eclairedelange

i write.

Apollo #63

*

Catatan: Mohon untuk kebijakan pembaca dalam menyikapi narasi ini. Terima kasih.

*

Jantung Natan menonjok tenggorokannya, membuatnya mual saat dia menutup pintu kosannya dan berbalik ke arah gerbang—menemukan Raditya sudah duduk di atas motornya. Helmnya diletakkan di atas tangki, ada tas besar di punggungnya yang menggelembung terisi helm dan dia sedang mendongak ke arah kamar Natan.

Mereka bertemu pandang.

I like you so much my whole body hurts missing you the whole week.

Natan menelan ludahnya, kenapa dia merasa begitu gugup? Ini hanya Raditya, bukankah dia biasa begini?

Apa yang harus ditakutkan?

Raditya mengulaskan senyuman dan nampak segar dengan sebotol minuman di tangannya. Saat Natan menuruni tangga dua-dua, mengancingkan jaketnya rapat-rapat, Raditya sedang meneguk isinya dan bergidik karenanya.

Natan tiba di sisinya; mencium aroma segar dari tubuh Raditya dan secercah aroma parfum kabin pesawat.

Jadi dia memang baru tiba dari bandara. Tapi dari mana? Terbang ke mana dia satu minggu kemarin?

“Hei.” Sapa Raditya serak dan Natan merinding mendengar betapa berat dan menakjubkannya suara Raditya.

Dia lalu menyelipkan botol minumnya ke belakang plat nomor motornya dan melepaskan tasnya. Menarik zipper-nya hingga membuka lalu mengeluarkan helm untuk Natan.

“Kau sudah mengenakan pakaian yang hangat, 'kan?” Tanyanya lembut, mengulurkan helm di tangannya. “Kita jalan-jalan.”

Natan mengangguk, merasa kikuk dan tegang. Menyesali apa yang dikatakannya di obrolan mereka tadi. Kenapa dia tidak diam saja, sih? Bersikap seperti yang dianjurkan Yogi—jika Raditya membalas pesannya, maka Natan membalas. Jika tidak, maka Natan diam.

Namun dia malah bersikap impulsif dengan mengirimkan begitu banyak pesan yang membuat harga dirinya jatuh terseret ke tanah. Natan sungguh tidak tahu apa yang sedang merasuki kepala sialannya hingga dia berpikir melakukan itu adalah hal yang oke.

Dan untuk membuat suasana semakin kacau, Raditya menanggapinya.

“Naiklah.” Raditya menatapnya. Memasukkan botol minumnya yang sekilas tercium seperti jus apel yang berwarna keemasan. “Kita akan pergi lumayan jauh, kuharap kau siap?”

Natan mendesah, mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya dan mengenakan helmnya yang tercium harum seperti campuran keringat dan parfum Raditya—mengungkungnya selama perjalanan menuju tempat yang tidak diketahuinya.

Mereka membelah jalanan malam Yogyakarta yang berkelip semakin ramai. Melintasi Malioboro yang ramai dan macet seperti biasa namun membelok ke Jalan Mataram yang relatif lebih lancar, lalu terus lurus ke kawasan yang belum pernah dijamah Natan sama sekali.

Dia duduk di bagian belakang Ninja Raditya yang berderum seperti hewan liar. Tangannya diletakkan di sisi tubuhnya dengan kikuk—tidak yakin harus meletakkannya di mana sementara wajahnya diterpa angin malam dan debu jalanan. Di depan, Raditya membungkuk mengemudi dengan tenang.

Ini pertama kalinya Natan menaiki sepeda motor dan dia menyukai bagaimana keras suara yang didengarnya—suara lalu-lintas dan jalanan, angin yang menerpa wajahnya dan begitu banyak aroma. Terkadang menyenangkan saat mereka melewati warung tenda atau restoran, namun terkadang juga tidak menyenangkan. Dia suka begitu banyak aroma dan angin yang dirasakannya, tidak seperti mobil yang membatasi interaksi indranya pada sekitar.

Dan karena bukan Natan yang mengemudi, jadi dia bisa puas memandangi kiri dan kanannya. Menikmati perjalanan baru yang panjang dan jauh dengan punggung tegap Raditya di hadapannya, membungkuk mengendarai motornya membelah jalanan yang remang-remang. Dingin, namun Natan tidak mempermasalahkannya.

Mereka tidak banyak bicara. Lebih karena hal-hal yang mereka akan bicarakan mungkin lebih baik dilakukan saat mereka duduk bersama. Tidak saat berkendara dan harus berteriak pada satu sama lain mengalahkan suara lalu-lintas yang padat.

Natan mendongak, langit malam itu cerah. Nyaris biru tua dengan bintang menghampar di seluruh penjuru seperti percikan warna. Berkelip-kelip, mengedip padanya dan dia merasa kebas oleh perasaan aneh yang tidak dipahaminya.

Semenjak mengenal Raditya hari itu, dia merasa hidupnya jungkir-balik. Bagaimana Raditya dan pesonannya telah membuat Natan rentan. Dia tersenyum, bersikap lembut dan ceria mengimbangi Natan sendiri.

“Kau mengingatkanku pada Ayahku.” Begitu Raditya selalu memujinya.

Lalu apakah sekarang Natan siap dengan segala tanjakan serta turunan yang mungkin dilaluinya jika dia bersama Raditya? Menghilang berhari-hari tanpa siapa pun mengetahui di mana dia, apa yang dilakukannya, berapa lama dia akan menghilang.....?

Apakah Natan cukup berani untuk meletakkan hatinya di tangan pemuda misterius ini?

Dia tentu tidak ingin bernasib seperti Ariadne.

Perlahan, kerlip kota mulai mengabur dan lenyap. Mereka menjauh, meninggalkan perkotaan yang hiruk-pikuk. Suasana jadi semakin sepi dan khusyuk dengan suara binatang malam yang nyaring. Satu-dua motor melewati mereka namun sisanya, mereka sendiri. Membelah jalanan yang gelap dan panjang, dengan penerangan jalan yang temaram.

Mungkin romantis, mungkin juga mengerikan.

Mereka melintasi jalanan yang lebih sepi dengan persawahan yang mengapit jalanan itu. Di tengah malam, sulit bagi Natan untuk mengenali jalan itu namun dia berhasil melakukannya saat motor berbelok ke kanan, jalan kecil yang akan selalu dikenalinya.

Dia belum terlalu sering datang kemari dan tentu juga tidak pada tengah malam.

“Kita ke Ganjuran?” Tanya Natan mengerjap, kebingungan karena baru menyadari jalanan yang tadi mereka lewati. “Aku belum pernah lewat jalan tadi?”

“Satu-satunya tempat yang membuatku tenang.” Raditya menjawab dengan suara teredam helm full-face dan derum motornya.

“Kau pasti ke Ganjuran lewat Ring Road, ya?” Tambahnya, terdengar geli dan Natan mau tidak mau, tersenyum bersamanya. “Padahal jika kau lewat Jalan Mataram dan lurus terus, melewati Prawirotaman; kau sudah tiba di Jalan Parangtritis, lebih cepat daripada memutar lewat Janti dan Ring Road. Jalan pintas.” Dia menoleh sedikit, membiarkan Natan melihat matanya yang berkilau oleh senyumannya.

Mudah sekali bersama Raditya saat dia tidak bersikap bajingan dengan menghilang begitu saja. Pembawaannya menyenangkan, ceria, banyak bicara dan mengayomi. Tidak heran jika dia sangat terkenal dikalangan mahasiswa Sastra Inggris dengan pembawaan ini.

Namun entah kenapa sebelum hari itu, Natan tidak pernah bertemu dengannya. Apakah dia baru saja cuti? Atau menghilang? Bagaimana dia bisa menjadi ketua HMPS dengan track record begitu?

Ada banyak hal yang ingin ditanyakan Natan dan dia tahu, malam inilah saatnya.

Mereka membelok ke halaman parkir Ganjuran dan Natan untuk pertama kalinya tiba di tempat itu dalam suasana heningnya malam.

Menakjubkan bagaimana tempat itu berubah menjadi begitu magis dan menenangkan. Lampu-lampu keemasan yang menerangi tempat itu dengan temaram tidak membuatnya menakutkan sama sekali. Mengundang hati yang lelah untuk bernaung di bawahnya, mengucap syukur dan melepas kelelahan satu hari.

Mungkin karena dia tahu, di sana ada Tuhan. Seperti di semua tempat lain, saat Tuhan berdebar di hatinya—setiap saat bersamanya.

Natan berdiri di sisi motor saat Raditya mengunci motornya dan meletakkan helm mereka di atas motornya sebelum menyugar rambutnya yang keemasan, meluruh jatuh membingkai wajah dan keningnya yang rupawan.

“Ayo.” Ajaknya, menyimpan kunci motornya di saku dan tersenyum. “Kau belum pernah ke sini saat malam, 'kan?”

Natan menyejajari langkahnya. “Belum.” Sahutnya, merapatkan jaketnya karena tiupan udara yang dingin.

“Yah, selamat datang di Ganjuran pada malam hari.” Raditya tersenyum lebar.

Menakjubkan bagaimana suasana teduh dan tenang tempat itu membuat obrolan mereka menjadi intim dan akrab. Menyentuh bagian-bagian yang selama ini segan untuk ditanyakan Natan.

“Tapi aku suka tempat ini. Menenangkan, bukan? Aku suka menghabiskan malam di sini sendirian. Mengistirahatkan diri setelah....” Dia sejenak nampak kesulitan memilih kata dan Natan sangat menyadari itu, sebelum mengatakan, “Yah. Beberapa hal.” Tandasnya, tersenyum lebar.

“Tempat ini begitu menenangkan untuk begitu banyak orang—aku tidak jarang berkenalan dengan umat-umat lain yang datang kemari untuk healing dan beryoga dalam suasana magis ini.”

Penerangan lumayan terang dengan lampu-lampu LED berjejer di wilayah tempat berdoa yang menghadap langsung ke candi. Pepohonan pinus yang menjulang berdesir karena udara malam, bergemerisik seperti bisik-bisik malam yang menenangkan.

“Aku juga suka kemari.” Sahut Natan, menatap pucuk-pucuk pinus yang menari bersama angin malam, disinari cahaya lampu-lampu yang terang. “Menenangkan.” Dia setuju. “Membuatmu... merasa tidak ada yang tidak bisa dilakukan setelah ini.”

“Benar.” Raditya setuju. “Aku tidak tahu aku harus mengajakmu ke mana dan tempat mana yang nyaman dikunjungi pada malam hari. Yang terpikirkan olehku hanya tempat ini, tempat favoritku. Dan ternyata adalah tempat favoritmu juga.”

“Favorit... kita?” Coba Natan dan mengerlingnya, untuk mengecek reaksinya dan Raditya tertawa serak. Suaranya begitu menenangkan—dia begitu sering lenyap tanpa kabar hingga Natan takut berharap padanya.

Takut berbahagia karena dia mungkin akan bersedih keesokan harinya karena Raditya kembali menghilang seolah tidak pernah hidup di dunia yang sama dengan Natan.

Mereka berpandangan. “Favorit kita.” Raditya mengangguk setuju.

Tidak ada suara keras, semua orang berbicara dengan suara lembut yang menenangkan agar tidak menganggu kekhusyukan umat yang sedang berdoa. Natan merogoh waist-bag-nya, mengeluarkan Rosario merah yang selalu disimpannya di kantung kecil bagian dalam.

Keheningan, keteduhan dan ketenangan Ganjuran selalu membuat Natan rileks. Dia suka datang ke sini ketika gundah dan butuh jawaban, menenangkan diri. Tapi dia belum pernah kemari dalam suasana malam yang semakin teduh dan semakin menenangkan. Kenapa tidak pernah terpikirkan olehnya?

“Silakan berdoa. Ambil waktu sebanyak mungkin.” Raditya tersenyum. “Aku akan menunggumu di sini.” Dia berdiri di depan pendopo Ganjuran, terpisahkan halaman yang luas. Jauh di luar tempat ibadah yang khusyuk.

Dia mengeluarkan botol minumnya tadi dan duduk di salah satu anak tangga, siap menunggu seperti anak baik. Kedua sikunya ditumpukan di lututnya yang menekuk dan kilau di matanya tidak pernah lenyap.

“Kau tidak berdoa bersamaku?” Tanya Natan.

Raditya menggeleng. “Tidak. Ini giliranmu.” Dia tersenyum. “Aku hanya mengantarmu.” Dia diam sejenak lalu menambahkan, “Setelahnya, mari kita mengobrol.”

Maka Natan menatapnya, tepat di mata. Mereka berdiri di sana, dalam suasana hening Ganjuran—terpisahkan beberapa meter dengan mata bertautan.

Dan Natan merasakan desiran hangat di dadanya, merasakan desiran hangat di seluruh sistemnya saat dia menyadari bahwa dia mungkin sedang jatuh sangat dalam pada tatapan teduh Raditya.

Mungkin belum tiba pada titik di mana dia siap terjun ke sungai Styx tanpa berpegangan sama sekali, membiarkan seluruh otot dan belulang fananya meleleh, lebur dalam arus Styx yang melumpuhkan demi Raditya.

Tapi dia cukup yakin dia akan tiba di titik itu suatu hari nanti. Namun, saat ini pertanyaannya adalah:

Akankah Raditya melakukan hal yang sama?

*

Apollo #53

Sudah seminggu Raditya tidak membalas pesan Natan.

Sudah seminggu juga dia tidak nampak di mana pun di sekitar kampus.

Natan mungkin sudah berusaha membuat dirinya sendiri bersikap natural saat melewati ruangan HMPS dan melirik ke dalamnya hanya untuk mendapati Converse milik Raditya tidak ada.

Begitu pun saat melewati parkiran motor, motornya tidak nampak di mana pun.

Arjuna bilang dia belum kembali sejak terakhir mereka bertemu. Tidak bisa dihubungi sama sekali karena ponselnya tidak aktif dan tidak ada tanda apakah dia hidup atau tidak.

Dia seolah lenyap dari dunia. Tidak ada yang bisa menghubunginya, tidak ada yang tahu kontak orangtuanya.

Ayahku sibuk, jadi kami jarang bertemu.” Begitu katanya pada Natan, hari itu—jutaan tahun lalu saat mereka duduk bersisian dalam mobil Natan, mendengarkan lagu pop Indonesia yang berkeresak dari radio.

Natan mulai uring-uringan.

Lebih karena percakapan terakhir mereka yang begitu mengundang banyak sekali pertanyaan—apakah pemuda itu sungguh serius dengan pernyataannya?

Atau dia hanya sedang mempermainkan Natan seperti bagaimana dia pergi daring dan luring sesuka hatinya kapan pun dia mau?

Sudah seminggu pula Natan memelototi ponselnya, berusaha membakar benda itu dengan tatapannya atau setidaknya membuat Raditya sadar bahwa ada seseorang yang menunggunya memberi kabar.

Namun ponselnya tetap bisu.

Twitter Raditya pun sepi. Dia hanya punya 1 cuitan, tentang terjun ke dalam sungai Styx dan Hades bangga padanya.

Hanya itu.

Natan mendesah keras, duduk di kursi strategisnya di dekat jendela untuk kelas Morphosyntax mereka bersama Miss Sisca, dosen muda mereka yang nyentrik dan lincah menjelaskan.

Raditya tidak muncul pada kerja kelompok mereka. Jadi mereka terpaksa harus mengeluarkan nama Raditya dari grup sesuai perjanjian di kelas dan menjelaskan pada dosen mereka bahwa pemuda itu tidak bisa dihubungi.

“Selalu begitu,” keluh dosen mereka memijat keningnya. Nampak sudah tidak lagi terkejut dengan laporan dari mahasiswanya tentang Raditya yang tiba-tiba menghilang. “Dia sebenarnya ingin lulus tidak, sih?” Gumamnya lalu melambaikan tangan, berterima kasih pada Yogi.

“Mungkin dia gembong narkoba?” Kata Indra hari itu saat mereka makan di Ayam Geprek Bu Rum 1, di Papringan yang ramai saat jam makan siang.

Aroma ayam goreng yang lezat mendominasi udara di sekitar mereka. Panasnya warung tenda kecil yang ramai, aroma pedas cabai yang diulek di sudut, denting peralatan makan yang dicuci. Obrolan orang-orang di sekitar yang menikmati makan siang mereka serta suara tiupan peluit tukang parkir yang nyaring dari waktu ke waktu menemani makan siang mereka bertiga.

Ngawur!” Yogi melotot sementara Natan tersedak ayam geprek pedasnya.

“Lalu apa lagi?” Indra mengerang. “Dia hilang sudah satu minggu! Bukan berarti aku peduli, ya? Maksudku, tim Morpho kita jadi macet, 'kan?? Apa, sih, sulitnya mengirimkan Whatsapp?”

Kunyahan Natan melambat mendengarnya, dia menatap ayam di piringnya dengan alis berkerut—memikirkan kata-kata Indra dengan saksama.

Kenapa dia tidak menggunakan ponselnya?

Ini 2020, bagaimana mungkin seseorang tidak... bergantung pada ponsel? Bagaimana mungkin dia tidak terkena nomophobia seperti orang-orang kebanyakan?

Can you please be a little more patient with me?

Natan tiba-tiba mengerang keras dan kedua temannya menoleh kaget, sekaligus setengah isi warung tenda yang sedang mereka datangi.

“Apa, sih?” Gerutu Yogi, kaget. “Apa yang salah padamu?”

“Raditya menyebalkan.” Keluh Natan mengerang keras.

“Mulai, deh, merengeknya.” Inda memutar bola matanya lalu mengaduh saat Natan menginjak kakinya di bawah meja. “Itu sakit, Bodoh!”

Natan menumpukan dagunya di meja. “Memangnya orang macam apa yang bisa tidak... memegang ponsel? Satu minggu penuh?”

“Persis.” Indra menjentikkan garpunya ke kepala Natan yang mengaduh. “Gebetanmu memang beda.”

“Bukan gebetan.”

“Oh, bukan?”

Belum!” Koreksinya seketika itu juga.

Kedua temannya mendadak terkena serangan batuk panjang anehnya yang terdengar persis seperti tawa dan Natan harus menahan diri agar tidak melepas sepatunya lalu melempar benda itu ke kepala teman-temannya.

Joke aside,” kata Yogi kemudian setelah tawa mereka reda. “Dia sama sekali tidak mengabarimu?”

Natan menggeleng, lemah.

“Sama sekali?”

“Sama sekali.”

“Setelah mengatakan... itu padamu?”

Natan mengangguk, sekarang makanan favoritnya nampak begitu menjijikkan hingga dia akhirnya berhenti makan. Menyingkirkan piringnya menjauh dengan jijik. Rasa khawatir, penasaran dan juga takut bergumul di dasar perutnya—membuatnya bergidik.

Sedang apa Raditya? Di mana pun dia berada?

“Terkadang sabar pun harus ada alasannya, 'kan?” Indra menandaskan es jeruknya dan bersendawa kecil lalu membisikkan syukur. “Memangnya siapa yang mau terus dan terus menunggu begitu saja tanpa diberitahu kenapa dia harus menunggu?”

“Rasanya membuat frustasi.” Keluh Natan. “Dia melempar bom lalu kabur begitu saja. Maksudnya... Apakah menurutnya aku tidak layak mendapat penjelasan?”

Dia mendongak, menatap kedua sahabatnya lekat-lekat dan bergiliran. Namun keduanya tidak memberikan jawaban sama sekali.

“Kata Kak Jun?”

Natan mengendikkan bahu. Mengangkat kedua lengannya membentuk tanda kutip di udara, “'Dia memang biasa begitu. Dia pasti pulang, Natan.'” Dia menurunkan tangannya. “Tidak membantu.” Dia kembali menumpukan dagunya di meja dengan suara duk! keras.

“Tadi aku ke Sekretariat, mengurus jadwalku yang tabrakan dan aku mendengar keluhan mereka tentang Raditya.” Indra menambahkan kemudian dan kedua temannya menoleh, mendengarkan dengan seksama.

“Dia sudah terlalu sering melewatan kelas. Bolos tanpa penjelasan. Tugas-tugas terbengkalai dan sebagainya. Dia bahkan belum lulus kelas Pronunciation, Sob.”

“Itu, 'kan, mata kuliah semester 1?!” Yogi menatapnya, kaget.

“Persis.” Indra menjentikkan jarinya. “Aku bertemu Miss Venti di depan kantin dan memancingnya bercerita tentang Raditya setelah mendengar itu. Nampaknya 1 fakultas sudah benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan pada Raditya.”

Keduanya kemudian menatap Natan.

