The Chef #122

Taehyungi tersenyum lebar, mengamati dengan bahagia saat tunangannya berdiri di depan kompor, memasak buburnya sendiri karena tidak mau memakan bubur keenceran Taehyung.

Jungkook nampak jauh lebih sehat setelah seminggu hidup seperti manusia normal. Dia makan, dia bermain dengan Bubble dan berjalan-jalan menggerakkan seluruh ototnya yang praktis mengendur selama dia tidak melakukan apa pun. Dia sudah mengajukan pengunduran diri setibanya di Jakarta tanpa memberi tahu Taehyung sama sekali dan meminta Jackson naik menjadi head chef menggantikannya.

Sebelum Taehyung sempat mengamuk atas pilihan tergesa-gesanya, Jungkook sudah membanting pintu dan menguncinya.

Namun Jungkook yang baru ini belum berani bertatap wajah dengan manusia asing selain Taehyung lebih dari beberapa menit. Dia akan mulai gemetar dan gelisah, tangannya berkeringat dan Taehyung akan bergegas membawanya pergi; membiarkan Jungkook menggunakan tudung hoodie-nya untuk menyembunyikan wajahnya.

Hati Taehyung masih merasa nyeri mengingat bagaimana sebelum ini tunangannya adalah lelaki paling bersinar oleh rasa percaya diri dan dia bersumpah dia akan mengembalikan Jungkook yang itu. Chef muda berbakat yang bersinar saat dia memasak dalam balutan seragamnya dengan topi tinggi putih mengilat dan senyuman cerah; seolah seluruh dunia tunduk di kakinya.

“Sayang,” panggilnya ke arah punggung Jungkook yang bekerja dengan perlahan; tidak secepat biasanya saat dia masih seorang chef yang aktif. Dia lebih menikmati gerakannya, mengambil waktu lebih panjang untuk melakukan grounding—hal yang diminta terapisnya untuk selalu dilakukannya.

Membantu Jungkook mengapresiasi hal-hal kecil yang masih dimilikinya dan berhenti untuk berfokus pada indera perasanya. Terapi-terapi pernapasan dan yoga yang menenangkan hingga Taehyung selalu bergabung dalam tiap sesinya; mereka duduk di dua matras berbeda, tangan terkait dan menikmati sesi yoga mereka.

“Hm?” tanya Jungkook tanpa menoleh dari kegiatannya di atas kompor sementara Bubble mengekornya ke sana kemari dengan ekor dikibas-kibaskan dengan ceria.

Luka di bagian bawah telinga Jungkook sudah mulai sembuh. Hanya luka kecil untuk memasukkan alat yang digunakan dokter untuk 'menyambung' kembali sarafnya.

“Seperti menyambung kabel.” Kata dokter saat Taehyung bertanya dan membuat perutnya mual membayangkannya.

Hasil MRI scan kedua Jungkook menunjukkan kemajuan pada sarafnya yang sekarang seharusnya sudah sembuh dan Jungkook diminta untuk tetap melatih lidahnya dan melakukan sip, spit and rinse test secara berkala untuk memonitor kemajuan corda tympani-nya dalam kesembuhan.

Dokter tidak menjanjikan 100% kesembuhan karena saraf yang rusak tidak bisa lagi bekerja sebagaimana sebelumnya, namun dokter merasa dengan tekad, Jungkook bisa setidaknya mengembalikan 40-50% kemampuan indera perasanya. Sudah cukup untuk membantunya makan dengan nyaman walaupun terkadang akan terjadi distorsi rasa.

Dan mendoakan keberuntungan untuk Jungkook dan karir kedepannya.

“Aku mencintaimu.” Kata Taehyung tersenyum lebar. “Aku senang melihatmu kembali berjalan-jalan, makan, menonton televisi; sehat dan normal.”

Jungkook tersenyum, mengaduk buburnya lalu tanpa sadar menuang sedikit ke telapak tangannya dan mencicipinya, sedetik pertama alisnya berkerut dengan mulut terbuka akan mengomel sebelum kemudian mendesah keras teringat kondisi barunya.

“Hei, hei, hei,” Taehyung bergegas bangkit, meluncur ke dapur dan memeluk pinggang Jungkook, mengaitkan tangnnya di atas perut Jungkook lalu mengecup lehernya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, oke?”

