The Chef #258
“Baby, tolong handukku!”
Jungkook yang baru saja menyalakan lilin aromaterapi untuk malam ini mendesah panjang. “Kau biasanya juga tidak pernah mengenakan handuk, kenapa sekarang berisik?” Balasnya pada Taehyung yang masih di dalam kamar mandi, membasuh diri setelah mengantar kedua orangtuanya kembali ke hotel dan meyakinkan mereka besok mereka akan berjalan-jalan.
“Nanti lantainya basah!” Balas Taehyung sengit dari dalam kamar mandi. “Cepat, aku kedinginan!”
Jungkook mendesah panjang, beranjak keluar dari kamar dengan Bubble yang mengekor dengan ceria. Dia menuju ruang cuci, meraih handuk Taehyung di jemuran kecil mereka lalu beranjak ke kamar mandi. Dia berhenti sejenak, menyampirkan handuk di konter dapur, menangkap Bubble yang menyalak ceria lalu memasukkannya ke kandangnya.
Bubble menggonggong marah. Apa-apaan ini, Dadda?!
Jungkook memberikannya camilan. “Maafkan aku, Sayang. Besok kita berenang, ya? Malam ini kau harus tidur di sana. Oke, Sobat?” Dia menyentil hidung Bubble lembut, terkekeh saat anjing itu menyalak lagi sebelum bangkit.
Meraih kembali handuk Taehyung lalu beranjak ke kamar mandi yang pintunya terkuak. Dia sudah bisa melihat kaki kurus Taehyung yang masih basah dan merasah panas hanya dengan melihatnya.
Dia membuka pintunya dan menemukan suaminya sedang berdiri di depan wastafel, memijit tabung pasta gigi ke atas sikat giginya dengan tubuh telanjang yang basah.
Rambutnya menempel ke kulit kepala dan keningnya, menatap Jungkook jengkel dari cermin dan entah mengapa tatapan jengkel Taehyung membuat seluruh tubuh Jungkook meremang oleh gairah. Dia berdeham lalu menunjukkan handuk di tangannya.
“Handukmu.” Katanya.
Jungkook tersenyum, membentangkan handuknya lalu membungkus tubuh Taehyung dengan handuk dan tubuhnya sendiri. Menempelkan tubuhnya yang panas ke tubuh Taehyung yang dingin setelah mandi. Taehyung mendesah panjang.
“Sebentar, aku harus sikat gigi,” keluhnya sementara tangan Jungkook menyelip ke dalam handuk dan memijat tubuhnya dengan lembut.
Desahan lain lolos dari bibirnya, dia meletakkan sikat gigi dan pasta gigi di atas wastafel, menyandarkan tubuhnya ke Jungkook dan memejamkan mata saat jemari Jungkook yang handal mulai menggodanya dengan lembut dan panas. Tubuhnya yang tadi terasa dingin, sekarang mulai hangat. Taehyung menatap ke cermin, bertemu mata dengan Jungkook yang hanya terbalut celana bokser pendeknya yang jelek.
Ingatkan Taehyung untuk membuang semua pakaian jelek Jungkook besok.
“Kita sudah bercinta setiap hari,” kata Jungkook saat membenamkan wajahnya ke cerukan leher Taehyung yang selembut mentega. “Apakah malam ini akan berbeda?” Tanyanya serak.
Taehyung berdeguk gelisah. “Entah,” sahutnya tercekat. “Apa yang sudah kausiapkan?”
Jungkook menatap refleksi mereka di cermin dan mengapresiasi betapa indahnya Taehyung dengan handuk setengah melorot dan tubuh telanjangnya di bawah sinar cahaya lampu terang kamar mandi. Mereka seharusnya melakukan ini sejak awal.
Apakah Jungkook harus memasang cermin besar di kamar mereka?
“Kau indah sekali,” bisiknya parau, menyapukan punggung tangannya di lekukan tubuh Taehyung yang lembab oleh air. Mendesah panjang dengan napasnya yang menderu di telinga Taehyung. “Dan kau milikku.”
Taehyung terkekeh serak, tangannya meraih rambut Jungkook lalu menjambaknya. “Ya, aku milikmu.” Katanya lalu tertawa saat Jungkook menyapukan lengannya ke kakinya, menggendong Taehyung seperti bayi koala.
“Kau bajingan tengik sombong yang memasak untuk pernikahanmu sendiri,” kekehnya serak, mencium Jungkook dalam-dalam.
Meremas rambutnya agar Taehyung tidak meninggalkan bibirnya sementara mereka beranjak ke ranjang. Aroma lilin yang lembut menyambut Taehyung dan dia mendesah—Jungkook memilih lilin favoritnya untuk yoga dan dia suka itu. Bubble sedang mendengking dari kandangnya, kesal karena dimasukkan kandang.
“Hari ini, kita akan melakukannya secara misionaris.” Jungkook membaringkan Tehyung ke ranjang. “Sebagai apresiasi seks pertama kita dulu sebelum kau tahu segala hal tentangku di ranjang dan yah,” dia mengendikkan bahunya. “Aku agak lelah.”
