak mendesah. “Seperti squishy. Kenapa dia begitu ya?”

“Terserah.” Jungkook memutar bola matanya geli dan menyendok bubur lagi. Selalu merasa ajaib dengan kebiasaan Taehyung memainkan selangkangannya dan memberi komentar-komentar takjub seolah miliknya sendiri tidak begitu.

Kepalanya mulai pening dan bagian dasar perutnya terasa kesemutan oleh gairah yang tidak bisa disalurkan. Alih-alih dia menyendok bubur lagi, terus mendesak tunangannya makan.

Tidak apa-apa jika setelah ini Jungkook harus bermain solo, yang penting bubur di mangkuk Taehyung habis.

*

Catatan:

Restoran Jungkook beroperasi hanya untuk dinner seperti restoran luar, bukan seperti restoran Indonesia kebanyakan yang buka sejak pagi. Jadi servis dimulai pukul 5 sore hingga 10 malam. Pagi hari restoran tutup dan digunakan anak kitchen untuk prep bahan makanan.

The Chef #228

“Selamat malam, Pak Taehyung?”

Taehyung mengerang tertahan dan Jungkook tertawa mendengarnya. Dia membelai kening tunangannya lembut dan mengecup keningnya dengan intim dan lama.

“Kau akan baik-baik saja.” Bisiknya membelai rambut Taehyung dengan jemarinya sementara perawat lelaki muda memasuki ruangan dengan senyumam ramah ceria dan mulai mengecek infus dan tubuhnya.

“Saya antar ke ruang operasi, ya?” Dia tersenyum ramah seraya memperlambat arus infus. “Apakah rambut kemaluannya sudah dicukur?”

Jungkook mengangguk. “Sudah.” Dia sendiri yang melakukannya tadi saat perawat memberitahu Taehyung untuk mulai puasa dan menyukur rambut halus di sekitar lokasi operasinya nanti dan kemaluannya.

Taehyung juga diminta untuk mengosongkan kandung kemihnya sebelum operasi.

Perawat itu mengangguk. “Boleh saya cek sebentar?” Tanyanya dan Taehyung mengangguk saat perawat itu menyingkap selimut dan gaun rumah sakitnya seraya bergumam permisi untuk mengecek kebersihan tubuhnya.

Dia kemudian tersenyum. “Oke bersih.” Katanya.

“Dokter akan mengecek keadaan lambung Anda dengan endoskopi untuk memutuskan perawatan apa yang tepat dilakukan. Tidak akan lama, sekitar 30-90 menit saja.” Perawat itu tersenyum menyemangati dan menenangkan.

“Administrasinya sudah ya, Pak?” Tanyanya kemudian pada Jungkook yang mengangguk.

“Sudah.”

Perawat itu balas mengangguk. “Baik nanti akan saya jemput saat giliran Pak Taehyung tiba, ya? Sekarang dimohon untuk tetap puasa dulu.”

Lalu Taehyung diberikan pakaian operasi yang longgar dan berwarna hijau jelek. Jungkook membantunya mendudukkan diri lalu menggantikan bajunya dengan lembut—nyaris mengejutkan bagaimana tangan Jungkook yang kasar dan kapalan bisa begitu halus saat menyentuh tubuh Taehyung yang saat ini berdenyar oleh rasa lelah dan sakit.

Jungkook menghadiahinya ciuman di lehernya, persis di atas denyut nadinya. “Kau akan baik-baik saja, tidak ada tulang tengkorak yang dibuka hari ini.” Dia nyengir.

Taehyung balas tersenyum.

Dan sekarang Taehyung berbaring di ranjang yang didorong perawat dengan Jungkook berdiri di sisinya, mengenggam tangannya sementara dia mengejar cepatnya perawat mendorong ranjang dengan langkah panjangnya.

Ranjang berhenti di depan pintu operasi, satu perawat membuka pintu ganda operasi dan Jungkook mengecup kening Taehyung.

“Kau akan menungguku di sini, kan?” Tanya Taehyung serak dan Jungkook terkekeh.

“Memangnya kapan kau pernah membuka matamu tanpaku di sisimu?” Balasnya, mengecup keningnya sekali lagi sebelum menegakkan tubuhnya.

“Aku akan jadi yang pertama dan terakhir dalam setiap sadar dan lelapmu.” Dia tersenyum dan membiarkan perawat mendorong ranjang Taehyung masuk.

“Laters, Baby?”

Taehyung tersenyum, tidak bisa menoleh dan mengangkat tangannya yang dipasangi infus.

“Laters, Baby.”

Dia didorong ke bawah lampu LED bulat raksasa yang membuatnya sejenak diserang rasa takut. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya sendiri sebelum dokter menoleh dalam balutan pakaian operasi lengkap dengan penutup kepala dan masker.

“Halo, Pak Taehyung.” Sapanya ramah seraya memasang sarung tangan lateks yang berisik berdecit-decit. “Sudah siap, ya? Tidak lama kok. Anda akan segera bertemu Chef lagi setelah ini.”

Taehyung tersenyum sementara asisten operasi mulai memasang kain di dadanya, membentang naik menutupi pandangannya dari tubuh bawahnya dan Taehyung merasa pakaiannya disingkap.

Lampu dinyalakan dan cahayanya sejenak membuat mata Taehyung terasa diiris cahaya menyilaukan. Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang bertalu-talu.

