The Chef #118
“Jeon Jungkook, buka pintunya.”
Mingyu berdiri di depan pintu dengan kepalan tangan menghantam daun pintu dengan penuh kemarahan. Dia sudah mengenggam kunci duplikat kamar Jungkook dan meminta pengurus apartemen untuk menghubungi ambulan rumah sakit terdekat untuk berjaga-jaga.
Dia tiba beberapa menit lalu dengan kunci di tangan dan ekspresi yang begitu keras penuh amarah hingga Jimin dan Taehyung mundur darinya, Jimin memeluk Taehyung yang histeris menjauhkannya dari Mingyu yang mengamuk—sama murkanya dengan Jungkook yang di dalam sana sedang menghajar pintu yang tidak bersalah.
“Kau memang tidak pernah bisa diberi belas kasihan,” kata Mingyu praktis menggeram, dia benar-benar nampak murka sekarang. “Kau selalu begini setiap kali orang bersikap lembut padamu. Kau memang binatang liar yang harus dipecuti untuk menurut. Buka pintu ini sekarang atau aku terpaksa mendobraknya terbuka.”
Jungkook tidak menjawab, dia meraung sekali lagi. Mengatakan hal yang tidak bisa mereka dengar dengan baik karena suara seraknya dan Taehyung gemetar. Bibir bawahnya bergetar dan air mata terus meleleh dari sudut matanya; dia ketakutan, dia begitu trauma dengan situasi ini. Jutaan 'bagaimana jika' berputar di kepalanya, dia takut Jungkook akan bersikap nekat atau bodoh di dalam sana dan menghilangkan dirinya sendiri dari hidup Taehyung.
Dia gemetar membayangkannya.
Sudah satu bulan dia bertahan dalam suasana berkabung atas wafatnya seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Tidak ada siapa pun yang meninggal tapi tiap kali dia memasuki rumah dan melihat pintu tertutup itu, hatinya terasa begitu berat dan seluruh energinya yang terkuras habis membuatnya pening. Emosinya koyak oleh sikap diam Jungkook. Dia masih harus mengurus restoran Jungkook dan juga job description-nya sebagai chief accountant dengan audit pusat yang akan dilaksanakan minggu depan.
Seluruh saraf Taehyung mungkin sedang setegang kawat saat ini dan tidak butuh waktu lama hingga otaknya konslet dan dia terkena stroke jika Jungkook masih tetap bersikap egois.
“Kau selalu fokus pada lukamu sendiri, kau selalu fokus pada seberapa hebatnya penderitaanmu dan kau luput menyadari bahwa tunanganmu sedang tersiksa oleh sikap sialanmu ini,” Mingyu menghantamkan pukulannya lagi ke pintu yang berdentum dan bergetar hingga buku-buku jemarinya memerah.
“Kau sedang membunuh Kim Taehyung bersamamu, kau dengar aku, Bangsat keras kepala? Kau sedang membunuh tunanganmu! Inikah balasanmu atas seluruh sikap sabar dan perhatiannya padamu? Dengan bersikap seperti bajingan tengik?!
“Kau sedang frustasi, kau depresi, kau stres; aku faham! Kami semua faham! Tapi apakah kemudian kau merasa kau berhak melakukan ini pada semua orang?! Kau harus dibantu Jungkook, kau harus dibantu dan kau berhak dibantu! Kau hanya terlalu gengsi untuk meminta bantuan kami! Aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini.
“Berhenti bersikap egois dan keras kepala sekarang. Kami akan membantumu! Kau tidak harus merangkak di sana sendirian, bersikap menyedihkan padahal kau masih bisa memasak dengan kedua tanganmu!
“Kau merasa hidupmu menyedihkan? Mimpimu berakhir?” Bahu Mingyu naik-turun dengan penuh kemarahan dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya hingga buku-buku jemarinya memutih. “Itu karena kau sendiri berpikir seperti itu, kau dengar aku, Bajingan?!
“Kau yang berpikir seperti itu!
“Jika saja seluruh energi yang kauhabiskan untuk mengamuk ini kau gunakan untuk melatih indera perasamu, kau sekarang pasti sudah bisa menggunakannya—mungkin tidak sempurna, setidaknya kau bisa. Tapi apa yang kaulakukan? Bersikap dramatis sepanjang waktu seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Memalukan.”
“Mingyu!” Seru Taehyung gemetar; jantungnya berdebar. Apakah ini keputusan yang benar dengan membawa Mingyu kemari? Ataukah kata-katanya hanya akan membuat Jungkook semakin terpuruk? “Kau kelewatan! Dia sedang terpuruk!”
“Oh, ya. Dia terpuruk.” Balas Mingyu menoleh padanya, dengan humor kering yang menjurus sarkasme sekental madu. “Lalu apa yang sedang terjadi padamu sekarang? Tidakkah kau juga terpuruk karena sikap bajingan tunanganmu yang congkak ini? Tidakkah kau juga lelah meladeninya?”
