Benci untuk Mencinta VKook Oneshot
*
“Pak Taehyung, berikut materi untuk sesi berikutnya.”
Taehyung, pemuda awal tiga puluhan di balik laptop menggangguk seraya menerima berkas yang diserahkan padanya sementara di sekitarnya para bawahannya sedang menikmati sajian coffee break dari acara mereka. Dia mengenakan setelan jas yang rapi dan cerdas, dengan dasi yang mencekik serta name tag mengilat di bagian kiri pakaiannya.
Dia duduk di mimbar, di balik laptopnya yang menyala penuh dengan hitungan yang rumit. Mempersiapkan materi untuk sesi berikutnya dari rapat tahunan perusahaan mereka sebelum menyambut tahun baru setelah tutup buku seminggu lalu.
Ballroom hotel yang mereka gunakan begitu megah dengan langit-langit tinggi, layar proyektor besar memenuhi bagian depan panggung yang pada sesi pertama tadi digunakan Taehyung untuk mempresentasikan rencana bisnis perusahaannya kedepan beserta rencangan profit dan modal. Meja-meja di atur dengan setting classroom dengan gelas-gelas air, secawan permen serta buku-buku agenda peserta rapat.
Makanan dibawa masuk dalam wadah-wadah perak raksasa, asapnya mengepul dan menghembuskan aroma lezat daging panggang saus tiram ke seluruh ruangan dan sejenak membuat perut Taehyung yang kosong mengerang iri.
Dia menikmati pekerjaannya sebagai financial controller, dia suka menghitung uang dan dia suka menikmati bagiannya dalam perusahaan sebagai pemegang anggaran belanja serta mengatur alur keluar-masuk uang. Dia suka merasa penting, dia suka dipentingkan.
Sekretarisnya membawakan secangkir kopi dengan beberapa panganan di atas nampan sementara Taehyung mengedit presentasinya untuk sesi kedua. Dia mengecek semua link-nya siap, semua hitungannya sempurna sehingga tidak ada kesalahan teknis saat dia menjelaskan karena dia benci sekali disela dengan kesalahan teknis saat sedang berbicara.
“Pak, jangan lupa istirahat.” Pesan Jimin, sekretarisnya dengan pandangan tidak setuju. “Bapak belum sarapan tadi pagi.” Dia menatap laptop atasannya dengan jengkel dan Taehyung terkekeh serak, menyeka kacamata bergagang kurus di hidungnya.
Taehyung tersenyum, tanpa memalingkan wajah dari laptopnya. “Trims, Jimin.” Katanya kalem. “Kau makanlah sesuatu juga.” Dan hanya agar sekretarisnya yang sudah dianggapnya sebagai saudara tenang, dia meraih kue di atas piring yang diberikan Jimin dan menjejalkannya ke mulutnya.
Tidak benar-benar merasakan makanan yang dikunyahnya dengan terburu-buru, lalu menelannya. Memaksa makanan itu memasuki lambungnya yang berisik dengan meneguk air mineral kemasan di sisi meja. Jimin mendesah dan kembali berlalu ke meja makan untuk mengambil makanan dan mempertimbangkan untuk membawakan Taehyung makanan karena jika tidak begitu, Taehyung tidak akan makan.
Taehyung sedang sibuk menghitung dengan Excel saat terdengar suara gemerisik check sound dari penyanyi akustik yang dipesan perusahaannya untuk menghibur saat istirahat. Dengung suaranya membuat Taehyung menoleh sejenak, melihat pemuda seusia dirinya sedang membungkuk ke atas tas gitarnya membelakanginya.
Dia kembali ke layar, mengabaikan mereka.
Di sela-sela kesibukannya menghitung dan menguraikan rumus Excel, terdengar suara-suara statis dari pengeras suara saat penyanyi mereka mengecek suara gitarnya. Taehyung mendengarnya berdeham ke pengeras suara yang lembut dengan peredam napas tebal.
Suaranya terdengar sekental madu—manis dan lembut.
“Selamat siang, Bapak dan Ibu.” Katanya dengan keramahan yang menetes dan Taehyung tersenyum kecil—suaranya begitu menenangkan, dalam dan menyejukkan. Dia sudah menyukainya bahkan sebelum pemuda itu mulai menyanyi.
“Saya mungkin tidak faham tentang profit dan perencanaan keuangan,” lanjut pemuda itu dan beberapa orang terkekeh, dia meringis. Taehyung menyunggingkan senyuman separo seraya mengecek perhitungannya.
Selera humornya sehat, catat Taehyung dalam hatinya. Dia akan meminta nomor manajer pemuda itu nanti untuk acara-acara mereka selanjutnya.