Dia menghela napas.

Dia akan bertemu Jungkook sebentar lagi.

Dan Taehyung mendesah saat dokter anastesi mulai membius tubuhnya dan membuat Taehyung merasa kebas.

*

“Kau bisa diam tidak?”

Jungkook mendelik pada Jimin yang sibuk mengunyah camilan di kursi tunggu depan ruang operasi.

“Tunanganku di operasi!”

“Lalu?”

Jungkook kembali mendelik. “Bagaimana bisa kau bersikap biasa saja?”

Jimin mengendikkan bahu. “Dia cuma operasi laparoskopi, Jung, bukan operasi sesar.” Jimin memutar bola matanya. “Dokter hanya memasukkan alat ke perutnya, lukanya tidak sampai 5mm untuk melihat isi perutnya. Sudah. Hanya itu.”

“Tetap saja!” Balas Jungkook mendelik dan Jimin mendengus, tidak ada gunannya melawan Jungkook.

Jimin menyandarkan tubuhnya di dinding, mengamati Jungkook yang mondar-mandir di depan pintu operasi dengan gelisah.

Teringat bagaimana Taehyung duduk di dinding sebelah pintu ruang operasi Jungkook, menolak untuk bangkit selama Jungkook menjalani pembedahan saraf. Dia bahkan menolak saat diajak duduk di kursi tunggu, dia benar-benar duduk di lantai selama operasi berlangsung.

Jika Jungkook tidak bisa diam, maka Taehyung sangat diam.

Dia duduk dengan tenang, memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam; seperti sedang beryoga menunggu tunangannya keluar dari ruangan operasi.

Begitu dokter membuka pintunya, dia langsung berdiri dan menyambut ranjang Jungkook yang didorong keluar. Nampak antara ingin menangis dan tertawa senang saat dokter memberitahunya kondisi Jungkook sangat stabil dan dia bisa tenang dengan itu.

Sekarang Jungkook seperti seekor kucing yang sedang mengibaskan ekornya terganggu—menandai teritorinya dengan kesal. Alisnya berkerut, wajahnya pucat dan tidak bisa diam.

Jika Jimin memberinya tali skipping, maka dia mungkin akan melakukan 1,000 kali lompatan.

“Kau membuatku anxious dengan bersikap anxious.” Keluh Jimin setengah mengerang karena kesal melihat Jungkook mondar-mandir di hadapannya. “Dia akan baik-baik saja, sini duduk.”

Jungkook mendelik, menolak menjawab apa pun dan Jimin mendengus.

Mereka sudah menunggu selama tiga puluh menit dan operasi belum juga nampak akan segera berakhir. Jungkook masih mondar-mandir, tidak bisa diam.

“Kenapa lama sekali?” Keluhnya pada Jimin yang sedang membaca Webtoon di ponselnya.

“Itu operasi, bukan McD Drive Thru. Tentu saja lama.” Balasnya sekenanya dan terkekeh dalam hati melihat ekspresi Jungkook yang seperti baru saja terkena penyempitan pembuluh darah.

“Kau mau jika ada benda yang tertinggal dalam perut tunanganmu?”

“Katamu mereka tidak membedah perutnya besar-besae?” Protes Jungkook dengan alis berkerut.

“Kau bodoh, ya?” Balas Jimin lalu mengaduh saat telapak tangan Jungkook menampar lengannya. “Sakit!” Gerutunya.

“Duduk saja! Baru tiga puluh menit,” Jimin mendesah. “Kau dengar sendiri tadi perawat bilang durasinya antara 30-90 menit.”

Jungkook tidak mau duduk.

Dia berjalan ke utara, berbalik ke selatan. Lalu menuju ke timur, berbalik ke barat.

Jimin benar-benar pusing melihat bagaimana hiperaktifnya chef muda itu di depan ruang operasi dan beberapa perawat serta dokter mengamatinya dengan bingung.

Memang hanya Taehyung yang bisa menjinakkan Jungkook, jadi Jimin memilih untuk diam—menyimpan energinya daripada harus mengomeli Jungkook lagi.

Lima belas menit kemudian, pintu ruang operasi dibuka dan Jungkook langsung berlari menghampiri pintu dan menyambut ranjang Taehyung yang didorong keluar.

Taehyung berbaring di ranjang, nampak pucat tapi baik dan sehat. Masih setengah teler oleh obat biusnya. Jungkook langsung memosisikan diri di sisi ranjangnya bersama Jimin yang mengejar mereka.

Tangannya menyeka liur yang terbit dari sudut bibir Taehyung. Jungkook menahan desakan sinting otaknya untuk tertawa terbahak-bahak karena begitu tegang oleh adrenalin.

Tunangannya baik-baik saja.

Dia akan segera sembuh dan Jungkook sendiri yang akan memastikan Taehyung untuk tidak kembali ke ranjang rumah sakit.

” ... Kook?”

Jungkook menunduk. “Ya, Sayang?”

Wajah Taehyung mengernyit. Matanya kabur dan tidak fokus berusaha keras melawan obat biusnya. “'Neh.” Aneh. Katanya dan liurnya menetes lagi.

Jungkook terkekeh. “Kau berisik sekali. Tidurlah. Jangan melawan obat biusnya.” Dia menyeka liur Taehyung dengan tangannya.

