Taekook Oneshot: Palmier

Jungkook seharusnya tahu dia tidak boleh berangkat ke Prancis sendirian.

Dia seharusnya minta ditemani, apalagi dengan fakta bahwa satu-satunya kalimat dalam bahasa Prancis yg diketahuinya hanya: “Je ne parler pas Français.” I do not speak French.

Sekarang jungkook benar-benar berada di dalam masalah besar karena dia tiba di Charles de Gaulle terlalu malam akibat penerbangan yang delay, uang Euro-nya hanya cukup untuk taksi dari bandara dan dia tidak bisa menemukan apartemen Yoongi.

Ditambah lagi ponsel bodoh sialannya mati kehabisan baterai.

Mendudukan dirinya di salah satu tempat kosong di fountain Place de la République bersama beberapa warga lokal, Jungkook mendesah panjang dan meletakkan ranselnya di sisinya. Square itu terasa ramai, banyak pasangan muda-mudi yang bercengkrama. Malam masih awal di Prancis tapi Jungkook sudah kelaparan dan merasa begitu menyedihkan.

Semua seharusnya lancar dan mudah. Gampang. Hingga Jungkook merasa dia tidak perlu ditemani Seokjin yang hanya akan rewel merecokinya seperti induk semang menyebalkan. Maka dia mengatakan pada Seokjin bahwa dia, dalam usianya sudah cukup dewasa untuk melakukan penerbangan lintas benua sendirian.

Dia hanya perlu duduk di pesawat yang terbang dari Incheon ke Charles de Gaulle, memesan taksi dan menuju apartemen Yoongi. Tiba di sana, mandi lalu makan dan tidur sebelum mengurus administrasi kuliahnya besok. Mudah sekali, kan? Dia juga sudah mengantongi alamat Yoongi dalam notes di ponselnya. Dia lebih dari sekadar siap.

Tapi tidak.

Hidup tidak semudah itu karena sopir taksinya salah membaca alamat yang Jungkook sendiri tidak bisa ucapkan dan menurunkannya di antah-berantah seperti ini. Jungkook yang tidak faham apa pun membayar mahal untuk taksinya dan tidak tiba di tempat yang diinginkannya.

Lalu ponselnya mati sehingga dia tidak bisa mengecek alamat Yoongi karena dia lupa mengecasnya beberapa jam sebelum landing karena tertidur dengan pemutar musik menyala terus-menerus. Dia pikir dia akan tiba di apartemen Yoongi sebelum ponselnya mati. Tapi ternyata dia berakhir terdampar di sebuah square di Paris, sendirian dan kelaparan.

Menyedihkan.

Jungkook mengerang keras hingga beberapa orang menoleh kaget padanya.

Dia melotot ke ponselnya, “Bagaimana bisa kau memutuskan untuk jadi tidak berguna hari ini??” gerutunya kesal. Jika dia berusaha bertanya pun, tidak akan ada yang bisa dilakukan karena 1) Jungkook tidak berbicara bahasa Prancis dan 2) dia tidak hafal alamat Yoongi.

Bagaimana caranya meminjam power-bank dalam bahasa Prancis? Apakah orang Prancis punya power-bank?

Dia mungkin bisa saja masuk kafe, mengecas ponselnya dan memesan croissant serta chocolat chaud lalu menelepon Yoongi saat ponselnya sudah menyala serta mengirimi kakaknya itu live location-nya. Dan dia tinggal menunggu dijjemput Yoongi. Tapi tidak, uangnya habis. Dia hanya punya beberapa lembaran Won, kartu kredit yang tidak berguna karena sedang limit dan tidak yakin apakah ada money changer di sekitar sini?

Jungkook baru saja menghabiskan stok kesialannya dalam satu hari.

Jungkook duduk di sana, sama sekali kehabisan akal. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya seraya mengamati manusia-manusia yang lalu-lalang dengan pasangan mereka. Tertawa dan bercengkrama. Mengobrol akrab dan intim. Malam musim panas yang terasa terlambat dan lengket, tubuh Jungkook yang lelah setelah penerbangan lintas benua, perutnya yang kelaparan.

Dia menatap ponselnya. Sekarang pasti semuanya sedang sibuk mencoba menghubunginya.

