The Chef Crumbs Special

*

Ada alasan kenapa Jungkook sangat menyukai rumah baru mereka di sudut Ubud yang teduh dan jauh dari keramaian kecuali riuhnya pasar tradisional beberapa kilometer dari rumah mereka. Karena dia suka saat dia membuka pintu dengan Bubble di pelukannya, dia disambut cahaya matahari lembut yang terhampar di udara seperti selapis selendang dengan partikel-partikel debu yang berkilau melayang di antaranya memenuhi ruang utama rumah mereka dari jendela-jendela besar yang tinggi.

Aroma kamboja lembut yang sedang mekar di halaman mereka, aroma rerumputan hijau yang basah oleh embun sisa semalam dan juga aroma udara Ubud yang segar dan menenangkan. Suasana pagi yang tidak pernah bosan dirasakan Jungkook setelah sekian lama—aktivitas lama yang nyaris menjadi kebiasaan pun tidak pernah menjadi membosankan. Jungkook sangat menghargai selera Taehyung atas rumah mereka.

Dia menggaruk telinga Bubble seraya menguap—langit di kejauhan baru saja bersemburat jingga tipis tapi pasar tradisional sudah mulai menggeliat.

Jungkook bisa mendengar sayup-sayup suara pedagang yang membawa barang jualan mereka; disangga di atas kepala mereka dengan begitu berbakat hingga saat pertama kali melihatnya Jungkook nyaris menjulurkan tangan untuk membantunya takut ibu itu mematahkan lehernya sendiri.

Namun mereka nampak sangat menikmati cara membawa barang itu. Leher mereka kuat dan bahkan menurut mereka terasa jauh lebih ringan daripada dijinjing. Maka Jungkook baru saja mengalami culture shock pertamanya.

Obrolan mereka dibawa masuk ke halaman mereka oleh udara pedesaan. Logat Bali yang tebal dan akrab di telinga Jungkook, juga bahasa mereka yang tajam dan tinggi. Dia selalu berpikir sous chef-nya sedang mengomel tiap kali dia berbicara dalam bahasa Bali yang cepat, tinggi dan menuntut, namun tidak ada yang tersinggung dan saat Jungkook bertanya, dia mengaku sama sekali tidak sedang marah-marah.

Maka Jungkook menyimpulkan bahwa itu memang logat Bali yang khas.

Bubble menyalak ceria, meminta jatah makan paginya dan Jungkook tertawa, membelai kepalanya yang lembut. “Baiklah, Sayang.” Katanya serak dan terhibur, membiarkan Bubble menjilat hidungnya sebelum menurunkannya.

Golden retriever itu berlari di dalam ruangan luas rumah mereka, mengibaskan ekornya dengan semangat saat Jungkook meraih pintu konter dapur, mengeluarkan bungkus makanan Bubble yang berkeresak ribut.

Bubble menyalak lagi, lebih tinggi dan ceria. Berlari ke arah Jungkook dan mendengus-dengus di kakinya. Meminta Jungkook mempercepat proses pemberian makannya. Jungkook terkekeh, dia mulai membuka segel makanan Bubble lalu menuang isinya ke dalam mangkuk makanannya dengan suara gemericing nyaring.

Jungkook kemudian berdiri, membiarkan Bubble makan dengan lahap dan ceria sebelum terkekeh serak. Mulutnya terasa sepat, jadi dia beranjak ke kulkas dan mengambil air untuk melegakan tenggorokan serta seluruh organ dalamnya. Setelah menandaskan dua gelas air, dia kemudian meregangkan tubuhnya. Membuka jendela-jendela dan pintu depan hingga hawa dingin menerobos masuk ke dalam ruangan.

Dia bergidik dalam balutan celana training lusuh dan bertelanjang dada. Menggaruk kepalanya, dia kemudian mengeluarkan matras yoga Taehyung dari dalam lemari di sebelah rak sepatu yang akan digunakan suaminya setelah sarapan dan Jungkook berangkat ke restoran.

