TU L’AS AIME?
KookV Oneshot.
*
London, UK.
Two weeks ago…
“Jadi, kita putus?”
“Ya,”
“Oke,”
“Oke,”
“…”
“… Goodbye, then?”
“Oh, oke. Goodbye.”
*
London, UK.
Today…
“Sial, kenapa cowok tinggi berkepala besar itu tidak bisa menjauhkan tangannya dari Taehyung, sih? Mungkin aku bisa mengambil kapak dan memutuskan tangannya sekalian?”
Pemuda dalam balutan pakaian serba hitam itu sedang duduk di pojok kafetaria; mengamati sepasang pemuda yang sedang bercengkrama di seberangnya. Satunya pemuda mengangumkan, berkharisma penuh keramahan dengan rambut hitam yang membuatnya kelihatan tampan dan seksi.
Sementara satunya pemuda dengan tubuh mungil yang kelihatan begitu oh-so-breathtaking saat tersenyum dengan rambut mencuat-cuat berwarna cokelat lembut. Mereka sedang duduk berhadapan, dengan dua cangkir kopi dan makanan, serta tawa yang sepertinya tidak pernah lepas dari bibir di keduanya.
Sebenarnya bukan rahasia lagi jika Jeongguk, mantan Taehyung, mahasiswa yang terkenal oleh kepintaran, ketampanan, dan keramahannya dan yang selalu mendapatkan perhatian publik karena ini-itu.
Salah satu anggota pers mahasiswa yang paling aktif di angkatannya; dia selalu berhasil membawa pulang berita paling panas yang belum diketahui pers mana pun. Bersama Bogum, pemuda berambut hitam itu, dia selalu berjalan ke sana kemari mencari berita. Memburunya seperti pasukan Amazon yang kelaparan.
Mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dua minggu lalu.
Sebenarnya, Jeongguk yang mengakhiri hubungan mereka karena dia sedang mencoba untuk, seperti yang dikatakannya pada semua orang, “fokus menyelesaikan studinya”. Tapi di tengah-tengah agenda kerasnya untuk menjadi Jeon Jeongguk yang lebih baik, dia malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memata-matai kegiatan mantannya.
Katakan saja Jeongguk ini munafik, stalker menyedihkan. Tipe mantan yang seharusnya dijebloskan saja ke penjara, tapi sejauh ini dia tidak pernah ketahuan. Dan memang tidak, karena semua orang tahu bagaimana tingkah Jeongguk di sekitar Bogum-Taehyung, menatap keduanya dengan tatapan membunuhnya yang mengundang bola mata berputar dari teman-temannya.
Pasangan di depannya masih tertawa entah membicarakan apa. Saat Jeongguk melintas pura-pura membeli minuman ringan di vending machine di dekat mereka, Jeongguk mendengar mereka sedang membicarakan politik. Mungkin Jeongguk yang bodoh sehingga tidak pernah menemukan sesuatu yang lucu sama sekali dari pembicaraan tentang politik sementara Bogum bisa membuat lelucon darinya.
Itu membuat Jeongguk semakin sebal.
“Kau bisa membakar kafetaria dengan tatapanmu.”
Dia mengerjap; melupakan pemuda tinggi di sisinya. Kim Yugyeom dari jurusan kedokteran yang berkonsentrasi untuk menjadi spesialis bedah toraks. Hanya karena setahun lalu, salah satu kerabatnya mengeluarkan uang sejumlah tujuh digit untuk sekali kunjungan seorang dokter spesialis bedah toraks. Dan dia termotivasi untuk menjadi sekaya itu. Mimpi yang muluk, tapi Jeongguk menghargainya.
Manusia butuh uang. Jangan salahkan Yugyeom.
“Aku bisa saja berhenti jika Bogum sialan itu berhenti.” Gerutu Jeongguk sebal, menancapkan garpunya pada makanan di hadapannya dengan tenaga lebih dari apa yang dibutuhkannya.
“Memangnya apa yang dilakukannya?” Balas Yugyeom sambil mengunyah bagelnya dengan nikmat. Tidak memedulikan sahabatnya yang sedang bersungut-sungut di sisinya.
“Dia bermesra-mesraan dengan—!”
“Mantanmu.” Sela Yugyeom cepat dengan senandung yang menyebalkan dan Jeongguk berharap jika saja dia bisa memukul kepala Yugyeom dengan sepatu atau batu; yang mana saja yang lebih dulu ditemukannya.
“Ya, Taehyung memang mantanku!” Jeongguk mendelik pada Yugyeom yang mencemoohnya dengan tatapan dan bentuk mulutnya.