“Aku tidak bermaksud kasar,” Yogi berkata kemudian. “Tapi apakah kau... siap dengan hal-hal semacam itu jika kedepannya... kalian bersama? Hilang berhari-hari, dicekal fakultas—entahlah, dia terdengar... tidak sehat untukmu.”

“Jika kau paham maksudku.” Tambahnya kemudian dan Natan mengangguk lalu menatap keduanya tidak berdaya.

Raditya yang tampan tak terperi.

Raditya yang tenang, memesona dan begitu menakjubkan—nampak luwes bahkan saat diam. Tubuh langsingnya yang indah, tawanya yang menyejukkan, kerlip matanya saat dia tertawa.

Dia begitu memesona hingga Natan takut dia sedang bermimpi dan saat dia membuka mata, Raditya tidak pernah ada di sisinya sama sekali.

Namun dia juga begitu misterius. Penuh rahasia. Bermasalah. Tidak... benar. Membingungkan.

Seperti kepingan puzzle yang berusaha Natan temukan pasangannya namun tak kunjung jua terpasang dengan tepat.

Seperti rubik yang harus diselesaikan dan Natan tidak tahu bagaimana caranya.

Seperti pusaran angin yang menjebaknya dan Natan tidak ingin melepaskan diri dari jeratnya—dia ingin tetap di sana, dalam pelukan suara bising. Mencoba mencari pusat angin dan menguraikannya.

Apakah itu akan membuat Natan senaif Ariadne yang membantu Odysseus keluar dari labirin Daedalus dengan benang rahasianya hanya untuk mendapati dirinya dibuang pahlawan yang dicintainya?

Akankah Dionysus menemukannya dalam nestapa itu lalu menjadikannya abadi seperti dia menjadikan Ariadne sebagai istri abadinya saat Odysseus menyampakkannya?

Atau itu hanya terjadi satu kali dalam satu peradaban?

Namun, itu pula yang membuat Raditya secara keseluruhan begitu menarik dan mendebarkan.

Dan Natan sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada perasaan yang sedang merekah di hatinya ini. Begitu subur hingga dia merasa tercekik setiap sulur yang semakin kuat dan semakin tebal.

Haruskah dia memercayai Raditya sebuta dia memercayai Tuhan? Tanpa alasan dan mutlak?

Atau apakah ini saatnya dia melibatkan akal sehat dan memilih melangkah menjauhi masalah?

“Aku,” Natan menghela napas dalam-dalam. “Tidak tahu. Sama sekali tidak.” Dia menatap kedua temannya.

“Tidak apa-apa,” Indra meremas bahunya. “Tidak segala hal perlu jawaban saat ini juga. Mari kita berpikir positif saja dan berhenti memikirkan hal yang bukan porsi kita.

“Dan hal apa yang dilakukan Raditya di waktu senggangnya, sungguh menurutku bukan porsi kita sama sekali.” Indra menatap Natan dalam-dalam, memberikannya semacam ultimantum sunyi yang membuat Natan mendesah.

“Dan jelas bukan porsimu juga, Natan.”

Ya, pikir Natan pahit. Siapa yang tidak tahu itu?

*

Apollo #35

Indra dan Yogi bertukar pandangan dengan cemas sementara di hadapan mereka, Natan mengigit donatnya dalam dua gigitan raksasa dengan wajah ditekuk.

Sejak perjalanan dari kampus menuju Ambarrukmo Plaza, Natan tidak banyak bicara. Dia mengemudi dalam diam, sama sekali tidak menanggapi segala usaha teman-temannya untuk mengalihkan pikirannya dari Raditya yang hingga saat ini belum membalas pesannya.

Tidak hanya Natan, baik Indra dan Yogi pun dibuat bingung oleh kebiasaan aneh ini. Raditya seharusnya punya banyak orang yang mencarinya di Whatsapp tapi bagaimana bisa dia tidak daring seharian?

Dan bahkan tidak ada di kampus seharian ini.

Natan termangu, menatap ke luar jendela—ke Grand Ambarrukmo yang menjulang di seberang jalan dari jendela raksasa J.Co yang mereka datangi.

Jalan Adisucipto seramai biasanya; suara klakson pengendara, kesibukan tamu-tamu Ambarrukmo Group yang lalu-lalang di jembatan penyeberangan baru yang melintang dari Grand Ambarrukmo menuju Ambarrukmo Plaza, pusat perbelanjaan paling diminati di Yogyakarta yang berdiri bersebelahan dengan salah satu dari tiga hotel tertua di Indonesia bersama Hotel Indonesia dan Grand Bali Beach, Royal Ambarrukmo.

“Tan?”

“Hm?”

Yogi melirik Indra yang sedang menjejalkan donat glaze ke dalam mulutnya dan mendesah panjang. “Kau masih memikirkan Kak R?”

Natan mengerjap lalu tertawa kering, “Tidak! Enak saja.” Kekehnya dan Indra meringis, kepalsuan Natan terdengar begitu kental dan menyakitkan.

“Memangnya...” Yogi melirik Indra yang mengangguk menyemangati. “Kau sungguh suka padanya?”

Natan menoleh, nampak kaget. “Hah?” Beonya dengan bodoh. “Suka siapa?”

Yogi mengendikkan bahunya. “Ya, Kak R?” Dia kemudian bergegas menambahkan. “Pikirku kau hanya.... yah, bersenang-senang saja. Berteman akrab seperti yang kaulakukan dengan semua orang. Kau, 'kan, biasa pergi makan bersama orang-orang dan sebagainya. Kau juga sering bersikap seolah kau menyukai mereka tapi kehilangan minat di jam kedua.”

“Nah,” lanjut Yogi, hati-hati. “Apakah Kak R berbeda?”

Natan menatapnya dan sekarang Indra mulai kehilangan selera makannya. Dia meletakkan donat yang baru diraihnya dan mengelap tangannya yang kotor oleh glaze donat di tisu.

Di luar dugaan, Natan mengendikkan bahu. “Entahlah.” Dia kembali menatap jalanan. “Apakah terlalu jelas?” Dia termangu, nampak sangat kecewa.

“Yah, lumayan.” Sahut Indra lalu mengaduh karena Yogi menginjak kakinya dan memelototinya. “Apa??” Desisnya mendelik.

Sebelum Yogi sempat menjawab, Natan terkekeh. “Mungkin itulah kenapa dia tidak menanggapiku, ya? Aku terlalu jelas. Tidak menantang?”

Yogi menatapnya, kaget pada arah pembicaraan Natan dan betapa anehnya sahabatnya itu saat bicara seolah bukan dirinya sendiri.

Ke mana semua percaya diri Natan yang nyaris di level menyebalkan itu? Kenapa bisa-bisanya dia berpikir bahwa disukai atau tidak disukai Raditya akan membawa efek ke hidupnya—ketika itu sama sekali tidak berkontribusi apa pun ke hidupnya.

“Kenapa kau harus peduli dia suka padamu atau tidak?” Balas Indra, terdengar jengkel mewakili Yogi.

Mereka sudah berteman semenjak mahasiswa baru; duduk di kelas yang sama nyaris di seluruh mata kuliah, makan siang bersama, pulang kuliah bersama, bergabung di UKM yang sama, ikut kepanitiaan yang sama. Maka mereka saling mengenal satu sama lain dengan sangat dekat dan akrab.

Melihat Natan untuk pertama kalinya memikirkan apakah orang lain menyukainya atau tidak, adalah hal baru.

Natan tidak pernah peduli hal-hal semacam itu. Dia melakukan segalanya sesukanya, semaunya. Peduli setan orang lain menyukainya atau tidak.

Dia yang memutuskan apakah dia menyukai orang itu atau tidak.

Ketika orang lain tidak menyukainya maka Natan akan melambaikan tangan dan melanjutkan hidup.

“Bukankah ini terlalu dini untukmu memutuskan dia menyukaimu atau tidak?” Tambah Indra, alisnya berkerut dalam. “Kalian baru keluar satu kali, 'kan? Yah, dan jika dia memang tidak menyukaimu,” Indra memicingkan matanya.

“Terus kenapa?” Dia meludahkan kata itu dengan sedikit rasa benci. “Kau bisa melambaikan tangan dan melanjutkan hidupmu. Bukankah Jonathan selalu melakukan itu?”

Natan menatapnya, mengerjap seolah baru saja ditampar.

“Tolong. Jangan kehilangan dirimu sendiri karena mencintai seseorang, Tan.” Indra menandaskan pidatonya dengan kalimat pamungkas itu.

Dan walaupun kata-kata itu mungkin kasar dan pahit, ternyata berimbas baik ke Natan. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri dan menatap teman-temannya, tersenyum brilian.

“Ayo, nonton!” Ajaknya.

Yogi mendesah lega, setidaknya mereka berhasil membuat Natan jauh lebih baik daripada tadi.

Diam-diam, saat Natan mengantri tiket film yang akan mereka tonton (random saja karena mereka tidak merencakanannya), Yogi dan Indra bertukar high-five.

“Persetan Raditya.” Gerutu Indra di bawah napasnya dan yakin hanya Yogi yang bisa mendengarnya. “Bajingan sok misterius dan sok sibuk itu. Jika dia mematahkan hati Natan, maka aku akan mematahkan seluruh tulangnya.”

Yogi tertawa. “Sepakat.” Katanya dan mereka bersalaman erat.

“Apa yang kalian sepakati?” Natan tiba di hadapan mereka dengan tiga tiket dan mata memicing curiga. “Kalian seperti baru saja melakukan perjanjian dengan setan.”

Yogi bersidekap, memutar bola matanya. “Dramatis sekali. Apakah karena kita akan menonton film horor Indonesia?”

Natan nyengir, melambaikan tiketnya. “Because I need a good laugh.

Mereka mengakhiri hari itu dengan makan di Marugame Udon bersama sebelum akhirnya kembali ke parkiran dan meluncur ke kampus—menurunkan Yogi dan Indra di kampus sebelum Natan pulang ke kosannya.

“Ingat.” Yogi berkata, menunduk di jendela yang terbuka di sisi penumpang menatap Natan yang menyampirkan lengannya di roda kemudi. “Jangan mengecek pesanmu.”

Natan terkekeh. “Siap, Bos.” Katanya tersenyum lebar. “Sampai ketemu besok?”

Bye, Nanat!” Indra melambai saat Natan memutar mobilnya dan mengklakson lembut pada mereka sebelum meluncur pulang.

“Semoga semuanya baik-baik saja.” Indra menatap mobil Natan yang membelok di depan gerbang.

Yogi baru saja akan menjawab kata-katanya saat seseorang memanggil nama mereka.

“Hai, Yogi, Indra.”

Mereka menoleh bersamaan dan menahan napas dengan suara tajam yang keras—bersyukur Natan sudah pulang sehingga dia tidak akan bertemu manusia ini.

Speaking of the devil himself.

Raditya menghampiri mereka dalam langkah-langkah panjang dengan post-man bag disampirkan di bahu kirinya, nampak segar dalam balutan hoodie dan celana jins.

“Kalian tidak bersama Natan?” Tanyanya saat tiba di sisi mereka, mencari-cari. “Tumben. Bukankah kalian semacam... Trio Kwek-kwek?” Dia tersenyum lebar.

Indra dan Yogi berpandangan.

Sebenarnya apa yang salah dengan Raditya?

*

Apollo #20

Natan menuruni tangga kamarnya ke teras depan kosan, menatap ponselnya dengan jendela obrolan Whatsapp dengan Raditya terbuka dan status pesan terakhirnya setelah mengirim lokasi kosan belum terkirim. Nampaknya pemuda itu sudah kembali menon-aktifkan ponselnya seperti yang dikatakannya.

Alis Natan berkerut seraya menyelempangkan waist-bag di bahunya. Setahunya Raditya pastilah sangat sibuk sebagai ketua HMPS yang harus terus berkoordinasi dengan anak-anak buahnya, melapor ke ketua BEMU dan juga Wakil Rektor 3 sebagai bagian kemhasiswaan. Tapi bagaimana bisa dia tidak mengaktifkan ponselnya sepanjang hari?

Natan mendudukkan diri di teras kosan, di atas salah satu kursi setelah menyingkirkan beberapa helm dari sana lalu menyadari sesuatu. Dia mengerang, dia belum menanyakan Raditya akan menjemputnya mengendarai apa. Karena jika dia menaiki motor, maka tamat sudah.

Natan tidak punya helm.

Dan untuk menjawab kekhawatiran itu, sebuah Kawasaki Ninja berhenti di depan gerbang kosan Natan dengan suara derumnya yang khas dan membuat Natan mendongak dari ponselnya. Pengendara motor itu masih mengenakan helm full face sehingga sulit menebak apakah dia memang Raditya atau bukan, lebih juga karena Natan tidak pernah tahu Raditya mengendarai motor atau mobil apa.

Duh, pikir Natan seraya menyugar rambutnya. Dia tidak punya helm.

Pengendara itu melepas helmya, rambutnya yang ikal setengah gondrong berhamburan saat dia menarik helmnya lepas dan tersenyum lebar. Ternyata memang Raditya. “Hai, Nat. Ayo.”

Natan bergegas berdiri, “Maaf, Kak, tapi aku tidak punya helm?” Dia menghampiri Raditya di depan gerbang dan mendesah.

Raditya nampak sangat menawan dalam balutan celana jins ketat warna hitam, jaket berkendara dari kulit yang dikancing hingga ke leher, sepatu kets Converse tinggi dan rambutnya yang mengikal di rahangnya, membingkai bentuk wajahnya yang hanya bisa ditandingi dewa Yunani.

Raditya menatapnya, sekarang nampak agak terkejut dan Natan mendesah. “Serius?” Tanyanya, dia kebingungan. “Sebenarnya aku punya helm lain di kontrakan tapi aku tidak tahu kau tidak punya helm? Jadi tidak kubawakan, maaf.” Dia lalu melirik parkiran kosan yang ramai dengan motor-motor yang diparkir sejajar dengan helm-helm di atasnya.

“Kau mau pinjam punya temanmu?” Tawar Raditya kemudian, sekarang tersenyum kecil dan membuat Natan sejenak ingin mendesah panjang karena dia nampak indah sekali. “Indra atau Yogi?”

“Rumah Indra di Bantul. Yogi di Godean.” Natan menatap Raditya, sekarang mulai merasa bersalah karena tidak menginformasikan hal sekecil ini sehingga Raditya bisa melakukan sesuatu lebih awal. “Keduanya terlalu jauh, Kak.”

Raditya mengangguk setuju bahwa Bantul dan Godean memang terlalu jauh. “Kau memangnya ke kampus naik apa?” Tanya Raditya kemudian, meletakkan helmnya di atas tangki motornya lalu menumpukan kedua tangannya di atas helm itu.

Natan mengernyit, dia sebenarnya ingin sekali dibonceng di motor Raditya karena sepanjang umurnya dia belum pernah menaiki motor, tapi apa boleh buat. Dia mengingatkan diri untuk membeli helm nanti—jika keluar makan dengan Raditya dengan motor besarnya menjadi sebuah kebiasaan.

Iya, pacaran maksudnya.

“Mobil, Kak.” Lalu dia menambahkan dengan ringisan kecil di wajahnya. “Aku tidak tahu caranya mengendarai motor juga, omong-omong.”

Raditya tertawa kecil. “Oke, mobilmu saja kalau begitu.” Raditya kemudian mengenakan helmnya kembali. “Aku boleh menitipkan motorku di sini, 'kan?” Dari celah kecil untuk mata di helm full face-nya, Natan bisa melihat kilau matanya saat tersenyum.

Raditya memiliki eye smile yang luar biasa, begitu pikir Natan saat dia membantu Raditya memasukkan motornya ke parkiran kosan sebelum lari ke kamarnya di lantai dua untuk mengambil kunci mobilnya.

Matanya berkilau merespon senyumannya, tidak banyak orang yang bisa tersenyum secerah itu. Setidaknya orang-orang yang dikenal Natan selama hidupnya. Dia menyambar kunci mobilnya di atas lemari dan membanting pintu kosannya, menguncinya ganda lalu bergegas turun.

Saat dia turun, Raditya sedang mendongak—menatap ke arah kamarnya lalu tersenyum saat mereka bertemu mata.

Damn, he's so fine. Pikir Natan seraya melompati dua anak tangga sekaligus sebelum mendarat di halaman kosan.

“Aku atau Kakak yang mengemudi?” Tanya Natan kemudian mengutuki mulutnya sendiri—bagaimana jika Raditya tidak bisa mengendarai mobil? Apakah dia tersinggung karena pertanyaan Natan?

“Aku saja.” Raditya mengulurkan tangan, meminta kunci mobilnya dan tersenyum. “Ayah pernah mengajariku mengendarai... mobil. Jadi kurasa tidak ada bedanya dengan yang diajari Ayah, 'kan?”

Natan menjatuhkan kunci mobil ke tangan Raditya yang terbuka, kunci itu jatuh dengan suara gemericing teredam. “Bukankah semua mobil di Bumi ini sama saja, Kak? Memangnya mobil yang Kakak gunakan untuk belajar apa?” Dia tertawa kecil sementara memimpin Raditya ke mobilnya yang terparkir di sudut garasi kosan. “Kereta Matahari-nya Apollo?”

Raditya tertawa serak. “Kau banyak membaca mitologi Yunani, ya?” Komentarnya sopan saat menekan tombol unlock mobil Natan yang langsung mengedip menyambut mereka.

“Dimulai dengan Percy Jackson lalu tidak ada jalan kembali. Aku suka bagaimana cara Uncle Rick mengemas mitologi Yunani yang rumit itu menjadi sederhana dan penuh humor.” Natan mengangguk, memutari bagian depan mobil menuju sisi penumpang dan membuka pintunya. “Kakak suka?”

Raditya menatapnya, kerlip itu muncul lagi di matanya. “Percy Jackson.” Sahutnya setuju. “Berarti kau tahu, 'kan, Kereta Matahari itu bentuknya Maserati?”

Natan tertawa, tangannya ditumpukan di atas kap mobilnya. “Jika aku jadi Apollo, Kereta Matahari akan jadi Lamborghini Aventador.” Dia mengacungkan jempolnya dan Raditya menyambutnya dengan tawa serak sebelum mereka berdua memasuki mobil Natan.

Pemuda itu bergegas membereskan sampah camilan di bagian tengah mobil dengan panik. “Maaf, Kak! Belum sempat kubereskan.” Keluhnya, membuang sampah-sampah itu keluar mobil.

Tadi siang dia, Indra dan Yogi memutuskan untuk berkeliling Yogyakarta dengan camilan di mobil dan Natan terlalu malas membereskannya setelah menurunkan mereka berdua di parkiran kampus.

“Tidak apa-apa.” Raditya mengatur spion tengah mobil Natan lalu memundurkan sedikit kursi pengemudi sebelum memasang sabuk pengamannya. “Aku yang maaf, padahal aku yang mengajakmu keluar tapi kita malah harus menggunakan mobilmu.”

Kita.

Natan berdeham, “Tidak masalah.” Dia nyengir dengan jantung berdebar. Apa yang sudah dilakukannya seharian hingga Raditya memutuskan untuk menyambut gayungnya dalam satu kali percobaan?

” ... Kenapa?”

Raditya mengerjap saat memundurkan mobil Natan keluar garasi. “Ya?” Tanyanya dengan mata masih menempel di spion tengah mobil, berkonsentrasi memundurkan mobil tanpa membuatnya lecet. “Kau bilang apa?”

“Kenapa Kakak mau keluar denganku?” Tanya Natan lagi, alisnya berkerut saat berusaha memikirkan kalimat yang jelas untuk menggambarkan keheranannya malam ini. “Maksudnya, kenapa?”

Raditya tertawa, memasukan perseneling dan mulai menginjak gas. “Kenapa kenapa?” Tanyanya melirik Natan yang duduk di sisinya dengan pandangan lurus ke depan.

Don't you think I'm weird?” Tanya Natan kemudian, melirik Raditya yang memegang kemudi dengan tenang.

No, I don't.” Raditya tersenyum tulus. “Honestly? I like your confidence, reminding me of my Father.

Natan mengerjap, “Oh, maaf, Kak.” Merasa bersalah karena telah membawa topik yang mungkin sensitif untuk Raditya.

“Tidak, tidak.” Raditya tertawa. “Ayahku sehat walafiat, dia sibuk. Itu saja. Jadi kami jarang bertemu.” Dia menatap Natan. “Lagi pula, aku juga penasaran. Bagaimana, sih, rasanya makan malam dengan playboy-nya Sasing?”

Natan tertawa, menyandar rileks di kursinya. “Sungguh, dari mana, sih, julukan itu berasal?”

“Entah?” Balas Raditya, memasang sein untuk membelok ke kiri di Jalan Affandi yang ramai. “Aku sering dengar namamu disebut-sebut teman-teman sekelasku. Kau menarik banyak perhatian sejak inisiasi universitas, apalagi teman-temanmu.”