Jungkook sungguh ingin menangis saja.

“Bonsoir,” Good evening.

Tepat saat Jungkook sudah ingin berguling ke tanah dan meringkuk untuk menangisi kebodohannya, seseorang menyapanya dengan ramah dan saat dia mendongak untuk memastikan apakah orang itu sedang bicara padanya, dia bertemu mata dengan lelaki kurus, berambut biru elektrik yang tampan sekali.

Jungkook mengerjap. Dia nampak seperti orang Prancis pada umumnya; indah dengan tongue roll-nya dalam mengucapkan R khas Prancis yang terdengar seperti orang berkumur yang seksi. Pakaiannya modis, dipadu-padankan dengan sempurna dan dia beraroma seperti mentega dan vanila. Dia membawa tas di bahu kanannya dan kantung kertas di tangan kirinya. Nampak lelah namun juga segar.

“Êtes-vous d'accord, Monsieur?” Are you okay, Sir?

Jungkook mengerjap, kebingungan. Apa yang dikatakannya??? “Pardon,” katanya mengetes bahasa Prancis-nya sendiri yang terdengar begitu buruk hingga dia meringis.

Bagaimana orang Prancis menciptakan suara sengau seksi itu saat menyebut “ng”? Jungkook dan lidah Korea-nya tidak pernah tahu.

“Je ne parler pas Français.” katanya meringis, berharap pemuda itu faham apa yang dikatakannya. “English?” tambahnya.

Merasa seperti orang tuli yang berbicara dengan orang bisu. Mereka bertatapan, tidak faham bahasa satu sama lain dan Jungkook terlalu lapar untuk berpikir dalam bahas lain selain bahasa Korea. Dia berdoa pada Tuhan berharap dia masih punya sisa amal perbuatan baik yang bisa ditukarnya dengan keberuntungan bahwa pemuda ini setidaknya bisa bahasa Inggris.

Dan Tuhan memberikannya yang jauh lebih baik lagi.

“Ah,” pemuda itu tersenyum dan Jungkook nyaris menciumnya karena lega dia memahami maksud Jungkook. “I heard Korean accent. Kau orang Korea?”

“Ya Tuhan!” seru Jungkook nyaris menangis dan benar-benar ingin memeluk pemuda itu dan menciumnya tepat di bibir. “Ya Tuhan, ya Tuhan!” katanya mulai menangis. “Kau orang Korea!”

Pemuda di hadapannya tertawa kecil. “Ya, aku orang Korea dan ini tahun keenamku di Prancis, jadi yah aku agak kesulitan berbahasa Korea karena jarang digunakan.” Dia menatap Jungkook yang sekarang menyeka air matanya dengan sudut lengan hoodie yang digunakannya. “Apa yang terjadi padamu? Kau tersesat?”

Menggeser tasnya, Jungkook membiarkan pemuda itu duduk di sisinya. “Aku seharusnya tiba di apartemen kakakku, tapi sayangnya aku terlalu bodoh untuk membaca alamat dalam bahasa Prancis, dan sopir taksiku juga sama bodohnya. Dia menurunkanku beberapa meter dari sini dan merampok semua uangku—maksudnya, harga argonya mahal sekali bukan dirampok secara harfiah,” dia bergegas menambahkan saat pemuda itu menatapnya ngeri.

“Dan sekarang ponselku mati, aku tidak punya uang dan tidak punya tempat untuk bernaung. Dan demi Tuhan, aku lapar sekali.”

Kemudian sebuah kotak beraroma mentega lembut diulurkan ke arahnya dan Jungkook menatap benda itu kaget lalu menatap pemberinya yang tersenyum dan mengangguk, mempersilakannya mengambil kotak itu.

“Aku bekerja di restoran beberapa blok dari sini dan aku suka membeli pastry di pâtisserie sebelum kembali ke studioku,” dia menjelaskan ramah dan lembut. “Tapi nampaknya kau jauh lebih butuh pastry-nya,”

Karena Jungkook tidak juga menerima makanan itu, pemuda itu tertawa serak dan meraihnya kembali; membuka kemasannya, menyingkap kertas roti yang memeluk pastry-nya lalu mengeluarkan sepotong palmier—pastry berbentuk hati yang renyah dan lembut.