“Kau sendiri yang minta putus. Katanya kau mau berubah menjadi Jeongguk yang lebih baik, fokus menyelesaikan studimu. Seperti anak SMA sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Tapi nyatanya kau malah duduk di sini. Menyiksa dirimu dengan mengamati Taehyung yang sudah move on.” Yugyeom menjilat jemarinya yang penuh mayonais dan mengundang kerutan jijik dari Jeongguk yang diabaikannya dengan mulus.
“Terima saja kenyataan, Bung. Apa yang sudah kaulepaskan, dilepas saja. Don’t cry over the spilled milk.”
“Aku tidak menangis!”
“Ter-se-rah.”
Jeongguk menoleh kembali ke Bogum-Taehyung yang sedang tertawa. Kali ini Taehyung sedang menggeleng-geleng dengan geli sementara bibir Bogum terus mengatakan sesuatu dengan senyuman yang bermain di bibirnya. Pemandangan itu membuat Jeongguk ingin membuat boneka jerami dan menusuk-nusuknya dengan paku. Membakarnya dengan posisi kepala terlebih dulu ke dalam api—apa saja agar Bogum menderita.
Mungkin juga menabur abunya di laut; Jeongguk bisa merasakan kepuasan menjalar di tubuhnya dengan cara yang begitu masokis hanya dengan membayangkannya. Yugyeom mengamatinya sambil mengunyah lamat-lamat. Apa pun yang sedang dipikirkan Jeongguk tergambar jelas di wajahnya. Seperti ada semacam televisi layar datar di atas kepalanya yang menayangkan acaranya.
Tangannya menepuk bahu Jeongguk, mendesah karena dia harus menyelamatkan sahabatnya sebelum mempermalukan dirinya sendiri di hadapan semua orang—yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
“Ayo, kau tidak akan mau ketinggalan kelas,” ajak Yugyeom memutar bola matanya. “Tinggalkan mereka, Bung. Kau punya kehidupanmu sendiri.”
Walaupun malas dan tidak ingin, Jeongguk tetap beranjak. Melemparkan satu tatapan busuk lain ke pasangan itu sebelum berjalan menghentak-hentak. Kekanakan dan benar-benar tidak menunjukkan sikap seorang mantan yang notabene meninggalkan, bukan ditinggalkan.
*
Begitu keduanya lenyap di pintu kafetaria, Taehyung tersenyum lebar dan tertawa. Bogum yang melihat tawanya ikut tertawa.
Sungguh, mereka sejak tadi sedang menertawakan tingkah Jeon Jeongguk yang selalu muncul dimana pun mereka berada dan mendapati banyak sekali hal lucu yang bisa ditarik dari caranya mengutit. Bagaimana pemuda itu sama sekali tidak berusaha membuatnya nampak sembunyi-sembunyi. Menatap mereka terang-terangan dan bahkan lebih dari sekali bertemu pandang dengan Bogum, alih-alih memalingkan wajah dia malah menatap Bogum semakin marah.
Maka setelahnya, Bogum berusaha untuk berpura-pura tidak melihatnya.
“Kau lihat wajahnya?” Tanya Taehyung, geli. Perutnya kram karena terlalu banyak tertawa bersama Bogum yang punya selera humor begitu sehat dan menyenangkan. Tawanya menular dengan cepat seperti virus.
“Seperti penderita wasir!” Sahut Bogum dan keduanya kembali tertawa geli.
“Demi Tuhan, aku ingin sekali melihat ekspresinya saat dia tahu bahwa semua ini hanya lelucon untuk memberinya pelajaran.” Taehyung kembali tertawa, berusaha mengatur napasnya.
“Dia memang punya terlalu banyak harga diri sebagai seorang dominan,” Bogum nyengir lebar saat Taehyung tertawa lagi untuk kesekian kalinya. “Kuharap harga diri itu membuatnya kenyang.”
Pemuda itu mengusap air mata di sudut matanya dengan napas tersengal sehabis tertawa. “Seharusnya kau di sana saat kami putus, demi Tuhan. Dia seperti baru saja menelan kastanye dan mendapati durinya menempel di kerongkongannya.”
Mereka kembali bertukar tawa yang riuh.
“'Aku ingin menjadi seorang Jeon Jeongguk yang lebih baik,’” dendang Taehyung mengejek dan mereka berdua kembali tertawa. “'Aku ingin fokus kuliah. Aku ingin membahagiakan orangtuaku.' Sungguh, memangnya kita ini anak SMA?”
Menikmati tawa Taehyung yang berdenting cantik, Bogum mengulaskan senyuman lebar, “Tu l’as aime?” Tanyanya. Kau menyukainya?
“Oh. Beaucoup.” Taehyung mengedipkan sebelah matanya. Sangat.
*
“Si Botak Sial Park Bogum itu benar-benar butuh pelajaran.”
