The Chef #127

“Sampai ketemu besok, Jimi!”

Jimin melambai ceria. “Sampai ketemu, Tae!” Lalu memasuki lift dan berpisah dengan Taehyung yang tinggal di tower berbeda dengannya namun mereka tidak jarang pulang bersama satu mobil dengan Taehyung.

Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan menekan speed dial #2 yang adalah nomor Jungkook seraya menekan lift. Hari ini ada audit dari pusat dan Taehyung benar-benar lelah setelah rapat berjam-jam dan menemani auditor berkeliling mengecek laporan-laporan dan keuangan mereka bersama Bogum.

Mereka masih punya satu hari lagi untuk berhadapan dengan auditor dan Taehyung sudah merasa tubuhnya remuk.

Hal yang dibutuhkan Taehyung adalah mandi air hangat bersama Bubble dan jika Tuhan mengizinkan, bersama Jungkook juga. Namun setelah kemarin mereka “mengetes” kemampuan Jungkook di ranjang, nampaknya Taehyung harus bersabar lagi karena gerakan statis membuat kepala Jungkook pusing lebih cepat dan dia mengalami black out selama sepuluh detik penuh yang membuat Taehyung sejenak terkena serangan jantung.

Mendesah, dia menyandarkan punggung ke dinding lift dan mendesah sementara di seberang sana sinyal terganggu dan Jungkook belum mengangkat teleponnya. Mungkin sedang di kamar mandi atau memandikan Bubble. Dia mematikan ponselnya dan akhirnya menunggu lift tiba di lantai apartemen dengan menatap lurus ke pintu lift yang tertutup.

Kemarin saat Jungkook tidak sengaja merasakan pahit oseng pare yang dimasaknya, mereka semua meledak dalam perasaan gegap gempita yang memabukkan namun setelahnya saat Jungkook mencoba lagi, rasa itu tidak muncul.

Hati Taehyung nyeri saat mengingat ekspresi Jungkook saat kebahagiaan meluntur dari wajahnya dengan perlahan seraya dia mengunyah oseng parenya dengan khidmat dan mendesah panjang, menatap Taehyung seperti anak anjing terlantar yang sedih.

“Tidak ada apa pun.” Katanya dengan suara yang pekat oleh kekecewaan dan Taehyung bergegas memeluknya, menghujani wajahnya dengan ciuman serta pujian bahwa Jungkook sudah melakukan hal yang terbaik.

Dia nampak begitu kecewa dan terluka hingga Taehyung memeluknya begitu erat, apa saja agar Jungkook tidak kembali mengunci diri di kamarnya namun pemuda itu memejamkan mata, bernapas melalui mulutnya sebelum akhirnya menghela napas dan tersenyum.

“Kita coba lagi nanti,” katanya lalu meraih tengkuk Taehyung dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.

Taehyung tersenyum, merona mengingat ciuman itu.

Setelah sekian lama tidak menyentuh satu sama lain, hal sekecil apa pun membuat Taehyung mengerut seperti kuncup mawar. Bahkan tatapan panas Jungkook yang menyapu tubuhnya dengan pemujaan pun terasa membuat jemari kakinya menguncup. Dia bergidik membayangkan Jungkook dan terkekeh, merasa kembali ke masa awal pacaran mereka yang diisi oleh ledakan-ledakan gairah yang memusingkan.

Mereka berciuman dan bercinta seperti tidak ada hari esok untuk melakukannya. Bukannya mereka tidak begitu sekarang, namun Taehyung selalu takjub bagaimana mereka bisa tetap begitu bergairah pada satu sama lain setelah sekian lama bersama; tidak pernah bosan ataupun jenuh.

Mungkin asiknya saat memilih selai apa yang akan mereka gunakan nanti malam berkontribusi pada hubungan seksual sehat mereka.

Hari dimana Jungkook melamarnya, dia meminta Taehyung untuk datang ke Pasola untuk makan malam berdua, memesankan meja terbaik di sana dan keluar dengan pakaian chef-nya yang menakjubkan itu lalu meletakkan makanan di meja Taehyung sebelum menciumnya dan mengambil posisi di hadapannya, melepas topi dan harnet yang membungkus rambut gondrongnya hingga jatuh seperti tirai lembab di wajahnya yang tampan.

Taehyung tahu dia akan dilamar—seratus persen yakin.