Kembali masuk, Jungkook kemudian meraih apronnya yang sudah digantung di sisi konter dapur—selalu mudah dijangkau kapan saja Jungkook ingin memasak. Dia mengalungkan apronnya lalu mengikatnya di pinggang langsingnya, menyambar lap dari konter dan menyelipkannya ke karet celananya sebelum membuka kulkas, mengeluarkan empat butir telur, sekantong tomat dan bacon.

Taehyung suka sekali sarapan scrambled egg dengan bacon dan baked tomato. Maka itulah yang akan dibuatkan Jungkook. Dia juga mengecek overnight oats milik Taehyung yang dikerjakan suaminya kemarin sebelum tidur untuk camilannya karena lambungnya masih harus tetap dijaga dengan baik dan kemudian mulai memasak. Dia memanaskan oven dan wajan di atas kompor.

Dia meraih tomat. Membuka plastiknya dan menuang beberapa butir ke dalam mangkuk yang digunakannya untuk mencuci. Dia membilas tomat-tomat itu di bawah guyuran air, menggunakan jemarinya dia mengayak lembut sayuran itu lalu meniriskan airnya. Dia menyomot sebutir kecil lalu memasukannya ke mulut dan mengunyahnya dengan senyuman di bibirnya.

Dia lalu memotong tomat-tomat itu menjadi dua, menatanya di atas loyang yang sudah dilapisi dengan baking spray sebelum menaburkan Italian seasoning di atasnya dan memasukkannya ke dalam oven yang panas. Dia kemudian mengecek wajan di atas kompor, merasakan hawa panas menyentuh telapak tangannya dia kemudian menuang olive oil ke atasnya lalu memecahkan telur.

Suara desis telur bertemu dengan minyak panas membuat Jungkook rileks. Dia suka sekali suara ini. Suara desis makanan yang sedang dimasak selalu membuat bahunya rileks, aroma telur segar yang dimasak membuatnya lapar sementara di luar sana, suara cicit burung mulai riuh terdengar. Dia memecahkan telur kedua, ketiga dan keempat. Telur memang tidak pernah khianat.

Dia kemudian menambahkan sejumput garam dan lada sebelum mulai menggerakkan spatulanya membentuk angka delapan dengan lincah di atas wajan—membuat telur orak-arik. Sementara dia bekerja, Bubble sudah mendongak dari mangkuknya—kenyang dan menyerigai lucu ke arahnya.

“Kau sudah selesai makan, Yang Mulia?” Tanyanya seraya menggerakkan wajan hingga makanan di atasnya membentuk ombak cantik lalu meluncur jatuh kembali ke wajan dengan mulus. “Kau mau lagi?” Tanyanya menunduk saat Bubble menyelipkan diri ke kaki Jungkook.

“Minta pada Taehyung.” Katanya mematikan kompor elektrik mereka dengan aroma hangat telur yang memenuhi ruangan. “Sana, bangunkan Taehyung katakan padanya kau butuh camilan.” Dia tertawa saat melambaikan spatula ke arah pintu kamar mereka yang terkuak kecil.

Bubble mendongak, menatapnya lalu Jungkook mengangguk. “Bangunkan Dadda.” Katanya dan Bubble menyalak, mengenali perintah 'Dadda' lalu berlari ke kamar dengan kaki-kaki panjangnya dan bulunya yang berayun sesuai dengan gerakannya.

Jungkook terkekeh, menuang telur orak-ariknya ke atas piring dan tersenyum lebar saat mendengar erangan keras Taehyung yang mengantuk dari kamar saat Bubble melompat ke atasnya dan menyalak keras, membangunkannya dengan paksa.

