The Chef #105
Jungkook belum pernah gagal sekali pun dalam hidupnya.
Dia selalu mendapatkan segala hal yang diinginkannya dengan mudah. Memulai sebagai commis muda yang ambisius, disayangi oleh head chef-nya sehingga perjalanannya meniti karir dimudahkan dan diperlancar. Dia naik menjadi demi chef, lalu chef de partie lalu menjadi second sous chef dengan begitu lancar; dia selalu percaya tidak ada hal yang tidak bisa dilakukannya.
Hal ini membuatnya tumbuh menjadi seorang chef yang penuh percaya diri, keras kepala, congkak, berkemauan keras dan begitu berambisi dengan hidupnya—selalu yakin bahwa hidup akan jauh lebih berarti saat dia memiliki ambisi tentang ke mana dia ingin membawa hidupnya sendiri.
Maka dia menjadikan dirinya sendiri seorang juru masak yang dihormati oleh rekan-rekan sesamanya di dunia kulinari. Mendapatkan tatapan segan karena kemampuannya memasak setelah bertahun-tahun memaksa dirinya untuk terus berproses secara berkelanjutan untuk mengalihkan duka dari hatinya. Dia menjadikan dirinya hebat dalam spesialisnya; memperkuat basic-nya di Indonesian cuisine sebelum merambah ke fusion food, molecular gastronomy dan bahkan pasty.
Jungkook ingin jadi yang terhebat.
Maka dia menjadi yang terhebat.
Sesederhana itu.
Dia tidak tahan untuk tidak memiliki segala yang terbaik di dunia ini; karir, kehidupan, teman-teman bahkan pasangan hidup. Dia hanya akan mendapatkan yang terbaik, dia tidak tahan jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Hanya karena dia memang selalu mampu mendapatkan segala hal yang diinginkannya.
Jeon Jungkook selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, mengenggamnya dengan erat seperti seorang bayi yang mengenggam mainannya. Menjerit saat seseorang merampasnya dan akan menghalalkan apa saja untuk mendapatkannya kembali.
Dan saat seluruh mimpi, hidup dan angannya merembes dari sela-sela jemarinya seperti air, dia tidak bisa melakukan apa pun. Perasaan asing ini membuatnya frustasi, membuatnya marah karena sekuat apa pun dia mengenggam, dia hanya menyakiti dirinya sendiri karena bulir air itu terus merembes—tidak akan berhenti hingga seluruh esensi diri Jungkook lenyap dan kering.
Seperti telapak tangannya.
Matanya terbuka ke kamar yang remang-remang dengan cahaya matahari merembes dari bagian bawah tirai jendelanya yang selalu ditutup dan menyadari bahwa ini sudah pagi. Kamarnya hening, hanya terdengar detak jam di meja sisi ranjang. Di luar sana, sayup-sayup dia mendengar tunangannya sedang menyiapkan makanan bersama anak anjing mereka yang menyalak ceria. Ada suara televisi yang dinyalakan, langkah kaki Taehyung di ruang tengah dan toaster yang berdenting saat rotinya matang.
Dunia yang terasa begitu jauh dari tangan Jungkook; seolah mereka berada di sisi lain dunia alih-alih di balik pintu kamarnya yang gelap dan menyesakkan oleh duka dan kegagalan.
Jungkook mendesah, mengusap wajahnya dengan tangannya. Kenapa dia masih harus terbangun? Kenapa dia tidak mati sekalian?
Dia tidak ingat ini hari keberapa dia sudah bertahan di dalam kamar, mengunci Taehyung dan seluruh dunia di luar sana agar tidak ada yang bisa menyentuhnya. Dia menutup tirai kamar, membuat tempat itu segelap mungkin agar dia tidak bisa berpikir—tapi toh dia tetap berpikir.
