The Chef #246
“Kenapa kau mengamatiku begitu?”
Jungkook terkekeh serak, duduk di sisi meja menatap Taehyung yang sedang menyendok panganan pencuci mulut di piringnya dengan ceria. Nampak sangat menikmati kreasi tangan yang dikerjakan Jungkook sejak pagi.
Ledakan rasa manis yang pas, gurih kumbu hitam dan kondimennya yang segar membuat Taehyung mendesah dalam tiap gigitannya. Dia selalu kagum pada hebatnya Jungkook dalam menciptakan kreasi baru; dia seperti dewa. Kreatif, dinamis dan selalu mencoba hal-hal baru di luar apa yang biasa dilakukannya.
Tangannya bersandar di sisi meja, bersih dan kapalan. Taehyung mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangannya dan membelainya lembut sambil menyendok makanannya. Menyapukan sendoknya ke permukaan piring untuk mengais saus yang disapukan Jungkook di atasnya.
“Aku tidak akan menyisakan setetes pun.” Katanya dan Jungkook tertawa.
Taehyung kemudian beranjak ke saus markisa dan gulungan pasta kumbu hitam yang dibentuk tabung beku yang mulai meleleh. Membenamkan sendoknya di sana lalu berhenti saat sendoknya menabrak sesuatu yang menahan lajunya di makanan yang setengah meleleh itu.
Dia berhenti sejenak, menatap sendoknya yang berhenti di tengah jalan. Hening saat mereka berdua bersidiam. Taehyung berdeham.
“Apakah ini seperti yang kupikirkan?” Tanyanya dengan suara gemetar menahan tawa dan di sisinya, bibir bawah Jungkook bergetar berusaha menahan tawanya sendiri.
“Entah.” Jungkook berhasil bicara dengan susah-payah. “Menurutmu?”
Taehyung mengulum bibirnya, menggertakkan rahangnya menahan tawa yang sudah akan lepas di ujung lidahnya. Di sisinya, Jungkook menggenggam sisi meja dengan begitu kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Keduanya bergetar menahan tawa karena kejadian ini sudah pernah terjadi sebelumnya.
Jungkook berusaha mempertahankan wajahnya tetap kalem saat Taehyung meraih kumbu hitam bekunya dan memecahkannya dengan jemarinya yang kurus dan langsing. Saus gula dan lelehan kumbu hitam meluruh dari jemarinya.
Dan dia menemukannya; cincin emas kurus yang berkilau oleh cahaya dan lengket oleh gula kumbu hitamnya.
Taehyung mengangkat cincin itu ke antara mereka berdua dan mereka bertatapan.
Hening.
Lalu keduanya meledak dalam serangan histeria tawa aneh yang memusingkan. Jungkook membungkuk, memegang perutnya sementara berusaha mengatur jalan napas ke paru-parunya yang tercekik oleh tawa sementara di sisinya Taehyung sedang bersandar penuh ke kursinya, kepalanya terlempar ke belakang dengan mata terpejam dan tawa ringan yang terdengar seperti genta angin.
“Kau memang sungguh tidak kreatif!” Taehyung berseru. “Aku tidak akan menelan cincin tunanganku lagi, kau dengar aku?” Taehyung tertawa dan meraih gelas airnya, menyelupkan telunjuk dan jari tengahnya yang memegang cincin ke dalam gelas, mencuci cincinnya.
“Siapa bilang itu cincin tunangan?” Jungkook tertawa, meraih cincin itu dari tangan Taehyung dan kemudian berdeham, berubah pikiran. “Sebentar. Aku butuh penonton.” Katanya lalu menarik Taehyung yang tertawa serak keluar dari ruangan Jungkook.
“Bangsat congkak!” Taehyung tertawa.
Jungkook berdeham keras sekali dan seluruh isi dapur menoleh, berhenti bekerja. Lalu pemuda itu berlutut di hadapan Taehyung yang bersedekap dengan senyuman lebar di bibirnya, jejak tawa masih menetes dari sudut bibirnya.
Jungkook menelan ludah, tiba-tiba merasa gugup. “Aku sudah melakukan ini enam kali, kenapa rasanya masih gugup?” Keluhnya sementara seluruh dapur, khususnya para perempuan dari pastry section mengamati mereka dengan senyuman di bibirnya.
Suara bisik-bisik terdengar dan semua kegiatan dihentikan. Kompor dimatikan, butcher berhenti memutilasi daging, para helper berhenti memotong bawang dan semua mata tertuju pada Jungkook yang sedang berlutut di lantai dapur mendongak ke Taehyung yang tersenyum begitu lebar hingga pipinya nyeri.
