Apollo #20
Natan menuruni tangga kamarnya ke teras depan kosan, menatap ponselnya dengan jendela obrolan Whatsapp dengan Raditya terbuka dan status pesan terakhirnya setelah mengirim lokasi kosan belum terkirim. Nampaknya pemuda itu sudah kembali menon-aktifkan ponselnya seperti yang dikatakannya.
Alis Natan berkerut seraya menyelempangkan waist-bag di bahunya. Setahunya Raditya pastilah sangat sibuk sebagai ketua HMPS yang harus terus berkoordinasi dengan anak-anak buahnya, melapor ke ketua BEMU dan juga Wakil Rektor 3 sebagai bagian kemhasiswaan. Tapi bagaimana bisa dia tidak mengaktifkan ponselnya sepanjang hari?
Natan mendudukkan diri di teras kosan, di atas salah satu kursi setelah menyingkirkan beberapa helm dari sana lalu menyadari sesuatu. Dia mengerang, dia belum menanyakan Raditya akan menjemputnya mengendarai apa. Karena jika dia menaiki motor, maka tamat sudah.
Natan tidak punya helm.
Dan untuk menjawab kekhawatiran itu, sebuah Kawasaki Ninja berhenti di depan gerbang kosan Natan dengan suara derumnya yang khas dan membuat Natan mendongak dari ponselnya. Pengendara motor itu masih mengenakan helm full face sehingga sulit menebak apakah dia memang Raditya atau bukan, lebih juga karena Natan tidak pernah tahu Raditya mengendarai motor atau mobil apa.
Duh, pikir Natan seraya menyugar rambutnya. Dia tidak punya helm.
Pengendara itu melepas helmya, rambutnya yang ikal setengah gondrong berhamburan saat dia menarik helmnya lepas dan tersenyum lebar. Ternyata memang Raditya. “Hai, Nat. Ayo.”
Natan bergegas berdiri, “Maaf, Kak, tapi aku tidak punya helm?” Dia menghampiri Raditya di depan gerbang dan mendesah.
Raditya nampak sangat menawan dalam balutan celana jins ketat warna hitam, jaket berkendara dari kulit yang dikancing hingga ke leher, sepatu kets Converse tinggi dan rambutnya yang mengikal di rahangnya, membingkai bentuk wajahnya yang hanya bisa ditandingi dewa Yunani.
Raditya menatapnya, sekarang nampak agak terkejut dan Natan mendesah. “Serius?” Tanyanya, dia kebingungan. “Sebenarnya aku punya helm lain di kontrakan tapi aku tidak tahu kau tidak punya helm? Jadi tidak kubawakan, maaf.” Dia lalu melirik parkiran kosan yang ramai dengan motor-motor yang diparkir sejajar dengan helm-helm di atasnya.
“Kau mau pinjam punya temanmu?” Tawar Raditya kemudian, sekarang tersenyum kecil dan membuat Natan sejenak ingin mendesah panjang karena dia nampak indah sekali. “Indra atau Yogi?”
“Rumah Indra di Bantul. Yogi di Godean.” Natan menatap Raditya, sekarang mulai merasa bersalah karena tidak menginformasikan hal sekecil ini sehingga Raditya bisa melakukan sesuatu lebih awal. “Keduanya terlalu jauh, Kak.”
Raditya mengangguk setuju bahwa Bantul dan Godean memang terlalu jauh. “Kau memangnya ke kampus naik apa?” Tanya Raditya kemudian, meletakkan helmnya di atas tangki motornya lalu menumpukan kedua tangannya di atas helm itu.
Natan mengernyit, dia sebenarnya ingin sekali dibonceng di motor Raditya karena sepanjang umurnya dia belum pernah menaiki motor, tapi apa boleh buat. Dia mengingatkan diri untuk membeli helm nanti—jika keluar makan dengan Raditya dengan motor besarnya menjadi sebuah kebiasaan.
Iya, pacaran maksudnya.
“Mobil, Kak.” Lalu dia menambahkan dengan ringisan kecil di wajahnya. “Aku tidak tahu caranya mengendarai motor juga, omong-omong.”
