The Chef #154
Jungkook tertawa saat Taehyung memutuskan bersikap ekstra dengan membalut matanya agar dia tidak tahu ke mana dirinya dibawa.
“Apakah kau sudah menyiapkan candle light dinner untukku? Sampanye? Kue ulangtahun?”
Bubble melompat ke gendongan Jungkook dengan pakaian kemeja mungilnya yang menggemaskan, siap untuk datang ke pesta sebagai tamu undangan. Lebih karena Jungkook tidak tega meninggalkannya sendirian di tempat yang masih asing untuknya.
“Jauh lebih baik.” Sahut Taehyung dengan suara kering setelah mengikat lembut selendang suteranya ke mata Jungkook.
Alis Jungkook berkerut mendengarnya, dia mengulurkan tangannya yang buta dan menemukan pipi Taehyung lalu meraihnya dan mengecup sudut bibirnya. “Kau oke?” tanyanya cemas, “Suaramu serak. Kau ingin istirahat saja? Kita bisa pesan-antar makan malamnya.”
“Tidak, tidak!” Tukas Taehyung seketika itu juga nyaris agresif. “Kita akan makan di luar. Ini malam ulangtahunmu, jadi harus dirayakan.” Jungkook mendengarnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. “Aku akan memesan kendaraan.”
Taehyung duduk di sisinya, tegang dan gelisah sepanjang perjalanan hingga Jungkook kebingungan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dia memindahkan Bubble ke pangkuan Taehyung dan tersenyum.
“Kenapa kau takut begitu? Aku janji akan berpura-pura terkejut jika memang kejutanmu tidak sekeren itu, tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu kecewa.” Dia meraih tangan Taehyung dan semakin heran saat mendapati tangan tunangannya begitu dingin dan berkeringat.
“Ya Tuhan,” katanya geli. “Kau tegang sekali.” Dia meremas tangan Taehyung dengan lembut. “Tenanglah, ini hanya makan malam. Denganku, lelaki yang kauizinkan menjadi pasanganmu seumur hidup.”
Taehyung tidak menjawabnya dan Jungkook berpikir dia mungkin hanya tegang karena telah menyiapkan kejutan sejak begitu lama dan takut Jungkook tidak menyukainya. Maka Jungkook berjanji dia akan berpura-pura terkejut jika memang kejutannya tidak sekeren itu dan tidak akan bersikap seperti bajingan tengik malam ini.
Taehyung berhak mendapatkan malam apresiasi atas kesabarannya dalam menghadapi Jungkook selama masa-masa depresinya.
Jika saja restorannya jadi didirikan, mereka mungkin sedang sibuk mengatur table set untuk tamu-tamu istimewa Jungkook dan dia kemudian teringat dia belum mengirim email kepada semua seniornya tentang pembatalan restorannya dan mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukannya malam ini dan mengecek tabungannya untuk mulai mencatat budget belanja mereka mengisi rumah baru mereka.
Jungkook tersenyum dalam hati; rumah mereka.
Rumah.
Bukan apartemen lagi.
Mereka punya halaman yang bisa ditanami tumbuhan, tempat untuk Bubble berlarian dan Taehyung beryoga. Tunangannya tidak perlu lagi menyetel musik menenangkan gemericik air tiap kali beryoga, dia akan memiliki gemericik air asli menemaninya beryoga.
Jungkook senang sekali, hatinya bisa saja meledak oleh rasa bahagia. Mereka akan mulai menata kehidupan baru sementara Jungkook mulai mengikhlaskan mimpinya dan bisa mulai menatanya lagi dengan perlahan-lahan hingga lidahnya setidaknya 10% bisa merasakan rasa.
Dia akan memulai lagi restorannya setelah dia cukup kuat dengan dirinya sendiri.
