The Chef #215

“Syukurlah!”

Jungkook bergegas bangkit dan menghampiri Jimin dan Yugyeom yang baru saja memasuki ruangan dengan tas bepergiannya yang penuh. Di tangan Yugyeom juga ada paper bag Dunkin Donuts yang beraroma tajam teh dan kopi—Jungkook bukan tipe yang meminum kopi, semua minuman itu milik Taehyung. Dia lebih suka teh yang manis dan kental serta donat manis daripada kopi untuk menghalau stresnya.

Dia masih mengenakan kaus tanpa lengan abu-abu yang dinodai bercak muntahan Taehyung. Saat tunangannya terbaring di ranjang Sanglah untuk obersevasi semalaman, Jungkook bergegas ke kamar mandi, berusaha mengenyahkan sisa asam lambung dan makanan separo tercerna dari pakaiannya dan mendesah saat tidak bisa melenyapkan aromanya.

Jadi dia pasrah.

Pagi harinya sekitar subuh, akhirnya Jungkook mendapat kepastian bahwa dia dipersilakan untuk mencari kamar untuk menunggu operasi Taehyung karena sepertinya tukak lambungnya sudah parah. Maka Jungkook meminta ambulan untuk membawa kekasihnya ke rumah sakit swasta terdekat.

Pukul delapan pagi, dia baru mendapatkan kamar untuk Taehyung yang masih terbaring dengan infus di tangannya dan wajah sepucat seprai. Dipindahkan ke ruangannya dan digantikan pakaiannya dengan pakaian rumah sakit yang longgar dan menonjolkan betapa pesat berat badan Taehyung menyusut belakangan ini dan itu membuat Jungkook sedih. Setengah sembilan, dokter Taehyung datang menengoknya tapi karena Taehyung belum bangun, dokter hanya bertanya-tanya tentang kebiasaan Taehyung yang membuat Jungkook mulas.

“Apakah Pak Taehyung perokok aktif?”

“Tidak, Dok. Hanya sekali-dua kali saat stres.”

“Minum kopi dan makanan pedas?”

“Kopi.”

“Minuman beralkohol?”

Jungkook nyaris menepuk keningnya sendiri mendengar pertanyaan ini dan menatap dokter di hadapannya dengan tatapan pasrah yang menggelikan sebelum mendesah panjang. “Ya.” Sahutnya.

Dokter di hadapannya mengangguk-angguk seraya dengan lembut menyelipkan stetoskop ke dada Taehyung. “Jenisnya?” Tanya dokter itu lagi sementara perawat di sisinya sibuk menyatat kata-kata Jungkook. “Wine, sampanye, bir?”

Jungkook menahan napasnya; tahu jawabannya ini adalah jawaban yang buruk. “Vodka.”

Dokternya menatap Jungkook dengan tatapan skeptis. “Seberapa sering?”

Jungkook ingin menangis; harusnya dia menghentikan kebiasaan ini sebelum terlambat tapi entah kenapa dia selalu membiarkan tunangannya melakukan hal yang membuatnya senang.

“Satu shot setiap malam, kadang lebih jika sedang stres.”

Dokter Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghela napas panjang. “Dan apakah belakangan ini Pak Taehyung terpapar stres berkepanjangan?”

Jungkook mengangguk. “Dia...” Jungkook menelan ludah. “Mengurus saya yang sakit, juga mengurus pembangunan restoran saya serta mengerjakan audit tahunan di tempat kerja sebelumnya. Sekarang menjabat sebagai restaurant manager di tempat saya.”

“Wiraswasta?” Tanya dokternya dengan sopan dan Jungkook mengangguk. “Saya chef,” tambahnya dan dokternya mengangguk-angguk.

“Saya jadwalkan operasinya malam ini pukul delapan, semakin cepat semakin baik. Saya harus melihat seberapa parah kondisi lambung Pak Taehyung sebelum memberikan tindakan. Apakah ada muntah darah sebelum ini?”