Jungkook memejamkan mata, mulai mengatur napasnya seperti yang diajarkan terapisnya untuk mengontrol tempramennya lalu mendesah. “Ya.” Katanya serak pada Taehyung yang bergelayut di sisi tubuhnya, mengusap rambut Taehyung lembut lalu mengecup bibirnya. “Aku hanya belum terbiasa saja.”

Taehyung nyengir. “Tidak apa-apa, kau butuh waktu dan aku memberikanmu seluruh waktu yang ada di dunia,” dia terkesirap saat Bubble melompat ke kakinya, menyakar-nyakar sisi betisnya mendengking meminta digendong.

“Kemari, Bocah manja.” Taehyung tertawa lalu meraup Bubble yang mendengking ceria, menjilat pipi Jungkook lalu menjulurkan lidahnya dan menelengkan kepalanya hingga Jungkook akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengecup hidungnya.

“Kau senang Dadda kembali? Kau senang?” tanya Taehyung menggoyang-goyangkan Bubble di pelukannya dan anjing itu mengonggong senang. Taehyung balas tertawa. “Aku juga senang.” Dia kemudian menatap Jungkook.

“Sangat senang.” Tambahnya lega dan menghampiri Jungkook yang menuang buburnya ke atas mangkuk. “Kau nyaris saja membuatku meninggal karena mengamuk seperti binatang buas begitu.”

Jungkook menunduk, memotong bawang dengan teknik chopping-nya yang cepat dengan suara tak-tak-tak-tak! nyaring dan menghasilkan potongan tipis cantik untuk ditaburkan di atas buburnya bersama bawang goreng dan sedikit kaldu jamur cair.

“Maaf,” Jungkook mendesah, membereskan alat masaknya lalu membawa makanan ke konter. Taehyung membiarkan Bubble duduk di konter—khusus hari ini dan menemani Jungkook makan.

Anjing kecil itu berbaring dengan dagu bertumpu di lengan Jungkook, matanya menatap Jungkook seolah tidak sudi jika Jungkook memutuskan untuk mengusirnya lagi dari kamar mereka.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Taehyung tersenyum, membuka kulkas dan mengeluarkan sekarton susu yang diminumnya langsung dari tempatnya. “Omong-omong, kau oke tentang rumah baru di Bali? Aku sudah terlanjur mengajukan pengunduran diri dan tidak bisa dibatalkan dan kau juga sedang cuti bekerja.

“Siapa tahu hidup di Bali akan lebih menyenangkan untukmu. Aku akan mencari pekerjaan baru di sana jika kau masih belum ingin bekerja. Nampaknya akan jauh lebih menyenangkan dengan suasana baru, kan?” Tambahnya dengan lembut, tanpa nada mendesak.

Membiarkan Jungkook untuk memilih apa saja yang terbaik untuknya—persis yang diajarkan terapis Jungkook pada Taehyung agar selalu berhati-hati dalam memilih kata yang digunakannya saat bicara dengan Jungkook.

“Tunangan Anda ibarat serigala alfa yang sedang terluka,” terapis Jungkook menjelaskan dalam satu sesi pribadi khusus Taehyung. “Kata-kata Anda dapat melukai atau membuatnya lebih baik. Dalam fase awal yang rentan ini, Anda harus benar-benar memerhatikan kata-kata yang Anda gunakan. Harga dirinya sedang terluka dan dia merasakan sedikit saja emosi Anda yang dianggapnya agresif, dia akan bersikap defensif.

“Saya berharap Anda cukup sabar dan telaten untuk mendampingi Saudara Jungkook selama beberapa saat ini.”

Maka Taehyung melakukannya.

Jungkook menatapnya. “Kau... tidak apa-apa?”

Taehyung balas menatapnya, tersenyum lebar. “Tentu saja tidak apa-apa, memangnya aku harus apa-apa?” Dia meletakkan susu di konter. “Aku malah senang jika bisa mendapat beberapa saat beristirahat dari pekerjaan.”

Jungkook menunduk ke buburnya lalu menyuap makanan itu dengan perlahan. “Menurutmu...” Dia memulai dengan perlahan, meletakkan sendoknya lalu menggaruk telinga Bubble yang memejamkan mata, menikmatinya. “Apakah aku masih bisa menjadi chef?”

“Tentu saja.” Sahut Taehyung seketika itu juga tanpa sedikit pun keraguan.

