The Chef #231

Taehyung duduk di ranjangnya, sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

Hasil operasi sudah keluar dan memang ada luka di bagian lambung Taehyung namun belum cukup lebar dan besar untuk menyebabkan kerusakan yang fatal sehingga dokter hanya akan meresepkan obat-obatan yang harus diminum secara rutin dan mengtur apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan Taehyung.

Dia harus mengucapkan selamat tinggal pada vodkanya yang setelah operasi saat Jungkook berkesempatan untuk pulang mengambil pakaian dan mencuci, sudah dibuang isinya ke bak cuci agar Taehyung tidak tergoda lagi.

Sekarang tunangannya sudah duduk, mengunyah sarapannya dengan tekun tanpa protes menonton televisi yang menayangkan film kartun anak-anak dengan suara sayup-sayup. Nafsu makannya baik, kondisinya stabil, infusnya sudah tidak terlalu banyak, dia juga sudah nampak jauh lebih baik. Demamnya turun, pusingnya sudah tidak ada dan ulu hatinya tidak lagi sakit.

Besok dia sudah bisa pulang dengan pola hidup baru yang harus dijalaninya dan check up satu bulan sekali selama tiga bulan pertama. Jungkook sudah merencanakan menu-menu makan Taehyung yang bebas dari bumbu keras, cabai dan asam. Dia tidak boleh minum kopi lagi, tidak boleh begadang, harus mulai ikut berolahraga dan tidak boleh menunda makan sama sekali. Dia harus hidup sehat dengan makan tiga kali sehari dengan camilan di antara jam makannya.

Semua hanya agar lambungnya bisa menyembuhkan diri.

“Hidupku menderita.” Keluh Taehyung saat itu, selepas malam saat Jungkook akhirnya naik ke ranjangnya untuk memeluknya sebelum tidur karena Taehyung tidak akan bisa tidur sebelum Jungkook naik untuk memeluknya.

“Sejak kapan hidup sehat berarti menderita?” Jungkook terkekeh, mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepalanya. “Kau akan baik-baik saja. Aku bersamamu. Tidurlah sekarang, besok kita bicara lagi.”

Sekarang chef muda itu sedang duduk di sofa dengan Yugyeom. Hari ini Senin, restoran tutup dan besok saat Taehyung akhirnya pulang Jungkook hanya akan muncul saat servis. Pagi hari akan digunakannya untuk menemani Taehyung di rumah sebelum pukul empat sore dia akan ke restoran, menyelesaikan servis lalu kembali pulang*.

Mereka sedang membahas sesuatu, Jungkook menggambar dan menulis di atas kertas kosong. Mendiskusikan masakan dan teknik yang tidak difahami Taehyung namun menilik dari seberapa fokusnya Jungkook, sepertinya itu penting. Dia juga menggambar visual makanannya dalam garis-garis tebal beraninya di atas kertas. Nampak begitu serius dengan alis berkerut yang nampak seksi. Taehyung mengamatinya dari ranjang.

“Kalian sedang apa, sih?” Tanyanya, menyuap buburnya yang secara mengejutkan terasa lezat walaupun tetap saja tidak seenak apa yang dibayangkan Taehyung. Sudahkah dia mengatakan bahwa dia benci sekali ayam rebus yang basah?

Jungkook tidak mendongak dari kesibukannya menggambar dan menulis menu imajiner yang sudah gatal ingin dicobanya. Taehyung merasakan sentakan adrenalin di dasar perutnya; percobaan menu kreasi Jungkook adalah hal yang magis sekali. Bagaimana dia memasak dengan insting dan nalurinya, mencoba ini-itu, meracik bumbu seperti penyihir menciptakan ramuan cinta lalu bahkan mem-plating-nya dengan cantik.

Membiarkan Taehyung mencicipinya, mengulangnya, menyempurnakannya; Taehyung selalu suka menyaksikan Jungkook seperti seorang seniman—memasak makanan dari menu yang dibayangkannya, menyajikannya persis seperti apa yang diinginkannya.

Taehyung selalu ingin bercinta di atas meja dapur tiap kali Jungkook mulai sibuk menyiptakan menu baru.

“Bukannya besok mantanmu akan datang?” Katanya kalem, menulis serangkaian kata-kata di atas kertas lalu mencoret-coretnya. “Aku menyiapkan menu untuk show kitchen.”