Jeongguk duduk di sebuah kursi sambil mengamati dua orang yang sedang duduk di kursi paling dekat mimbar; mengobrol dengan dosen tentang banyak hal yang cerdas. Taehyung sesekali menambahi argumentasi Bogum dengan cerdas. Mereka sempurna; indah surgawi, pintar, dan selalu mendapatkan perhatian.
Sementara Jeongguk? IP-nya selalu pas-pasan; keberuntungan-lah yang membuatnya mendapatkan surat penerimaan dari Imperial College beberapa tahun lalu. Dan bertemu pemuda yang sama-sama berasal dari Korea dan ternyata begitu menarik, menyenangkan, menggairahkan, lucu, manis….
Menggemaskan.
Bukan berarti Jeongguk langsung tahu Taehyung juga adalah seorang homoseksual dalam pertemuan pertamanya. Mereka sedang mabuk saat itu. Sehabis menonton final piala dunia, minum terlalu banyak bir dan makan terlalu banyak kacang tanah kemasan.
Saat itu Taehyung kelihatan cantik sekali dengan wajah merah padam akibat mabuk dan histeria kemenangan sehingga Jeongguk merunduk dan menciumnya. Lima temannya yang lain tidak peduli; semuanya teler di karpet apartemen Taehyung, terlalu mabuk untuk peduli.
Tapi keduanya saling membelit dalam ciuman dan Jeongguk—
Pemuda itu menggeleng keras. Mengenyahkan kenangan indah yang pernah diukirnya bersama Taehyung. Merasakan tubuhnya yang lezat, cokelat madu, hangat, dan beraroma seperti keringat yang autentik.
“Fokus kuliah!” Pikir Jeongguk keras-keras sambil berusaha menatap layar yang sedang menayangkan slide. “Fokus kuliah, fokus kuliah… Apa Taehyung sudah pernah berhubungan seksual dengan Bogum? Tidak, tidak!” Jeongguk menggeleng lebih kuat.
“Fokus kuliah, Jeon Jeongguk! Bangsat kau!” Dia menghela napas kasar kemudian melirik Taehyung dan lehernya yang indah seperti angsa. “Ya Tuhan, lehernya menggoda sekali. Apa ereksinya masih seindah yang dulu? Apakah—YA TUHAN, JEON JEONGGUK!”
Dia sibuk menggeleng-geleng, tidak menyadari Taehyung sedang mengamatinya dari kejauhan dan menyerigai—jelas sangat menikmati perdebatan batin Jeongguk yang terpampang jelas di wajahnya.
*
“Hai, Jeonggukie!”
“Oh. H-Hai, juga Taehyung.”
“Kuliahmu baik?”
“Baik. Trims.”
“Great. See you later, then?”
“O-okay. See you later!”
Jeongguk melambai kecil saat Taehyung melambai padaya dan berjalan menjauh. Bertemu Bogum yang menunggunya lalu saling berangkulan berjalan menuju lapangan. Taehyung selalu menyempatkan diri bermain sepak bola dengan beberapa anak jurusan lain di lapangan.
Setiap sore sepulang kuliah dan Jeongguk akan ada di sana. Persis seperti Adam Levine di video musik Animals yang muncul di mana pun Behati Prinsloo berada, seperti stalker menyedihkan yang layak dihukum penggal. Jeongguk tidak menemukan sisi romantis dari video musik itu, mengerikan.
Dan coba tebak, siapa sekarang yang melakukan hal yang sama persis?
Jeon Jeongguk.
Hari ini pun begitu, dengan langkah yang sedikit ragu-ragu—awalnya, Jeon Jeongguk beranjak menuju lapangan. Mengikuti Taehyung yang sedang menentang sepatu sepak bolanya. Menggunakan sandal jepit yang entah kenapa kelihatan seksi di mata Jeongguk. Bagaimana kakinya yang kurus terpapar udara dalam balutan celana jersey yang tipis dan tertiup angin. Dia sedang bicara dengan Bogum, kepala mereka dekat sekali hingga Jeongguk jengkel.
Kapan sih pasangan itu tidak bicara dan tertawa seperti dua alien yang berbicara bahasa asing yang hanya difahami mereka berdua?
“Nama siapa yang diteriakkan Taehyung saat orgasme? Kuharap itu Jeon Jeongguk. Pengucapannya seksi di bibir Taehyung. Dan—OKE. Fokus kuliah!” Jeongguk mendesah keras sambil membulatkan tekadnya, untuk kesekian kalinya.
Dia menghela napas, berbalik dan sudah siap melangkah menjauhi lapangan—pulang ke apartemennya dan mungkin bermain satu-dua game dengan Yugyeom saat dia kemudian berhenti.
Di tengah lorong dan mendengar sayup-sayup suara tawa indah Taehyung menggema di lorong kampus, ditingkahi suara Bogum. Jeongguk berhenti, menatap kakinya dengan jengkel dan hatinya yang bergemuruh.
