Tore Me Apart.
*
“Cukup. Itu sudah gelas kelima.”
Taehyung berdecak keras pada Jimin yang duduk di sisinya, “Diam, Ibu.” Katanya membawa sloki minumannya ke bibirnya dan menandaskan isinya dalam satu tegukan. Panas vodka menjalar turun ke tenggorokannya seperti jalur api yang menyekik lehernya lalu mendarat di perutnya yang kebas oleh rasa sakit.
Dia harus berhenti.
Tetapi kenapa?
Maka Taehyung meletakkan slokinya di atas meja dengan suara tak! keras dan memberi tanda untuk bartender mengisi gelasnya lagi dengan vodka on the rock dengan irisan jeruk kesukaannya—sejak malam ini.
Kepalanya berdengung, namun hatinya jauh lebih nyeri dari kepalanya hari ini. Setelah siang tadi Bogum mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan enam tahun (ENAM. TAHUN. Bayangkan seberapa banyak waktu yang sudah dibuang Taehyung demi lelaki itu?) dan alih-alih cincin, dia mendapatkan pakaian yang dipak rapi dalam tasnya serta diusir dari apartemen mereka.
Apartemen mereka karena Taehyung membayar setengahnya dan semoga Park Bogum terbakar di neraka ke-9.
Jika dia tidak bisa membunuh Bogum dengan tangannya sendiri, mencekiknya dan menikmati bagaimana dia memohon untuk Taehyung melepaskannya, wajahnya memucat saat kehidupan mulai menetes dari tangannya....
“Apakah Bogum layak mendapatkan ini?”
Taehyung memicingkan matanya, berusaha menatap wajah Jimin dalam keremangan klub dan kepalanya yang mulai berat oleh alkohol. “Mendapatkan apa?” Tanyanya setengah menggeram berkumur-kumur karena seluruh ototnya terasa lembek seperti bubur dihajar 5 sloki vodka.
“Kau.” Jimin menatapnya; apakah itu rasa kasihan di matanya? Yah. Sial.
“Bersikap tidak masuk akal begini. Kau bahkan tidak pernah mi—TAE!” Suara Jimin berubah menjadi teriakan saat Taehyung terguling dari kursinya dan merosot ke lantai saat berusaha membenahi duduknya.
Orang-orang di sekitar mereka menatap Taehyung dengan wajah jijik dan Taehyung bergegas berdiri dengan terhuyung dibantu Jimin yang mendesah keras.
“Tidak apa-apa,” katanya pada semua orang yang tidak peduli, dia melambaikan tangannya dan memasang wajah congkaknya yang merah padam. Semoga Bogum membusuk di neraka. “Aku tidak mabuk.” Katanya mendelik pada Jimin yang nampaknya berusaha sangat kuat agar tidak menonjok hidungnya hingga melesak ke dalam tengkoraknya.
Jimin memutar bola matanya. “Ya, kau mabuk. Ayo, pulang.” Katanya berusaha menyeret Taehyung pulang namun pemuda itu menakis tangannya dan karena Taehyung lebih tinggi dari Jimin, maka Jimin mengalah.
“Satu gelas lagi dan kita pulang.” Jimin mendelik dan Taehyung memutar bola matanya.
“Diam, Ibu. Kau berisik sekali.” Dia menerima gelasnya, mendudukkan bokongnya di kursi dan menyandarkan kepalanya di meja, memunggungi Jimin yang berisik.
Kepalanya terasa berdenyut mengerikan. Alkohol bereaksi tidak menyenangkan dengan asam lambungnya setelah dua hari tidak terisi makanan. Tapi siapa yang benar-benar butuh lambung?
Bukan Taehyung.
Dia membawa gelasnya ke depan matanya, menatap ruangan yang kabur melalui gelasnya yang berembun oleh es batu dan irisan kulit jeruk yang beraroma sitrus nyaman. Memikirkan apartemen yang dibayarnya dengan tabungannya, janji-janji manis Bogum, pernikahan yang tidak akan pernah terjadi.
