The Chef #243

Membantah kata-kata Jungkook, Taehyung akhirnya tiba di dapur Le Paradis yang sudah mulai sibuk dengan anak-anak buah Jungkook yang sedang mempersiapkan bahan baku makanan.

Mereka semua bergerak dengan cepat, ringkas dan cekatan. Tidak ada yang terlalu banyak bicara, tapi tidak juga dalam suasana tegang yang mencekam. Mereka masih bergunjing, masih bersenda-gurau namun dalam taraf normal yang ditoleransi Jungkook.

Sementara sang chef muda sendiri sedang berdiri di tengah hot kitchen dengan seragam dan apronnya yang mulai ternoda bumbu-bumbu yang sejak tadi dikerjakannya. Dia menunduk ke atas frying pan, nampak sangat fokus pada daging bebek yang dikerjakannya dengan alis berkerut, tulang rahang yang tajam dan kening yang begitu menakjubkan karena seluruh rambutnya diikat naik.

Suara tak-tak-tak cepat pisau beradu dengan chopping board mengikuti bagaiman lincahnya tangan para commis mengerjakan pekerjaan mereka, suara mendesis dari frying pan Jungkook, suara tulang hewan yang dipukul putus dari butcher; entah mengapa semenjak menjadi tunangan chef, suara ini terasa begitu akrab dan familiar dengan kehidupan Taehyung sendiri.

Dia selalu mendengar suara ini setiap hari Sabtu atau Minggu yang cerah, saat dia terbangun dan Jungkook sedang berdiri di balik kompor dengan apron dan lap kesayangannya tersangkut di celana training buluknya. Sedang memasak sesuatu yang lezat untuk Taehyung, nampak cerah dan segar setelah berolahraga dengan ujung-ujung rambut yang agak basah setelah mandi. Aroma masakan sudah mengungkung seluruh ruang di apartemen mereka, ke setiap celah dan sudutnya.

Taehyung menghela napas untuk menenangkan seluruh sarafnya karena tubuhnya tahu, ini adalah aroma rumah.

Bubble mengibaskan ekor ceria di kakinya, mendangak dan terengah-engah serta menyalak ceria. Taehyung akan berdiri di kusen pintu, menatap adegan itu dengan hati yang terasa begitu hangat. Jungkook yang terkekeh saat Bubble menjilat kakinya meminta camilan, menyalak dan berusaha menyakar-nyakar kakinya dalam usahanya menarik perhatian Jungkook.

Dan chef muda itu akan menyerah, menarik laci kabinet dan menarik camilan Bubble dan memberikannya pada anjing kecil mereka yang akan menggonggong panjang berterima kasih. Dan Jungkook akan menyadari kehadiran Taehyung, menoleh dan tersenyum cerah padanya.

“Pagi, Sayang?” itulah yang akan dikatakannya pertama kali dengan suara seraknya.

Tidak masuk akal bagaimana berada dalam satu ruangan dengan Jungkook masih bisa membuat Taehyung begitu merindukannya hingga seluruh tubuhnya nyeri.

Sekarang Jungkook sedang mengerjakan sesuatu dalam dunianya sendiri, seperti memiliki gelembung kedap suara di sekitarnya.

Dia menakar bumbu, menyicipinya dengan kelingking mengandalkan dua rasa yang dimilikinya untuk menyiptakan kreasi barunya. Dia sibuk dengan frying pan di hadapannya dengan api yang dibuka besar, menaburkan bumbu, menggerakkan lengannya dalam bentuk oval mengayunkan frying pan hingga makanan di atasnya teraduk membentuk ombak mini yang cantik.

Setiap commis atau CDP-nya melewati wilayah Jungkook, mereka sebisa mungkin memberi ruang yang dibutuhkan lengan Jungkook untuk bekerja. Dia begitu cekatan dan sigap dengan dua frying pan yang masing-masing terisi di atas kompor di hadapannya, ada chopping board di sisinya dengan pisau yang tergeletak dan bumbu-bumbu di sekitarnya.

