The Chef #228
“Selamat malam, Pak Taehyung?”
Taehyung mengerang tertahan dan Jungkook tertawa mendengarnya. Dia membelai kening tunangannya lembut dan mengecup keningnya dengan intim dan lama.
“Kau akan baik-baik saja.” Bisiknya membelai rambut Taehyung dengan jemarinya sementara perawat lelaki muda memasuki ruangan dengan senyumam ramah ceria dan mulai mengecek infus dan tubuhnya.
“Saya antar ke ruang operasi, ya?” Dia tersenyum ramah seraya memperlambat arus infus. “Apakah rambut kemaluannya sudah dicukur?”
Jungkook mengangguk. “Sudah.” Dia sendiri yang melakukannya tadi saat perawat memberitahu Taehyung untuk mulai puasa dan menyukur rambut halus di sekitar lokasi operasinya nanti dan kemaluannya.
Taehyung juga diminta untuk mengosongkan kandung kemihnya sebelum operasi.
Perawat itu mengangguk. “Boleh saya cek sebentar?” Tanyanya dan Taehyung mengangguk saat perawat itu menyingkap selimut dan gaun rumah sakitnya seraya bergumam permisi untuk mengecek kebersihan tubuhnya.
Dia kemudian tersenyum. “Oke bersih.” Katanya.
“Dokter akan mengecek keadaan lambung Anda dengan endoskopi untuk memutuskan perawatan apa yang tepat dilakukan. Tidak akan lama, sekitar 30-90 menit saja.” Perawat itu tersenyum menyemangati dan menenangkan.
“Administrasinya sudah ya, Pak?” Tanyanya kemudian pada Jungkook yang mengangguk.
“Sudah.”
Perawat itu balas mengangguk. “Baik nanti akan saya jemput saat giliran Pak Taehyung tiba, ya? Sekarang dimohon untuk tetap puasa dulu.”
Lalu Taehyung diberikan pakaian operasi yang longgar dan berwarna hijau jelek. Jungkook membantunya mendudukkan diri lalu menggantikan bajunya dengan lembut—nyaris mengejutkan bagaimana tangan Jungkook yang kasar dan kapalan bisa begitu halus saat menyentuh tubuh Taehyung yang saat ini berdenyar oleh rasa lelah dan sakit.
Jungkook menghadiahinya ciuman di lehernya, persis di atas denyut nadinya. “Kau akan baik-baik saja, tidak ada tulang tengkorak yang dibuka hari ini.” Dia nyengir.
Taehyung balas tersenyum.
Dan sekarang Taehyung berbaring di ranjang yang didorong perawat dengan Jungkook berdiri di sisinya, mengenggam tangannya sementara dia mengejar cepatnya perawat mendorong ranjang dengan langkah panjangnya.
Ranjang berhenti di depan pintu operasi, satu perawat membuka pintu ganda operasi dan Jungkook mengecup kening Taehyung.
“Kau akan menungguku di sini, kan?” Tanya Taehyung serak dan Jungkook terkekeh.
“Memangnya kapan kau pernah membuka matamu tanpaku di sisimu?” Balasnya, mengecup keningnya sekali lagi sebelum menegakkan tubuhnya.
“Aku akan jadi yang pertama dan terakhir dalam setiap sadar dan lelapmu.” Dia tersenyum dan membiarkan perawat mendorong ranjang Taehyung masuk.
“Laters, Baby?”
Taehyung tersenyum, tidak bisa menoleh dan mengangkat tangannya yang dipasangi infus.
“Laters, Baby.”
Dia didorong ke bawah lampu LED bulat raksasa yang membuatnya sejenak diserang rasa takut. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya sendiri sebelum dokter menoleh dalam balutan pakaian operasi lengkap dengan penutup kepala dan masker.
“Halo, Pak Taehyung.” Sapanya ramah seraya memasang sarung tangan lateks yang berisik berdecit-decit. “Sudah siap, ya? Tidak lama kok. Anda akan segera bertemu Chef lagi setelah ini.”