Natan teringat masa-masanya menjadi mahasiswa baru saat semua kakak tingkat tiba-tiba menjadi begitu akrab padanya. Menyapanya di jalan, menawarinya duduk bersama, meminjaminya buku—khususnya kakak tingkat perempuan. Natan yang masih pemalu tidak pernah menerima semua kebaikan mereka, menolak dengan sopan dan lembut namun ternyata sikap itu malah semakin membuat mereka gemas untuk mencari celah mendekati Natan.

Little did they know that Natan is a proud gay.

“Mungkin karena aku gay? Jadi mereka melabeliku playboy sehingga mereka bisa mencari pembenaran jika mereka tidak bisa memilikiku?” Natan nyengir, menyugar rambutnya yang panjang.

Projecting their own frustration, I see.” Raditya tertawa. “Karena kau tidak mungkin melirik mereka. Lebih mudah melabelimu sebagai orang jahat daripada mengakui kekalahan sendiri, bukankah begitu?”

“Yah, mau bagaimana lagi?” Natan mengendikkan bahu, menyugar rambutnya dan tersenyum brilian. “Terlahir tampan memang sulit, 'kan?”

“Aku suka percaya dirimu itu.” Raditya tertawa, lalu memasang sein membelok ke Jalan Adisucipto Jogja-Solo yang lebih ramai lagi. “Kita ke McD Ambarrukmo dulu saja, ya?” Dia melirik jam tangannya. “Dua jam lagi tempat yang kuinginkan buka.”

Alis Natan berkerut, dia melirik jam tangannya juga. “Jam 11 malam ada apa memangnya, Kak?”

Raditya menoleh saat mobil berhenti di lampu merah UIN Sunan Kalijaga dan melemparkan senyuman sejuta watt yang nyaris secerah matahari musim kemarau yang panas. “Kau sudah pernah makan Gudeg Bromo?”

“Ah!” Natan tertawa. “Indra selalu ingin mengajakku makan gudeg itu tapi tiap kali kami datang, gudegnya tutup. Jadi, belum. Aku belum pernah.”

Good.” Raditya nampak puas dengan dirinya sendiri. “Karena aku akan mengajakmu menyicipinya. Jangan makan terlalu kenyang di McD, oke?”

Natan membalas tatapannya dengan senyuman pongah bermain di bibirnya. “Kau meragukan kapasitas perutku, ya, Kak?”

*

The Chef Crumbs Special

*

Ada alasan kenapa Jungkook sangat menyukai rumah baru mereka di sudut Ubud yang teduh dan jauh dari keramaian kecuali riuhnya pasar tradisional beberapa kilometer dari rumah mereka. Karena dia suka saat dia membuka pintu dengan Bubble di pelukannya, dia disambut cahaya matahari lembut yang terhampar di udara seperti selapis selendang dengan partikel-partikel debu yang berkilau melayang di antaranya memenuhi ruang utama rumah mereka dari jendela-jendela besar yang tinggi.

Aroma kamboja lembut yang sedang mekar di halaman mereka, aroma rerumputan hijau yang basah oleh embun sisa semalam dan juga aroma udara Ubud yang segar dan menenangkan. Suasana pagi yang tidak pernah bosan dirasakan Jungkook setelah sekian lama—aktivitas lama yang nyaris menjadi kebiasaan pun tidak pernah menjadi membosankan. Jungkook sangat menghargai selera Taehyung atas rumah mereka.

Dia menggaruk telinga Bubble seraya menguap—langit di kejauhan baru saja bersemburat jingga tipis tapi pasar tradisional sudah mulai menggeliat.

Jungkook bisa mendengar sayup-sayup suara pedagang yang membawa barang jualan mereka; disangga di atas kepala mereka dengan begitu berbakat hingga saat pertama kali melihatnya Jungkook nyaris menjulurkan tangan untuk membantunya takut ibu itu mematahkan lehernya sendiri.

Namun mereka nampak sangat menikmati cara membawa barang itu. Leher mereka kuat dan bahkan menurut mereka terasa jauh lebih ringan daripada dijinjing. Maka Jungkook baru saja mengalami culture shock pertamanya.

Obrolan mereka dibawa masuk ke halaman mereka oleh udara pedesaan. Logat Bali yang tebal dan akrab di telinga Jungkook, juga bahasa mereka yang tajam dan tinggi. Dia selalu berpikir sous chef-nya sedang mengomel tiap kali dia berbicara dalam bahasa Bali yang cepat, tinggi dan menuntut, namun tidak ada yang tersinggung dan saat Jungkook bertanya, dia mengaku sama sekali tidak sedang marah-marah.

Maka Jungkook menyimpulkan bahwa itu memang logat Bali yang khas.

Bubble menyalak ceria, meminta jatah makan paginya dan Jungkook tertawa, membelai kepalanya yang lembut. “Baiklah, Sayang.” Katanya serak dan terhibur, membiarkan Bubble menjilat hidungnya sebelum menurunkannya.

Golden retriever itu berlari di dalam ruangan luas rumah mereka, mengibaskan ekornya dengan semangat saat Jungkook meraih pintu konter dapur, mengeluarkan bungkus makanan Bubble yang berkeresak ribut.

Bubble menyalak lagi, lebih tinggi dan ceria. Berlari ke arah Jungkook dan mendengus-dengus di kakinya. Meminta Jungkook mempercepat proses pemberian makannya. Jungkook terkekeh, dia mulai membuka segel makanan Bubble lalu menuang isinya ke dalam mangkuk makanannya dengan suara gemericing nyaring.

Jungkook kemudian berdiri, membiarkan Bubble makan dengan lahap dan ceria sebelum terkekeh serak. Mulutnya terasa sepat, jadi dia beranjak ke kulkas dan mengambil air untuk melegakan tenggorokan serta seluruh organ dalamnya. Setelah menandaskan dua gelas air, dia kemudian meregangkan tubuhnya. Membuka jendela-jendela dan pintu depan hingga hawa dingin menerobos masuk ke dalam ruangan.

Dia bergidik dalam balutan celana training lusuh dan bertelanjang dada. Menggaruk kepalanya, dia kemudian mengeluarkan matras yoga Taehyung dari dalam lemari di sebelah rak sepatu yang akan digunakan suaminya setelah sarapan dan Jungkook berangkat ke restoran.

Kembali masuk, Jungkook kemudian meraih apronnya yang sudah digantung di sisi konter dapur—selalu mudah dijangkau kapan saja Jungkook ingin memasak. Dia mengalungkan apronnya lalu mengikatnya di pinggang langsingnya, menyambar lap dari konter dan menyelipkannya ke karet celananya sebelum membuka kulkas, mengeluarkan empat butir telur, sekantong tomat dan bacon.

Taehyung suka sekali sarapan scrambled egg dengan bacon dan baked tomato. Maka itulah yang akan dibuatkan Jungkook. Dia juga mengecek overnight oats milik Taehyung yang dikerjakan suaminya kemarin sebelum tidur untuk camilannya karena lambungnya masih harus tetap dijaga dengan baik dan kemudian mulai memasak. Dia memanaskan oven dan wajan di atas kompor.

Dia meraih tomat. Membuka plastiknya dan menuang beberapa butir ke dalam mangkuk yang digunakannya untuk mencuci. Dia membilas tomat-tomat itu di bawah guyuran air, menggunakan jemarinya dia mengayak lembut sayuran itu lalu meniriskan airnya. Dia menyomot sebutir kecil lalu memasukannya ke mulut dan mengunyahnya dengan senyuman di bibirnya.

Dia lalu memotong tomat-tomat itu menjadi dua, menatanya di atas loyang yang sudah dilapisi dengan baking spray sebelum menaburkan Italian seasoning di atasnya dan memasukkannya ke dalam oven yang panas. Dia kemudian mengecek wajan di atas kompor, merasakan hawa panas menyentuh telapak tangannya dia kemudian menuang olive oil ke atasnya lalu memecahkan telur.

Suara desis telur bertemu dengan minyak panas membuat Jungkook rileks. Dia suka sekali suara ini. Suara desis makanan yang sedang dimasak selalu membuat bahunya rileks, aroma telur segar yang dimasak membuatnya lapar sementara di luar sana, suara cicit burung mulai riuh terdengar. Dia memecahkan telur kedua, ketiga dan keempat. Telur memang tidak pernah khianat.

Dia kemudian menambahkan sejumput garam dan lada sebelum mulai menggerakkan spatulanya membentuk angka delapan dengan lincah di atas wajan—membuat telur orak-arik. Sementara dia bekerja, Bubble sudah mendongak dari mangkuknya—kenyang dan menyerigai lucu ke arahnya.

“Kau sudah selesai makan, Yang Mulia?” Tanyanya seraya menggerakkan wajan hingga makanan di atasnya membentuk ombak cantik lalu meluncur jatuh kembali ke wajan dengan mulus. “Kau mau lagi?” Tanyanya menunduk saat Bubble menyelipkan diri ke kaki Jungkook.

“Minta pada Taehyung.” Katanya mematikan kompor elektrik mereka dengan aroma hangat telur yang memenuhi ruangan. “Sana, bangunkan Taehyung katakan padanya kau butuh camilan.” Dia tertawa saat melambaikan spatula ke arah pintu kamar mereka yang terkuak kecil.

Bubble mendongak, menatapnya lalu Jungkook mengangguk. “Bangunkan Dadda.” Katanya dan Bubble menyalak, mengenali perintah 'Dadda' lalu berlari ke kamar dengan kaki-kaki panjangnya dan bulunya yang berayun sesuai dengan gerakannya.

Jungkook terkekeh, menuang telur orak-ariknya ke atas piring dan tersenyum lebar saat mendengar erangan keras Taehyung yang mengantuk dari kamar saat Bubble melompat ke atasnya dan menyalak keras, membangunkannya dengan paksa.

Babeeeeel...” Erang Taehyung keras dan tersiksa. “Turun dari perutku! Kau membuatku tidak bisa bernapas! Tidak, kau harus tu—BABEL!” Suaranya berubah jadi bentakan saat Bubble pasti mulai merunduk dan menjilati wajahnya. “Stop! Sayang, tolong!”

Jungkook tertawa, puas saat dia kemudian kembali meletakkan wajan di atas kompor. Mengelap permukaannya dengan tisu lalu mulai menuangkan sedikit minyak untuk menggoreng bacon. Dia membuka bungkus daging, mengeluarkan bacon dan menggoreng 2 strip di atas minyak yang mendesis.

Aroma daging itu kemudian yang menyambut Taehyung dengan wajah bengkak baru bangunnya, dengan bekas tidur panjang di tulang pipinya dan mata yang tidak sepenuhnya terbuka terseok-seok keluar dengan Bubble yang menyalak ceria di pelukannya walaupun anjing itu sudah terlalu besar untuk digendong, seolah berkata: “Ayo bangun! Bangun! Bangun! Aku mau snack!!”

Bacon?” Tanya Taehyung menghampiri dapur dengan celana katun tidurnya yang kusut dan rambutnya yang mencuat-cuat di kepalanya. Dia melepaskan Bubble yang protes, tidak terima karena tidak diberikan camilan lalu menjulurkan lengannya, memeluk Jungkook.

“Aku sudah jadi anak baik dan berhak mendapatkan hadiah, ya?” Katanya di bahu Jungkook yang lembut dan beraroma keringatnya yang akrab.

Jungkook tertawa, mereka memang jarang makan bacon untuk sarapan. Terlalu berlemak. Jadi bacon berarti sesuatu yang istimewa jika dihidangkan karena biasanya Jungkook hanya akan menyediakan bayam rebus dan roti sebagai pendamping telurnya.

“Sedikit kemewahan.” Jungkook tersenyum, membalik bacon di atas wajan yang mendesis lalu menjulurkan tangan secara insting ke arah oven, “Permisi, Sayang.” Bisiknya lembut mengecup pelipis Taehyung yang langsung melepaskan pelukannya karena oven berdenting.

Jungkook selalu melakukannya—sedetik-dua detik lebih cepat dari oven seolah dia adalah timer berjalan. Dia selalu tahu kapan makanannya matang dan tidak benar-benar menunggu oven. Bertahun-tahun di dapur sudah membuat seluruh indra dan sarafnya peka pada hal-hal kecil semacam oven.

“Aku saja,” Taehyung bergegas meraih selop tangan dan membuka oven sementara Jungkook kembali fokus ke wajannya. “Trims, Sayang.” Katanya mematikan kompor dan memindahkan bacon ke atas piring.

Taehyung meletakkan loyang di konter dapur sementara Jungkook mengeluarkan dua mug dari atas kabinet. Membaliknya, meletakkannya di atas konter dengan suara tak! lembut lalu membuka kulkas, meraih sekarton susu dan menuangnya ke dalam mug.

Menguap, Taehyung beranjak ke meja makan dan terkesirap saat Bubble menyambar kakinya. “Bubble!” Serunya kaget. “Kenapa?” Dia berhenti dan menunduk, menatap Bubble yang mendengking lirih, memohon.

“Dia mau apa, sih?” Tanya Taehyung pada suaminya yang sedang menata sarapan mereka. “Apa yang kaujanjikan padanya untuk membangunkanku?”

Jungkook tertawa saat menaburkan jagung manis kalengan ke atas telur mereka. “Snack,” sahutnya kalem, mengelap tangannya di lap yang diselipkan di celana trainingnya lalu melepas apronnya. “Berikan dia camilannya.”

Mata Taehyung memicing. “Dia sudah makan?”

Jungkook mengangguk, membawa dua piring ke meja makan. “Sudah.”

“Lalu kenapa masih harus camilan?” Protes Taehyung saat suaminya meluncur melewatinya, meletakkan dua piring di atas meja dan kembali ke dapur untuk meraih gelas mereka.

“Hari ini, 'kan, istimewa.” Kata Jungkook. “Kau sarapan bacon, Bubble dapat snack setelah sarapan. Bersikaplah yang adil.” Dia berhenti di sisi Taehyung dengan tangan penuh oleh dua mug lalu mengecup bibir Taehyung yang mendesah panjang.

“Baiklah, Anak Nakal.” Dia mendelik sayang pada Bubble yang sekarang mendengking panjang, berguling di kakinya memamerkan perutnya dan kakinya digoyang-goyangkan. “Jangan bersikap lucu begitu! Aku jadi tidak bisa marah.” Keluh Taehyung, terkekeh dan berjongkok—menggaruk perut Bubble yang melolong ceria.

“Iya, iyaa!” Taehyung kemudian beranjak ke kabinet makanan Bubble lalu mengeluarkan bungkus camilannya dan menggoyangkan benda itu di depan Bubble yang langsung berdiri di atas kaki belakangnya, tangannya diayuna-ayunkan seolah sedang bertepuk tangan.

“Lucu sekali.” Keluh Jungkook di meja makan terkekeh seraya menyesap susunya. “Sudah. Berikan saja camilannya.” Tambahnya tersenyum lebar saat Bubble mulai mendengking lirih dengan sedih.

Maka Taehyung membuka kemasan camilan itu lalu memberikan dua potong pada Bubble yang menerimanya dengan ceria. Dia mengunyah makanan itu dengan senang dan menyalak pada Taehyung yang tertawa, membungkus kembali camilannya lalu menyimpannya ke kabinet sebelum beranjak ke meja makan.

“Makanlah,” Jungkook duduk di hadapannya, sedang mengecek ponselnya yang mulai berdenting-denting oleh notifikasi—grup Kitchen Le Paradis sudah berisik pukul enam pagi, para chef saling berkoordinasi tentang bahan baku yang tiba hari ini.

Di jendela, langit dengan semburat jingga mulai terbit. Cahayanya menyusup ke dalam rumah mereka seperti selimut lembut yang menyinari mereka. Hawa sejuk membelai kulit Taehyung yang telanjang—inilah kenapa mereka selalu mematikan penyejuk ruangan karena udara pagi Ubud begitu menakjubkan. Segar, sejuk dan menenangkan. Sayang untuk tidak dinikmati dengan utuh. Dia suka bermeditasi lama-lama di halaman dengan udara berkualitas ini ditemani anjing mereka yang akan tidur di sisinya jika Taehyung terlalu lama.

Taehyung mendesah, mendudukkan dirinya di atas kursi dan mendesah panjang menatap sarapannya yang lezat. Dia meraih gelas air tinggi yang diletakkan Jungkook di sisi gelas susunya, jika dia tidak minum air dulu sebelum makan Jungkook akan mengomel.

“Aku berangkat lebih pagi hari ini, oke?” Kata Jungkook kemudian saat Taehyung mulai menyendok telurnya. “Ada masalah dengan ikannya.” Dia nampak sangat jengkel saat meletakkan kembali ponselnya di meja dan mulai makan dengan gerakannya yang sudah akrab dengan diri Taehyung—cepat dan ringkas, sama sekali tidak membuang-buang waku.

“Jangan memulai harimu dengan wajah berkerut.” Taehyung tersenyum dan Jungkook menghela napas, kemudian mencoba mengatur wajahnya menjadi lebih rileks sebelum menatap Taehyung tidak berdaya karena sudah terlanjur sebal karena sesuatu berjalan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Taehyung terkekeh, di bawah meja kakinya menyentuh kaki Jungkook lalu tertawa saat Jungkook membelit kakinya dengan kedua kakinya. “I love you.” Katanya.

I love you too.” Balas Jungkook seketika itu juga lalu bangkit, menjulurkan tubuh atasnya untuk mencium Taehyung yang mendongak. Bibir mereka bertemu dan Taehyung tersenyum merasakan telur, bacon dan susu dalam ciuman mereka.

Bukan yang terbaik, tapi bukan juga yang terburuk.

“Aku siap-siap dulu,” Jungkook mengusap rambutnya sebelum beranjak ke kamar mandi dengan piring kosong di hadapannya. “Aku minta tolong mencuci piringnya, ya?”

“Siap, Chef!” Balas Taehyung kalem, membuka ponselnya untuk mencari berita pagi yang dikirimkan ke surelnya. “Tenang saja. Kukerjakan.”

Cahaya mulai naik, ruangan mereka semakin terang. Suara aktivitas pagi mulai ramai di jalanan depan rumah mereka. Suara motor, sepeda, obrolan dan anjing-anjing liar yang menyalak ceria. Bubble bergelung di sofa, menatap Taehyung bertanya-tanya kapan dia memulai yoganya sehingga Bubble bisa berlarian di halaman mengejar kupu-kupu saat Jungkook keluar dengan celana training yang lebih bersih dan jaket olahraganya.

Dia menyumpalkan earbuds ke telinganya dan menyelipkan ponselnya ke dalam saku, menarik zipper-nya menutup setelah memutar lagu kesukaannya untuk menemani larinya. “Aku lari dulu, ya?” Dia merunduk, mengecup puncak kepala Taehyung.

See you at restaurant. Jangan lupa bawa overnight oats-mu untuk camilan pagi dan minta tehmu ke dapur.” Tambahnya membelai Taehyung sayang sebelum melambai pada Bubble.

“Sampai ketemu nanti, Jagoan!” Dan Bubble menyalak, kepalanya terangkat dan ekornya mengibas.

“Hati-hati.” Taehyung melambaikan garpunya yang terisi tomat panggang sementara Jungkook duduk di teras depan, mengenakan sepatu larinya. Chef itu kemudian melambai sebelum berlari kecil ke gerbang. Mata Taehyung mengikutinya saat Jungkook membuka gerbang mereka, menyapa ramah masyarakat yang bertemu di depan jalanan sebelum melambai kecil dan menutup gerbangnya.

Memulai larinya ke restoran untuk mengecek bahan baku dan memulai preparation.

Taehyung membereskan sarapannya, lalu membawa piring dan gelas ke bak cuci. Menyuci semuanya sementara matahari semakin naik. Lampu mereka seketika mati saat sensornya menyadari cahaya matahari dan ruangan mulai banjir cahaya pagi yang lembut dan menyegarkan. Menyelesaikan cuci piringnya, Taehyung meletakkan piring-piring, gelas dan wajan di rak piring. Airnya menetes dengan suara lembut.

Taehyung kemudian mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih nyaman. Mendorong pintu terbuka dengan sebotol infused water di pelukannya dan mendesah saat aroma segar rerumputan basah dan matahari menerpa seluruh indranya. Dia membiarkan saat Bubble akhirnya meluncur dari teras ke rerumputan yang basah, mulai sibuk berusaha menangkap belalang yang berlompatan kaget diserang.

Taehyung meraih matrasnya yang sudah dikeluarkan Jungkook dengan senyuman kecil di bibirnya. Hebat sekali bagaimana Jungkook selalu menyadari hal-hal kecil di sekitarnya dengan baik dan melakukannya nyaris tanpa benar-benar memikirkannya. Otomatis.