“You noob,” Taehyung terkekeh, sama gugup dan membuncah oleh perasaan gembira.
Jungkook mendelik padanya dan tersenyum. “Oke.” Katanya mendesah keras. “Here we go,” dia memejamkan matanya, menghela napas dari mulutnya dan mendongak. “Kim Taehyung,” katanya jernih.
Suaranya memantul, bergaung menjangkau ke seluruh sudut dapur yang sekarang hening menanti mereka. Beberapa commis mengangkat ponsel mereka diam-diam, merekam dan Taehyung tidak keberatan. Dia mungkin akan meminta video itu nanti.
“Sadly, this is not another engagement ring,” Jungkook tersenyum separo, memberikan Taehyung senyuman paling cerah dan indah yang pernah dilihatnya. Jantungnya berdebar begitu kencang, menonjok tulang rusuknya yang malang.
Jungkook sudah melamarnya lima kali namun tetap saja, menatap lelaki itu berlutut di hadapannya dengan begitu gugup—hal yang sangat langka terjadi pada chef muda pongah yang membangun sebuah standar tinggi atas makanan lokal Bali di Campuhan.
Chef Jungkook tidak pernah menunduk atau merendahkan diri untuk siapa pun kecuali untuk meminta kesediaan Taehyung untuk menikahinya, menjadi teman hidupnya. Menjadi tua bersamanya, saling mendukung dalam keadaan sesulit apa pun, saling berbahagia dalam keadaan kelebihan, menemani dalam sakit, bersuka-cita dalam kesehatan.
Menjadi bagian dari seluruh hidup Jungkook yang hingar-bingar. Menjadi hening dalam setiap keriuhan, menjadi lembut dalam setiap kerasnya hidup, menjadi selimut dalam dinginnya tantangan yang mungkin mereka hadapi.
Menjadi rumah bagi jiwa mereka yang lelah.
Menjadi Jeon Taehyung.
“Because this is our wedding rings. So, Kim Taehyung, would you give me the honor to marry you?“
Taehyung tertawa serak, tangannya gemetar saat dia menjulurkannya ke arah Jungkook yang berlutut di hadapannya. “Tentu saja, Bodoh. Memang apa lagi jawabannya? I grant you the honor to marry me.”
Tertawa gemetar, Jungkook meraih tangannya dan Taehyung tertawa merasakan betapa dinginnya tangan Jungkook saat dia berusaha menyelipkan cincin ke jari Taehyung lalu mengumpat saat tremor tangannya terlalu kuat dan cincin menggelincir dari genggamannya; jatuh membentur lantai dan menggelinding.
Seluruh dapur mulai tertawa dan Jungkook berdecak keras.
“Kalian harus melupakan ini, oke?!” Katanya pada semua anak buahnya yang tertawa serentak. “Saya tidak gugup!” Dia mendelik namun semua anak buahnya malah semakin berusaha keras menahan tawa mereka.
Dan Yugyeom terserang serentetan batuk keras yang terdengar persis seperti tawa terbahak-bahak yang panjang.
“Siap, Chef!” Balas mereka, tertawa-tawa rendah.
“Cukup!”
“Siap, Chef!”
Mereka langsung diam kembali, tapi masih mengulum senyuman lebar mereka.
Jungkook kembali mendesah keras, dia meraih cincin yang tadi menggelinding ke kaki Taehyung. “Goddamnit,” keluhnya lalu menghela napas dari mulutnya dan meraih tangan Taehyung kembali.
Dengan cepat, memanfaatkan sisa percaya dirinya tadi setelah memarahi anak buahnya, Jungkook menyelipkan cincinnya ke jari Taehyung hingga ke dasar lalu membawanya ke bibirnya. Mengecup cincin itu, setiap buku jari Taehyung lalu punggung tangannya.
Seluruh dapur bersorak riuh, bertepuk tangan meriah dan beberapa anak pastry bahkan menangis terisak-isak, menyeka air mata mereka dengan ujung apronnya yang beraroma tajam ekstrak vanili. Jungkook kemudian berdiri, meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan mendesah panjang dan rileks.
“Kau milikku.” Bisiknya di telinga Taehyung sementara ruangan gegap-gempita oleh histeria kebahagiaan tim Jungkook. Telapak tangan Jungkook terasa begitu hangat dan menenangkan di punggung Taehyung saat dia memeluknya begitu erat hingga Taehyung takut tubuhnya akan remuk karena pelukan itu.