Taehyung tersenyum sementara asisten operasi mulai memasang kain di dadanya, membentang naik menutupi pandangannya dari tubuh bawahnya dan Taehyung merasa pakaiannya disingkap.
Lampu dinyalakan dan cahayanya sejenak membuat mata Taehyung terasa diiris cahaya menyilaukan. Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang bertalu-talu.
Dia menghela napas.
Dia akan bertemu Jungkook sebentar lagi.
Dan Taehyung mendesah saat dokter anastesi mulai membius tubuhnya dan membuat Taehyung merasa kebas.
*
“Kau bisa diam tidak?”
Jungkook mendelik pada Jimin yang sibuk mengunyah camilan di kursi tunggu depan ruang operasi.
“Tunanganku di operasi!”
“Lalu?”
Jungkook kembali mendelik. “Bagaimana bisa kau bersikap biasa saja?”
Jimin mengendikkan bahu. “Dia cuma operasi laparoskopi, Jung, bukan operasi sesar.” Jimin memutar bola matanya. “Dokter hanya memasukkan alat ke perutnya, lukanya tidak sampai 5mm untuk melihat isi perutnya. Sudah. Hanya itu.”
“Tetap saja!” Balas Jungkook mendelik dan Jimin mendengus, tidak ada gunannya melawan Jungkook.
Jimin menyandarkan tubuhnya di dinding, mengamati Jungkook yang mondar-mandir di depan pintu operasi dengan gelisah.
Teringat bagaimana Taehyung duduk di dinding sebelah pintu ruang operasi Jungkook, menolak untuk bangkit selama Jungkook menjalani pembedahan saraf. Dia bahkan menolak saat diajak duduk di kursi tunggu, dia benar-benar duduk di lantai selama operasi berlangsung.
Jika Jungkook tidak bisa diam, maka Taehyung sangat diam.
Dia duduk dengan tenang, memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam; seperti sedang beryoga menunggu tunangannya keluar dari ruangan operasi.
Begitu dokter membuka pintunya, dia langsung berdiri dan menyambut ranjang Jungkook yang didorong keluar. Nampak antara ingin menangis dan tertawa senang saat dokter memberitahunya kondisi Jungkook sangat stabil dan dia bisa tenang dengan itu.
Sekarang Jungkook seperti seekor kucing yang sedang mengibaskan ekornya terganggu—menandai teritorinya dengan kesal. Alisnya berkerut, wajahnya pucat dan tidak bisa diam.
Jika Jimin memberinya tali skipping, maka dia mungkin akan melakukan 1,000 kali lompatan.
“Kau membuatku anxious dengan bersikap anxious.” Keluh Jimin setengah mengerang karena kesal melihat Jungkook mondar-mandir di hadapannya. “Dia akan baik-baik saja, sini duduk.”
Jungkook mendelik, menolak menjawab apa pun dan Jimin mendengus.
Mereka sudah menunggu selama tiga puluh menit dan operasi belum juga nampak akan segera berakhir. Jungkook masih mondar-mandir, tidak bisa diam.
“Kenapa lama sekali?” Keluhnya pada Jimin yang sedang membaca Webtoon di ponselnya.
“Itu operasi, bukan McD Drive Thru. Tentu saja lama.” Balasnya sekenanya dan terkekeh dalam hati melihat ekspresi Jungkook yang seperti baru saja terkena penyempitan pembuluh darah.
“Kau mau jika ada benda yang tertinggal dalam perut tunanganmu?”
“Katamu mereka tidak membedah perutnya besar-besae?” Protes Jungkook dengan alis berkerut.
“Kau bodoh, ya?” Balas Jimin lalu mengaduh saat telapak tangan Jungkook menampar lengannya. “Sakit!” Gerutunya.
“Duduk saja! Baru tiga puluh menit,” Jimin mendesah. “Kau dengar sendiri tadi perawat bilang durasinya antara 30-90 menit.”
Jungkook tidak mau duduk.
Dia berjalan ke utara, berbalik ke selatan. Lalu menuju ke timur, berbalik ke barat.
Jimin benar-benar pusing melihat bagaimana hiperaktifnya chef muda itu di depan ruang operasi dan beberapa perawat serta dokter mengamatinya dengan bingung.
