Apollo #53
Sudah seminggu Raditya tidak membalas pesan Natan.
Sudah seminggu juga dia tidak nampak di mana pun di sekitar kampus.
Natan mungkin sudah berusaha membuat dirinya sendiri bersikap natural saat melewati ruangan HMPS dan melirik ke dalamnya hanya untuk mendapati Converse milik Raditya tidak ada.
Begitu pun saat melewati parkiran motor, motornya tidak nampak di mana pun.
Arjuna bilang dia belum kembali sejak terakhir mereka bertemu. Tidak bisa dihubungi sama sekali karena ponselnya tidak aktif dan tidak ada tanda apakah dia hidup atau tidak.
Dia seolah lenyap dari dunia. Tidak ada yang bisa menghubunginya, tidak ada yang tahu kontak orangtuanya.
“Ayahku sibuk, jadi kami jarang bertemu.” Begitu katanya pada Natan, hari itu—jutaan tahun lalu saat mereka duduk bersisian dalam mobil Natan, mendengarkan lagu pop Indonesia yang berkeresak dari radio.
Natan mulai uring-uringan.
Lebih karena percakapan terakhir mereka yang begitu mengundang banyak sekali pertanyaan—apakah pemuda itu sungguh serius dengan pernyataannya?
Atau dia hanya sedang mempermainkan Natan seperti bagaimana dia pergi daring dan luring sesuka hatinya kapan pun dia mau?
Sudah seminggu pula Natan memelototi ponselnya, berusaha membakar benda itu dengan tatapannya atau setidaknya membuat Raditya sadar bahwa ada seseorang yang menunggunya memberi kabar.
Namun ponselnya tetap bisu.
Twitter Raditya pun sepi. Dia hanya punya 1 cuitan, tentang terjun ke dalam sungai Styx dan Hades bangga padanya.
Hanya itu.
Natan mendesah keras, duduk di kursi strategisnya di dekat jendela untuk kelas Morphosyntax mereka bersama Miss Sisca, dosen muda mereka yang nyentrik dan lincah menjelaskan.
Raditya tidak muncul pada kerja kelompok mereka. Jadi mereka terpaksa harus mengeluarkan nama Raditya dari grup sesuai perjanjian di kelas dan menjelaskan pada dosen mereka bahwa pemuda itu tidak bisa dihubungi.
“Selalu begitu,” keluh dosen mereka memijat keningnya. Nampak sudah tidak lagi terkejut dengan laporan dari mahasiswanya tentang Raditya yang tiba-tiba menghilang. “Dia sebenarnya ingin lulus tidak, sih?” Gumamnya lalu melambaikan tangan, berterima kasih pada Yogi.
“Mungkin dia gembong narkoba?” Kata Indra hari itu saat mereka makan di Ayam Geprek Bu Rum 1, di Papringan yang ramai saat jam makan siang.
Aroma ayam goreng yang lezat mendominasi udara di sekitar mereka. Panasnya warung tenda kecil yang ramai, aroma pedas cabai yang diulek di sudut, denting peralatan makan yang dicuci. Obrolan orang-orang di sekitar yang menikmati makan siang mereka serta suara tiupan peluit tukang parkir yang nyaring dari waktu ke waktu menemani makan siang mereka bertiga.
“Ngawur!” Yogi melotot sementara Natan tersedak ayam geprek pedasnya.
“Lalu apa lagi?” Indra mengerang. “Dia hilang sudah satu minggu! Bukan berarti aku peduli, ya? Maksudku, tim Morpho kita jadi macet, 'kan?? Apa, sih, sulitnya mengirimkan Whatsapp?”
Kunyahan Natan melambat mendengarnya, dia menatap ayam di piringnya dengan alis berkerut—memikirkan kata-kata Indra dengan saksama.
Kenapa dia tidak menggunakan ponselnya?
Ini 2020, bagaimana mungkin seseorang tidak... bergantung pada ponsel? Bagaimana mungkin dia tidak terkena nomophobia seperti orang-orang kebanyakan?
Can you please be a little more patient with me?
Natan tiba-tiba mengerang keras dan kedua temannya menoleh kaget, sekaligus setengah isi warung tenda yang sedang mereka datangi.
“Apa, sih?” Gerutu Yogi, kaget. “Apa yang salah padamu?”
“Raditya menyebalkan.” Keluh Natan mengerang keras.
“Mulai, deh, merengeknya.” Inda memutar bola matanya lalu mengaduh saat Natan menginjak kakinya di bawah meja. “Itu sakit, Bodoh!”
Natan menumpukan dagunya di meja. “Memangnya orang macam apa yang bisa tidak... memegang ponsel? Satu minggu penuh?”
“Persis.” Indra menjentikkan garpunya ke kepala Natan yang mengaduh. “Gebetanmu memang beda.”
“Bukan gebetan.”
“Oh, bukan?”
“Belum!” Koreksinya seketika itu juga.
Kedua temannya mendadak terkena serangan batuk panjang anehnya yang terdengar persis seperti tawa dan Natan harus menahan diri agar tidak melepas sepatunya lalu melempar benda itu ke kepala teman-temannya.
“Joke aside,” kata Yogi kemudian setelah tawa mereka reda. “Dia sama sekali tidak mengabarimu?”
Natan menggeleng, lemah.