Dia meraih tangan Jungkook, meletakkan makanan itu di tangannya. “Silakan di makan,” katanya sopan. “Tidak apa-apa, itu tidak beracun. Kau lihat sendiri aku baru membuka segelnya, kan?”

Jungkook menatap pastry hangat di tangannya dan matanya mulai terasa panas lagi. “Terima kasih,” bisiknya tercekat lalu membawa makanan itu ke mulutnya. Dia mengigit pastry rapuh dengan ratusan layer itu dan mendesah saat rasa mentega dan telur khas makanan Prancis meledak di mulutnya.

Remah-remah palmier berjatuhan dari bibirnya ke pangkuannya, tapi dia tidak peduli. Dia terus menjejalkan palmier ke mulutnya, mengunyah nyaris tanpa bernapas dan menelannya. Dia mendesah, dia butuh lebih banyak lagi. Tapi terlalu malu untuk meminta makanan orang asing ramah di hadapannya.

Seolah membaca pikirannya, pemuda itu tertawa serak dan meletakkan kotak makanan di pangkuan Jungkook. “Silakan makan,” katanya lembut. “Kau nampak lapar sekali.”

Dan Jungkook melakukannya tanpa basa-basi lagi, dia menghabiskan selusin palmier untuk dirinya sendiri dan masih mendecap-decap merindukan nasi dan mie instan. Tapi lumayan, setidaknya perutnya tidak lagi terasa nyeri karena rasa lapar.

“Aku tidak tahu namamu,” kata Jungkook kemudian, menyapu remah palmier dari pangkuannya. Masih cukup beradab untuk bersikap malu karena telah menggasak makanan orang asing pertama yang menyapanya.

“Taehyung,” kata pemuda itu ramah. “Kim Taehyung. Tapi di sini mereka memanggilku Vincent.”

Jungkook tersenyum. “Aku Jeon Jungkook.” katanya mengulurkan tangan dan pemuda itu, Taehyung membalasnya dengan hangat.

“Halo, Jungkook.” katanya. “Ini sudah malam,” tambah Taehyung kemudian. “Kau mau mampir ke studioku dulu? Kau bisa mandi dan mengisi daya ponselmu sebelum menelepon kakakmu untuk menjemputmu.”

Jungkook mendongak ke langit malam. “Memangnya ini jam berapa?” tanyanya, menilai dari langit yang masih keunguan Jungkook yakin ini baru selepas jam 7 malam atau setidaknya delapan malam.

“Sudah hampir pukul sebelas malam,” sahut Taehyung membuat Jungkook nyaris menyemburkan palmier yang sudah dimakannya. “Ini musim panas, malam bergerak lebih lambat di sini.” jelasnya.

“Dan tidak baik untukmu berada di Place de la République semalam ini, kau sasaran empuk pencopet.” Dia berdiri, menyapu kotoran dari celana baggie-nya dan tersenyum. “Ayo, Bung. Ini bukan Asia, mereka tidak terlalu bersikap sopan pada orang asing tersesat di sini.”

Menatap tangan yang terjulur ke arahnya, Jungkook mendesah lalu meraihnya dan berdiri. Mengambil tasnya, dia kemudian mengekor Taehyung yang berjalan keluar dari Place de la République yang semakin ramai. Mereka menelusuri jalanan yang ramai dengan toko-toko berarsitektur kental Prancis.

Jungkook nampak begitu lusuh dan lelah saat dia menatap bayangannya sendiri di salah satu etalase toko pakaian dan mendesah. “Hei, Taehyung?” panggilnya pada pemuda di sisinya yang berjalan santai dengan dua tangan tenggelam di sakunya.

“Ya?”

“Aku boleh menumpang mandi di tempatmu?”

Taehyung terkekeh. “Tentu. Silakan,” katanya.

Mereka kemudian tiba di lingkungan yang lebih ramah dengan jalan berbatu, lampu jalanan redup dan beberapa tanaman rambat menghiasi dindingnya. Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan kunci saat berhenti di sebuah gedung yang nampak tua namun bersih terawat dan membuka gerbang besi di depannya. Nampak anak tangga menuju atas dan dia memimpin Jungkook menaiki tangga yang hanya cukup untuk satu orang dan berhenti di lantai tertinggi.

