Taekook's Oneshot – Lullaby.
*
Pintu depan terbanting menutup diikuti suara gemericing kunci dan hembusan napas berat Taehyung yang sudah dikenali Jungkook.
“Bajingan-bajingan itu.”
Jungkook terkekeh, mendongak dari televisi ke suaminya yang membuka pintu dengan wajah kusut, menarik dasinya yang mencekik hingga melonggar. Dia melempar tas kerjanya ke sofa, ke sisi Jungkook yang sedang meringkuk dengan es krim di tangannya, selimut di bahunya, menonton Netflix.
“Selamat datang di rumah, Sayang.” Katanya ceria lalu menjulurkan lehernya, Taehyung merunduk—memberikan bibirnya kecupan dan mendecap saat sisa rasa es krim menempel di bibirnya dan mengusap rambut Jungkook dengan lembut.
“Makan atau mandi?” Tanya Jungkook saat Taehyung mulai melepas kancing kemejanya, memamerkan tubuh kurusnya yang liat seperti seekor cheetah dalam balutan kaus singlet tipis yang beraroma pekat parfum dan keringatnya.
“Mandi.” Sahut Taehyung memijat kepalanya dan melepas kacamatanya lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal setelah seharian dijepit kacamatany.
“Mandi.” Beo Jungkook, mengangguk setuju. “Silakan mandi, kuhangatkan makan malammu lalu aku akan mendengarkan seluruh kisah tentang bajingan-bajingan itu, oke?” Dia berdiri, meletakkan es krimnya di meja dan menghampiri Taehyung.
Dia merangkulkan lengannya di leher Taehyung dan mengecup masing-masing pipinya, keningnya, kelopak mata Taehyung lalu bibirnya dengan suara kecupan basah yang nyaring. Dia membelai pipi Taehyung dengan lembut dan tersenyum—begitu lebar hingga Taehyung tidak bisa tidak membalas senyumannya.
“Jangan terlalu sering memberengut begitu, nanti cepat tua.” Goda Jungkook nyengir hingga sudut matanya membentuk kerut-kerut seperti kipas. Menggelayut pada Taehyung yang mendesah, kedua lengan Taehyung naik memeluk pinggangnya yang kecil dan merapatkan pelukan mereka.
Dia mengecup pelipis Jungkook yang harum setelah mandi dan mendesah kembali. Menempelkan keningnya di kening Jungkook, memejamkan mata. Merasakan seluruh kehidupan Jungkook di permukaan kulitnya. Denyut nadinya, desir darahnya dan deru napasnya. Aroma tubuh Jungkook yang begitu akrab menempel di cuping hidungnya, di sudut otaknya—membuatnya merindukan rumah tiap kali dia mendekat pada Jungkook.
“Pekerjaanmu hari ini berat sekali, ya?” Tanya Jungkook lembut sementara Taehyung masih memejamkan mata dengan tangan menggenggam erat sisi-sisi pinggulnya.
“Sangat.” Desah Taehyung serak dan parau. Lalu menarik tubuhnya, “Aku harus mandi sebelum aku tidak sengaja jatuh tertidur dalam pelukanmu.”
Jungkook tertawa. “Siap, Pak Manajer.” Katanya melepaskan Taehyung yang terseok-seok ke kamar mandi.
Jungkook memunguti tas kerja Taehyung, kemejanya serta merapikan sepatunya. Ini bukan pertama kalinya Taehyung pulang lebih malam dari biasanya dan bukan kali pertama Jungkook tiba di apartemen serta mendapati tempat mereka masih gelap. Tidak masalah sama sekali. Taehyung pasti akan melakukan hal yang sama jika Jungkook pulang terlambat—menyiapkan makanan, air hangat dan busa mandi yang menyenangkan.
Kembali ke dapur, Jungkook mengeluarkan makan malam yang disisihkannya untuk Taehyung tadi. Memasukkannya ke microwave dan menunggu. Dari luar, dia mengamati piring yang berputar di dalam mesin—memikirkan Taehyung yang sekarang sedang membasuh dirinya di kamar mandi. Suara gemericik air dan senandung lirih Taehyung yang menggema dari kamar mandi membuatnya tersenyum.
Setidaknya dengan mandi, otot-otot Taehyung yang tegang merileks. Dia juga sudah membelikan Taehyung sabun kesukaannya, memastikan air hangatnya siap untuk Taehyung sebelum dia pulang.