Dia selalu meraih lapnya untuk mengusap konternya tiap kali dia berhenti. Mendongak untuk mengecek anak-anaknya sekilas sebelum kembali menunduk dengan alis berkerut, bibir membentuk garis tipis yang menggoda dan mata yang tertuju sepenuhnya pada kreativitasnya yang mendesis menguarkan aroma rempah kuat Bali di atas wajan.

Taehyung masih menunggu di depan pintu masuk kitchen, beberapa anak yang melewatinya untuk ke cold storage mengangguk segan padanya karena mengenali Taehyung sebagai tunangan dan manajer restoran. Taehyung menyandarkan tubuh ke kusen pintu, melipat kedua lengannya di dada dan mengamati tunangannya bekerja.

Dia bergerak dengan lincah, namun tidak mengambil ruang lebih dari yang dibutuhkannya. Dia menjaga sikunya turun namun tetap bergerak dengan keluwesan yang mengejutkan. Pinggang rampingnya berputar saat dia meraih sesuatu di belakangnya lalu kembali fokus ke makanannya.

Saat dia mendongak dan mengedarkan pandangannya sekali lagi ke seluruh ruangan untuk mengecek anak buahnya, dia akhirnya menyadari Taehyung.

Jungkook mendesah, tersenyum lebar dan menelengkan wajahnya yang berkilau oleh humor. “Sejak kapan aku dimata-matai?” Tanyanya dari tempatnya dengan suara yang cukup keras untuk menjangkau Taehyung tapi tanpa berteriak.

“Sudah cukup lama,” sahut Taehyung tersenyum, mendorong tubuhnya berdiri lalu menghampiri Jungkook. Dia memamerkan kakinya yang terbalut salah satu safety shoes cadangan Jungkook tepat saat sang chef membuka mulut untuk memperingatkannya. “Aku sudah persiapan.”

Jungkook memandang sepatunya yang pasti kebesaran di kaki Taehyung lalu mengulurkan tangan, mengusap kepalanya dengan hangat; aroma rempah dan masakan langsung menguar dari telapak tangannya saat dia mengulurkannya ke Taehyung. Hinggap ke indera penciuman Taehyung, mengirimkan impuls ke otaknya yang seketika langsung merilekskan diri; ini Jungkook.

Dia rumah. Dia aman.

“Hai, Sayang.” Katanya lembut, menatap langsung ke mata Taehyung. “Kau lapar?”

Taehyung mengangguk menatap makanan di wajan yang masih mendesis. “Kau sedang membuat apa?” Tanyanya, menghela napas menghirup aroma masakan di wajan dan seketika merasa lapar. “Aromanya lezat.” Pujinya tulus.

“Sungguh?” Jungkook terkekeh. “Ini untukmu.” Dia menggoyangkan frying pan-nya lalu mengendikkan dagunya ke ruangannya di sudut. “Bisakah kau menunggu saja di dalam ruanganku?” Tanyanya lalu mendadak menyambar bahu Taehyung, yang terkesirap keras karena kaget, menyingkirkannya dari jalan sedetik sebelum seorang commis menabraknya dengan panci tinggi terisi air.

“Maaf, Chef!” Seru commis-nya. “Coming, coming! Hot!” Dia melangkah melewati orang-orang dengan luwes dengan sepanci makanan panas di tangannya yang terbalut sarung tangan tebal.

“Di sini terlalu berbahaya. Kau harus terus bergerak mengikuti gerakan semua orang, kekikukanmu akan membuatmu celaka.” Jungkook kembali menyelamatkan ujung baju Taehyung dari api yang menyambar dan tertawa. “Sana, selamatkan dirimu.”

Taehyung yang masih syok karena ujung kemejanya gosong bergegas berjalan cepat ke arah ruangan Jungkook. Nyaris menabrak anak pastry yang sedang membawa loyang panjang terisi choux-choux kosong yang baru matang.

“Maaf, Pak!” Serunya tanpa menoleh dan Taehyung menelan ludah; Jungkook benar, Taehyung lebih aman di dalam ruangannya.

Jadi dia bergegas menyelipkan tubuhnya ke ruangan Jungkook dan duduk di kursi Jungkook. Mac-nya ada di atas meja, tertutup dan di sisinya ada gelas yang terisi segenggam pulpen, di atas gelas itu ada foto Taehyung sedang menggendong Bubble nampak tersenyum lebar dan cerah. Di sudutnya ada tulisan tangan Jungkook:

Family—J.

