Apollo #35
Indra dan Yogi bertukar pandangan dengan cemas sementara di hadapan mereka, Natan mengigit donatnya dalam dua gigitan raksasa dengan wajah ditekuk.
Sejak perjalanan dari kampus menuju Ambarrukmo Plaza, Natan tidak banyak bicara. Dia mengemudi dalam diam, sama sekali tidak menanggapi segala usaha teman-temannya untuk mengalihkan pikirannya dari Raditya yang hingga saat ini belum membalas pesannya.
Tidak hanya Natan, baik Indra dan Yogi pun dibuat bingung oleh kebiasaan aneh ini. Raditya seharusnya punya banyak orang yang mencarinya di Whatsapp tapi bagaimana bisa dia tidak daring seharian?
Dan bahkan tidak ada di kampus seharian ini.
Natan termangu, menatap ke luar jendela—ke Grand Ambarrukmo yang menjulang di seberang jalan dari jendela raksasa J.Co yang mereka datangi.
Jalan Adisucipto seramai biasanya; suara klakson pengendara, kesibukan tamu-tamu Ambarrukmo Group yang lalu-lalang di jembatan penyeberangan baru yang melintang dari Grand Ambarrukmo menuju Ambarrukmo Plaza, pusat perbelanjaan paling diminati di Yogyakarta yang berdiri bersebelahan dengan salah satu dari tiga hotel tertua di Indonesia bersama Hotel Indonesia dan Grand Bali Beach, Royal Ambarrukmo.
“Tan?”
“Hm?”
Yogi melirik Indra yang sedang menjejalkan donat glaze ke dalam mulutnya dan mendesah panjang. “Kau masih memikirkan Kak R?”
Natan mengerjap lalu tertawa kering, “Tidak! Enak saja.” Kekehnya dan Indra meringis, kepalsuan Natan terdengar begitu kental dan menyakitkan.
“Memangnya...” Yogi melirik Indra yang mengangguk menyemangati. “Kau sungguh suka padanya?”
Natan menoleh, nampak kaget. “Hah?” Beonya dengan bodoh. “Suka siapa?”
Yogi mengendikkan bahunya. “Ya, Kak R?” Dia kemudian bergegas menambahkan. “Pikirku kau hanya.... yah, bersenang-senang saja. Berteman akrab seperti yang kaulakukan dengan semua orang. Kau, 'kan, biasa pergi makan bersama orang-orang dan sebagainya. Kau juga sering bersikap seolah kau menyukai mereka tapi kehilangan minat di jam kedua.”
“Nah,” lanjut Yogi, hati-hati. “Apakah Kak R berbeda?”
Natan menatapnya dan sekarang Indra mulai kehilangan selera makannya. Dia meletakkan donat yang baru diraihnya dan mengelap tangannya yang kotor oleh glaze donat di tisu.
Di luar dugaan, Natan mengendikkan bahu. “Entahlah.” Dia kembali menatap jalanan. “Apakah terlalu jelas?” Dia termangu, nampak sangat kecewa.
“Yah, lumayan.” Sahut Indra lalu mengaduh karena Yogi menginjak kakinya dan memelototinya. “Apa??” Desisnya mendelik.
Sebelum Yogi sempat menjawab, Natan terkekeh. “Mungkin itulah kenapa dia tidak menanggapiku, ya? Aku terlalu jelas. Tidak menantang?”
Yogi menatapnya, kaget pada arah pembicaraan Natan dan betapa anehnya sahabatnya itu saat bicara seolah bukan dirinya sendiri.
Ke mana semua percaya diri Natan yang nyaris di level menyebalkan itu? Kenapa bisa-bisanya dia berpikir bahwa disukai atau tidak disukai Raditya akan membawa efek ke hidupnya—ketika itu sama sekali tidak berkontribusi apa pun ke hidupnya.
“Kenapa kau harus peduli dia suka padamu atau tidak?” Balas Indra, terdengar jengkel mewakili Yogi.
Mereka sudah berteman semenjak mahasiswa baru; duduk di kelas yang sama nyaris di seluruh mata kuliah, makan siang bersama, pulang kuliah bersama, bergabung di UKM yang sama, ikut kepanitiaan yang sama. Maka mereka saling mengenal satu sama lain dengan sangat dekat dan akrab.
