The Chef #15

Jungkook menyelipkan dompetnya kembali ke celana setelah membayar tiket masuk mereka.

Mereka berjalan sekitar 30 menit dari pusat Ubud ke Monkey Forest yang ternyata dekat sekali. Dengan kemacetan yang mustahil diuraikan di jalanan kecil Ubud yang padat, Google Maps sudah melaksanakan tugas yang luar biasa dengan menginformasikan mereka bahwa akan lebih cepat jika mereka berjalan kaki saja.

“Mohon untuk menjaga barang bawaannya, ya, Pak, khususnya tas dan kamera. Dan tolong melepas aksesoris seperti kacamata dan anting sebelum memasuki tempat wisata karena rawan dicuri monyet-monyet,”

Jungkook mengangguk, berterima kasih pada penjaga loket tiket yang mengingatkan mereka lalu menunjuk ke arah pinggir pintu masuk, menggiring Taehyung ke sana untuk menyimpan kacamata mereka ke dalam tas dan Jungkook melepas antingnya lalu menyelipkannya ke kantung celana.

“Aneh rasanya,” dia mengusap-usap cuping telinganya yang terasa ringan setelah melepas anting-antingnya.

“It's okay,” Taehyung merangkulnya sayang. “Karena sangat tidak lucu jika nanti ada monyet yang menyambar antingmu lalu telingamu sobek,”

“By,” Jungkook mendelik pada arah pembicaraan tunangannya dan Taehyung tertawa.

“Apa?” katanya geli. “Itu fakta, oke?”

Mereka kemudian mengikuti alur masuk wisatawan dari pintu masuk. Tempat itu sejuk dan asri dengan pepohonan tinggi dan monyet-monyet liar yang berlarian ke sana kemari. Nampak sangat tenang berada di sekitar manusia yang asik memfoto mereka atau duduk di dekat mereka. Ada banyak penjual buah-buahan bagi mereka yang ingin memberi makan para monyet.

Taehyung membeli sesisir pisang.

“Perhatian sekali pada kaummu, ya?” komentar Jungkook, berdiri agak jauh saat Taehyung dengan berani menghampiri monyet-monyet yang duduk di pinggir jalan dan menawarkan buah-buahannya.

“Iya,” balas Taehyung memutar bola matanya pada lelucon basi Jungkook saat monyet-monyet di hadapannya menerima buah-buahannya. “Supaya mereka merestui hubungan kita. Kau tahu tidak, jika mereka tidak setuju mereka bisa menyerangmu? Kau bisa dicakar-cakar sampai habis,” Dia menoleh ke Jungkook yang meringis mendengarnya.

“Makanya, sini, minta restu.” katanya.

Jungkook tertawa, sudah faham bahwa jika dia berusaha melemparkan ejekan pada Taehyung maka pemuda itu akan menemukan cara untuk membalikkan ejekannya dengan mulus. Dia akhirnya menghampiri Taehyung yang sedang berjongkok di jalan dan berjongkok di sisinya.

Meraih sepotong pisang dan mengulurkannya ke monyet bayi yang menatapnya dengan curiga sebelum dengan takut-takut menjulurkan tangan.

“Tidak apa-apa,” kata Jungkook seperti menghadapi bayi manusia dan membuat Taehyung nyaris terguling di tanah tertawa. “Ayo, diambil. Aku tidak akan mengigitmu,”

Dia menggeleng tidak habis pikir dan berdiri, menunduk menatap kekasihnya yang masih berusaha merayu monyet kecil dengan sepotong pisang. Nampak seperti anak kecil yang berusaha merayu kucing liar untuk makan roti yang disobek dari bekal makan siangnya.

Jungkook juga begitu saat hari dimana Taehyung membawa Bubble pulang. Dia nampak seperti baru saja menang lotere satu milyar, wajahnya bersinar cerah oleh rasa bahagia dan langsung bersila di depan kandang Bubble yang masih mendengking ketakutan karena dipindahkan dari tempat lamanya.

“Tidak apa-apa,” katanya hari itu, dengan nada penuh sayang yang sama persis dan mengulurkan makanan anjing dalam mangkuk. “Ayo, berteman. Aku tidak akan mengigitmu.”

Walaupun sebenarnya potensi Jungkook yang digigit lebih besar tapi Taehyung merasa tingkah itu menggemaskan sekali.

Monyet kecil itu akhirnya menyambar pisang di tangan Jungkook sebelum bergegas berlari kembali ke ibunya yang mendesis marah pada Jungkook yang langsung berdiri dengan posisi menyerah.