“Hei, awas!” Seru Taehyung saat Bubble melompat ke dahan pohon yang tinggi. “Nanti lehermu patah.” Katanya saat dia menggelar matras di rumput yang basah, meletakkan botolnya di sisinya sebelum mendesah.

Memejamkan mata, mengapresiasi kehidupan yang begitu menenangkan hari ini lalu memulai yoganya dengan Bubble yang berlarian di sekitarnya, menangkap belalang.

*

Benci untuk Mencinta VKook Oneshot

*

“Pak Taehyung, berikut materi untuk sesi berikutnya.”

Taehyung, pemuda awal tiga puluhan di balik laptop menggangguk seraya menerima berkas yang diserahkan padanya sementara di sekitarnya para bawahannya sedang menikmati sajian coffee break dari acara mereka. Dia mengenakan setelan jas yang rapi dan cerdas, dengan dasi yang mencekik serta name tag mengilat di bagian kiri pakaiannya.

Dia duduk di mimbar, di balik laptopnya yang menyala penuh dengan hitungan yang rumit. Mempersiapkan materi untuk sesi berikutnya dari rapat tahunan perusahaan mereka sebelum menyambut tahun baru setelah tutup buku seminggu lalu.

Ballroom hotel yang mereka gunakan begitu megah dengan langit-langit tinggi, layar proyektor besar memenuhi bagian depan panggung yang pada sesi pertama tadi digunakan Taehyung untuk mempresentasikan rencana bisnis perusahaannya kedepan beserta rencangan profit dan modal. Meja-meja di atur dengan setting classroom dengan gelas-gelas air, secawan permen serta buku-buku agenda peserta rapat.

Makanan dibawa masuk dalam wadah-wadah perak raksasa, asapnya mengepul dan menghembuskan aroma lezat daging panggang saus tiram ke seluruh ruangan dan sejenak membuat perut Taehyung yang kosong mengerang iri.

Dia menikmati pekerjaannya sebagai financial controller, dia suka menghitung uang dan dia suka menikmati bagiannya dalam perusahaan sebagai pemegang anggaran belanja serta mengatur alur keluar-masuk uang. Dia suka merasa penting, dia suka dipentingkan.

Sekretarisnya membawakan secangkir kopi dengan beberapa panganan di atas nampan sementara Taehyung mengedit presentasinya untuk sesi kedua. Dia mengecek semua link-nya siap, semua hitungannya sempurna sehingga tidak ada kesalahan teknis saat dia menjelaskan karena dia benci sekali disela dengan kesalahan teknis saat sedang berbicara.

“Pak, jangan lupa istirahat.” Pesan Jimin, sekretarisnya dengan pandangan tidak setuju. “Bapak belum sarapan tadi pagi.” Dia menatap laptop atasannya dengan jengkel dan Taehyung terkekeh serak, menyeka kacamata bergagang kurus di hidungnya.

Taehyung tersenyum, tanpa memalingkan wajah dari laptopnya. “Trims, Jimin.” Katanya kalem. “Kau makanlah sesuatu juga.” Dan hanya agar sekretarisnya yang sudah dianggapnya sebagai saudara tenang, dia meraih kue di atas piring yang diberikan Jimin dan menjejalkannya ke mulutnya.

Tidak benar-benar merasakan makanan yang dikunyahnya dengan terburu-buru, lalu menelannya. Memaksa makanan itu memasuki lambungnya yang berisik dengan meneguk air mineral kemasan di sisi meja. Jimin mendesah dan kembali berlalu ke meja makan untuk mengambil makanan dan mempertimbangkan untuk membawakan Taehyung makanan karena jika tidak begitu, Taehyung tidak akan makan.

Taehyung sedang sibuk menghitung dengan Excel saat terdengar suara gemerisik check sound dari penyanyi akustik yang dipesan perusahaannya untuk menghibur saat istirahat. Dengung suaranya membuat Taehyung menoleh sejenak, melihat pemuda seusia dirinya sedang membungkuk ke atas tas gitarnya membelakanginya.

Dia kembali ke layar, mengabaikan mereka.

Di sela-sela kesibukannya menghitung dan menguraikan rumus Excel, terdengar suara-suara statis dari pengeras suara saat penyanyi mereka mengecek suara gitarnya. Taehyung mendengarnya berdeham ke pengeras suara yang lembut dengan peredam napas tebal.

Suaranya terdengar sekental madu—manis dan lembut.

“Selamat siang, Bapak dan Ibu.” Katanya dengan keramahan yang menetes dan Taehyung tersenyum kecil—suaranya begitu menenangkan, dalam dan menyejukkan. Dia sudah menyukainya bahkan sebelum pemuda itu mulai menyanyi.

“Saya mungkin tidak faham tentang profit dan perencanaan keuangan,” lanjut pemuda itu dan beberapa orang terkekeh, dia meringis. Taehyung menyunggingkan senyuman separo seraya mengecek perhitungannya.

Selera humornya sehat, catat Taehyung dalam hatinya. Dia akan meminta nomor manajer pemuda itu nanti untuk acara-acara mereka selanjutnya.

“Tapi saya di sini bertanggung jawab untuk sesi hiburan.” Taehyung bisa mendengar senyuman lebar di kata-katanya dan terdengar gelombang suara kekehan hangat lain menyambutnya.

“Maka, semoga Anda semua menikmati hiburan saya. Dan selamat makan, saya yakin Anda butuh banyak tenaga untuk mengikuti sisa rapat ini.”

Dia berdeham berat, lalu mulai memetik gitar dengan piawai.

Suara gitarnya menggema dengan lembut, memantul ke setiap sudut ruangan dan membelai Taehyung yang sedang bekerja. Suara obrolan yang riuh-rendah, suara alat makan yang beradu, suara sibuknya staf Banquet mempersiapkan menu makanan mereka dan mengisi ulang menu-menu yang habis, suara gelas-gelas dibereskan dengan terampil.

Semuanya terasa membentuk harmoni yang menyejukkan. Taehyung merasakan otot lehernya mulai mengendur seraya suara dentingan gintar cerdas penyanyi mereka mulai mengeras dan kemudian terdengar suara helaan napas:

Oh, betapa 'ku saat ini, 'ku benci untuk mencinta. Mencintaimu...

Taehyung seketika berhenti bekerja.

Tangannya berhenti mengetik di atas laptopnya; otaknya yang malang langsung berhenti bekerja sama sekali saat kenangan masa lalu dilsiramkan kepadanya seperti seember air es yang mengguyur punggungnya dengan perasaan deja-vu yang kuat.

Oh, betapa 'ku saat ini, 'ku cinta untuk membenci. Membencimu...

Dia mengenali suara ini.

Suara yang pernah membelainya dengan lembut, suara yang terus membuatnya merindu, suara yang selalu didengarkannya melalui ponselnya setiap malam tiap kali dia lelah dan ingin sedikit suntikan semangat sebelum terlelap. Suara yang selalu membuatnya tersenyum dan selalu merindu.

Suara yang bahkan akan dikenalinya di Neraka sekali pun.

Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Kenangan masa SMA-nya ditayangkan di kepalanya seketika itu juga. Hari yang panas dan Taehyung yang berdesak-desakan di lapangan sekolah mereka yang berdebu, mendongak ke panggung raksasa dengan sound system besar yang menggelegar dan membuat jantungnya berdentum keras sesuai dengan suara bass yang digunakan band lokal mereka.

Dan di sana berdiri kekasihnya, Jungkook, sedang memegang pengeras suara dan memejamkan mata. Menghayati lagu yang sedang dinyanyikannya dengan begitu dalam dan menyenangkan. Wajahnya mengendur dalam relaksasi saat dia menyanyikan tiap bait lagu yang dipilihnya diiringi pemain gitar di sisinya. Seluruh sekolah bernyanyi bersamanya—sungguh, siapa yang tidak?

Jungkook adalah kesayangan seluruh sekolah, kesayangan Taehyung.

Suara emasnya akan dikenali semua orang, di mana saja. Dia masih menggunakan seragam putih-abunya yang berantakan dengan dasi longgar dan salah satu sisi kemejanya berkibar lepas dari ikatan ketat celana dan ikat pinggangnya saat ditarik naik ke panggung, terpaksa melepaskan genggaman tangan Taehyung yang tertawa dan melambai padanya.

“Sana, nyanyikan sesuatu untukku.” Katanya lalu bersedekap saat Jungkook diseret naik dan tersenyum padanya—indah sekali, manis sekali hati Taehyung terasa begitu hangat hanya dengan melihatnya tersenyum.

Jungkook adalah kesayangan semua orang. Dan kesayangan Taehyung.

Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Mata Jungkook di atas panggung terbuka dan langsung bertemu pandang dengan Taehyung yang sedang berdiri di antara semua orang yang mengelu-elukan Jungkook, tersenyum padanya dengan begitu bangga bahwa kekasihnya adalah kesayangan semua orang.

Kenangan SMA itu terasa seperti album rusak yang rapuh. Taehyung harus membalik halamannya yang berjamur dengan penuh perasaan agar tiap kenangan di dalamnya tidak menguap lalu lenyap sebelum Taehyung sempat mendecapnya.

Gambarnya rusak, putih-abu dan mulai mengeriting di bagian sisi-sisinya; memudar oleh waktu dan kenangan-kenangan baru yang disisipkan Taehyung di dalamnya. Tidak bisa disentuh oleh tangannya yang terasa asam dan kasar. Terlalu rapuh untuk benar-benar diselami.

Maka Taehyung saat ini terenyak di kursinya—terlalu kaget untuk memproses segalanya. Kenangan itu disuntikkan ke pembuluh darahnya seperti candu, membuat aliran darahnya meletup-letup oleh rasa bahagia. Darahnya mendidih oleh rasa cinta, rindu dan keinginan yang menggebu-gebu.

Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Benarkah...? Benarkah?

Taehyung mengerjap, menikmati petikan gitar yang cerdas. Suara hembusan napas yang gemeresak lembut di pengeras suara. Dia tidak mungkin tidak mengenali suara ini. Suara yang didekapnya ke jiwanya begitu erat dan dalam, disimpannya begitu erat di dalam sanubarinya.

“Mari bertemu lagi sepuluh tahun lagi, semoga perasaanmu padaku belum berubah.”

Taehyung ingat kelingking yang disodorkan ke arahnya. Kelingking kurus dengan kuku bulat yang menggemaskan. Dia selalu mengenali jemari itu—betapa hangat dan benarnya tangan itu di dalam tangannya. Betapa hangat dan riangnya senyuman yang selalu mengikuti genggaman tangan itu.

Bagian pinggir kenangan itu terasa kabur, seperti secarik foto lama yang berusaha disimpan dengan baik namun tetap kalah oleh suhu dan waktu. Taehyung harus berkonsentrasi penuh berusaha mereka kembali kenangan itu di kepalanya.

Bagaimana mereka berdua berdiri bersebelahan di lapangan upacara, terkekeh-kekeh menertawai kepala sekolah mereka dengan menyembunyikan wajah di balik topi mereka. Bolos bersama dengan makan di kantin belakang. Tidak mengikuti acara sekolah dan bahkan berangkat sekolah hanyauntuk berdiri di depan gerbang sebelum bertukar pandangan dan memilih untuk berbalik lalu kabur.

Bermain-main dengan risiko masa muda dengan adrenalin membuncah saat mereka nongkrong di pusat perbelanjaan. Atau pergi ke tempat kesukaan mereka, di belakang sekolah di mana mereka biasanya bermain game bersama.

Serta bertukar ciuman.

Taehyung menyambut kelingking itu dan mengaitkannya dengan erat. “Mari bertemu sepuluh tahun lagi, dan kubuktikan padamu perasaanku masih sama.” Sahutnya tegas kala itu, menatap langsung ke mata Jungkook yang berbinar.

Mata itu selalu begitu.

Berbinar oleh spirit masa muda yang liar dan penuh kebebasan, keindahan yang hanya bisa disaingin dewa Yunani. Wajah Jungkook yang indah, senyumannya, bibirnya, seluruh diri Jungkook yang terasa begitu dekat, hangat dan akrab.

Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Sekarang, dia di sana.

Duduk di depan panggung dengan gitar dan pengeras suara—sama indahnya, sama hangatnya namun lebih dewasa. Gurat usia di permukaan wajahnya, suaranya yang semakin berat dan pembawaannya yang bukan lagi bocah SMA urakan yang gemar melompati pagar bersama Taehyung.

Jungkook sekarang adalah pemuda dewasa yang bertanggung jawab.

Jauh lebih indah dari Jungkook yang diingatnya di album kenangan kabur yang kotor dan usang. Jungkook adalah satu-satunya hal yang bersinar dari album itu—memenuhi hidup Taehyung dengan cahaya yang membantunya pulang. Membimbingnya kembali tiap kali dia tersesat.

Dan lagu itu.

Lagu terakhir yang dinyanyikan Jungkook untuknya sebelum mereka berpisah di bangku SMA, berpisah domisili dan universitas serta tidak lagi saling kontak.

Taehyung menuruti instingnya dengan berdiri dari kursinya dengan suara derit keras yang mengundang perhatian semua orang yang seketika menatapnya, berhenti melakukan kegiatan mereka. Ruangan langsung hening merespon suara derit yang mengundang perhatian itu.

Taehyung menoleh ke panggung dan bertemu mata dengan penyanyi mereka yang tersenyum, matanya berbinar.

Kilau itu.

Senyuman itu.

Tatapan itu.

“Jungkook.” Bisiknya gemetar seolah membisikkan nama Tuhan—ketakziman dan pemujaan yang disuntikkan Taehyung pada nama itu membuat dirinya sendiri merinding. Suaranya menggema ke seluruh ruangan, memantul kembali ke telinganya.

Jungkook.

Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Senyuman lolos dari bibir mereka berdua saat lagu itu menarik keduanya kembali ke masa-masa bebas mereka. Berlari dari kejaran guru BK saat mereka terkena sidak rambut panjang, berboncengan di motor Taehyung pergi dari sekolah, berbagi makan siang saat salah satu dari mereka lupa membawa uang jajan, mengemil makanan ringan di dalam kelas saat guru mereka berbalik menulis di papan.

Dan cinta mereka.

Cinta manis yang terbit dalam tiap pandangan, dalam tiap sentuhan, dalam tiap kenangan.

Cinta manis yang tidak pernah tenggelam bahkan setelah sepuluh tahun mereka tidak saling bertemu. Alih-alih, cinta itu semakin liar dan semakin hidup karena kerinduan yang tidak bertepi. Hati Taehyung terasa sesak saat Jungkook tersenyum padanya.

Senyuman yang selalu membuatnya jauh lebih hidup.

Dia ingin menggenggam pemuda itu dalam kedua tangannya—memeluknya, memastikan dia baik-baik saja dan menciumnya. Akan mencintainya dengan begitu hebat hingga Jungkook tidak akan pernah merasakan hal yang sama dari orang lain karena hanya Taehyung yang mampu melakukannya.

Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...

Lalu lagu berhenti setelah lantunan musik mendayu-dayu yang panjang dan pemuda itu, Jungkook, berdeham serak dan memutar kursinya perlahan hingga menghadap Taehyung yang berdiri di balik meja dengan pakaian rapi yang licin; nampak luar biasa bugar dalam usia kepala tiganya. Kemejanya lincin, kancingnya sempurna, celanannya ketat.

Dia nampak sempurna.

Sangat berbanding terbalik dengan Jungkook yang hanya mengenakan jins dan polo shirt hitam, rambutnya disisir naik memamerkan keningnya yang indah dan dia kembali tersenyum. Tangannya ditumpangkan di atas lututnya dan satu kakinya terjulur lurus.

“Halo, Taehyung. Lama sekali tidak bertemu, ya?”

Ada begitu banyak hal yang sangat ingin dikatakan Taehyung; apa kabar Jungkook? Bagaimana kuliahnya? Dia bekerja di mana sekarang? Bagaimana bisa dia ada di sini? Kenapa dia tidak menghubungi Taehyung? Apa kabar kedua orangtuanya? Di mana rumah Jungkook sekarang setelah pergi dari Bandung?

Namun hal yang terpenting dari segalanya adalah:

Taehyung meluncur ke arahnya dalam lima langkah besar dan panjang. Mengabaikan semua orang yang berada di sana termasuk atasannya, menaiki panggung lalu merengkuh Jungkook ke dalam pelukannya. Gitar di tangan Jungkook terjatuh dengan suara gedebuk pelan menghantam lantai, siku Taehyung menyenggol pengeras suara yang seketika berdenging oleh gerakan itu.

Sejenak seluruh ruangan dikuasai suara statis keras yang memekakkan telinga sebelum pihak Engineering mengatasinya dengan sigap.

Seluruh saraf Taehyung seketika menjeritkan kelegaan yang membuatnya pening. Seluruh tubuhnya terasa meleleh seperti sebongkah mentega yang dipanaskan, meleleh dalam pelukan Jungkook yang hangat. Meleleh dalam kenangan cinta masa SMA mereka yang kekanakan namun begitu kuat oleh warna-warna yang menyentak; seperti lukisan abstrak.

Yang arti dan maknanya hanya difahami oleh pelukisnya dan segelintir orang. Dan cinta mereka tentu hanya difahami oleh Taehyung dan Jungkook sendiri.

Jungkook dalam pelukannya; utuh dan sehat.

Dia mengeratkan pelukannya sementara Jungkook di pelukannya tertawa serak. Tangannya terangkat, memeluk Taehyung sama eratnya dan sama rindunya. Aroma parfum Jungkook bahkan masih sama seperti dulu—maskulin, manis dan menyesakkan.

“Aku merindukanmu.” Bisiknya bergetar, seluruh rindu yang ditahannya sekian lama mendobrak seluruh pengendalian dirinya bahkan menyapu habis akal sehatnya yang tidak seberapa.

Dia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Jungkook dalam-dalam, memenuhi paru-parunya yang mengerut mendesaknya untuk terus bernapas, terus menyuntikkan aroma itu ke dalam tubuhnya yang mengerut oleh rindu.

“Oh, aku sungguh merindukanmu.”

Jungkook di pelukannya tertawa serak, membalas pelukannya dan memejamkan mata; menghirup aroma tubuh Taehyung yang membuatnya mendesah panjang.

“Aku juga merindukanmu.”

*

TU L’AS AIME? KookV Oneshot.

*

London, UK. Two weeks ago…

“Jadi, kita putus?”

“Ya,”

“Oke,”

“Oke,”

“…”

“… Goodbye, then?”

“Oh, oke. Goodbye.”

*

London, UK. Today…

“Sial, kenapa cowok tinggi berkepala besar itu tidak bisa menjauhkan tangannya dari Taehyung, sih? Mungkin aku bisa mengambil kapak dan memutuskan tangannya sekalian?”

Pemuda dalam balutan pakaian serba hitam itu sedang duduk di pojok kafetaria; mengamati sepasang pemuda yang sedang bercengkrama di seberangnya. Satunya pemuda mengangumkan, berkharisma penuh keramahan dengan rambut hitam yang membuatnya kelihatan tampan dan seksi.

Sementara satunya pemuda dengan tubuh mungil yang kelihatan begitu oh-so-breathtaking saat tersenyum dengan rambut mencuat-cuat berwarna cokelat lembut. Mereka sedang duduk berhadapan, dengan dua cangkir kopi dan makanan, serta tawa yang sepertinya tidak pernah lepas dari bibir di keduanya.

Sebenarnya bukan rahasia lagi jika Jeongguk, mantan Taehyung, mahasiswa yang terkenal oleh kepintaran, ketampanan, dan keramahannya dan yang selalu mendapatkan perhatian publik karena ini-itu.

Salah satu anggota pers mahasiswa yang paling aktif di angkatannya; dia selalu berhasil membawa pulang berita paling panas yang belum diketahui pers mana pun. Bersama Bogum, pemuda berambut hitam itu, dia selalu berjalan ke sana kemari mencari berita. Memburunya seperti pasukan Amazon yang kelaparan.

Mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dua minggu lalu.

Sebenarnya, Jeongguk yang mengakhiri hubungan mereka karena dia sedang mencoba untuk, seperti yang dikatakannya pada semua orang, “fokus menyelesaikan studinya”. Tapi di tengah-tengah agenda kerasnya untuk menjadi Jeon Jeongguk yang lebih baik, dia malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memata-matai kegiatan mantannya.

Katakan saja Jeongguk ini munafik, stalker menyedihkan. Tipe mantan yang seharusnya dijebloskan saja ke penjara, tapi sejauh ini dia tidak pernah ketahuan. Dan memang tidak, karena semua orang tahu bagaimana tingkah Jeongguk di sekitar Bogum-Taehyung, menatap keduanya dengan tatapan membunuhnya yang mengundang bola mata berputar dari teman-temannya.