Taehyung tidak akan menangis lagi. Cukup. Bedebah bangsat itu tidak layak mendapatkan sedikit pun perhatian Taehyung. Tapi dia sedang menangisi apartemennya—setengah uangnya yang ditabungnya dengan penuh tekad selama ini.
Lenyap begitu saja.
Bisakah dia mengajukan pembagian harta gono-gini? Atau itu hanya berlaku bagi pasangan menikah?
Dia berpikir dia mungkin adalah seonggok daging menyedihkan yang baiknya dipanggang agar setidaknya dia bisa berguna bagi seseorang saat dia melihatnya.
Sang Dewa Seks.
Sang Eros sendiri—putra kebaggaan Aphrodite.
Dia langsung terduduk tegak, menatap langsung ke singa jantan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke sofa. Binatang liar yang sedang duduk menikmati waktunya dengan kesadaran penuh bahwa dia adalah binatang paling eksotis di ruangan itu. Menyadari sepenuhnya bagaimana seluruh tubuhnya meneteskan aroma menggairahkan yang memaksa setiap orang untuk memohon di kakinya—memohon untuk disentuh.
Dia begitu indah.
Tertawa di sela kabut asap rokok teman-temannya, di tangannya ada segelas vodka dengan irisan jeruk seperti milik Taehyung. Dia mengenakan celana jins biru pudar, kemeja linen licin yang jatuh di dadanya dengan cara yang begitu menawan hingga tangan Taehyung terasa gatal.
Bagaimana jika dia menyusupkan tangannya ke dalam sana?
Membelai tubuhnya dengan ujung-ujung jemarinya.... Merasakan kulit pemuda itu di kulitnya, hangat tubuhnya, detak jantungnya yang memburu saat Taehyung membungkuk di atas selangkangannya, mengulumnya? Aroma kolonyenya pasti luar biasa...
Taehyung bisa orgasme hanya dengan menatapnya lebih lama lagi.
Maka dia berdiri, mengabaikan kata-kata Jimin yang berusaha menahannya. Jimin mengerang keras, membiarkan temannya dan berdoa pada Tuhan dia akan selamat setelah malam ini. Taehyung membawa gelasnya ke arah kerumunannya. Mereka sedang tertawa dan dewa seks itu sedang mendengarkan dengan tawa seraknya yang memesona—suaranya.....
Dari dekat, dia bahkan jauh lebih memesona.
Pembuluh darahnya yang menyembul di lengan bawahnya, kulitnya yang pucat, rambut gelapnya yang setengah gondrong, anting yang bergoyang di telinganya saat dia tergelak oleh candaan temannya. Giginya yang berkilau, bibirnya yang indah....
Taehyung menyesap vodkanya, merasa panas dan pening oleh gairahnya sendiri sebelum berdiri di sisi sofanya.
Seluruh kerumunan menyadarinya dan menoleh; menatapnya bingung.
“Halo,” sapa Taehyung mengendikkan gelasnya—dia mungkin akan menyesali ini nanti tapi sekarang dia butuh kedua tangan itu di tubuhnya, membelainya. Melukiskan jejak api yang menyenangkan di seluruh sudut tubuhnya, di setiap bagian tubuhnya.
Khususnya bagian tubuhnya yang sekarang berdenyut mengerikan oleh gairah.
Lima orang yang duduk melingkari meja dengan beberapa botol vodka dan bir, bungkus kacang dan makanan mengotori meja mereka. Puntung rokok dijejalkan ke asbak yang sudah kepenuhan hingga beberapa hanya dibirkan di sisinya. Mereka semua menatapnya, kebingungan. Taehyung tersenyum lalu menoleh pada pemuda di bawahnya yang mendongak kebingungan; matanya berkilau dan bibirnya terkuak dalam kebingungan.
Taehyung gemetar.
Dia menyapukan pandangan ke tangannya yang sedang bersandar di pahanya dan memiliki keinginan impulsif untuk membiarkan tangan itu menyekik lehernya saat pemuda itu mempercepat gerakan pinggulnya menuju orgasme mereka berdua yang akan sangat luar biasa.
Taehyung bersumpah.
