The Chef #220
” ... Sudah sinting, ya?”
Jungkook mengerutkan alisnya. Terombang-ambing dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Sayup-sayup dia mendengar suara dua orang bertengkar dengan suara mendesis yang tinggi; apakah itu Jimin? Dia bertengkar dengan siapa?
Jungkook mengeryitkan wajahnya, merasakan nyeri di sekujur tubuhnya yang tidak lenyap semudah dengan tidur. Jam berapa ini? Dia tidur berapa lama? Dia hanya ingat berbaring lalu gelap, dia benar-benar tidur dengan baik tapi nyeri di ototnya tidak sudi untuk lenyap sama sekali. Dia ingin mandi lalu kembali tidur; sesederhana itu.
“Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu?”
“Aku tidak tahu, oke? Maafkan aku. Dia berdiri di sana, kupikir teman kalian. Jadi kutawarkan ikut.”
“Yoongi.”
Jungkook mengerutkan alis. Oh, Yoongi datang. Jadi dia mendesak rasa kantuknya mundur dengan susah payah, melawan selaput kelelahan dan rasa kantuk yang begitu kuat menggelayut di kepalanya untuk membuka matanya yang buram dan panas.
Dia mengerang keras.
Dan seluruh ruangan diam.
Jungkook meregangkan tubuhnya, menjulurkan kakinya sejauh mungkin melewati sandaran tangan sofa dan mendesah saat punggungnya terasa rileks oleh gerakan itu. Dia mendesah saat akhirnya membiarkan tubuhnya melenting kembali dan menoleh ke Yoongi dan Jimin yang berdiri beberapa meter darinya.
“Halo, Pak.” Sapanya serak dan membawa dirinya duduk di sofa yang berderit menerima bobotnya. “Maaf, saya tidur. Sudah lama?”
Yoongi melirik Jimin yang nampak gusar dan tersenyum. “Tidak apa-apa, Chef. Anda pasti lelah sekali.” Dia lalu berdeham. “Itu,” dia mengerling Jimin lagi yang mendelik padanya. “Saya datang untuk menjenguk Pak Taehyung.”
Jungkook tertawa serak, menggaruk kepalanya. Tubuhnya menjerit, memintanya kembali berbaring dan memejamkan mata tapi Jungkook tidak mau. Dia harus menemani tamu, dia sudah tidur terlalu lama. “Terima kasih.” Katanya. “Apakah sudah ada yang mengurus administrasi operasi? Berapa lama aku tidur?”
Jimin menatapnya. “Aku,” sahutnya tenang. “Aku sudah mengurusnya tadi, kau tidur seperti orang mati. Ini sudah lewat jam makan siang. Jam tiga sore.”
Jungkook tertawa lagi. “Ya Tuhan, maaf. Aku lelah sekali.”
Lalu dia akhirnya menoleh ke ranjang Taehyung dan menahan napas dengan suara desis yang keras, seperti seekor ular yang terancam. Dia bertemu mata dengan satu-satunya manusia yang tidak ingin dilihatnya.
Park Hyungsik.
Sedang duduk di kursi sisi ranjang Taehyung yang menatap Jungkook dengan wajah berkerut-kerut penuh penyesalan. Dia nampak lebih baik, Taehyung. Wajahnya mulai kembali merona dan jauh lebih segar dari kemarin Jungkook membaringkannya di ranjang rumah sakit.
“Halo, Chef.” Sapa Hyungsik dengan suaranya yang jelas dan jernih. “Saya datang bersama Pak Yoongi. Saya mampir ke rumah, tapi tidak ada siapa pun dan kebetulan Pak Yoongi lewat dan bertanya. Menjelaskan bahwa Taehyung di rumah sakit, jadi saya menumpang kemari.”
Dia kemudian menambahkan dengan sorot mata kasihan dan ekspresi steril. “Anda tidak keberatan, kan?” Seperti menantang Jungkook untuk keberatan dengan begitu tengil hingga Jungkook ingin sekali menonjoknya.
Kepala Jungkook semakin pening dan dia menahan diri agar tidak berdiri, menghambur ke arah Hyungsik dan menonjok wajah menyebalkan Hyungsik tapi alih-alih dia berdiri, mengibaskan pakaiannya dan tersenyum.