Teringat bagaimana kacaunya Jungkook sendiri saat tersadar dari bius total dan berdeguk-deguk mabuk.

“M'na?”

Jungkook mendenguskan tawa saat mereka memasuki lift. “Diam.” Katanya. “Kau banyak bicara.”

Alis Taehyung berkerut. “'Pa?” Dan Jungkook bisa membayangkan nada galak Taehyung saat mengatakan ini bahkan saat dia praktis tengah mengigau.

“Taehyung.” Jungkook tertawa serak, air mata aneh yang tidak bisa ditahannya meleleh dari sudut matanya tanpa bisa ditahan.

Dia tidak pernah melihat Taehyung terbaring tidak berdaya, teler oleh obat bius selama ini. Baginya, Taehyung selalu sehat dan kuat.

Galak. Tegas. Sekaku kawat.

Dan melihatnya terbaring seperti ini, bahkan tidak bisa mengatakan 'apa' dengan sempurna membuat hati Jungkook nyeri.

Dia menunduk, menempelkan kening mereka dan mengecup hidung Taehyung dengan lembut.

“Diam saja, oke? Diam.” Isaknya lembut, masih geli dan sedih di saat yang bersamaan. “Diam.”

Mata Taehyung bergetar, berusaha tetap terbuka tapi otaknya tidak kuasa menahan rasa kantuk yang menyihir. Dia tersenyum.

”'Engeng.” Katanya tersenyum, mengangkat tangannya yang buta mencari wajah Jungkook.

Tangan Jungkook menangkapnya, menempelkan telapak tangan Taehyung yang dingin ke pipinya lalu mengecup bagian dalam pergelangan tangannya; tepat di atas denyut nadinya yang berdetak teratur.

“Kita berdebat nanti setelah kau bisa bicara tanpa mengerang.” Jungkook tersenyum, menatap wajah kekasihnya yang indah.

”'Ke.” Taehyung tersenyum dengan mata terpejam.

Jungkook menghela napas dalam-dalam. Dia begitu mencintai Taehyung hingga dia rela mematahkan seluruh tulangnya sendiri agar Taehyung tidak merasakan sakit apa pun seumur hidupnya.

“Laters, Baby?” Bisiknya saat pintu lift berdenting terbuka. “Sekarang, tidurlah. Aku akan ada di sisimu saat kau bangun nanti.”

Taehyung mengangguk. “'Ters, By.” Balasnya sebelum mendesah panjang dan menyerah sepenuhnya pada obat bius yang menarik kesadarannya hingga lenyap.

Jungkook mendesah; kali ini Taehyung hanya tidur.

*

The Chef #220

” ... Sudah sinting, ya?”

Jungkook mengerutkan alisnya. Terombang-ambing dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Sayup-sayup dia mendengar suara dua orang bertengkar dengan suara mendesis yang tinggi; apakah itu Jimin? Dia bertengkar dengan siapa?

Jungkook mengeryitkan wajahnya, merasakan nyeri di sekujur tubuhnya yang tidak lenyap semudah dengan tidur. Jam berapa ini? Dia tidur berapa lama? Dia hanya ingat berbaring lalu gelap, dia benar-benar tidur dengan baik tapi nyeri di ototnya tidak sudi untuk lenyap sama sekali. Dia ingin mandi lalu kembali tidur; sesederhana itu.

“Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu?”

“Aku tidak tahu, oke? Maafkan aku. Dia berdiri di sana, kupikir teman kalian. Jadi kutawarkan ikut.”

“Yoongi.”

Jungkook mengerutkan alis. Oh, Yoongi datang. Jadi dia mendesak rasa kantuknya mundur dengan susah payah, melawan selaput kelelahan dan rasa kantuk yang begitu kuat menggelayut di kepalanya untuk membuka matanya yang buram dan panas.

Dia mengerang keras.

Dan seluruh ruangan diam.

Jungkook meregangkan tubuhnya, menjulurkan kakinya sejauh mungkin melewati sandaran tangan sofa dan mendesah saat punggungnya terasa rileks oleh gerakan itu. Dia mendesah saat akhirnya membiarkan tubuhnya melenting kembali dan menoleh ke Yoongi dan Jimin yang berdiri beberapa meter darinya.

“Halo, Pak.” Sapanya serak dan membawa dirinya duduk di sofa yang berderit menerima bobotnya. “Maaf, saya tidur. Sudah lama?”

Yoongi melirik Jimin yang nampak gusar dan tersenyum. “Tidak apa-apa, Chef. Anda pasti lelah sekali.” Dia lalu berdeham. “Itu,” dia mengerling Jimin lagi yang mendelik padanya. “Saya datang untuk menjenguk Pak Taehyung.”

Jungkook tertawa serak, menggaruk kepalanya. Tubuhnya menjerit, memintanya kembali berbaring dan memejamkan mata tapi Jungkook tidak mau. Dia harus menemani tamu, dia sudah tidur terlalu lama. “Terima kasih.” Katanya. “Apakah sudah ada yang mengurus administrasi operasi? Berapa lama aku tidur?”

Jimin menatapnya. “Aku,” sahutnya tenang. “Aku sudah mengurusnya tadi, kau tidur seperti orang mati. Ini sudah lewat jam makan siang. Jam tiga sore.”

Jungkook tertawa lagi. “Ya Tuhan, maaf. Aku lelah sekali.”

