Courage—1st Step.

Good morning, Sales Office, Taehyung's speaking. May I help you?

“Pak Taehyung.”

Taehyung berhenti mencoba membuka Night Report yang dikirimkan Night Audit dan memfokuskan diri pada telepon di tangannya sementara tim Sales & Marketing beranjak ke sekitarnya untuk morning briefing mereka yang biasa sebelum bekerja.

“Bu Ayu, ya. Halo, saya. Bagaimana?”

“Pak, ini Sales tempo hari Bapak GM wawancarai, sudah datang. Saya minta admin antarkan ke Sales sekarang atau bagaimana?”

Taehyung melirik jam tangannya dan mendesah. “Tidak apa-apa, Bu. Sekarang saja sekalian dia berkenalan dengan Sales sebelum saya briefing.” Dia punya waktu empat puluh menit untuk briefing dan akan dipotong dengan perkenalan Sales baru.

Tim SM selalu merupakan tim yang turn over-nya tertinggi. Entah karena mereka semua lulusan anyaran yang kaget dengan bagaimana Sales harus bergerak seperti kuda demi occupancy hotel dan secara harfiah adalah gaji seluruh pegawai hotel. Walaupun Taehyung yang sekarang menjabat sebagai Sales & Marketing Manager di hotel bintang empat yang berasal dari chain yang lumayan terkenal, tidak meminimalisir pening kepalanya saat setiap tahun anak-anaknya terus berganti.

“Baik, Pak. Admin saya akan mengantarnya naik.”

“Ya, baik. Trims, Bu Ayu.”

“Kembali, Pak.”

Taehyung meletakkan gagang telepon kembali ke pesawat telepon dan membuka surel laporan Hotel Competitor yang dikirim anak malam. Dia membacanya dengan screening mendesah saat melihat hotel-hotel di Ring 1 alias Malioboro, terisi penuh setiap harinya.

Bagaimana caranya dia menarik pasar itu ke hotel mereka?

“Baik.” Katanya kemudian mencoba menghalau pening kepalanya. Semalam mereka closing dengan baik, tapi GM mereka pasti tidak suka jika ada hotel lain yang closing lebih baik dari mereka.

“Sebentar lagi akan ada Sales baru yang bergabung, Sales Banquet.” Tambahnya segera sebelum E-Commerce-nya, Mingyu, sempat bertanya.

“Maaf. Saya tidak bisa menemukan Sales Government baru karena FBM sudah mengomel terus karena kewalahan mengurus penjualan banquet. Jadi, maaf, Yugyeom, kau harus bekerja sendiri dulu.” Dia mendesah lalu melirik sticky note yang ditempelkannya di buletin di sisi mejanya dan teringat.

“Oh, ya. Bagaimana lead untuk Kementan kemarin? Mereka konfirm di kita?”

Yugyeom mengangguk. “Iya, Pak. Kemarin sudah saya kirimkan LS via pos dan guarantee letter. Jadi tinggal saya pastikan payment dan perhitungan mark up mereka.”

Taehyung mengangguk puas. Mereka sudah menabung 900 room nights, lumayan. “Jangan lupa infokan ke Bapak tentang perhitungan mark up-nya karena saya lihat kemarin lebih dari dua puluh persen.”

Yugyeom menyatat sesuatu di bukunya seraya mengangguk. Taehyung kembali ke surelnya. “Kemarin malam kita closing di 80% dan 101 Malioboro di 90%.” Dia berdecak kesal lalu mendongak. “Bisakah saya mendapatkan info 90% dari 101 ini FIT atau GIT?”

“Siap, Pak.” Jimin, Sales Corporate-nya mengangguk. Menyatat sesuatu di bukunya untuk dikerjakan nanti.

“Saya bisa terima setelah MB?”

“Bisa, Pak.”

“Oke, terima kasih.”

Lalu dia baru saja membuka suara untuk melanjutkan saat ketukan terdengar dari pintu dan seluruh tim SM menoleh. Menemukan HRD Admin mereka berdiri di depan seorang pemuda tinggi dengan balutan seragam back office mereka yang berwarna abu-abu cerdas.