Pasangan di depannya masih tertawa entah membicarakan apa. Saat Jeongguk melintas pura-pura membeli minuman ringan di vending machine di dekat mereka, Jeongguk mendengar mereka sedang membicarakan politik. Mungkin Jeongguk yang bodoh sehingga tidak pernah menemukan sesuatu yang lucu sama sekali dari pembicaraan tentang politik sementara Bogum bisa membuat lelucon darinya.

Itu membuat Jeongguk semakin sebal.

“Kau bisa membakar kafetaria dengan tatapanmu.”

Dia mengerjap; melupakan pemuda tinggi di sisinya. Kim Yugyeom dari jurusan kedokteran yang berkonsentrasi untuk menjadi spesialis bedah toraks. Hanya karena setahun lalu, salah satu kerabatnya mengeluarkan uang sejumlah tujuh digit untuk sekali kunjungan seorang dokter spesialis bedah toraks. Dan dia termotivasi untuk menjadi sekaya itu. Mimpi yang muluk, tapi Jeongguk menghargainya.

Manusia butuh uang. Jangan salahkan Yugyeom.

“Aku bisa saja berhenti jika Bogum sialan itu berhenti.” Gerutu Jeongguk sebal, menancapkan garpunya pada makanan di hadapannya dengan tenaga lebih dari apa yang dibutuhkannya.

“Memangnya apa yang dilakukannya?” Balas Yugyeom sambil mengunyah bagelnya dengan nikmat. Tidak memedulikan sahabatnya yang sedang bersungut-sungut di sisinya.

“Dia bermesra-mesraan dengan—!”

Mantanmu.” Sela Yugyeom cepat dengan senandung yang menyebalkan dan Jeongguk berharap jika saja dia bisa memukul kepala Yugyeom dengan sepatu atau batu; yang mana saja yang lebih dulu ditemukannya.

“Ya, Taehyung memang mantanku!” Jeongguk mendelik pada Yugyeom yang mencemoohnya dengan tatapan dan bentuk mulutnya.

“Kau sendiri yang minta putus. Katanya kau mau berubah menjadi Jeongguk yang lebih baik, fokus menyelesaikan studimu. Seperti anak SMA sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Tapi nyatanya kau malah duduk di sini. Menyiksa dirimu dengan mengamati Taehyung yang sudah move on.” Yugyeom menjilat jemarinya yang penuh mayonais dan mengundang kerutan jijik dari Jeongguk yang diabaikannya dengan mulus.

“Terima saja kenyataan, Bung. Apa yang sudah kaulepaskan, dilepas saja. Don’t cry over the spilled milk.”

“Aku tidak menangis!”

“Ter-se-rah.”

Jeongguk menoleh kembali ke Bogum-Taehyung yang sedang tertawa. Kali ini Taehyung sedang menggeleng-geleng dengan geli sementara bibir Bogum terus mengatakan sesuatu dengan senyuman yang bermain di bibirnya. Pemandangan itu membuat Jeongguk ingin membuat boneka jerami dan menusuk-nusuknya dengan paku. Membakarnya dengan posisi kepala terlebih dulu ke dalam api—apa saja agar Bogum menderita.

Mungkin juga menabur abunya di laut; Jeongguk bisa merasakan kepuasan menjalar di tubuhnya dengan cara yang begitu masokis hanya dengan membayangkannya. Yugyeom mengamatinya sambil mengunyah lamat-lamat. Apa pun yang sedang dipikirkan Jeongguk tergambar jelas di wajahnya. Seperti ada semacam televisi layar datar di atas kepalanya yang menayangkan acaranya.

Tangannya menepuk bahu Jeongguk, mendesah karena dia harus menyelamatkan sahabatnya sebelum mempermalukan dirinya sendiri di hadapan semua orang—yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

“Ayo, kau tidak akan mau ketinggalan kelas,” ajak Yugyeom memutar bola matanya. “Tinggalkan mereka, Bung. Kau punya kehidupanmu sendiri.”

Walaupun malas dan tidak ingin, Jeongguk tetap beranjak. Melemparkan satu tatapan busuk lain ke pasangan itu sebelum berjalan menghentak-hentak. Kekanakan dan benar-benar tidak menunjukkan sikap seorang mantan yang notabene meninggalkan, bukan ditinggalkan.

*

Begitu keduanya lenyap di pintu kafetaria, Taehyung tersenyum lebar dan tertawa. Bogum yang melihat tawanya ikut tertawa.

Sungguh, mereka sejak tadi sedang menertawakan tingkah Jeon Jeongguk yang selalu muncul dimana pun mereka berada dan mendapati banyak sekali hal lucu yang bisa ditarik dari caranya mengutit. Bagaimana pemuda itu sama sekali tidak berusaha membuatnya nampak sembunyi-sembunyi. Menatap mereka terang-terangan dan bahkan lebih dari sekali bertemu pandang dengan Bogum, alih-alih memalingkan wajah dia malah menatap Bogum semakin marah.

Maka setelahnya, Bogum berusaha untuk berpura-pura tidak melihatnya.

“Kau lihat wajahnya?” Tanya Taehyung, geli. Perutnya kram karena terlalu banyak tertawa bersama Bogum yang punya selera humor begitu sehat dan menyenangkan. Tawanya menular dengan cepat seperti virus.

“Seperti penderita wasir!” Sahut Bogum dan keduanya kembali tertawa geli.

“Demi Tuhan, aku ingin sekali melihat ekspresinya saat dia tahu bahwa semua ini hanya lelucon untuk memberinya pelajaran.” Taehyung kembali tertawa, berusaha mengatur napasnya.

“Dia memang punya terlalu banyak harga diri sebagai seorang dominan,” Bogum nyengir lebar saat Taehyung tertawa lagi untuk kesekian kalinya. “Kuharap harga diri itu membuatnya kenyang.”

Pemuda itu mengusap air mata di sudut matanya dengan napas tersengal sehabis tertawa. “Seharusnya kau di sana saat kami putus, demi Tuhan. Dia seperti baru saja menelan kastanye dan mendapati durinya menempel di kerongkongannya.”

Mereka kembali bertukar tawa yang riuh.

“'Aku ingin menjadi seorang Jeon Jeongguk yang lebih baik,’” dendang Taehyung mengejek dan mereka berdua kembali tertawa. “'Aku ingin fokus kuliah. Aku ingin membahagiakan orangtuaku.' Sungguh, memangnya kita ini anak SMA?”

Menikmati tawa Taehyung yang berdenting cantik, Bogum mengulaskan senyuman lebar, “Tu l’as aime?” Tanyanya. Kau menyukainya?

“Oh. Beaucoup.” Taehyung mengedipkan sebelah matanya. Sangat.

*

Si Botak Sial Park Bogum itu benar-benar butuh pelajaran.”

Jeongguk duduk di sebuah kursi sambil mengamati dua orang yang sedang duduk di kursi paling dekat mimbar; mengobrol dengan dosen tentang banyak hal yang cerdas. Taehyung sesekali menambahi argumentasi Bogum dengan cerdas. Mereka sempurna; indah surgawi, pintar, dan selalu mendapatkan perhatian.

Sementara Jeongguk? IP-nya selalu pas-pasan; keberuntungan-lah yang membuatnya mendapatkan surat penerimaan dari Imperial College beberapa tahun lalu. Dan bertemu pemuda yang sama-sama berasal dari Korea dan ternyata begitu menarik, menyenangkan, menggairahkan, lucu, manis….

Menggemaskan.

Bukan berarti Jeongguk langsung tahu Taehyung juga adalah seorang homoseksual dalam pertemuan pertamanya. Mereka sedang mabuk saat itu. Sehabis menonton final piala dunia, minum terlalu banyak bir dan makan terlalu banyak kacang tanah kemasan.

Saat itu Taehyung kelihatan cantik sekali dengan wajah merah padam akibat mabuk dan histeria kemenangan sehingga Jeongguk merunduk dan menciumnya. Lima temannya yang lain tidak peduli; semuanya teler di karpet apartemen Taehyung, terlalu mabuk untuk peduli.

Tapi keduanya saling membelit dalam ciuman dan Jeongguk—

Pemuda itu menggeleng keras. Mengenyahkan kenangan indah yang pernah diukirnya bersama Taehyung. Merasakan tubuhnya yang lezat, cokelat madu, hangat, dan beraroma seperti keringat yang autentik.

Fokus kuliah!” Pikir Jeongguk keras-keras sambil berusaha menatap layar yang sedang menayangkan slide. “Fokus kuliah, fokus kuliah… Apa Taehyung sudah pernah berhubungan seksual dengan Bogum? Tidak, tidak!” Jeongguk menggeleng lebih kuat.

Fokus kuliah, Jeon Jeongguk! Bangsat kau!” Dia menghela napas kasar kemudian melirik Taehyung dan lehernya yang indah seperti angsa. “Ya Tuhan, lehernya menggoda sekali. Apa ereksinya masih seindah yang dulu? Apakah—YA TUHAN, JEON JEONGGUK!

Dia sibuk menggeleng-geleng, tidak menyadari Taehyung sedang mengamatinya dari kejauhan dan menyerigai—jelas sangat menikmati perdebatan batin Jeongguk yang terpampang jelas di wajahnya.

*

“Hai, Jeonggukie!”

“Oh. H-Hai, juga Taehyung.”

“Kuliahmu baik?”

“Baik. Trims.”

Great. See you later, then?

O-okay. See you later!

Jeongguk melambai kecil saat Taehyung melambai padaya dan berjalan menjauh. Bertemu Bogum yang menunggunya lalu saling berangkulan berjalan menuju lapangan. Taehyung selalu menyempatkan diri bermain sepak bola dengan beberapa anak jurusan lain di lapangan.

Setiap sore sepulang kuliah dan Jeongguk akan ada di sana. Persis seperti Adam Levine di video musik Animals yang muncul di mana pun Behati Prinsloo berada, seperti stalker menyedihkan yang layak dihukum penggal. Jeongguk tidak menemukan sisi romantis dari video musik itu, mengerikan.

Dan coba tebak, siapa sekarang yang melakukan hal yang sama persis?

Jeon Jeongguk.

Hari ini pun begitu, dengan langkah yang sedikit ragu-ragu—awalnya, Jeon Jeongguk beranjak menuju lapangan. Mengikuti Taehyung yang sedang menentang sepatu sepak bolanya. Menggunakan sandal jepit yang entah kenapa kelihatan seksi di mata Jeongguk. Bagaimana kakinya yang kurus terpapar udara dalam balutan celana jersey yang tipis dan tertiup angin. Dia sedang bicara dengan Bogum, kepala mereka dekat sekali hingga Jeongguk jengkel.

Kapan sih pasangan itu tidak bicara dan tertawa seperti dua alien yang berbicara bahasa asing yang hanya difahami mereka berdua?

Nama siapa yang diteriakkan Taehyung saat orgasme? Kuharap itu Jeon Jeongguk. Pengucapannya seksi di bibir Taehyung. Dan—OKE. Fokus kuliah!” Jeongguk mendesah keras sambil membulatkan tekadnya, untuk kesekian kalinya.

Dia menghela napas, berbalik dan sudah siap melangkah menjauhi lapangan—pulang ke apartemennya dan mungkin bermain satu-dua game dengan Yugyeom saat dia kemudian berhenti.

Di tengah lorong dan mendengar sayup-sayup suara tawa indah Taehyung menggema di lorong kampus, ditingkahi suara Bogum. Jeongguk berhenti, menatap kakinya dengan jengkel dan hatinya yang bergemuruh.

Peduli setan.

Jeongguk berbalik dan melangkah panjang-panjang mengejar kedua pasangan yang sekarang sudah hampir tiba ke lapangan. Tangan Bogum melingkar di pinggang kurus Taehyung, meremas pinggulnya dan tertawa. Taehyung menatapnya, senyuman bermain di bibirnya yang indah.

Jeongguk terbakar.

Kenapa si kadal sial itu tidak bisa tidak menyentuh Taehyung, sih? Sehari saja. Dasar Botak sialan!

*

“Matanya menempel di bokongmu.”

Taehyung tertawa mendengarnya. “Bukannya matamu juga?” Balasnya melirik Bogum yang memutar bola mata geli.

Man,” katanya. “Aku bukan tipe manusia yang munafik. Aku menyambut orientasi seksualku dengan pelukan hangat, kemarikan semua lelaki menggemaskan itu. Akan kuciumi semuanya hingga menangis.”

“Kau memang dilahirkan untuk jadi gay.” Taehyung kembali tertawa sambil berjalan di sisi Bogum menuju lapangan sepak bola yang selalu digunakannya setiap pulang kuliah.

Bogum melirik sejenak sambil menggaruk pelipisnya untuk menyamarkannya. “Dia mengikuti kita.” Katanya berbisik, melirik Jeon Jeongguk yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan lasernya, mengikuti dengan sangat terang-terangan.

Dia bahkan tidak berusaha menyamarkan tingkahnya sama sekali.

Well, kau tahu, 'kan, apa yang harus dilakukan?” Taehyung meliriknya penuh makna dan Bogum tersenyum lebar.

“Oh, aku mulai suka pekerjaanku.” Katanya serak lalu memukul pantat Taehyung dengan suara teredam dan meremasnya dengan hangat. “Dan kau sendiri yang menjelaskannya ini pada pacarku, oke?”

Taehyung mengedip. “Always.”

*

Si Botak sialan!

Bola mata Jeongguk nyaris saja jatuh ke lantai dan berguling-guling saat menyaksikan tangan berjari kurus milik Bogum mendarat di pantat Taehyung dan meremasnya, dengan begitu bersemangat. Jeongguk menatap geram bagaimana jemari itu terbenam dalam pantat Taehyung yang selembut beledu, montok dan terasa sangat pas di telapak tangan Jeongguk.

Dan Taehyung malah tertawa pada tindakan itu. Tidak mencoba untuk melarangnya.

Mereka pasti sudah pernah berhubungan seks!” Pikir Jeongguk marah, memicingkan mata seraya mengikuti mereka dengan mata menempel di tangan Bogum di pantat Taehyung.

Hah, lagi pula si Botak itu tidak akan tahu kalau Taehyung akan sangat tersiksa jika—FOKUS KULIAH!” Napas Jeongguk terdengar kasar saat dia berhenti tiba-tiba di tengah lorong sementara si Park Tangan-Mesum-Sialan Bogum dan Taehyung melanjukan perjalanan mereka.

Fokus kuliah. Fokus kuliah.” Pikir Jeongguk saat mengamati mereka berjalan semakin jauh. Remasan Bogum semakin kurang ajar, dia mengusap-usapkan ibu jarinya pada permukaan pantat Taehyung dan Taehyung tertawa—menikmatinya.

Dan Jeongguk terbakar cemburu; yang didominasi rasa iri karena tangan Bogum bebas di pantat Taehyung. Pantat yang dulu jadi miliknya. “Fokus kuliah!” Dia mengangguk sambil berpaling menuju arah yang berlawanan; berniat pulang lagi.

Dan kali ini sangat serius.

Dia harus melanjutkan agenda fokus kuliahnya dan lulus tepat waktu.

Dua langkah, dia berhenti dan menoleh ke arah Bogum-Taehyung. Mengumpat kesal, dia berbalik kembali. Mengejar keduanya dengan menyedihkan.

Taehyung milikku, Haram Jadah mesum!

*

“Jeongguk!”

Pemuda itu mengerjap; persis seperti maling yang tertangkap basah saat salah satu teman Taehyung, Sammy, memanggilnya dari tengah lapangan. Mereka sedang bertanding, dengan cara yang konyol tapi seksi. Sebelum bertanding, mereka melakukan suit. Yang kalah harus membuka baju seragamnya (berhubung seragam mereka semua sama) agar tidak sulit membedakan kawan dan lawan. Mereka hanya bermain sepak bola mini dengan masing-masing enam pemain.

Dan Taehyung tergabung dalam tim yang tidak mengenakan baju.

Itu bukanlah hal yang sehat untuk Jeongguk. Oh, sama sekali tidak.

Look at that tummy, so soft. Almost bread-like. For the love of God!” Kutuk Jeongguk saat Taehyung membuka bajunya. Dadanya datar, perutnya datar; semuanya datar. Taehyung bukan tipe pemuda yang suka melakukan olahraga ekstrim membentuk tubuh sejauh ingatan Jeongguk, dia hanya akan pergi ke gym untuk olahraga ringan agar tetap fit.

Tapi frekuensinya membuat kepala Jeongguk rusak.

Jenis rusak yang sangat disukai Jeongguk—sebenarnya. Dan malah menggelembung di tempat yang semakin merusak kepala Jeongguk.

Dia sangat merindukan seks mereka. Bagaimana Jeongguk membenamkan wajahnya di perut Taehyung yang lembut, menciuminya dan menghirup aromanya yang harum dan lembut. Bagaimana Taehyung membelai punggungnya tiap kali Jeongguk mulai merangkak menaunginya. Bagaimana Taehyung mendesahkan namanya tiap kali Jeongguk mulai bergerak...

Fokus kuliah, Jeon Jeongguk. Fokus kuliah!

“Kau mau bergabung? Kami kekurangan pemain!” Seru Sammy lagi saat Jeongguk hanya begong dengan mulut ternganga di pinggir lapangan. Dengan postman bag dan polo shirt kusut.

“Hei, Man, nyawamu, oke?” Tanyanya geli karena Jeongguk tak kunjung juga menjawab.

Pemuda itu mengerjap, seolah baru saja ditampar dan menutup mulutnya dengan suara tak! keras rahangnya beradu. “Oke!” Balasnya, mulai berdiri dan bersiap untuk bergabung dalam permainan. “Tim mana yang kekurangan pemain?”

“Timku!” Seru Sammy lagi, senang karena Jeongguk menerima ajakannya. “Tim Taehyung penuh.” Tambahnya karena semua orang—semua orang tahu bagaimana Jeongguk terhadap Taehyung. Dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.

Jeongguk menatap Taehyung yang langsung tersenyum ramah padanya. Sial, matahari membuat tubuh pemuda itu semakin indah. Jeongguk mengutuki bakat penggoda Taehyung yang sial itu ke neraka paling jahanam.

“Oke, aku bergabung.” Sahut Jeongguk sambil melompati beberapa tangga dan mendarat di dekat tumpukan tas para pemain. Dia melepas tasnya dan menerima seragam dari salah satu anak buah Taehyung. Dia mengganti polo shirt-nya dengan cepat dan menggulung celananya ke atas, memastikan gulungannya kuat; dia bergabung dengan Sammy yang kelihatan puas melihatnya.

“Oke, kita punya enam-enam!” Katanya bangga pada dirinya sendiri setelah Jeongguk berdiri di sisinya dengan tatapan yang tidak lepas dari Taehyung yang berdiri di hadapannya—kulitnya berdenyar oleh cahaya matahari.

Jeongguk nyaris saja mengerang keras, berguling ke lapangan dan menangisi kehidupannya yang menyedihkan karena tidak bisa memiliki Taehyung di hidupnya.

“Hei, senang melihatmu di lapangan.” Taehyung tersenyum lebar padanya, melambaikan tangannya dengan ramah.

Dampaknya tentu saja buruk pada Jeongguk.

Dia mengutuk ereksinya yang datang tiba-tiba, hanya karena senyuman dan tubuh atas Taehyung yang terpapar udara. Dia menyatat dalam hati, jika tetap begitu, maka dia terpaksa harus puas dengan main solo. Jeongguk membalas senyumnya dengan agak terlambat lalu permainan di mulai.

Permainan yang sangat kacau-balau dan semuanya karena Jeongguk.

Sepanjang permainan, dia tidak bisa tidak menoleh ke Taehyung yang begitu seksi dengan alis berkerut, tubuh berkeringat, dan suara yang menggelegar memanggil anak buahnya. Dia berlari selincah peri saat membawa bola.

Sekali, Jeongguk menerima operan bola dari Nicholas, si plontos berkulit keemasan seksi dan bukannya membawanya ke gawang lawan atau mengopernya ke temannya, dia malah mengoper bolanya ke Taehyung yang menerimanya dengan kaget lalu tersenyum lebar sekali.

Oh, dia nampak sangat indah saat tersenyum. Bersinar.

“Terima kasih, Sayang!” Katanya lalu terbahak dan berlari membawa bola ke gawang tim Jeongguk; berhasil membobolnya dengan tendangan manis yang tidak sanggup digagalkan keeper.

“Jeon Jeongguk, demi Tuhan!” Seru Sammy dengan suara tersengal, wajahnya memerah dan dia nampak sangat gusar. “Bisakah kau membedakan lawan dan kawanmu?!”

