The Chef #7
“Apa yang sedang kau kerjakan?”
Taehyung mendesah keras, menunduk ke Mac-nya yang disandarkannya di pangkuannya. Ruang tunggu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah sepi, banyak orang berlalu-lalang dengan barang-barang mereka, belum lagi aroma makanan yang menyeruak dari restoran-restoran di sekitar mereka dan aroma parfum Jungkook yang menusuk.
Dia harus membelikan parfum baru untuk Jungkook, dia tidak sudi menyium aroma itu setiap saat apalagi dengan keadaan pening seperti sekarang ini.
Kepala Taehyung terasa akan meledak oleh aroma parfum Jungkook. “Parfum mana yang kau kenakan hari ini?” tanyanya, terganggu.
Jungkook mengerjap. Dia meraih kerah bajunya lalu menghirup aroma parfumnya. “Tidak,” katanya kebingungan. “Aku tidak pakai parfum. Hanya deodoran. Itu juga yang kau pilihkan. Memangnya ada apa? Aromanya tidak enak?”
Taehyung mengerang, kembali menatap deretan angka di excel-nya. “Aromanya membuatku pening,” katanya berusaha memokuskan seluruh perhatiannya pada laporan di hadapannya alih-alih Jungkook yang sekarang bersandar di sisinya, lengannya beristirahat dengan nyaman di sandaran kursi Taehyung.
Aroma parfumnya mengungkung Taehyung dengan begitu menyesakkan.
“Oke,” kata Jungkook kemudian berdiri. “Diam di sini sebentar, oke?”
Taehyung mendongak. “Kemana?” tanyanya dengan alis berkerut.
Jungkook meraih ranselnya dan tersenyum. “Aku akan pergi ke toilet sebentar, mengganti bajuku dan membilas deodoranku. Agar kau nyaman bekerja saat penerbangan. Itu laporan penting, kan?”
Taehyung menatapnya, terpana oleh perhatian kekasihnya. Lalu memicingkan mata curiga. “Jangan pikir dengan bersikap malaikat seperti itu aku kemudian akan memaafkan seluruh rencana perjalanan mendadak ini, ya? Aku tidak semudah itu.”
Tertawa, Jungkook mengusap rambutnya lalu mengecup keningnya sayang. “Iya, iya. Sebentar, ya, Bawel.” katanya lalu beranjak pergi seraya menyugar rambut gondrongnya yang meluruh kembali di rahangnya seperti air terjun.
Taehyung berhenti bekerja, menatap dengan terpesona punggung tunangannya yang berlalu darinya dalam balutan pakaian serba-hitam, mengenakan tas ransel di bahunya dan killer boots andalannya. Rambut gondrongnya meriap di lehernya saat dia bergerak melawan angin, figur tubuhnya nampak luar biasa hasil bekerja selama belasan jam dengan frying pan yang terasa seberat barbel dan kegilaannya pada gym.
Dia nampak luar biasa lezat Taehyung mungkin akan menyusulnya hanya untuk mengajaknya make out di salah satu bilik toilet.
Mendesah, Taehyung memalingkan wajah dari Jungkook karena dia punya laporan yang harus diselesaikan dan dikirim sebelum mereka lepas landas. Dia sudah mengirimkan email pada bosnya tentang keterlambatan laporan dan sudah menggertak seluruh anak buahnya di grup agar segera mengirimkan laporan yang dibutuhkan—peduli setan jika ada yang menangis lagi.
Bogum, wakilnya sudah mengirimkan semua laporan dalam bentuk excel yang disatukan jadi Taehyung hanya tinggal membacanya, mengoreksinya lalu mengirimkannya ke bos mereka. Mata Taehyung fokus ke angka-angka kecil dan rumus-rumus excel; berusaha menguraikan pola pikir Bogum lewat alur pelaporannya.
Dia mengangguk-angguk saat laporannya benar lalu mengerang saat menemukan rumus yang salah (“Bagaimana bisa dia jadi akunting dengan laporan seperti ini?!”) lalu membenahinya dengan jengkel. Dia seharusnya tidak perlu bekerja sekeras ini jika saja anak-anaknya pintar membagi waktunya untuk bekerja dan tunangannya tidak gemar memberikannya kejutan.
Tiba di halaman kedua, dia menyadari bahwa tunangannya pergi terlalu lama.
Dia mengangkat wajah, menatap ke seluruh ruang tunggu. Dia masih sendirian. Menoleh ke arah toilet, dia tidak menemukan lelaki tinggi besar yang mengenakan pakaian serba-hitam. Dia mulai cemas.