“Oke, oke, tenang. Tidak ada yang disakiti!” serunya pada si ibu monyet yang masih memamerkan seluruh gigi depan tajamnya pada Jungkook, merasa terancam dan Taehyung tertawa.

“Ini sebenarnya kaumku atau kaummu, By? Kau kelihatan jauh lebih akrab dengan mereka,” Taehyung tertawa lalu meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Ayo, lanjut.”

“Kita akan memberi makan monyet lagi, tidak?”

Taehyung memutar bola matanya, dasar bayi besar bertato. “Nanti,” katanya. “Mereka baru habis diberi makan, takut obesitas.”

Jungkook menatapnya dengan alis berkerut. “Memangnya begitu?”

Taehyung nyaris menepuk keningnya. “Kau ini benar-benar,” katanya tertawa. “Ayo, jalan-jalan! Nanti kubelikan monyet untuk dipelihara,”

Mereka kemudian menelusuri Monkey Forest yang ramai dan sejuk. Matahari Bali mengintip dari awan sementara angin yang bertiup di dalam hutan itu terasa sejuk sehingga hawa panas tidak terlalu terasa. Mereka mengikuti jalur masuk yang licin, menuju beberapa pusat wisatawan yang adalah Pura di tengah hutan.

Ada sungai kering di bawahnya dan banyak wisatawan yang mengantri untuk berfoto di atas jembatan itu karena naganya sangat menakjubkan dengan hamparan lumut di atasnya dan akar-akar gantung pohon beringin raksasa di atasnya; menambah kesan magis seluruh tempat yang mereka kunjungi.

Taehyung berhenti di depannya, mengantri untuk berfoto dan melihat sesaji yang masih harum dan basah di atasnya. Dia mengamati benda itu, menghirup aromanya yang harum dan menenangkan dan menoleh pada Jungkook untuk memberitahunya penemuan barunya yang unik ini.

Tetapi dia batal mengatakannya saat melihat pemandangan di belakang Jungkook dengan geli. Pemandangan keluarga muda dengan anak bayi di pelukan sang ibu. Ada anak kecil yang sedang menjerit dramatis, menangis dan mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi dan melempar botol minuman di tangannya ke arah Jungkook yang berdiri membelakanginya.

“By, awas di belakangmu,” katanya, masih tersenyum melambaikan tangan pada Jungkook yang berdiri beberapa meter darinya, langsung merespon gerakannya dengan menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat apa yang harus dihindarinya.

Hal yang tidak diperhitungkan Taehyung adalah saat momentum itu membuat kepala Jungkook malah membentur bagian sisi naga yang mengapit pintu masuk itu dengan suara keras yang menyakitkan.

Seluruh orang di sekitar mereka terkesirap kaget dengan suara seragam saat Jungkook mengerang keras oleh benturan itu.

“Astaga!” seru Taehyung, seluruh wisatawan yang ada di sekitar mereka langsung menoleh dengan kaget atas suara itu. Taehyung menghampiri tunangannya yang langsung merosot ke tanah sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, mengerang.

Botol yang dilempar anak itu meleset melewati kepala Jungkook dan terjun bebas ke sungai di bawah mereka dengan suara keresak keras saat menghantam dedaunan dan air. Wisatawan-wisatawan di seberang jembatan menoleh, menjulurkan kepalanya berusaha melihat hal apa yang terjadi di seberang sana.

“By, astaga!” Dia langsung mengusap bagian kepala Jungkook yang terbentur, mencari darah dengan panik. Namun tangannya terasa kering dan dia bersyukur atas itu. “Kau oke?” tanyanya, tegang—asam lambungnya naik saat memikirkan kepala Jungkook dan suara benturannya yang memualkan tadi.

“Kau baik-baik saja? Pusing? Maafkan aku, sungguh, maaf!”

Orang-orang di sekitar mereka langsung berisik dan mulai mengerumuni Jungkook. Taehyung yang menyadari hal ini langsung mengibaskan tangannya; meminta mereka semua mundur. “Maaf, tolong beri ruang, Bapak-Ibu, maaf!” serunya pada wisatawan yang langsung beringsut mundur.

“Ya Tuhan,” orangtua bayi itu menghampiri mereka dan Taehyung melirik dengan matanya saat ibu si bayi mencubitnya karena bersikap nakal; bayi itu menangis semakin keras tapi ibunya mendelik dan mengatakan hal semacam dia telah bersikap nakal dan membuat orang lain kesakitan.

Ayah si bayi menghampiri Jungkook, panik luar biasa. Dari wajahnya, dia tidak mungkin lebih tua dari Jungkook. “Anda baik-baik saja? Saya antar ke rumah sakit, ya?” tawarnya dengan nada khawatir yang kental.