“Kau milikku.”
“Selalu.” Balas Taehyung tersenyum, membelai punggung tegap Jungkook dengan telapak tangannya.
Milikku terdengar begitu indah saat ini, seolah selama ini Jungkook belum memiliki Taehyung seutuhnya.
“Lalu kapan kita akan menikah?” Godanya geli dengan jantung yang masih berpacu liar akibat histeria lamaran mereka. “Kita sudah bertunangan dua setengah tahun dengan setidaknya enam kali lamaran, tapi kau belum juga menggelar pernikahan? Kau sedang menyia-nyiakan kehormatan yang kuberikan padamu, kau tahu.”
Anehnya, seluruh dapur tiba-tiba kembali hening menyambut kalimat Taehyung itu. Semua saling mengerling dengan penuh arti di balik punggung Taehyung. Berbisik-bisik dan berkusuk-kusuk menbicarakan sesuatu. Yugyeom mendelik pada semuanya agar tidak ada siapa pun yang mengatakan apa pun tentang ini.
Jungkook kemudian tertawa serak. “Tidakkah kau bertanya kenapa aku memesan begitu banyak bebek untuk hari ini? Padahal kita tidak punya menu bebek?”
Taehyung mengerjapkan mata, menguraikan pelukan Jungkook dan menatapnya. “Apa?” Tanyanya. “Kupikir ada reservasi yang harus menggunakan bebek? Aku hanya menyetujui dokumen pembeliannya dan tidak....” Suara Taehyung perlahan memelan dan lenyap.
Seluruh dapur hening.
Dan Taehyung terkesirap keras saat pemahaman melintas di kepalanya; Jungkook nyaris bisa mendengar suara 'klik!' keras di kepalanya saat Taehyung akhirnya menyatukan semua informasi yang didapatkannya.
“OH! Kau... bajingan!” Serunya histeris, panik dan juga tertawa. Benar-benar kebingungan dengan informasi yang baru diterimanya; Apa-apaan?? “Kita menikah... malam ini?!” Dia tersedak napasnya sendiri. “Yang benar saja?!”
Jungkook tertawa, terdengar sangat terhibur dengan reaksi Taehyung dan mendapatinya begitu indah. “Kenapa memangnya?” Tanyanya kalem.
Kenapa katanya????
Sungguh, Taehyung akan membunuh Jeon Jungkook pada malam pertama mereka. Sungguh.
“Kita hanya akan makan malam bersama beberapa orang,” lanjutnya dengan kepercayaan diri pongah lamanya yang kembali sepenuhnya hingga Tehyung ingin sekali menyarangkan safety shoes-nya ke wajah congkak tampan itu.
“Orangtuamu sudah di hotel pagi tadi dan aku melarang mereka menghubungimu. Orangtuaku tiba di bandara satu jam lagi dan malam ini mereka akan bergabung bersama kita di makan malamnya.
“Lalu besok kita akan mengurus surat-surat pernikahannya. Seperti katamu tadi, aku tidak mau menyia-nyiakan kehormatan yang sudah kauberikan padaku.”
Taehyung gemetar.
Orangtuanya sudah di Bali? Mereka tahu pernikahan Taehyung dilaksanakan hari ini dan Taehyung bahkan belum tahu akan mengenakan pakaian apa? Dan apakah Jungkook pergi ke dapur subuh-subuh untuk... menyiapkan makanan pernikahan mereka?
Dia menikah dan dia yang memasak makanannya? Memang bangsat perfeksionis!
Taehyung bisa saja berteriak sekarang karena otaknya kram memproses informasi baru ini. Namun dia hanya berdiri di sana, membuka dan menutup mulutnya; kebingungan seperti sedang berenang di dalam agar-agar. Otaknya macet saat berusaha mencerna semuanya.
Dia menatap tunangannya—calon suaminya yang sedang tersenyum pongah di hadapannya. Nampak seindah, setampan dan sesempurna dewa perang muda dalam balutan seragam chef-nya yang berkilau, apron bernoda dan topi tinggi chef-nya yang mengintimidasi.
“Surprise, motherfucker.” Bisiknya menaikkan sebelah alisnya dan menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah, dengan wajah jenaka yang begitu tampan hingga Taehyung menahan napasnya. “Bet you didn't see this coming.“
Jeon Bajingan Jungkook ini memang benar-benar!
*