The Chef #256 – The Wedding
Kim Taehyung belum pernah merasa sehebat ini sebelumnya.
Dia duduk di mejanya, di sisi kanannya kedua orangtuanya sedang berbincang akrab dengan orangtua Jungkook—kawan lama yang akhirnya kembali bertemu dalam pernikahan anak mereka yang digelar mendadak dan begitu ekslusif—mendadak untuk Taehyung karena ternyata kedua orangtua mereka sudah tahu pernikahan ini dua bulan sebelumnya. Di sisinya, meja dengan table card 'Jeon Jungkook' kosong karena suaminya yang congkak itu sedang berada di balik meja plating dengan pinset.
Membungkuk ke atas piring yang dia kerjakan dengan penuh perhatian dan ketelatenan, dengan topi chef tinggi dan seragam chef kebanggaannya yang digunakannya saat berangkat ke acara Chef of the Year dengan bordiran namanya di bawah bendera mungil Indonesia di dada kanannya dengan tulisan 'Finalist Chef of the Year'.
Jungkook jarang mengenakan seragam itu, pakaian itu selalu dilihat Taehyung digantung di lemarinya. Sesekali dicuci dan diseterika rapi, tapi tidak pernah digunakan. Jungkook selalu mengatakan bahwa seragam itu hanya akan digunakannya di saat-saat terpenting hidupnya.
Dan jelas, pernikahannya adalah salah satunya.
Di atas meja sudah tersedia peralatan makan five course meal yang disediakan anak servis untuk mereka dengan jejeran sendok, garpu dan pisau yang disesuaikan dengan menu yang mereka makan; ikan, daging dan sup. Saat mereka dipersilakan Jungkook untuk duduk, anak servis langsung membantu para ibu untuk duduk di kursi mereka. Mengisi gelas dengan air, menyampirkan serbet di pangkuan mereka untuk fine dining.
Di sisi kiri Taehyung sudah ada sepotong roti chia seed bulat dan mentega serta pisaunya untuk dimakan seraya menanti makanan pembuka mereka; ibu Jungkook sedang menikmati rotinya dengan mentega sambil berbincang dengan ibu Taehyung.
Mereka nampak sehat, Taehyung bersyukur. Kedua ibu mereka sedang membicarakan kursus amigurumi yang mereka berdua ikuti bersama sementara para ayah sedang membahas restoran Jungkook karena pada saat soft dan grand opening mereka tidak bisa datang. Mereka sedang mengamati interior ruangan, setelah tadi mengecek kualitas bangunan dan membicarakan rangka baja dan macam-macam bersama Yoongi.
Taehyung terenyuh saat mendengar pujian mereka saat memasuki restoran. Restoran standar bintang lima dengan langit-langit tinggi, dinding kaca dan retro, lampu kristal yang berkilauan, meja-meja bersih dengan linen kencang, show kitchen yang berkilauan dan anak mereka yang berdiri dengan seragam chef kebanggaannya, memeluk mereka satu per satu dengan hangat.
Meninggalkan jejak aroma rempah di pakaian mereka.
Taehyung juga menyadari betapa belakangan ini mereka jarang sekali mengabari orangtua mereka tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka. Bahkan hal sebesar Jungkook operasi saraf pun mereka putuskan untuk disimpan sendiri agar tidak membebani orangtua mereka. Mereka tidak perlu khawatir, Jungkook dan Taehyung bisa menghadapinya bersama.
Ruangan restoran yang biasanya ramai, kini hanya terisi dua meja dengan karangan bunga menggemasnya di bagian atasnya. Ada Jimin, Yoongi, Mingyu dan satu kursi kosong yang harusnya diduduki Yugyeom yang sekarang masih mempersiapkan dessert mereka. Sedang bersenda-gurau, tertawa menikmati panganan-panganan yang terjadi di meja prasmanan panjang di sisi mereka.
Taehyung sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa Jungkook berpikir dia sendiri yang harus memasak makanannya? Tidakkah dia percaya dengan sous chef-nya?