Lalu dia akhirnya menoleh ke ranjang Taehyung dan menahan napas dengan suara desis yang keras, seperti seekor ular yang terancam. Dia bertemu mata dengan satu-satunya manusia yang tidak ingin dilihatnya.

Park Hyungsik.

Sedang duduk di kursi sisi ranjang Taehyung yang menatap Jungkook dengan wajah berkerut-kerut penuh penyesalan. Dia nampak lebih baik, Taehyung. Wajahnya mulai kembali merona dan jauh lebih segar dari kemarin Jungkook membaringkannya di ranjang rumah sakit.

“Halo, Chef.” Sapa Hyungsik dengan suaranya yang jelas dan jernih. “Saya datang bersama Pak Yoongi. Saya mampir ke rumah, tapi tidak ada siapa pun dan kebetulan Pak Yoongi lewat dan bertanya. Menjelaskan bahwa Taehyung di rumah sakit, jadi saya menumpang kemari.”

Dia kemudian menambahkan dengan sorot mata kasihan dan ekspresi steril. “Anda tidak keberatan, kan?” Seperti menantang Jungkook untuk keberatan dengan begitu tengil hingga Jungkook ingin sekali menonjoknya.

Kepala Jungkook semakin pening dan dia menahan diri agar tidak berdiri, menghambur ke arah Hyungsik dan menonjok wajah menyebalkan Hyungsik tapi alih-alih dia berdiri, mengibaskan pakaiannya dan tersenyum.

“Tidak sama sekali.” Katanya serak. “Terima kasih sudah mampir.” Dia beranjak ke sisi Taehyung, kantuknya lenyap sama sekali dan berdiri di sisi Taehyung, meraih tangannya yang ditancapi infus, membelai sekitar kateter dengan lembut dan Taehyung mendesah.

Saat Jungkook dirawat, Taehyung selalu melakukan ini. Membelai lembut kulit sekitar dimana kateternya ditancapkan dan itu terasa luar biasa untuk Jungkook karena lem perekatnya terasa gatal dan kulitnya kencang karena terjepit kateter. Belaian lembut cukup untuk membuat kulitnya terasa nyaman.

“Maaf saya tinggal tidur,” dia tersenyum ramah pada Hyungsik yang menatapnya terpana. “Anda sudah lama?”

Jungkook tertawa dalam hati—apa yang diharapkan Hyungsik? Bahwa Jungkook akan mengamuk dan menonjoknya seperti anak SMA? Bukannya Jungkook tidak suka prospek itu, tapi menurutnya menghadapi kecongkakan dengan ketenangan malah akan semakin melukai harga diri lawannya.

Masalah congkak, Jungkook ahlinya. Kenapa dia bisa sangat tergila-gila pada Taehyung? Karena dia selalu menyikapi kecongkakan Jungkook dengan tenang, itu membuatnya semakin terpancing untuk bersikap semakin bajingan dan Taehyung masih tetap bergeming.

Maka itulah yang akan dilakukannya ke Hyungsik.

Jika dia ingin bermain seperti itu, maka Jungkook akan meladeninya.

“Tidak,” Hyungsik memberikan senyuman sejuta watt-nya yang membuat Jungkook nyaris mengerutkan wajahnya terganggu, tapi dia berhasil membentuk senyuman ramah membalasnya. “Saya baru tiba dan Anda pasti lelah.”

“Memang,” Jungkook tertawa serak. “Restoran saya sedang ramai-ramainya, jadi memang istirahat adalah kemewahan. Tapi ini tunangan saya yang sakit, jadi saya merasa istirahat bisa mengalah dulu.”

Taehyung menalan ludah, merasakan dengan jelas bagaimana keduanya memancarkan aura permusuhan yang pekat dan menatap Jimin, memohon pertolongan. Jimin membalas tatapannya sama tidak berdayanya; terlalu takut untuk memisahkan dua ular kobra yang sedang saling menatap penuh kebencian.

“Ah, sebelumnya. Perkenalkan.” Jungkook mengulurkan tangannya. “Saya Jeon Jungkook. Kita belum pernah bertemu secara langsung.”

Hyungsik menatap tangan Jungkook yang terulur dan melirik sleeve tattoo-nya yang menjalar hingga ke balik lengan bajunya. “Saya Park Hyungsik.” Dia menyalami tangan Jungkook yang terasa kasar dan kapalan.

“Anda chef,” Hyungsik berkomentar sopan setelah jabatan tangan mereka berakhir. “Tapi saya tidak pernah melihat Anda di televisi sebelumnya? Anda kenal Chef Arnold? Chef Juna?”

Jungkook tahu arah pertanyaan ini.

Dia sedang membandingkan Jungkook dengan para celebrity chef yang selalu dilihatnya di televisi. Geli karena bagaimana bisa dia menstandarisasi kemampuan chef dengan kemunculan mereka di televisi padahal Jungkook punya restoran berbintang yang selalu ramai? Jungkook sedang memikirkan bagaimana caranya mengatakan semua prestasinya tanpa terdengar pamer saat Jimin menyela.

“Mereka bersahabat,” Jimin memutar bola matanya, gemas dan Yoongi di sisinya meringis. “Kau tahu Chef Vindex? Itu guru Jungkook, mereka seperti kembar siam. Ayah dan anak. Dan Jungkook baru saja menolak proposal dari RCTI untuk menjadi chef juri di MasterChef season ini karena dia memilih fokus untuk memasak.