Celananya kesempitan, pahanya tercekik. Begitu pula jasnya.

“Dia tidak diukur sebelumnya?” Tanya Taehyung memicingkan mata. “Seragamnya...,” dia mendesah panjang.

“Tidak ada yang cukup, Pak. Jadi sedang dibuatkan yang baru. Saya akan usahakan segera selesai.” Admin itu menyingkir, memberikan jalan bagi anak baru itu berdiri menghadap tim dan tersenyum sebelum pamit kembali ke ruangannya.

Dan Taehyung jatuh cinta.

Pada pandangan pertama.

Pemuda itu menatap semua orang di ruangan satu per satu, tersenyum lebar dan ramah. Nampak konyol dalam balutan seragam kekecilan yang memeluk tubuhnya dengan cara yang aneh; kancing-kancing jas abu-abunya nampak mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk bertahan dan Taehyung harus melakukan sesuatu dengan House Keeping tentang ini.

Dia tidak sudi anak buahnya bertemu tamu dengan seragam kekecilan seperti Hulk begitu.

Dan Taehyung menyesal kenapa dia harus mengajukan long leave tiga hari lalu dan tidak mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai pemuda ini dan malah GM sendiri yang melakukannya dan memberitahunya anak itu cocok.

Jadi Taehyung menurut saja.

“Halo, selamat pagi.”

“Selamat pagi.” Balas semuanya dengan kompak.

Pemuda itu dengan sopan membalas tatapan semua orang satu per satu. Tersenyum ramah dan mencoba membaca nama yang disematkan di sisi kiri seragam mereka dari jauh.

“Selamat pagi,” Taehyung mengangguk. “Silakan perkenalkan dirimu. Dan tolong, buka saja kancing jasmu. Saya takut kancingnya copot.” Dia menggerakkan jarinya, memberi gestur pada pemuda itu untuk membuka saja kancing jasnya.

Kikuk dan kaget, pemuda itu kemudian melepaskan kancing jasnya dan nampak lebih rileks setelah itu. “Terima kasih, Pak Taehyung.”

Wow.

Caranya mengucapkan nama Taehyung terasa begitu mendebarkan hingga Taehyung harus menggelengkan kepalanya sejenak agar tidak sinting. “Sama-sama.” Katanya ringan dengan jantung berdebar. “Namamu?”

“Saya Jungkook.” Dia tersenyum. “Hari ini saya bergabung sebagai Sales. Mohon bantuannya. Ini pertama kalinya saya bekerja jadi banyak sekali hal yang saya belum fahami.”

Taehyung mengangguk—sudah menduga bahwa dia adalah lulusan anyar. “Tidak masalah,” sahutnya. “Saya Taehyung. Ini Mingyu, E-Commerce. Dia yang mengurus harga-harga yang kaulihat di Traveloka, Tiket, Booking dan lain-lain. Kerjanya hanya di belakang komputer.

“Lalu ini Yugyeom, Sales yang bertanggung jawab untuk grup Pemerintah. Kementerian, DPR, DPRD. Grup-grup terbesar dengan harga-harga tertinggi. Dia punya banyak pekerjaan karena sendirian, tapi dia bisa tetap membantumu jika ada waktu luang.” Taehyung mengarahkan tangannya ke Yugyeom yang mengangguk, melambai pada Jungkook yang mengangguk sopan padanya seperti yang dilakukannya ke Mingyu tadi.

“Dia Rose, Admin kami. Kau akan banyak berhubungan dengannya untuk dokumen dan laporan. Dia galak, jadi jika dia bilang untuk mengumpul laporan hari Senin pukul 11, maka lakukan. Saya tidak suka ada yang berteriak-teriak masalah laporan.”

Semuanya tertawa dan Rose mengangguk serius. “Semua laporan harus kuterima tepat waktu jika kau masih ingin hidupmu tenang di sini.” Lalu dia tersenyum lebar. “Halo, Jungkook.”