Seluruh Pasola menatap mereka dengan penasaran karena Taehyung mendapatkan kesempatan untuk makan malam bersama head chef The Ritz. Jungkook terlalu berlebihan dalam mengekspresikan perasaannya dan dia benar-benar bodoh membuat kejutan.

Dan, benar. Taehyung dilamar hari itu dengan sepotong kue sampanye yang lezat dengan taburan stroberi kering yang meledak saat dikunyah.

Taehyung nyaris menelan cincinnya karena menyuap kue itu dalam dua suapan raksasa yang membuatnya harus meludahkan makanannya ke serbet yang digunakannya dengan wajah merah padam oleh rasa malu saat menemukan cincin perak di dalam mulutnya, tercampur dengan makanan setengah terkunyah.

“Kau sungguh benar-benar luar biasa,” kata Jungkook geli malam itu, nampak memancarkan cahayanya sendiri seperti matahari saat dia berdiri, meraih cincinnya tanpa sedikit pun merasa jijik dengan sisa makanan di permukaannya, mengelapnya di apron chef-nya yang putih bersih lalu berlutut di hadapan Taehyung.

Seluruh restoran mendesah panjang, anak-anak servis melongok penasaran dari belakang dan Jungkook mendongak, menatap Taehyung yang tersenyum lebar.

“Kim Taehyung,” katanya serak, beraroma tajam rempah setelah seharian berkutat di hot kitchen. “Will you give me the extreme honor to marry you?”

Apa lagi yang harus dijawab Taehyung? Tentu saja: “Ya. Ya!”

Dan Jungkook menyelipkan cincin itu ke jarinya, lalu meraihnya ke dalam pelukannya. Mengaitkan kaki kurus Taehyung ke pinggangnya yang langsing dan menciumnya. Seluruh restoran bertepuk tangan, menyelamati mereka berdua walaupun Taehyung harus menahan malu karena digendong seperti bayi koala dan diputar di tengah ruangan.

Lift berdenting dan Taehyung mengerjap, dia bergegas keluar. Masih tersenyum mengingat hari dimana Jungkook melamarnya. Bagaimana mereka pulang ke rumah dan Jungkook langsung meraihnya ke dalam ciuman yang panas, menendang pintu mereka terbuka lalu bercinta dengannya hingga subuh.

Dia bergidik dan mendesah. Sepertinya dia akan berakhir bermain solo jika dia terus-terusan mengingat kehidupan seks mereka.

Taehyung berhenti di depan pintu kamar mereka, baru saja akan membuka kuncinya saat pintu menjeblak terbuka dan aroma susu dan stroberi menampar wajahnya yang lelah dan bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum lebar hingga matanya berubah menjadi sepasang bulan sabit mungil dan pangkal hidungnya berkerut.

“Kau sudah pulang.” Desahnya lega; sangat lega hingga membuat Taehyung kembali bergidik lalu Jungkook meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan menutup pintu dengan tangan lainnya yang bebas.

Aroma pekat susu dan stroberi bahkan jauh lebih kuat di kaus dan apron Jungkook. Taehyung terkekeh, membalas pelukannya sementara Jungkook membenamkan wajahnya di rambut Taehyung, menghirup aromanya dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisiknya teredam di rambut Taehyung.

“Clingy baby,” Taehyung membelai punggungnya yang berotot. “Apa yang kaukerjakan? Kau beraroma seperti susu stroberi.” Dia mengangkat wajah, menatap Jungkook yang rambutnya mulai tumbuh dan lukanya mengering.

“Kue,” dia nyengir. “Kuharap kau belum makan? Aku juga membuat sate padang. Tinggal dihangatkan agar kau menyantapnya dalam kondisi hangat.”

“Tentu saja belum.” Desah Taehyung membayangkan rasa sate padang yang hangat dan lezat.

“Silakan mandi dan berganti baju, aku akan menyiapkan makan malammu.” Dia mengecup kening Taehyung hangat lalu melepaskannya.

Taehyung menatapnya, menatap bagaimana apron membalut tubuh Jungkook dengan begitu indah dan wajahnya yang ceria. “Jika aku yang di atas dan aku yang bergerak, kau pusing tidak?”

Jungkook tertawa. “Entah,” dia menyapukan tatapan tertarik pada tubuh Taehyung lalu menyodoh bagian dalam mulutnya dengan lidah, membuat lutut Taehyung berubah menjadi agar-agar. “Kurasa kita bisa mencobanya malam ini.”

*