Kepalanya kembali melayang ke hari itu, hari saat Taehyung memasuki ruangan perawatannya sendirian dan tersenyum letih dengan wajah merah padam dan mata yang sembab. Dia merasa sangat bersalah melihat betapa letih dan lelahnya Taehyung hari itu. Dia meminta izin untuk menyukur rambut Jungkook hingga habis—dan Jungkook merengek, tidak tahu bahwa rambut bukanlah hal satu-satunya yang harus dikorbankannya.
“Ageusia.” Kata tunangannya hari itu dari belakangnya, dengan alat menyukur habis rambut Jungkook dengan telaten dan cekatan saat Jungkook bertanya kenapa dia harus di operasi. Jungkook tidak bisa melihat ekspresinya.
“Apa itu ageusia?” Tanyanya, tidak faham dan menatap bagaimana rambutnya dicukur habis dan mendesah, rambut bisa tumbuh kembali—begitu pikirnya. “Apa yang akan mereka lakukan dengan kepalaku?”
Taehyung tidak menjawab, begitu lama hingga Jungkook akhirnya menyetuh tangnnya. “Sayang?” tuntutnya. “Apa itu ageusia?”
Lalu Taehyung gemetar dan mulai terisak, tangannya meluncur turun dari kepala Jungkook, alat cukur elektrik yang digunakannya jatuh berkelotakan di lantai sebelum dia melangkah ke hadapan Jungkook, belutut di kakinya dan menangis. Begitu hebat hingga Jungkook merasa seluruh tubuhnya nyeri; dia meraih pipi Taehyung, kesulitan dengan collar neck-nya yang menyiksa.
“Sayang?” tanyanya hari itu dengan lembut. “Kenapa kau malah menangis?”
Taehyung membenamkan wajahnya di pangkuan Jungkook, terisak hingga napasnya tercekat-cekat dan dia tidak bisa bicara sama sekali. Tubuhnya berguncang begitu kuat dalam tangisan heningnya yang menyayat hati. Kedua tangannya mengenggam tangan Jungkook; terasa basah oleh keringat dan air mata serta potongan rambut Jungkook.
“Sayang,” katanya nyaris tersedak liurnya sendiri. “Maafkan aku, maafkan aku...” Dia kembali meledak dalam tangisan yang semakin membuat Jungkook bingung.
“Aku tidak faham jika kau terus menangis,” Jungkook membujuknya. “Memangnya apa yang parah? Apa salahmu? Bukan kau yang menyebabkanku jatuh lalu kepalaku terbentur, kan?” Cobanya menenangkan Taehyung yang gemetar di pangkuannya.
“Aku tidak gegar otak, aku tidak amnesia. Aku baik-baik saja, aku akan segera keluar dari ini; sehat walafiat dan kembali memasak.” Dia tersenyum cerah untuk menguatkan Taehyung yang masih gemetar di kakinya. “Kau tidak perlu khawatir.”
“Tidakkah kau bertanya-tanya mengapa semua makananmu hambar?” tanya Taehyung, berbisik. Mendongak dengan wajah merah padam dan jejak air mata membasahi pipi dan lehernya. “Tidakkah kau penasaran kenapa bahkan ayam rebusmu tidak amis?”
Jungkook mengerjap. “Bukankah makanan rumah sakit memang begitu?” sahutnya, bingung. “Memangnya lidahku yang salah?” Dia tertawa lembut, “Maksudmu lidahku tidak bisa merasakan apa-apa begitu? Aneh sekali, lidahku baik-baik saja, Sayang, ini cuma makanan rumah sakit.”
Tangisan Taehyung semakin liar dan Jungkook semakin bingung; tidak memahami apa yang sebenarnya membuat tunangannya menangis.
Dan dia baru menyadari ini semua saat Taehyung memberinya sebutir permen dengan tangan yang gemetaran hebat. Jungkook kebingungan, namun dia membawa permen itu ke mulutnya lalu menyesapnya.
