The Chef #80
Jungkook yakin dia sebentar lagi akan meninggal, atau setidaknya gila.
Dia mengerang keras, membenamkan kepalanya lebih dalam ke bantal dengan mata terpejam tidak kuasa mengendalikan dirinya sendiri saat Taehyung terengah di atasnya; menggerakkan pinggulnya dengan liar. Tangannya mencengkram pinggul Taehyung dengan kencang, seolah berusaha menahan akal sehatnya agar tidak jatuh tergelincir dari tempatnya.
Dia pening. Taehyung nampak begitu luar biasa dengan wajah merah padam dan mata sayunya yang berkabut gairah serta mabuk.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia meladeni Taehyung yang mabuk dan sensasi ini begitu mengejutkan, dia lupa betapa kewalahannya dia meladeni Taehyung dan gairahnya saat mabuk. Pertama kali tunangannya mabuk, ketika Enseval menggelar residential meeting di The Ritz.
Dia ingat menerima BEO (Banquet Event Order) yang di-CC ke emailnya dan menemukan arrangement untuk residential meeting Enseval. Lalu bagaimana tunangannya turun ke kantornya di kitchen di tengah-tengah meeting untuk memberinya blowjob singkat yang hanya bisa ditandingi oleh malaikat di surga sebelum bergegas kembali naik ke ruangan meeting seolah tidak terjadi apa pun.
Lalu malamnya sebelum dia pulang, seorang commis-nya yang mendapat giliran untuk mengisi show cook di restoran menginformasikan Jungkook bahwa tunangannya sedang mabuk di bar.
Masih dengan seragam chef-nya, Jungkook naik ke bar. Mengangguk pada beberapa tamu yang mengenalinya karena topi chef tinggi di kepalanya dan beberapa anak FB lalu mengintip ke bar, menemukan Taehyung sedang menandaskan isi gelasnya yang entah keberapa dengan anak FB yang menatapnya memohon bantuan.
Jungkook menghampiri kekasihnya lalu dengan lembut menyentuh bahunya. Taehyung mendongak, memicingkan mata berusaha mengenalinya lalu tersenyum lebar. “Terima kasih,” katanya pada anak FB dibalik konter bar lalu menuntun Taehyung berdiri. “Masukkan ke city ledger saya, ya?” tambahnya.
Dia membawa Taehyung melewati lorong khusus karyawan dan mengabaikan tatapan tidak setuju FBM yang akhirnya tiba di lorong kamar Taehyung. Jungkook mendesah saat merogoh saku Taehyung yang mulai teler oleh alkohol dan membuka kamarnya.
Taehyung bukan tipe pemabuk yang berisik, dia hanya akan diam dan memejamkan mata seolah tidur. Tapi Jungkook di masa lalu tidak tahu bahwa di balik pintu tertutup, tunangannya bisa sangat berubah.
Dia baru saja meletakkan Taehyung di ranjang dan bersiap untuk mengambil pakaiannya di loker sebelum naik kembali ke kamar ini saat Taehyung menyambar tangannya, menciumnya dengan cara yang belum pernah dilakukannya selama ini.
Dia begitu.... menuntut dan mendominasi. Liar dan sangat menggairahkan dengan wajah memerah dan mata sayu sialannya itu. Dan Jungkook sama sekali tidak keberatan untuk bottom on top sama sekali.
Sama seperti hari ini.
“Oh!” kata Jungkook serak, penuh kenikmatan saat Taehyung menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang berbeda.
Membuat seluruh dirinya merinding oleh gairah; dia menyentuh pinggul Taehyung, menggerakkannya seperti apa yang diinginkannya dan Taehyung menurut. Menambah ritmenya hingga Jungkook mengerang keras, kepalanya pening oleh kenikmatan. Dia bisa gila, dia bisa mampus. Jungkook meraih tengkuk Taehyung, menariknya untuk menciumnya tapi pemuda itu menepisnya.
“No.” sahutnya dengan nada mengantuk yang menggemaskan.
“Sialan,” erang Jungkook, terengah. Paru-parunya terasa mengerut saat dia berusaha menghela napas untuk membuat otaknya bekerja di balik selubung gairah yang melumpuhkannya.
Taehyung mengangkat pinggulnya dengan perlahan hingga Jungkook mengerang keras bagaimana tubuh Taehyung memeluknya dengan begitu kuat hingga dia merasa otaknya mati. Lalu tanpa aba-aba, Taehyung terjun bebas. Mempersilakan Jungkook memasuki tubuhnya dengan begitu dalam dan lepas.
“Astaga!” seru Jungkook, mengerang keras dan panjang saat tunangannya menjulurkan tubuh, berbaring di dadanya sementara pinggulnya terus bergerak. “Ya Tuhan,” erang Jungkook. “Taehyung...” dia mendesah keras, nyaris gila. Hampir gila. Sedikit lagi gila...
“Taehyung, Taehyungtaehyung....”
