The Chef #98

Jungkook merasa tubuhnya melayang dalam keadaan sadar dan tidak sadar; terombang-ambing seperti sepotong papan di lautan lepas yang ujungnya nampak seperti fatamorgana.

Dia mendengar suara sayup-sayup berbicara dengan nada gelisah dan khawatir. Mendengung seperti lebah pekerja. Lalu tangan seseorang menyentuh tangannya dan mengusapnya lembut; sentuhan itu membuatnya tenang seketika itu juga, persis seperti suntikan morfim ke aliran darahnya yang sekarang menderu hingga telinganya berdenging.

Seseorang di sisinya bergerak, mengirimkan selapis aroma yang membuat Jungkook sejenak tertegun. Aroma itu... terasa aneh. Tidak jelas. Terlalu membingungkan. Aroma apa itu? Parfum? Keringat?

Otaknya tidak kuasa mengenalinya.

Napasnya mulai memburu, merespon rasa takut dan cemasnya karena tidak bisa mengenali aroma orang yang duduk di sisinya. Seseorang itu menyadari pergerakannya dan bergeser; kursinya berderit dan Jungkook bisa merasakannya memutar tubuh hingga menghadapnya.

“Hei, Bayi,” kata suara itu dengan serak dan kelelahan.

Itu Taehyung. Taehyung-nya.

“Kau sudah bangun?” tanyanya lagi dengan lembut, memijat tangannya yang kebas dengan perlahan dan mengirimkan aliran darah segar ke ujung-ujung jemarinya yang mengerut.

Suara itu menarik Jungkook ke alam sadar; merasakan banyak rasa sakit yang menusuk-nusuk tubuhnya, khususnya bagian sisi kepalanya yang sekarang berdenyut mengerikan. Dia meresponnya dengan ringisan yang langsung membuat Taehyung menjangkau dan menekan alat yang bersuara 'bip' nyaring dalam setiap tekanan; Taehyung menekan dua kali.

“Kunaikkan dosis morfimnya, tenanglah.” Katanya kemudian setelah menekan tombol morfim yang ditancapkan ke infus Jungkook. “Sebentar lagi sakitnya akan hilang, aku janji.” Tambahnya selembut kelopak mawar, mencium pelipis Jungkook dengan penuh kasih sayang.

Jungkook berbaring dengan kelopak mata tertutup; bisa merasakan sinar menyilaukan merembes dari kelopaknya yang tertutup. Perlahan tapi pasti setelah morfim menenangkan sakitnya, seluruh inderanya bangkit. Dia bisa mendengar suara-suara obrolan, pintu yang ditutup, suara langkah kaki di lorong depan. Keriuhan rumah sakit yang menenangkan, terdengar jauh dari ruang rawat inapnya.

Dia ingat dia terpeleset pasir yang menumpuk di lantai bangunan barunya dan merasakan kendalinya atas tubuhnya sendiri lenyap; dia ingat wajah kaget Yoongi dan mandornya dan dia melakukan refleks dengan mengangkat lengannya serta menolehkan wajahnya ke kanan untuk melindungi diri.

Sakit merobek kepalanya dan membuat otaknya nyeri tak terhingga dan dia menyerah dalam ketidaksadaran tepat saat Yoongi menghela napas dengan wajah sepucat seprai, berteriak meminta seseorang menelepon ambulan.

Jadi Jungkook pasti di rumah sakit.

Rasa sakit mulai memudar di tubuhnya dengan perlahan dan akhirnya Jungkook menghela napas dengan jauh lebih ringan dan lega setelah sakit berhenti merongrong kepalanya. Dia terluka, dia ingat itu. Dia ingat dokter menyenteri matanya, bertanya dan mengobrol dengan Taehyung.

Ada dua dokter? Satu?

Lalu dia menjalani ronsen... Sekali? Dua kali?

Ingatan Jungkook tumpang-tindih, dia tidak bisa lagi mengakses ingatannya selama beberapa jam terakhir ini sejernih apa yang dilakukannya sebelum kepalanya terbentur. Sudah berapa lama dia tidur? Apa saja yang terjadi selama dia tidak sadar?