Peduli setan.
Jeongguk berbalik dan melangkah panjang-panjang mengejar kedua pasangan yang sekarang sudah hampir tiba ke lapangan. Tangan Bogum melingkar di pinggang kurus Taehyung, meremas pinggulnya dan tertawa. Taehyung menatapnya, senyuman bermain di bibirnya yang indah.
Jeongguk terbakar.
“Kenapa si kadal sial itu tidak bisa tidak menyentuh Taehyung, sih? Sehari saja. Dasar Botak sialan!”
*
“Matanya menempel di bokongmu.”
Taehyung tertawa mendengarnya. “Bukannya matamu juga?” Balasnya melirik Bogum yang memutar bola mata geli.
“Man,” katanya. “Aku bukan tipe manusia yang munafik. Aku menyambut orientasi seksualku dengan pelukan hangat, kemarikan semua lelaki menggemaskan itu. Akan kuciumi semuanya hingga menangis.”
“Kau memang dilahirkan untuk jadi gay.” Taehyung kembali tertawa sambil berjalan di sisi Bogum menuju lapangan sepak bola yang selalu digunakannya setiap pulang kuliah.
Bogum melirik sejenak sambil menggaruk pelipisnya untuk menyamarkannya. “Dia mengikuti kita.” Katanya berbisik, melirik Jeon Jeongguk yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan lasernya, mengikuti dengan sangat terang-terangan.
Dia bahkan tidak berusaha menyamarkan tingkahnya sama sekali.
“Well, kau tahu, 'kan, apa yang harus dilakukan?” Taehyung meliriknya penuh makna dan Bogum tersenyum lebar.
“Oh, aku mulai suka pekerjaanku.” Katanya serak lalu memukul pantat Taehyung dengan suara teredam dan meremasnya dengan hangat. “Dan kau sendiri yang menjelaskannya ini pada pacarku, oke?”
Taehyung mengedip. “Always.”
*
“Si Botak sialan!”
Bola mata Jeongguk nyaris saja jatuh ke lantai dan berguling-guling saat menyaksikan tangan berjari kurus milik Bogum mendarat di pantat Taehyung dan meremasnya, dengan begitu bersemangat. Jeongguk menatap geram bagaimana jemari itu terbenam dalam pantat Taehyung yang selembut beledu, montok dan terasa sangat pas di telapak tangan Jeongguk.
Dan Taehyung malah tertawa pada tindakan itu. Tidak mencoba untuk melarangnya.
“Mereka pasti sudah pernah berhubungan seks!” Pikir Jeongguk marah, memicingkan mata seraya mengikuti mereka dengan mata menempel di tangan Bogum di pantat Taehyung.
“Hah, lagi pula si Botak itu tidak akan tahu kalau Taehyung akan sangat tersiksa jika—FOKUS KULIAH!” Napas Jeongguk terdengar kasar saat dia berhenti tiba-tiba di tengah lorong sementara si Park Tangan-Mesum-Sialan Bogum dan Taehyung melanjukan perjalanan mereka.
“Fokus kuliah. Fokus kuliah.” Pikir Jeongguk saat mengamati mereka berjalan semakin jauh. Remasan Bogum semakin kurang ajar, dia mengusap-usapkan ibu jarinya pada permukaan pantat Taehyung dan Taehyung tertawa—menikmatinya.
Dan Jeongguk terbakar cemburu; yang didominasi rasa iri karena tangan Bogum bebas di pantat Taehyung. Pantat yang dulu jadi miliknya. “Fokus kuliah!” Dia mengangguk sambil berpaling menuju arah yang berlawanan; berniat pulang lagi.
Dan kali ini sangat serius.
Dia harus melanjutkan agenda fokus kuliahnya dan lulus tepat waktu.
Dua langkah, dia berhenti dan menoleh ke arah Bogum-Taehyung. Mengumpat kesal, dia berbalik kembali. Mengejar keduanya dengan menyedihkan.
“Taehyung milikku, Haram Jadah mesum!”
*
“Jeongguk!”
Pemuda itu mengerjap; persis seperti maling yang tertangkap basah saat salah satu teman Taehyung, Sammy, memanggilnya dari tengah lapangan. Mereka sedang bertanding, dengan cara yang konyol tapi seksi. Sebelum bertanding, mereka melakukan suit. Yang kalah harus membuka baju seragamnya (berhubung seragam mereka semua sama) agar tidak sulit membedakan kawan dan lawan. Mereka hanya bermain sepak bola mini dengan masing-masing enam pemain.
Dan Taehyung tergabung dalam tim yang tidak mengenakan baju.
Itu bukanlah hal yang sehat untuk Jeongguk. Oh, sama sekali tidak.