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
“Setelah mengatakan... itu padamu?”
Natan mengangguk, sekarang makanan favoritnya nampak begitu menjijikkan hingga dia akhirnya berhenti makan. Menyingkirkan piringnya menjauh dengan jijik. Rasa khawatir, penasaran dan juga takut bergumul di dasar perutnya—membuatnya bergidik.
Sedang apa Raditya? Di mana pun dia berada?
“Terkadang sabar pun harus ada alasannya, 'kan?” Indra menandaskan es jeruknya dan bersendawa kecil lalu membisikkan syukur. “Memangnya siapa yang mau terus dan terus menunggu begitu saja tanpa diberitahu kenapa dia harus menunggu?”
“Rasanya membuat frustasi.” Keluh Natan. “Dia melempar bom lalu kabur begitu saja. Maksudnya... Apakah menurutnya aku tidak layak mendapat penjelasan?”
Dia mendongak, menatap kedua sahabatnya lekat-lekat dan bergiliran. Namun keduanya tidak memberikan jawaban sama sekali.
“Kata Kak Jun?”
Natan mengendikkan bahu. Mengangkat kedua lengannya membentuk tanda kutip di udara, “'Dia memang biasa begitu. Dia pasti pulang, Natan.'” Dia menurunkan tangannya. “Tidak membantu.” Dia kembali menumpukan dagunya di meja dengan suara duk! keras.
“Tadi aku ke Sekretariat, mengurus jadwalku yang tabrakan dan aku mendengar keluhan mereka tentang Raditya.” Indra menambahkan kemudian dan kedua temannya menoleh, mendengarkan dengan seksama.
“Dia sudah terlalu sering melewatan kelas. Bolos tanpa penjelasan. Tugas-tugas terbengkalai dan sebagainya. Dia bahkan belum lulus kelas Pronunciation, Sob.”
“Itu, 'kan, mata kuliah semester 1?!” Yogi menatapnya, kaget.
“Persis.” Indra menjentikkan jarinya. “Aku bertemu Miss Venti di depan kantin dan memancingnya bercerita tentang Raditya setelah mendengar itu. Nampaknya 1 fakultas sudah benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan pada Raditya.”
Keduanya kemudian menatap Natan.
“Aku tidak bermaksud kasar,” Yogi berkata kemudian. “Tapi apakah kau... siap dengan hal-hal semacam itu jika kedepannya... kalian bersama? Hilang berhari-hari, dicekal fakultas—entahlah, dia terdengar... tidak sehat untukmu.”
“Jika kau paham maksudku.” Tambahnya kemudian dan Natan mengangguk lalu menatap keduanya tidak berdaya.
Raditya yang tampan tak terperi.
Raditya yang tenang, memesona dan begitu menakjubkan—nampak luwes bahkan saat diam. Tubuh langsingnya yang indah, tawanya yang menyejukkan, kerlip matanya saat dia tertawa.
Dia begitu memesona hingga Natan takut dia sedang bermimpi dan saat dia membuka mata, Raditya tidak pernah ada di sisinya sama sekali.
Namun dia juga begitu misterius. Penuh rahasia. Bermasalah. Tidak... benar. Membingungkan.
Seperti kepingan puzzle yang berusaha Natan temukan pasangannya namun tak kunjung jua terpasang dengan tepat.
Seperti rubik yang harus diselesaikan dan Natan tidak tahu bagaimana caranya.
Seperti pusaran angin yang menjebaknya dan Natan tidak ingin melepaskan diri dari jeratnya—dia ingin tetap di sana, dalam pelukan suara bising. Mencoba mencari pusat angin dan menguraikannya.
Apakah itu akan membuat Natan senaif Ariadne yang membantu Odysseus keluar dari labirin Daedalus dengan benang rahasianya hanya untuk mendapati dirinya dibuang pahlawan yang dicintainya?
Akankah Dionysus menemukannya dalam nestapa itu lalu menjadikannya abadi seperti dia menjadikan Ariadne sebagai istri abadinya saat Odysseus menyampakkannya?
Atau itu hanya terjadi satu kali dalam satu peradaban?
Namun, itu pula yang membuat Raditya secara keseluruhan begitu menarik dan mendebarkan.
Dan Natan sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada perasaan yang sedang merekah di hatinya ini. Begitu subur hingga dia merasa tercekik setiap sulur yang semakin kuat dan semakin tebal.
Haruskah dia memercayai Raditya sebuta dia memercayai Tuhan? Tanpa alasan dan mutlak?
Atau apakah ini saatnya dia melibatkan akal sehat dan memilih melangkah menjauhi masalah?
“Aku,” Natan menghela napas dalam-dalam. “Tidak tahu. Sama sekali tidak.” Dia menatap kedua temannya.
“Tidak apa-apa,” Indra meremas bahunya. “Tidak segala hal perlu jawaban saat ini juga. Mari kita berpikir positif saja dan berhenti memikirkan hal yang bukan porsi kita.
“Dan hal apa yang dilakukan Raditya di waktu senggangnya, sungguh menurutku bukan porsi kita sama sekali.” Indra menatap Natan dalam-dalam, memberikannya semacam ultimantum sunyi yang membuat Natan mendesah.
“Dan jelas bukan porsimu juga, Natan.”
Ya, pikir Natan pahit. Siapa yang tidak tahu itu?
*