Dia ingat sinar yang menyilaukan, radiasinya yang membuat perutnya tidak nyaman lalu... apakah dia muntah juga sebelum terlena dalam kantuk setelah dicekoki penghilang rasa sakit dengan dosis sedang?

Entahlah, kepala Jungkook bingung dengan ingatannya sendiri.

Haruskah dia bangun sekarang?

“Dia oke?” Tanya seseorang dan Jungkook mengenali suara itu; Yugyeom di sini? Bagaimana bisa? Apakah seseorang sudah memberitahu Jackson? Bapak GM? Bahwa dia tidak bisa bekerja?

Lehernya terasa kaku, ada yang membalutnya dan membuatnya susah menoleh. Dan fakta itu membuat Jungkook jengkel. Apa yang mereka lakukan padanya? Kenapa mereka mengikat Jungkook ke ranjang seperti sapi yang akan disembelih?

Jungkook benci rumah sakit.

“Seharusnya oke,” kata Taehyung lagi, terdengar begitu lelah hingga tubuh Jungkook kembali nyeri oleh hatinya yang meradang; dia membuat tunangannya lelah dan kesakitan. Tidak ada hal yang lebih membuatnya sakit hati daripada melihat Taehyung kesakitan karenanya.

“Bangunlah kapan saja kau siap, oke?” Dia membelai kening Jungkook lembut lalu mengecupnya. “Aku di sini.”

Maka melawan segala sakit dan efek obat yang membuat otaknya selamban sapi, Jungkook akhirnya membuka matanya. Lalu berjengit saat cahaya mengiris pupilnya hingga reaksi pertamanya adalah memejamkan matanya kembali sebelum mengerjap; menyesuaikan diri dengan cahaya dan hal pertama yang diliatnya adalah televisi yang mati.

Seluruh orang di kamarnya mendesah 'oh' dengan seragam dan dipenuhi rasa lega.

“Sayang? Kau bisa mendengarku?” Tanya suara yang pasti akan dikenali Jungkook bahkan jika dia berada di neraka terdalam, dibenamkan ke dalam kuali panas atas dosa-dosanya; suara yang akan diresponnya bahkan jika Jungkook koma sekalipun.

Suara yang akan selalu mengirimkan rasa damai dan aman pada dirinya yang rapuh dan lemah.

“Tae?” Tanyanya serak, tenggorokannya terasa dipenuhi pasir. Menyiksanya dalam setiap vokal yang diusahakannya. Dia mendecap-decap; mulutnya terasa kotor dan bau, dia butuh minum. “Air?”

Taehyung di sisinya langsung bangkit, meraih gelas di atas nakas dan mengarahkan sedotannya ke bibir Jungkook yang kering dan pecah-pecah. Jungkook menjepit sedotan di bibirnya dan menyedot dengan perlahan; air membasuh tenggorokannya dengan cara yang begitu menakjubkan hingga dia tidak sadar telah menghabiskan segelas tinggi dalam satu tegukan.

Kini, setelah matanya terbuka, dia bisa melihat wajah Taehyung yang nampak kuyu, lelah dan pucat. Ada kantung mata di bawah matanya yang sekarang berpendar redup oleh bahagia, dia sedang tersenyum.

“Mau segelas lagi?” tanyanya, setengah geli.

Jungkook mengangguk. “Bisakah aku minta tolong untuk menaikkan ranjangku?”

“Oke,” sahut Taehyung, meletakkan gelas dan baru saja membungkuk akan menarik tuas untuk memompa ranjang Jungkook naik saat seseorang dengan sigap melangkah ke seberang Taehyung dan menarik tuasnya.

“Aku saja,” kata orang itu dan Jungkook, tak kuasa menggerakkan lehernya yang terbalut collar neck, melirik ke sisi tubuhnya dan menemukan Yugyeom yang tersenyum padanya; nampak sama lelah dan pucatnya dengan Taehyung. “Hei, Kepala Batu, kuharap itu cukup sakit untuk membuatmu kapok.”