Tidak terasa, mobil berhenti dan Jungkook menegakkan tubuhnya. Hidungnya yang lemah mencium aroma bunga; mawar, tulip, krisan.... Semuanya segar memenuhi udara dan dari balik penutup mata, dia bisa merasakan cahaya menyusup dari serat-serat kain.
Namun yang membuatnya aneh, tempat itu sepi. Hanya ada suara sayup-sayup musik dari dalam ruangan dan sisanya hening selain suara jangkrik dan sungai di kejauhan. Taehyung menyewa seluruh restoran untuk mereka?
Taehyung menepuk bahunya.
“Ayo turun.” Bisiknya tegang lalu membantu Jungkook turun dari mobil dan meminta supirnya menunggu mereka, mempersilakannya untuk memesan makanan di dalam seraya menunggu.
Taehyung membimbingnya masuk, menaiki tangga ke arah cahaya yang menyilaukan sambil menggendong Bubble di lengan satunya. Golden retriever mungil itu kemudian menggonggong ceria seolah mengenali seseorang yang sudah akrab dengannya saat mereka berdiri di bawah cahaya.
Taehyung di sisinya menghela napas. “Kau siap?” Tanyanya.
Jungkook meremas tangan Taehyung yang sedingin es. “Siap.” Katanya tersenyum lebar. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku tidak yakin aku tidak akan terkejut saat kau membuka penutup matanya.”
Taehyung di sisinya diam sejenak sebelum menghela napas panjang sekali lagi, kemudian melepas simpul yang mengikat penutup mata Jungkook dan menariknya lepas.
Jungkook membiarkan matanya terpejam beberapa detik sebelum membukanya dan ledakan konfeti menghujani wajahnya dan beberapa memasuki mulutnya saat dia terkesirap kaget.
“SURPRISE! SELAMAT ULANG TAHUN, JEON JUNGKOOK!”
Dia tertawa serak, menemukan Jimin dan Mingyu berdiri di hadapan mereka dengan topi pesta bodoh di kepala mereka dan masing-masing memegang petasan konfeti yang sudah meledak. Lalu mulai menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' yang sumbang.
Jungkook memadang ke sekitar ruangan dengan takjub.
Tempat itu terkonsep matang dengan desain moderen minimalis namun tetap mewah yang membuatnya mendesah; konsep yang diinginkannya untuk restorannya sendiri. Ada jendela-jendela besar yang sekarang dihiasi lampu-lampu mungil, meja-mejanya dihias dengan taplak meja berwarna emas mawar yang cantik dengn sekuntum bunga di masing-masingnya, alat makan yang diatur dengan sempurna, linen yang lincin, pengharum ruangan yang tidak menusuk.
Ada tulisan di dinding belakang dalam balon-balon huruf emas yang gendut di atas tirai emas berkilauan: “HAPPY BIRTHDAY, JEON JUNG-COCK!” dan Jungkook langsung tahu itu pasti pekerjaan Mingyu. Dia tertawa, puas melihat bagaimana restoran itu nampak begitu mewah, elegan namun juga tidak terlalu mengintimidasi.
Beginilah jika restorannya sungguh berdiri, pikir Jungkook muram. Dia mendongak ke langit-langitnya yang tinggi, ada lampu kristal di sana, menggantung indah dan berkilauan oleh cahayanya sendiri.
Tunggu.
Jungkook mengamati benda itu dengan mata memicing, mencoba menguraikan bentuk kristalnya dan kerangka patennya yang menahannya ke langit-langit.
Dia... mengenali desain lampu kristal itu.
“Sayang,” katanya menoleh untuk mengatakannya pada Taehyung.
Namun sebelum berhasil melakukannya, rombongan orang muncul dari kitchen menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' lain dengan nada sumbang dan dia menoleh untuk menemukan Yugyeom melangkah masuk dengan bundt cake hangat yang dihiasi lilin mungil, masih dalam seragam chef-nya dengan beberapa orang kitchen.