“Anda harus selalu menjawab keraguannya dengan kata-kata positif tanpa keraguan.” Terapis Jungkook menjelaskan saat itu. “Beri dia semangat, yakinkan dia bahwa dia mampu. Kembalikan percaya dirinya. Anda harus sangat yakin dengan setiap jawaban Anda sehingga tidak ada celah untuknya merasa Anda mungkin hanya sedang menghiburnya dengan white lies.”

“Kau akan tetap menjadi chef yang luar biasa.” Tambahnya ceria dan mantap, sama sekali tidak memutus kontak mata mereka. “Kita hanya perlu membantu lidahmu kembali pulih. Dan selebihnya? Kau sehat dan mampu unuk melakukannya. Kau baru saja memasak bubur yang aromanya lezat. Dan,” Taehyung meraih sendok Jungkook dan menyuapnya.

Bubur itu sempurna. Hangat, lezat, dibumbui dengan sempurna dan teksturnya mengangumkan. Rasa itu meledak di mulut Taehyung dan nyaris membuatnya mengerang lalu menghabiskan isi mangkuk Jungkook. Itu hanya bubur sederhana, tapi kemampuan chef bintang lima Jungkook tidak mati hanya karena depresi selama beberapa minggu.

Namun jika Taehyung mengatakan seperti itu, Jungkook mungkin berpikir dia sedang berusaha menghiburnya maka dia mendesah.

“Ini enak. Seperti masakanmu biasanya.” Dia nyengir. “Bukankah kau selalu menyombong tentang bagaimana kau bisa merasakan daging yang matang sempurna atau tidak hanya dengan buku jarimu seperti Gordon Ramsay? Itu, 'kan, keren!”

Jungkook menatapnya, mulai tersenyum kecil. “Kau memang sungguh luar biasa.” Katanya. “Apa yang sudah kulakukan di kehidupanku yang sebelumnya hingga aku layak mendapatkanmu sebagai pasanganku?”

Taehyung tersenyum, menggeser kursi konter hingga menghadap ke arahnya lalu duduk di pangkuan Jungkook, merangkulkan lengannya di leher Jungkook lalu menciumnya. Dengan berisik dan keras hingga Jungkook tertawa.

“Aku—,” dia mencium bibir Jungkook, “Sangat—,” dia mencium lagi. “Mencintaimu!” Dia mencium lagi lalu menakup wajah Jungkook dengan kedua tangannya, menatap langsung ke mata Jungkook yang berkilau oleh kebahagiaan.

“Jangan pernah meragukanku, oke?” tambahnya lalu mengecup hidung Jungkook dan dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya ringan hingga Jungkook mengerang tercekat—dia boleh saja sakit, tapi Taehyung yakin di bawah sana dia masih sehat.

“Sudah sebulan aku tidak disentuh,” gerutu Taehyung dengan wajah cemberut yang dibuat-buat hingga Jungkook tertawa kecil, membelai rambutnya dengan penuh rasa sayang. Bubble merespon tawa itu dengan gonggongan dan lolongan ceria.

“Kau sebaiknya lekas pulih sehingga aku bisa mendapatkan jatah harianku, Chef.”

“Siap, Chief.” Balas Jungkook, mendesah panjang lalu menempelkan kening mereka dan menutup matanya. Menghirup aroma Taehyung yang terasa aneh di hidungnya yang kebingungan. Namun hangatnya kulit Taehyung, kehadirannya yang menenangkan sudah cukup untuk membuat seluruh tubuh Jungkook rileks.

Dia akan menghadapi ini dengan Taehyung di sisinya.

“Um, omong-omong?” Bisik Taehyung saat Jungkook masih memejamkan mata, menikmati kebersamaan mereka.

“Ya?” balas Jungkook serak.

“Kau sudah cukup sehat tidak?”

Jungkook kebingungan sejenak lalu mengerjap dan tersenyum terhibur saat merasakan sesuatu menegang di antara kaki Taehyung.

“Hmm... Mungkin sudah,” sahutnya dengan suara serak rendahnya yang dia tahu akan selalu membuat Taehyung merinding. “Memangnya kenapa?”

Taehyung nyaris merengek menyedihkan saat mengatakan, “Aku boleh memberimu blowjob, tidak? Please? Aku tidak akan nakal! Hanya satu blowjob lalu kita semua senang!”

Jungkook tertawa.

*