Dia berjalan melalui lorong yang terang dan berhenti di depan pintu. “Selamat datang,” katanya ramah lalu membuka pintu dan membiarkan Jungkook masuk.

Studio yang dimaksud Taehyung adalah sebuah kamar dengan dapur kecil dan kamar mandi. Jendelanya terbuka dan memberikan pemandangan kota yang cantik. Menara Eifel berdenyar di kejauhan, nampak begitu mungil. Ada satu ranjang ukuran tunggal di sudut ruangan, sofa empuk berwarna tanah di dekat jendela, rak buku yang penuh sesak serta meja kecil yang terisi gelas kosong sisa kopi.

Aromanya akrab dan melegakan, Jungkook menghela napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Membiarkan Taehyung menutup pintu di belakangnya dan bergegas ke dapurnya yang kecil dan membuka kulkas.

“Aku punya lasanya sisa semalam, kau mau makan sebelum mandi?” tanyanya membawa loyang sedang ke konter dapur. “Dari caramu menghabiskan palmier-ku, aku yakin kau belum kenyang.”

Jungkook masih berdiri kikuk di tengah ruangan, tidak yakin harus melakukan apa sementara empunya rumah sedang sibuk menghangatkan makanan. Dia menatap ke sekitar tempat itu, menemukan majalah mode terbuka di atas kasur yang rapi. Beberapa potong kain perca dan mesin jahit portable di meja yang terletak di dekat jendela. Dia menatap benda itu dengan tertarik.

“Kau suka menjahit?”

Taehyung menoleh, menemukan Jungkook yang sedang menatap mesin jahitnya. “Ah, ya begitulah,” katanya terkekeh serak. “Aku suka menjahit pakaianku sendiri, merajut syal dan sarung tangan juga,” Dia mengendikkan bahu saat memasukkan loyang ke dalam microwave dan mengatur timer-nya. “Hobi yang aneh, kan untuk lelaki?”

Jungkook menggeleng. “Tidak, itu keren.” katanya dengan tulus. “Aku selalu ingin belajar merajut tapi terlalu tidak sabaran dalam prosesnya.”

Taehyung mencuci tangannya, mengelapnya di lap tangan lalu melambaikan tangan ke sofa. “Silakan letakkan barangmu di sana, anggap saja rumah sendiri.” katanya meraih pakaian kotor yang disampirkan di kursi. “Maaf berantakan,” dia melempar pakaian itu ke keranjang cucian.

“Kau bisa mengisi daya ponselmu di sini,” tambahnya menunjuk stop kontak di sisi sofa. “Semakin cepat kau bisa menghubungi kakakmu, kan? Tidak bermaksud mengusirmu tapi aku tahu kau pasti ketakutan sekali,”

Jungkook mengangguk, merogoh ponsel sialannya dan duduk di sofa. Dia meraih tasnya, mengobrak-abrik isinya dan menarik keluar pengisi daya ponselnya. Dia menyolokkannya di stop kontak dan mendesah lega saat ponselnya mulai mengisi daya.

“Syukurlah aku sudah sempat mengganti nomorku dengan nomor Prancis dan menginfokan nomor ini ke kakakku sebelum dia mati,” desah Jungkook menatap ponselnya sendu. Di hadapannya, Taehyung duduk dan menatapnya tenang.

“Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak bertemu denganmu,” kata Jungkook seraya menanti ponselnya menyala dan memproses programnya. “Aku mungkin terpaksa tidur di jalanan. Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa,”

Taehyung tertawa serak. “Aku juga tidak faham,” katanya. “Aku tidak biasanya pulang lewat situ; terlalu jauh memutar. Namun malam ini aku tiba-tiba ingin membeli pastry di dekat Place, dan tidak sengaja melihatmu.” tambahnya.