Jungkook tertawa, melupakan lampu kristalnya. “Astaga!” serunya bahagia, menghampiri Yugyeom dan kuenya. “Kau bahkan datang masih mengenakan seragammu.” Dia memeluk sahabatnya sebelum membagi pelukan yang sama dengan Jimin dan Mingyu.
“Ini maksudmu, 'see you around soon'?” Tuntutnya pada Jimin yang tertawa.
“Kami memberimu kejutan, oke? Kami berhasil, kan?” Tanyanya ceria, wajahnya memerah oleh adrenalin dan kebahagiaan.
Jungkook tersenyum lebar, begitu lebar hingga pipinya nyeri. “Luar biasa!” Pujinya tulus. “Khususnya Taehyung yang sudah menyiapkan semuanya hingga memesan satu restoran untukku, luar biasa!”
Dia menoleh ke Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya, berwajah sepat seperti penderita wasir dengan Bubble di pelukannya. “Sayang?” tanyanya dan suara lagu sumbang berhenti. “Kau baik-baik saja?”
Taehyung mengulaskan senyuman yang nampak seperti ringisan. “Maaf, aku merusak pestanya, ya?” Dia mengerling Jimin lalu menghela napas dan tersenyum lebar, jauh lebih ceria. “Tiup lilinnya, itu kue kesukaanmu!”
Jungkook menatapnya, menilai sejenak dan Taehyung melemparkan senyuman lebarnya yang membut hati Jungkook jauh lebih tenang. Dia meraih Taehyung ke pelukannya, merangkulnya dengan erat saat mereka menghadap kue ulang tahun Jungkook.
“Ayo, bernyanyi!” seru Jimin dan semuanya mulai bernyanyi semakin sumbang dan Jungkook tertawa.
Senang dia tidak menyerah beberapa hari lalu, senang saat menyadari betapa dia memiliki teman-teman dan tunangan yang selalu mendukungnya, menyokongnya bagaimana pun keadaannya saat itu.
Senang dia tidak memutuskan untuk mati.
Karena jika dia melakukannya, dia tidak akan berdiri di sini—dikelilingi orang yang menyayanginya dalam pesta ulang tahunnya yang mewah.
Kue kemudian disingkirkan dan Jungkook dipersilakan duduk di kepala meja sementara teman-temannya duduk melingkarinya. Taehyung di sisinya, memangku Bubble yang duduk manis dan Jungkook sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan mereka bahkan saat pelayan menghamparkan serbet di pangkuannya dan menyajikan roti dengan salted butter sebagai panganan menunggu menu mereka siapkan.
Ada menu kecil di tengah meja dan naluri chef Jungkook membuatnya mengulurkan tangan dan membaca menunya, untuk mengetahui apa yang akan dimakannya malam ini.
Dia membaca, perlahan dan kemudian merasakan dasar perutnya bergolak.
Nama-nama menu itu... familiar sekali dengannya.
Tidak banyak chef yang menggabungkan masakan tradisional Bali dengan sentuhan teknik dan juga penyajian mewah Eropa serta sentuhan gastronomi pada hidangan penutupnya. Jungkook yakin ini.
Jantungnya mulai berdebar dan dia mengembalikan menu itu ke standing acrilic-nya dan melirik Taehyung yang duduk di sisinya, bernapas dengan mulutnya. Jimin dan Mingyu di hadapan mereka sibuk berdebat tentang wine yang akan mereka minum malam ini dengan kue ulang tahun Jungkook seraya menanti appetizer mereka.
Dan dia semakin bingung saat Yugyeom sendiri keluar dengan pakaian chef-nya mendorong troli makanan. “Ini restoran tempatmu bekerja, ya?” Tanyanya saat Yugyeom menyajikan makanannya dari sisi kanan tubuhnya. “Itulah mengapa kau yang menyajikannya?”