Beberapa detik sebelum dia lebur bersama orgasme, Taehyung bangkit dengan tiba-tiba lalu tertawa serak, menikmati permainannya sendiri dan Jungkook kehilangan momentumnya dengan suara frustasi yang memilukan. Dia berguling, menyentuh bagian tubuhnya yang berkedut nyeri oleh kegagalan mereka lalu sebelum bisa berbicara, Taehyung kembali menaiki tubuhnya.
Mendorongnya terlentang, mengangkangi perutnya lalu membalut Jungkook dalam mulutnya yang basah dan hangat dengan cara paling menakjubkan yang membuat seluruh tubuh Jungkook berdenyar—sungguh berdenyar dan kepalanya terasa lepas dari lehernya.
Dia berbaring di ranjang, mulutnya terbuka dan matanya terpejam saat seluruh tubuhnya kesemutan oleh rasa nikmat dan bokong Taehyung yang indah terpapar di wajahnya. Dia mengangkat lehernya, membenamkan wajahnya di pantat Taehyung yang selembut cream cheese lalu menjulurkan lidahnya.
“OH!” Taehyung mengerang keras, berhenti melakukan pekerjaannya hanya untuk gemetar dan mendesah keras. Menikmati manuver lidah panas Jungkook di bagian dirinya yang intim.
Haruskah dia membuat Taehyung mabuk setiap hari untuk ini?
“Kenapa berhenti?” tanya Jungkook, menyelipkan jarinya dan melakukan gerakan melingkar yang dibalas dengan teriakan tertahan yang begitu indah. Seluruh tubuh Taehyung bergetar oleh kenikmatan, dia terengah.
Mulutnya terbuka dengan wajah merah padam yang membuat Jungkook sungguh ingin bercinta dengannya hingga dia mabuk, berteriak dan mendesah. Menyebutkan nama Jungkook dalam momen orgasmenya. Dia ingin Taehyung meledak dalam kenikmatan.
“Lanjutkan.” kata Jungkook, menyelipkan satu jari lagi dan menikmati permainan. “Aku tidak memintamu berhenti, Baby.”
Taehyung mengerang lagi lalu merunduk, kembali memeluk Jungkook dengan mulutnya dan bergerak perlahan. Terdistraksi oleh lidah Jungkook di bagian bawah tubuhnya, dan tangan Jungkook yang membalut bagian tubuhnya yang menegang—memijatnya lembut dan ahli. Mengusap ujungnya dengan jemari hingga Taehyung gemetaran.
Dan untuk membuat otak Taehyung lebih menderita lagi, lidah Jungkook kembali.
Menyapu akal sehatnya hingga luluh lantak.
“Bedebah bangsat,” ludah Taehyung marah dan gemetaran. Jungkook tersenyum separo dengan puas.
Ini dia.
Bagian lain yang sangat disukai Jungkook saat Taehyung mabuk adalah bagaimana dia bicara dengan kasar. Mengumpat, mengata-katai Jungkook, menyalak padanya seperti seekor kucing yang marah dan itu membuat Jungkook semakin bergairah.
Dia pernah meminta Taehyung melakukan ini saat tidak mabuk dan tunangannya tidak bisa melakukannya senatural seperti ketika dia mabuk.
“Hmm...” kata Jungkook malas, jemarinya memijat Taehyung dengan ahli—sudah faham bagian mana dari tubuh Taehyung yang harus disentuhnya agar tunangannya senang. “Kau baru saja mengataiku, ya?” tanyanya terhibur.
Jarinya yang dingin menyelip masuk kembali, bergerak dengan lembut namun menuntut hingga Taehyung mengerang keras.
Untuk membalaskan dendamnya, Taehyung merunduk. Menyapukan lidahnya ke paha Jungkook; ke atas tatonya yang terpapar ke udara. Jungkook mengerang, tidak pernah bisa menolak sensasi yang diberikan Taehyung saat dia melakukannya.
Taehyung mengamati dengan puas saat seluruh kuduk Jungkook meremang oleh sentuhan lidahnya dan bagaimana pinggulnya terangkat merespon lidah Taehyung di pahanya. Taehyung mengecup tatonya, menarik ciuman malas yang panas dan basah hingga Jungkook mengigil di pinggir jurang kewarasannya.
“Berapa botol yang kauminum?” tanya Jungkook nyaris mengigit lidahnya sendiri saat berusaha bicara lalu kemudian mengerang keras—sangat keras hingga Taehyung yakin (dengan puas) tetangga mereka akan mendengar suara ini saat Taehyung mengulumnya; menghadiahinya dengan gigitan-gigitan kecil dan lembut.
Dia bisa merasakan seluruh tubuh Jungkook bergetar oleh kenikmatan dan dia kehilangan seluruh kendali atas akal sehatnya.
“Oh, ya Tuhan...” erang Jungkook terengah, kepalanya terkulai di bantal dengan rambut ikalnya yang menyebar di atas seprai. Saat mulut Taehyung melepaskannya, Jungkook tidak menyia-nyiakan waktu itu.
Dia membalik keadaan dengan cepat; tidak membuang waktu sedetik pun. Mendorong Taehyung turun dari atas tubuhnya dan melompat berdiri seluwes cheetah sebelum meraup tubuh Taehyung yang terkesirap kaget, menggendongnya dengan kedua lengannya dan menyatuhkan tubuh mereka hingga keduanya mendesah keras.