Tapi mengingat bagaimana sous chef itu sempat begitu patah arang saat melihat presentasi menu-menu Le Paradis yang harus ditirunya, Taehyung faham mungkin memang dia tidak berkenan merusak pernikahan Jungkook dengan ilmunya yang tidak menyamai Jungkook.
“Service, please!“
Taehyung menoleh dan Jungkook sedang menegakkan tubuh, tersenyum separo congkak padanya dengan lima piring berjajar di atas konternya. Anak servis bergegas menghampirinya, mereka meraih piring-piring itu dan mengantarnya ke meja Taehyung.
“Jungkook ini,” keluh ibu Jungkook mendesah keras saat makanan disajikan dari sisi kanannya. “Kenapa dia tidak mau duduk di sini? Kenapa malah dia memasak? Memangnya dia tidak ingin mengobrol dengan kami?”
Taehyung memutar bola matanya, menerima makanannya. “Ibu tahu sendiri dia bagaimana, 'kan? Aku tidak melakukan apa pun.” Katanya membenahi serbet yang disampirkan di pangkuannya lalu meraih satu sendok di sisi piringnya—yang terdekat dari piringnya. “Tidak akan ada yang bisa mengubah pikirannya, jadi kubiarkan saja.”
Dia tersenyum menatap appetizer yang disajikan karena dia baru saja memakan makanan itu tadi. Ada sepotong sate lilit dengan presentasi mewah yang dipadukan dengan urab lezat berempah. Taehyung menyendok sayurnya dan menyuapnya, mendesah merasakan ledakan rasa gurih, lezat dan sepercik rasa manis dari parutan kelapa. Harum dari daun jeruk dan renyahnya kacang panjang mentah.
“Dia melarang Mama ke rumah kalian,” desah ibu Taehyung menatap anaknya protes dan Taehyung menyunggingkan senyuman lebar. “Katanya sedang membuat kejutan untukmu.”
“Ya ini,” Taehyung melambaikan tangan ke pesta mungil mereka. “Dia mempersiapkan pernikahan.”
“Jungkook ini memang benar-benar,” ibu Taehyung menatap ibu Jungkook yang mendesah panjang, kemudian mulai mengomel tentang masa kecil dan masa muda ambisius Jungkook.
“Jadi, kalian hanya akan mengurus surat-suratnya dan sudah?” Tanya ayah Jungkook, memotong makanannya dan mendesah panjang menyecap rasa makanannya. “Dia memang berbakat.” Katanya serak.
Taehyung mengangguk, mempersilakan anak servis membereskan piringnya dan menunggu makanan selanjutnya seraya menanti orangtua mereka makan. Taehyung tidak ingin makan dengan kenyang, dia harus menyicipi semua menu malam ini.
“Ya begitulah.” Sahut Taehyung kalem. “Lagi pula, hal paling penting dari pernikahan adalah itu, kan? Resepsi besar-besaran tidak terlalu menarik untukku. Restoran lebih butuh banyak uang, Ayah. Kami sepakat untuk mengalokasikan uangnya ke sini daripada pesta besar-besaran.”
Ayah Jungkook menyikut ayah Taehyung akrab, tertawa serak. “Anakku menikahi akuntan, inilah yang mereka lakukan.” Godanya dengan suara berat dan ayah Taehyung tertawa.
“Anakku menikah chef, dan inilah yang mereka lakukan.” Balasnya, melambai ke restoran yang mereka tempati dan makanan di hadapannya.
“Anak kita menikahi orang yang tepat untuk diri mereka masing-masing, ya, kan?” Desah ibu Jungkook, menjulurkan tangan dan membelai pipi Taehyung lembut. “Kalian jarang sekali mampir, Ibu rindu.”
Taehyung tertawa. “Maaf, Ibu. Restoran benar-benar menyita pikiran kami. Tapi kita bisa pergi bersama besok, bagaimana?” Tawarnya tersenyum lebar.