Yugyeom melirik Taehyung sebelum tersenyum pada Jungkook. “Bisa dibilang begitu.” Dia bergeser ke kanan Taehyung dan menyajikan makanan yang sama dari sisi kanan Taehyung. “Kau harus berterima kasih padanya karena telah meluangkan banyak sekali waktu, pikiran dan tenaga untuk menyiapkan ini.”
Jungkook menatap Taehyung yang mulai menyelupkan sendok supnya ke dalam mangkuk. “Bagaimana kau bisa menemukan restoran fusion seperti ini di Bali?” Tanyanya dan Taehyung tersedak. “Menu mereka autentik sekali.”
Taehyung menyambar serbetnya, menyeka mulutnya dan meraih piala di sisinya, meneguk airnya sebelum menghela napas. Dia menatap Jimin dan Mingyu yang sekarang diam. Suasana tiba-tiba berubah serius dan mencekam, Jungkook tidak faham sama sekali apa yang terjadi.
Sedetik mereka tertawa, sedetik mereka seperti tersangka yang diseret ke tiang gantung.
Jungkook semakin kebingungan. Namun dia memilih untuk menyuarakan semua kecurigaannya. “Dan lampu kristalnya,” dia menatap lampu itu sekali lagi, memastikannya. “Itu desainku, kan? Kau ingat saat aku menggambarnya? Bagaimana mereka bisa punya desain yang sama?”
Karena tidak ada yang menjawab, bahkan Yugyeom hanya berdiri di sisi meja mereka dengan wajah yang tidak terbaca.
“Interiornya, warnanya, bentuknya.... Semuanya seperti desain yang kusetujui untuk restoranku.” Dia menatap kekasihnya, memicingkan mata dan mulutnya terasa asam oleh rasa cemas yang menggelisahkan.
“Antara kau menjual desainku ke orang lain atau...”
Dia diam saat menyadari fakta ini. Jantungnya menonjok tenggorokannya hingga dia ingin muntah.
Benarkah? Benarkah?
Dia kemudian berdiri dengan tiba-tiba hingga lututnya menabrak meja dan membuat seluruh benda di atas meja bergetar dan supnya tumpah ke linen yang licin. Seluruh orang terkesirap kaget. Mengabaikannya, dia melempar serbet ke kursinya lalu berlari ke luar ruangan. Bubble mendengking, merespon emosinya dan melolong menyedihkan meminta Jungkook kembali.
Tidak ada yang berani bergerak saat Jungkook menghambur ke luar ruangan, melepas kancing kemejanya yang terasa mencekik lalu mendorong pintu ganda restoran terbuka dan tertegun.
Jungkook mengenali sekali jalanan itu karena dia mengunjungi tempat ini nyaris setiap saat; dia yang menemukan tanah ini, dia yang meninjaunya untuk memasang petak pembelian, dia yang datang kemari untuk sertifikat tanahnya. Dia mengenal tanah ini persis seakrab dia mengenal Bubble dan Taehyung.
Halamannya sekarang penuh dengan karangan bunga raksasa; mawar, tulip dan krisan yang diciumnya adalah rangkaian bunga raksasa. Berjajar dari pintu masuk, terus hingga sepanjang jalan masuk hingga ke jalan raya. Bunga papan, standing bouquet dan semuanya dialamatkan untuk:
Chef Jeon Jungkook.
Dengan pesan: 'Selamat atas Restoran Barunya!'.
Hatinya mencelos hingga ke dasar perutnya lalu dia bergegas menuruni tangga dalam langkah-langkah besar dan menoleh ke dinding kanan restoran karena jika dia benar maka seharusnya ada plakat keemasan di sana.
Dia limbung saat melihat nama yang tercetak di atas plakat itu, dipasang di atas papan kayu jati kokoh yang dipelamir dan ditutup dengan kain satin tipis.
Namun dia masih bisa membaca ukiran di atasnya:
LE PARADIS by Chef Jungkook.