Babeeeeel...” Erang Taehyung keras dan tersiksa. “Turun dari perutku! Kau membuatku tidak bisa bernapas! Tidak, kau harus tu—BABEL!” Suaranya berubah jadi bentakan saat Bubble pasti mulai merunduk dan menjilati wajahnya. “Stop! Sayang, tolong!”

Jungkook tertawa, puas saat dia kemudian kembali meletakkan wajan di atas kompor. Mengelap permukaannya dengan tisu lalu mulai menuangkan sedikit minyak untuk menggoreng bacon. Dia membuka bungkus daging, mengeluarkan bacon dan menggoreng 2 strip di atas minyak yang mendesis.

Aroma daging itu kemudian yang menyambut Taehyung dengan wajah bengkak baru bangunnya, dengan bekas tidur panjang di tulang pipinya dan mata yang tidak sepenuhnya terbuka terseok-seok keluar dengan Bubble yang menyalak ceria di pelukannya walaupun anjing itu sudah terlalu besar untuk digendong, seolah berkata: “Ayo bangun! Bangun! Bangun! Aku mau snack!!”

Bacon?” Tanya Taehyung menghampiri dapur dengan celana katun tidurnya yang kusut dan rambutnya yang mencuat-cuat di kepalanya. Dia melepaskan Bubble yang protes, tidak terima karena tidak diberikan camilan lalu menjulurkan lengannya, memeluk Jungkook.

“Aku sudah jadi anak baik dan berhak mendapatkan hadiah, ya?” Katanya di bahu Jungkook yang lembut dan beraroma keringatnya yang akrab.

Jungkook tertawa, mereka memang jarang makan bacon untuk sarapan. Terlalu berlemak. Jadi bacon berarti sesuatu yang istimewa jika dihidangkan karena biasanya Jungkook hanya akan menyediakan bayam rebus dan roti sebagai pendamping telurnya.

“Sedikit kemewahan.” Jungkook tersenyum, membalik bacon di atas wajan yang mendesis lalu menjulurkan tangan secara insting ke arah oven, “Permisi, Sayang.” Bisiknya lembut mengecup pelipis Taehyung yang langsung melepaskan pelukannya karena oven berdenting.

Jungkook selalu melakukannya—sedetik-dua detik lebih cepat dari oven seolah dia adalah timer berjalan. Dia selalu tahu kapan makanannya matang dan tidak benar-benar menunggu oven. Bertahun-tahun di dapur sudah membuat seluruh indra dan sarafnya peka pada hal-hal kecil semacam oven.

“Aku saja,” Taehyung bergegas meraih selop tangan dan membuka oven sementara Jungkook kembali fokus ke wajannya. “Trims, Sayang.” Katanya mematikan kompor dan memindahkan bacon ke atas piring.

Taehyung meletakkan loyang di konter dapur sementara Jungkook mengeluarkan dua mug dari atas kabinet. Membaliknya, meletakkannya di atas konter dengan suara tak! lembut lalu membuka kulkas, meraih sekarton susu dan menuangnya ke dalam mug.

Menguap, Taehyung beranjak ke meja makan dan terkesirap saat Bubble menyambar kakinya. “Bubble!” Serunya kaget. “Kenapa?” Dia berhenti dan menunduk, menatap Bubble yang mendengking lirih, memohon.

“Dia mau apa, sih?” Tanya Taehyung pada suaminya yang sedang menata sarapan mereka. “Apa yang kaujanjikan padanya untuk membangunkanku?”

Jungkook tertawa saat menaburkan jagung manis kalengan ke atas telur mereka. “Snack,” sahutnya kalem, mengelap tangannya di lap yang diselipkan di celana trainingnya lalu melepas apronnya. “Berikan dia camilannya.”

Mata Taehyung memicing. “Dia sudah makan?”

Jungkook mengangguk, membawa dua piring ke meja makan. “Sudah.”

“Lalu kenapa masih harus camilan?” Protes Taehyung saat suaminya meluncur melewatinya, meletakkan dua piring di atas meja dan kembali ke dapur untuk meraih gelas mereka.

