The Chef #71

Taehyung tersenyum dalam pelukan Jungkook, merasakan bagaimana jemari Jungkook membelai punggung telanjangnya dengan ujung-ujungnya. Petang yang malas setelah mereka bercinta cukup lama dan liar; tubuh Taehyung terasa lengket oleh saliva dan cokelat, dia butuh mandi segera tapi dia masih terlalu nyaman dalam pelukan Jungkook yang terasa kokoh dan hangat hingga dia merasa meleleh seperti cokelat yang di-temper.

“I love you,” bisik Jungkook lalu mengecup kepalanya. “I love you.”

Taehyung tersenyum, menyusup semakin nyaman ke dalam lekukan lengan atas Jungkook. “I love you too,” balasnya tersenyum. Merasa sangat bahagia dan sempurna saat ini.

“I like you more, the world may know but don't be scared, cause I'm falling deeper—Baby, be prepared.”

Jungkook terkekeh serak. “Cheesy,” dia meraih dagu Taehyung dengan telunjuknya lalu mengecup bibirnya dengan lembut; seolah sedang menyicipi kelopak mawar yang dikristalisasi.

Bibirnya yang lembab bergerak lembut di bibir Taehyung, membuatnya mabuk lalu mengangkat wajahnya; mata mereka bertemu dan keduanya mendesah sebelum memeluk satu sama lain dengan begitu erat.

Tidak ada yang perlu mereka katakan karena mereka faham, mereka berkomunikasi tentang bagaimana mereka saling mencintai, bersyukur karena saling memiliki dengan bahasa yang bahkan kata 'cinta' sekali pun takkan sanggup menggambarkannya.

Perasaan nyaman dan damai yang didapatkan mereka dalam pelukan satu sama lain adalah candu yang selalu membuat mereka kembali, tidak peduli sejauh apa pun mereka berusaha menghindar. Hubungan mereka telah melewati banyak naik-turun dan turunan yang tajam berkerikil; semakin berat, semakin Taehyung merasa bahwa dia mungkin bisa mempercayakan hidupnya pada Jungkook.

Lengan kokoh lelaki itu sanggup menahannya dalam kewarasan, ciumannya mampu menarik Taehyung kembali dari kegilaan; seluruh diri Jungkook adalah hal yang dibutuhkan Taehyung.

Dia juga cukup egois untuk mempertahankan Jungkook bagi dirinya sendiri—seperti apa yang dikatakan Yugyeom tempo hari.

“Aku lapar,” keluh Jungkook kemudian. “Kau mau makan cemilan? Aku bahan samosa di kulkas,”

Taehyung terkekeh. “Boleh,” katanya dengan malas. “Omong-omong, apakah sudah ada info dari kepala proyekmu tentang restoran?”

Jungkook mengangguk, menarik dirinya bangkit dari tubuh Taehyung yang terasa lengket seperti magnet. “Sudah, arsitekku memberitahuku bahwa mereka akan mulai bekerja minggu depan. Jadi setiap akhir minggu satu kali sebulan aku akan ke Bali untuk mengecek pengerjaannya,”

“Oke,” sahut Taehyung menggeliat lalu kembali bergelung. “Aku ikut.” katanya, tidak meminta izin sama sekali karena dia akan ikut, tidak peduli apa kata Jungkook.

Dia menyapukan pandangannya pada Taehyung yang bergelung di ranjang seperti bayi lalu meregangkan tubuhnya; membuat otot-ototnya tertarik dengan cara yang indah hingga Jungkook mendesah, merunduk menyapukan ciuman pada perutnya yang lembut.

Taehyung merespon ciuman itu dengan tawa serak, melilitkan jemarinya pada rambut ikal Jungkook.

“Kita mau samosa, ingat?” godanya pada Jungkook yang mengerang lalu mengangkat wajahnya. Memandang Taehyung dengan cinta yang begitu berlimpah hingga perut Taehyung mengejang oleh rasa nikmat.

“Kita punya tuna,” kata Jungkook kemudian, membawa dirinya turun dari ranjang dan meregangkan tubuhnya. Taehyung duduk di ranjang, mengamati tubuh Jungkook yang tinggi dan penuh oleh otot matang yang seksi.