“Ah, boleh!” Seru ibu Taehyung senang, menyeka bibirnya dengan serbet. “Kita ke Kuta, ya? Mama ingin itu... dikepang kecil-kecil. Pasti lucu.”
Taehyung kembali tertawa, “Siap, Mama.” Katanya lalu melirik Jungkook yang sekarang menatapnya, tersenyum lebar. Melemparkan air kiss padanya, Taehyung berpura-pura menangkapnya, lalu menyelipkannya ke sakunya.
Jungkook menatapnya kaget dan kecewa yang jenaka dan Taehyung menepuk sakunya. “Untuk nanti,” katanya tanpa suara dan Jungkook tertawa.
Piring dibereskan dan makanan selanjutnya dibawakan. Dia meraih sendok sup sesuai dengan urutannya. Table manner tidak begitu sulit jika sudah ingat aturan dasarnya; nampak mengerikan karena begitu banyak sendok dan piring, namun selalu ingat untuk mengambil sendok dari sisi terluar urutannya.
Taehyung melirik ke meja sebelah dan menemukan Bubble sedang duduk dengan manis di sisi Jimin, mendongak menatap Jimin yang menyuapinya camilan agar tetap tenang. Dengan hiasan sayap dan tanduk unicorn, Bubble terlihat sangat menggemaskan.
Seolah menyadari tatapan Taehyung, Bubble menoleh dan menyalak ceria; seluruh ruangan menoleh pada anjing kecil yang mendengking menyedihkan—tidak suka dipisahkan dari Taehyung. Ekornya mengibas-kibas liar dan dia melolong rendah hingga Jimin tertawa.
“Tidak, tidaak.” Kata Jimin membelainya, menahan rantai di lehernya dengan telunjuk. Bubble semakin melolong panjang menyedihkan dan meja riuh oleh tawa.
Taehyung melambai kecil pada anjingnya yang menggemaskan, Bubble sudah akan melompat dari kursi untuk menghampirinya tapi Taehyung langsung memberikannya telunjuk, melarangnya untuk melompat. Bubble mendengking lirih namun diam di kursinya.
“Duduk.” Kata Taehyung tenang dan Bubble menurut walaupun dengan mata berkaca-kaca karena ditolak. “Good boy,” katanya lembut. Jimin menyobek rotinya, menyuapinya ke Bubble sebagai imbalan sebelum kembali meraih sendoknya dan mulai menyuap makanan keduanya.
Makan malam berjalan lancar dan aman, Jungkook sendiri yang menyajikan makanan penutup sebelum akhirnya bergabung di meja dengan pakaian beraroma tajam rempah. Dia mengecup pipi masing-masing ibu Taehyung dan ibunya sebelum menerima roti chia seeds dari anak servis dan dia langsung menyuapnya habis.
Dia meraih Bubble yang melolong ceria saat Jungkook memeluknya. Menjilati wajahnya dengan heboh, mengibaskan ekornya dengan begitu kuat hingga Taehyung takut ekornya akan lepas. Dan langsung melompat ke atas serbet Taehyung, melompati dada Taehyung dan menjilati wajahnya.
“Cukup, Bubble!” Seru Taehyung ceria dan Jungkook bergegas meraih anjing mereka, menjauhkannya dari wajah Taehyung yang sekarang basah oleh saliva. Taehyung menyekanya dengan serbet dan membelai kepala Bubble yang menatapnya ceria.
“Memangnya kau tidak makan?” Tanya ibunya mengamati bagaimana Jungkook merobek rotinya menjadi dua lalu menjejalkannya ke mulutnya dengan lahap dan Jungkook menggeleng.
“Tidak, Ibu, aku kenyang.” Katanya dan Taehyung selalu tahu setiap kali menyelesaikan servis, hal yang dibutuhkan Jungkook bukan makanan tapi tidur. Dia kemudian meraih tangan Taehyung, menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung lalu menggenggamnya erat. “Jadi,” katanya.