“Look at that tummy, so soft. Almost bread-like. For the love of God!” Kutuk Jeongguk saat Taehyung membuka bajunya. Dadanya datar, perutnya datar; semuanya datar. Taehyung bukan tipe pemuda yang suka melakukan olahraga ekstrim membentuk tubuh sejauh ingatan Jeongguk, dia hanya akan pergi ke gym untuk olahraga ringan agar tetap fit.
Tapi frekuensinya membuat kepala Jeongguk rusak.
Jenis rusak yang sangat disukai Jeongguk—sebenarnya. Dan malah menggelembung di tempat yang semakin merusak kepala Jeongguk.
Dia sangat merindukan seks mereka. Bagaimana Jeongguk membenamkan wajahnya di perut Taehyung yang lembut, menciuminya dan menghirup aromanya yang harum dan lembut. Bagaimana Taehyung membelai punggungnya tiap kali Jeongguk mulai merangkak menaunginya. Bagaimana Taehyung mendesahkan namanya tiap kali Jeongguk mulai bergerak...
“Fokus kuliah, Jeon Jeongguk. Fokus kuliah!”
“Kau mau bergabung? Kami kekurangan pemain!” Seru Sammy lagi saat Jeongguk hanya begong dengan mulut ternganga di pinggir lapangan. Dengan postman bag dan polo shirt kusut.
“Hei, Man, nyawamu, oke?” Tanyanya geli karena Jeongguk tak kunjung juga menjawab.
Pemuda itu mengerjap, seolah baru saja ditampar dan menutup mulutnya dengan suara tak! keras rahangnya beradu. “Oke!” Balasnya, mulai berdiri dan bersiap untuk bergabung dalam permainan. “Tim mana yang kekurangan pemain?”
“Timku!” Seru Sammy lagi, senang karena Jeongguk menerima ajakannya. “Tim Taehyung penuh.” Tambahnya karena semua orang—semua orang tahu bagaimana Jeongguk terhadap Taehyung. Dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
Jeongguk menatap Taehyung yang langsung tersenyum ramah padanya. Sial, matahari membuat tubuh pemuda itu semakin indah. Jeongguk mengutuki bakat penggoda Taehyung yang sial itu ke neraka paling jahanam.
“Oke, aku bergabung.” Sahut Jeongguk sambil melompati beberapa tangga dan mendarat di dekat tumpukan tas para pemain. Dia melepas tasnya dan menerima seragam dari salah satu anak buah Taehyung. Dia mengganti polo shirt-nya dengan cepat dan menggulung celananya ke atas, memastikan gulungannya kuat; dia bergabung dengan Sammy yang kelihatan puas melihatnya.
“Oke, kita punya enam-enam!” Katanya bangga pada dirinya sendiri setelah Jeongguk berdiri di sisinya dengan tatapan yang tidak lepas dari Taehyung yang berdiri di hadapannya—kulitnya berdenyar oleh cahaya matahari.
Jeongguk nyaris saja mengerang keras, berguling ke lapangan dan menangisi kehidupannya yang menyedihkan karena tidak bisa memiliki Taehyung di hidupnya.
“Hei, senang melihatmu di lapangan.” Taehyung tersenyum lebar padanya, melambaikan tangannya dengan ramah.
Dampaknya tentu saja buruk pada Jeongguk.
Dia mengutuk ereksinya yang datang tiba-tiba, hanya karena senyuman dan tubuh atas Taehyung yang terpapar udara. Dia menyatat dalam hati, jika tetap begitu, maka dia terpaksa harus puas dengan main solo. Jeongguk membalas senyumnya dengan agak terlambat lalu permainan di mulai.
Permainan yang sangat kacau-balau dan semuanya karena Jeongguk.
Sepanjang permainan, dia tidak bisa tidak menoleh ke Taehyung yang begitu seksi dengan alis berkerut, tubuh berkeringat, dan suara yang menggelegar memanggil anak buahnya. Dia berlari selincah peri saat membawa bola.
Sekali, Jeongguk menerima operan bola dari Nicholas, si plontos berkulit keemasan seksi dan bukannya membawanya ke gawang lawan atau mengopernya ke temannya, dia malah mengoper bolanya ke Taehyung yang menerimanya dengan kaget lalu tersenyum lebar sekali.
Oh, dia nampak sangat indah saat tersenyum. Bersinar.
“Terima kasih, Sayang!” Katanya lalu terbahak dan berlari membawa bola ke gawang tim Jeongguk; berhasil membobolnya dengan tendangan manis yang tidak sanggup digagalkan keeper.
“Jeon Jeongguk, demi Tuhan!” Seru Sammy dengan suara tersengal, wajahnya memerah dan dia nampak sangat gusar. “Bisakah kau membedakan lawan dan kawanmu?!”