“Maaf,” dia mendesah. “Kau nampak benar-benar seperti bukan orang Prancis. Aku jadi cemas karena Place de la République itu sarangnya pencopet. Prancis tidak secantik apa yang kaubaca di kisah-kisah. Di sini berbahaya untukmu yang adalah orang asing dengan pengetahuan nol tentang Prancis. Lalu kuputuskan untuk menghampirimu dan saat mendengar bahasa Prancismu, aku semakin yakin kau bukan orang Prancis.

“Aku tidak membayangkan apa yang terjadi jika bukan aku yang menemukanmu.”

Jungkook mengerang dan membuka mulut untuk bicara saat microwave berdenting. Taehyung bergegas bangkit dan menghampiri benda itu, mengelurkan lasagna dan menyendok seporsi untuknya dan juga untuk Jungkook. Aroma saus tomat dan bechamel memenuhi ruangan dalam kehangatan yang membuat Jungkook lapar. Dia yakin dia bisa menghabiskan lasanya itu sekaligus berserta loyangnya.

Tapi dia ingat ini bukan rumahnya dan meminta perutnya yang barbar untuk bersabar. Begitu dia tiba di apartemen Yoongi, dia akan menjejali organ sial itu dengan begitu banyak makanan hingga dia tidak akan berisik lagi.

Dia membawa dua piring itu ke sofa, menyerahkan satu ke Jungkook yang menerimanya dengan tatapan berbinar seperti menemukan harta karun dan mulai memakannya dengan lahap. Taehyung tertawa menatap tamu barunya yang nampak menggemaskan seperti anjing kecil.

Ponsel Jungkook di sofa sudah menyala dan sekarang mulai berisik dengan nada notifikasinya yang banjir. Jungkook bergegas meletakkan piringnya yang isinya sudah akan habis dan meraihnya dalam kecepatan cahaya. Dia belum melakukan apa pun saat dering panggilan membuat baik Jungkook dan Taehyung tersentak kaget dan Jungkook nyaris menjatuhkan ponselnya.

Dia nyaris menangis lagi saat menjawab teleponnya. “Yoongi-hyung!” rengeknya seketika itu juga dengan nada lega yang nyaris seperti menangis. “Aku tersesat! Tolong aku! Kau boleh memarahiku tapi nanti, sekarang tolong jemput aku!”

Taehyung tersenyum lebar menatap Jungkook yang bersila di sofanya, menempelkan ponsel di telinganya dalam balutan hoodie hitam dan jins belel gelap dengan noda saus lasanya di sudut bibirnya. Rambutnya mencuat-cuat akibat angin malam Prancis dan dia nampak begitu lelah.

“Aku ada di... rumah seseorang yang baik hati memungutku di jalan,” kata Jungkook merengek ke ponsel dan Taehyung tidak bisa menahan tawanya. “Dia memberiku makanan. Listrik untuk ponselku dan air untukku mandi. Dia dewa, Hyung. Dewa.”

Lalu terdengar dengungan keras dari ponsel dan Jungkook harus menjauhkan ponsel dari telinganya dengan ngeri. “Maafkan aku!” serunya. “Uangku habis dan ponselku memutuskan untuk tidak berguna saat aku turun dari taksi. Sopirnya tidak bisa membaca alamatmu dengan baik, Hyung!” Jungkook diam, mendengarkan lalu mendesah. “Baiklah.” katanya lega. “Aku akan mengirimkanmu alamatnya.”

Dia lalu meletakkan ponsel dan menatap Taehyung yang dengan sopan mengalihkan pandangan dari pembicaraan Jungkook dengan mengunyah makanan seraya membalik majalah mode. “Bolehkah aku meminta alamatmu? Kakakku akan menjemputku di sini.”

Taehyung menoleh dan mengangguk, “Tentu,” sahutnya lalu menjabarkan alamatnya pada Jungkook yang mengetikkan pesan untuk kakaknya. “Tambahkan dengan share location, orang-orang terkadang sulit menemukan lokasi studio ini.”

Jungkook mengangguk, memberikan location-nya pada Yoongi yang mengiriminya pesan bahwa dia akan tiba sekitar setengah jam jika tidak macet. Jungkook mendesah lalu meletakkan ponselnya.

“Kakakku akan tiba setengah jam lagi,” katanya tersenyum. “Terima kasih banyak atas makanan dan kebaikanmu menampungku,”

Taehyung tertawa. “Kembali kasih,” sahutnya. “Anggap saja karena kita sama-sama dari Korea.” Dia tersenyum. “Kau ke Prancis untuk bekerja?”