Memang hanya Taehyung yang bisa menjinakkan Jungkook, jadi Jimin memilih untuk diam—menyimpan energinya daripada harus mengomeli Jungkook lagi.
Lima belas menit kemudian, pintu ruang operasi dibuka dan Jungkook langsung berlari menghampiri pintu dan menyambut ranjang Taehyung yang didorong keluar.
Taehyung berbaring di ranjang, nampak pucat tapi baik dan sehat. Masih setengah teler oleh obat biusnya. Jungkook langsung memosisikan diri di sisi ranjangnya bersama Jimin yang mengejar mereka.
Tangannya menyeka liur yang terbit dari sudut bibir Taehyung. Jungkook menahan desakan sinting otaknya untuk tertawa terbahak-bahak karena begitu tegang oleh adrenalin.
Tunangannya baik-baik saja.
Dia akan segera sembuh dan Jungkook sendiri yang akan memastikan Taehyung untuk tidak kembali ke ranjang rumah sakit.
” ... Kook?”
Jungkook menunduk. “Ya, Sayang?”
Wajah Taehyung mengernyit. Matanya kabur dan tidak fokus berusaha keras melawan obat biusnya. “'Neh.” Aneh. Katanya dan liurnya menetes lagi.
Jungkook terkekeh. “Kau berisik sekali. Tidurlah. Jangan melawan obat biusnya.” Dia menyeka liur Taehyung dengan tangannya.
Teringat bagaimana kacaunya Jungkook sendiri saat tersadar dari bius total dan berdeguk-deguk mabuk.
“M'na?”
Jungkook mendenguskan tawa saat mereka memasuki lift. “Diam.” Katanya. “Kau banyak bicara.”
Alis Taehyung berkerut. “'Pa?” Dan Jungkook bisa membayangkan nada galak Taehyung saat mengatakan ini bahkan saat dia praktis tengah mengigau.
“Taehyung.” Jungkook tertawa serak, air mata aneh yang tidak bisa ditahannya meleleh dari sudut matanya tanpa bisa ditahan.
Dia tidak pernah melihat Taehyung terbaring tidak berdaya, teler oleh obat bius selama ini. Baginya, Taehyung selalu sehat dan kuat.
Galak. Tegas. Sekaku kawat.
Dan melihatnya terbaring seperti ini, bahkan tidak bisa mengatakan 'apa' dengan sempurna membuat hati Jungkook nyeri.
Dia menunduk, menempelkan kening mereka dan mengecup hidung Taehyung dengan lembut.
“Diam saja, oke? Diam.” Isaknya lembut, masih geli dan sedih di saat yang bersamaan. “Diam.”
Mata Taehyung bergetar, berusaha tetap terbuka tapi otaknya tidak kuasa menahan rasa kantuk yang menyihir. Dia tersenyum.
”'Engeng.” Katanya tersenyum, mengangkat tangannya yang buta mencari wajah Jungkook.
Tangan Jungkook menangkapnya, menempelkan telapak tangan Taehyung yang dingin ke pipinya lalu mengecup bagian dalam pergelangan tangannya; tepat di atas denyut nadinya yang berdetak teratur.
“Kita berdebat nanti setelah kau bisa bicara tanpa mengerang.” Jungkook tersenyum, menatap wajah kekasihnya yang indah.
”'Ke.” Taehyung tersenyum dengan mata terpejam.
Jungkook menghela napas dalam-dalam. Dia begitu mencintai Taehyung hingga dia rela mematahkan seluruh tulangnya sendiri agar Taehyung tidak merasakan sakit apa pun seumur hidupnya.
“Laters, Baby?” Bisiknya saat pintu lift berdenting terbuka. “Sekarang, tidurlah. Aku akan ada di sisimu saat kau bangun nanti.”
Taehyung mengangguk. “'Ters, By.” Balasnya sebelum mendesah panjang dan menyerah sepenuhnya pada obat bius yang menarik kesadarannya hingga lenyap.
Jungkook mendesah; kali ini Taehyung hanya tidur.
*