“Kau harusnya datang ketika soft opening Le Paradis, kau bisa panen tanda tangan chef-chef idolamu di televisi. Jungkook juga pernah berangkat ke Amerika sebagai salah satu finalis Chef of the Year untuk cuisine, fokus di masakan Indonesia dan gastronomi molekuler. Hanya butuh waktu hingga Michelin mendengar namanya dan memberikannya bintang yang layak untuknya.

“Sungguh, Hyungsik. Kau tahu sedikit sekali tentang dunia kulinari, kau 'kan pengusaha properti.”

Jungkook berjanji akan membuatkan Jimin shortcake terbesar yang pernah dimakannya hingga dia begah dan trauma makan shortcake setelahnya.

Dia tertawa serak rendah diri. “Kau tidak perlu begitu.” Jungkook berkata lembut pada Jimin.

Dan yang mengejutkan, Taehyung menepuk tangan Jungkook lembut dan menambahkan. “Dia lelaki paling luar biasa,” bisiknya menatap Jungkook yang balas menatapnya, terpesona. “Dia begitu passionate tentang pekerjaannya, fokus dan hebat. Usianya baru dua puluh lima tahun saat dia menjadi head chef RCPP. In short, dia keren.”

“Apa-apaan ini,” Jungkook tertawa serak. “Kenapa semua menyerangku begini?” Dia lalu menatap Hyungsik penuh permohonan maaf. “Maafkan mereka.”

“Tidak, tidak.” Hyungsik berdeham dan tersenyum rikuh, jelas malu karena tidak tahu apa-apa tentang dunia kulinari. “Anda lumayan juga, ya?” Pujinya dengan secercah rasa pahit yang walaupun lidah Jungkook sedang tidak bisa digunakan, terasa begitu pekat di ujung lidahnya.

Finalis Chef of the Year hanyalah sesuatu yang lumayan bagi Hyungsik. Tentu saja. Dia mana faham prestige acara penghargaan itu. Jungkook bersaing dengan belasan chef terbaik dunia, beberapa bahkan chef bintang 3 Michelin.

'Impressive' adalah pujian yang tepat jika dia tahu betapa ketat seleksinya. Betapa megah acara itu dan bagaimana kebanggaan para chef yang mengenakan jaket dengan bordiran di dada kanannya 'Chef of the Year' atau 'Pastry Chef of the Year' di bawah bendera mungil negara mereka.

Tapi menjelaskan itu tidak akan membawa Jungkook ke mana-mana, jadi dia diam.

“Yah, begitulah.” Sahut Jungkook merendah dan Hyungsik menatapnya semakin tidak suka karena sikap rendah hati dan tenangnya. “Saya memang lebih suka fokus pada kulinari dan mengsah kemampuan memasak saya. Para chef memiliki pilihannya sendiri-sendiri atas karirnya.

“Ada yang memang ingin fokus memasak seperti saya dan Chef Wongso. Ada yang memulai bisnis dan menjadi selebriti seperti Arnold dan Juna. Ada juga yang beralih menjadi pekerja kantoran di bagian manajerial seperti guru saya, Chef Vindex. And it doesn't make us any less-chef than we are.”

Lalu dia tersenyum. “Anda sendiri? Bisnis properti yang saya dengar?”

Hyungsik menatapnya sejenak, nampak menilai sebelum mengangguk ramah. “Ya, saya kebetulan sekarang sedang mengembangkan perumahan baru di Bali sini. Sering bertemu dengan Pak Yoongi juga.”

“Bisnis sedang lancar, ya?” Tanya Jungkook tenang.

“Syukurnya.” Hyungsik menjawab sama tenangnya.

Tapi satu ruangan itu tau, mereka hanyalah dua ular kobra yang siap menyambar leher satu sama lain kapan saja. Mereka nampak tegang, defensif dan bersembunyi dengan baik di balik topeng tenang dan ramah.

“Ini salahmu,” Jimin mendesis pada Yoongi di sisinya yang mendesah panjang.

“Iya, iya. Maafkan aku.” Dia menatap Jimin yang sedang memijat pelipisnya. Taehyung di ranjangnya dengan wajah seperti penderita wasir sementara kedua lelaki di antaranya sedang mengobrol ringan namun siap menonjok satu sama lain kapan saja.

“Ah, ya.” Jungkook kemudian bicara saat Hyungsik pamit pulang karena jam berkunjung sudah habis. “Saya boleh minta tolong satu hal?” Dia tersenyum lebar dan Taehyung seketika meremas tangan Jungkook.

Hyungsik menatapnya. “Tentu saja.” Dia tersenyum.

“Tolong berhenti memanggil tunangan saya Taehyungie.” Tandasnya, masih tersenyum namun nada bicaranya penuh otoritas dan dominasi—seperti bagaimana dia meminta salah satu commis-nya untuk berhenti. Kekuatan suara alfa dapurnya membuat seluruh ruangan hening.

Jungkook memang selalu punya bakat itu—memegang kendali satu ruangan hanya dengan suaranya yang begitu otoriter dan mendominasi. Serak, berat dan menuntut. Namun dalam nada yang tetap tenang. Dia seorang yang terlahir sebagai seorang pemimpin dan menjadi chef membuat auranya semakin mengerikan.