“Halo, Kak.” Balas Jungkook melemparkan senyuman lebarnya yang membuat Taehyung nyaris saja meraihnya lalu mencubit pipinya yang tembam saat otot pipinya bergerak merespon senyumannya.

“Lalu,” Taehyung melanjutkan, melirik jam. Dia masih punya sepuluh menit. “Ini Jimin, dia Sales Corporate. Dia mengurus asosiasi, kesatuan, grup-grup hobi dan sejenisnya.”

Jimin melambai ramah pada Jungkook. “Selama ini aku yang mengerjakan Banquet, jadi aku akan mengajarimu banyak hal hari ini, oke?” Katanya ramah dan Jungkook mengangguk, nampak bersemangat pada hari pertamanya bekerja.

Semoga tetap begitu, pikir Taehyung. Jadi dia bisa fokus mencari Sales Government sebelum Yugyeom meninggal karena mengurus terlalu banyak dari yang bisa dikerjakannya.

“Terakhir, ada Jackson.” Taehyung melambai pada Jackson yang mengangguk dan mengulaskan senyuman sejuta watt-nya yang selalu berhasil membuat grup-grup konfirm di hotel mereka—apalagi jika PIC-nya ibu-ibu.

“Sama seperti Jimin, dia juga Corporate namun dia saya fokuskan pada bangking dan ekspat. Dia mengurus kaum-kaum business man yang necis dan rapi.”

Taehyung menatap jamnya dan mendesah. “Baiklah, saya harus MB.” Katanya berdiri, meraih bukunya dan tersenyum pada Jungkook. “Silakan berkenalan dengan semuanya dan tanya Jimin apa yang bisa kaukerjakan, oke?” Lalu dia bergegas permisi.

“Jangan lupa 101, Jimin!” Katanya menuruni tangga menuju ruang morning briefing dengan semua kepala departemen dan general manager.

Dia tersenyum seraya melangkah panjang-panjang menyusuri lorong back office dengan buku tergenggam di tangannya.

Nampaknya setelah ini, hari-harinya akan sangat menarik.

*

Note:

1) Night Report: biasanya terisi occupancy hotel-hotel kompetitor yang berada di sekitar wilayah hotel itu. Jumlah kamar terjual, harga terjual dan persentase laku mereka. Biasanya angka ini didapatkan dari sistem setiap jam 12 malam sebelum setelah berganti hari dan dibagikan melalui grup WA yang anggotanya merupakan Night Audit—karyawan Resepsionis (Front Office) yang masuk shift 3 (jam 11 malam hingga 7 pagi) sebelum running sistem baru untuk hari selanjutnya. Datanya bisa dimanipulasi, jadi tidak bisa dipercaya 100%, bahkan terkadang ada hotel-hotel yang tidak share sama sekali.

Biasanya akan dibaca pada saat morning briefing, mengecek kondisi pasar di hari sebelumnya dan merencanakan strategi penjualan untuk kedepannya.

2) Ring: wilayah padat wisatawan. Di Yogyakarta, terbagi menjadi 4 Ring dan dimulai dari Malioboro sebagai Ring 1 dan Ring 4 itu lokasi terjauh dari Malioboro (contoh Ring 4: Sheraton Yogyakarta).

3) Lead: rombongan bisnis yang akan menginap di hotel untuk keperluan bisnis. Biasanya PIC grup bakal survei dulu ke hotel-hotel, dimana dia bisa dapat harga termurah untuk arrangement-nya. Aku jelasin nanti sambil jalan ya, lebih enak pake contoh.

4) LS (Legal Support): terisi akta pendirian hotel, rekening koran 3 bulan terakhir dan pajak 3 bulan terakhir. Digunakan bagi instansi pemerintahan untuk mengecek bahwa hotel yang akan digunakan untuk lokakarya/kegiatan mereka bukanlah hotel fiktif untuk menggelapkan uang.

5) Banquet: acara-acara di hotel yang tidak menggunakan kamar. Contoh: pernikahan, makan malam grup arisan, dan sebagainya.