The Chef #236

“Apa yang sedang kaulakukan?” Jungkook muncul dari kamar mandi setelah berenang dan membilas diri, rambutnya yang basah menempel di lehernya.

Taehyung mendongak dari mangkuk yang sedang isinya sedang dikocoknya dengan whisker. “Membuat panekuk Swedia,” sahutnya ceria. “Seharusnya mudah dan aku tidak perlu menghancurkan dapur.” Dia menunduk ke adonannya.

“Hanya menyampur tepung, susu dan telur.” Katanya mendongak menatap Jungkook yang terkekeh. “Aku bisa saja menggunakan batter mix instan tapi aku tidak mau.”

Hari Senin yang cerah setelah Taehyung menyelesaikan perhitungan profit bulan pertama pembukaan Le Paradis dan menyadari mereka berhasil meraup cukup banyak untuk ditabung mengembalikan uang modal.

Setelah pusing menghitung gaji bersama HRM mereka, menghitung pemasukan dan pembayaran ke semua suplayer bersama Jimin; Taehyung akhirnya punya waktu beristirahat dengan camilan di piring yang dibuatkan Jungkook sejak pagi tadi.

Semua pertemuan dan pembahasan dilakukan via video call atau di teras rumah mereka yang rindang bersama Bubble yang menggonggongi kupu-kupu dengan ceria, berlari dengan kaki-kaki pendeknya lalu terantuk kakinya sendiri dan jatuh menghantam rumput dengan wajahnya, mendengking sedih.

Maka Taehyung bergegas berlari ke arahnya dan menggendongnya seraya tertawa lembut sementara HRM-nya mengecek kembali perhitungan gaji yang baru saja dibuatnya. Taehyung menggendong Bubble di kepalanya seraya menunggu dalam balutan celana training abu-abu buluk milik Jungkook dan kaus tipis yang menempel di tubuhnya setelah melakukan yoga paginya.

Setelah HRM pulang, dia menemukan Jungkook baru saja menyelesaikan set workout paginya dengan barbel dan siap untuk berenang. Jadi dia melepaskan Bubble dan beranjak ke dapur, mengambil tepung dan susu untuk membuat camilan karena dia sudah merasa lapar setelah makan sereal tadi pagi.

Sudah dua minggu dia hidup sehat dengan makan berat tiga kali sehari dan camilan di antara tiga jam makannya dan lambungnya terbiasa dengan itu sehingga Taehyung jadi jauh lebih mudah lapar dan berat badannya lebih mudah naik. Begitu pula Jungkook yang menemani pola makannya.

Maka dia dan Jungkook menghabiskan lebih banyak waktu untuk berolahraga bersama.

Jungkook mengusap rambut basahnya dengan handuk dan membersit air keluar dari telinganya. “Kau habis menonton Pewdiepie lagi?” Tanyanya geli dan bersandar di dinding pinggir dapur, menonton kekasihnya menuang bahan-bahan.

“Awas, hati-hati.” Jungkook memperingatkan saat Taehyung membawa frying pan Jungkook ke kompor. “Benda itu lebih berat dari yang kaukira.”

“Memang.” Keluh Taehyung lalu menyalakan kompor lalu memanaskan pan-nya. “Kau ingin panekuknya dengan apa? Selai? Nutella?”

Jungkook mengangguk, menjempur handuknya lalu meraup Bubble yang sedang mengunyah mainannya. Anjing kecil itu menggonggong protes saat mainnya lepas dari giginya maka Jungkook membungkuk, meraih mainannya dan membiarkannya mengunyah lagi lalu beranjak mendekati Taehyung.

Taehyung menuang mentega ke atas pan yang panas dan mendesah saat aroma mentega menguar ke seluruh ruangang. Jungkook tersenyum, bersandar menontonnya. Taehyung meraih mangkuknya yang terisi adonan, menuangnya ke atas pan yang mendesis.

Aroma tepung dan susu yang dipanggang bersama mentega membuat perut Jungkook lapar. Bubble menoleh dari mainannya, mengendus tertarik. Mata bulatnya mengedip, dia menelengkan kepalanya tertarik pada aroma panekuk. Taehyung menggoyangkan pan hingga adonan menyebar membentuk lingkaran tipis di atas pan.

“Kecilkan apinya,” Jungkook menggerakkan satu tangannya dengan gestur memutar kenop kompor. “Nanti gosong.” Tambahnya saat mengamati volume asap yang muncul dari sisi pan Taehyung.

Hidung Jungkook yang sensitif sudah mendeteksi aroma gosong dari panekuk Taehyung apalagi dengan adonan setipis itu. Taehyung bergegas mengecilkan apinya dan nyengir—menyadari juga aroma gosong yang mulai merebak ke indera penciumannya.

“Bagaimana jika panekukku gosong dan gagal?” Tanyanya mengamati panekuknya seperti sedang mengamati anak bungsunya yang sedang belajar merangkak.

“Tentu saja kumakan.” Tandas Jungkook ringan. “Akan kumakan apa saja yang kaubuatkan untukku.”

Taehyung menoleh, nyengir padanya. “Sungguh?”

Jungkook mengangguk. “Panekuk gosong bukanlah makanan paling ekstrim yang pernah kaubuat. Penghargaan itu masih jadi milik bakwan kangkung.” Dia bergidik dengan wajah berkerut aneh yang membuat Taehyung tertawa ceria.

“Bukan gulai yang pecah?” Tanya Taehyung.

“Itu juga!” Jungkook menjentikkan jarinya keras dan Taehyung tertawa, kepalanya terlempar ke belakang merespon ledakan tawanya. “Aku ingat tiba di apartemen dengan satu ruangan beraroma seperti jeroan kambing dan bumbu santan. Kita menghabiskan semalaman untuk mengepel dan membersihkan ruangan dengan perut kelaparan lalu berakhir makan telur ceplok.”