“Kami menikah.” Katanya dengan nada takzim yang membuat Taehyung merinding dan dia menoleh, menatap chef muda di sisinya yang sedang menatap orangtuanya dengan senyuman lebar di bibirnya—seperti anak berusia lima tahun yang baru saja memenangkan penghargaan.
“Kalian sudah tinggal bersama sejak lama, seharusnya tidak ada hal yang berbeda kecuali sekarang kalian harus mengurus keuangan bersama, menatap ke depan sebagai pasangan, bukan lagi individu mandiri.” Ayah Jungkook menatap keduanya bergantian dari balik kacamatanya.
“Jika ada masalah,” ibu Jungkook menambahkan. “Tolong diselesaikan baik-baik, ya? Jangan ada pertengkaran yang tidak perlu.”
“Benar.” Ibu Taehyung menyela dengan semangat, menghabiskan hidangan penutupnya. “Kalian sudah bekerjasama mendirikan restoran semewah ini, bukan berarti kalian akan sukses menjalani bahtera rumah tangga. Hal itu sesuatu yang berbeda, kalian harus belajar memahami satu sama lain, bersabar dan menghadapi masalah bersama-sama.”
Taehyung dan Jungkook saling melirik dan bertukar senyuman lebar, siap menerima wejangan semalam suntuk dari kedua orangtua mereka. Kedua orangtua mereka tidak perlu tahu apa saja yang sudah mereka hadapi bersama sejauh ini; rumah sakit, depresi, kejutan, pertengkaran....
Mereka mungkin bukan pasangan paling sempurna di muka bumi ini, tapi Jungkook yakin setelah segala hal yang mereka hadapi selama ini mereka bisa menjadi lebih baik setiap harinya.
Jungkook lebih dari siap; mereka berdua telah melewati banyak hal untuk menunjukkan kualitas diri masing-masing. Taehyung mungkin kadang menarik diri saat ada masalah, namun dia selalu kembali dengan lebih kuat lagi untuk menyelesaikan masalahnya. Menyeret Jungkook yang depresi untuk kembali ke permukaan dengan tiraninya.
Mereka akan baik-baik saja, Jungkook yakin.
Di bawah meja, kaki mereka bersentuhan dan tangan mereka bertautan dengan erat dan hangat.
Petualangan baru ada di hadapan mereka, siap untuk dijelajahi dan dikalahkan.
Hanya untuk memuaskan teman-temannya, Jungkook meraih Taehyung dan berdansa dengannya di tengah kedua meja. Tertawa saat tidak sengaja menginjak kaki Jungkook. Betapa tangan Jungkook terasa begitu benar di pinggangnya, bagaimana tangan Taehyung terasa hangat di bahunya.
Mereka bergerak dengan lembut, menatap ke dalam mata masing-masing. Tersenyum lebar hingga pipi mereka nyeri. Terasa seolah selama ini Jungkook belum pernah memeluk Taehyung sehangat dan seerat ini, seolah selama ini mereka tidak tinggal bersama; bertengkar, menangis, berdebat, berdiskusi....
Seolah sebelum menyematkan cincin pernikahan mereka, Taehyung adalah orang asing. Sekarang jantung pemuda itu berdebar begitu hangat dan basah, seolah hidup Jungkook bergantung pada detakan itu.
Bergantung pada senyuman Taehyung.
Pada tawanya.
Senyumannya.
Taehyung telah menyihirnya, menjadikannya pria yang jauh lebih dewasa dan kuat dari sebelumnya. Pertemuan mereka yang hanya karena sup di Twitter hingga akhirnya berpacaran, bertunangan, menghadapi begitu banyak terjangan masalah dan akhirnya Jungkook memutuskan bahwa mereka layak menikah.
Mereka siap menikah.
Dan Jungkook tidak pernah menyesal telah menemukan Taehyung, memperjuangkan hubungan mereka dan berusaha menjadi lebih baik untuknya.
Karena Taehyung adalah jawaban dari segala pertanyaannya.
*