Jeongguk meringis. “Maaf, Sam!” Katanya sambil membungkuk meminta maaf ala Asia dan Sammy memutar bola matanya pada Jeongguk sebelum kembali memasang posisi menyerang.

Akhirnya pertandingan dimenangkan tim Taehyung, tentu saja.

Keenamnya bersorak sambil bertukar high-five sementara tim Jeongguk berbaring di rumput sambil mengatur napasnya. Setelah kejadian salah oper pertamanya, Jeongguk tidak pernah mendapat operan bola lagi dan Jeongguk menghabiskan waktunya berdiri di depan keeper dan mengobrol dengannya. Berusaha mengalihkan pikirannya dari betapa indahnya tubuh Taehyung dan ereksinya sendiri yang begitu menganggu.

Dan itu membuat konsentrasi keeper buyar selama pertandingan dan tim Taehyung sukses membabat habis tim mereka dengan tendangan beruntun. “Maafkan aku, Sam.” Gumam Jeongguk pada kaptennya yang berbaring lelah di sisinya.

“Itu oke,” kata Sam serak, tersenyum kecil. “Tidak masalah. Ini hanya latihan untuk bersenang-senang. Jangan terlalu dipikirkan.”

Jeongguk tersenyum kecil lalu mengangkat tubuhnya duduk dan dia langsung berhadapan dengan Taehyung yang duduk tepat digaris lurus dengannya. Sedang meneguk isi botol air mineral dengan tubuh separo telanjang yang basah oleh keringat.

Pemuda itu kelihatan semanis gula batu yang harus disesap perlahan-lahan untuk mendapatkan rasa manisnya. Dan Jeongguk tergoda untuk melakukannya.

Tapi dia kemudian kembali teringat agendanya yang sudah terlalu sering berantakan dan kembali menegaskan bahwa dirinya harus fokus kuliah. Dia akan segera mencari seseorang untuk satu one night stand yang lezat dan melupakan Taehyung.

Menamatkan studinya dengan gemilang, kembali ke Seoul, dan menjadi dokter yang berbakat. Mungkin akan mengikuti jejak Yugyeom untuk melanjutkan gelar spesialisnya. Berencana untuk mengambil spesialis penyakit dalam untuk mempelajari organ dalam manusia. Sempurna.

Mungkin juga akan mencari tahu bagaimana bisa Kim Taehyung tampak begitu seksi sehingga membuatnya ereksi (Jeongguk diam sejenak karena dua kata itu berima; Taehyung yang seksi, selalu membuat Jeongguk ereksi.) Hormon mana yang sekiranya berperan? Bagaimana hormon itu membuat ereksi? Menaikkan otot-otot hingga tubuhnya menegang? Kenapa dia tidak tahu ini? Padahal dia calon dokter?

Sial.

Jeongguk harus bermain solo. Segera.

*

Cara yang baik untuk bermain solo adalah berkonsentrasi pada dirimu sendiri dan jangan pedulikan sekitarmu.

Bahkan jika saat ini kau sedang berada di kamar mandi indoor yang sedang digunakan total dua belas orang. Dua bilik di sisi-sisimu terisi; dengan suara obrolan, nyanyian, dan gemericik air. Jeongguk sengaja menyalakan shower saat bermain sehingga orang-orang mengiranya sedang mandi.

Jeongguk berusaha kuat untuk berkonsentrasi pada kenikmatan yang menjalar di tubuhnya alih-alih berkonsentrasi pada suara ribut disekitarnya. Itu bisa menghancurkan semua kenikmatan yang sedang dibangunnya.

Rasa nikmat yang sekarang menetes ke dasar perutnya dan siap untuk meledakkannya menjadi jutaan keping. Jeongguk mempercepat tangannya sendiri sambil menjaga bibirnya tetap rapat.

Sedikit lagi…

Sedikit lagi….

Dan….

“Jeon Jeongguk?”

SIAL!

Jeongguk nyaris saja meraung karena gagal orgasme. Dia dikejutkan oleh gedoran di pintu bilik yang digunakannya dan tersengal saat orgasme yang susah payah dikejarnya itu meredup lalu lenyap seketika sebelum bahkan sempat keluar. Dia mengguyur kepalanya di shower untuk menjernihkan kepalanya dan mencoba mengatur dirinya sendiri agar tidak membentak siapa saja yang berani-beraninya menganggu pekerjaannya.

Konsentrasi…,” pikirnya, bernapas melalui mulutnya. Berusah mengenyahkan sakit kepalanya dan tubuhnya yang berdenyut kecewa. “Konsentrasi…,

Lalu dia menjawab dengan suara yang gemetar. “Ya?”

“Oh, syukurlah. Kupikir terjadi sesuatu denganmu.”

Sial, itu Kim Taehyung. Dari semua orang, kenapa harus Kim Taehyung?

“Aku baik.” Jeongguk mengusap wajahnya yang basah dan memilih untuk mandi sambil mengamati tubuhnya yang sudah melemas.

Kenapa sulit sekali untuk berbuat baik? Menjadi manusia yang menjauhi dosa? Dia hanya ingin hidup damai, belajar dengan giat dan lulus dengan gemilang. Tidak susah, ‘kan?

“Apakah kau sudah selesai? Aku harus mengunci ruangannya.”

Apa? “Apa?”

“Semuanya sudah pulang. Kau terlalu lama di kamar mandi. Kupikir kau tadi pingsan. Jadi aku terpaksa menggedor pintunya.”

Jeongguk bergegas menyudahi mandi dengan terburu-buru dan menyambar handuknya di dinding bilik, melilitkannya di pinggangnya dan menyentakkan pintunya terbuka. Langsung berhadapan dengan tubuh mungil Taehyung yang lembap oleh air dan aroma sabun mandi yang segar. Berdiri dengan pakaiannya yang rapi, menunggu Jeongguk.

Merasakan Taehyung begitu dekat, aromanya yang menggoda, senyumannya, hangat kulitnya, belum lagi karena acara gagal-orgasme tadi, membuat Jeongguk ereksi dengan cepat. Orgasmenya yang tadi pergi, kini kembali dengan wujud pemuda seksi dengan wajah kebingungan di hadapannya. Mendapati ruangan itu kosong membuat Jeongguk semakin tersiksa.

Taehyung tersenyum. “Kau bisa berganti baju. Aku akan menunggumu.” Katanya sambil melambaikan kunci ruangan indoor yang bergemericing dengan ceria. Dia berjalan menjauh; memberikan ruang bagi Jeongguk dan tubuh sialannya yang tidak mau tidur.

“Taehyung?”

Suara Jeongguk terdengar serak dan tersiksa.

Taehyung berhenti dan menoleh. “Ya?” Tanyanya ramah.

Peduli setan pada agendanya atau pada ancaman ayahnya yang akan menjadikan kepalanya sebagai hiasan gantung; Jeongguk harus menyelesaikan ini.

Jadi, dia beranjak mendekati Taehyung dan menyentakkan pemuda itu ke tubuhnya. Handuk terlepas dan mendarat di antara mereka. Dia bisa mendengar Taehyung menahan napasnya dengan suara terkesirap keras yang indah sekali. Tangan Jeongguk meluncur ke pangkal pahanya dan meremas dengan lembut.

“Aku merindukanmu, dasar kau sialan.” Sengal Jeongguk di telinganya saat Taehyung mendongak dengan bibir terkuak oleh gairah, desahan pertama meloloskan diri dari bibirnya dan Jeongguk mengumpat saat menyadari Taehyung masih seindah dulu.

“Kupikir kau masih sibuk dengan agenda fokus kuliahmu.” Gumam Taehyung sambil menikmati rangsangan yang diberikan Jeongguk dengan tangannya yang terasa sangat akrab di tubuhnya yang meremang.

“Peduli setan.” Gumam Jeongguk merunduk dan membenamkan wajahnya di leher Taehyung. “Aku harus memilikimu.” Dia menarik Taehyung ke dalam bilik dan melepas pakaiannya dengan kebutuhan yang naik ke ubun-ubun, nyaris membuat kepalanya pecah.

Dengan lincah dan tangan yang akrab dengan tubuh Taehyung, pemuda itu memetanya. Membelai, menggoda, dan menjilatnya lembut. Taehyung mengeluarkan suara-suara erang nikmat yang membelai egoisme serta telinga Jeongguk. Ereksinya semakin menyiksa. Dan Jeongguk selalu tahu, mulut Taehyung selalu lebih nikmat daripada tangannya sendiri.

Ketika Taehyung mengecupnya; Jeongguk merasa dia bisa saja mati karena kenikmatan. Bagaimana bibir lembap itu mengecupi ujungnya dan menjilatny lembut. Dan Jeongguk menggeram dalam seperti seekor singa yang teritorinya diganggu menahan semua gairahnya.

“Jadi,” Taehyung menatap keperkasaan Jeongguk di genggamannya dengan tatapan melamun dan memijatnya lembut. “Sejak tadi kau sedang bermain solo, ya?” Gumamnya.

Jeongguk tersengal di atasnya. Desahannya membuat Taehyung merinding. “Jangan main-main dengan ereksiku, Taehyung.” Katanya menggeram lalu mendesah keras saat Taehyung meremasnya.

“Aku, ‘kan, hanya bertanya. Tidak perlu sewot begitu.” Sahut Taehyung lagi dengan nada kalem yang menyebalkan sebelum membuka mulutnya dan memberikan Jeongguk blowjob terhebat di dunia.

Desahan Jeongguk lepas dan dia meradang oleh kenikmatan. Di sana.

Di lantai kamar mandi dengan air yang menetes dari shower. Pinggiran bibir Taehyung menggesek kulitnya yang sensitif; membuat jutaan rasa meledak dalam dirinya. Bagaimana bisa dia meninggalkan pemuda dengan kualitas blowjob terhebat se-London ini?

Jeongguk terengah saat mendorong Taehyung bersandar ke dinding bilik dan menatap tubuhnya yang lembap. “Dasar setan kecil sialan.” Geramnya serak dengan kepala berdentam-dentam oleh gairah.

Taehyung merona saat menatap keadaan Jeongguk yang mengenaskan. Wajah memerah oleh gairah, selapis keringat di keningnya, juga ereksinya yang tersiksa. Bibirnya membentuk senyuman simpul jahat. Senang mengetahui bahwa dia bisa menyiksa Jeongguk.

Menarik celananya, Jeongguk menatap tubuh Taehyung. “Ah,” komentarnya sopan saat menyentuh bagian tubuh Taehyung yang menegang hingga lelaki itu mendesah keras.

“Sudah ereksi karena blowjob-nya, ya?” Dia memainkan jemarinya dengan ahli; dia selalu tahu dimana tempat yang tepat untuk menyentuh Taehyung dan membuatnya mendesah seperti orang gila.

“Aku tidak peduli apakah kau siap atau tidak, but here I come.” Bisik Jeongguk di telinganya sambil membelai Taehyung dengan jemarinya. Desahan demi desahan lolos dari bibir Taehyung; wajahnya merah padam sementara jemarinya meremas rambut Jeongguk.

“Kau sebaiknya mempersiapkan diri. Rindu yang kutahan tidak akan baik hati padamu.”

*

Kedua orang itu berdiri di depan pintu apartemen yang terkuak. Salah satunya berambut cepak hitam dan yang satunya hanya menggunakan celana piyama longgar yang tipis dan seksi dengan bagian tubuh atasnya terpapar udara. Rambutnya acak-acakan dan berwajah mengantuk, bengkak karena tidurnya yang pasti sangat nyenyak.

“Agendamu sukses?”

“Tentu saja.”

“Aku sudah duga si Dungu Jeon Jeongguk itu tidak akan bisa fokus kuliah.”

“Jangan sebut dia dungu.”

“Baiklah, inferior.”

“Kau hanya memperhalusnya saja.”

“Menurutmu aku harus menyebutnya pintar saat dia membohongi dirinya sendiri bahwa penis sialannya itu selalu ereksi saat melihatmu?”

“Bahasamu, Park Bogum.”

“Yah, persetan.”

“Dia sedang berusaha dan kita seharusnya menghargai usahanya untuk berubah. Dia ingin kuliah, ingin pintar dan lulus dengan gemilang.”

“Usaha yang menyedihkan, jika kau bertanya padaku.”

“Berita bagusnya, aku tidak bertanya padamu.” Taehyung menyerigai. “Setidaknya dia akhirnya kembali padaku. Ya, ‘kan?”

Bogum memutar bola matanya. “Ya, dia kembali padamu. Dasar mengerikan.”

Taehyung tertawa. “Sampaikan salamku pada pacarmu.”

Bogum mengangguk. “Bukankah kau punya satu ereksi lagi yang harus diselesaikan?” Dia mengerling ke kamar Taehyung yang pintunya terkuak.

Ada sepotong tubuh lelaki yang mengintip dari bawah selimut yang awut-awutan. Taehyung memberikannya ekspresi paling menggoda yang membuat Bogum kembali memutar bola mata.

“Sana,” Bogum mengendikkan dagunya ke dalam kamar. “Beri dia blowjob, handjob, atau job-job apa pun entah yang diinginkannya. Aku akan kembali ke pacarku sebelum terpaksa meminjam kamar mandi untuk bermain solo.”

Tawa Taehyung terdengan tinggi dan ceria.

Bogum menatapnya dengan geli, mengamati wajah Taehyung yang akhirnya kembali ceria setelah tiga minggu lalu menangis di hadapannya setelah Jeongguk mengakhiri hubungan mereka dan Bogum sendiri yang memberikannya ide untuk berpura-pura pacaran, mengetes seberapa hebatnya Jeon Jeongguk membohongi dirinya sendiri bahwa dia menginginkan Taehyung.

Dan di sinilah mereka sekarang. Taehyung dan Jeongguk yang bahagia dengan kehidupan seksual mereka.

Tu l’as aime?Kau menyukainya?

Je t’aime.” Balas Taehyung mengedip sebelum membanting pintu tertutup di depan wajah Bogum yang sedang menggeleng-geleng geli sebelum berbalik dan pulang.

Tugasnya selesai.

*

Taekook's Oneshot – Lullaby.

*

Pintu depan terbanting menutup diikuti suara gemericing kunci dan hembusan napas berat Taehyung yang sudah dikenali Jungkook.

“Bajingan-bajingan itu.”

Jungkook terkekeh, mendongak dari televisi ke suaminya yang membuka pintu dengan wajah kusut, menarik dasinya yang mencekik hingga melonggar. Dia melempar tas kerjanya ke sofa, ke sisi Jungkook yang sedang meringkuk dengan es krim di tangannya, selimut di bahunya, menonton Netflix.

“Selamat datang di rumah, Sayang.” Katanya ceria lalu menjulurkan lehernya, Taehyung merunduk—memberikan bibirnya kecupan dan mendecap saat sisa rasa es krim menempel di bibirnya dan mengusap rambut Jungkook dengan lembut.

“Makan atau mandi?” Tanya Jungkook saat Taehyung mulai melepas kancing kemejanya, memamerkan tubuh kurusnya yang liat seperti seekor cheetah dalam balutan kaus singlet tipis yang beraroma pekat parfum dan keringatnya.

“Mandi.” Sahut Taehyung memijat kepalanya dan melepas kacamatanya lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal setelah seharian dijepit kacamatany.

“Mandi.” Beo Jungkook, mengangguk setuju. “Silakan mandi, kuhangatkan makan malammu lalu aku akan mendengarkan seluruh kisah tentang bajingan-bajingan itu, oke?” Dia berdiri, meletakkan es krimnya di meja dan menghampiri Taehyung.

Dia merangkulkan lengannya di leher Taehyung dan mengecup masing-masing pipinya, keningnya, kelopak mata Taehyung lalu bibirnya dengan suara kecupan basah yang nyaring. Dia membelai pipi Taehyung dengan lembut dan tersenyum—begitu lebar hingga Taehyung tidak bisa tidak membalas senyumannya.

“Jangan terlalu sering memberengut begitu, nanti cepat tua.” Goda Jungkook nyengir hingga sudut matanya membentuk kerut-kerut seperti kipas. Menggelayut pada Taehyung yang mendesah, kedua lengan Taehyung naik memeluk pinggangnya yang kecil dan merapatkan pelukan mereka.

Dia mengecup pelipis Jungkook yang harum setelah mandi dan mendesah kembali. Menempelkan keningnya di kening Jungkook, memejamkan mata. Merasakan seluruh kehidupan Jungkook di permukaan kulitnya. Denyut nadinya, desir darahnya dan deru napasnya. Aroma tubuh Jungkook yang begitu akrab menempel di cuping hidungnya, di sudut otaknya—membuatnya merindukan rumah tiap kali dia mendekat pada Jungkook.

“Pekerjaanmu hari ini berat sekali, ya?” Tanya Jungkook lembut sementara Taehyung masih memejamkan mata dengan tangan menggenggam erat sisi-sisi pinggulnya.

“Sangat.” Desah Taehyung serak dan parau. Lalu menarik tubuhnya, “Aku harus mandi sebelum aku tidak sengaja jatuh tertidur dalam pelukanmu.”

Jungkook tertawa. “Siap, Pak Manajer.” Katanya melepaskan Taehyung yang terseok-seok ke kamar mandi.

Jungkook memunguti tas kerja Taehyung, kemejanya serta merapikan sepatunya. Ini bukan pertama kalinya Taehyung pulang lebih malam dari biasanya dan bukan kali pertama Jungkook tiba di apartemen serta mendapati tempat mereka masih gelap. Tidak masalah sama sekali. Taehyung pasti akan melakukan hal yang sama jika Jungkook pulang terlambat—menyiapkan makanan, air hangat dan busa mandi yang menyenangkan.

Kembali ke dapur, Jungkook mengeluarkan makan malam yang disisihkannya untuk Taehyung tadi. Memasukkannya ke microwave dan menunggu. Dari luar, dia mengamati piring yang berputar di dalam mesin—memikirkan Taehyung yang sekarang sedang membasuh dirinya di kamar mandi. Suara gemericik air dan senandung lirih Taehyung yang menggema dari kamar mandi membuatnya tersenyum.

Setidaknya dengan mandi, otot-otot Taehyung yang tegang merileks. Dia juga sudah membelikan Taehyung sabun kesukaannya, memastikan air hangatnya siap untuk Taehyung sebelum dia pulang.

Microwave berdenting dan Jungkook mengeluarkan makan malam Taehyung dari sana. Meletakkannya di meja, mengambil segelas air dan menoleh saat Taehyung keluar dengan celana training buluk kesukaannya bertelanjang dada. Ujung-ujung rambutnya berkilauan oleh titik-titik air, dia membersit air yang masuk ke telinganya seraya melangkah ke dapur tempat Jungkook baru saja meletakkan segelas air di meja.

“Silakan makan.” Kata Jungkook, mengecup pipi Taehyung yang beraroma segar sabun mandi dan terasa lembab oleh air hangat. Aromanya membuat Jungkook mendesah panjang, ingin membenamkan diri ke cerukan leher Taehyung dan tidur hingga pagi. Menyenangkan sekali, terasa selembut mentega.

Membiarkan Taehyung makan, Jungkook beranjak kembali ke sofa. Meraih selimut dan es krimnya yang mulai meleleh. Dia mengeluh kecil saat menyadarinya, meraih sendoknya yang hampir tenggelam di kemasan es krim lalu mulai menyuap. Tersenyum senang karena rasanya masih enak.

“Kau sudah makan?” Tanya Taehyung dari dapur, ditingkahi suara denting sendok dan piring yang digunakannya makan. Mengunyah makanannya dengan kunyahan ringkas dan cepat khas dirinya.

“Sudah, sebelum kau pulang. Aku lapar sekali, maaf tidak menunggumu pulang.” Jungkook menoleh dan Taehyung mengangguk, memberi gestur bahwa hal itu tidak masalah sama sekali untuknya.

Jungkook membiarkan Taehyung menghabiskan makan malamnya. Menatapnya saat membawa piring bekasnya ke bak cuci piring dan mencucinya sendiri. Dia berdiri di sisi bak cuci, membilas piringnya dengan wajah terkantuk-kantuk. Setelah meletakkan piring di atas rak pengering, dia mengelap tangannya sebelum beranjak ke sofa tempat Jungkook duduk.

Melihat Taehyung menghampirinya, Jungkook menyingkirkan tempat es krimnya yang sudah kosong dan membuka selimutnya. Taehyung langsung menyusupkan dirinya ke pangkuan Jungkook yang hangat dan mendesah panjang seolah seharian sedang menahan rasa sakit yang tak terperi dan Jungkook mengobatinya.

Jungkook terkekeh, dengan jemarinya membelai helaian rambut Taehyung yang lembab. “Lalu, sekarang beritahu aku tentang para bajingan itu.” Dia menunduk, menatap Taehyung yang memejamkan mata dengan satu tangan menggengam tangan Jungkook di atas dadanya yang berdebar lembut.