“Tidak sama sekali.” Katanya serak. “Terima kasih sudah mampir.” Dia beranjak ke sisi Taehyung, kantuknya lenyap sama sekali dan berdiri di sisi Taehyung, meraih tangannya yang ditancapi infus, membelai sekitar kateter dengan lembut dan Taehyung mendesah.
Saat Jungkook dirawat, Taehyung selalu melakukan ini. Membelai lembut kulit sekitar dimana kateternya ditancapkan dan itu terasa luar biasa untuk Jungkook karena lem perekatnya terasa gatal dan kulitnya kencang karena terjepit kateter. Belaian lembut cukup untuk membuat kulitnya terasa nyaman.
“Maaf saya tinggal tidur,” dia tersenyum ramah pada Hyungsik yang menatapnya terpana. “Anda sudah lama?”
Jungkook tertawa dalam hati—apa yang diharapkan Hyungsik? Bahwa Jungkook akan mengamuk dan menonjoknya seperti anak SMA? Bukannya Jungkook tidak suka prospek itu, tapi menurutnya menghadapi kecongkakan dengan ketenangan malah akan semakin melukai harga diri lawannya.
Masalah congkak, Jungkook ahlinya. Kenapa dia bisa sangat tergila-gila pada Taehyung? Karena dia selalu menyikapi kecongkakan Jungkook dengan tenang, itu membuatnya semakin terpancing untuk bersikap semakin bajingan dan Taehyung masih tetap bergeming.
Maka itulah yang akan dilakukannya ke Hyungsik.
Jika dia ingin bermain seperti itu, maka Jungkook akan meladeninya.
“Tidak,” Hyungsik memberikan senyuman sejuta watt-nya yang membuat Jungkook nyaris mengerutkan wajahnya terganggu, tapi dia berhasil membentuk senyuman ramah membalasnya. “Saya baru tiba dan Anda pasti lelah.”
“Memang,” Jungkook tertawa serak. “Restoran saya sedang ramai-ramainya, jadi memang istirahat adalah kemewahan. Tapi ini tunangan saya yang sakit, jadi saya merasa istirahat bisa mengalah dulu.”
Taehyung menalan ludah, merasakan dengan jelas bagaimana keduanya memancarkan aura permusuhan yang pekat dan menatap Jimin, memohon pertolongan. Jimin membalas tatapannya sama tidak berdayanya; terlalu takut untuk memisahkan dua ular kobra yang sedang saling menatap penuh kebencian.
“Ah, sebelumnya. Perkenalkan.” Jungkook mengulurkan tangannya. “Saya Jeon Jungkook. Kita belum pernah bertemu secara langsung.”
Hyungsik menatap tangan Jungkook yang terulur dan melirik sleeve tattoo-nya yang menjalar hingga ke balik lengan bajunya. “Saya Park Hyungsik.” Dia menyalami tangan Jungkook yang terasa kasar dan kapalan.
“Anda chef,” Hyungsik berkomentar sopan setelah jabatan tangan mereka berakhir. “Tapi saya tidak pernah melihat Anda di televisi sebelumnya? Anda kenal Chef Arnold? Chef Juna?”
Jungkook tahu arah pertanyaan ini.
Dia sedang membandingkan Jungkook dengan para celebrity chef yang selalu dilihatnya di televisi. Geli karena bagaimana bisa dia menstandarisasi kemampuan chef dengan kemunculan mereka di televisi padahal Jungkook punya restoran berbintang yang selalu ramai? Jungkook sedang memikirkan bagaimana caranya mengatakan semua prestasinya tanpa terdengar pamer saat Jimin menyela.
“Mereka bersahabat,” Jimin memutar bola matanya, gemas dan Yoongi di sisinya meringis. “Kau tahu Chef Vindex? Itu guru Jungkook, mereka seperti kembar siam. Ayah dan anak. Dan Jungkook baru saja menolak proposal dari RCTI untuk menjadi chef juri di MasterChef season ini karena dia memilih fokus untuk memasak.
“Kau harusnya datang ketika soft opening Le Paradis, kau bisa panen tanda tangan chef-chef idolamu di televisi. Jungkook juga pernah berangkat ke Amerika sebagai salah satu finalis Chef of the Year untuk cuisine, fokus di masakan Indonesia dan gastronomi molekuler. Hanya butuh waktu hingga Michelin mendengar namanya dan memberikannya bintang yang layak untuknya.
“Sungguh, Hyungsik. Kau tahu sedikit sekali tentang dunia kulinari, kau 'kan pengusaha properti.”