Raditya tertawa kecil. “Oke, mobilmu saja kalau begitu.” Raditya kemudian mengenakan helmnya kembali. “Aku boleh menitipkan motorku di sini, 'kan?” Dari celah kecil untuk mata di helm full face-nya, Natan bisa melihat kilau matanya saat tersenyum.
Raditya memiliki eye smile yang luar biasa, begitu pikir Natan saat dia membantu Raditya memasukkan motornya ke parkiran kosan sebelum lari ke kamarnya di lantai dua untuk mengambil kunci mobilnya.
Matanya berkilau merespon senyumannya, tidak banyak orang yang bisa tersenyum secerah itu. Setidaknya orang-orang yang dikenal Natan selama hidupnya. Dia menyambar kunci mobilnya di atas lemari dan membanting pintu kosannya, menguncinya ganda lalu bergegas turun.
Saat dia turun, Raditya sedang mendongak—menatap ke arah kamarnya lalu tersenyum saat mereka bertemu mata.
Damn, he's so fine. Pikir Natan seraya melompati dua anak tangga sekaligus sebelum mendarat di halaman kosan.
“Aku atau Kakak yang mengemudi?” Tanya Natan kemudian mengutuki mulutnya sendiri—bagaimana jika Raditya tidak bisa mengendarai mobil? Apakah dia tersinggung karena pertanyaan Natan?
“Aku saja.” Raditya mengulurkan tangan, meminta kunci mobilnya dan tersenyum. “Ayah pernah mengajariku mengendarai... mobil. Jadi kurasa tidak ada bedanya dengan yang diajari Ayah, 'kan?”
Natan menjatuhkan kunci mobil ke tangan Raditya yang terbuka, kunci itu jatuh dengan suara gemericing teredam. “Bukankah semua mobil di Bumi ini sama saja, Kak? Memangnya mobil yang Kakak gunakan untuk belajar apa?” Dia tertawa kecil sementara memimpin Raditya ke mobilnya yang terparkir di sudut garasi kosan. “Kereta Matahari-nya Apollo?”
Raditya tertawa serak. “Kau banyak membaca mitologi Yunani, ya?” Komentarnya sopan saat menekan tombol unlock mobil Natan yang langsung mengedip menyambut mereka.
“Dimulai dengan Percy Jackson lalu tidak ada jalan kembali. Aku suka bagaimana cara Uncle Rick mengemas mitologi Yunani yang rumit itu menjadi sederhana dan penuh humor.” Natan mengangguk, memutari bagian depan mobil menuju sisi penumpang dan membuka pintunya. “Kakak suka?”
Raditya menatapnya, kerlip itu muncul lagi di matanya. “Percy Jackson.” Sahutnya setuju. “Berarti kau tahu, 'kan, Kereta Matahari itu bentuknya Maserati?”
Natan tertawa, tangannya ditumpukan di atas kap mobilnya. “Jika aku jadi Apollo, Kereta Matahari akan jadi Lamborghini Aventador.” Dia mengacungkan jempolnya dan Raditya menyambutnya dengan tawa serak sebelum mereka berdua memasuki mobil Natan.
Pemuda itu bergegas membereskan sampah camilan di bagian tengah mobil dengan panik. “Maaf, Kak! Belum sempat kubereskan.” Keluhnya, membuang sampah-sampah itu keluar mobil.
Tadi siang dia, Indra dan Yogi memutuskan untuk berkeliling Yogyakarta dengan camilan di mobil dan Natan terlalu malas membereskannya setelah menurunkan mereka berdua di parkiran kampus.
“Tidak apa-apa.” Raditya mengatur spion tengah mobil Natan lalu memundurkan sedikit kursi pengemudi sebelum memasang sabuk pengamannya. “Aku yang maaf, padahal aku yang mengajakmu keluar tapi kita malah harus menggunakan mobilmu.”
Kita.
Natan berdeham, “Tidak masalah.” Dia nyengir dengan jantung berdebar. Apa yang sudah dilakukannya seharian hingga Raditya memutuskan untuk menyambut gayungnya dalam satu kali percobaan?
” ... Kenapa?”