Hyungsik menatapnya, jelas menyadari juga nada itu. “Tentu saja.” Sahutnya kemudian, tersenyum dengan sedikit terlambat. “Jika Anda bilang begitu.” Dia berdiri, merapikan pakaiannya dan tersenyum.

“Saya tidak berniat bersikap bajingan tapi setahu saya Anda sendiri yang memilih meninggalkan Taehyung, jadi menurut saya lebih baik Anda tetap begitu saja.” Jungkook masih tersenyum. “Apalagi sekarang posisi Taehyung sudah bertunangan. Tentu jika Anda di posisi saya, Anda tidak suka jika mantan kekasih tunangan Anda memanggilnya dengan nama khusus, benar?”

Hyungsik menatapnya, sungguh terpana dengan bagaimana tenang dan tanpa tedeng aling-alingnya Jungkook membicarakan hal yang tidak disukainya dari hubungan Hyungsik dan Taehyung.

“Mari menghormati satu sama lain.” Jungkook menambahkan, masih dengan suara chef-nya yang serak dan mendominasi. Jenis suara yang langsung membuat Taehyung takut dan tidak ingin mengecewakannya padahal Taehyung bukan salah satu timnya di dapur.

Hening sejenak sebelum Hyungsik tersenyum.

“Tentu, Chef.” Katanya tenang. “Saya pamit undur diri dulu.”

Jungkook mengangguk, tersenyum tenang. “Terima kasih atas perhatian Anda pada tunangan saya, Pak.”

Hyungsik mengangguk. Keduanya nampak setegang kawat. “Kembali kasih, Chef.” Lalu dia menoleh pada Taehyung. “Cepat sembuh, Taehyung.”

Taehyung tersenyum. “Terima kasih, Kak.”

Dan setelah Hyungsik serta Yoongi meninggalkan ruangan, Jungkook mengerang keras. Mengacak rambutnya kesal dan bergerak-gerak di tempatnya. Taehyung tertawa serak.

“Sudah kuduga, kau mengerahkan seluruh tenagamu untuk bersikap setenang pertapa begitu.” Katanya geli sementara Jungkook sedang melakukan gerakan pemanasan ringan seraya mendesah keras-keras seperti kesetanan.

“Tapi kau membuatnya diam, Jung!” Jimin mengacungkan jempolnya dengan wajah berkerut terganggu. “Manusia seamacam itu memang sesekali harus ditampar. Aku jengkel sekali melihat gaya petantang-petentengnya.” Dia mendesah keras dan dramatis.

“Maafkan pacar baruku, ya? Dia terlalu lucu untuk dimarahi.” Jimin menatap Taehyung penuh permohonan dan Taehyung terkekeh serak.

Jungkook sedang melakukan jumping jack seperti orang sinting. “Aku bisa gila jika harus tenang seperti itu lima menit lebih lama, sungguh!” Dia kemudian menarik napas dalam-dalam lalu menghampiri Taehyung lagi.

“Boleh cium?” Tanyanya mendesak. “Aku sudah jadi anak baik ke mantanmu.”

“Tolonglah?” Jimin protes tapi kemudian mengerang dan memalingkan wajah karena tahu dia tidak akan punya kuasa atas hormon pasangan di depannya. “Terserah, deh. Yang cepat!” Gerutunya.

Taehyung tertawa serak dan menjulurkan tangannya. “Boleh,” sahutnya dan Jungkook merunduk, mengusap bibir Taehyung yang terkuak dan kering dengan bibirnya sebelum menciumnya.

Rasanya seperti asam lambung yang tengik tapi Jungkook tidak keberatan. Ini Taehyung-nya, apa pun dia, bagaimana pun dia—bagi Jungkook, dia tetap yang terbaik. Dia mengecup bibir Taehyung sekali lagi dan tersenyum.

“Sekarang masukkan kembali cakarmu, Singa, teritorimu aman.” Taehyung tertawa dan Jungkook mendesah panjang.

*

The Chef #215

“Syukurlah!”

Jungkook bergegas bangkit dan menghampiri Jimin dan Yugyeom yang baru saja memasuki ruangan dengan tas bepergiannya yang penuh. Di tangan Yugyeom juga ada paper bag Dunkin Donuts yang beraroma tajam teh dan kopi—Jungkook bukan tipe yang meminum kopi, semua minuman itu milik Taehyung. Dia lebih suka teh yang manis dan kental serta donat manis daripada kopi untuk menghalau stresnya.

Dia masih mengenakan kaus tanpa lengan abu-abu yang dinodai bercak muntahan Taehyung. Saat tunangannya terbaring di ranjang Sanglah untuk obersevasi semalaman, Jungkook bergegas ke kamar mandi, berusaha mengenyahkan sisa asam lambung dan makanan separo tercerna dari pakaiannya dan mendesah saat tidak bisa melenyapkan aromanya.

Jadi dia pasrah.

Pagi harinya sekitar subuh, akhirnya Jungkook mendapat kepastian bahwa dia dipersilakan untuk mencari kamar untuk menunggu operasi Taehyung karena sepertinya tukak lambungnya sudah parah. Maka Jungkook meminta ambulan untuk membawa kekasihnya ke rumah sakit swasta terdekat.