“Ke mana lagi manusia ini,” keluhnya sebal lalu meraih ponselnya. Memencet speed dial #2 milik Jungkook dan langsung tersambung. Diangkat di dering kedua. “Kau dimana, sih?” sambarnya sebelum Jungkook bahkan sempat menyapanya.
Chef muda itu terkekeh, “Maaf, maaf, aku sedang membelikanmu kopi. Maaf, oke?”
“Kau sedang apa?” tanyanya, meragukan pendengarannya sendiri.
“Membelikanmu kopi?”
“Karena?”
“Kau nampak sedang kusut sekali dan aku bersalah karena telah menyeretmu ke Bali tanpa memberitahumu apa-apa sebelumnya sehingga kau terpaksa membawa pekerjaanmu ke bandara dan sekarang nampak sekusut kertas bekas bungkus gorengan,”
Taehyung tersenyum mendengarnya. “Good. You learnt fast.”
Sebuah paper cup Starbucks disodorkan ke arahnya dari belakang dan Taehyung mendongak, bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum dengan ponsel masih menempel di telinganya. Nampak luar biasa dengan rambut setengah basah, baju baru yang beraroma pengharum pakaian alami dan keringatnya.
“Kau rewel sekali,” katanya di telepon dan tersenyum lebar. “Silakan kopinya, Chief?”
Taehyung tersenyum lebar, menurunkan ponselnya lalu mematikan sambungan telepon. Menyelipkan ponselnya kembali ke saku celanannya, dia kemudian menerima gelas kopi yang diberikan Jungkook—aroma Americano menyeruak dari dalam gelas dan membuat seluruh saraf Taehyung nyaman.
Jungkook mengulurkan paperbag yang terlipat dengan aroma tajam metega harum yang hangat ke arah Taehyung yang sedang memejamkan mata, menyesap kopinya, “Croissant? Tidak seenak buatanku, jelas tapi setidaknya itu butter croissant, standar nasional Indonesia.”
Taehyung membuka sebelah matanya, mengerling Jungkook yang balas menatapnya. “Kau begini hanya agar aku memaafkanmu, kan?”
Jungkook berdecak, “Salah,” katanya, membuka sebungkus permen karet lalu menjejalkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dengan berisik.
Satu kebiasaan Jungkook yang disadari Taehyung setelah mereka tinggal bersama. Chef itu tidak bisa diam. Dia selalu akan mencari kegiatan setiap kali mereka harus duduk diam—dia akan menghabiskan waktu liburnya untuk pergi ke gym atau memanggang sesuatu atau memasak makanan yang membutuhkan waktu seharian untuk marinating (beef stroganoff). Dia tidak pernah menggunakan liburnya untuk tidur seharian seperti Taehyung, dia selalu saja bergerak.
Seperti anak penderita GPPH—gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.
Membereskan apartemen, berjalan-jalan keluar, lari, membereskan kebun hidroponik mereka di atap apartemen, menyiangi kebun hidroponik dalam ruangannya yang dibelikan Taehyung—ada saja, selalu saja. Dia bahkan memohon pada Taehyung agar dia bisa memelihara anjing jadi dia akan memiliki kegiatan untuk dilakukan saat libur; mengajaknya jalan-jalan, memandikannya.
Taehyung merasa itu tidak masalah sama sekali, maka dia mengizinkan Jungkook membawa pulang satu anjing golden retriever manis si gemar menyalak dan bermain lempar tangkap, diberi nama Bubble yang sekarang dititipkan ke pet shop langganan mereka.
Dan saat dia terjebak harus duduk dan tidak bisa melakukan apa pun, dia akan mengunyah permen karet. Duduk dengan kaki digoyangkan, gelisah sepanjang waktu. Dia terbiasa bergerak dengan dinamis di dapur, tidak pernah diam; mengecek ini, menyicipi itu, memasak ini, plating itu sehingga tiap kali dipaksa diam, dia akan mencari cara untuk mengakali seluruh energi dan sarafnya yang terbiasa bekerja dalam tekanan.
“Aku melakukan ini karena aku sayang padamu dan ingin kau tetap nyaman dalam perjalanan.”
Taehyung tersenyum lalu menyentuh kaki Jungkook yang bergoyang-goyang gelisah di lantai. “Yes, Chef.” katanya lembut. “Sekarang bisakah aku mengerjakan laporanku dulu sebentar?”
Dengan rahang bergerak-gerak mengunyah permen karet, Jungkook memberikan tanda agar Taehyung melanjutkan pekerjaannya dengan tangannya. “Silakan, Chief.”