Raditya mengerjap saat memundurkan mobil Natan keluar garasi. “Ya?” Tanyanya dengan mata masih menempel di spion tengah mobil, berkonsentrasi memundurkan mobil tanpa membuatnya lecet. “Kau bilang apa?”
“Kenapa Kakak mau keluar denganku?” Tanya Natan lagi, alisnya berkerut saat berusaha memikirkan kalimat yang jelas untuk menggambarkan keheranannya malam ini. “Maksudnya, kenapa?”
Raditya tertawa, memasukan perseneling dan mulai menginjak gas. “Kenapa kenapa?” Tanyanya melirik Natan yang duduk di sisinya dengan pandangan lurus ke depan.
“Don't you think I'm weird?” Tanya Natan kemudian, melirik Raditya yang memegang kemudi dengan tenang.
“No, I don't.” Raditya tersenyum tulus. “Honestly? I like your confidence, reminding me of my Father.“
Natan mengerjap, “Oh, maaf, Kak.” Merasa bersalah karena telah membawa topik yang mungkin sensitif untuk Raditya.
“Tidak, tidak.” Raditya tertawa. “Ayahku sehat walafiat, dia sibuk. Itu saja. Jadi kami jarang bertemu.” Dia menatap Natan. “Lagi pula, aku juga penasaran. Bagaimana, sih, rasanya makan malam dengan playboy-nya Sasing?”
Natan tertawa, menyandar rileks di kursinya. “Sungguh, dari mana, sih, julukan itu berasal?”
“Entah?” Balas Raditya, memasang sein untuk membelok ke kiri di Jalan Affandi yang ramai. “Aku sering dengar namamu disebut-sebut teman-teman sekelasku. Kau menarik banyak perhatian sejak inisiasi universitas, apalagi teman-temanmu.”
Natan teringat masa-masanya menjadi mahasiswa baru saat semua kakak tingkat tiba-tiba menjadi begitu akrab padanya. Menyapanya di jalan, menawarinya duduk bersama, meminjaminya buku—khususnya kakak tingkat perempuan. Natan yang masih pemalu tidak pernah menerima semua kebaikan mereka, menolak dengan sopan dan lembut namun ternyata sikap itu malah semakin membuat mereka gemas untuk mencari celah mendekati Natan.
Little did they know that Natan is a proud gay.
“Mungkin karena aku gay? Jadi mereka melabeliku playboy sehingga mereka bisa mencari pembenaran jika mereka tidak bisa memilikiku?” Natan nyengir, menyugar rambutnya yang panjang.
“Projecting their own frustration, I see.” Raditya tertawa. “Karena kau tidak mungkin melirik mereka. Lebih mudah melabelimu sebagai orang jahat daripada mengakui kekalahan sendiri, bukankah begitu?”
“Yah, mau bagaimana lagi?” Natan mengendikkan bahu, menyugar rambutnya dan tersenyum brilian. “Terlahir tampan memang sulit, 'kan?”
“Aku suka percaya dirimu itu.” Raditya tertawa, lalu memasang sein membelok ke Jalan Adisucipto Jogja-Solo yang lebih ramai lagi. “Kita ke McD Ambarrukmo dulu saja, ya?” Dia melirik jam tangannya. “Dua jam lagi tempat yang kuinginkan buka.”
Alis Natan berkerut, dia melirik jam tangannya juga. “Jam 11 malam ada apa memangnya, Kak?”
Raditya menoleh saat mobil berhenti di lampu merah UIN Sunan Kalijaga dan melemparkan senyuman sejuta watt yang nyaris secerah matahari musim kemarau yang panas. “Kau sudah pernah makan Gudeg Bromo?”
“Ah!” Natan tertawa. “Indra selalu ingin mengajakku makan gudeg itu tapi tiap kali kami datang, gudegnya tutup. Jadi, belum. Aku belum pernah.”
“Good.” Raditya nampak puas dengan dirinya sendiri. “Karena aku akan mengajakmu menyicipinya. Jangan makan terlalu kenyang di McD, oke?”
Natan membalas tatapannya dengan senyuman pongah bermain di bibirnya. “Kau meragukan kapasitas perutku, ya, Kak?”
*