KookV AU – Mykonos' Sunset.

*

Taehyung sudah mendengar banyak mitos tentang matahari tenggelam di Yunani.

Begitu indahnya, terasa magis menyentuh bagian terdalam hati dan jiwanya hingga dia mendesah penuh rasa nyaman menatap semburat jingga pekat yang mulai meluruh menjadi keunguan.

Dia beruntung hari ini begitu cerah hingga matahari terbenam yang dinikmatinya begitu indah. Dia dan puluhan orang lain yang sedang duduk di atas pasir pantai lembut tanpa alas karena dia ingin merasakan bumi di kulitnya, angin laut serta cahaya matahari senja yang membelai permukaan kulitnya hingga berkilauan.

Taehyung menaikkan kacamata hitamnya, menatap ke langit yang megah dan indah. Seandainya saja tunangannya bisa sedikit lebih cepat dan tidak menghabiskan waktu berharganya dengan pergi ke toilet, maka mungkin mereka bisa memiliki saat-saat romantis yang bisa diingat seumur hidup mereka dalam puncak matahari terbenam yang begitu menghipnotis.

Dia melirik ponselnya, hening. Belum ada tanda-tanda kehidupan dari tunangannya yang sudah sejak lima menit lalu di toilet.

Tunangannya belum juga membalas pesannya. Jadi dia meraih kembali benda itu dan mengetik dengan jengkel: Masih lama tidak?

Lalu menekan tombol kirim dengan tenaga yang lebih dari yang benar-benar dibutuhkannya lalu kembali menatap langit. Mengarahkan kamera mirror-less milik tunangannya ke langit, mengatur ISO sebelum mengambil gambar indah matahari tenggelam Mykonos yang sangat melegenda. Dia menatap hasil fotonya, tidak terlalu puas karena lensa kamera tidak cukup bagus untuk mengabadikan indahnya warna langit yang dipandangnya dengan mata telanjang.

Memang ada banyak sekali hal di dunia ini yang tidak bisa diabadikan dengan lensa buatan manusia yang tidak peduli secanggih apa pun spefisikasinya, tetap tidak akan bisa mengalahkan mata telanjang manusia.

Mereka tiba di Mykonos tadi pagi dan langsung memutuskan untuk berpetualang ke seluruh pulau dengan berjalan kaki menikmati cuaca yang menyengat. Dengan kaus putih tipis, celana pendek dan sepatu serta bergandengan tangan. Tertawa ceria menikmati liburan pertama mereka setelah sekian lama membina hubungan dan akhirnya bertunangan.

Matahari Yunani menyengat kulit Taehyung dan membuatnya kemerahan tapi dia tidak peduli. Hidup terlalu singkat untuk mengkhawatirkan kulit gosong dan Yunani terlalu indah dan megah untuk dinikmati di bawah atap hotel mereka.

Taehyung memilih matahari tenggelam di beach club sebagai tujuan akhir mereka, tujuan pamungkas yang akan membuat tidur mereka malam ini nyenyak.

Namun itu sebelum Jeon Jungkook memutuskan bahwa dia sakit perut dan harus pergi ke toilet tepat lima menit sebelum matahari tenggelam paling menakjubkan yang pernah Taehyung lihat dimulai. Seharusnya Taehyung melarang Jungkook makan saus yogurt makanannya tadi banyak-banyak.

Karena perut Jungkook sensitif sekali dengan laktosa.

Ponselnya bergetar: Sabar

Taehyung menatap ponselnya kesal lalu menyimpannya kembali.

Memilih untuk memfokuskan seluruh energinya hari ini untuk menyerap keindahan matahari tenggelam. Debur ombak yang lembut berkeresak saat menghantam pasir dalam gulungan-gulungan kecil berbuih seperti penari yang indah dan gemulai. Airnya berkilau keemasan memantulkan cahaya matahari, angin pantai yang lengket dan berat menggoyangkan hiasan di atas kepala Taehyung dan membuat kulitnya terasa lembap.