Jungkook bergegas menggeleng dengan ngeri. “Tidak, Dok.” Katanya dan dokter nampak lega. “Baru sejak kemarin pagi, dia mengeluh ulu hatinya panas dan kepalanya pusing. Porsi makannya normal, saya berikan obat maag biasa untuk sementara.”

Dokter mengangguk. “Baiklah jika memang belum sampai muntah darah berarti kita masih di level yang aman.” Dia mengangguk ke perawat. “Makan terakhir pukul berapa?”

“Pukul sepuluh malam kemarin,” Jungkook menjawab.

“Baiklah, mungkin sarapan dulu lalu setelahnya puasa. Saya akan meresepkan obat dulu untuk menenangkan sakitnya sebelum operasi.” Dokter kemudian pamit dan Jungkook mengantarnya keluar sebelum kembali mendudukkan diri di sisi ranjang Taehyung.

Tunangannya bernapas dengan lembut dan teratur, tangannya terasa sedikit dingin maka Jungkook mengenggamnya erat dan mengecupnya.

Dia mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek serta sandal jepit tipis. Hanya sempat menyambar jaket untuk Taehyung sebelum membopongnya ke mobil. Mengunci rumah dan Bubble yang melolong panjang dan sedih karena keadaan Taehyung lalu memacu mobilnya gila-gilaan menembus jalanan Ubud ke Denpasar dengan kondisi Taehyung terkulai di kursi depan, pingsan dengan sisa muntahan di sudut bibirnya.

Jungkook nyaris mati karena serangan jantung saat Taehyung muntah di pakaiannya. Syukurlah yang dimuntahkannya hanyalah asam lambung dan sisa makan malamnya, bukan darah.

Sekarang dia begitu lega karena bisa mengganti pakaiannya dengan kaus lengan pendek dan celana pendek yang lebih hangat. Dia memasukkan pakaian kotornya ke kantung plastik dan meletakkannya di sudut ruangan untuk dibawanya pulang nanti saat mendapat giliran pulang. Dia meletakkan dompetnya, dompet Taehyung yang disambarnya pada detik terakhir untuk identitas dan kartu asuransi Taehyung bersama kunci rumah dan kunci mobil di meja di sisi kepala Taehyung.

Jimin duduk di kursi Jungkook tadi, memijat tangan Taehyung dengan lembut. Di ruang tamu kecil kamar Taehyung, Yugyeom sudah mengeluarkan paper cup terisi teh kental dan setengah lusin donat yang membuat Jungkook lapar. Namun sebelum dia menghampiri hadiahnya, seorang perawat datang membawa sarapan Taehyung.

Jungkook bergegas menghampirinya, menerima nampan itu dan berterima kasih pada perawatnya.

“Mungkin dibangunkan saja, Pak, supaya makan dulu.” Pesan perawatnya saat melihat Taehyung yang masih tidur. “Biar lambungnya terisi.”

Jungkook mengangguk. “Baik, Nurse*.” Sahutnya dan perawat itu pamit undur diri mendorong troli makanannya ke kamar sebelah.

Jimin meremas tangan Taehyung. “Taeby?” Panggilnya lembut. “Taeby?”

Jungkook meletakkan nampan di meja dan mengusap rambut kekasihnya dan merasakan suhu tubuhnya yang agak hangat. “Sayang? Hei, ayo bangun. Kita makan dulu.” Dia mengecup kening dan kedua kelopak mata Taehyung dengan lembut.

Menepuk-nepuk pipinya dengan lembut hingga kelopak mata Taehyung yang seindah sayap kupu-kupu bergetar, bulu matanya bergerak lalu matanya perlahan terbuka dan hal pertama yang dikatakannya:

“Jungkook?”

Jungkook mendesah keras. “Sayang?” Katanya mendudukkan diri di sisi ranjang yang berderit menerima berat tubuhnya dan menyentuh sisi wajah Taehyung dengan lembut. “Apa yang kaurasakan?”

Taehyung mengedip. Menatap ke sekitar ruangan dengan bingung. “Aku di mana?” tanyanya serak.