Kata Bogum, blowjob Taehyung adalah hal terbaik yang bisa didapatkannya di dunia sial ini.
Maka dia berharap blowjob-nya bisa membuatnya diterima dewa seks ini.
“Halo.” Balas pemuda itu sopan, menatap teman-temannya yang mulai bergunjing dan melemparkan tatapan memperingatkan lalu mengulaskan senyuman yang begitu menyilaukan pada Taehyung yang gemetar.
Seksi dan tahu sopan santun.
Oh. Taehyung suka sekali memberikan hadiah untuk anak baik.
Bolehkah Taehyung berlutut di kakinya, membuka ikat pinggang dan celananya lalu memberikannya blowjob terbaik yang akan pemuda itu rasakan seumur hidupnya, sekarang?
“Ada yang bisa kubantu?” Tanya pemuda itu, melirik wajah dan gelas Taehyung. Melirik tubuhnya yang terbalut kemeja putih tipis yang dua kancing teratasnya terbuka dan celana jins skinny yang dikenakannya.
Dan wajahnya berubah.
Taehyung tahu dia menyukai apa yang sedang dilihatnya.
“Ya.” Kata Taehyung dengan suara penggodanya yang rendah dan serak. Efeknya langsung terlihat, alis pemuda itu terangkat sedikit dan sudut bibirnya tertarik ke atas dengan tertarik.
Matanya menjelajahi tubuh Taehyung dengan kurang ajar sekarang; menelanjanginya dengan tidak sopan.
Membuat seluruh tubuh Taehyung gemetar dan lemah oleh gairah. Dia tidak akan bisa berdiri tegak setelah ini. Bola matanya bergulir dari bagian depan kemeja Taehyung, ke tulang belikatnya lalu turun ke pinggangnya yang ramping dan kakinya yang panjang dan kurus.
Lalu dia melakukan hal yang membuat Taehyung nyaris terserang epilepsi dengan menyodok bagian dalam pipinya dengan lidahnya seraya menyapukan tatapan naik dari kaki Taehyung, berhenti lama di area bawah perutnya sebelum naik ke matanya lagi.
“Apa yang bisa kubantu untukmu, Sayang?” Tanyanya sekarang dengan suara yang lebih rendah, seperti seekor singa jantan yang sedang menatap mangsanya.
Menilai seberapa lezat makhluk itu untuknya.
“Hanya satu-dua hal,” Taehyung menjawab.
“Oh, ya?” Balas pemuda itu, terhibur. Kali ini dengan perhatian sepenuhnya pada Taehyung. “Mari kita dengarkan?”
Dia kemudian menandaskan isi gelasnya, menahan vodka panas itu dalam rongga mulutnya yang terbakar oleh kandungan alkoholnya. Menjulurkan tubuhnya untuk meletakkan gelas di atas meja dengan suara keras lalu berbalik, mengayunkan kaki yang panjang dan duduk mengangkangi selangkangan pemuda itu yang ternyata sudah menebal dan mengeras lalu meraih wajahnya dalam ciuman panas yang panjang.
Seluruh teman-temannya terkesirap kaget lalu tertawa serak—jelas terhibur oleh pertunjukan yang diberikan Taehyung. Tapi peduli setan, Taehyung hanya butuh memberi kesan luar biasa pada lelaki di bawah pangkuannya.
Dia menyelipkan lidahnya dalam mulut pemuda itu, membiarkan cairan vodka yang ditahan dalam mulutnya menyusup masuk. Dia bisa merasakan pemuda itu tersenyum sebelum membuka bibirnya, membiarkan vodka manis dan panas itu menetes ke dalam mulutnya. Mengalir dari sisi bibir mereka menetes ke atas pakiannya.
Mereka berbagi vodka dan ciuman paling memuaskan dalam hidup Taehyung.
Hanya ciumannya saja bisa membuat Taehyung pening. Kepalanya terasa lepas dari lehernya dan dia berdeguk keras saat tangan pemuda itu meraih pinggangnya, membelainya dengan panas. Telapak tangannya menyentuh tubuh Taehyung dengan cara yang begitu menakjubkan hingga dia nyaris merengek seperti seekor anjing kudisan, memohon untuk disetubuhi saat itu juga. Pemuda itu mengeratkan genggaman tangannya di pinggang ramping Taehyung dan meraihnya lebih dekat.