Jungkook tersenyum. “Ini sakit,” katanya serak, terhibur dengan guyonan Yugyeom. “Tapi tidak sesakit fakta bahwa kalian semua menderita karenaku.”

“Kau terlalu banyak omong,” tukas Yugyeom, menggerakkan tuas hingga perlahan suspensi ranjang Jungkook mengangkat bagian atasnya naik. “Setinggi apa yang kauinginkan?” tanyanya.

“Cukup,” Jungkook mengangguk lemah saat dia berbaring dengan posisi setengah duduk. “Aku boleh makan tidak?” tanyanya kemudian, perutnya bergemuruh keras. “Sudah berapa lama aku tidak sadar?”

“Hanya 24 jam penuh, karena efek obat.” Kata Taehyung lalu meraih nampan makanan di nakas. “Sarapanmu tadi kumakan karena kau belum bangun dan mubazir jika dibuang,” dia meringis dan Jungkook tersenyum.

Jangankan jatah makanan rumah sakit, jika Taehyung meminta Jungkook untuk lompat ke bara api sekalipun, Jungkook akan dengan senang hati melakukannya.

“Aku lapar sekali,” keluhnya dan Yugyeom terkekeh, membantu menaikkan tempat tidurnya hingga Jungkook cukup makan untuk makan sementara Taehyung mulai membuka plastic wrap makanannya.

Jungkook memejamkan mata, menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan baik-baik saja. Dia akan sembuh. Ini hanya cidera kepala, tidak ada hal buruk yang bisa terjadi. Lagi pula, kepalanya terasa baik-baik saja.

Taehyung membawa nampan makanan ke atas ranjang, Jungkook melirik makanannya dan mendesah keras; apa lagi yang diharapkannya dari makanan rumah sakit? Tentu saja makanan sehat tanpa bumbu yang direbus. Dia mendapatkan semangkuk sup makaroni bening, nasi lembek, sepotong tempe yang pucat seperti mayat dan ayam yang melihatnya saja sudah membuat Jungkook mual.

Tapi dia lapar, jadi tidak masalah.

“Bagaimana kata dokter tentang kepalaku?” Tanyanya kemudian saat Taehyung mulai membenamkan sendoknya ke tempe rebus yang berwarna pucat.

Sendok Taehyung melenceng dan menghantam nampan dengan suara 'tak!' keras hingga alis Jungkook terangkat dan dia melirik kekasihnya. Collar neck benar-benar menyiksa. “Sayang? Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Pelan-pelan.”

Taehyung tertawa, serak. “Maaf, maaf!” Katanya gemetar. “Tempenya ternyata lebih lunak dari yang kukira,” dia lalu menyendok nasi lembek dan membawa sendoknya ke bibir Jungkook.

“Ayo, makan dulu. Lalu akan kujelaskan. Kau, 'kan, lapar.” Tambahnya lembut, menempelkan ujung sendok di bibir Jungkook.

Jungkook membuka mulutnya, membiarkan Taehyung menyelipkan sendok ke dalam mulutnya dan dia menyuap makanannya. Dia mengunyah dan mendesah. “Makanan rumah sakit memang selalu hambar, ya?” Keluhnya mengunyah perlahan.

Dia tidak menyadari Taehyung yang berjengit mendengar komentarnya atau Yugyeom yang memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam.

“Nanti jika aku sudah sembuh, aku akan memasak makanan Timur Tengah dengan banyak bumbu hanya untuk memanjakan lidahku.” Jungkook terkekeh serak, terhibur hanya dengan membayangkan bumbu-bumbu eksotis itu lalu membuka mulutnya lagi, melirik Taehyung untuk menyadari ekspresi kekasihnya yang seperti baru saja terkena sembelit.

“Kau kenapa?” tanyanya lalu mengangkat tangannya untuk menyugar rambutnya, gerakan yang sudah nyaris tidak disadarinya sebelum terkesirap keras. “Apa yang mereka lakukan???” Serunya serak, seperti monster rawa dan menyakiti lehernya saat menyadari rambutnya lenyap.