“Mereka memintaku merombak semuanya di menit terakhir. Sungguh semuanya.” Taehyung mengernyit dengan mata tertutup, jelas sangat jengkel dengan perubahan mendadak itu. “Tidak memberikanku banyak pilihan dan menekanku dengan deadline yang mencekik. Mereka seolah lupa mereka sedang bekerja dengan manusia yang butuh 8 jam untuk istirahat.”

You're doing great, Darling.” Bisik Jungkook mengecup keningnya sayang dan dalam. “Menurutmu bisakah kau melakukannya? Mengejar deadline mereka?”

“Memang aku memiliki pilihan lain selain menyelesaikannya?”

Jungkook tertawa, suara tawanya membuat helaan napas Taehyung semakin melambat dan memberat. Suara Jungkook memiliki daya magis yang selalu membuat seluruh tubuh Taehyung merileks seperti mentega yang dilelehkan—membutnya begitu nyaman dan mengantuk.

“Sayang?”

“Hm?”

“Nyanyikan sesuatu untukku, boleh?”

Jungkook terkekeh. “Tentu,” katanya. “Apa saja untuk suamiku.”

Taehyung tersenyum, matanya masih tertutup. Dia membawa tangan Jungkook dalam genggamannya ke bibirnya—mengecupnya lembut dan intim. Rasa cintanya untuk Jungkook meleleh di seluruh pembuluh darahnya, memenuhi paru-paru serta seluruh organnya dengan cara yang menakjubkan seperti bagaimana Tuhan meniupkan kehidupan ke tubuhnya.

“Hari ini, beristirahatlah.” Jungkook berdendang lembut, membuai Taehyung dengan suara lembutnya hingga dia terombang-ambing dalam keadaan setengah sadar dan tidak.

“Besok, semuanya akan lebih baik. Besok kau akan memiliki tenaga yang cukup untuk mengejar ketertinggalan kalian.”

“Jungkook.”

“Ya?”

“Aku mencintainmu.”

Jungkook tertawa. “Aku juga mencintaimu, Bayi Besar.” Dia mengecup kening Taehyung lembut dan mendesah. “Terima kasih sudah bekerja hari ini, terima kasih sudah berjuang hari ini untuk kita.”

Mata Taehyung terbuka sebelah. “Terima kasih juga sudah berjuang hari ini untuk kita.”

Mereka berdua bertukar pandangan lalu Jungkook berdeham, bersiap-siap untuk menyanyi. “Kau ingin lagu apa?”

Taehyung tersenyum lebar, memejamkan matanya kembali meremas lembut tangan Jungkook di genggamannya. “Apa saja.” Bisiknya.

Jungkook menarik napas, “Do you love the rain? Does it make you dance?

Senyuman Taehyung langsung terbit, dia mendesah. Suara lembut surgawi Jungkook menyusup ke telinganya. Membelai jiwanya yang lelah dengan cara yang begitu menakjubkan. Dia berusaha bernapas selembut mungkin—apa saja agar suara Jungkook terdengar jelas di telinganya, di seluruh inderanya.

When you're drunk with your friends at a party? What's your favorite song, does it make you smile? Do you think of me?

Jungkook menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata menikmati lagunya sendiri sementara Taehyung di pangkuannya mulai rileks terbuai suaranya. Jemari Jungkook membelai rambutnya yang lembab, menina-bobokan Taehyung dengan suaranya.

When you close your eyes, tell me, what are you dreamin'? Everything, I wanna know it all.

Mereka terasa begitu dekat dalam kondisi lemah yang sama. Saling menguatkan, saling mendukung. Jungkook menyerap kelelahan Taehyung setelah seharian bekerja dan memastikan dia cukup kuat untuk kembali bekerja keesokan harinya. Dan begitu pula sebaliknya.

Mereka berbagi rasa lelah mereka untuk ditanggung bersama, agar keesokan harinya mereka terbangun dengan perasaan ringan dan hangat. Membagi energi mereka masing-masing untuk satu sama lain.

I'd spend ten thousand hours and ten thousand more. Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours.

Jungkook adalah tempat ternyaman dan teraman dalam hidup Taehyung. Suaranya, tawanya, senyumannya—segalanya adalah hal yang dibutuhkan Taehyung untuk tetap waras.

Dalam perjalanan pulang, semuanya terasa menjengkelkan dan menyebalkan. Melelahkan dan menguras seluruh energi. Pekerjaannya yang tidak kunjung selesai, revisi-revisi yang terus berdatangan, klien-kliennya yang tidak kunjung puas dengan pekerjaannya. Atasannya yang menekan, anak buahnya yang sulit di atur...

Taehyung pikir dia akan meninggal muda karena serangan stroke setelah hari ini berakhir.

And I might never get there, but I'm gonna try. If it's ten thousand hours or the rest of my life.

Namun Jungkook dengan suara malaikatnya membuatnya kembali hangat setelah melalui hari yang dingin dan melelahkan. Membuatnya kembali segar dan bersemangat. Membelai lelahnya dan mengubahnya menjadi kehangatan.

I'm gonna love you, I'm gonna love you.

Kata cinta pun tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa kuat perasaan yang dirasakan Taehyung membuncah di dadanya. Kata cinta bahkan melemahkan perasaan itu—perasaan yang membuatnya ingin terus membahagiakan Jungkook, ingin terus berjuang bersamanya.

Ingin terus mencintainya hingga Jungkook meledak oleh kasih dan sayangnya.

Dia ingin terus membuat Jungkook miliknya.

I love you.” Bisik Jungkook lalu mencium keningnya. “Now, hush, Baby. Let's sleep.

Dan Taehyung menyerah, menceburkan diri dalam kegelapan dan kenyamanan yang dijanjikan ketidaksadarannya.

*

KookV AU – Mykonos' Sunset.

*

Taehyung sudah mendengar banyak mitos tentang matahari tenggelam di Yunani.

Begitu indahnya, terasa magis menyentuh bagian terdalam hati dan jiwanya hingga dia mendesah penuh rasa nyaman menatap semburat jingga pekat yang mulai meluruh menjadi keunguan.

Dia beruntung hari ini begitu cerah hingga matahari terbenam yang dinikmatinya begitu indah. Dia dan puluhan orang lain yang sedang duduk di atas pasir pantai lembut tanpa alas karena dia ingin merasakan bumi di kulitnya, angin laut serta cahaya matahari senja yang membelai permukaan kulitnya hingga berkilauan.

Taehyung menaikkan kacamata hitamnya, menatap ke langit yang megah dan indah. Seandainya saja tunangannya bisa sedikit lebih cepat dan tidak menghabiskan waktu berharganya dengan pergi ke toilet, maka mungkin mereka bisa memiliki saat-saat romantis yang bisa diingat seumur hidup mereka dalam puncak matahari terbenam yang begitu menghipnotis.

Dia melirik ponselnya, hening. Belum ada tanda-tanda kehidupan dari tunangannya yang sudah sejak lima menit lalu di toilet.

Tunangannya belum juga membalas pesannya. Jadi dia meraih kembali benda itu dan mengetik dengan jengkel: Masih lama tidak?

Lalu menekan tombol kirim dengan tenaga yang lebih dari yang benar-benar dibutuhkannya lalu kembali menatap langit. Mengarahkan kamera mirror-less milik tunangannya ke langit, mengatur ISO sebelum mengambil gambar indah matahari tenggelam Mykonos yang sangat melegenda. Dia menatap hasil fotonya, tidak terlalu puas karena lensa kamera tidak cukup bagus untuk mengabadikan indahnya warna langit yang dipandangnya dengan mata telanjang.

Memang ada banyak sekali hal di dunia ini yang tidak bisa diabadikan dengan lensa buatan manusia yang tidak peduli secanggih apa pun spefisikasinya, tetap tidak akan bisa mengalahkan mata telanjang manusia.

Mereka tiba di Mykonos tadi pagi dan langsung memutuskan untuk berpetualang ke seluruh pulau dengan berjalan kaki menikmati cuaca yang menyengat. Dengan kaus putih tipis, celana pendek dan sepatu serta bergandengan tangan. Tertawa ceria menikmati liburan pertama mereka setelah sekian lama membina hubungan dan akhirnya bertunangan.

Matahari Yunani menyengat kulit Taehyung dan membuatnya kemerahan tapi dia tidak peduli. Hidup terlalu singkat untuk mengkhawatirkan kulit gosong dan Yunani terlalu indah dan megah untuk dinikmati di bawah atap hotel mereka.

Taehyung memilih matahari tenggelam di beach club sebagai tujuan akhir mereka, tujuan pamungkas yang akan membuat tidur mereka malam ini nyenyak.

Namun itu sebelum Jeon Jungkook memutuskan bahwa dia sakit perut dan harus pergi ke toilet tepat lima menit sebelum matahari tenggelam paling menakjubkan yang pernah Taehyung lihat dimulai. Seharusnya Taehyung melarang Jungkook makan saus yogurt makanannya tadi banyak-banyak.

Karena perut Jungkook sensitif sekali dengan laktosa.

Ponselnya bergetar: Sabar

Taehyung menatap ponselnya kesal lalu menyimpannya kembali.

Memilih untuk memfokuskan seluruh energinya hari ini untuk menyerap keindahan matahari tenggelam. Debur ombak yang lembut berkeresak saat menghantam pasir dalam gulungan-gulungan kecil berbuih seperti penari yang indah dan gemulai. Airnya berkilau keemasan memantulkan cahaya matahari, angin pantai yang lengket dan berat menggoyangkan hiasan di atas kepala Taehyung dan membuat kulitnya terasa lembap.

Dia menyusupkan kakinya ke dalam pasir di hadapannya, mendesah merasakan sisa hangat pasir yang terbakar matahari di permukaan kakinya. Dengan jemarinya yang kurus dan langsing, dia meraup pasir. Mulai menimbun kakinya dengan pasir halus yang meluruh dari sela-sela jemarinya tiap kali dia meraupnya seraya bersenandung lirih—menikmati waktunya yang berharga.

Benda itu terasa sehalus bubuk mutiara, berkilau saat Taehyung mengangkat tangannya. Membiarkan cahaya matahari memantul di pada bulir pasirnya yang membentuk air terjun mungil melalui jemarinya. Dia tersenyum, hatinya terasa hangat—sangat hangat hingga dia ingin berbaring di pasir dan memejamkan mata.

Mereka benar tentang Yunani.

Perasaan nyaman ini, matahari tenggelamnya, pantainya serta langitnya yang selalu sebiru permen bukan sekadar momok belaka. Taehyung merasakan segalanya hari ini di permukaan kulitnya, dengan matanya sendiri dan di lidahnya. Ada sesuatu yang sangat magis di pulau ini, yang membuatnya terpesona dan tidak ingin pulang.

Tembok-tembok rumah penduduk yang putih memantulkan panas yang menyengat tapi Taehyung tidak keberatan sama sekali. Dengan rimbun bunga bougenvil di sisi-sisi jalan—melengkung membentuk mahkota, merunduk rendah hingga Taehyung dengan mudah meraihnya dan merasakan tekstur kelopak bunganya yang lembut di ujung jemarinya.

Dia jatuh cinta.

Pada Yunani.

“Hei.”

Taehyung mendengus lalu mendongak, bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum lebar. “Sudah?” Tanyanya geli saat Jungkook berjongkok di sisinya, mendudukkan diri dan membenamkan kakinya ke dalam pasir seperti Taehyung.

“Maaf.” Jungkook mendesah dan menatap langit. “Aku melewatkan bagian terbaiknya, ya?” Tanyanya, tangannya meraih tangan Taehyung lalu membawanya ke bibirnya—mengecup tiap buku jemarinya dengan lembut, cincin tunangan mereka serta telapak tangannya yang terasa asin di bibirnya dengan intim.

“Yap.” Taehyung menatapnya. Masih tetap terpesona dengan bagaimana Jungkook nampak begitu indah bahkan setelah sekian tahun bersama. Tulang rahangnya yang tegas dan tajam, bentuk wajahnya, matanya, rambutnya....

Taehyung mengulurkan tangan, menyentuh kening Jungkook dan menyeka rambutnya naik dengan lembut. Bulir pasir yang menempel di telapak tangan Taehyung tersangkut di helai-helai rambut Jungkook yang lengket oleh angin pantai dan dia tersenyum.

“Kau jauh lebih indah.” Katanya tersenyum lalu menurunkan tangannya, membiarkan Jungkook mengenggam kedua tangannya, membelai punggung tangannya dalam gerakan melingkar yang menenangkan dengan ibu jarinya yang hangat.

“Bisa diperdebatkan saat kau duduk di sini.” Jungkook mengerlingnya dan tersenyum. Menjulurkan torsonya, menyium pelipis Taehyung dengan lembut. “Tapi untuk saat ini, mari menghormati matahari tenggelam yang menurut mereka paling indah di dunia ini, oke?”

Taehyung tertawa. “Tentu, tentu.” Dia tersenyum lebar dengan tangannya yang masih di dalam genggaman erat Jungkook.

Jungkook melepaskan tangan mereka, mengulurkan lengan kirinya membentuk sayap—mengundang Taehyung menyusupkan diri ke dalam pelukannya. Taehyung terkekeh, menggeser duduknya mendekat ke arah Jungkook dan menyusup ke dalam pelukannya.

Jungkook mendesah, merengkuh Taehyung dalam pelukannya yang hangat dan beraroma pekat kolonyenya yang maskulin dengan secercah aroma keringatnya yang mendebarkan. Taehyung menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook, menatap langit yang mulai menggelap.

Warna ungu yang berkilau menghampar perlahan, menarik warna jingga tenggelam ke dalam cakrawala. Air lautan yang bergolak lembut dalam irama yang menenangkan memantulkan cahaya mereka dan membiaskannya ke seluruh arah. Taehyung tidak akan pernah bisa melupakan betapa magis kenangan ini.

Matahari tenggelam yang luar biasa, angin laut yang asin, kakinya tenggelam di dalam pasir yang hangat, pelukan Jungkook di tubuhnya dan aroma tubuhnya yang begitu familiar dengan seluruh indranya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jungkook di rambutnya, bibirnya membelai rambut Taehyung saat bergerak membisikkan cintanya. “Sungguh mencintaimu hingga seluruh tubuhku nyeri merasakannya. Tubuh ini tidak cukup kuat untuk menampungnya.”

Cheesy,” bisik Taehyung namun tak ayal tersenyum dengan mata terpejam.

Bahkan dari kelopak matanya yang tertutup, dia bisa merasakan cahaya matahari yang mendebarkan itu. Dia menyusupkan kepalanya semakin dekat ke dada Jungkook, mendengarkan suara debaran jantungnya yang teratur ditingkahi suara deburan ombak yang lembut serta dengungan percakapan orang-orang di sekitarnya.

Suara jantung Jungkook yang basah selalu membuatnya lega—membuatnya menyadari betapa hidup dan dekatnya Jungkook. Menghamparkan rasa aman sehangat selimut di tubuhnya, memeluknya semakin erat dan memastikan Taehyung mendapatkan hanya yang terbaik yang bisa ditawarkan dunia untuknya.

Orang-orang di sekitar Taehyung bergerak, mengobrol dan makan. Menikmati waktu berkualitas mereka namun dia dan Jungkook duduk di sana—di atas pasir yang lembut, dalam pelukan masing-masing berbagi napas dan detakan jantung seolah berada dalam gelembung sendiri yang tebal dan tidak tersentuh.

Mereka seolah sedang berada di dunia yang sangat berbeda dari seluruh orang yang bergerak di sekitar mereka. Itulah yang selalu dirasakan Taehyung tiap kali berada dalam dekapan Jungkook—perasaan aman, perasaan nyaman dan perasaan hangat oleh kehidupan yang berdetak di nadinya.

Jungkook membuatnya hidup.

Membuatnya jauh lebih baik dan membuatnya kuat.

Terkadang dia merasa dirinya tenggelam, namun Jungkook selalu ada di sisinya—meraih tangannya dan menariknya ke permukaan. Menjaganya tetap waras, menjaganya tetap berenang di permukaan. Saling mengulurkan tangan, menjaga satu sama lain dengan begitu penuh perhatian.

Jika suatu hari nanti Taehyung harus lahir kembali, dia akan tetap mencintai Jungkook. Dirinya yang baru, identitasnya yang baru, tubuh barunya akan tetap menemukan Jungkook di mana pun dia berada.

Jiwanya akan selalu mengenali jiwa Jungkook—terikat erat.

“Mereka benar.”

“Tentang?”

“Matahari terbenam Yunani sungguh hal terbaik yang dunia bisa berikan padamu.”

Taehyung tersenyum di bahu Jungkook. “Benarkah?” Tanyanya.

“Kupikir lagi, sepertinya tidak.”

Taehyung tertawa serak. “Lalu?”

Kau.” Bisik Jungkook, menyandarkan kepalanya di atas kepala Taehyung dan memejamkan mata sementara lampu-lampu gantung di atas kepala mereka dinyalakan dan bergoyang lembut oleh angin pantai.

“Kaulah hal terbaik yang dunia bisa berikan padaku.”

Taehyung tersenyum lebar. “Kau juga adalah hal terbaik yang dunia bisa berikan padaku.”

“Kau membuatku tetap waras, kau membuatku tetap kuat. Kau membuatku percaya tidak ada hal yang tidak bisa kulakukan.” Jungkook meraih tangan Taehyung dan mengecupnya lagi, kali ini menahannya tetap di wajahnya dalam waktu yang lama hingga napasnya terasa menggelitik tangan Taehyung.

“Kau membuatku merasakan hal yang sama.” Taehyung tersenyum, menatap tunangannya yang memejamkan mata dengan telapak tangannya di wajah Jungkook.

Semburat matahari mulai lenyap sepenuhnya, tergantikan langit malam yang cerah berbintang. Bulan mungil terbit di langit, berpendar samar membentuk senyuman lancip yang indah. Suasana semakin syahdu dengan orang-orang dan aroma makanan yang lezat. Suara percakapan yang akrab dan hangat merambat melalui udara ke telinga mereka—membentuk harmoni yang menyenangkan dengan suara debur ombak.

Namun Taehyung dan Jungkook tetap di sana, menikmati waktu mereka dengan kaki terbenam di pasir yang mulai dingin. Tidak ingin melepaskan diri atau bangun dari sana sama sekali.

“Menikahlah denganku.” Bisik Jungkook kemudian.

“Oke.” Balas Taehyung kalem lalu terkekeh serak saat Jungkook mendengus mendengar jawabannya. “Aku sudah setuju melakukannya beberapa bulan lalu.”

“Kau terasa tidak nyata,” jemari Jungkook membelai lengan atas Taehyung dengan buku tangannya—bergerak naik-turun, lembut dan menenangkan. “Aku merasa takut suatu hari nanti aku membuka mata dan kau hanyalah mimpi.”

Taehyung tertawa serak. “Calm down, Shakespeare.” Dia menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Jungkook dan bergidik karena kehilangan kehangatan tubuh Jungkook.

“Aku tidak akan pergi. Walaupun kau mengusirku dari hidupmu.” Katanya tersenyum brilian dan Jungkook menyunggingkan senyuman separonya dengan mata berbinar oleh cinta.

“Bahkan jika aku melemparimu dengan sepatu?”

“Hmm.... Oke. Nampaknya harus kupikirkan dulu.”

Jungkook tertawa serak, kepalanya terlempar ke belakang merespon ledakan emosi itu dan rambutnya membentuk air terjun. Taehyung mengamati wajahnya yang merileks oleh tawa, otot-ototnya melemas dan matanya terpejam. Geliginya yang basah oleh saliva berkilau di bawah cahaya lampu temaram.

Kemudian, Jungkook menyusupkan dirinya ke pelukan Taehyung. Menyandarkan kepalanya di kepala Taehyung dan memejamkan mata—tersengal oleh tawanya sendiri. “Kau luar biasa.” Bisiknya lembut.

Taehyung membelai rambut Jungkook dengan jemarinya. “Kau juga.” Balasnya ceria.

Mendesah, Jungkook menarik tubuhnya. Taehyung merespon gerakan itu dengan mendongak, menatapnya dengan mata yang jernih dan berkilau oleh tanda tanya. Mendesah berat, Jungkook menyelipkan tangannya di rahang Taehyung. Pemuda itu langsung meleleh dalam sentuhannya, meluruhkan diri dalam sentuhan Jungkook dan memejamkan mata.

Dia membawa wajah Taehyung ke wajahnya, melabuhkan ciuman sehalus sayap kupu-kupu ke bibirnya yang pecah-pecah karena udara Yunani yang panas. Mengusapnya dengan ciuman lembut sebelum memangutnya dengan perlahan. Menyisipkan lidahnya ke dalam mulut Taehyung yang terasa seperti sorbet stroberi yang tadi dimakannya, secercah rasa mint permen karet dan pasta gigi mereka.

