The Chef #150

Taehyung mengeluarkan Bubble dari kandang cargo yang digunakannya selama penerbangan ke Bali dan mendapati dia sudah menghabiskan makanannya dan mendengking kehausan. Maka sebelum membereskan barangnya, Taehyung meraih mangkuk minum Bubble dan menuangkan air ke atasnya.

Jungkook berbaring di ranjang, mendesah panjang menatap ke jendela terbuka mereka yang memamerkan pemandangan kolam renang mereka yang mungil dengan pohon kamboja rindang di sisi pintu masuk dan pohon pisang hias yang hijau rimbun di sisi lainnya. Aromanya menenangkan dan suasananya begitu hening; jauh dari pusat kota dan lalu-lintas Ubud yang macet karena mereka tiba saat jam makan siang.

Bubble langsung meneguk airnya dengan rakus sementara Taehyung berlutut di sisinya, melepas pakaian yang dikenakannya ke Bubble untuk berpergian sebelum mendesah.

Dia harus melakukannya.

“Sayang.” Katanya lembut, menunduk menatap Bubble yang minum dengan suara cipak-cipak keras yang menenangkan. Bibirnya belepotan air dan Taehyung terkekeh geli. “Kau mau makan di luar malam ini?”

Dia menoleh dan menemukan Jungkook sekarang sedang memeriksa dapur kecil mereka dan nampak sangat tidak menyukai betapa kecil dan tidak lengkapnya tempat itu. Mereka hanya punya kulkas kecil sementara yang sekarang sudah penuh dengan bekal makanan yang dibawa Jungkook.

“Boleh.” Sahut Jungkook setelah memeriksa betapa tidak memuaskan dapurnya. “Lalu besok kita boleh ke toko elektronik? Aku ingin melihat kulkas, mixer dan microwave. Aku benci menata ulang dapur, tapi ya sudah tidak apa-apa.” Dia tersenyum lalu melepas topi yang sejak tadi digunakannya lalu mengusap rambutnya yang mulai memanjang dengan cepat.

“Kurasa kita bisa membeli tanah di belakang untuk memperlebar dapur dan menambah ruang,” dia melanjutkan. “Atau lantai dua? Satu kamar lagi untukmu bekerja dan kamar tamu?”

Taehyung menatapnya, tidak tahu harus mengatakan apa. “Oke,” sahutnya lemah.

“Omong-omong, katamu Yugyeom tinggal di sini?” Jungkook kembali berbaring di ranjang dan mendesah bersyukur atas aroma harum lembut seprai mereka. “Kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?”

Taehyung menggendong Bubble dan duduk di sisi ranjang, Jungkook merangkak dan berbaring di pangkuannya, mengecup perutnya. “Dia sudah pergi dua hari lalu dan aku meminta asisten rumah tangga membereskan rumah sebelum Yugyeom meninggalkannya.”

“Hm,” Jungkook memejamkan mata dengan wajah terbenam di perut Taehyung yang selembut adonan kue. Bubble mengendus-endus tempat tidur baru mereka lalu mendengking, bingung dengan tempat baru mereka.

“Ini rumah baru kita,” Jungkook memeluknya, mengecup kepalanya dan Bubble menatapnya. “Kau bisa bermain sepuasnya di sini. Ada kolam renang, ada halaman. Kau suka halaman?”

Bubble menatapnya, tidak faham konsep halaman setelah hidup di apartemen setelah sekian lama. “Halaman adalah harga yang kubayarkan untuk dapur kecil tidak lengkap.” Desah Jungkook dan Taehyung terkekeh.

“Rumah sempurna butuh waktu.” Taehyung membelai rambutnya, menyentuh bekas lukanya yang mulai mengering. “Minggu depan kita harus ke Siloam untuk tes lidahmu, jangan lupa.”

Jungkook mengangguk. “Mobil akan dikirim besok?”