“Tidak,” Jungkook menggeleng. “Aku akan kuliah. Beasiswa.” Dia tersenyum cerah dan bangga pada Taehyung yang menatapnya kagum.

“Wow,” komentarnya tulus. “Di universitas?”

“Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne,” Jungkook berhenti sejenak. “Pelafalanku benar?” tanyanya kikuk.

Taehyung tertawa, “Tidak masalah,” hiburnya. “Butuh waktu lama juga untukku hingga bisa melafalkan bahasa Prancis dengan benar.” dia tersenyum ramah. “Di jurusan?”

“Di Institut Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Teknik.”

“Wow.” ulang Taehyung, dengan kekaguman yang tulus. “Kau bocah pintar ternyata.”

Jungkook nyengir. “Sebenarnya aku tidak ingin ke Prancis,” katanya entah mengapa ingin terus mengobrol dengan Taehyung yang auranya begitu hangat dan menenangkan. Seperti palmier yang tadi dimakannya.

“Tapi karena kakakku sudah lama tinggal di Prancis, aku jadi tergoda untuk ikut dengannya. Selama ini aku hanya tinggal sendirian di Korea sejak dia berangkat ke Prancis.” Dia mengendikkan bahu. “Jadi aku mencoba peruntunganku dengan memasukkan lamaran beasiswa ke Universitas Paris.”

“Dan kau beruntung karena diterima,” balas Taehyung menyemangatinya. “Hanya saja kurang beruntung saat tiba di Paris.”

Jungkook mengerang lalu menatap Taehyung, menemukan sesuatu yang membuatnya berbinar lagi hingga Taehyung ingin sekali mencubitnya. “Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” dia lalu mengendikkan bahu kikuk. “Maksudnya, nanti aku harus mengganti palmier-mu yang kuhabiskan, kan?”

Taehyung tertawa serak. “Sebenarnya tidak usah pun tidak apa-apa,” katanya.

“Kalau begitu anggap saja aku butuh teman selama kakakku bekerja. Maksudku, kau bisa mengontakku saat kau libur dan kau bisa mengajakku berjalan-jalan, kan? Kau sudah enam tahun di sini,”

Taehyung menatapnya dan mengangguk. “Baiklah,” katanya lalu menyebutkan nomornya yang langsung dicatat Jungkook dengan patuh. “Kau boleh menghubungiku saat kau bosan,” tambahnya. “Aku akan mengajakmu ke tempat favoritku,”

Jungkook menatapnya dengan mata berbinar. “Baiklah, sudah diputuskan!” katanya lalu mengulurkan tangan, bertukar high-five dengan Taehyung yang tertawa.

Saat akhirnya kakak Jungkook tiba, pemuda itu langsung memeluk adiknya erat. Nyaris mengoyaknya dengan gigi karena marah. Dia kemudian menawarkan sejumlah uang sebagai imbalan terima kasih atas bantuannya pada Taehyung yang langsung menolaknya karena dia membantu murni karena ingin, bukan karena uang.

Dia juga senang bertemu orang Korea lain di Paris sehingga kehidupannya setelah ini mungkin tidak lagi semonotun studio-tempat kerja-studio. Dia tahu restoran Korea enak di Rue de la Croix Nivert dan sekarang senang dia tidak akan makan sendirian di sana.

Jungkook masuk ke dalam mobil kakaknya yang nampak sangat lega menemukannya kembali, dia melambai ramah pada Taehyung dan Yoongi juga tersenyum ramah padanya setelah berterima kasih ribuan kali karena telah menyelamatkan adiknya di Place.

“Senang bertemu denganmu, Taehyung-hyung! Jangan kapok berbuat baik, ya! Because you saved my life!”

Taehyung tertawa dan balas melambai pada Jungkook saat mobil mulai melaju pergi dengan perlahan. “Terima kasih kembali,” katanya dan mendesah panjang saat mobil itu lenyap di belokan.

Dia akan bertemu Jungkook lagi di hari lain. Fakta itu membuatnya berdebar.

***