Microwave berdenting dan Jungkook mengeluarkan makan malam Taehyung dari sana. Meletakkannya di meja, mengambil segelas air dan menoleh saat Taehyung keluar dengan celana training buluk kesukaannya bertelanjang dada. Ujung-ujung rambutnya berkilauan oleh titik-titik air, dia membersit air yang masuk ke telinganya seraya melangkah ke dapur tempat Jungkook baru saja meletakkan segelas air di meja.
“Silakan makan.” Kata Jungkook, mengecup pipi Taehyung yang beraroma segar sabun mandi dan terasa lembab oleh air hangat. Aromanya membuat Jungkook mendesah panjang, ingin membenamkan diri ke cerukan leher Taehyung dan tidur hingga pagi. Menyenangkan sekali, terasa selembut mentega.
Membiarkan Taehyung makan, Jungkook beranjak kembali ke sofa. Meraih selimut dan es krimnya yang mulai meleleh. Dia mengeluh kecil saat menyadarinya, meraih sendoknya yang hampir tenggelam di kemasan es krim lalu mulai menyuap. Tersenyum senang karena rasanya masih enak.
“Kau sudah makan?” Tanya Taehyung dari dapur, ditingkahi suara denting sendok dan piring yang digunakannya makan. Mengunyah makanannya dengan kunyahan ringkas dan cepat khas dirinya.
“Sudah, sebelum kau pulang. Aku lapar sekali, maaf tidak menunggumu pulang.” Jungkook menoleh dan Taehyung mengangguk, memberi gestur bahwa hal itu tidak masalah sama sekali untuknya.
Jungkook membiarkan Taehyung menghabiskan makan malamnya. Menatapnya saat membawa piring bekasnya ke bak cuci piring dan mencucinya sendiri. Dia berdiri di sisi bak cuci, membilas piringnya dengan wajah terkantuk-kantuk. Setelah meletakkan piring di atas rak pengering, dia mengelap tangannya sebelum beranjak ke sofa tempat Jungkook duduk.
Melihat Taehyung menghampirinya, Jungkook menyingkirkan tempat es krimnya yang sudah kosong dan membuka selimutnya. Taehyung langsung menyusupkan dirinya ke pangkuan Jungkook yang hangat dan mendesah panjang seolah seharian sedang menahan rasa sakit yang tak terperi dan Jungkook mengobatinya.
Jungkook terkekeh, dengan jemarinya membelai helaian rambut Taehyung yang lembab. “Lalu, sekarang beritahu aku tentang para bajingan itu.” Dia menunduk, menatap Taehyung yang memejamkan mata dengan satu tangan menggengam tangan Jungkook di atas dadanya yang berdebar lembut.
“Mereka memintaku merombak semuanya di menit terakhir. Sungguh semuanya.” Taehyung mengernyit dengan mata tertutup, jelas sangat jengkel dengan perubahan mendadak itu. “Tidak memberikanku banyak pilihan dan menekanku dengan deadline yang mencekik. Mereka seolah lupa mereka sedang bekerja dengan manusia yang butuh 8 jam untuk istirahat.”
“You're doing great, Darling.” Bisik Jungkook mengecup keningnya sayang dan dalam. “Menurutmu bisakah kau melakukannya? Mengejar deadline mereka?”
“Memang aku memiliki pilihan lain selain menyelesaikannya?”
Jungkook tertawa, suara tawanya membuat helaan napas Taehyung semakin melambat dan memberat. Suara Jungkook memiliki daya magis yang selalu membuat seluruh tubuh Taehyung merileks seperti mentega yang dilelehkan—membutnya begitu nyaman dan mengantuk.
“Sayang?”
“Hm?”
“Nyanyikan sesuatu untukku, boleh?”
Jungkook terkekeh. “Tentu,” katanya. “Apa saja untuk suamiku.”
Taehyung tersenyum, matanya masih tertutup. Dia membawa tangan Jungkook dalam genggamannya ke bibirnya—mengecupnya lembut dan intim. Rasa cintanya untuk Jungkook meleleh di seluruh pembuluh darahnya, memenuhi paru-paru serta seluruh organnya dengan cara yang menakjubkan seperti bagaimana Tuhan meniupkan kehidupan ke tubuhnya.