“Kau semalam muntah lalu pingsan. Jadi aku melarikanmu ke UGD dan tadi dokter datang saat kau masih tidur, jadwal operasimu malam ini. Mereka akan mengecek lambungmu karena mereka curiga ada luka.”

Taehyung mendesah, menyentuh keningnya sendiri lalu terbatuk serak. “Maaf aku merepotkanmu.”

“Tidak dimaafkan karena tidak ada yang harus dimaafkan.” Sahut Jungkook lugas dan Taehyung tersenyum. “Sekarang mau makan? Setelahnya kau harus puasa untuk operasi, jadi makanmu harus tepat waktu, oke?”

Taehyung mengangguk lalu baru menyadari kehadiran Jimin dan Yugyeom di kamar. “Oh, halo.” Sapanya lemah. “Siapa yang membuka restoran?”

“Semalam Bli Made yang menutupnya jadi sekalian saja kuminta dia yang buka hari ini.” Jungkook menjawab.

“Aku akan ke restoran sekarang, oke? Aku harus mengeceknya.” Yugyeom melirik jam tangannya dan tersenyum pada Taehyung. “Maaf aku harus pergi. Cepat sembuh, oke?”

Taehyung mengangguk sementara Jimin memutar tuas tempat tidurnya agar posisi Taehyung menjadi duduk, cukup untuk makan dengan nyaman. “Trims, Yugyeom.” Dia melambai pada Yugyeom yang bergegas keluar.

“Kau makan dulu saja, Jung,” kata Jimin menatap Jungkook yang sedang membuka wrapping plastic makanan Taehyung. “Aku yang menyuapi Taehyung. Aku sudah membeli sarapan tadi sebelum kemari.”

Jungkook menatap makanannya lalu Taehyung yang mengangguk. “Makan juga, untukku.” Katanya menepuk tangan Jungkook dengan lembut. “Dan berbaringlah sebentar, kau pasti belum tidur lagi sejak semalam, kan? Kantung matamu mengerikan.”

Jungkook mengalah, dia beranjak ke sofa dan mendudukkan diri di sana. Saat tubuhnya merasakan betapa lembut dan empuknya sofa itu, barulah segala kelelahan yang ditahannya sejak semalam meleleh ke tulang dan sendinya. Membuat seluruh tubuhnya nyeri dan dia meringis keras.

Dia menyelesaikan servis selama 6 jam non-stop lalu belum sempat beristirahat karena harus melarikan Taehyung ke UGD dan sekarang seluruh tubuhnya menjerit meminta Jungkook berbaring di atas sesuatu yang empuk dan nyaman. Matanya berat dan pedas oleh rasa kantuk.

Maka dia berdeham. “Aku tidur sebentar, ya?” Katanya serak, meneguk tehnya yang hangat-hangat kuku dengan ringkas dan mendesah saat hangatnya minuman itu menyentuh lambungnya yang kosong. Menjejalkan sepotong donat ke mulutnya, mengunyah tanpa benar-benar merasakannya.

“Ya, istirahatlah.” Taehyung menatapnya, nampak lebih baik setelah makan. Rona wajahnya kembali; sepucat mawar merah muda namun jauh lebih baik daripada tanpa warna sama sekali. “Kau pasti lelah sekali.”

Jungkook mengangguk, sudah tidak memiliki tenaga sama sekali untuk menjawab tapi masih berusaha membuat dirinya bicara: “Bangunkan aku jika ada administrasi yang harus kuurus untuk operasinya, ya?”

Lalu tanpa menunggu jawaban siapa-siapa, dia meletakkan kepalanya di bantalan sofa. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah Taehyung, tersenyum begitu lembut padanya hingga Jungkook sesak oleh rasa sayang.

Dan chef muda itu terlelap detik kepalanya menyentuh benda empuk.

*

*I dont know in other hospitals, tapi di Jogja khususnya rumah sakit swasta Katolik, perawat-perawat dipanggil Nurse, bukan Suster. Karena Suster itu panggilan untuk biarawati, biar gak ketuker hehe.