Pukul delapan pagi, dia baru mendapatkan kamar untuk Taehyung yang masih terbaring dengan infus di tangannya dan wajah sepucat seprai. Dipindahkan ke ruangannya dan digantikan pakaiannya dengan pakaian rumah sakit yang longgar dan menonjolkan betapa pesat berat badan Taehyung menyusut belakangan ini dan itu membuat Jungkook sedih. Setengah sembilan, dokter Taehyung datang menengoknya tapi karena Taehyung belum bangun, dokter hanya bertanya-tanya tentang kebiasaan Taehyung yang membuat Jungkook mulas.

“Apakah Pak Taehyung perokok aktif?”

“Tidak, Dok. Hanya sekali-dua kali saat stres.”

“Minum kopi dan makanan pedas?”

“Kopi.”

“Minuman beralkohol?”

Jungkook nyaris menepuk keningnya sendiri mendengar pertanyaan ini dan menatap dokter di hadapannya dengan tatapan pasrah yang menggelikan sebelum mendesah panjang. “Ya.” Sahutnya.

Dokter di hadapannya mengangguk-angguk seraya dengan lembut menyelipkan stetoskop ke dada Taehyung. “Jenisnya?” Tanya dokter itu lagi sementara perawat di sisinya sibuk menyatat kata-kata Jungkook. “Wine, sampanye, bir?”

Jungkook menahan napasnya; tahu jawabannya ini adalah jawaban yang buruk. “Vodka.”

Dokternya menatap Jungkook dengan tatapan skeptis. “Seberapa sering?”

Jungkook ingin menangis; harusnya dia menghentikan kebiasaan ini sebelum terlambat tapi entah kenapa dia selalu membiarkan tunangannya melakukan hal yang membuatnya senang.

“Satu shot setiap malam, kadang lebih jika sedang stres.”

Dokter Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghela napas panjang. “Dan apakah belakangan ini Pak Taehyung terpapar stres berkepanjangan?”

Jungkook mengangguk. “Dia...” Jungkook menelan ludah. “Mengurus saya yang sakit, juga mengurus pembangunan restoran saya serta mengerjakan audit tahunan di tempat kerja sebelumnya. Sekarang menjabat sebagai restaurant manager di tempat saya.”

“Wiraswasta?” Tanya dokternya dengan sopan dan Jungkook mengangguk. “Saya chef,” tambahnya dan dokternya mengangguk-angguk.

“Saya jadwalkan operasinya malam ini pukul delapan, semakin cepat semakin baik. Saya harus melihat seberapa parah kondisi lambung Pak Taehyung sebelum memberikan tindakan. Apakah ada muntah darah sebelum ini?”

Jungkook bergegas menggeleng dengan ngeri. “Tidak, Dok.” Katanya dan dokter nampak lega. “Baru sejak kemarin pagi, dia mengeluh ulu hatinya panas dan kepalanya pusing. Porsi makannya normal, saya berikan obat maag biasa untuk sementara.”

Dokter mengangguk. “Baiklah jika memang belum sampai muntah darah berarti kita masih di level yang aman.” Dia mengangguk ke perawat. “Makan terakhir pukul berapa?”

“Pukul sepuluh malam kemarin,” Jungkook menjawab.

“Baiklah, mungkin sarapan dulu lalu setelahnya puasa. Saya akan meresepkan obat dulu untuk menenangkan sakitnya sebelum operasi.” Dokter kemudian pamit dan Jungkook mengantarnya keluar sebelum kembali mendudukkan diri di sisi ranjang Taehyung.

Tunangannya bernapas dengan lembut dan teratur, tangannya terasa sedikit dingin maka Jungkook mengenggamnya erat dan mengecupnya.

Dia mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek serta sandal jepit tipis. Hanya sempat menyambar jaket untuk Taehyung sebelum membopongnya ke mobil. Mengunci rumah dan Bubble yang melolong panjang dan sedih karena keadaan Taehyung lalu memacu mobilnya gila-gilaan menembus jalanan Ubud ke Denpasar dengan kondisi Taehyung terkulai di kursi depan, pingsan dengan sisa muntahan di sudut bibirnya.

Jungkook nyaris mati karena serangan jantung saat Taehyung muntah di pakaiannya. Syukurlah yang dimuntahkannya hanyalah asam lambung dan sisa makan malamnya, bukan darah.

Sekarang dia begitu lega karena bisa mengganti pakaiannya dengan kaus lengan pendek dan celana pendek yang lebih hangat. Dia memasukkan pakaian kotornya ke kantung plastik dan meletakkannya di sudut ruangan untuk dibawanya pulang nanti saat mendapat giliran pulang. Dia meletakkan dompetnya, dompet Taehyung yang disambarnya pada detik terakhir untuk identitas dan kartu asuransi Taehyung bersama kunci rumah dan kunci mobil di meja di sisi kepala Taehyung.

Jimin duduk di kursi Jungkook tadi, memijat tangan Taehyung dengan lembut. Di ruang tamu kecil kamar Taehyung, Yugyeom sudah mengeluarkan paper cup terisi teh kental dan setengah lusin donat yang membuat Jungkook lapar. Namun sebelum dia menghampiri hadiahnya, seorang perawat datang membawa sarapan Taehyung.

Jungkook bergegas menghampirinya, menerima nampan itu dan berterima kasih pada perawatnya.