“Seharusnya, tapi hanya mobilmu dulu. Mobilku menyusul. Uangnya tidak cukup,” Taehyung mendesah, dia tidak pernah ada di posisi kekurangan uang dan itu membuatnya agak pening untuk mengatur keuangan mereka. Syukurlah gaji terakhir dan pesangon mereka berdua lumayan untuk menutupi beberapa bulan jika hidup mereka ditaraf normal.

Dan jika Jungkook berkenan mengurus restorannya.

“Aku minta tolong Jimin untuk mengawasi apartemen hingga terjual dan barang-barangmu dikirim. Aku meminta mereka mengirim kulkasnya juga. Air-fryer dan microwave. Sayangnya ovenmu tidak bisa dibawa karena diinstal bersama dengan kompor listrik.”

Jungkook mendesah. “Aku butuh waktu lama untuk membangun dapur itu.” Lalu dia menatap halaman mereka yang bersih dan lembab setelah disiram dan tersenyum. “Kurasa halaman tidak buruk juga.” Dia buru-buru menambahkan sebelum Taehyung sempat tersinggung oleh kata-katanya. “Aku boleh membuat kebun hidroponik tidak?”

Taehyung tersenyum, senang tunangannya menemukan mainan baru untuk dikerjakan saat sendirian. “Tentu saja.”

Jungkook tersenyum cerah pada Taehyung terenyuh menatapnya. “Aku akan membuatkan seluncuran untuk Bubble dan membiarkannya berlarian di halaman.” Dia nampak seceria anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Dia mengerling. “Halaman tidak seburuk dapur kecil, kan?” Dan Jungkook tertawa mendengarnya.

“Baiklah, baiklah. Dapur ditukar dengan halaman.” Lalu Jungkook meraih Taehyung hingga berguling di kasur dan menghujaninya dengan ciuman hingga Taehyung tertawa dan Bubble menyalak ceria, menyusupkan badan kecil berbulunya ke antara mereka dan menumpukan dagunya di dada Jungkook.

Bersikap manja luar biasa semenjak Jungkook mengakhiri masa-masa berkabungnya. Bubble selalu jauh lebih peka pada perubahaan emosi Jungkook; sekecil apa pun itu. Dia akan menjilat kakinya, menggonggong ceria saat Jungkook tertawa lalu mendengking panjang, melolong menyedihkan saat Jungkook sedih.

Udara Bali yang sejuk, halaman baru mereka, gemericik air dari kolam renang dan aroma segar rumput basah ternyata memberikan banyak energi positif untuk Jungkook dan Taehyung lega sekali dia memilih tempat ini sebagai rumah mereka.

Sekarang hanya bagaimana caranya memberitahu Jungkook tentang restoran mewah yang berdiri di sisi lembah Campuhan yang seluruh timnya sudah siap, seluruh isinya sudah siap untuk soft opening besok.

Undangan dengan Responze S'il Vouz Plait (RSVP) sudah disebar dan lima puluh tamu istimewa yang semuanya adalah rekan kerja dan senior Jungkook dalam dunia kulinari sudah mengirimkan balasan positif kedatangan mereka. Taehyung sudah menerima email guest list dan table set dari manajer restoran dan mendapati restoran itu besok akan diisi oleh setidaknya setengah celebrity chef Indonesia dan beberapa nama chef legenda.

Rangkaian bunga-bunga raksasa sudah mulai dikirim ke restoran, semuanya sudah difoto dan dikirim ke Taehyung juga sebagai lampiran; semuanya diperuntukkan untuk Jungkook dengan doa semoga sukses dan sehat selalu. Bahkan ada bunga dari Enseval yang ditulis dengan: “Tunangan Chief Taehyung; Chef Jungkook. Selamat dan Sukses atas Restoran Barunya.”

Exposure besar-besaran dari tim PR sudah dijalankan; reservasi untuk grand opening sudah mulai berdatangan melalui website resmi mereka. Nama Jungkook serta makanan-makanan fusion-nya yang unik serta gastronomi-nya mengundang banyak sekali orang-orang penasaran.

