Apollo #63

*

Catatan: Mohon untuk kebijakan pembaca dalam menyikapi narasi ini. Terima kasih.

*

Jantung Natan menonjok tenggorokannya, membuatnya mual saat dia menutup pintu kosannya dan berbalik ke arah gerbang—menemukan Raditya sudah duduk di atas motornya. Helmnya diletakkan di atas tangki, ada tas besar di punggungnya yang menggelembung terisi helm dan dia sedang mendongak ke arah kamar Natan.

Mereka bertemu pandang.

I like you so much my whole body hurts missing you the whole week.

Natan menelan ludahnya, kenapa dia merasa begitu gugup? Ini hanya Raditya, bukankah dia biasa begini?

Apa yang harus ditakutkan?

Raditya mengulaskan senyuman dan nampak segar dengan sebotol minuman di tangannya. Saat Natan menuruni tangga dua-dua, mengancingkan jaketnya rapat-rapat, Raditya sedang meneguk isinya dan bergidik karenanya.

Natan tiba di sisinya; mencium aroma segar dari tubuh Raditya dan secercah aroma parfum kabin pesawat.

Jadi dia memang baru tiba dari bandara. Tapi dari mana? Terbang ke mana dia satu minggu kemarin?

“Hei.” Sapa Raditya serak dan Natan merinding mendengar betapa berat dan menakjubkannya suara Raditya.

Dia lalu menyelipkan botol minumnya ke belakang plat nomor motornya dan melepaskan tasnya. Menarik zipper-nya hingga membuka lalu mengeluarkan helm untuk Natan.

“Kau sudah mengenakan pakaian yang hangat, 'kan?” Tanyanya lembut, mengulurkan helm di tangannya. “Kita jalan-jalan.”

Natan mengangguk, merasa kikuk dan tegang. Menyesali apa yang dikatakannya di obrolan mereka tadi. Kenapa dia tidak diam saja, sih? Bersikap seperti yang dianjurkan Yogi—jika Raditya membalas pesannya, maka Natan membalas. Jika tidak, maka Natan diam.

Namun dia malah bersikap impulsif dengan mengirimkan begitu banyak pesan yang membuat harga dirinya jatuh terseret ke tanah. Natan sungguh tidak tahu apa yang sedang merasuki kepala sialannya hingga dia berpikir melakukan itu adalah hal yang oke.

Dan untuk membuat suasana semakin kacau, Raditya menanggapinya.

“Naiklah.” Raditya menatapnya. Memasukkan botol minumnya yang sekilas tercium seperti jus apel yang berwarna keemasan. “Kita akan pergi lumayan jauh, kuharap kau siap?”

Natan mendesah, mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya dan mengenakan helmnya yang tercium harum seperti campuran keringat dan parfum Raditya—mengungkungnya selama perjalanan menuju tempat yang tidak diketahuinya.

Mereka membelah jalanan malam Yogyakarta yang berkelip semakin ramai. Melintasi Malioboro yang ramai dan macet seperti biasa namun membelok ke Jalan Mataram yang relatif lebih lancar, lalu terus lurus ke kawasan yang belum pernah dijamah Natan sama sekali.

Dia duduk di bagian belakang Ninja Raditya yang berderum seperti hewan liar. Tangannya diletakkan di sisi tubuhnya dengan kikuk—tidak yakin harus meletakkannya di mana sementara wajahnya diterpa angin malam dan debu jalanan. Di depan, Raditya membungkuk mengemudi dengan tenang.

Ini pertama kalinya Natan menaiki sepeda motor dan dia menyukai bagaimana keras suara yang didengarnya—suara lalu-lintas dan jalanan, angin yang menerpa wajahnya dan begitu banyak aroma. Terkadang menyenangkan saat mereka melewati warung tenda atau restoran, namun terkadang juga tidak menyenangkan. Dia suka begitu banyak aroma dan angin yang dirasakannya, tidak seperti mobil yang membatasi interaksi indranya pada sekitar.

Dan karena bukan Natan yang mengemudi, jadi dia bisa puas memandangi kiri dan kanannya. Menikmati perjalanan baru yang panjang dan jauh dengan punggung tegap Raditya di hadapannya, membungkuk mengendarai motornya membelah jalanan yang remang-remang. Dingin, namun Natan tidak mempermasalahkannya.

Mereka tidak banyak bicara. Lebih karena hal-hal yang mereka akan bicarakan mungkin lebih baik dilakukan saat mereka duduk bersama. Tidak saat berkendara dan harus berteriak pada satu sama lain mengalahkan suara lalu-lintas yang padat.