Jeongguk meringis. “Maaf, Sam!” Katanya sambil membungkuk meminta maaf ala Asia dan Sammy memutar bola matanya pada Jeongguk sebelum kembali memasang posisi menyerang.
Akhirnya pertandingan dimenangkan tim Taehyung, tentu saja.
Keenamnya bersorak sambil bertukar high-five sementara tim Jeongguk berbaring di rumput sambil mengatur napasnya. Setelah kejadian salah oper pertamanya, Jeongguk tidak pernah mendapat operan bola lagi dan Jeongguk menghabiskan waktunya berdiri di depan keeper dan mengobrol dengannya. Berusaha mengalihkan pikirannya dari betapa indahnya tubuh Taehyung dan ereksinya sendiri yang begitu menganggu.
Dan itu membuat konsentrasi keeper buyar selama pertandingan dan tim Taehyung sukses membabat habis tim mereka dengan tendangan beruntun.
“Maafkan aku, Sam.” Gumam Jeongguk pada kaptennya yang berbaring lelah di sisinya.
“Itu oke,” kata Sam serak, tersenyum kecil. “Tidak masalah. Ini hanya latihan untuk bersenang-senang. Jangan terlalu dipikirkan.”
Jeongguk tersenyum kecil lalu mengangkat tubuhnya duduk dan dia langsung berhadapan dengan Taehyung yang duduk tepat digaris lurus dengannya. Sedang meneguk isi botol air mineral dengan tubuh separo telanjang yang basah oleh keringat.
Pemuda itu kelihatan semanis gula batu yang harus disesap perlahan-lahan untuk mendapatkan rasa manisnya. Dan Jeongguk tergoda untuk melakukannya.
Tapi dia kemudian kembali teringat agendanya yang sudah terlalu sering berantakan dan kembali menegaskan bahwa dirinya harus fokus kuliah. Dia akan segera mencari seseorang untuk satu one night stand yang lezat dan melupakan Taehyung.
Menamatkan studinya dengan gemilang, kembali ke Seoul, dan menjadi dokter yang berbakat. Mungkin akan mengikuti jejak Yugyeom untuk melanjutkan gelar spesialisnya. Berencana untuk mengambil spesialis penyakit dalam untuk mempelajari organ dalam manusia. Sempurna.
Mungkin juga akan mencari tahu bagaimana bisa Kim Taehyung tampak begitu seksi sehingga membuatnya ereksi (Jeongguk diam sejenak karena dua kata itu berima; Taehyung yang seksi, selalu membuat Jeongguk ereksi.) Hormon mana yang sekiranya berperan? Bagaimana hormon itu membuat ereksi? Menaikkan otot-otot hingga tubuhnya menegang? Kenapa dia tidak tahu ini? Padahal dia calon dokter?
Sial.
Jeongguk harus bermain solo. Segera.
*
Cara yang baik untuk bermain solo adalah berkonsentrasi pada dirimu sendiri dan jangan pedulikan sekitarmu.
Bahkan jika saat ini kau sedang berada di kamar mandi indoor yang sedang digunakan total dua belas orang. Dua bilik di sisi-sisimu terisi; dengan suara obrolan, nyanyian, dan gemericik air. Jeongguk sengaja menyalakan shower saat bermain sehingga orang-orang mengiranya sedang mandi.
Jeongguk berusaha kuat untuk berkonsentrasi pada kenikmatan yang menjalar di tubuhnya alih-alih berkonsentrasi pada suara ribut disekitarnya. Itu bisa menghancurkan semua kenikmatan yang sedang dibangunnya.
Rasa nikmat yang sekarang menetes ke dasar perutnya dan siap untuk meledakkannya menjadi jutaan keping. Jeongguk mempercepat tangannya sendiri sambil menjaga bibirnya tetap rapat.
Sedikit lagi…
Sedikit lagi….
Dan….
“Jeon Jeongguk?”
SIAL!
Jeongguk nyaris saja meraung karena gagal orgasme. Dia dikejutkan oleh gedoran di pintu bilik yang digunakannya dan tersengal saat orgasme yang susah payah dikejarnya itu meredup lalu lenyap seketika sebelum bahkan sempat keluar. Dia mengguyur kepalanya di shower untuk menjernihkan kepalanya dan mencoba mengatur dirinya sendiri agar tidak membentak siapa saja yang berani-beraninya menganggu pekerjaannya.
“Konsentrasi…,” pikirnya, bernapas melalui mulutnya. Berusah mengenyahkan sakit kepalanya dan tubuhnya yang berdenyut kecewa. “Konsentrasi…,”
Lalu dia menjawab dengan suara yang gemetar. “Ya?”
“Oh, syukurlah. Kupikir terjadi sesuatu denganmu.”
Sial, itu Kim Taehyung.
Dari semua orang, kenapa harus Kim Taehyung?