“Kau catat ini, Kim Taehyung,” katanya. “Jeon Jungkook adalah binatang. Dia memang tidak pernah boleh diberi rasa kasihan dan perhatian yang lembut. Dia memang harus dipecuti. Dia ini hidup dari kerasnya dapur, amarah dan bentakan. Sikap lembutmu akan membuatnya semakin dramatis.”
Detik Mingyu menyelesaikan kata-katanya itulah kemudian terdengar suara kunci terbuka dan seluruh orang di ruangan itu terkesirap menoleh ke daun pintu. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Taehyung tidak bisa memprosesnya. Mingyu tidak sempat menoleh karena kemudian dia terkesirap kaget saat bogem mentah dilayangkan ke rahangnya dengan suara gedebuk keras.
Mingyu mengerang keras merespon pukulan itu dan ambruk ke lantai dengan suara keras, dia menyentuh bibirnya yang berdenyut mengerikan. Namun, dia nampak geli.
“Kau haram jadah sialan.” Geram Jungkook, berdiri menjulang di atas Mingyu yang terbaring di lantai dengan darah di sudut bibirnya.
Jungkook nampak seperti binatang buas dalam balutan kaus singlet dan celana jogger kesukaannya yang pudar. Dia belum bercukur dan rambutnya mulai tumbuh. Wajanya pucat, bobotnya turun beberapa kilogram dan membuat otot-ototnya layu. Ada kantung mata yang gelap pekat di bawah matanya, wajahnya merah padam karena tangis dan amarah.
Bekas-bekas luka baru ada di mana-mana; di mana-mana di seluruh tubuhnya dan membuat Taehyung dan Jimin menyadari bahwa selama berada di dalam, Jungkook telah menemukan cara untuk melepaskan sakitnya dengan melukai dirinya sendiri.
Dia nampak buas sekaligus ringkih dengan tulang punggung yang melengkung aneh dan ekspresinya yang liar karena baru pertama kali melihat cahaya dan nampak seperti buronan yang menghabiskan waktu di bawah bunker untuk melindungi diri dari tentara perang.
“Kau lihat,” Mingyu tersenyum, mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. “Begitulah caramu menghadapi binatang.”
Dia menatap Jungkook yang berdiri di atasnya. “Kau masih ingin menghajarku, Bung? Silakan saja.” Katanya dengan nada mengejek dan saat Jungkook mengejang untuk menekan dada Mingyu dengan lututnya, Taehyung menghambur ke arahnya.
Menubruknya dengan terlalu kuat hingga Jungkook yang selama ini lemah oleh kesedihan dan depresi oleng dan terhuyung ke lantai dan Taehyung terkesirap keras karena tidak memperhitungkan bahwa Jungkook jauh lebih lemah dari yang diperkirakannya serta berhasil menyelipkan tangannya di bawah kepala Jungkook untuk menahan momentum kejatuhan mereka tepat waktu, menahan kepala Jungkook dari menghantam lantai dengan cekatan.
“Tidak, tidak!” Serunya gemetar, tubuhnya berguncang hebat dan air mata merebes dari matanya. “Tidak lagi, Sayang. Tidak, tolong...” Dia menangis, merunduk ke dada Jungkook dan terisak liar; air mata menetes dari matanya, membasahi kaus Jungkook dan membuat binatang buas di bawahnya mengerjap.
Disorientasi lalu menghela napas tajam.
“Taehyung?” bisiknya dengan suara pecah, seolah baru saja ditarik naik dari dalam air yang begitu dalam lalu ditampar. Dia kebingungan.
Taehyung mendongak. “Ya,” katanya lembut, tersenyum. “Iya, ini aku, Sayang. Ini aku....” Lalu dia tersedak air mata dan tawanya sendiri. “Kau mau makan? Kumohon?”
“Kau harus makan,” Mingyu berdiri, bibirnya mulai kebiruan dan dia berdecak saat sakit menyerang rahangnya. “Sebagai ganti telah membuatku lebam.” Dia lalu mendesah, “Bung, apakah kau memang berencana untuk membunuh dirimu sendiri dan Taehyung sekaligus?”
Jungkook menatap kekasihnya dengan matanya yang merah. Tangannya yang kurus menyentuh wajah Taehyung dengan ujung-ujung jemarinya seolah Taehyung adalah barang pecah belah yang harus diperlakukan dengan lembut.
“Kau kurusan, ya?” Tanyanya serak, membelai wajah Taehyung yang memejamkan mata dengan gemetar. Jungkook mengangkat tubuh atasnya, membenamkan wajahnya di rambut Taehyung. “Kau tersiksa, ya?” Tanyanya lagi, gemetar seperti orang yang baru saja dihajar. “Aku menyakitimu, ya?”