Natan mendongak, langit malam itu cerah. Nyaris biru tua dengan bintang menghampar di seluruh penjuru seperti percikan warna. Berkelip-kelip, mengedip padanya dan dia merasa kebas oleh perasaan aneh yang tidak dipahaminya.

Semenjak mengenal Raditya hari itu, dia merasa hidupnya jungkir-balik. Bagaimana Raditya dan pesonannya telah membuat Natan rentan. Dia tersenyum, bersikap lembut dan ceria mengimbangi Natan sendiri.

“Kau mengingatkanku pada Ayahku.” Begitu Raditya selalu memujinya.

Lalu apakah sekarang Natan siap dengan segala tanjakan serta turunan yang mungkin dilaluinya jika dia bersama Raditya? Menghilang berhari-hari tanpa siapa pun mengetahui di mana dia, apa yang dilakukannya, berapa lama dia akan menghilang.....?

Apakah Natan cukup berani untuk meletakkan hatinya di tangan pemuda misterius ini?

Dia tentu tidak ingin bernasib seperti Ariadne.

Perlahan, kerlip kota mulai mengabur dan lenyap. Mereka menjauh, meninggalkan perkotaan yang hiruk-pikuk. Suasana jadi semakin sepi dan khusyuk dengan suara binatang malam yang nyaring. Satu-dua motor melewati mereka namun sisanya, mereka sendiri. Membelah jalanan yang gelap dan panjang, dengan penerangan jalan yang temaram.

Mungkin romantis, mungkin juga mengerikan.

Mereka melintasi jalanan yang lebih sepi dengan persawahan yang mengapit jalanan itu. Di tengah malam, sulit bagi Natan untuk mengenali jalan itu namun dia berhasil melakukannya saat motor berbelok ke kanan, jalan kecil yang akan selalu dikenalinya.

Dia belum terlalu sering datang kemari dan tentu juga tidak pada tengah malam.

“Kita ke Ganjuran?” Tanya Natan mengerjap, kebingungan karena baru menyadari jalanan yang tadi mereka lewati. “Aku belum pernah lewat jalan tadi?”

“Satu-satunya tempat yang membuatku tenang.” Raditya menjawab dengan suara teredam helm full-face dan derum motornya.

“Kau pasti ke Ganjuran lewat Ring Road, ya?” Tambahnya, terdengar geli dan Natan mau tidak mau, tersenyum bersamanya. “Padahal jika kau lewat Jalan Mataram dan lurus terus, melewati Prawirotaman; kau sudah tiba di Jalan Parangtritis, lebih cepat daripada memutar lewat Janti dan Ring Road. Jalan pintas.” Dia menoleh sedikit, membiarkan Natan melihat matanya yang berkilau oleh senyumannya.

Mudah sekali bersama Raditya saat dia tidak bersikap bajingan dengan menghilang begitu saja. Pembawaannya menyenangkan, ceria, banyak bicara dan mengayomi. Tidak heran jika dia sangat terkenal dikalangan mahasiswa Sastra Inggris dengan pembawaan ini.

Namun entah kenapa sebelum hari itu, Natan tidak pernah bertemu dengannya. Apakah dia baru saja cuti? Atau menghilang? Bagaimana dia bisa menjadi ketua HMPS dengan track record begitu?

Ada banyak hal yang ingin ditanyakan Natan dan dia tahu, malam inilah saatnya.

Mereka membelok ke halaman parkir Ganjuran dan Natan untuk pertama kalinya tiba di tempat itu dalam suasana heningnya malam.

Menakjubkan bagaimana tempat itu berubah menjadi begitu magis dan menenangkan. Lampu-lampu keemasan yang menerangi tempat itu dengan temaram tidak membuatnya menakutkan sama sekali. Mengundang hati yang lelah untuk bernaung di bawahnya, mengucap syukur dan melepas kelelahan satu hari.

Mungkin karena dia tahu, di sana ada Tuhan. Seperti di semua tempat lain, saat Tuhan berdebar di hatinya—setiap saat bersamanya.

Natan berdiri di sisi motor saat Raditya mengunci motornya dan meletakkan helm mereka di atas motornya sebelum menyugar rambutnya yang keemasan, meluruh jatuh membingkai wajah dan keningnya yang rupawan.

“Ayo.” Ajaknya, menyimpan kunci motornya di saku dan tersenyum. “Kau belum pernah ke sini saat malam, 'kan?”

Natan menyejajari langkahnya. “Belum.” Sahutnya, merapatkan jaketnya karena tiupan udara yang dingin.