Garis tato ditarik dari lengan atasnya hingga ke ujung pergelangan dan punggung tangannya, otot punggungnya begitu mengagumkan dengan bentuk segitiga yang sempurna, otot perutnya yang keras, pahanya yang kekar; belum lagi tato di bagian kakinya yang menutupi hingga pangkal pahanya....

Taehyung ingin melompat ke punggungnya lalu mengigit ototnya.

“Hei, Seksi,” goda Taehyung bersiul kurang ajar dan Jungkook menoleh.

“Kau memanggil dirimu sendiri?” tanyanya dan Taehyung tersenyum lebar. Dia menuruni ranjang dan memeluk Jungkook dari belakang, menarik ciuman malas di bahunya yang telanjang, merasakan tiap lentur ototnya dengan bibirnya yang sensitif.

“Lihat dirimu,” katanya menatap tubuh mereka di cermin. “Luar biasa. Ares sendiri pasti malu berdiri di hadapanmu,” tangan Taehyung bergerak membelai perut Jungkook yang keras dan chef muda itu terkekeh.

“Kita mau makan, ingat?” godanya dan Taehyung mengerang.

Taehyung mendengus. “Baiklah, baiklah,” lalu menurunkan kedua lengannya dan tertawa ceria saat Jungkook menciumnya dengan suara keras.

Jungkook meraih boksernya, melemparkan celana pendek Taehyung padanya lalu mengikat rambutnya menjadi man-bun menggemaskan sebelum membuka pintu kamar dan berseru 'auch!' keras karena Bubble melompat ke gendongannya.

“Are you hungry??” tanyanya sambil menggaruk telinga Bubble yang mendengking-dengking ceria, menjilati lehernya. “Alright, alright. Let's have some food!”

Taehyung menyusul ke dapur, mengamati saat Jungkook menuang dry food ke mangkuk makanan Bubble sementara anjing mereka menyalak ceria lalu menjilat wajah Jungkook sekali lagi seolah mengucapkan terima kasih dan mulai makan dengan lahap.

“Poor boy,” Taehyung berjongkok di sisinya, membelai kepalanya dengan sayang. “You must be starving waiting for us, yes?” dia tersenyum lebar sementara Jungkook mengenakan apron di atas tubuh atasnya yang telanjang.

“Kau ingin tuna dalam samosa-mu?” tanyanya membuka salah satu pintu ganda kulkas.

“Boleh,” sahut Taehyung membelai Bubble yang sibuk makan dengan suara kraus-kraus yang menenangkan lalu memfotonya dan terkekeh. “Dengan apa samosa-nya disajikan?” tanyanya, menatap dengan tertarik bagaimana apron kumal Jungkook nampak sangat menggoda saat digunakan tanpa pelapis di bawahnya.

“Imli sauce.” Jungkook mengelurkan tuna dari freezer ikan dan mulai mengolahnya. “Bolehkah kau membantuku untuk merebus kentang untuk isiannya?” dia melambaikan seplastik kentang dan Taehyung berdiri.

“Aku mengawasimu di dapur, jadi tidak masalah.” Tmbahnya tersenyum dengan mata sudah fokus dengan bahan-bahan di hadapannya. Dia menyampurkan bahan kering ke dalam mangkuk kesukaannya dan mulai meracik adonan kulit samosa dengan fokus.

Taehyung tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi dia meraih kentang dan membawanya ke tempat cuci. Membilasnya lalu mengupasnya dengan hati-hati menggunakan pengupas, saat dia membawa kentang yang bersih untuk direbus Jungkook sudah menyelesaikan adonannya, menutup mangkuk dengan kain membiarkan adonannya beristirahat lalu meraih kentangnya.

“Trims, Sayang,” dia mengecup pipi Taehyung lalu melakukan semuanya sendiri seperti pusaran tornado yang alih-alih merusak, menghasilkan segitiga-segitiga pastry gendut yang beraroma tajam rempah eksotis India.

Taehyung berakhir duduk di konter dengan Bubble di pangkuannya, dagu Bubble beristirahat di atas konter beberapa meter dari adonan samosa mentah. Tidak punya pekerjaan apa pun saat Jungkook menguasai dapur.