Ini bukan kali pertama Taehyung melihat foto itu, tapi dia selalu merinding tiap kali membaca tulisan Jungkook di atas foto sederhana itu. Dia mendesah, mendongak menatap ke dapur, ke tunangannya yang sedang bekerja lalu mengangkat pan-nya dan menuang masakannya ke atas piring stainless untuk didinginkan.

Lalu dia mengelap konternya, mencuci semua barang yang digunakannya seraya mengawasi commis-nya bekerja tanpa suara atau ekspresi. Kemudian dia meraih piringnya dan beranjak ke bagian depan dapur, tempatnya mengerjakan plating. Dia membungkuk begitu lama di sana, bekerja dengan pinset dan macam-macam kondimen yang disiapkannya sendiri.

Taehyung menunggu sekitar dua puluh menit sebelum akhirnya Jungkook menegakkan punggungnya, bahunya merosot dan dia nampak lega sebelum mengelap sisi piringnya dan membawa benda itu ke ruangannya.

“Tok, tok?” Katanya serak dan membuka pintunya, tersenyum lebar. “Kau lapar? Apakah perutmu sakit?”

Taehyung menggeleng saat piring diletakkan di hadapannya. Aroma bumbu, daging bebek berlemak yang matang sempurna berwarna keemasan indah, dengan saus lembut berwarna lembut, edible flowers dan detail kecil yang begitu menggemaskan hingga hati Taehyung terenyuh.

Tentu ini bukan kali pertama Jungkook memasak untuknya, tapi hal itu selalu membuat jantungnya berdebar seperti kali pertama dia memasuki Pasola, meminta FB Captain untuk mengantarnya ke meja yang dipesankan Jungkook untuknya, bertemu pertama kalinya dengan chef baik yang mengoreksi makanannya.

Muda, bugar, indah dan beraroma seperti kayu manis yang hangat. Berdiri di hadapannya dengan topi tinggi chef-nya lalu mengulurkan tangannya yang penuh tato dan bicara dengan serak:

“Halo, Taehyung? Saya Jungkook.”

Taehyung tersenyum simpul ke makanannya lalu menerima sendok yang diberikan Jungkook. “Boleh kumakan?” Tanyanya menatap daging bebek yang matang ditata memanjang secara diagonal di atas piring putih, berbaring di atas kolam saus yang harum dengan beberapa kondimen di sisinya.

“Tentu.” Jungkook tersenyum. “Lalu beritahu aku apakah kau menyukainya.”

Taehyung mendongak, tersenyum. “Trims, Chef?” Katanya serak. “Bukan hanya untuk masakan ini tapi untuk segalanya.”

Jungkook merengkuh Taehyung ke dalam pelukannya dan Taehyung menyandarkan tubuh atasnya ke pinggang Jungkook. Menghirup dalam-dalam aroma masakan yang menempel lekat di permukaan seragam Jungkook. Mereka seperti itu selama beberapa menit, Jungkook melengkungkan punggungnya, mengecup puncak kepala Taehyung begitu lama dengan mata terpejam.

Berusaha menyalurkan seluruh perasaan cinta yang dimilikinya agar Taehyung tahu apa yang dirasakannya karena entah mengapa bahasa linear manusia tidak lagi sanggup menjelaskan perasaan di hati Jungkook untuk pemuda paling berani, paling sabar, paling galak dan paling perhatian yang dipilihnya menjadi teman hidupnya.

“Kembali kasih.” Katanya serak lalu melepaskan Taehyung dan tersenyum. Mata dan hatinya terasa nyeri oleh cinta dan rindu yang membuncah. Dia begitu mencintai Taehyung—sungguh. “Silakan makan, ya? Beritahu aku apa yang kurang dari menunya.”

Taehyung menatap makanannya. “Ini menu baru untuk restoran?” Tanyanya meraih sendok dan mulai menyendok daging bebek yang begitu lembut hingga saat disendok terasa seperti mentega.

Jungkook mengerlingnya, senyuman bermain di bibirnya. “Bisa jadi.” Katanya tenang. “Let's just see.

*