“Mungkin dibangunkan saja, Pak, supaya makan dulu.” Pesan perawatnya saat melihat Taehyung yang masih tidur. “Biar lambungnya terisi.”

Jungkook mengangguk. “Baik, Nurse*.” Sahutnya dan perawat itu pamit undur diri mendorong troli makanannya ke kamar sebelah.

Jimin meremas tangan Taehyung. “Taeby?” Panggilnya lembut. “Taeby?”

Jungkook meletakkan nampan di meja dan mengusap rambut kekasihnya dan merasakan suhu tubuhnya yang agak hangat. “Sayang? Hei, ayo bangun. Kita makan dulu.” Dia mengecup kening dan kedua kelopak mata Taehyung dengan lembut.

Menepuk-nepuk pipinya dengan lembut hingga kelopak mata Taehyung yang seindah sayap kupu-kupu bergetar, bulu matanya bergerak lalu matanya perlahan terbuka dan hal pertama yang dikatakannya:

“Jungkook?”

Jungkook mendesah keras. “Sayang?” Katanya mendudukkan diri di sisi ranjang yang berderit menerima berat tubuhnya dan menyentuh sisi wajah Taehyung dengan lembut. “Apa yang kaurasakan?”

Taehyung mengedip. Menatap ke sekitar ruangan dengan bingung. “Aku di mana?” tanyanya serak.

“Kau semalam muntah lalu pingsan. Jadi aku melarikanmu ke UGD dan tadi dokter datang saat kau masih tidur, jadwal operasimu malam ini. Mereka akan mengecek lambungmu karena mereka curiga ada luka.”

Taehyung mendesah, menyentuh keningnya sendiri lalu terbatuk serak. “Maaf aku merepotkanmu.”

“Tidak dimaafkan karena tidak ada yang harus dimaafkan.” Sahut Jungkook lugas dan Taehyung tersenyum. “Sekarang mau makan? Setelahnya kau harus puasa untuk operasi, jadi makanmu harus tepat waktu, oke?”

Taehyung mengangguk lalu baru menyadari kehadiran Jimin dan Yugyeom di kamar. “Oh, halo.” Sapanya lemah. “Siapa yang membuka restoran?”

“Semalam Bli Made yang menutupnya jadi sekalian saja kuminta dia yang buka hari ini.” Jungkook menjawab.

“Aku akan ke restoran sekarang, oke? Aku harus mengeceknya.” Yugyeom melirik jam tangannya dan tersenyum pada Taehyung. “Maaf aku harus pergi. Cepat sembuh, oke?”

Taehyung mengangguk sementara Jimin memutar tuas tempat tidurnya agar posisi Taehyung menjadi duduk, cukup untuk makan dengan nyaman. “Trims, Yugyeom.” Dia melambai pada Yugyeom yang bergegas keluar.

“Kau makan dulu saja, Jung,” kata Jimin menatap Jungkook yang sedang membuka wrapping plastic makanan Taehyung. “Aku yang menyuapi Taehyung. Aku sudah membeli sarapan tadi sebelum kemari.”

Jungkook menatap makanannya lalu Taehyung yang mengangguk. “Makan juga, untukku.” Katanya menepuk tangan Jungkook dengan lembut. “Dan berbaringlah sebentar, kau pasti belum tidur lagi sejak semalam, kan? Kantung matamu mengerikan.”

Jungkook mengalah, dia beranjak ke sofa dan mendudukkan diri di sana. Saat tubuhnya merasakan betapa lembut dan empuknya sofa itu, barulah segala kelelahan yang ditahannya sejak semalam meleleh ke tulang dan sendinya. Membuat seluruh tubuhnya nyeri dan dia meringis keras.

Dia menyelesaikan servis selama 6 jam non-stop lalu belum sempat beristirahat karena harus melarikan Taehyung ke UGD dan sekarang seluruh tubuhnya menjerit meminta Jungkook berbaring di atas sesuatu yang empuk dan nyaman. Matanya berat dan pedas oleh rasa kantuk.

Maka dia berdeham. “Aku tidur sebentar, ya?” Katanya serak, meneguk tehnya yang hangat-hangat kuku dengan ringkas dan mendesah saat hangatnya minuman itu menyentuh lambungnya yang kosong. Menjejalkan sepotong donat ke mulutnya, mengunyah tanpa benar-benar merasakannya.

“Ya, istirahatlah.” Taehyung menatapnya, nampak lebih baik setelah makan. Rona wajahnya kembali; sepucat mawar merah muda namun jauh lebih baik daripada tanpa warna sama sekali. “Kau pasti lelah sekali.”

Jungkook mengangguk, sudah tidak memiliki tenaga sama sekali untuk menjawab tapi masih berusaha membuat dirinya bicara: “Bangunkan aku jika ada administrasi yang harus kuurus untuk operasinya, ya?”

Lalu tanpa menunggu jawaban siapa-siapa, dia meletakkan kepalanya di bantalan sofa. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah Taehyung, tersenyum begitu lembut padanya hingga Jungkook sesak oleh rasa sayang.

Dan chef muda itu terlelap detik kepalanya menyentuh benda empuk.

*

*I dont know in other hospitals, tapi di Jogja khususnya rumah sakit swasta Katolik, perawat-perawat dipanggil Nurse, bukan Suster. Karena Suster itu panggilan untuk biarawati, biar gak ketuker hehe.