Taehyung tertawa, teringat betapa terkejutnya dia saat Jungkook datang membawa selai stroberi buatan tangannya sendiri untuk dioleskan ke tubuhnya. Dan itulah pertama kalinya dia menikmati seks paling luar biasa di hidupnya. Teringat pula es batu yang digigit Jungkook untuk melukiskan jalur lembut di tubuhnya, cokelat di dadanya; hal-hal gila menggairahkan yang mewarnai kehidupan mereka selama ini.
“Aku tidak keberatan menjadi normal semalam saja,” Taehyung merangkulkan lengannya ke leher Jungkook yang menaunginya dengan hangat. “Tapi kau tidak perlu memaksakan dirimu jika kau memang lelah.”
Jungkook menggeleng. “Tidak, aku masih kuat satu ronde,” kerlingnya dan Taehyung terkekeh. Jungkook menempelkan dirinya pada Taehyung lagi—tubuh mereka bertemu dan Taehyung meloloskan desahan panjang yang lega.
Kepalanya terbenam semakin dalam ke bantalnya, mulutnya terbuka tanpa suara merespon gerakan kecil Jungkook yang juga tersesat dalam kepalanya sendiri. Bagaimana status mereka, cincin emas yang melingkar di jemari mereka, mengubah persepsi mereka tentang hubungan seksual.
Seluruh tubuh Jungkook terasa begitu baru dan asing, seolah mereka tidak pernah bercinta sebelum ini. Tangan Taehyung gemetar saat dia membelai otot bahu Jungkook yang keras, jemarinya menggelincir turun ke pinggangnya lalu membelai lekukan pantatnya yang kencang.
“Kau sendiri indah,” katanya serak lalu mendesah keras saat Jungkook kembali menempelkan tubuh mereka dan menggesekannya lembut. “Oh, sial.” Gumamnya, pening. “Misionaris tidak pernah terasa sepanas ini.”
“Menjadi normal semalam tidak ada salahnya.” Jungkook setuju, menyapu handuk Taehyung jatuh lalu melepas celananya sendiri sebelum kembali menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Taehyung dan menciumnya.
Panjang, lama dan panas.
Dia menarik ciuman panas dan basah turun ke leher Taehyung, menjilat dan menghisapnya lembut lalu beranjak ke cuping telinganya yang merah padam oleh gairah. Dia menjulurkan lidahnya, menjilat sisi luarnya dan Taehyung mengerang—gemetar saat meremas lengan atasnya.
Tubuhnya merespon itu dengan melengkungkan punggungnya. Membuat Jungkook mendesiskan umpatan saat tubuh mereka menempel dengan cara yang begitu intim hingga kepalanya pening. Dia membenamkan wajahnya di bantal, berusaha mengatur dirinya sendiri yang nyaris meledak entah karena gairah atau rasa lelah yang membakar seluruh ototnya hingga terasa seperti agar-agar.
Kemudian dia berhenti.
Taehyung mengerang karena tubuh Jungkook begitu berat menimpanya. “Sayang?” Panggilnya serak. “Sayang, kau menimpaku. Sesak!” Katanya, berusaha menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Jungkook lalu menyadari sesuatu.
Dia diam untuk mendengarkan.
Jungkook mendengkur.
Taehyung tertawa serak, “Dasar bajingan congkak,” kekehnya. “Bisa lelah juga ternyata.” Dia dengan lembut menggulingkan tubuh Jungkook dari tubuhnya dengan sisa tenaganya sendiri.
Jungkook menghantam kasur dengan igauan kecil, sejenak Taehyung takut dia baru saja membangunkan Jungkook namun chef muda itu kembali lelap sedetik setelah kepalanya menyentuh bantal. Nampak benar-benar lelap hingga Taehyung tidak habis pikir bagaimana bisa dia dari sangat bergairah jadi tertidur lelap?
Tapi Taehyung tidak mempermasalahkannya. Dia bangkit, menghamparkan selimut ke tubuh Jungkook dan mengecup keningnya.
Suaminya boleh tidur setelah servis panjang yang dikerjakannya tadi dan Taehyung harus puas bermain solo di malam pertama mereka karena sudah terlanjur basah.
Setelah menyelesaikan urusannya, dia mengenakan jubah mandi untuk beranjak ke dapur. Meraih sekotak jus, menenggaknya langsung dari kartonnya sebelum kembali ke ranjang. Menyusupkan diri ke sisi suaminya yang terlelap begitu nyenyak seperti bayi lalu memeluknya, menyandarkan kepalanya di leher Jungkook yang hangat dan memejamkan mata.
“Selamat tidur, Suami.” Bisiknya serak, merasa begitu bahagia hingga hatinya penuh dan hangat. Dia melingkarkan lengannya di atas perut Jungkook dan melilitkan kakinya di kaki Jungkook di bawah selimut, mendesah panjang dan bahagia.
Tidak ada seks, tidak masalah. Hal terpenting adalah dia memiliki Jeon Jungkook sepenuhnya.
*