Ciuman itu membuat Jungkook dan Taehyung merasa utuh—sempurna.

Sesempurna apa yang kata itu janjikan, bahkan lebih.

Taehyung sudah mendengar banyak mitos tentang matahari tenggelam di Yunani.

Begitu indah hingga jiwa dan hatinya merasa damai setelah menyaksikannya. Hingga Taehyung merasa dirinya melayang oleh rasa bahagia. Hingga bibir Jungkook di bibirnya terasa begitu mendebarkan seolah mereka belum pernah berciuman sebelumnya.

Mitos itu benar, pikirnya dalam ciumannya yang dalam bersama Jungkook.

Yunani adalah tempat yang begitu magis, kau tidak akan pernah ingin kembali pulang...

*

HAPPY BIRTHDAY, ZETI! x love, ire

Tore Me Apart.

*

“Cukup. Itu sudah gelas kelima.”

Taehyung berdecak keras pada Jimin yang duduk di sisinya, “Diam, Ibu.” Katanya membawa sloki minumannya ke bibirnya dan menandaskan isinya dalam satu tegukan. Panas vodka menjalar turun ke tenggorokannya seperti jalur api yang menyekik lehernya lalu mendarat di perutnya yang kebas oleh rasa sakit.

Dia harus berhenti.

Tetapi kenapa?

Maka Taehyung meletakkan slokinya di atas meja dengan suara tak! keras dan memberi tanda untuk bartender mengisi gelasnya lagi dengan vodka on the rock dengan irisan jeruk kesukaannya—sejak malam ini.

Kepalanya berdengung, namun hatinya jauh lebih nyeri dari kepalanya hari ini. Setelah siang tadi Bogum mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan enam tahun (ENAM. TAHUN. Bayangkan seberapa banyak waktu yang sudah dibuang Taehyung demi lelaki itu?) dan alih-alih cincin, dia mendapatkan pakaian yang dipak rapi dalam tasnya serta diusir dari apartemen mereka.

Apartemen mereka karena Taehyung membayar setengahnya dan semoga Park Bogum terbakar di neraka ke-9.

Jika dia tidak bisa membunuh Bogum dengan tangannya sendiri, mencekiknya dan menikmati bagaimana dia memohon untuk Taehyung melepaskannya, wajahnya memucat saat kehidupan mulai menetes dari tangannya....

“Apakah Bogum layak mendapatkan ini?”

Taehyung memicingkan matanya, berusaha menatap wajah Jimin dalam keremangan klub dan kepalanya yang mulai berat oleh alkohol. “Mendapatkan apa?” Tanyanya setengah menggeram berkumur-kumur karena seluruh ototnya terasa lembek seperti bubur dihajar 5 sloki vodka.

“Kau.” Jimin menatapnya; apakah itu rasa kasihan di matanya? Yah. Sial.

“Bersikap tidak masuk akal begini. Kau bahkan tidak pernah mi—TAE!” Suara Jimin berubah menjadi teriakan saat Taehyung terguling dari kursinya dan merosot ke lantai saat berusaha membenahi duduknya.

Orang-orang di sekitar mereka menatap Taehyung dengan wajah jijik dan Taehyung bergegas berdiri dengan terhuyung dibantu Jimin yang mendesah keras.

“Tidak apa-apa,” katanya pada semua orang yang tidak peduli, dia melambaikan tangannya dan memasang wajah congkaknya yang merah padam. Semoga Bogum membusuk di neraka. “Aku tidak mabuk.” Katanya mendelik pada Jimin yang nampaknya berusaha sangat kuat agar tidak menonjok hidungnya hingga melesak ke dalam tengkoraknya.

Jimin memutar bola matanya. “Ya, kau mabuk. Ayo, pulang.” Katanya berusaha menyeret Taehyung pulang namun pemuda itu menakis tangannya dan karena Taehyung lebih tinggi dari Jimin, maka Jimin mengalah.

“Satu gelas lagi dan kita pulang.” Jimin mendelik dan Taehyung memutar bola matanya.

“Diam, Ibu. Kau berisik sekali.” Dia menerima gelasnya, mendudukkan bokongnya di kursi dan menyandarkan kepalanya di meja, memunggungi Jimin yang berisik.

Kepalanya terasa berdenyut mengerikan. Alkohol bereaksi tidak menyenangkan dengan asam lambungnya setelah dua hari tidak terisi makanan. Tapi siapa yang benar-benar butuh lambung?

Bukan Taehyung.

Dia membawa gelasnya ke depan matanya, menatap ruangan yang kabur melalui gelasnya yang berembun oleh es batu dan irisan kulit jeruk yang beraroma sitrus nyaman. Memikirkan apartemen yang dibayarnya dengan tabungannya, janji-janji manis Bogum, pernikahan yang tidak akan pernah terjadi.

Taehyung tidak akan menangis lagi. Cukup. Bedebah bangsat itu tidak layak mendapatkan sedikit pun perhatian Taehyung. Tapi dia sedang menangisi apartemennya—setengah uangnya yang ditabungnya dengan penuh tekad selama ini.

Lenyap begitu saja.

Bisakah dia mengajukan pembagian harta gono-gini? Atau itu hanya berlaku bagi pasangan menikah?

Dia berpikir dia mungkin adalah seonggok daging menyedihkan yang baiknya dipanggang agar setidaknya dia bisa berguna bagi seseorang saat dia melihatnya.

Sang Dewa Seks.

Sang Eros sendiri—putra kebaggaan Aphrodite.

Dia langsung terduduk tegak, menatap langsung ke singa jantan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke sofa. Binatang liar yang sedang duduk menikmati waktunya dengan kesadaran penuh bahwa dia adalah binatang paling eksotis di ruangan itu. Menyadari sepenuhnya bagaimana seluruh tubuhnya meneteskan aroma menggairahkan yang memaksa setiap orang untuk memohon di kakinya—memohon untuk disentuh.

Dia begitu indah.

Tertawa di sela kabut asap rokok teman-temannya, di tangannya ada segelas vodka dengan irisan jeruk seperti milik Taehyung. Dia mengenakan celana jins biru pudar, kemeja linen licin yang jatuh di dadanya dengan cara yang begitu menawan hingga tangan Taehyung terasa gatal.

Bagaimana jika dia menyusupkan tangannya ke dalam sana?

Membelai tubuhnya dengan ujung-ujung jemarinya.... Merasakan kulit pemuda itu di kulitnya, hangat tubuhnya, detak jantungnya yang memburu saat Taehyung membungkuk di atas selangkangannya, mengulumnya? Aroma kolonyenya pasti luar biasa...

Taehyung bisa orgasme hanya dengan menatapnya lebih lama lagi.

Maka dia berdiri, mengabaikan kata-kata Jimin yang berusaha menahannya. Jimin mengerang keras, membiarkan temannya dan berdoa pada Tuhan dia akan selamat setelah malam ini. Taehyung membawa gelasnya ke arah kerumunannya. Mereka sedang tertawa dan dewa seks itu sedang mendengarkan dengan tawa seraknya yang memesona—suaranya.....

Dari dekat, dia bahkan jauh lebih memesona.

Pembuluh darahnya yang menyembul di lengan bawahnya, kulitnya yang pucat, rambut gelapnya yang setengah gondrong, anting yang bergoyang di telinganya saat dia tergelak oleh candaan temannya. Giginya yang berkilau, bibirnya yang indah....

Taehyung menyesap vodkanya, merasa panas dan pening oleh gairahnya sendiri sebelum berdiri di sisi sofanya.

Seluruh kerumunan menyadarinya dan menoleh; menatapnya bingung.

“Halo,” sapa Taehyung mengendikkan gelasnya—dia mungkin akan menyesali ini nanti tapi sekarang dia butuh kedua tangan itu di tubuhnya, membelainya. Melukiskan jejak api yang menyenangkan di seluruh sudut tubuhnya, di setiap bagian tubuhnya.

Khususnya bagian tubuhnya yang sekarang berdenyut mengerikan oleh gairah.

Lima orang yang duduk melingkari meja dengan beberapa botol vodka dan bir, bungkus kacang dan makanan mengotori meja mereka. Puntung rokok dijejalkan ke asbak yang sudah kepenuhan hingga beberapa hanya dibirkan di sisinya. Mereka semua menatapnya, kebingungan. Taehyung tersenyum lalu menoleh pada pemuda di bawahnya yang mendongak kebingungan; matanya berkilau dan bibirnya terkuak dalam kebingungan.

Taehyung gemetar.

Dia menyapukan pandangan ke tangannya yang sedang bersandar di pahanya dan memiliki keinginan impulsif untuk membiarkan tangan itu menyekik lehernya saat pemuda itu mempercepat gerakan pinggulnya menuju orgasme mereka berdua yang akan sangat luar biasa.

Taehyung bersumpah.

Kata Bogum, blowjob Taehyung adalah hal terbaik yang bisa didapatkannya di dunia sial ini.

Maka dia berharap blowjob-nya bisa membuatnya diterima dewa seks ini.

“Halo.” Balas pemuda itu sopan, menatap teman-temannya yang mulai bergunjing dan melemparkan tatapan memperingatkan lalu mengulaskan senyuman yang begitu menyilaukan pada Taehyung yang gemetar.

Seksi dan tahu sopan santun.

Oh. Taehyung suka sekali memberikan hadiah untuk anak baik.

Bolehkah Taehyung berlutut di kakinya, membuka ikat pinggang dan celananya lalu memberikannya blowjob terbaik yang akan pemuda itu rasakan seumur hidupnya, sekarang?

“Ada yang bisa kubantu?” Tanya pemuda itu, melirik wajah dan gelas Taehyung. Melirik tubuhnya yang terbalut kemeja putih tipis yang dua kancing teratasnya terbuka dan celana jins skinny yang dikenakannya.

Dan wajahnya berubah.

Taehyung tahu dia menyukai apa yang sedang dilihatnya.

“Ya.” Kata Taehyung dengan suara penggodanya yang rendah dan serak. Efeknya langsung terlihat, alis pemuda itu terangkat sedikit dan sudut bibirnya tertarik ke atas dengan tertarik.

Matanya menjelajahi tubuh Taehyung dengan kurang ajar sekarang; menelanjanginya dengan tidak sopan.

Membuat seluruh tubuh Taehyung gemetar dan lemah oleh gairah. Dia tidak akan bisa berdiri tegak setelah ini. Bola matanya bergulir dari bagian depan kemeja Taehyung, ke tulang belikatnya lalu turun ke pinggangnya yang ramping dan kakinya yang panjang dan kurus.

Lalu dia melakukan hal yang membuat Taehyung nyaris terserang epilepsi dengan menyodok bagian dalam pipinya dengan lidahnya seraya menyapukan tatapan naik dari kaki Taehyung, berhenti lama di area bawah perutnya sebelum naik ke matanya lagi.

“Apa yang bisa kubantu untukmu, Sayang?” Tanyanya sekarang dengan suara yang lebih rendah, seperti seekor singa jantan yang sedang menatap mangsanya.

Menilai seberapa lezat makhluk itu untuknya.

“Hanya satu-dua hal,” Taehyung menjawab.

“Oh, ya?” Balas pemuda itu, terhibur. Kali ini dengan perhatian sepenuhnya pada Taehyung. “Mari kita dengarkan?”

Dia kemudian menandaskan isi gelasnya, menahan vodka panas itu dalam rongga mulutnya yang terbakar oleh kandungan alkoholnya. Menjulurkan tubuhnya untuk meletakkan gelas di atas meja dengan suara keras lalu berbalik, mengayunkan kaki yang panjang dan duduk mengangkangi selangkangan pemuda itu yang ternyata sudah menebal dan mengeras lalu meraih wajahnya dalam ciuman panas yang panjang.

Seluruh teman-temannya terkesirap kaget lalu tertawa serak—jelas terhibur oleh pertunjukan yang diberikan Taehyung. Tapi peduli setan, Taehyung hanya butuh memberi kesan luar biasa pada lelaki di bawah pangkuannya.

Dia menyelipkan lidahnya dalam mulut pemuda itu, membiarkan cairan vodka yang ditahan dalam mulutnya menyusup masuk. Dia bisa merasakan pemuda itu tersenyum sebelum membuka bibirnya, membiarkan vodka manis dan panas itu menetes ke dalam mulutnya. Mengalir dari sisi bibir mereka menetes ke atas pakiannya.

Mereka berbagi vodka dan ciuman paling memuaskan dalam hidup Taehyung.

Hanya ciumannya saja bisa membuat Taehyung pening. Kepalanya terasa lepas dari lehernya dan dia berdeguk keras saat tangan pemuda itu meraih pinggangnya, membelainya dengan panas. Telapak tangannya menyentuh tubuh Taehyung dengan cara yang begitu menakjubkan hingga dia nyaris merengek seperti seekor anjing kudisan, memohon untuk disetubuhi saat itu juga. Pemuda itu mengeratkan genggaman tangannya di pinggang ramping Taehyung dan meraihnya lebih dekat.

“Oh!” Bibir Taehyung terbuka, kepalanya terlempar ke belakang. Menakjubkan!

Dia memang sepanas apa yang terlihat.

Tubuh mereka yang panas dan mendamba bertemu, berdenyut bersama dalam gairah yang memusingkan. Taehyung mengerang keras saat ciuman pemuda itu menggelincir dari bibir ke dagunya, turun ke lehernya dan mengecup jakunnya. Ciuman yang panas dan beraroma tajam kulit jeruk yang segar. Aroma keringatnya memusingkan; Taehyung ingin menghirupnya terus. Memenjarakan aroma itu dalam kepalanya sebagai cinderamata selamanya. Tangannya bergerak di tubuh Taehyung, turun ke pantatnya dan meremasnya dengan lembut.

“Wow.” Katanya serak dan puas, mendengkur seperti singa yang kekenyangan di leher Taehyung yang berdeguk seperti seekor ayam yang akan disembelih.

“Aku tidak menduga itu,” katanya terkekeh serak, mengecup desir pembuluh darah Taehyung yang berdebar gila. “Tapi aku tidak bilang aku tidak menyukainya.”

Dia mendorong Taehyung lembut hingga menatapnya. Matanya menggelap oleh gairah dan Taehyung mengigil dalam pelukannya. Dia menatap wajah Taehyung dengan tatapan panasnya, menyeka rambut Taehyung yang jatuh ke keningnya. Menyapunya naik hingga kening Taehyung terpapar. Kelopak matanya bergetar, dia memberikan Taehyung tatapan mengantuk bergairah yang membuat dasar perut Taehyung mengejang.

Kumohon... Taehyung berusaha mengatakannya tapi yang keluar hanyalah decit menyedihkan seperti seekor tikus yang terpojok.

“Oh, Sayang...” Bisik pemuda terhibur itu membelai sisi tubuhnya dengan punggung tangan sialannya. “Kau benar-benar membutuhkanku, ya?” Tanyanya lembut dan menggoda, lalu menjulurkan lidahnya untuk membelai cuping telinganya yang memerah dengan panas dan basah.

Salivanya meluncur turun ke leher Taehyung dan Taehyung yakin sebentar lagi tubuhnya akan meledak oleh gairah yang memusingkan ini. Seluruh ototnya nyeri, otaknya tidak bisa memproses apa pun.

Dia butuh pemuda ini bercinta dengannya.

I wanna be in your touch, sleeping's so tough; you're burning up my mind. What would it feel like if you tore me apart? Come on, chew on my heart.

Lalu pemuda itu meraihnya berdiri dengan sentuhan yang ajaibnya begitu lembut. Telapak tangannya terasa membakar kulit Taehyung dari lapisan kemejanya, hingga ke organnya yang meleleh.

Dia ingin tangan itu di atas tubuhnya, tanpa kemeja sialan yang memisahkan mereka. Dia membantu Taehyung berdiri dan menyandarkan bobot tubuh Taehyung ke sisi tubuhnya yang kokoh dan berotot halus.

Taehyung ingin menjilatnya, merasakan hangat kulit itu di lidahnya.

Ooh...

If you excuse me, Guys.” Katanya pada teman-temannya yang mendenguskan tawa mengejek. Taehyung bisa mendengar senyuman lebarnya dan dia senang karena dia berhasil menggoda pemuda itu untuk bercinta dengannya.

Mungkin Taehyung tidak terlalu tidak berguna.

I have important business to do.

Lalu dia menoleh pada Taehyung yang mengigil. “Kau sendirian?” Tanyanya lembut, mengecup pelipisnya lalu menarik ciuman malas lain menuruni bagain sisi wajahnya, turun ke garis rahangnya dan sudut bibirnya.

“Karena sayang sekali temanmu harus kembali sendiri, aku tidak akan membiarkanmu pulang malam ini.”

Peduli setan, dia bisa saja menelanjangi Taehyung di sana—di atas meja yang penuh sampah dan Taehyung tidak peduli.

Dia meraih tangan Taehyung dan meletakkannya dengan berani di selangkangannya yang tebal dan panas. Taehyung mendesah panjang dan pemuda itu bergidik mendengar suaranya yang serak dan berat. Dia mengumpat lagi—seksi sekali. Taehyung ingin dia terus mengumpat sambil menggerakkan pinggulnya, bercinta sepanjang malam dengan Taehyung.

Dia menutup tangan Taehyung yang dingin dengan tangannya lalu meremas dan mendesah kasar serta mengumpat.

Taehyung semakin panas. Dia harus segera bercinta dengan Taehyung sebelum kepalanya pecah. Sungguh.

“Kau harus menyelesaikan apa yang kaumulai, Sayang.” Katanya tersenyum separo, menatapnya. “Dan kuharap kau siap dengan konsekuensi tindakanmu.”

“Oh, tidak. Tidak.” Katanya terhibur saat jemari Taehyung menarik zipper-nya turun dan berusaha menyelip ke dalam celananya. “Tidak secepat itu, Sayang. Kita punya sepanjang malam untuk saling mengenal, bukankah begitu?”

Taehyung mengerang; tapi dia tidak butuh sepanjang malam!

“Sabar,” bisiknya serak di rambut Taehyung, menghirup aromanya dalam-dalam dan menggeram kasar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Bagaimana bisa aku tidak melihatmu di sini?” Gumamnya parau.

“Siapa namamu?” Tanyanya.

Oh, sungguh? Mereka akan menghabiskan sepanjang malam bercakap-cakap alih-alih bercinta?

“Taehyung.” Katanya, apa saja agar pemuda itu melepaskan seluruh pakaiannya lalu mengecupi sekujur tubuhnya. “Kim Taehyung.”

Matanya berkilat. “Halo, Kim Taehyung. Senang bertemu denganmu.” Dia mengulurkan tangan, meremas tubuh Taehyung yang menebal dan mengirimkan desahan panjang yang menyedihkan ke udara.

“Oh, wow. Lihat dirimu.” Dia menempelkan tubuh mereka, di sana. Di klub yang ramai seolah hanya ada mereka berdua di sana. Dan Taehyung menyukainya. “Sangat bergairah.”

“Baiklah, Sayang.” Dia tertawa serak lalu membimbing Taehyung ke belakang bar, ke kamar yang biasa digunakan tamu untuk one night stand.

Perjalanan terasa sangat jauh dengan kepala yang berdentam-dentam dan kakinya yang terasa seperti agar-agar. Namun ternyata bukan hanya Taehyung yang geram akan tubuhnya sendiri karena pemuda itu kemudian berdecak, menyapukan lengannya yang kuat ke kaki Taehyung dan menggendongnya di atas kedua lengannya yang kokoh.

Dia menendang pintu terbuka, lalu mengaitkan kakinya ke pintu untuk mendorongnya tertutup dengan suara debam keras lalu melempar Taehyung ke ranjang, mengunci pintunya lalu mulai melepas kancing kemejanya seraya berjalan ke arah Taehyung yang berkerut di atas ranjang yang aromanya sedikit lebih baik dari toilet umum.

Tapi peduli setan.

Pemuda itu melepas kemejanya, membiarkan kain licin itu meluncur turun dari bahunya hingga jatuh ke lantai lalu mulai melepas celananya. Membiarkan kancing dan zipper jinsnya terbuka dengan kepala ikat pinggang yang berdenting saat dia merangkak naik ke atas tubuh Taehyung.

Menaunginya dengan aura mendominasi yang membuat Taehyung mengigil.

Persetan dengan Bogum, dia bisa mati dan membusuk di neraka.

“Jeon Jungkook,” bisiknya serak. Napasnya membelai wajah Taehyung dan dia merunduk, bibirnya menyentuh bibir Taehyung dan membelainya saat dia berbisik,

And I'll be at your service tonight. Just tell me where you want to be touched. I'd be delighted to help.

*