Sendok bubur Taehyung berhenti di udara, beberapa senti di depan mulutnya yang terbuka dan wajahnya berkerut terganggu. “Tidak perlu sibuk,” dia memutar bola matanya dan menyuap buburnya. “Dia tidak jadi datang.”

Jungkook menoleh, nampak jengkel karena tidak bisa pamer. “Apa—?”

Taehyung mengendikkan bahunya, terlalu keras hingga gaun rumah sakitnya melorot dan dia bergegas menyekanya. “Dia mengirimiku pesan. Nampaknya kata-katamu kemarin tentang menghormati kehidupan baruku menancap di kepalanya karena dia sekarang begitu segan padamu.”

Yugyeom tertawa ringan, bersandar semakin dalam di sofa nampak kelelahan setelah servis semalam yang menurutnya ramai sekali hingga mengantri. “Siapa yang tidak saat dia bicara dengan Hyungsik seperti bagaimana dia bicara pada semua commis dan CDP-nya? Aku tahu dia sengaja begitu.”

Terkekeh puas, Jungkook mengendikkan bahunya dengan ringan tapi tetap dengan aura congkak yang membuat Taehyung menghela napas panjang. “Yah, begitulah. Setidaknya sekarang dia faham bahwa di sini, ada batasannya. Dan dia tahu siapa yang berkuasa.” Dia menatap kertas di tangannya. “Lalu menu-menu ini...?”

Taehyung menatapnya dan Jungkook balas menatapnya. Hening sejenak lalu Jungkook tersenyum lebar. “Well, I can make use of it later.” Katanya kemudian melipat kertasnya dan menjejalkannya ke tas yang selalu dibawanya berpergian.

Kemudian dia bangkit menghampiri Taehyung. “Apakah makananmu tidak enak?” Tanyanya sementara Yugyeom berselonjor di sofa, mulai mengantuk.

“Enak.” Taehyung mengangguk, mengunyah buburnya yang lembut perlahan. Mendongak menatap Jungkook yang mengamatinya. “Hanya saja setelah tahu ada yang salah dengan lambungku, rasanya tiap makanan bisa melukaiku.”

Jungkook membelai rambutnya, mengecup pelipisnya sayang. Dia beraroma menyejukkan—campuran antara keringatnya yang familiar, secercah deodoran maskulinnya juga aroma lembut sabun mandi yang hanya dimiliki Jungkook. Berada dalam pelukannya membuat Taehyung begitu tenang dan lega, lumer seperti cokelat yang dilelehkan.

“Setelah ini kita akan bicara tentang minuman kerasmu,” Jungkook menjentikkan jarinya di dagu Taehyung yang tersenyum. “Tubuhmu itu milikku, dan kau harus menjaga milikku baik-baik. Aku tidak suka milikku diganggu.”

Taehyung mengulum senyumannya mendengar kata-kata Jungkook. “Berisik,” katanya nyengir sebelum lalu mendesah panjang menatap makanannya yang menyedihkan walaupun enak. “Tapi sekarang aku ingin pulang.” Katanya. “Aku rindu Bubble.”

“Besok kita pulang,” Jungkook tersenyum padanya, mendudukkan diri di sisi ranjang dan mengambil alih baki makanan di tangan Taehyung. Dia kemudian meraih sendok dan mulai menyuapi makanan Taehyung. “Hanya jika kau menghabiskan makananmu hari ini.”

Taehyung tersenyum, membuka mulutnya dan membiarkan Jungkook menyuapinya. Dia nampak segar setelah mandi dengan kaus lengan pendek dan celana pendek yang membalut pahanya dengan pas. Beraroma seperti sabun mandi tipis yang menenangkan. Dia menyugar rambutnya dengan gerakan halus, menyingkap bekas lukanya di bagian bawah telinga kanan yang mulai membentuk carut gelap yang sebentar lagi akan terkelupas dan membentuk bekas luka merah muda sensitif.

“Bekas lukamu dalam juga,” Taehyung menjulurkan lengannya ke bagian bawah telinga Jungkook dan menyentuhnya lembut. Terasa keras namun Jungkook masih mendesis saat dia menekannya lembut. “Sakit?” Tanyanya.