“Aku baik.” Jeongguk mengusap wajahnya yang basah dan memilih untuk mandi sambil mengamati tubuhnya yang sudah melemas.
Kenapa sulit sekali untuk berbuat baik? Menjadi manusia yang menjauhi dosa? Dia hanya ingin hidup damai, belajar dengan giat dan lulus dengan gemilang. Tidak susah, ‘kan?
“Apakah kau sudah selesai? Aku harus mengunci ruangannya.”
Apa? “Apa?”
“Semuanya sudah pulang. Kau terlalu lama di kamar mandi. Kupikir kau tadi pingsan. Jadi aku terpaksa menggedor pintunya.”
Jeongguk bergegas menyudahi mandi dengan terburu-buru dan menyambar handuknya di dinding bilik, melilitkannya di pinggangnya dan menyentakkan pintunya terbuka. Langsung berhadapan dengan tubuh mungil Taehyung yang lembap oleh air dan aroma sabun mandi yang segar. Berdiri dengan pakaiannya yang rapi, menunggu Jeongguk.
Merasakan Taehyung begitu dekat, aromanya yang menggoda, senyumannya, hangat kulitnya, belum lagi karena acara gagal-orgasme tadi, membuat Jeongguk ereksi dengan cepat. Orgasmenya yang tadi pergi, kini kembali dengan wujud pemuda seksi dengan wajah kebingungan di hadapannya. Mendapati ruangan itu kosong membuat Jeongguk semakin tersiksa.
Taehyung tersenyum. “Kau bisa berganti baju. Aku akan menunggumu.” Katanya sambil melambaikan kunci ruangan indoor yang bergemericing dengan ceria. Dia berjalan menjauh; memberikan ruang bagi Jeongguk dan tubuh sialannya yang tidak mau tidur.
“Taehyung?”
Suara Jeongguk terdengar serak dan tersiksa.
Taehyung berhenti dan menoleh. “Ya?” Tanyanya ramah.
Peduli setan pada agendanya atau pada ancaman ayahnya yang akan menjadikan kepalanya sebagai hiasan gantung; Jeongguk harus menyelesaikan ini.
Jadi, dia beranjak mendekati Taehyung dan menyentakkan pemuda itu ke tubuhnya. Handuk terlepas dan mendarat di antara mereka. Dia bisa mendengar Taehyung menahan napasnya dengan suara terkesirap keras yang indah sekali. Tangan Jeongguk meluncur ke pangkal pahanya dan meremas dengan lembut.
“Aku merindukanmu, dasar kau sialan.” Sengal Jeongguk di telinganya saat Taehyung mendongak dengan bibir terkuak oleh gairah, desahan pertama meloloskan diri dari bibirnya dan Jeongguk mengumpat saat menyadari Taehyung masih seindah dulu.
“Kupikir kau masih sibuk dengan agenda fokus kuliahmu.” Gumam Taehyung sambil menikmati rangsangan yang diberikan Jeongguk dengan tangannya yang terasa sangat akrab di tubuhnya yang meremang.
“Peduli setan.” Gumam Jeongguk merunduk dan membenamkan wajahnya di leher Taehyung. “Aku harus memilikimu.” Dia menarik Taehyung ke dalam bilik dan melepas pakaiannya dengan kebutuhan yang naik ke ubun-ubun, nyaris membuat kepalanya pecah.
Dengan lincah dan tangan yang akrab dengan tubuh Taehyung, pemuda itu memetanya. Membelai, menggoda, dan menjilatnya lembut. Taehyung mengeluarkan suara-suara erang nikmat yang membelai egoisme serta telinga Jeongguk. Ereksinya semakin menyiksa. Dan Jeongguk selalu tahu, mulut Taehyung selalu lebih nikmat daripada tangannya sendiri.
Ketika Taehyung mengecupnya; Jeongguk merasa dia bisa saja mati karena kenikmatan. Bagaimana bibir lembap itu mengecupi ujungnya dan menjilatny lembut. Dan Jeongguk menggeram dalam seperti seekor singa yang teritorinya diganggu menahan semua gairahnya.
“Jadi,” Taehyung menatap keperkasaan Jeongguk di genggamannya dengan tatapan melamun dan memijatnya lembut. “Sejak tadi kau sedang bermain solo, ya?” Gumamnya.
Jeongguk tersengal di atasnya. Desahannya membuat Taehyung merinding. “Jangan main-main dengan ereksiku, Taehyung.” Katanya menggeram lalu mendesah keras saat Taehyung meremasnya.
“Aku, ‘kan, hanya bertanya. Tidak perlu sewot begitu.” Sahut Taehyung lagi dengan nada kalem yang menyebalkan sebelum membuka mulutnya dan memberikan Jeongguk blowjob terhebat di dunia.