Kemarahan menggelegak di dasar perutnya; perasaan dikhianati, dibohongi dan dirampok habis-habisan melukai seluruh egonya hingga kepalanya terasa nyeri. Kenyataan menghantamnya seperti pukulan telak ke ulu hatinya hingga dia membungkuk, menekan telapak tangannya ke ulu hatinya.
Taehyung selama ini melanjutkan proyek restoran yang sudah jelas-jelas dibatalkannya.
Taehyung membohonginya.
Taehyung melakukan sesuatu tanpa seizinnya.
Dan dari mana dia mendapatkan semua uang ini?
Kenyataan lain menghantamnya dan Jungkook nyaris muntah oleh perasaan itu. Terjawab sudah kenapa Taehyung selalu menatapnya dengan kosong saat Jungkook membahas uang restoran. Kenapa Taehyung begitu agresif tentang ide Jungkook menunda restoran. Kenapa Taehyung begitu gelisah sepanjang hari.
Dia membohongi Jungkook.
Dan menggunakan uangnya tanpa seizin Jungkook.
Dia menghela napas dengan liar, berusaha menahan emosinya sendiri seperti apa yang terapisnya ajarkan tapi kemarahan begitu hebat hingga kepalanya terasa kesemutan. Maka dia beranjak ke dalam restoran mewah itu, menantap semua temannya yang sekarang menolak menatapnya dan menghampiri Taehyung.
Kepalan tangannya menghantam meja dengan begitu kuat hingga mangkuk sop terlompat dan isinya tumpah ke serbet di pangkuan Taehyung.
Jungkook begitu murka hingga seluruh dirinya nyeri dan kesemutan, matanya kabur dan dia ingin memukul sesuatu.
Memukul seseorang.
“Kemarikan.” Katanya menggeram dari sela-sela giginya yang terkatup rapat, nyaris membuat rahangnya retak oleh seberapa kuat dia menahan diri agar tidak meledak di sini dengan beberapa karyawan (karyawanNYA, demi Tuhan!) yang menatap dengan takut.
Jungkook merasa tubuhnya limbung, tidak kuasa menahan seluruh amarah yang menggelegak di dalam dirinya. Tidak kuasa menahannya lagi. Maka dia menyambar gelas Taehyung lalu melemparkannya ke jendela.
Gelas itu melewati pipi Taehyung dan membuat tunangannya berjengit sebelum menghantam jendela dan pecah menjadi bubuk kaca yang berkilauan saat berhamburan mendarat di lantai marmer yang licin. Jungkook bernapas melalui mulutnya. Butuh melampiaskan amarahnya lagi sebelum dia meledak.
Seluruh ruangan diam, tidak ada yang berani bernapas.
Taehyung menghela napas, gemetar saat dia mendongak, membalas tatapannya dengan pasrah dan kosong lalu meraih saku belakangnya.
“Maaf.” Katanya lemah. “Maaf...”
Yugyeom menyela, mencoba menenangkan sahabatnya. “Jungkook, kita bisa—.”
“Diam!” Raung Jungkook, kembali mengahantamkan pukulan ke meja yang berdentang saat seluruh alat makan bergerak merespon tenaganya dan seluruh orang di ruangan itu mengejang kaget.
Bubble mendengking, tidak berani mendekat ke Jungkook yang tangannya masih di atas meja dalam kepalan marah hingga buku-buku jemarinya memutih. Taehyung mengeluarkan dompetnya lalu menarik kartu Jungkook keluar dari sana dan meletakkannya di meja.
Pemuda yang berdiri di hadapan mereka ini bukan Jeon Jungkook tunangan Taehyung dan bukan juga Chef Jeon Jungkook. Kemarahannya adalah hal anyar yang membuat mereka semua terkejut. Dia nampak sungguh terluka dan terkhianati oleh restoran ini.
“Kalian semua bekerja sama?” Tanyanya menggeram.
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang berani mendongak menatapnya.