“Hari ini, beristirahatlah.” Jungkook berdendang lembut, membuai Taehyung dengan suara lembutnya hingga dia terombang-ambing dalam keadaan setengah sadar dan tidak.
“Besok, semuanya akan lebih baik. Besok kau akan memiliki tenaga yang cukup untuk mengejar ketertinggalan kalian.”
“Jungkook.”
“Ya?”
“Aku mencintainmu.”
Jungkook tertawa. “Aku juga mencintaimu, Bayi Besar.” Dia mengecup kening Taehyung lembut dan mendesah. “Terima kasih sudah bekerja hari ini, terima kasih sudah berjuang hari ini untuk kita.”
Mata Taehyung terbuka sebelah. “Terima kasih juga sudah berjuang hari ini untuk kita.”
Mereka berdua bertukar pandangan lalu Jungkook berdeham, bersiap-siap untuk menyanyi. “Kau ingin lagu apa?”
Taehyung tersenyum lebar, memejamkan matanya kembali meremas lembut tangan Jungkook di genggamannya. “Apa saja.” Bisiknya.
Jungkook menarik napas, “Do you love the rain? Does it make you dance?“
Senyuman Taehyung langsung terbit, dia mendesah. Suara lembut surgawi Jungkook menyusup ke telinganya. Membelai jiwanya yang lelah dengan cara yang begitu menakjubkan. Dia berusaha bernapas selembut mungkin—apa saja agar suara Jungkook terdengar jelas di telinganya, di seluruh inderanya.
“When you're drunk with your friends at a party? What's your favorite song, does it make you smile? Do you think of me?“
Jungkook menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata menikmati lagunya sendiri sementara Taehyung di pangkuannya mulai rileks terbuai suaranya. Jemari Jungkook membelai rambutnya yang lembab, menina-bobokan Taehyung dengan suaranya.
“When you close your eyes, tell me, what are you dreamin'? Everything, I wanna know it all.“
Mereka terasa begitu dekat dalam kondisi lemah yang sama. Saling menguatkan, saling mendukung. Jungkook menyerap kelelahan Taehyung setelah seharian bekerja dan memastikan dia cukup kuat untuk kembali bekerja keesokan harinya. Dan begitu pula sebaliknya.
Mereka berbagi rasa lelah mereka untuk ditanggung bersama, agar keesokan harinya mereka terbangun dengan perasaan ringan dan hangat. Membagi energi mereka masing-masing untuk satu sama lain.
“I'd spend ten thousand hours and ten thousand more. Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours.“
Jungkook adalah tempat ternyaman dan teraman dalam hidup Taehyung. Suaranya, tawanya, senyumannya—segalanya adalah hal yang dibutuhkan Taehyung untuk tetap waras.
Dalam perjalanan pulang, semuanya terasa menjengkelkan dan menyebalkan. Melelahkan dan menguras seluruh energi. Pekerjaannya yang tidak kunjung selesai, revisi-revisi yang terus berdatangan, klien-kliennya yang tidak kunjung puas dengan pekerjaannya. Atasannya yang menekan, anak buahnya yang sulit di atur...
Taehyung pikir dia akan meninggal muda karena serangan stroke setelah hari ini berakhir.
“And I might never get there, but I'm gonna try. If it's ten thousand hours or the rest of my life.“
Namun Jungkook dengan suara malaikatnya membuatnya kembali hangat setelah melalui hari yang dingin dan melelahkan. Membuatnya kembali segar dan bersemangat. Membelai lelahnya dan mengubahnya menjadi kehangatan.
“I'm gonna love you, I'm gonna love you.“
Kata cinta pun tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa kuat perasaan yang dirasakan Taehyung membuncah di dadanya. Kata cinta bahkan melemahkan perasaan itu—perasaan yang membuatnya ingin terus membahagiakan Jungkook, ingin terus berjuang bersamanya.
Ingin terus mencintainya hingga Jungkook meledak oleh kasih dan sayangnya.
Dia ingin terus membuat Jungkook miliknya.
“I love you.” Bisik Jungkook lalu mencium keningnya. “Now, hush, Baby. Let's sleep.“
Dan Taehyung menyerah, menceburkan diri dalam kegelapan dan kenyamanan yang dijanjikan ketidaksadarannya.
*