Menanti rasa gula dan manis artifisial meledak di lidahnya dan dia bisa menenangkan Taehyung bahwa tidak ada yang terjadi dengan dirinya—dia sesehat kuda.
Namun tidak ada yang terjadi.
Jungkook terus menanti hingga permen itu meleleh habis di lidahnya; tetap tidak ada yang terjadi.
“Sial,” Jungkook di masa sekarang mengusap wajahnya, benci saat dia mengingat hari itu dan mendesah. Dia berguling terlentang di ranjang, merasa seperti seonggok daging rusak yang tidak diinginkan siapa-siapa.
Bagaimana bisa dia tetap menjadi chef dengan kecacatan pada sejata pamungkasnya? Bagaimana dia mencicipi masakan anak buahnya? Tidak akan ada yang mengakui kredibilitas kerjanya jika dia sendiri cacat seperti ini.
Jungkook mengerang lalu menutup matanya dengan lengannya. Dia merasa begitu hancur; rusak dan tidak bisa diperbaiki. Dia tidak berani menatap Taehyung, tidak kuasa melihat ekspresi tunangannya. Tidak ingin mengingat bagaimana ekspresi Jimin dan Yugyeom hari itu saat dia akhirnya menyadari bahwa lidahnya sama sekali tidak bereaksi terhadap rasa apa pun.
Mereka kasihan padanya—pada Jungkook.
Dan Jungkook tidak suka dikasihani.
Jungkook benci fakta bahwa dia sekarang butuh bantuan dan akan bergantung sepenuhnya pada orang lain tentang hal yang bisa dilakukannya sendiri.
Dia benci merasa tidak berdaya.
Pintu kamarnya diketuk dan dia menjulurkan lehernya dari selimut; itu Taehyung. Berpamitan untuk kerja, seperti biasa. Jungkook bahkan tidak menjawabnya, tapi dia selalu melakukannya dengan tekun seperti seorang bawahan yang setia.
Atau kekasih yang sangat mencintainya.
“Sayang, aku berangkat, ya? Makanan sudah kuletakkan di konter dan Bubble tidak aku taruh di kandang hari ini. Makanlah sesuatu; untukku dan untuk dirimu sendiri.”
Jungkook memejamkan mata.
Kenapa Taehyung masih bertahan dengannya? Kenapa dia tidak pergi saja meninggalkan Jungkook? Bukankah seharusnya dia melakukan itu? Kenapa dia tidak bosan Jungkook acuhkan? Kenapa dia masih terus berusaha?
Kenapa?
“Sayang,” ketukan terdengar lagi. “Aku tahu kau mendengarku.”
Jungkook diam. Selalu diam.
“Jangan menyerah dengan dirimu sendiri. Kami semua di sini akan menemanimu untuk melewati semuanya. Aku di sini untukmu. Kau tidak pernah sendirian.”
Jungkook masih diam. Mata dan paru-parunya terasa panas. Dia menarik lututnya lalu menumpukan keningnya di sana, bernapas dengan mulutnya mencoba untuk menelan kesedihan yang mulai membakar tenggorokannya.
Dia tidak bisa menyecap apa pun. Tidak satu pun makanan yang bisa dirasakannya.
Lidahnya berhenti berfungsi sama sekali. Dia terbiasa dengan lidah tajamnya; bagaimana benda itu bisa membantunya merasakan bumbu lain yang salah atau bumbu lain yang memperkuat rasa. Senjatanya dalam memasak selain kedua tangannya adalah lidah dan hidungnya.
Namun sekarang kedua organ itu bergeming, enggan melakukan apa pun. Jungkook merasa dirinya seperti seekor binatang yang tersesat karena hidungnya tidak bisa menunjukkan jalan untuknya. Dia tidak bisa membantu dirinya sendiri sekarang; dia kehilangan arah dan buta.
Mungkinkah dia tetap memasak dengan kedua indera vitalnya tidak bekerja sebagaimana mestinya?