“Kalian semua bekerja sama?!” Raungnya. “Kalian semua membohongiku?! Kalian semua melakukan ini di belakangku?! Membangun restoran yang bahkan tidak kukehendaki dan masih berani menggunakannya sebagai hadiah ulang tahunku?!”
Dia kemudian menatap Taehyung yang menunduk. “Kau merampokku.” Katanya setajam silet. “Kau merampok menu, konsep, desain dan semua hal yang kurancang untuk restoranku dan mengeksekusinya dengan uangku.”
Dia menggertakkan rahangnya. “Uang-ku, Kim Taehyung!” Serunya gemetar oleh amarah. “UANGKU! Tanpa seizinku!” Dia mengepalkan kedua tangannya, menahan diri sekuat mungkin agar tidak menyakiti siapa pun.
“Dan kau berpikir aku akan senang?”
Taehyung menghela napas. “Jungkook,” katanya, mendongak menatapnya. Matanya merah dan berkilau oleh air mata. “Bolehkah aku menjelaskan?”
Dengan rahang kencang dan kemarahan mendidih di dalam dirinya seperti magma panas, Jungkook menatapnya. Mempersilakannya untuk menjelaskan.
“Ini mimpimu.” Bisiknya lemah. “Aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja. Aku tahu, aku salah karena mengekeskusi idemu tanpa izinmu. Awalnya aku akan menggunakan tabunganku sendiri tapi aku sudah terlanjur membeli rumah kita sebelum kecelakaanmu dan semua rencana berubah.
“Maka aku tidak punya pilihan lain. Aku berharap, dengan restoran ini kau akan bersemangat lagi melanjutkan karirmu. Melakukan sesuatu yang sangat kausenangi. Kembali menjadi chef yang bersinar karena rasa percaya diri dan bakat...”
Taehyung nampak berusaha keras untuk menahan tangisnya, dia gemetar saat membelai Bubble yang mendengking lirih—takut oleh pertengkaran mereka. “Jika kau tidak menginginkan restorannya,” dia menatap Jungkook yang terengah murka seperti seekor singa. “Aku akan mengganti namanya dan menjalankannya sendiri dan mengganti uangmu yang kugunakan selama ini.”
Jungkook menatapnya lalu mendengus geli yang kental oleh sarkasme. “Lihat dirimu.” Katanya dingin dan itu membuat kemarahan Jungkook terasa jauh lebih menyengat.
“Kau marah padaku karena aku berbohong tentang masa laluku, tentang orientasi seksualku. Meninggalkanku tengah malam dan menolak bertemu denganku. Lalu, apa yang sekarang sedang kaulakukan padaku, Taehyung?”
“Jungkook,” mulai Mingyu dan langsung bungkam saat Jungkook menjulurkan tangan ke arahnya dengan telunjuk terancung tajam; memintanya diam tanpa mengalihkan padangannya dari Taehyung yang masih menatapnya dengan mata mulai berair.
Lalu dia menegakkan tubuh.
Meraih kartunya di atas meja, merogoh dompetnya di saku belakang celanannya dan menyelipkan kartu itu ke sana. “Jika kau ingin menjalankan restoran ini,” katanya kemudian dengan nada memberi ultimantum yang dingin. “Ganti nama dan semua menunya.”
Dia menatap tunangannya seperti menatap orang asing yang membuat hati Taehyung terasa nyeri dan diiris-iris. Jungkook terasa begitu jauh dari sentuhannya dan itu semua salah Taehyung sendiri.
“Aku sudah mengizinkanmu menggunakan konsepku,” lanjutnya dingin. “Tapi aku tidak sudi kau juga merampok seluruh menu yang kukerjakan sendiri.”
Setelahnya, Jungkook berbalik dan berlalu dari sana dalam langkah lebar-lebarnya yang sangat familiar dengan seluruh tubuh Taehyung; tanpa menoleh sama sekali.
Dan Taehyung menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya, tubuhnya gemetar sebelum dia meledak dalam tangis yang sejak tadi ditahannya.
*