Mingyu mendesah, “Tentu saja kau—ADUH!” Mingyu mengakhiri kalimatnya dengan mengaduh keras karena Jimin menendang tulang keringnya. Dia menoleh dan Jimin mendelik marah padanya. “Untuk apa itu?!” Tanyanya gusar.
“Diam!” Desis Jimin, dengan jejak air mata kering di pipinya. Nampak jengkel. “Diam saja!”
Dan mereka menyaksikan dalam diam saat Jungkook meraih kepala Taehyung dengan lembut lalu menciumnya. Jimin dan Mingyu mengalihkan padangan dengan sopan, memberi kesempatan untuk keduanya berbaikan.
Jungkook membiarkan seluruh dirinya larut pada kelembutan Taehyung, pada kulitnya yang hangat, pada detak jantungnya yang menenangkan dan bagaimana nyamannya lengan kurus Taehyung terasa saat merangkul lehernya. Bibir Jungkook terasa sepat, kering dan mungkin saja bau, tapi Taehyung tidak berhenti menciumnya.
Mereka berbagi kerinduan, sakit dan duka yang selama ini menghantui tiap tidur mereka. Berbagi air mata yang selama ini terpisahkan pintu yang terkunci. Semua kebingungan, semua rasa frustasi, semua amarah dan semua pikiran pendek Jungkook tentang hidupnya perlahan memudar saat kehangatan Taehyung memeluknya.
Dia merasa lebih baik, nyaris seperti sihir apa yang dilakukan Taehyung padanya dan pada hidupnya.
Dan malam itu, Jungkook berbaring di pangkuan Taehyung. Setelah menghabiskan makan malamnya dan mandi. Menolak melepaskan Taehyung dan menolak sendirian lagi. Dia tidak mau lampu dimatikan, tidak sudi bahkan jika Taehyung harus pergi ke toilet.
“Begitulah,” Mingyu tersenyum, berdiri di pintu mengamati Jungkook yang terlelap dalam balutan selimut dan seprai baru yang digantikan oleh Jimin sementara Taehyung menyuapi Jungkook makan dan membantunya mandi.
“Dia memang harus dikata-katai,” Mingyu tertawa serak. “Kau mungkin harus belajar melakukan ini, Tae.”
Taehyung yang bersandar di kepala ranjang tertawa serak. “Baiklah,” katanya lelah namun luar biasa lega karena dia akhirnya memeluk tunangannya di kedua lengannya; mengobati semua luka di lengan dan kakinya dengan perlahan dan dia sekarang tidak akan pernah meninggalkan sisi Jungkook. “Akan kuingat-ingat.”
Mereka berpandangan dan Taehyung tersenyum. “Trims, Mingyu?”
Mingyu membalas senyumnya. “Anytime for an old friend.” Lalu dia mendesah, meregangkan tubuhnya lalu Jimin melongok dari sisinya.
“Seprainya sudah kumasukkan ke mesin cuci. Harusnya sebentar lagi bisa dijemur setelah Jungkook tidur.” Dia menatap tubuh Jungkook yang berbaring nyaman di ranjang dan mendesah. “Harimau bengala buas yang menyusahkan sekali,” dia mendelik sayang pada Jungkook yang terlelap dan Taehyung tersenyum, membelai kening Jungkook dengan jemarinya.
“Kami pulang dulu, oke?” Mingyu bangkit. “Kami akan kembali lagi besok. Telepon kami jika kau butuh bantuan, ya? Jangan bersikap seperti Jungkook.” Dia memutar bola matanya lalu menambahkan. “Apa pun yang kukatakan tadi, percayalah aku sayang Jungkook.”
“Kau menyebutnya bangsat.” Sela Jimin mengingatkannya dengan baik hati.
“Aku sayang Jungkook.”
“Lalu bajingan.”
“Sudah kukatakan—.”
“Juga binatang.”
Mingyu mendelik. “Park Jimin.”
Taehyung tertawa serak. “Sudah, sana pergi kalian semua. Kalian hanya akan membuat Jungkook terbangun. Beristirahatlah.” Dia tersenyum. “Maaf aku tidak bisa mengantar kalian.”
“Tidak apa-apa,” Jimin nyengir. “Urus dulu bayi besarmu, oke? Sampai ketemu besok, Taeby! Jangan lupa istirahat juga.”
“Sampai ketemu besok, Jimini.”
Mingyu berhenti lebih lama setelah Jimin beranjak ke depan lalu menatap Taehyung. “Sekarang,” katanya dengan kelegaan yang menular pada Taehyung; merayap di tulang punggungnya seperti disiram air dingin. “Semuanya akan mulai baik-baik saja. Have faith.”
Taehyung menatap Jungkook yang terlelap dan menghela napas lega—sangat lega seolah beban langit baru saja diangkat dari bahunya. “Syukurlah.” Balasnya.
Syukurlah.
*