“Hari ini, 'kan, istimewa.” Kata Jungkook. “Kau sarapan bacon, Bubble dapat snack setelah sarapan. Bersikaplah yang adil.” Dia berhenti di sisi Taehyung dengan tangan penuh oleh dua mug lalu mengecup bibir Taehyung yang mendesah panjang.

“Baiklah, Anak Nakal.” Dia mendelik sayang pada Bubble yang sekarang mendengking panjang, berguling di kakinya memamerkan perutnya dan kakinya digoyang-goyangkan. “Jangan bersikap lucu begitu! Aku jadi tidak bisa marah.” Keluh Taehyung, terkekeh dan berjongkok—menggaruk perut Bubble yang melolong ceria.

“Iya, iyaa!” Taehyung kemudian beranjak ke kabinet makanan Bubble lalu mengeluarkan bungkus camilannya dan menggoyangkan benda itu di depan Bubble yang langsung berdiri di atas kaki belakangnya, tangannya diayuna-ayunkan seolah sedang bertepuk tangan.

“Lucu sekali.” Keluh Jungkook di meja makan terkekeh seraya menyesap susunya. “Sudah. Berikan saja camilannya.” Tambahnya tersenyum lebar saat Bubble mulai mendengking lirih dengan sedih.

Maka Taehyung membuka kemasan camilan itu lalu memberikan dua potong pada Bubble yang menerimanya dengan ceria. Dia mengunyah makanan itu dengan senang dan menyalak pada Taehyung yang tertawa, membungkus kembali camilannya lalu menyimpannya ke kabinet sebelum beranjak ke meja makan.

“Makanlah,” Jungkook duduk di hadapannya, sedang mengecek ponselnya yang mulai berdenting-denting oleh notifikasi—grup Kitchen Le Paradis sudah berisik pukul enam pagi, para chef saling berkoordinasi tentang bahan baku yang tiba hari ini.

Di jendela, langit dengan semburat jingga mulai terbit. Cahayanya menyusup ke dalam rumah mereka seperti selimut lembut yang menyinari mereka. Hawa sejuk membelai kulit Taehyung yang telanjang—inilah kenapa mereka selalu mematikan penyejuk ruangan karena udara pagi Ubud begitu menakjubkan. Segar, sejuk dan menenangkan. Sayang untuk tidak dinikmati dengan utuh. Dia suka bermeditasi lama-lama di halaman dengan udara berkualitas ini ditemani anjing mereka yang akan tidur di sisinya jika Taehyung terlalu lama.

Taehyung mendesah, mendudukkan dirinya di atas kursi dan mendesah panjang menatap sarapannya yang lezat. Dia meraih gelas air tinggi yang diletakkan Jungkook di sisi gelas susunya, jika dia tidak minum air dulu sebelum makan Jungkook akan mengomel.

“Aku berangkat lebih pagi hari ini, oke?” Kata Jungkook kemudian saat Taehyung mulai menyendok telurnya. “Ada masalah dengan ikannya.” Dia nampak sangat jengkel saat meletakkan kembali ponselnya di meja dan mulai makan dengan gerakannya yang sudah akrab dengan diri Taehyung—cepat dan ringkas, sama sekali tidak membuang-buang waku.

“Jangan memulai harimu dengan wajah berkerut.” Taehyung tersenyum dan Jungkook menghela napas, kemudian mencoba mengatur wajahnya menjadi lebih rileks sebelum menatap Taehyung tidak berdaya karena sudah terlanjur sebal karena sesuatu berjalan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Taehyung terkekeh, di bawah meja kakinya menyentuh kaki Jungkook lalu tertawa saat Jungkook membelit kakinya dengan kedua kakinya. “I love you.” Katanya.