Jungkook meringis, lalu membuka matanya. Mengerjap saat pandangannya berkunang-kunang merespon benturan mendadak itu. Telinganya berdenging sejenak, namun dia bergegas menggelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan dengingnya lalu tersenyum pada si ayah yang khawatir.

Dia tidak merasakan sakit yang berarti di kepalanya, hanya denging di telinganya karena benturan itu mengenai sisi dekat telinganya. Tapi selebihnya dia merasa baik-baik saja; tidak merasakan darah atau bengkak.

“Saya baik-baik saja,” katanya serak dan menenangkan. “Tidak apa-apa,” Dia menyentuh kepalanya lagi yang sekarang mulai terasa baik-baik saja; pengliatannya dan pendengarannya mulai jernih kembali. “Hanya syok, tidak apa-apa.”

Ayah si bayi menatapnya cemas, “Saya minta maaf, sungguh. Anak saya tidak pernah senakal ini sebelumnya,” dia membentuk gestur meminta maaf yang tulus. “Jika Anda ingin ke rumah sakit, tolong beritahu saya. Saya akan mengganti biayanya.”

“Kau baik-baik saja?” tanya Taehyung di sisinya, membantu Jungkook berdiri. Pemuda itu mengerjap, memegang kepalanya dan menggeleng ringan berusaha mengenyahkan suara denging di kepalanya. “Kau mau ke rumah sakit? Kita cek kepalamu, ya?”

Jungkook memberi tanda pada Taehyung untuk diam sebentar sementara dia berusaha menata isi kepalanya yang kacau. Saat dia berusaha berdiri, kepalanya kembali berdenging dan dia meringis. Terhuyung sehingga Taehyung bergegas menggunakan tubuhnya untuk menyangga Jungkook. Dia mengeluarkan botol minum yang tadi dijejalkannya ke tas mereka, lalu menawarkannya pada Jungkook.

Sementara pemuda itu minum, Taehyung menumpukan berat tubuh Jungkook padanya seraya membimbingnya duduk di pembatas jalan sementara orangtua bayi itu berdiri di dekat mereka dan kerumunan wisatawan mengamati mereka dari jarak beberapa meter. Seorang petugas Monkey Forest yang mengenakan jarik dan udeng menghampiri mereka dengan panik.

Taehyung kemudian mengecek kepala Jungkook yang terbentur. Dia melepas ikatan man bun Jungkook lalu menyingkap rambutnya dengan lembut, dengan ujung jemari dia memijat kulit kepala Jungkook dengan sayang.

“Katakan jika ada yang sakit, oke?” katanya lembut pada Jungkook yang sekarang terduduk, menunduk dengan kedua tangannya ditumpukan di kakinya yang terbuka. Dia mengangguk tanpa suara.

“Saya antarkan ke rumah sakit saja, ya?” tawar petugas Monkey Forest itu dengan logat Bali. “Cek kepala yang terbentur,”

“Tidak, tidak,” kata Jungkook, mendongak dan tersenyum menenangkan semua orang yang menatapnya cemas dan penasaran. “Ini tidak apa-apa, hanya memar. Nanti kami sendiri yang akan ke rumah sakit,” dia lalu menoleh ke orangtua bayi yang cemas di hadapan mereka. “Tidak apa-apa, sungguh. Saya baik-baik saja.”

Lalu dia menoleh ke Taehyung yang menatapnya cemas, meraih tangannya dan meremasnya lembut. “It's okay,” katanya. “Kepalaku oke, pusingnya sudah hilang. Tidak sekeras suaranya kok, tenang saja.”

“Sungguh?” tanya Taehyung lagi, masih cemas.

“Sungguh,” balas Jungkook tegas. “Ayo, kita jalan-jalan lagi.”

Taehyung menatapnya tidak percaya lalu akhirnya mendesah. “Kita tetap harus ke rumah sakit, jika nanti kepalamu sakit.” Tukasnya tidak bisa diganggu gugat.

Mereka kemudian menerima permintaan maaf orangtua si bayi yang masih berusaha ingin mengganti biaya periksa tapi Jungkook menolak dengan ramah dan memberi pesan mereka untuk menjaga bayi mereka lebih baik lagi di tempat ramai karena takutnya membahayakan orang lain khususnya adegan melempar botol itu. Mereka meminta maaf lagi, dengan penuh rasa bersalah sebelum akhirnya mereka berpisah setelah Taehyung akhirnya memberikan mereka kartu namanya untuk dihubungi lebih lanjut dan sang ayah bayi memberikan nomornya pada Taehyung.

Kerumunan dibubarkan oleh petugas yang masih berusaha menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit tapi Jungkook menolaknya karena kepalanya sudah terasa baik-baik saja sekarang. Tidak ada hal yang salah sama sekali.