Dia menyusupkan kakinya ke dalam pasir di hadapannya, mendesah merasakan sisa hangat pasir yang terbakar matahari di permukaan kakinya. Dengan jemarinya yang kurus dan langsing, dia meraup pasir. Mulai menimbun kakinya dengan pasir halus yang meluruh dari sela-sela jemarinya tiap kali dia meraupnya seraya bersenandung lirih—menikmati waktunya yang berharga.

Benda itu terasa sehalus bubuk mutiara, berkilau saat Taehyung mengangkat tangannya. Membiarkan cahaya matahari memantul di pada bulir pasirnya yang membentuk air terjun mungil melalui jemarinya. Dia tersenyum, hatinya terasa hangat—sangat hangat hingga dia ingin berbaring di pasir dan memejamkan mata.

Mereka benar tentang Yunani.

Perasaan nyaman ini, matahari tenggelamnya, pantainya serta langitnya yang selalu sebiru permen bukan sekadar momok belaka. Taehyung merasakan segalanya hari ini di permukaan kulitnya, dengan matanya sendiri dan di lidahnya. Ada sesuatu yang sangat magis di pulau ini, yang membuatnya terpesona dan tidak ingin pulang.

Tembok-tembok rumah penduduk yang putih memantulkan panas yang menyengat tapi Taehyung tidak keberatan sama sekali. Dengan rimbun bunga bougenvil di sisi-sisi jalan—melengkung membentuk mahkota, merunduk rendah hingga Taehyung dengan mudah meraihnya dan merasakan tekstur kelopak bunganya yang lembut di ujung jemarinya.

Dia jatuh cinta.

Pada Yunani.

“Hei.”

Taehyung mendengus lalu mendongak, bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum lebar. “Sudah?” Tanyanya geli saat Jungkook berjongkok di sisinya, mendudukkan diri dan membenamkan kakinya ke dalam pasir seperti Taehyung.

“Maaf.” Jungkook mendesah dan menatap langit. “Aku melewatkan bagian terbaiknya, ya?” Tanyanya, tangannya meraih tangan Taehyung lalu membawanya ke bibirnya—mengecup tiap buku jemarinya dengan lembut, cincin tunangan mereka serta telapak tangannya yang terasa asin di bibirnya dengan intim.

“Yap.” Taehyung menatapnya. Masih tetap terpesona dengan bagaimana Jungkook nampak begitu indah bahkan setelah sekian tahun bersama. Tulang rahangnya yang tegas dan tajam, bentuk wajahnya, matanya, rambutnya....

Taehyung mengulurkan tangan, menyentuh kening Jungkook dan menyeka rambutnya naik dengan lembut. Bulir pasir yang menempel di telapak tangan Taehyung tersangkut di helai-helai rambut Jungkook yang lengket oleh angin pantai dan dia tersenyum.

“Kau jauh lebih indah.” Katanya tersenyum lalu menurunkan tangannya, membiarkan Jungkook mengenggam kedua tangannya, membelai punggung tangannya dalam gerakan melingkar yang menenangkan dengan ibu jarinya yang hangat.

“Bisa diperdebatkan saat kau duduk di sini.” Jungkook mengerlingnya dan tersenyum. Menjulurkan torsonya, menyium pelipis Taehyung dengan lembut. “Tapi untuk saat ini, mari menghormati matahari tenggelam yang menurut mereka paling indah di dunia ini, oke?”

Taehyung tertawa. “Tentu, tentu.” Dia tersenyum lebar dengan tangannya yang masih di dalam genggaman erat Jungkook.

Jungkook melepaskan tangan mereka, mengulurkan lengan kirinya membentuk sayap—mengundang Taehyung menyusupkan diri ke dalam pelukannya. Taehyung terkekeh, menggeser duduknya mendekat ke arah Jungkook dan menyusup ke dalam pelukannya.

Jungkook mendesah, merengkuh Taehyung dalam pelukannya yang hangat dan beraroma pekat kolonyenya yang maskulin dengan secercah aroma keringatnya yang mendebarkan. Taehyung menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook, menatap langit yang mulai menggelap.

Warna ungu yang berkilau menghampar perlahan, menarik warna jingga tenggelam ke dalam cakrawala. Air lautan yang bergolak lembut dalam irama yang menenangkan memantulkan cahaya mereka dan membiaskannya ke seluruh arah. Taehyung tidak akan pernah bisa melupakan betapa magis kenangan ini.