Jungkook berjanji akan membuatkan Jimin shortcake terbesar yang pernah dimakannya hingga dia begah dan trauma makan shortcake setelahnya.
Dia tertawa serak rendah diri. “Kau tidak perlu begitu.” Jungkook berkata lembut pada Jimin.
Dan yang mengejutkan, Taehyung menepuk tangan Jungkook lembut dan menambahkan. “Dia lelaki paling luar biasa,” bisiknya menatap Jungkook yang balas menatapnya, terpesona. “Dia begitu passionate tentang pekerjaannya, fokus dan hebat. Usianya baru dua puluh lima tahun saat dia menjadi head chef RCPP. In short, dia keren.”
“Apa-apaan ini,” Jungkook tertawa serak. “Kenapa semua menyerangku begini?” Dia lalu menatap Hyungsik penuh permohonan maaf. “Maafkan mereka.”
“Tidak, tidak.” Hyungsik berdeham dan tersenyum rikuh, jelas malu karena tidak tahu apa-apa tentang dunia kulinari. “Anda lumayan juga, ya?” Pujinya dengan secercah rasa pahit yang walaupun lidah Jungkook sedang tidak bisa digunakan, terasa begitu pekat di ujung lidahnya.
Finalis Chef of the Year hanyalah sesuatu yang lumayan bagi Hyungsik. Tentu saja. Dia mana faham prestige acara penghargaan itu. Jungkook bersaing dengan belasan chef terbaik dunia, beberapa bahkan chef bintang 3 Michelin.
'Impressive' adalah pujian yang tepat jika dia tahu betapa ketat seleksinya. Betapa megah acara itu dan bagaimana kebanggaan para chef yang mengenakan jaket dengan bordiran di dada kanannya 'Chef of the Year' atau 'Pastry Chef of the Year' di bawah bendera mungil negara mereka.
Tapi menjelaskan itu tidak akan membawa Jungkook ke mana-mana, jadi dia diam.
“Yah, begitulah.” Sahut Jungkook merendah dan Hyungsik menatapnya semakin tidak suka karena sikap rendah hati dan tenangnya. “Saya memang lebih suka fokus pada kulinari dan mengsah kemampuan memasak saya. Para chef memiliki pilihannya sendiri-sendiri atas karirnya.
“Ada yang memang ingin fokus memasak seperti saya dan Chef Wongso. Ada yang memulai bisnis dan menjadi selebriti seperti Arnold dan Juna. Ada juga yang beralih menjadi pekerja kantoran di bagian manajerial seperti guru saya, Chef Vindex. And it doesn't make us any less-chef than we are.”
Lalu dia tersenyum. “Anda sendiri? Bisnis properti yang saya dengar?”
Hyungsik menatapnya sejenak, nampak menilai sebelum mengangguk ramah. “Ya, saya kebetulan sekarang sedang mengembangkan perumahan baru di Bali sini. Sering bertemu dengan Pak Yoongi juga.”
“Bisnis sedang lancar, ya?” Tanya Jungkook tenang.
“Syukurnya.” Hyungsik menjawab sama tenangnya.
Tapi satu ruangan itu tau, mereka hanyalah dua ular kobra yang siap menyambar leher satu sama lain kapan saja. Mereka nampak tegang, defensif dan bersembunyi dengan baik di balik topeng tenang dan ramah.
“Ini salahmu,” Jimin mendesis pada Yoongi di sisinya yang mendesah panjang.
“Iya, iya. Maafkan aku.” Dia menatap Jimin yang sedang memijat pelipisnya. Taehyung di ranjangnya dengan wajah seperti penderita wasir sementara kedua lelaki di antaranya sedang mengobrol ringan namun siap menonjok satu sama lain kapan saja.
“Ah, ya.” Jungkook kemudian bicara saat Hyungsik pamit pulang karena jam berkunjung sudah habis. “Saya boleh minta tolong satu hal?” Dia tersenyum lebar dan Taehyung seketika meremas tangan Jungkook.
Hyungsik menatapnya. “Tentu saja.” Dia tersenyum.
“Tolong berhenti memanggil tunangan saya Taehyungie.” Tandasnya, masih tersenyum namun nada bicaranya penuh otoritas dan dominasi—seperti bagaimana dia meminta salah satu commis-nya untuk berhenti. Kekuatan suara alfa dapurnya membuat seluruh ruangan hening.