Melihat Natan untuk pertama kalinya memikirkan apakah orang lain menyukainya atau tidak, adalah hal baru.
Natan tidak pernah peduli hal-hal semacam itu. Dia melakukan segalanya sesukanya, semaunya. Peduli setan orang lain menyukainya atau tidak.
Dia yang memutuskan apakah dia menyukai orang itu atau tidak.
Ketika orang lain tidak menyukainya maka Natan akan melambaikan tangan dan melanjutkan hidup.
“Bukankah ini terlalu dini untukmu memutuskan dia menyukaimu atau tidak?” Tambah Indra, alisnya berkerut dalam. “Kalian baru keluar satu kali, 'kan? Yah, dan jika dia memang tidak menyukaimu,” Indra memicingkan matanya.
“Terus kenapa?” Dia meludahkan kata itu dengan sedikit rasa benci. “Kau bisa melambaikan tangan dan melanjutkan hidupmu. Bukankah Jonathan selalu melakukan itu?”
Natan menatapnya, mengerjap seolah baru saja ditampar.
“Tolong. Jangan kehilangan dirimu sendiri karena mencintai seseorang, Tan.” Indra menandaskan pidatonya dengan kalimat pamungkas itu.
Dan walaupun kata-kata itu mungkin kasar dan pahit, ternyata berimbas baik ke Natan. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri dan menatap teman-temannya, tersenyum brilian.
“Ayo, nonton!” Ajaknya.
Yogi mendesah lega, setidaknya mereka berhasil membuat Natan jauh lebih baik daripada tadi.
Diam-diam, saat Natan mengantri tiket film yang akan mereka tonton (random saja karena mereka tidak merencakanannya), Yogi dan Indra bertukar high-five.
“Persetan Raditya.” Gerutu Indra di bawah napasnya dan yakin hanya Yogi yang bisa mendengarnya. “Bajingan sok misterius dan sok sibuk itu. Jika dia mematahkan hati Natan, maka aku akan mematahkan seluruh tulangnya.”
Yogi tertawa. “Sepakat.” Katanya dan mereka bersalaman erat.
“Apa yang kalian sepakati?” Natan tiba di hadapan mereka dengan tiga tiket dan mata memicing curiga. “Kalian seperti baru saja melakukan perjanjian dengan setan.”
Yogi bersidekap, memutar bola matanya. “Dramatis sekali. Apakah karena kita akan menonton film horor Indonesia?”
Natan nyengir, melambaikan tiketnya. “Because I need a good laugh.“
Mereka mengakhiri hari itu dengan makan di Marugame Udon bersama sebelum akhirnya kembali ke parkiran dan meluncur ke kampus—menurunkan Yogi dan Indra di kampus sebelum Natan pulang ke kosannya.
“Ingat.” Yogi berkata, menunduk di jendela yang terbuka di sisi penumpang menatap Natan yang menyampirkan lengannya di roda kemudi. “Jangan mengecek pesanmu.”
Natan terkekeh. “Siap, Bos.” Katanya tersenyum lebar. “Sampai ketemu besok?”
“Bye, Nanat!” Indra melambai saat Natan memutar mobilnya dan mengklakson lembut pada mereka sebelum meluncur pulang.
“Semoga semuanya baik-baik saja.” Indra menatap mobil Natan yang membelok di depan gerbang.
Yogi baru saja akan menjawab kata-katanya saat seseorang memanggil nama mereka.
“Hai, Yogi, Indra.”
Mereka menoleh bersamaan dan menahan napas dengan suara tajam yang keras—bersyukur Natan sudah pulang sehingga dia tidak akan bertemu manusia ini.
Speaking of the devil himself.
Raditya menghampiri mereka dalam langkah-langkah panjang dengan post-man bag disampirkan di bahu kirinya, nampak segar dalam balutan hoodie dan celana jins.
“Kalian tidak bersama Natan?” Tanyanya saat tiba di sisi mereka, mencari-cari. “Tumben. Bukankah kalian semacam... Trio Kwek-kwek?” Dia tersenyum lebar.
Indra dan Yogi berpandangan.
Sebenarnya apa yang salah dengan Raditya?
*