Matahari tenggelam yang luar biasa, angin laut yang asin, kakinya tenggelam di dalam pasir yang hangat, pelukan Jungkook di tubuhnya dan aroma tubuhnya yang begitu familiar dengan seluruh indranya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jungkook di rambutnya, bibirnya membelai rambut Taehyung saat bergerak membisikkan cintanya. “Sungguh mencintaimu hingga seluruh tubuhku nyeri merasakannya. Tubuh ini tidak cukup kuat untuk menampungnya.”

Cheesy,” bisik Taehyung namun tak ayal tersenyum dengan mata terpejam.

Bahkan dari kelopak matanya yang tertutup, dia bisa merasakan cahaya matahari yang mendebarkan itu. Dia menyusupkan kepalanya semakin dekat ke dada Jungkook, mendengarkan suara debaran jantungnya yang teratur ditingkahi suara deburan ombak yang lembut serta dengungan percakapan orang-orang di sekitarnya.

Suara jantung Jungkook yang basah selalu membuatnya lega—membuatnya menyadari betapa hidup dan dekatnya Jungkook. Menghamparkan rasa aman sehangat selimut di tubuhnya, memeluknya semakin erat dan memastikan Taehyung mendapatkan hanya yang terbaik yang bisa ditawarkan dunia untuknya.

Orang-orang di sekitar Taehyung bergerak, mengobrol dan makan. Menikmati waktu berkualitas mereka namun dia dan Jungkook duduk di sana—di atas pasir yang lembut, dalam pelukan masing-masing berbagi napas dan detakan jantung seolah berada dalam gelembung sendiri yang tebal dan tidak tersentuh.

Mereka seolah sedang berada di dunia yang sangat berbeda dari seluruh orang yang bergerak di sekitar mereka. Itulah yang selalu dirasakan Taehyung tiap kali berada dalam dekapan Jungkook—perasaan aman, perasaan nyaman dan perasaan hangat oleh kehidupan yang berdetak di nadinya.

Jungkook membuatnya hidup.

Membuatnya jauh lebih baik dan membuatnya kuat.

Terkadang dia merasa dirinya tenggelam, namun Jungkook selalu ada di sisinya—meraih tangannya dan menariknya ke permukaan. Menjaganya tetap waras, menjaganya tetap berenang di permukaan. Saling mengulurkan tangan, menjaga satu sama lain dengan begitu penuh perhatian.

Jika suatu hari nanti Taehyung harus lahir kembali, dia akan tetap mencintai Jungkook. Dirinya yang baru, identitasnya yang baru, tubuh barunya akan tetap menemukan Jungkook di mana pun dia berada.

Jiwanya akan selalu mengenali jiwa Jungkook—terikat erat.

“Mereka benar.”

“Tentang?”

“Matahari terbenam Yunani sungguh hal terbaik yang dunia bisa berikan padamu.”

Taehyung tersenyum di bahu Jungkook. “Benarkah?” Tanyanya.

“Kupikir lagi, sepertinya tidak.”

Taehyung tertawa serak. “Lalu?”

Kau.” Bisik Jungkook, menyandarkan kepalanya di atas kepala Taehyung dan memejamkan mata sementara lampu-lampu gantung di atas kepala mereka dinyalakan dan bergoyang lembut oleh angin pantai.

“Kaulah hal terbaik yang dunia bisa berikan padaku.”

Taehyung tersenyum lebar. “Kau juga adalah hal terbaik yang dunia bisa berikan padaku.”

“Kau membuatku tetap waras, kau membuatku tetap kuat. Kau membuatku percaya tidak ada hal yang tidak bisa kulakukan.” Jungkook meraih tangan Taehyung dan mengecupnya lagi, kali ini menahannya tetap di wajahnya dalam waktu yang lama hingga napasnya terasa menggelitik tangan Taehyung.

“Kau membuatku merasakan hal yang sama.” Taehyung tersenyum, menatap tunangannya yang memejamkan mata dengan telapak tangannya di wajah Jungkook.