Jungkook memang selalu punya bakat itu—memegang kendali satu ruangan hanya dengan suaranya yang begitu otoriter dan mendominasi. Serak, berat dan menuntut. Namun dalam nada yang tetap tenang. Dia seorang yang terlahir sebagai seorang pemimpin dan menjadi chef membuat auranya semakin mengerikan.
Hyungsik menatapnya, jelas menyadari juga nada itu. “Tentu saja.” Sahutnya kemudian, tersenyum dengan sedikit terlambat. “Jika Anda bilang begitu.” Dia berdiri, merapikan pakaiannya dan tersenyum.
“Saya tidak berniat bersikap bajingan tapi setahu saya Anda sendiri yang memilih meninggalkan Taehyung, jadi menurut saya lebih baik Anda tetap begitu saja.” Jungkook masih tersenyum. “Apalagi sekarang posisi Taehyung sudah bertunangan. Tentu jika Anda di posisi saya, Anda tidak suka jika mantan kekasih tunangan Anda memanggilnya dengan nama khusus, benar?”
Hyungsik menatapnya, sungguh terpana dengan bagaimana tenang dan tanpa tedeng aling-alingnya Jungkook membicarakan hal yang tidak disukainya dari hubungan Hyungsik dan Taehyung.
“Mari menghormati satu sama lain.” Jungkook menambahkan, masih dengan suara chef-nya yang serak dan mendominasi. Jenis suara yang langsung membuat Taehyung takut dan tidak ingin mengecewakannya padahal Taehyung bukan salah satu timnya di dapur.
Hening sejenak sebelum Hyungsik tersenyum.
“Tentu, Chef.” Katanya tenang. “Saya pamit undur diri dulu.”
Jungkook mengangguk, tersenyum tenang. “Terima kasih atas perhatian Anda pada tunangan saya, Pak.”
Hyungsik mengangguk. Keduanya nampak setegang kawat. “Kembali kasih, Chef.” Lalu dia menoleh pada Taehyung. “Cepat sembuh, Taehyung.”
Taehyung tersenyum. “Terima kasih, Kak.”
Dan setelah Hyungsik serta Yoongi meninggalkan ruangan, Jungkook mengerang keras. Mengacak rambutnya kesal dan bergerak-gerak di tempatnya. Taehyung tertawa serak.
“Sudah kuduga, kau mengerahkan seluruh tenagamu untuk bersikap setenang pertapa begitu.” Katanya geli sementara Jungkook sedang melakukan gerakan pemanasan ringan seraya mendesah keras-keras seperti kesetanan.
“Tapi kau membuatnya diam, Jung!” Jimin mengacungkan jempolnya dengan wajah berkerut terganggu. “Manusia seamacam itu memang sesekali harus ditampar. Aku jengkel sekali melihat gaya petantang-petentengnya.” Dia mendesah keras dan dramatis.
“Maafkan pacar baruku, ya? Dia terlalu lucu untuk dimarahi.” Jimin menatap Taehyung penuh permohonan dan Taehyung terkekeh serak.
Jungkook sedang melakukan jumping jack seperti orang sinting. “Aku bisa gila jika harus tenang seperti itu lima menit lebih lama, sungguh!” Dia kemudian menarik napas dalam-dalam lalu menghampiri Taehyung lagi.
“Boleh cium?” Tanyanya mendesak. “Aku sudah jadi anak baik ke mantanmu.”
“Tolonglah?” Jimin protes tapi kemudian mengerang dan memalingkan wajah karena tahu dia tidak akan punya kuasa atas hormon pasangan di depannya. “Terserah, deh. Yang cepat!” Gerutunya.
Taehyung tertawa serak dan menjulurkan tangannya. “Boleh,” sahutnya dan Jungkook merunduk, mengusap bibir Taehyung yang terkuak dan kering dengan bibirnya sebelum menciumnya.
Rasanya seperti asam lambung yang tengik tapi Jungkook tidak keberatan. Ini Taehyung-nya, apa pun dia, bagaimana pun dia—bagi Jungkook, dia tetap yang terbaik. Dia mengecup bibir Taehyung sekali lagi dan tersenyum.
“Sekarang masukkan kembali cakarmu, Singa, teritorimu aman.” Taehyung tertawa dan Jungkook mendesah panjang.
*