“Tapi saya di sini bertanggung jawab untuk sesi hiburan.” Taehyung bisa mendengar senyuman lebar di kata-katanya dan terdengar gelombang suara kekehan hangat lain menyambutnya.
“Maka, semoga Anda semua menikmati hiburan saya. Dan selamat makan, saya yakin Anda butuh banyak tenaga untuk mengikuti sisa rapat ini.”
Dia berdeham berat, lalu mulai memetik gitar dengan piawai.
Suara gitarnya menggema dengan lembut, memantul ke setiap sudut ruangan dan membelai Taehyung yang sedang bekerja. Suara obrolan yang riuh-rendah, suara alat makan yang beradu, suara sibuknya staf Banquet mempersiapkan menu makanan mereka dan mengisi ulang menu-menu yang habis, suara gelas-gelas dibereskan dengan terampil.
Semuanya terasa membentuk harmoni yang menyejukkan. Taehyung merasakan otot lehernya mulai mengendur seraya suara dentingan gintar cerdas penyanyi mereka mulai mengeras dan kemudian terdengar suara helaan napas:
“Oh, betapa 'ku saat ini, 'ku benci untuk mencinta. Mencintaimu...“
Taehyung seketika berhenti bekerja.
Tangannya berhenti mengetik di atas laptopnya; otaknya yang malang langsung berhenti bekerja sama sekali saat kenangan masa lalu dilsiramkan kepadanya seperti seember air es yang mengguyur punggungnya dengan perasaan deja-vu yang kuat.
“Oh, betapa 'ku saat ini, 'ku cinta untuk membenci. Membencimu...“
Dia mengenali suara ini.
Suara yang pernah membelainya dengan lembut, suara yang terus membuatnya merindu, suara yang selalu didengarkannya melalui ponselnya setiap malam tiap kali dia lelah dan ingin sedikit suntikan semangat sebelum terlelap. Suara yang selalu membuatnya tersenyum dan selalu merindu.
Suara yang bahkan akan dikenalinya di Neraka sekali pun.
“Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Kenangan masa SMA-nya ditayangkan di kepalanya seketika itu juga. Hari yang panas dan Taehyung yang berdesak-desakan di lapangan sekolah mereka yang berdebu, mendongak ke panggung raksasa dengan sound system besar yang menggelegar dan membuat jantungnya berdentum keras sesuai dengan suara bass yang digunakan band lokal mereka.
Dan di sana berdiri kekasihnya, Jungkook, sedang memegang pengeras suara dan memejamkan mata. Menghayati lagu yang sedang dinyanyikannya dengan begitu dalam dan menyenangkan. Wajahnya mengendur dalam relaksasi saat dia menyanyikan tiap bait lagu yang dipilihnya diiringi pemain gitar di sisinya. Seluruh sekolah bernyanyi bersamanya—sungguh, siapa yang tidak?
Jungkook adalah kesayangan seluruh sekolah, kesayangan Taehyung.
Suara emasnya akan dikenali semua orang, di mana saja. Dia masih menggunakan seragam putih-abunya yang berantakan dengan dasi longgar dan salah satu sisi kemejanya berkibar lepas dari ikatan ketat celana dan ikat pinggangnya saat ditarik naik ke panggung, terpaksa melepaskan genggaman tangan Taehyung yang tertawa dan melambai padanya.
“Sana, nyanyikan sesuatu untukku.” Katanya lalu bersedekap saat Jungkook diseret naik dan tersenyum padanya—indah sekali, manis sekali hati Taehyung terasa begitu hangat hanya dengan melihatnya tersenyum.
Jungkook adalah kesayangan semua orang. Dan kesayangan Taehyung.
“Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Mata Jungkook di atas panggung terbuka dan langsung bertemu pandang dengan Taehyung yang sedang berdiri di antara semua orang yang mengelu-elukan Jungkook, tersenyum padanya dengan begitu bangga bahwa kekasihnya adalah kesayangan semua orang.
Kenangan SMA itu terasa seperti album rusak yang rapuh. Taehyung harus membalik halamannya yang berjamur dengan penuh perasaan agar tiap kenangan di dalamnya tidak menguap lalu lenyap sebelum Taehyung sempat mendecapnya.
Gambarnya rusak, putih-abu dan mulai mengeriting di bagian sisi-sisinya; memudar oleh waktu dan kenangan-kenangan baru yang disisipkan Taehyung di dalamnya. Tidak bisa disentuh oleh tangannya yang terasa asam dan kasar. Terlalu rapuh untuk benar-benar diselami.