Jungkook menggeleng. “Lebih ke rasa kebas yang aneh.” Dia mengendikkan bahunya, menyendok buburnya, membawa sendok ke bibir Taehyung yang langsung menyuapnya dan Jungkook tersenyum puas. “Nanti setelah kering dan sembuh, aku akan menato—ADUH!” Dia meringis saat tangan Taehyung menghantam kepalanya hingga membuat telinganya sejenak berdenging.

“Sayaaang?” Serunya tidak terima, terenyak di tempatnya dan Taehyung menatapnya jengkel. “Kenapa aku dipukul?”

Yugyeom terbangun oleh teriakan Jungkook dan mendesah keras. “Ini rumah sakit, demi Tuhan!” Katanya kesal. “Keep it down!”

“Kau menyebalkan.” Keluh Taehyung dan Yugyeom menggeleng tidak habis pikir sebelum berbalik kembali tidur. “Kenapa ditato? Kita bisa membelikannya Dermatix atau apa agar bekas lukanya hilang.”

Jungkook mengernyit. “Mending digambari.” Sahutnya kalem lalu merunduk sebelum Taehyung sempat memukul kepalanya lagi. “Tidak akan yang aneh-aneh, janji!”

Taehyung menatapnya dengan alis berkerut dalam. “Bukannya di sana riskan?Ada nadi, ada saraf. Kau sinting, ya?”

Jungkook menggaruk ringan bekas lukanya dan mengendikkan bahunya. “Gampang bisa diakali.” Dia kemudian menatap Taehyung dan tertawa melihat ekspresinya. “Baikalah, baiklah tidak akan kulakukan. Ayo beli Dermatix.” Dia menyendok buburnya lagi. “Aaa?”

Masih menatap tunangannya dengan jengkel, Taehyung kemudian membuka mulutnya dan menyuap buburnya. Seraya mengunyah dia menjulurkan tangan, membelai sisi wajah Jungkook dengan lembut dan Jungkook menyandarkan kepalanya di telapak tangan Taehyung.

“Aku ingin bercinta.” Keluh Taehyung tiba-tiba tanpa peringatan dan Jungkook tertawa serak. “Aku benci sakit.”

“Besok kita sudah di rumah dan aku akan memberikanmu satu-dua blowjob yang layak kaudapatkan karena sudah menjadi anak baik selama di rumah sakit, oke?” Jungkook membawa sesendok bubur lagi ke arah Taehyung.

Taehyung tersenyum cerah, membuka mulutnya dan menyuap makanannya. “Janji?”

“Janji.” Jungkook tertawa serak. “Kau mudah sekali dimanipulasi, ya?”

“Hanya denganmu.” Taehyung menjulurkan tangan dan tanpa aba-aba meremas tubuh Jungkook hingga pemuda itu mendesis kaget, refleks menjauhkan tangan Taehyung dari tubuhnya.

“Kau tahu itu sakit, 'kan, By.” Keluh Jungkook kembali menyendok bubur dan akhirnya mendesah, membiarkan Taehyung memainkan jemarinya di antara selangkangannya—hiburan yang sangat digemari Taehyung kapan pun dia bosan. “Kalau berdiri, itu bukan salahku, oke?”

“Fluffy,” kata Taehyung tersenyum lebar, jemarinya dengan lincah bergerak hingga Jungkook harus menahan napas agar tidak mendesah. “Seperti squishy. Kenapa dia begitu ya?”

“Terserah.” Jungkook memutar bola matanya geli dan menyendok bubur lagi. Selalu merasa ajaib dengan kebiasaan Taehyung memainkan selangkangannya dan memberi komentar-komentar takjub seolah miliknya sendiri tidak begitu.

Kepalanya mulai pening dan bagian dasar perutnya terasa kesemutan oleh gairah yang tidak bisa disalurkan. Alih-alih dia menyendok bubur lagi, terus mendesak tunangannya makan.

Tidak apa-apa jika setelah ini Jungkook harus bermain solo, yang penting bubur di mangkuk Taehyung habis.

*

Catatan:

Restoran Jungkook beroperasi hanya untuk dinner seperti restoran luar, bukan seperti restoran Indonesia kebanyakan yang buka sejak pagi. Jadi servis dimulai pukul 5 sore hingga 10 malam. Pagi hari restoran tutup dan digunakan anak kitchen untuk prep bahan makanan.