“Sob,” kata Yugyeom tertawa, sungguh terhibur. “Kau baru saja terbentur di kepala, terbaring seperti seonggok sapi gelonggongan dan yang kaukhawatirkan hanya rambutmu? Rambutmu akan tumbuh lagi. Mereka harus menyukurnya untuk membersihkan lukamu.”

“By,” rengek Jungkook, melirik kekasihnya dengan mata berkaca-kaca; begitu menggemaskan hingga hati Taehyung terasa diremas-remas. “Aku botak!”

Taehyung tertawa serak, “Kau sungguh hanya mengkhawatirkan rambutmu, ya?” Tanyanya, menjulurkan leher untuk mengecup pelipisnya dengan lembut. “Kau nampak oke kok, seperti shaolin. Kita juga tidak perlu beli sampo.”

“Byyy???”

Taehyung tertawa. “Makan dulu,” dia menyendok makanan lagi dan mengangsurkannya ke bibir Jungkook. “Nanti kubelikan wig yang bagus jika kau memang benar-benar mencemaskan rambutmu.”

Jungkook menyuap kembali makanannya, masih mengusap-usap kepalanya yang dicukur cepak dengan sedih. “Aku pasti kelihatan jelek sekali,” keluhnya.

“Kau juga pitak, omong-omong,” tambah Yugyeom geli setelah Jungkook menyuap makanannya dan mengunyah. “Di bagian lukamu. Mereka mencukurnya bersih. Kau mau lihat?”

Jungkook mempercepat kunyahannya dan menelan tanpa benar-benar merasakan makanannya, “Apaaa?!” Tangannya mencari-cari, berusaha menemukan lukanya dan Taehyung bergegas menepis tangannya sebelum menyentuh lukanya yang dibebat.

“Jangan dipegang, astaga.” Katanya, mendelik pada Yugyeom yang tertawa. “Makan dulu, oke? Rambutmu bisa tumbuh lagi, tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kepalamu botak, demi Tuhan.”

Jungkook akhirnya diam, Yugyeom tertawa serak di sisi ranjangnya. “Aku tidak suka makanan rumah sakit ini,” keluhnya di suapan ketiga. “Makanannya benar-benar hambar. Kenapa mereka menyiksaku begini? Aku, 'kan, gegar otak bukan darah tinggi. Sedikit garam akan sangat menyenangkan.”

Dia menerima suapan keempat, benar-benar lapar ternyata. “Bahkan tempenya saja tidak memiliki rasa khas tempe,” dia bicara dengan mulut penuh; mengomel seperti bayi. Dia menoleh pada Yugyeom. “Kau tahu, 'kan, maksudku? Rasa kedelai fermentasi khasnya? Sama sekali tidak ada rasa. Mengerikan.”

Dia menelan kunyahannya yang tidak terasa seperti makanan sama sekali tapi terlalu lapar untuk bahkan memikirkan rasa makanan karena dia terus membuka mulutnya, membiarkan Taehyung menyuapinya hingga isi nampannya habis dan dia mendesah kenyang.

“Bolehkah aku minta dibelikan makanan lagi? Aku masih lapar.” Jungkook menatap Taehyung yang sedang membereskan sisa makanannya dengan bahu yang menegang. “Atau susu, atau Energen.”

Taehyung menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan lalu meraih gelas susu di meja dan menyelupkan sedotan ke dalamnya. “Susunya juga mungkin hambar, jadi bersabarlah, ya? Setelah ini, aku akan... eh,” dia menelan ludah dengan sulit, nampak seolah sedang menahan tangis. “Mengajakmu makan makanan berempah yang akan membuat lidahmu menangis.”

Jungkook tersenyum. “Jangan sedih,” dia menjulurkan tangan, membelai sisi kepala Taehyung dengan lembut. “Aku akan sembuh sebentar lagi. Aku ini kuat.” Dia lalu menerima sedotannya dan meneguk, mengernyit saat susunya terasa hambar.

“Ew,” keluhnya tapi terus meneguk. “Syukurlah aku lapar.”

Tidak melihat Taehyung berwajah seperti baru saja ada seseorang yang menyurukkan besi panas ke lehernya.

Bagaimana Taehyung harus memberitahu Jungkook?

*