The Chef #111
Jungkook belum pernah membiarkan dirinya menangis di hadapan orang lain sebagaimana dia membiarkan dirinya menangis di hadapan Kim Taehyung.
Ada sesuatu pada diri Taehyung yang membuat Jungkook merasa dia bisa memercayakan hidupnya di tangannya. Dia tidak pernah memaksa Jungkook, dia tidak pernah mendesak Jungkook, selalu bersikap sabar dan perhatian; selalu mencoba mencari tahu alasan di balik setiap tindakannya sebelum memutuskan penilaiannya.
Jungkook sangat mengapresiasi bagaimana Taehyung memecahkan masalah; detail dan menyeluruh. Tidak seperti Jungkook yang cenderung melarikan diri dari masalahnya, berharap masalah itu menyelesaikan dirinya sendiri. Menyadari hal inilah mengapa Jungkook selalu keras kepala tentang bagaimana dia menjalani kehidupannya; dia benci saat menyadari dirinya salah atau keliru dan harus meminta maaf.
Namun saat dia bersandar di pintu kamarnya dengan Taehyung tersambung di telepon dan bersandar di sisi pintu sebelah luar, Jungkook merasa seluruh egonya, seluruh harga dirinya yang selama ini begitu keras seperti batu mulai retak dan hancur.
Kim Taehyung, lelaki yang dipilihnya untuk menjadi teman hidupnya telah menyentuhnya di bagian yang sama sekali tidak pernah Jungkook sangka.
Dengan kelembutan dan kesabarannya, dia telah membuat Jungkook jadi jauh lebih kuat daripada dirinya sebelumnya.
Mendengar suara Taehyung yang lembut, Jungkook menyadari betapa dia merindukan Taehyung hingga seluruh ototnya nyeri. Seolah ada kekuatan tidak kasat mata yang menekannya dari segala arah dan mencoba membuatnya meledak menjadi jutaan keping.
“Aku percaya,” kata Taehyung di sambungan telepon mereka sementara Jungkook merunduk, mencengkram dadanya yang nyeri dan menangis tanpa suara. “Aku percaya kau akan tetap menjadi seorang chef yang hebat bahkan tanpa lidahmu. Kau membuktikan pada dirimu sendiri kau bisa menjadi seorang head chef dalam usia semuda ini, sekarang kau hanya perlu melakukannya lagi.
“Seperti dulu. Gunakanlah kekeraskepalaan dan ambisimu untuk bangkit dan menjadi chef yang tidak kalah oleh keadaan paling mustahil sekali pun.
“Lidahmu mungkin saja tidak bisa merasakan apa pun sekarang dan hidungmu mulai merasakan efeknya karena kebingungan, tapi itu tidak berarti kau harus menyerah dengan keadaanmu. Ingat apa kata dokter tentang terus mengasah kemampuan lidahmu setelah operasi? Dia yakin lidahmu setidaknya bisa menyecap 50% jika taste buds-mu terus diasah.
“Apakah kau akan melepaskan 50% itu begitu saja?”
Jungkook tidak menjawab, hatinya begitu nyeri. Begitu juga kepala dan seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang terbiasa bergerak dan terus bergerak, kaget dan protes saat Jungkook tidak juga membawa mereka bergerak.
Jungkook sering terbangun tengah malam oleh rasa anxious yang dirasakannya lalu menangis dan terkadang muntah karena kembali teringat betapa tidak berdayanya dia sekarang. Betapa banyak mimpi yang harus dilepaskannya hanya karena lidahnya tidak berfungsi.
Berapa banyak orang yang dikecewakannya...
“Aku di sini bukan karena kau seorang chef,” Taehyung melanjutkan. Mengetuk pintu dengan telunjuknya dalam nada yang menenangkan: tuk-tuktuk-tuk. “Aku di sini karena kau adalah Jeon Jungkook. Manusia keras kepala, congkak dan menyebalkan yang juga bertanggung jawab, manis dan luar biasa.
“Bukan Chef Jeon Jungkook yang namanya melanglang buana di dunia kulinari Indonesia. Bisakah kau memisahkan dua orang itu?”
Jungkook diam, mengenggam ponselnya di telinganya dan menyandarkan kepalanya di pintu di belakangnya. Mendengarkan ketukan menenangkan Taehyung dari sisi satunya seraya mengatur napasnya yang tersengal setelah menangis.
Kamarnya tetap gelap, aromanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dia merasa begitu aman dengan berdiam diri di dalam selimut dan menghalangi dunia menemukannya. Jungkook merasa terlindungi dari kejamnya kenyataan, berharap dia bisa terus-menerus menunda waktu untuk bangkit dan melawan.