Maka Taehyung saat ini terenyak di kursinya—terlalu kaget untuk memproses segalanya. Kenangan itu disuntikkan ke pembuluh darahnya seperti candu, membuat aliran darahnya meletup-letup oleh rasa bahagia. Darahnya mendidih oleh rasa cinta, rindu dan keinginan yang menggebu-gebu.
“Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Benarkah...? Benarkah?
Taehyung mengerjap, menikmati petikan gitar yang cerdas. Suara hembusan napas yang gemeresak lembut di pengeras suara. Dia tidak mungkin tidak mengenali suara ini. Suara yang didekapnya ke jiwanya begitu erat dan dalam, disimpannya begitu erat di dalam sanubarinya.
“Mari bertemu lagi sepuluh tahun lagi, semoga perasaanmu padaku belum berubah.”
Taehyung ingat kelingking yang disodorkan ke arahnya. Kelingking kurus dengan kuku bulat yang menggemaskan. Dia selalu mengenali jemari itu—betapa hangat dan benarnya tangan itu di dalam tangannya. Betapa hangat dan riangnya senyuman yang selalu mengikuti genggaman tangan itu.
Bagian pinggir kenangan itu terasa kabur, seperti secarik foto lama yang berusaha disimpan dengan baik namun tetap kalah oleh suhu dan waktu. Taehyung harus berkonsentrasi penuh berusaha mereka kembali kenangan itu di kepalanya.
Bagaimana mereka berdua berdiri bersebelahan di lapangan upacara, terkekeh-kekeh menertawai kepala sekolah mereka dengan menyembunyikan wajah di balik topi mereka. Bolos bersama dengan makan di kantin belakang. Tidak mengikuti acara sekolah dan bahkan berangkat sekolah hanyauntuk berdiri di depan gerbang sebelum bertukar pandangan dan memilih untuk berbalik lalu kabur.
Bermain-main dengan risiko masa muda dengan adrenalin membuncah saat mereka nongkrong di pusat perbelanjaan. Atau pergi ke tempat kesukaan mereka, di belakang sekolah di mana mereka biasanya bermain game bersama.
Serta bertukar ciuman.
Taehyung menyambut kelingking itu dan mengaitkannya dengan erat. “Mari bertemu sepuluh tahun lagi, dan kubuktikan padamu perasaanku masih sama.” Sahutnya tegas kala itu, menatap langsung ke mata Jungkook yang berbinar.
Mata itu selalu begitu.
Berbinar oleh spirit masa muda yang liar dan penuh kebebasan, keindahan yang hanya bisa disaingin dewa Yunani. Wajah Jungkook yang indah, senyumannya, bibirnya, seluruh diri Jungkook yang terasa begitu dekat, hangat dan akrab.
“Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Sekarang, dia di sana.
Duduk di depan panggung dengan gitar dan pengeras suara—sama indahnya, sama hangatnya namun lebih dewasa. Gurat usia di permukaan wajahnya, suaranya yang semakin berat dan pembawaannya yang bukan lagi bocah SMA urakan yang gemar melompati pagar bersama Taehyung.
Jungkook sekarang adalah pemuda dewasa yang bertanggung jawab.
Jauh lebih indah dari Jungkook yang diingatnya di album kenangan kabur yang kotor dan usang. Jungkook adalah satu-satunya hal yang bersinar dari album itu—memenuhi hidup Taehyung dengan cahaya yang membantunya pulang. Membimbingnya kembali tiap kali dia tersesat.
Dan lagu itu.
Lagu terakhir yang dinyanyikan Jungkook untuknya sebelum mereka berpisah di bangku SMA, berpisah domisili dan universitas serta tidak lagi saling kontak.
Taehyung menuruti instingnya dengan berdiri dari kursinya dengan suara derit keras yang mengundang perhatian semua orang yang seketika menatapnya, berhenti melakukan kegiatan mereka. Ruangan langsung hening merespon suara derit yang mengundang perhatian itu.
Taehyung menoleh ke panggung dan bertemu mata dengan penyanyi mereka yang tersenyum, matanya berbinar.
Kilau itu.
Senyuman itu.
Tatapan itu.
“Jungkook.” Bisiknya gemetar seolah membisikkan nama Tuhan—ketakziman dan pemujaan yang disuntikkan Taehyung pada nama itu membuat dirinya sendiri merinding. Suaranya menggema ke seluruh ruangan, memantul kembali ke telinganya.
Jungkook.
“Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Senyuman lolos dari bibir mereka berdua saat lagu itu menarik keduanya kembali ke masa-masa bebas mereka. Berlari dari kejaran guru BK saat mereka terkena sidak rambut panjang, berboncengan di motor Taehyung pergi dari sekolah, berbagi makan siang saat salah satu dari mereka lupa membawa uang jajan, mengemil makanan ringan di dalam kelas saat guru mereka berbalik menulis di papan.
Dan cinta mereka.
Cinta manis yang terbit dalam tiap pandangan, dalam tiap sentuhan, dalam tiap kenangan.
Cinta manis yang tidak pernah tenggelam bahkan setelah sepuluh tahun mereka tidak saling bertemu. Alih-alih, cinta itu semakin liar dan semakin hidup karena kerinduan yang tidak bertepi. Hati Taehyung terasa sesak saat Jungkook tersenyum padanya.
Senyuman yang selalu membuatnya jauh lebih hidup.
Dia ingin menggenggam pemuda itu dalam kedua tangannya—memeluknya, memastikan dia baik-baik saja dan menciumnya. Akan mencintainya dengan begitu hebat hingga Jungkook tidak akan pernah merasakan hal yang sama dari orang lain karena hanya Taehyung yang mampu melakukannya.
“Dan aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau Yang 'ku tahu pasti, 'ku benci 'tuk mencintaimu...“
Lalu lagu berhenti setelah lantunan musik mendayu-dayu yang panjang dan pemuda itu, Jungkook, berdeham serak dan memutar kursinya perlahan hingga menghadap Taehyung yang berdiri di balik meja dengan pakaian rapi yang licin; nampak luar biasa bugar dalam usia kepala tiganya. Kemejanya lincin, kancingnya sempurna, celanannya ketat.
Dia nampak sempurna.
Sangat berbanding terbalik dengan Jungkook yang hanya mengenakan jins dan polo shirt hitam, rambutnya disisir naik memamerkan keningnya yang indah dan dia kembali tersenyum. Tangannya ditumpangkan di atas lututnya dan satu kakinya terjulur lurus.
“Halo, Taehyung. Lama sekali tidak bertemu, ya?”
Ada begitu banyak hal yang sangat ingin dikatakan Taehyung; apa kabar Jungkook? Bagaimana kuliahnya? Dia bekerja di mana sekarang? Bagaimana bisa dia ada di sini? Kenapa dia tidak menghubungi Taehyung? Apa kabar kedua orangtuanya? Di mana rumah Jungkook sekarang setelah pergi dari Bandung?
Namun hal yang terpenting dari segalanya adalah:
Taehyung meluncur ke arahnya dalam lima langkah besar dan panjang. Mengabaikan semua orang yang berada di sana termasuk atasannya, menaiki panggung lalu merengkuh Jungkook ke dalam pelukannya. Gitar di tangan Jungkook terjatuh dengan suara gedebuk pelan menghantam lantai, siku Taehyung menyenggol pengeras suara yang seketika berdenging oleh gerakan itu.
Sejenak seluruh ruangan dikuasai suara statis keras yang memekakkan telinga sebelum pihak Engineering mengatasinya dengan sigap.
Seluruh saraf Taehyung seketika menjeritkan kelegaan yang membuatnya pening. Seluruh tubuhnya terasa meleleh seperti sebongkah mentega yang dipanaskan, meleleh dalam pelukan Jungkook yang hangat. Meleleh dalam kenangan cinta masa SMA mereka yang kekanakan namun begitu kuat oleh warna-warna yang menyentak; seperti lukisan abstrak.
Yang arti dan maknanya hanya difahami oleh pelukisnya dan segelintir orang. Dan cinta mereka tentu hanya difahami oleh Taehyung dan Jungkook sendiri.
Jungkook dalam pelukannya; utuh dan sehat.
Dia mengeratkan pelukannya sementara Jungkook di pelukannya tertawa serak. Tangannya terangkat, memeluk Taehyung sama eratnya dan sama rindunya. Aroma parfum Jungkook bahkan masih sama seperti dulu—maskulin, manis dan menyesakkan.
“Aku merindukanmu.” Bisiknya bergetar, seluruh rindu yang ditahannya sekian lama mendobrak seluruh pengendalian dirinya bahkan menyapu habis akal sehatnya yang tidak seberapa.
Dia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Jungkook dalam-dalam, memenuhi paru-parunya yang mengerut mendesaknya untuk terus bernapas, terus menyuntikkan aroma itu ke dalam tubuhnya yang mengerut oleh rindu.
“Oh, aku sungguh merindukanmu.”
Jungkook di pelukannya tertawa serak, membalas pelukannya dan memejamkan mata; menghirup aroma tubuh Taehyung yang membuatnya mendesah panjang.
“Aku juga merindukanmu.”
*