“Oh!” Bibir Taehyung terbuka, kepalanya terlempar ke belakang. Menakjubkan!
Dia memang sepanas apa yang terlihat.
Tubuh mereka yang panas dan mendamba bertemu, berdenyut bersama dalam gairah yang memusingkan. Taehyung mengerang keras saat ciuman pemuda itu menggelincir dari bibir ke dagunya, turun ke lehernya dan mengecup jakunnya. Ciuman yang panas dan beraroma tajam kulit jeruk yang segar. Aroma keringatnya memusingkan; Taehyung ingin menghirupnya terus. Memenjarakan aroma itu dalam kepalanya sebagai cinderamata selamanya. Tangannya bergerak di tubuh Taehyung, turun ke pantatnya dan meremasnya dengan lembut.
“Wow.” Katanya serak dan puas, mendengkur seperti singa yang kekenyangan di leher Taehyung yang berdeguk seperti seekor ayam yang akan disembelih.
“Aku tidak menduga itu,” katanya terkekeh serak, mengecup desir pembuluh darah Taehyung yang berdebar gila. “Tapi aku tidak bilang aku tidak menyukainya.”
Dia mendorong Taehyung lembut hingga menatapnya. Matanya menggelap oleh gairah dan Taehyung mengigil dalam pelukannya. Dia menatap wajah Taehyung dengan tatapan panasnya, menyeka rambut Taehyung yang jatuh ke keningnya. Menyapunya naik hingga kening Taehyung terpapar. Kelopak matanya bergetar, dia memberikan Taehyung tatapan mengantuk bergairah yang membuat dasar perut Taehyung mengejang.
Kumohon... Taehyung berusaha mengatakannya tapi yang keluar hanyalah decit menyedihkan seperti seekor tikus yang terpojok.
“Oh, Sayang...” Bisik pemuda terhibur itu membelai sisi tubuhnya dengan punggung tangan sialannya. “Kau benar-benar membutuhkanku, ya?” Tanyanya lembut dan menggoda, lalu menjulurkan lidahnya untuk membelai cuping telinganya yang memerah dengan panas dan basah.
Salivanya meluncur turun ke leher Taehyung dan Taehyung yakin sebentar lagi tubuhnya akan meledak oleh gairah yang memusingkan ini. Seluruh ototnya nyeri, otaknya tidak bisa memproses apa pun.
Dia butuh pemuda ini bercinta dengannya.
I wanna be in your touch, sleeping's so tough; you're burning up my mind. What would it feel like if you tore me apart? Come on, chew on my heart.
Lalu pemuda itu meraihnya berdiri dengan sentuhan yang ajaibnya begitu lembut. Telapak tangannya terasa membakar kulit Taehyung dari lapisan kemejanya, hingga ke organnya yang meleleh.
Dia ingin tangan itu di atas tubuhnya, tanpa kemeja sialan yang memisahkan mereka. Dia membantu Taehyung berdiri dan menyandarkan bobot tubuh Taehyung ke sisi tubuhnya yang kokoh dan berotot halus.
Taehyung ingin menjilatnya, merasakan hangat kulit itu di lidahnya.
Ooh...
“If you excuse me, Guys.” Katanya pada teman-temannya yang mendenguskan tawa mengejek. Taehyung bisa mendengar senyuman lebarnya dan dia senang karena dia berhasil menggoda pemuda itu untuk bercinta dengannya.
Mungkin Taehyung tidak terlalu tidak berguna.
“I have important business to do.“
Lalu dia menoleh pada Taehyung yang mengigil. “Kau sendirian?” Tanyanya lembut, mengecup pelipisnya lalu menarik ciuman malas lain menuruni bagain sisi wajahnya, turun ke garis rahangnya dan sudut bibirnya.
“Karena sayang sekali temanmu harus kembali sendiri, aku tidak akan membiarkanmu pulang malam ini.”