Taehyung menatapnya penuh cinta sejenak sebelum kembali menunduk ke layar Mac-nya, memokuskan seluruh perhatiannya pada laporan anak-anaknya sementara Jungkook di sisinya menggumamkan lagu kesukaannya. Lengannya diistirahatkan di bahu Taehyung dan jemarinya dengan tanpa sadar memainkan rambut di bagian tengkuk Taehyung.
Mereka bersidiam dengan tenang, Jungkook memberikan waktu sepenuhnya untuk Taehyung menyelesaikan laporannya. Dan tepat saat Taehyung mengirim email ke bosnya setelah menelepon Bogum untuk memarahinya tentang kekacauan laporan di halaman terakhir (“Tidak, kau tidak perlu memperbaikinya. Aku sudah memperbaikinya dan akan kukirimkan padamu untuk dibaca. Bulan depan, aku mau laporannya begitu, oke? Kau faham? Thank you, Bogum.”), panggilan mereka untuk boarding berkumandang.
“Sudah?” tanya Jungkook saat Taehyung mendesah panjang dan menutup Mac-nya.
Orang-orang di sekitar mereka bergerak untuk pergi ke gate dan memasuki badan pesawat. Cuaca cerah sekali hari itu, langit berkilau oleh bintang yang gemerlap dan hawa panas menerpa mereka saat pintu gate dibuka. Antrian mulai mengular saat mereka berdiri dan siap bergabung ke antrian menuju pesawat mereka. Pengumuman saling sahut-sahutan di pengeras suara, bercampur suara obrolan orang-orang yang menunggu pesawat mereka.
“Ayo,” Taehyung tersenyum dan memasukkan Mac-nya ke dalam tas kerjanya dan menggendong tas itu di bahunya, menerima tangan Jungkook yang terjulur padanya dan menggenggamnya. “Maaf aku harus bekerja.”
Jungkook mengendikkan bahunya ringan. Rambutnya disisir naik, memamerkan keningnya yang tinggi dan memesona sementarar rahangnya yang tajam masih bergerak mengunyah permen karet. “Tidak masalah,” katanya ringan.
“Toh akhir pekan ini,” dia mengerling Taehyung dengan tatapannya yang selalu bisa membuat Taehyung merasa dia sedang dibakar hidup-hidup dan panas oleh gairah. “Kau sepenuhnya milikku.”
Taehyung harus menahan seluruh dirinya agar tidak melenting ke arahnya dan mencium bibir Jungkook. Mereka bahkan bisa saja bercinta di sana—di kursi tunggu jika benar-benar mau.
“Sure, Chef. How would you like your fiance to be served?” bisik Taehyung dalam suara rendah sementara mereka mengantri di pintu keberangkatan dengan boarding pass di tangan mereka.
Lidah Jungkook melakukan hal yang selalu membuat perut Taehyung terasa dipelintir dengan menyodok bagian pipinya seraya tersenyum menggoda. Matanya berkilat jahil dan Taehyung merasa perutnya baru saja dijotos. Bisakah mereka tiba di Bali sekarang juga sehingga mereka bisa bercinta? “Fresh and naked,” balasnya rendah. “With a lot of strawberry jams.”
“Your kink gives me a lot of trouble, Chef,” kata Tehyung sementara boarding pass mereka dicek dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah pesawat yang menanti mereka. “Kau tahu tidak benda itu membuat tubuhku lengket??”
“Hmm, begitukah?” tanya Jungkook, merangkul pinggang Taehyung dan mengeratkannya hingga Taehyung tertawa kecil. “Padahal aku sudah yakin aku selalu menjilatnya habis. Lain kali aku akan menjilatnya dua kali, agar kau yakin tubuhmu sudah bersih. Bagaimana?”
“Stop,” keluh Taehyung, mengerang oleh efek yang diberikan suara serak rendah Jungkook ke seluruh tubuhnya. “My dick's suffering down there.”
“Aw, poor baby,” Jungkook memasang wajah kasihan yang mengejek dan Taehyung menampar pantatnya dengan keras. Jungkook tertawa, “I love you,”
Taehyung kemudian mencubit pantat Jungkook yang terbalut celana jins gelap dan membuat chef muda itu tertawa serak. “I love you too, dickhead. Jangan berharap aku akan berbelas kasih padamu setelah ini,”
“Syukurlah,” Jungkook menatapnya; lidahnya kembali menyodok bagian dalam pipinya dan Taehyung terasa seperti baru saja dipukuli. “Karena aku tidak suka belas kasihan.” Dia tersenyum separo, nampak seperti bajingan kelas kakap dan Taehyung bersumpah dia bisa saja orgasme di sana, sekarang juga.
*