Dia menunggu dalam diam dan kegelapan, dengan hati yang terhimpit oleh rasa sedih dan sesak saat akhirnya terdengar suara cakaran di pintu. Dia mengangkat wajahnya lalu beranjak dari kasur dengan kepala berdentam-dentam. Bekas operasinya masih terasa menyakitkan dan tiap kali dia bergerak, rasanya masih sakit.
Dokter menginformasikannya bahwa tubuhnya butuh setidaknya dua minggu hingga satu bulan untuk menyembuhkan diri dari trauma kepala, operasi saraf dan guncangan mentalnya. Dokter memintanya untuk bersabar dengan prosesnya dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Seolah Jungkook benar-benar membutuhkan doanya.
Jungkook menyeret tubuhnya ke pintu perlahan-lahan, memutar kunci terbuka lalu menarik daun pintu; menyisakan ruangan yang cukup untuk Bubble menyelipkan diri ke dalam sana. Anjing itu menyalak lalu mendengking keras, ekornya terselip ke dalam kedua kaki belakangnya dan dia menatap Jungkook dengan matanya yang bulat.
Tatapan itu menusuk hati Jungkook dan membuat matanya seketika panas oleh air mata.
Hati Jungkook terasa nyeri, lumpuh oleh rasa sakit. Dia bahkan sudah tidak bisa lagi menangis, namun saat dia merunduk dengan perlahan; mendesis keras saat jahitan di kepalanya tertarik dan meraih Bubble ke dalam pelukannya lalu bagaimana anjing kecil itu langsung menjilati wajahnya.
Mendengking penuh derita dan berusaha menghiburnya; seolah merasakan setiap sakit yang Jungkook coba abaikan belakangan ini. Seolah memberitahu Jungkook bahwa dia merasakan semua yang Jungkook rasakan; dia ingin membantu. Dia ingin menghiburnya.
Jungkook merosot. Berlutut di lantai dan mulai menangis tanpa suara.
Mulutnya terbuka, berusaha menghela napas karena hidungnya tidak kuasa melakukannya sendiri. Ulu hatinya terasa terbakar, tenggorokannya tercekat dan dia merasa seluruh sendinya ngilu. Tubuhnya bergetar, seperti onggokan mesin rongsokan yang berusaha tetap bekerja dalam keadaan setengah rusak.
Dia mencengkram dadanya, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang bergelayut di sana dan membukul-mukulnya dengan air mata yang meleleh dari matanya hingga ke pipi dan lehernya.
Sakit, sakit sekali.
Jungkook tidak tahu bagaimana caranya mengenyahkan sakit itu. Dia tidak bisa menemukan titiknya. Apakah itu jantungnya? Bukan. Sakitnya ada jauh di belakang jantungnya, di balik paru-parunya. Membakar seluruh organ vitalnya menjadi abu dalam sengatan rasa sakit yang panas.
Bubble mendengking keras, memohonnya untuk berhenti menangis dan menempelkan dirinya semakin erat di sisi Jungkook. Menjilat lutut Jungkook dengan lembut lalu kembali mendengking.
Karir yang selama ini disusunnya dengan hati-hati, kini kandas. Dia tidak bisa memasak lagi, dia tidak bisa menjadi chef.
Untuk apa lagi sebenarnya dia hidup jika seluruh ambisi dan identitasnya dicabut takdir? Jungkook tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa kesibukan dapur, tanpa menyiapkan makanan, tanpa bergerak dinamis seharian melemaskan otot dan stres yang bergelayut di kepala belakangnya.
Bubble mendengking lalu menangis di sisinya, menempelkan tubuhnya di sisi Jungkook dan mengeluarkan suara-suara memohon yang tidak didengar Jungkook karena telinganya yang berdenging oleh tangisannya sendiri.
Dia gagal.
Hidupnya hancur.
Dan kenapa dia masih hidup?
*