Taehyung berjalan di sisinya, masih khawatir. “Kau oke?” tanyanya lagi, meremas tangan Jungkook.

“Sangat oke,” sahut Jungkook menepuk tangan Taehyung lalu membawa tangan mereka ke bibirnya, mengecupnya lembut. “Aku masih bisa menggendongmu kembali ke hotel jika kau mau,”

Taehyung tertawa serak, namun masih dengan nada khawatir di ujung tawanya. “Tidak perlu bersikap terlalu Hercules begitu,” katanya. “Kita kembali saja ke hotel, oke? Lalu ke rumah sakit,”

“Tidak perlu ke rumah sakit,” desah Jungkook. “Kepalaku oke,” dia mengusap rambutnya naik dan menggunakan karetnya untuk menguncir rambutnya yang berantakan. “Paling hanya benjol, nanti kita kompres.”

“Tapi jika kau merasa pusing atau apa, kita harus tetap ke dokter, oke? Aku tidak terima debat. Aku akan menyeretmu jika perlu,” balas Taehyung dan Jungkook tertawa serak.

“Trims, Sayang.” katanya lalu merangkul pinggangnya, menariknya mendekat ke tubuhnya lalu mengecup pelipisnya sayang. “Aku sangat mencintaimu,”

Taehyung tertawa. “Aku juga, Bayi Besar. Aku juga,” balasnya, membelai pipi Jungkook lembut. Merasa mual oleh rasa cemas yang sejak tadi bercokol di perutnya dan sekarang perlahan mulai meluruh karena Jungkook nampak baik-baik saja. Kepalanya juga kering oleh darah—mungkin benar, tidak separah suaranya.

“Bagaimana jika rumah sakitnya diganti dengan aku berbaring di pangkuanmu, dimanja dan diciumi?”

“Tentu saja boleh.”

“Some sex too?”

Taehyung memutar bola matanya, tersenyum. “Anything.”

Mereka keluar dari Monkey Forest, mengecek maps dan menemukan bahwa hotel mereka hanya tiga kilometer jauhnya lalu memutuskan untuk berjalan kaki saja sembari menyegarkan kepala dan menikmati suasana Ubud yang begitu kental dengan budaya Bali. Terasa ramah dan membuat betah.

Setengah perjalanan saat Jungkook kemudian tanpa aba-aba berhenti dan berjongkok di depan Taehyung yang menatapnya bingung.

Mereka sedang di jalanan sibuk Ubud yang ramai oleh wisatawan dan penduduk lokal; jajaran restoran, toko pakaian dan cinderamata berjejer di jalanan. Lalu-lintas yang ramai dan juga pejalan kaki yang menoleh saat melewati mereka karena menghambat perjalanan mereka.

“Naik,” katanya menoleh dan tersenyum, melakukan gerakan lidah sialnya itu lagi hingga Taehyung tergoda sekali untuk menendang wajah congkaknya yang tampan kemudian menciumnya. “Aku akan menggendongmu sampai hotel.”

Tapi toh akhirnya Taehyung tertawa lalu naik ke atas punggung Jungkook yang sekeras batu. Tidak pernah meragukan kekuatan punggung dan lengan Jungkook karena dia sudah melakukan banyak hal dalam seks mereka untuk membuktikan betapa kuat fisiknya. Taehyung menyelipkan kedua kakinya ke lengan Jungkook yang kemudian menyangga pahanya.

“Kuanggap itu tantangan,” katanya saat Jungkook tertawa membenahi posisi mereka sebelum bersiap berdiri.

“Huf!” kata Jungkook saat beban Taehyung terasa di punggungnya lalu berdiri.

Taehyung mengalungkan kedua lengannya di leher Jungkook dengan tawa ceria di bibirnya sementara Jungkook kemudian melangkah dengan mantap seolah Taehyung seringan bulu.

“Ayo berangkat!” serunya ceria, mengabaikan tatapan para wisatawan dan penduduk lokal di sekitar mereka. “Aku tidak akan turun sebelum kita tiba di kamar, kau harusnya faham risiko itu!”

“Memangnya kaupikir aku akan menurunkanmu sebelum tiba di ranjang? Yang benar saja,” dengus chef muda di bawahnya.

Chef Jungkook memang tidak bisa hidup tanpa menjadi pusat perhatian, Taehyung tahu itu. Dia mengaitkan kakinya di perut Jungkook yang kencang dan menyandarkan kepalanya di tengkuk Jungkook, menghirup aroma samponya yang tercampur oleh keringat.

Merasa sangat bahagia.

*