Taehyung meraih spatula lalu menyungkil bagian pinggir-pinggir pan untuk melepaskan panekuknya dari lapisan pan dan tersenyum saat membaliknya namun mengerang saat ujung panekuknya ternyata gosong.

“Gosong...” Keluhnya dan Jungkook tertawa.

“Akan kumakan. Ditambahkan cokelat tidak akan terasa.” Dia terkekeh. “Ayo masih ada beberapa kali percobaan lagi, jangan menyerah.” Dia membelai Bubble yang menyalak ceria sekali seolah ikut menyemangatinya.

Taehyung menatapnya lalu tersenyum. Kembali meraih mangkuknya, menuang adonan ke atas pan yang sudah dilapisi mentega baru dan Jungkook tersenyum. Dia selalu suka ini, bagaimana Taehyung walaupun telah gagal berkali-kali, menyebabkan kekacauan dan bahkan hampir membakar gedung apartemen, dia selalu berani untuk mencoba kembali.

Tidak pernah kapok atau gentar.

Kualitas diri yang sangat disukai Jungkook.

Akhirnya Taehyung membalik panekuknya dengan lebih percaya diri lalu berseru senang saat panekuknya matang dengan mulus. Jungkook mengulurkan telapak tangannya dan Taehyung memberinya tos nyaring. Jungkook tertawa, mengamati tunangannya berkreasi dengan ceria di dapurnya dalam balutan pakaian Jungkook yang malah semakin menonjolkan betapa langsing tubuh Taehyung.

“Kita masih punya buah apa?” Tanya Taehyung setelah panekuknya matang, dia menjilat sisa adonan panekuk di jarinya.

Jungkook mendongak dari kesibukannya menggaruk telinga Bubble yang berbaring telentang di pangkuannya. “Hmm... Kurasa ada stroberi di freezer, coba dicek.”

Taehyung membuka pintu ganda kulkas mereka dan menemukan sekotak stroberi yang masih disegel. “Ah, ketemu!” Katanya ceria lalu menuntup kulkas dengan pantatnya membawa piring panekuknya ke teras dapur, mulai menghiasnya dengan selai dan potongan stroberi.

Jungkook mengamati dengan geli saat tunangannya melapisi panekuk dengan Nutella lalu menggulungnya perlahan. “Kenapa tidak dibentuk segitiga saja?” Tanyanya kalem.

“Kata Pewdiepie ini harus digulung.” Taehyung tidak mendongak dari prakaryanya. “Aku mendengarkan orang Swedia asli.” Dia kemudian meletakkan satu panekuk yang sudah digulung dengan isian Nutella dan stroberi di piring dan tersenyum puas.

“Kelihatan enak.” Puji Jungkook tulus saat Taehyung meletakkan piringnya di atas meja di hadapannya. Panekuk itu sungguh terlihat lezat dengan potongan stoberi segar dan keahlian Taehyung menata makanan. “Aku boleh makan?”

“Sebentar!” Taehyung bergegas ke kamar, mengambil ponselnya dengan suara langkah kaki berisik di atas lantai linoleum mereka. “Aku harus pamer dulu! Ini masakan pertamaku yang berhasil!”

Dia lalu berdecak melihat satu panekuknya yang gosong dan menatap Jungkook, “Bisa tolong singkirkan yang gosong?”

Jungkook tertawa, meraih panekuk yang gosong dan menjejalkannya ke mulutnya. “Sudah,” katanya dengan mulut penuh dan mendesah karena panekuknya terasa hangat di lidahnya walaupun dia belum bisa merasakan manis.

Taehyung menatapnya, tersenyum lebar lalu memfoto makanan di hadapannya. “Yap!” Serunya lalu mendudukkan diri di sofa di hadapan Jungkook. “Silakan dimakan, Chef. Lalu beri aku penilaian.”

Jungkook berdeham, berpura-pura serius dan Taehyung tertawa. Jungkook melepaskan Bubble yang melompat ke pangkuan Taehyung lalu meraih garpu dan pisau. Dia memotong sedikit ujung panekuk lalu memakannya dengan ringkas dan meletakkan kembali garpunya di sisi meja, persis seperti bagaimana dia menyicipi makanan buatan commis-nya lalu mengangguk-angguk saat mengunyah.

Taehyung menatapnya, menahan senyuman sambil menggaruk telinga Bubble, mengikuti permainan tunangannya. “Bagaimana, Chef? Saya bisa bekerja dengan Chef sekarang?”

Pancake won't get you anywhere.” Jungkook menggeleng dramatis dengan mata tertutup. “It surely won't win my heart either.” Lalu dia mengerling Taehyung, menyapukan tatatpan kurang ajar ke seluruh tubuhnya.

“Tapi jika kau tertarik pada hal lain, aku bisa memberimu blowjob. Bagaimana?”

Taehyung tertawa serak, beranjak ke arah Jungkook lalu duduk di pangkuannya. Mendorong Jungkook bersandar lebih dalam ke sofa dan menjambak rambutnya ringan, membaksa Jungkook mendongak.

Chef muda itu tertawa terhibur lalu mengerang panjang saat Taehyung mulai menggerakkan pinggulnya di atas pangkuannya.

“Baiklah,” balas Taehyung, merunduk menyapukan lidahnya ke leher Jungkook yang langsung mengumpat keras.

Blowjob it is.” Taehyung menjulurkan lidah, menjilat cuping telinga Jungkook yang melenguh, memeluk pinggangnya dan mengangkatnya semakin ke atas—terengah menyenangkan.

Even better.”

*