I love you too.” Balas Jungkook seketika itu juga lalu bangkit, menjulurkan tubuh atasnya untuk mencium Taehyung yang mendongak. Bibir mereka bertemu dan Taehyung tersenyum merasakan telur, bacon dan susu dalam ciuman mereka.

Bukan yang terbaik, tapi bukan juga yang terburuk.

“Aku siap-siap dulu,” Jungkook mengusap rambutnya sebelum beranjak ke kamar mandi dengan piring kosong di hadapannya. “Aku minta tolong mencuci piringnya, ya?”

“Siap, Chef!” Balas Taehyung kalem, membuka ponselnya untuk mencari berita pagi yang dikirimkan ke surelnya. “Tenang saja. Kukerjakan.”

Cahaya mulai naik, ruangan mereka semakin terang. Suara aktivitas pagi mulai ramai di jalanan depan rumah mereka. Suara motor, sepeda, obrolan dan anjing-anjing liar yang menyalak ceria. Bubble bergelung di sofa, menatap Taehyung bertanya-tanya kapan dia memulai yoganya sehingga Bubble bisa berlarian di halaman mengejar kupu-kupu saat Jungkook keluar dengan celana training yang lebih bersih dan jaket olahraganya.

Dia menyumpalkan earbuds ke telinganya dan menyelipkan ponselnya ke dalam saku, menarik zipper-nya menutup setelah memutar lagu kesukaannya untuk menemani larinya. “Aku lari dulu, ya?” Dia merunduk, mengecup puncak kepala Taehyung.

See you at restaurant. Jangan lupa bawa overnight oats-mu untuk camilan pagi dan minta tehmu ke dapur.” Tambahnya membelai Taehyung sayang sebelum melambai pada Bubble.

“Sampai ketemu nanti, Jagoan!” Dan Bubble menyalak, kepalanya terangkat dan ekornya mengibas.

“Hati-hati.” Taehyung melambaikan garpunya yang terisi tomat panggang sementara Jungkook duduk di teras depan, mengenakan sepatu larinya. Chef itu kemudian melambai sebelum berlari kecil ke gerbang. Mata Taehyung mengikutinya saat Jungkook membuka gerbang mereka, menyapa ramah masyarakat yang bertemu di depan jalanan sebelum melambai kecil dan menutup gerbangnya.

Memulai larinya ke restoran untuk mengecek bahan baku dan memulai preparation.

Taehyung membereskan sarapannya, lalu membawa piring dan gelas ke bak cuci. Menyuci semuanya sementara matahari semakin naik. Lampu mereka seketika mati saat sensornya menyadari cahaya matahari dan ruangan mulai banjir cahaya pagi yang lembut dan menyegarkan. Menyelesaikan cuci piringnya, Taehyung meletakkan piring-piring, gelas dan wajan di rak piring. Airnya menetes dengan suara lembut.

Taehyung kemudian mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih nyaman. Mendorong pintu terbuka dengan sebotol infused water di pelukannya dan mendesah saat aroma segar rerumputan basah dan matahari menerpa seluruh indranya. Dia membiarkan saat Bubble akhirnya meluncur dari teras ke rerumputan yang basah, mulai sibuk berusaha menangkap belalang yang berlompatan kaget diserang.

Taehyung meraih matrasnya yang sudah dikeluarkan Jungkook dengan senyuman kecil di bibirnya. Hebat sekali bagaimana Jungkook selalu menyadari hal-hal kecil di sekitarnya dengan baik dan melakukannya nyaris tanpa benar-benar memikirkannya. Otomatis.

“Hei, awas!” Seru Taehyung saat Bubble melompat ke dahan pohon yang tinggi. “Nanti lehermu patah.” Katanya saat dia menggelar matras di rumput yang basah, meletakkan botolnya di sisinya sebelum mendesah.

Memejamkan mata, mengapresiasi kehidupan yang begitu menenangkan hari ini lalu memulai yoganya dengan Bubble yang berlarian di sekitarnya, menangkap belalang.

*