Peduli setan, dia bisa saja menelanjangi Taehyung di sana—di atas meja yang penuh sampah dan Taehyung tidak peduli.
Dia meraih tangan Taehyung dan meletakkannya dengan berani di selangkangannya yang tebal dan panas. Taehyung mendesah panjang dan pemuda itu bergidik mendengar suaranya yang serak dan berat. Dia mengumpat lagi—seksi sekali. Taehyung ingin dia terus mengumpat sambil menggerakkan pinggulnya, bercinta sepanjang malam dengan Taehyung.
Dia menutup tangan Taehyung yang dingin dengan tangannya lalu meremas dan mendesah kasar serta mengumpat.
Taehyung semakin panas. Dia harus segera bercinta dengan Taehyung sebelum kepalanya pecah. Sungguh.
“Kau harus menyelesaikan apa yang kaumulai, Sayang.” Katanya tersenyum separo, menatapnya. “Dan kuharap kau siap dengan konsekuensi tindakanmu.”
“Oh, tidak. Tidak.” Katanya terhibur saat jemari Taehyung menarik zipper-nya turun dan berusaha menyelip ke dalam celananya. “Tidak secepat itu, Sayang. Kita punya sepanjang malam untuk saling mengenal, bukankah begitu?”
Taehyung mengerang; tapi dia tidak butuh sepanjang malam!
“Sabar,” bisiknya serak di rambut Taehyung, menghirup aromanya dalam-dalam dan menggeram kasar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Bagaimana bisa aku tidak melihatmu di sini?” Gumamnya parau.
“Siapa namamu?” Tanyanya.
Oh, sungguh? Mereka akan menghabiskan sepanjang malam bercakap-cakap alih-alih bercinta?
“Taehyung.” Katanya, apa saja agar pemuda itu melepaskan seluruh pakaiannya lalu mengecupi sekujur tubuhnya. “Kim Taehyung.”
Matanya berkilat. “Halo, Kim Taehyung. Senang bertemu denganmu.” Dia mengulurkan tangan, meremas tubuh Taehyung yang menebal dan mengirimkan desahan panjang yang menyedihkan ke udara.
“Oh, wow. Lihat dirimu.” Dia menempelkan tubuh mereka, di sana. Di klub yang ramai seolah hanya ada mereka berdua di sana. Dan Taehyung menyukainya. “Sangat bergairah.”
“Baiklah, Sayang.” Dia tertawa serak lalu membimbing Taehyung ke belakang bar, ke kamar yang biasa digunakan tamu untuk one night stand.
Perjalanan terasa sangat jauh dengan kepala yang berdentam-dentam dan kakinya yang terasa seperti agar-agar. Namun ternyata bukan hanya Taehyung yang geram akan tubuhnya sendiri karena pemuda itu kemudian berdecak, menyapukan lengannya yang kuat ke kaki Taehyung dan menggendongnya di atas kedua lengannya yang kokoh.
Dia menendang pintu terbuka, lalu mengaitkan kakinya ke pintu untuk mendorongnya tertutup dengan suara debam keras lalu melempar Taehyung ke ranjang, mengunci pintunya lalu mulai melepas kancing kemejanya seraya berjalan ke arah Taehyung yang berkerut di atas ranjang yang aromanya sedikit lebih baik dari toilet umum.
Tapi peduli setan.
Pemuda itu melepas kemejanya, membiarkan kain licin itu meluncur turun dari bahunya hingga jatuh ke lantai lalu mulai melepas celananya. Membiarkan kancing dan zipper jinsnya terbuka dengan kepala ikat pinggang yang berdenting saat dia merangkak naik ke atas tubuh Taehyung.
Menaunginya dengan aura mendominasi yang membuat Taehyung mengigil.
Persetan dengan Bogum, dia bisa mati dan membusuk di neraka.
“Jeon Jungkook,” bisiknya serak. Napasnya membelai wajah Taehyung dan dia merunduk, bibirnya menyentuh bibir Taehyung dan membelainya saat dia berbisik,
“And I'll be at your service tonight. Just tell me where you want to be touched. I'd be delighted to help.“
*