Desahan Jeongguk lepas dan dia meradang oleh kenikmatan. Di sana.
Di lantai kamar mandi dengan air yang menetes dari shower. Pinggiran bibir Taehyung menggesek kulitnya yang sensitif; membuat jutaan rasa meledak dalam dirinya. Bagaimana bisa dia meninggalkan pemuda dengan kualitas blowjob terhebat se-London ini?
Jeongguk terengah saat mendorong Taehyung bersandar ke dinding bilik dan menatap tubuhnya yang lembap. “Dasar setan kecil sialan.” Geramnya serak dengan kepala berdentam-dentam oleh gairah.
Taehyung merona saat menatap keadaan Jeongguk yang mengenaskan. Wajah memerah oleh gairah, selapis keringat di keningnya, juga ereksinya yang tersiksa. Bibirnya membentuk senyuman simpul jahat. Senang mengetahui bahwa dia bisa menyiksa Jeongguk.
Menarik celananya, Jeongguk menatap tubuh Taehyung. “Ah,” komentarnya sopan saat menyentuh bagian tubuh Taehyung yang menegang hingga lelaki itu mendesah keras.
“Sudah ereksi karena blowjob-nya, ya?” Dia memainkan jemarinya dengan ahli; dia selalu tahu dimana tempat yang tepat untuk menyentuh Taehyung dan membuatnya mendesah seperti orang gila.
“Aku tidak peduli apakah kau siap atau tidak, but here I come.” Bisik Jeongguk di telinganya sambil membelai Taehyung dengan jemarinya. Desahan demi desahan lolos dari bibir Taehyung; wajahnya merah padam sementara jemarinya meremas rambut Jeongguk.
“Kau sebaiknya mempersiapkan diri. Rindu yang kutahan tidak akan baik hati padamu.”
*
Kedua orang itu berdiri di depan pintu apartemen yang terkuak. Salah satunya berambut cepak hitam dan yang satunya hanya menggunakan celana piyama longgar yang tipis dan seksi dengan bagian tubuh atasnya terpapar udara. Rambutnya acak-acakan dan berwajah mengantuk, bengkak karena tidurnya yang pasti sangat nyenyak.
“Agendamu sukses?”
“Tentu saja.”
“Aku sudah duga si Dungu Jeon Jeongguk itu tidak akan bisa fokus kuliah.”
“Jangan sebut dia dungu.”
“Baiklah, inferior.”
“Kau hanya memperhalusnya saja.”
“Menurutmu aku harus menyebutnya pintar saat dia membohongi dirinya sendiri bahwa penis sialannya itu selalu ereksi saat melihatmu?”
“Bahasamu, Park Bogum.”
“Yah, persetan.”
“Dia sedang berusaha dan kita seharusnya menghargai usahanya untuk berubah. Dia ingin kuliah, ingin pintar dan lulus dengan gemilang.”
“Usaha yang menyedihkan, jika kau bertanya padaku.”
“Berita bagusnya, aku tidak bertanya padamu.” Taehyung menyerigai. “Setidaknya dia akhirnya kembali padaku. Ya, ‘kan?”
Bogum memutar bola matanya. “Ya, dia kembali padamu. Dasar mengerikan.”
Taehyung tertawa. “Sampaikan salamku pada pacarmu.”
Bogum mengangguk. “Bukankah kau punya satu ereksi lagi yang harus diselesaikan?” Dia mengerling ke kamar Taehyung yang pintunya terkuak.
Ada sepotong tubuh lelaki yang mengintip dari bawah selimut yang awut-awutan. Taehyung memberikannya ekspresi paling menggoda yang membuat Bogum kembali memutar bola mata.
“Sana,” Bogum mengendikkan dagunya ke dalam kamar. “Beri dia blowjob, handjob, atau job-job apa pun entah yang diinginkannya. Aku akan kembali ke pacarku sebelum terpaksa meminjam kamar mandi untuk bermain solo.”
Tawa Taehyung terdengan tinggi dan ceria.
Bogum menatapnya dengan geli, mengamati wajah Taehyung yang akhirnya kembali ceria setelah tiga minggu lalu menangis di hadapannya setelah Jeongguk mengakhiri hubungan mereka dan Bogum sendiri yang memberikannya ide untuk berpura-pura pacaran, mengetes seberapa hebatnya Jeon Jeongguk membohongi dirinya sendiri bahwa dia menginginkan Taehyung.
Dan di sinilah mereka sekarang. Taehyung dan Jeongguk yang bahagia dengan kehidupan seksual mereka.
“Tu l’as aime?” Kau menyukainya?
“Je t’aime.” Balas Taehyung mengedip sebelum membanting pintu tertutup di depan wajah Bogum yang sedang menggeleng-geleng geli sebelum berbalik dan pulang.
Tugasnya selesai.
*