“Yah, selamat datang di Ganjuran pada malam hari.” Raditya tersenyum lebar.

Menakjubkan bagaimana suasana teduh dan tenang tempat itu membuat obrolan mereka menjadi intim dan akrab. Menyentuh bagian-bagian yang selama ini segan untuk ditanyakan Natan.

“Tapi aku suka tempat ini. Menenangkan, bukan? Aku suka menghabiskan malam di sini sendirian. Mengistirahatkan diri setelah....” Dia sejenak nampak kesulitan memilih kata dan Natan sangat menyadari itu, sebelum mengatakan, “Yah. Beberapa hal.” Tandasnya, tersenyum lebar.

“Tempat ini begitu menenangkan untuk begitu banyak orang—aku tidak jarang berkenalan dengan umat-umat lain yang datang kemari untuk healing dan beryoga dalam suasana magis ini.”

Penerangan lumayan terang dengan lampu-lampu LED berjejer di wilayah tempat berdoa yang menghadap langsung ke candi. Pepohonan pinus yang menjulang berdesir karena udara malam, bergemerisik seperti bisik-bisik malam yang menenangkan.

“Aku juga suka kemari.” Sahut Natan, menatap pucuk-pucuk pinus yang menari bersama angin malam, disinari cahaya lampu-lampu yang terang. “Menenangkan.” Dia setuju. “Membuatmu... merasa tidak ada yang tidak bisa dilakukan setelah ini.”

“Benar.” Raditya setuju. “Aku tidak tahu aku harus mengajakmu ke mana dan tempat mana yang nyaman dikunjungi pada malam hari. Yang terpikirkan olehku hanya tempat ini, tempat favoritku. Dan ternyata adalah tempat favoritmu juga.”

“Favorit... kita?” Coba Natan dan mengerlingnya, untuk mengecek reaksinya dan Raditya tertawa serak. Suaranya begitu menenangkan—dia begitu sering lenyap tanpa kabar hingga Natan takut berharap padanya.

Takut berbahagia karena dia mungkin akan bersedih keesokan harinya karena Raditya kembali menghilang seolah tidak pernah hidup di dunia yang sama dengan Natan.

Mereka berpandangan. “Favorit kita.” Raditya mengangguk setuju.

Tidak ada suara keras, semua orang berbicara dengan suara lembut yang menenangkan agar tidak menganggu kekhusyukan umat yang sedang berdoa. Natan merogoh waist-bag-nya, mengeluarkan Rosario merah yang selalu disimpannya di kantung kecil bagian dalam.

Keheningan, keteduhan dan ketenangan Ganjuran selalu membuat Natan rileks. Dia suka datang ke sini ketika gundah dan butuh jawaban, menenangkan diri. Tapi dia belum pernah kemari dalam suasana malam yang semakin teduh dan semakin menenangkan. Kenapa tidak pernah terpikirkan olehnya?

“Silakan berdoa. Ambil waktu sebanyak mungkin.” Raditya tersenyum. “Aku akan menunggumu di sini.” Dia berdiri di depan pendopo Ganjuran, terpisahkan halaman yang luas. Jauh di luar tempat ibadah yang khusyuk.

Dia mengeluarkan botol minumnya tadi dan duduk di salah satu anak tangga, siap menunggu seperti anak baik. Kedua sikunya ditumpukan di lututnya yang menekuk dan kilau di matanya tidak pernah lenyap.

“Kau tidak berdoa bersamaku?” Tanya Natan.

Raditya menggeleng. “Tidak. Ini giliranmu.” Dia tersenyum. “Aku hanya mengantarmu.” Dia diam sejenak lalu menambahkan, “Setelahnya, mari kita mengobrol.”

Maka Natan menatapnya, tepat di mata. Mereka berdiri di sana, dalam suasana hening Ganjuran—terpisahkan beberapa meter dengan mata bertautan.

Dan Natan merasakan desiran hangat di dadanya, merasakan desiran hangat di seluruh sistemnya saat dia menyadari bahwa dia mungkin sedang jatuh sangat dalam pada tatapan teduh Raditya.

Mungkin belum tiba pada titik di mana dia siap terjun ke sungai Styx tanpa berpegangan sama sekali, membiarkan seluruh otot dan belulang fananya meleleh, lebur dalam arus Styx yang melumpuhkan demi Raditya.

Tapi dia cukup yakin dia akan tiba di titik itu suatu hari nanti. Namun, saat ini pertanyaannya adalah:

Akankah Raditya melakukan hal yang sama?

*