Dia tidak sanggup menatap mata-mata yang kasihan padanya, menatapnya dengan rasa simpati menjijikkan dan mungkin saja berpikir: 'Kasihan sekali dia. Dulunya dia chef yang luar biasa, semenjak indera perasanya tidak berfungsi dia tidak bisa lagi melakukannya.'
Memikirkannya saja membuat Jungkook ingin muntah karena perasaan anxious yang mencengkram bagian belakang kepala dan dasar perutnya yang bergolak hingga dadanya terasa terbakar.
“Bolehkah aku masuk?” tanya Taehyung kemudian dengan perlahan. “Aku akan membantumu menanggung semua sakitnya. Aku akan memelukmu tiap kau menangis dan membuatmu baik-baik saja.”
Jungkook masih diam.
“Hal yang perlu kaulakukan hanya mengizinkanku masuk.”
Dia memejamkan mata.
Merasa sangat aman dalam tempat perlindungannya yang temaram dengan tirai tertutup dan lampu mati, udara yang sesak oleh keputusasaan dan kemarahan akan dirinya sendiri, seprai yang tidak pernah dibereskan, tubuh Jungkook yang terasa lemah dan bau karena tidak pernah bisa bangkit untuk ke kamar mandi karena dia tidak kuasa menatap dirinya sendiri di cermin.
Pertama kalinya dia melangkah ke kamar mandi untuk buang air kecil, Taehyung berakhir menggedor pintunya dengan panik saat Jungkook berteriak marah dan meninju cermin dengan kepalan tangannya hingga berdarah dan menghadiahi cermin mereka dengan retakan rambut yang menjalar.
Jungkook begitu benci menatap dirinya sendiri di cermin.
Dia dihantui perasaan gagal dan frustasi yang begitu memualkan. Kebenciannya pada dirinya sendiri karena tidak kenyataan yang harus dihadapinya saat ini. Jungkook tidak sudi menatap dirinya sendiri di cermin. Sejak hari dimana Taehyung menggedor pintu kamar mereka, berteriak histeris dan menangis memohonnya berhenti, Jungkook berhenti ke kamar mandi.
Dia menutup semua cermin dengan kain dan menempelnya dengan selotip. Menolak sinar memasuki kamarnya dan meringkuk di ranjang, dalam balutan selimut karena dia selalu merasa tubuhnya mengigil tiap kali mengingat hari esok; tiap kali mengingat hal yang harus dihadapinya jika dia keluar dari kamar ini.
Jungkook tidak sanggup menghadapi fakta dan kenyataan yang menantinya jika dia membuka pintu di belakangnya.
“Tentu saja kau sanggup,” bisik Taehyung lembut dan membuat Jungkook sadar dia baru saja menyuarakan pikirannya. “Kau tidak harus menghadapinya sendiri, ada aku di sini. Aku akan memastikanmu baik-baik saja.”
Dia belum sekuat yang dipikirkan Taehyung, dia belum sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia harus merelakan karir dan hidup yang selama ini telah menjadi bagian dirinya yang membuat jantungnya berdenyut harus berakhir.
Jungkook juga tidak ingin melibatkan Taehyung dalam hidupnya yang kacau balau ini. Dia ingin menyelamatkan Taehyung dari dirinya sendiri, ingin pemuda itu bersikap rasional dengan meninggalkannya dan membiarkan Jungkook mati membusuk dalam keputusasaannya.
“Kau pernah menghadapi ini sendirian dulu,” Taehyung memulai lagi. “Kau sudah tahu betapa remuknya fisik dan emosimu karena kau terus menghukum dirimu dengan begitu kejam karena hal yang bahkan bukan kesalahanmu. Sekarang ada aku yang akan menemanimu menghadapi sakitnya. Tidakkah kau lelah dengan rasa bersalah itu? Tidakkah kau ingin meringankan sakit yang menghimpit dadamu itu?
“Kau hanya akan membuat dirimu hancur lebur karena duka yang kau suntikkan ke dalam pembuluh darahmu setiap hari, setiap menit. Kau sudah menghukum dirimu sendiri dengan cara yang salah, Sayang. Kita bisa memperbaiki ini, kau bisa memperbaiki ini. Kau hanya sedang meremehkan kekuatanmu sendiri...”
Namun Jungkook tetap bertahan, dalam keheningan dan dalam kesedihannya sendiri. Berharap dia mati dimakan kesedihan dan kesendirian itu. Berharap dia tidak harus membuka matanya lagi untuk menatap hari esok yang selalu menghantuinya dengan ketakutan dan ketidakpastian.
Maka dia membiarkan pintunya tetap terkunci dan mendengarkan helaan napas Taehyung yang menenangkan serta ketukan jari Taehyung di pintu kamarnya.
*