Oh, Taehyung suka ini.
Dia suka jika tetangga mendengar betapa hebat seks yang bisa diberikan tunangannya.
Jungkook menciumnya dengan suara marah yang keras, rasa frustasi mewarnai ciuman itu saat dia bergerak membawa tubuh mereka ke dinding, menyandarkan punggung Taehyung di sana lalu menggerakkan pinggulnya dengan tiba-tiba hingga Taehyung terkesirap keras.
Kepalanya terlempar ke belakang, membentur dinding dengan suara keras tapi tidak ada yang terlalu peduli saat seluruh saraf dan indera mereka berpusat di pertemuan tubuh mereka yang begitu panas dan memusingkan.
Taehyung mengerang, terus dan terus sementara Jungkook bergerak dengan liar. Tidak lagi bersikap penuh kelembutan seperti sebelumnya; dia mengandalkan seluruh insting kelelakiannya, tidak mengizinkan akal sehat atau hati nurani bergabung dalam seks mereka.
Jungkook menatap Taehyung yang terpejam dengan tatapannya yang tajam, wajahnya nampak lebih gelap dan bergairah. Dia nampak luar biasa seksi dengan rambut setengah basah dan wajah merah padam serta ekspresi tidak sabar yang frustasi yang membuat garis rahangnya menegas oleh emosi itu.
Chef muda itu tidak berhenti bahkan untuk bernapas, dia terus bergerak seperti mesin. Taehyung tidak tahu harus mengutuk atau bersyukur atas kegilaan Jungkook pada aktivitas fisik hingga dia bisa menahan beban tubuh Taehyung dan juga menggerakkan pinggulnya sekaligus tanpa terlihat kesulitan sama sekali.
Belum lagi saat Jungkook mulai mengerang, beberapa detik sebelum orgasme saat dia mulai bergerak jauh lebih liar dan cepat. Membenamkan wajahnya ke bahu Taehyung, mengigitnya keras lalu melenguh keras bersamaan dengan Taehyung.
“Kau harus lebih sering mabuk,” kata Jungkook kemudian saat mereka berdua menempel di dalam boks shower yang menyala dengan air hangat kuku. “Menakjubkan sekali.”
Taehyung memutar bola matanya. Menepis tangan Jungkook yang mulai membelai tubuhnya yang basah dan licin oleh sabun.
Setelah orgasme bersama dengan begitu intens dalam posisi koala, Taehyung kemudian bergegas turun dan muntah. Memuntahkan semua kemabukannya dan kemudian kembali merasa jauh lebih baik setelahnya sehingga saat Jungkook menggendongnya untuk mandi, Taehyung menyerah.
“Besok tubuhku akan remuk dan aku tidak akan bisa fokus bekerja. Aku tidak melihat itu sebagai sesuatu yang menakjubkan,” keluhnya lalu mendesah kecil saat tangan Jungkook yang bersabun mulai menyentuh tubuhnya. “By,” keluhnya. “Aku lelah sekali, oke?”
“Hmm...,” bisik Jungkook dengan suara serak seksinya yang terkutuk. “Please. Sekali lagi, ya?” desaknya mulai mencium bagian sisi lehernya dan mengulum cuping telinganya dengan intim hingga dia bergidik; tidak kuasa menolak godaan itu. Maka dia menyerah.
Dan saat tangan Jungkook meraih kakinya—dengan bibir masih sibuk di lehernya, membukanya untuk memulai seks lain, Taehyung bersumpah; dia tidak akan mabuk lagi setelah ini. Apa pun alasannya.
Sungguh.
*
Glossarium:
a. BEO (Banquet Event Order): biasanya dibuat oleh Convention Coordinator atau Sales Executive yg isinya detail acara dari klien. Meeting di ruangan apa, set-up meeting nya (Letter-U, classroom, dst), menunya juga harganya. Ini diinfokan ke bagian operasional untuk disekskusi; yg terima biasanya Chef (utk menu), FB (utk setting dan banquet), Sales (sbg penerima pertama order utk dicek), FO (kalo ada kamarnya), Akunting (utk cek jumlah dan metode payment) dan GM (sbg tembusan).
b. Residential meeting: meeting tapi peserta meeting itu juga nginep di hotel tempat mereka meeting. Biar bisa meeting 24 jam /ga. Jadi selain ada arrangement meeting, juga ada arrangement kamar. Biasanya yg jabatan2 tinggi 1 kamar sendiri (kayak Tae makanya bisa nyelundupin JK ke kamarnya hehe) dan peserta lain sekamar berdua.
c. City ledger: izin untuk ngutang sih kasarnya haha biasanya dipake tamu, tp di beberapa hotel kayak di hotelku dulu (gatau hotel lain), Department Head (termasuk Chef) itu punya hak utk pay later kalo makan di hotel. Jadi tar dipotong gaji gt. Jadi Tae minum, trs disistem dimasukin ke tagihan JK dan pas gajian, jumlah utang itu dipotong dari gaji JK.