Selalu begitu, tiap kali Jungkook mengajaknya memasak bersama Taehyung akan berakhir tidak melakukan apa pun karena Jungkook terlalu efisien hingga mengerikan. Kemampuannya untuk melakukan multitasking begitu mengangumkan; itulah mengapa dia tidak betah menunduk ke layar laptop mengecek angka-angka excel seperti yang dilakukan Taehyung.

Taehyung terbiasa bekerja fokus pada satu hal; laporan yang bisa menyita seharian untuk dicek dan dirapikan. Taehyung bahkan jarang membalas pesan atau mengangkat teleponnya saat sedang bekerja jika tidak benar-benar terdesak.

Tapi Jungkook berbeda; dia bisa merebus kentang sambil menumis tuna, bisa menguleni adonan sambil mengawasi tumisan bumbu—dia bisa melakukan banyak hal sekaligus. Belum lagi bagaimana dia dengan otomatis meraih lap yang disangkutkannya di karet celananya untuk mengelap konternya setelah bekerja.

Dia kemudian menggoreng samosa sambil menyiapkan saus. Mengawasi minyak panas dengan mata kirinya sementara mata kanannya mengawasi tangannya yang bekerja dengan bahan saus.

“Kau pernah tidak memasak dengan damai?” tanya Taehyung iseng, dan Bubble menyalak sekali seperti sedang bertanya hal yang sama. “Maksudku, mengerjakan A lalu B lalu C, bukan mengerjakan ABC dalam satu waktu?”

Jungkook yang punggungnya menghadap Taehyung, mengendikkan bahu. “Terlalu lambat, aku kesal.” katanya lalu melirik ke balik bahunya dan nyengir. “Kau terlalu lambat untuk bekerja di kitchen,”

Taehyung memutar bola matanya. “Baiklah, Mr Chef,” gerutunya. “Sajikan saja samosa-nya, aku hanya akan diam.”

Jungkook menyeberangi ruang kosong dapur dalam satu langkah dan mendaratkan ciuman di bibir Taehyung yang tersenyum lebar. Bubble menyalak pada mereka, melarang mereka bersikap mesra saat ada dirinya di antara mereka.

“Galak sekali,” Jungkook berkomentar lalu sedetik kemudian sudah meraih spatula dan membalik samosa-nya yang bergoyang di atas minyak panas lalu detik kemudian sudah mengaduk saus yang beraroma asam Jawa.

Semenit kemudian, sepiring samosa sudah disajikan di konter sementara Jungkook membereskan tempat kerjanya dengan gerakan efisien yang cekatan. Taehyung mengamatinya sambil meraih sepotong samosa, membaginya dua lalu mendesah saat aroma tuna dan rempah India menerpa hidungnya.

Dia menyuap sepotong dan mematahkan kulit samosa untuk Bubble yang makan dari tangannya. “Luar biasa,” katanya mendesah. “Tunanganku hanya butuh 50 menit untuk menyiapkan samosa yang lezat.”

Jungkook menyampirkan lap basahnya di pegangan laci bawah konter lalu menyopot apronnya sebelum bergabung di kursi konter. Dia meraih sepotong samosa lalu menyuapnya dalam satu suapan besar dan mengunyah lahap.

“Sempurna,” katanya lalu mendecap, “Tidak terlalu pedas, kan?” tanyanya pada Taehyung yang sibuk memisahkan kulit samosa dengan isinya untuk Bubble.

“Tidak,” Taehyung menggeleng tanpa mendongak dari Bubble yang makan dengan berisik di pangkuannya sehingga dia tidak menyadari ekspresi Jungkook sama sekali. “Rasanya sempurna, seperti semua masakanmu biasanya.”

Jungkook menatap samosa-nya, berpikir sejenak lalu meraih sepotong lagi dan mengigitnya setengah. Kali ini merasakan gigitannya dengan lebih perlahan. Membiarkan seluruh inderanya mengenali rasa isiannya dan mendesah.

“Sempurna,” ulangnya kemudian setuju dengan pasrah, menyuap sisa makanannya.

Mungkin hanya perasaannya saja.

*