Semburat matahari mulai lenyap sepenuhnya, tergantikan langit malam yang cerah berbintang. Bulan mungil terbit di langit, berpendar samar membentuk senyuman lancip yang indah. Suasana semakin syahdu dengan orang-orang dan aroma makanan yang lezat. Suara percakapan yang akrab dan hangat merambat melalui udara ke telinga mereka—membentuk harmoni yang menyenangkan dengan suara debur ombak.

Namun Taehyung dan Jungkook tetap di sana, menikmati waktu mereka dengan kaki terbenam di pasir yang mulai dingin. Tidak ingin melepaskan diri atau bangun dari sana sama sekali.

“Menikahlah denganku.” Bisik Jungkook kemudian.

“Oke.” Balas Taehyung kalem lalu terkekeh serak saat Jungkook mendengus mendengar jawabannya. “Aku sudah setuju melakukannya beberapa bulan lalu.”

“Kau terasa tidak nyata,” jemari Jungkook membelai lengan atas Taehyung dengan buku tangannya—bergerak naik-turun, lembut dan menenangkan. “Aku merasa takut suatu hari nanti aku membuka mata dan kau hanyalah mimpi.”

Taehyung tertawa serak. “Calm down, Shakespeare.” Dia menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Jungkook dan bergidik karena kehilangan kehangatan tubuh Jungkook.

“Aku tidak akan pergi. Walaupun kau mengusirku dari hidupmu.” Katanya tersenyum brilian dan Jungkook menyunggingkan senyuman separonya dengan mata berbinar oleh cinta.

“Bahkan jika aku melemparimu dengan sepatu?”

“Hmm.... Oke. Nampaknya harus kupikirkan dulu.”

Jungkook tertawa serak, kepalanya terlempar ke belakang merespon ledakan emosi itu dan rambutnya membentuk air terjun. Taehyung mengamati wajahnya yang merileks oleh tawa, otot-ototnya melemas dan matanya terpejam. Geliginya yang basah oleh saliva berkilau di bawah cahaya lampu temaram.

Kemudian, Jungkook menyusupkan dirinya ke pelukan Taehyung. Menyandarkan kepalanya di kepala Taehyung dan memejamkan mata—tersengal oleh tawanya sendiri. “Kau luar biasa.” Bisiknya lembut.

Taehyung membelai rambut Jungkook dengan jemarinya. “Kau juga.” Balasnya ceria.

Mendesah, Jungkook menarik tubuhnya. Taehyung merespon gerakan itu dengan mendongak, menatapnya dengan mata yang jernih dan berkilau oleh tanda tanya. Mendesah berat, Jungkook menyelipkan tangannya di rahang Taehyung. Pemuda itu langsung meleleh dalam sentuhannya, meluruhkan diri dalam sentuhan Jungkook dan memejamkan mata.

Dia membawa wajah Taehyung ke wajahnya, melabuhkan ciuman sehalus sayap kupu-kupu ke bibirnya yang pecah-pecah karena udara Yunani yang panas. Mengusapnya dengan ciuman lembut sebelum memangutnya dengan perlahan. Menyisipkan lidahnya ke dalam mulut Taehyung yang terasa seperti sorbet stroberi yang tadi dimakannya, secercah rasa mint permen karet dan pasta gigi mereka.

Ciuman itu membuat Jungkook dan Taehyung merasa utuh—sempurna.

Sesempurna apa yang kata itu janjikan, bahkan lebih.

Taehyung sudah mendengar banyak mitos tentang matahari tenggelam di Yunani.

Begitu indah hingga jiwa dan hatinya merasa damai setelah menyaksikannya. Hingga Taehyung merasa dirinya melayang oleh rasa bahagia. Hingga bibir Jungkook di bibirnya terasa begitu mendebarkan seolah mereka belum pernah berciuman sebelumnya.

Mitos itu benar, pikirnya dalam ciumannya yang dalam bersama Jungkook.

Yunani adalah tempat yang begitu magis, kau tidak akan pernah ingin kembali pulang...

*

HAPPY BIRTHDAY, ZETI! x love, ire