Taehyung mencuri menu-menu itu dari Mac Jungkook semudah mencuri permen dari anak kecil karena Jungkook jelas-jelas melabeli foldernya dengan 'MENU RESTORAN' dan menjelaskan semuanya begitu detail hingga Yugyeom berkata, “Aku bisa mengerjakannya dengan mata terpejam walaupun aku seorang pastry chef.”

Yugyeom harus mencari satu sous chef dengan keahlian gastronomi untuk menggantikan sentuhan Jungkook untuk sementara sebelum dia berkenan menyentuh dapur dengan tangannya sendiri. Dan Taehyung masih ingat bagaimana ekspresi chef berusia 30 tahun lebih itu saat melihat sketsa makanan Jungkook dan menatap Yugyeom serta Taehyung dengan pandangan skeptis.

“Saya bisa mencoba,” katanya dengan logat Bali-nya yang tebal dan kental. “Tapi, saya tidak yakin hasilnya akan mendekati 60% sketsa ini.”

Untuk Taehyung, 60% adalah angka yang lumayan optimis dan setengah mengutuk sikap ambisius sinting Jungkook muda dalam mengejar karirnya hingga dia yakin tidak akan ada orang yang bisa menandinginya. Dia sudah mematok standar tinggi untuk rekan-rekan kerjanya.

Benar-benar bajingan congkak.

Beberapa menunya juga merupakan makanan khas Bali yang diberi sentuhan entah Barat atau Timur, disesuaikan dengan selera masyarakat Bali yang terbukti antusias. Belum lagi menghadapi pasar yang cenderung memiliki gaya hidup hedonis yang saat Jungkook mendirikan restoran mewah, masyarakat Bali tidak akan bisa menahan diri untuk tidak datang dan memamerkannya di sosial media demi gengsi.

Dia sudah menghitung profit dari angka kasar reservasi dan harga rata-rata menu restoran mereka, mendesah lega saat menyadari mereka akan mengantongi beberapa juta jika semua tamu reservasi datang. Walaupun jika mereka membatalkannya, mereka akan dikenakan cancellation fee.

Jadi, bagaimana mungkin Taehyung membatalkan acara ini?

Lebih lagi Taehyung sudah menggelontorkan sisa tabungannya untuk modal awal restoran. Sederhananya, tidak ada jalan untuk kembali.

Maka jika Jungkook nanti marah padanya dan tidak mau menerima restoran ini, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Taehyung; dia harus memimpin restoran itu sendirian.

Dia harus mengembalikan semua uang yang sudah dia gelontorkan untuk proyek ini dan sebagai seorang akuntan dan pebisnis, dia tidak sudi uangnya dihabiskan untuk hal yang tidak membawa keuntungan sama sekali.

Semuanya akan bergantung pada bagaimana Taehyung dan Yugyeom sebagai kepala chef sementara untuk mengarahkan restoran.

Dia juga harus mengganti tabungan Jungkook yang digunakannya untuk restoran; sungguh, Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia sudah tercebur ke dalam kolam, pilihannya hanya berenang atau mati tenggelam.

Dia memilih yang pertama.

“Di mana kita akan makan malam ini?” tanya Jungkook berbaring di sisinya dengan Bubble melingkar di dadanya, tidur nyenyak. Belum berani mengeksplor rumah barunya dan nampak masih mabuk karena perjalanan di dalam cargo pesawat bersama hewan-hewan lain.

Jungkook nampak begitu santai, sangat bertolak belakang dengan kepala Taehyung yang berdentam-dentam memikirkan restoran dan bagaimana mengembalikan modal yang sudah digunakannya serta setengah mengutuk ketidaktahuan Jungkook yang menyenangkan.

Taehyung mengulum senyum lalu beranjak berdiri. “Di tempat yang pasti akan sangat kau sukai.” Lalu dia meraih koper mereka. “Sekarang bantu aku membereskan pakaian kita, Pemalas.”

Jungkook terkekeh lalu mengerang malas, memeluk Bubble dan berguling menyamping. “Tidak bisakah kita melakukannya besok?”

“Sekarang!”

“Baiklaaah, jangan galak begitu.”

*